Wanita
6
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
Story©NadyaA
Rated: T
Genre: Nggak tau -''
Warning: Alur berantakan, Alur (super) kecepetan, Nggak nyambung, OOC, Garing -,- ,Misstypo(s), Dan banyak kesalahan lainnya ! ^^
Happy reading~
''Kushina, apa yang kau lakukan?!'' Minato berteriak panik ketika melihat istrinya itu keluar dari kamar. Dia—yang baru saja pulang dari kantor—segera berlari menghampiri Kushina yang masih berjalan pelan menuju dirinya.
Kushina tampak meringis ketika mendapati suaminya itu berlari ke arahnya. ''Aku hanya ingin menyambutmu, Minato..,'' Ia memberi kecupan selamat datang di pipi kanan suaminya.
''Sudah kukatakan, jangan keluar kamar dulu,'' Minato mengusap kepala Kushina perlahan sebelum menepuknya.
''Tapi aku belum menyiapkan makan malam untukmu, belum memasak air hangat untukmu mandi, ataupun—'' Perkataannya terpotong ketika dilihatnya sang suami menatapnya dengan tajam.
''Selama Naruto belum bisa sendirian, kau tidak perlu melaksanakan semua itu,'' Ia menarik Kushina untuk duduk di sofa.
''Ta—tapi—''
''Tidak ada tapi-tapian. Kau baru melahirkan dan Naruto butuh kau di sampingnya, jadi beristirahatlah bersama Naruto supaya kau segera pulih dan tidak lemas seperti ini, aku ingin bertemu istriku yang semangat dan ceria, kau tahu? Jagalah Naruto dan rawatlah ia selama aku tidak ada di rumah,''
Kushina hanya mendengus sembari tersenyum. ''Baiklah, Hokage-sama,''
Minato gantian mendengus mendengar panggilan aneh yang terlontar dari bibir istrinya.
''Jangan memanggilku dengan sebutan menyakitkan (?) seperti itu, hime…,''
Kushina memutar bola matanya bosan. ''Baiklah, kurasa ini tak akan selesai kalau diteruskan. Jadi, bagaimana kalau kita makan malam sekarang?''
Minato tersenyum kecil sebelum mengangguk. ''Bagaimana kalau di Ichiraku?''
Laki-laki berambut kuning itu menyeret pelan istrinya yang keburu mengangguk senang. Kushina yang melihat perilaku suaminya itu hanya mengangkat alis ketika dirinya berhenti di depan tempat tujuan suaminya menyeret dirinya.
''Untuk apa kita ke kamar?'' Kushina menatap Minato lamat-lamat.
''Aku ini belum mandi. Kau bilang aku bau kalau pulang kerja,'' Minato menatap Kushina gemas sebelum mencubit pipi istrinya itu pelan. Kushina cemberut menanggapi perbuatan Minato barusan.
''Jadi, kau mau mandi sekarang?'' Kushina memicing menatap Minato curiga. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
''Tentu saja sekarang, memangnya ma—'' perkataan Minato terputus begitu saja ketika ia menyadari istrinya tidak berada di sampingnya lagi. Kushina tampak berlari kencang meraih baju ganti di lemari sebelum berbalik berbisik pelan di telinga Minato.
Cepat sekali.
Sejak kapan Istrinya itu bisa menggunakan Hiraishin, eh?
''Aku dulu yang pakai kamar mandinya,''
Minato mengangkat sebelah alisnya, lalu berbisik pelan di telinga Kushina.
''Kau mau apa? Kebetulan sekali aku juga mau pakai,''
''Aku mau ganti baju dulu,'' Kushina balas berbisik di telinga Minato.
''Ya sudah, ganti baju saja..,'' Minato berbisik lagi.
''Aku akan berganti di kamar mandi,'' Kushina berbisik sembari menjawil hidung Minato—usil.
''Kenapa di kamar mandi?'' Minato berbisik sembari balas mencubit pipi Kushina.
''Memangnya harus di mana?'' Kushina kembali berbisik.
''Ganti saja di kamar,'' Kali ini Minato tidak lagi berbisik di telinga Kushina. Konyol, setidaknya itulah yang ada di pikiran Minato sekarang.
''Tidak mau, kamar itu ruangan yang terlalu terbuka,'' Kushina mengerucutkan bibirnya.
''Memangnya kenapa?'' Minato merangkul bahu Kushina sembari membawanya ke depan lemari baju—mengambil baju untuk dirinya sendiri.
''Ada kau,'' Kushina memicingkan matanya sembari menunjuk Minato dengan telunjuknya.
''Kau malu? Aku kan, suamimu,'' Laki-laki berambut kuning itu tampak menyampirkan handuk di bahunya.
''Selain itu, kita sudah menikah 11 bulan yang lalu, dan kau masih malu?''
''Tapi tetap saja, kan tidak enak ganti baju di depanmu,'' Kushina mendengus kesal sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
''Oh? Begitu? Tak masalah, kan? Sekarang, cepatlah ganti baju,'' Minato mengacak pelan rambut Kushina, membuat pemiliknya melotot tak suka.
''Lalu ketika aku berganti baju, apa yang akan kau lakukan?''
''Tentu saja aku mandi..,'' Minato menjawab datar sebelum menyeringai jahil.
''Atau kau ingin aku menungguimu berganti baju di kamar?'' Minato kembali berbisik pelan di telinga Kushina.
Spontan saja wajah Kushina memerah, ia memukul bahu Minato pelan sebelum berseru malu.
''Dasar kau ero! Sudah sana mandi!''
Minato tertawa-tawa sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Kushina mendengus geli melihat kelakuan sang suami. Ia melirik ke arah ranjangnya—putra pertamanya sedang tertidur dengan damai di sana.
''Jangan bangun yah? Ibu mau ganti baju dulu,'' Wanita itu terkekeh-kekeh sebelum berjalan ke sisi lain ruangan. Memulai ritual ganti baju tentunya.
Kushina mulai melepas baju rumahnya dan berganti baju atasan, lalu mulai meraih bawahannya dan akan—
''Kushinaaa! Aku lupa baju atasanku!'' tampaklah kepala kuning sang Hokage menyembul dari balik kamar mandi.
—Mengenakannya
''Kyaaaa! Minato baka! Tutup pintu itu!'' Kushina menutupi tubuhnya dengan rok bawahan yang belum sempat ia pakai. Wajahnya memerah menaha malu.
Minato yang tampak masih kebingungan tampak terdiam sebentar. ''Ada ap—''
''CEPAT TUTUP PINTUNYA!'' Kushina berseru malu sembari berjalan cepat menyambar gagang pintu kamar mandi—dalam kamar tentu saja.
''Tapi tolong ambilkan—''
''NANTI AMBIL SENDIRI!'' Merah padam, Kushina meremas bawahannya kuat-kuat—seakan benda itu akan terjatuh kalau ia tidak melakukan itu.
Minato meringis sembari menahan pintu yang belum tertutup. Ia memandangi Kushina dari atas sampai bawah.
''Apa!?'' yang namanya Kushina pasti risih juga kalau dipandangi secara penuh seperti itu—meski oleh suaminya sendiri. Apalagi mengingat dirinya yang belum selesai berganti baju.
''Mau ikut masuk ke dalam bersamaku?''
Kushina melotot kesal—atau malu?—dibuatnya.
''MINATO !''
''Oke…, baiklah, baiklah!'' Minato tertawa-tawa sebelum menutup pintu kamar mandi. Bahkan suara kikikan geli masih saja terus terdengar dari dalam.
''Iiih! Dasar!'' Kushina mengerucutkan bibirnya sembari mengenakan rok bawahan yang tadi sempat tertunda untuk ia pakai. Ia merapikan rambutnya sebentar, menguncir rambutnya menjadi ikatan longgar dan rendah yang menjuntai di punggungnya untuk malam ini. Ia sedang merasa gerah, jadi diikat saja agar tidak mengganggu. Lagipula ia akan membawa Naruto, mengikat rambutnya mungkin akan mempermudah pekerjaannya.
Penampilannya sederhana saja, hanya atasan lengan pendek berwarna putih dan rok terusan berwarna hijau tua—ditambah jaket berwarna putih untuk malam ini. Minato bilang, ia harus selalu menggunakan jaket kalau keluar di malam hari. Rambutnya terkesan diikat asal memang, tapi cukup untuk membuatnya tampak lebih cantik.
Merasa cukup, Kushina memutuskan untuk mendudukkan diri di ranjangnya. Ia memerhatikan Naruto yang tampak tertidur dengan wajah polos nan manis. Wanita itu tersenyum, disentuhnya pelan pipi gembil berkumis kucing milik sang putra, lalu merasakan kehangatan genggaman jari-jari tangan mungil milik bayi itu. Kushina tersenyum sekilas sebelum mengecup pelan dahi Naruto. Ia tersenyum kecil ketika Naruto menggeliat nyaman dalam tidurnya.
''Mana jagoan kecilku?'' sebuah suara terdengar dari balik punggung Kushina. Ia bisa mendapati wajah sang suami yang tampak berseri-seri.
Eh? Cepat sekali mandinya? Kushina membatin keheranan.
Kushina tentu saja ikut tersenyum. Tetapi sedetik kemudian. Wajahnya kembali memerah.
Minato hanya mengenakan celana panjang berwarna biru tua—bertelanjang dada.
Minato yang melihat perubahan warna pada wajah sang istri hanya tersenyum kecil. Tentu saja ia tahu apa yang menyebabkan itu, tetapi menggoda sedikit tidak masalah, kan?
Dengan wajah khawatir—yang entah kenapa terlihat nyata— Minato mendekatkan wajahnya pada wajah Kushina dan menempelkan dahinya.
''Kamu sakit?'' Ia menambahkan tangannya yang mengusap lembut pipi sang istri. Ia menyeringai puas melihat ekspresi memerah sang istri yang sekarang siap meledak kapan saja.
''T—tidak, aku baik-baik saja,'' Kushina meneguk ludahnya pelan.
''Sebaiknya kau cepat pakai baju dan kita berangkat. Nanti keburu malam,'' Kushina mengalihkan pandangannya pada Naruto. Mencoba mengalihkan fokus pikiran yang sempat melenceng beberapa waktu yang lalu. Pandangannya kembali teralihkan ke arah cermin—merefleksikan bayangan Minato yang tengah menggunakan pakaiannya dengan tenang. Wajahnya yang memerah ternyata tertangkap jelas oleh Minato.
''Terpesona, eh?'' Minato mengirimkan sebuah seringai lewat cermin di depannya—memantul tepat kepada Kushina.
Setelahnya sebuah bantal mendarat dengan mulus di wajah Minato.
''Berhenti menggodaku!''
Minato tertawa-tawa lagi.
''Baiklah, baiklah. Ayo kita berangkat!''
Sadarlah, kalian itu suami istri, kan?
.
.
. TBC
.
.
.
Pendek ya?
Gomen ne, updatenya telat banget. Kemarin ffn diblokir, flashdisk kena shortcut, dan sinyal super jelek.
Dan masih UAS juga…,
Maaf kalau chapter ini terkesan nggak ada ''apa-apanya'' dan pendek juga,
Saya disini hanya ingin menceritakan suasana keluarga Namikaze setelah Naruto lahir. Chapter depan sepertinya masih lanjutan dari ini…., mungkin XD
Tapi saya masih bingung kudu gimana, ada yang punya usul?
Okeh, kuharap cerita ini tidak mengecewakan, meski saya tahu ini terlalu pendek dan terkesan datar. Tapi tak apalah…,
Terima kasih buat yang udah review buat chapter2 sebelumnya! Aku sayang kalian semua! *peluk satu-satu
Segini dulu deh, doakan bisa update cepet…
Review tidak dilarang, Flame juga nggakpapa
Kalau ada saran, kritik, uneg-uneg, atau apapun bilang sejujurnya ya? Nggak usah ditahan! Kuterima
kok
Balasan Review~
Trinns-san: Eh?sweet? benarkah o.O :D iya emang sengaja nggak dimunculin, saya pingin cerita indah dari keluarga Namikaze, nggak pingin yang tragis-tragis XD Sip, sori updatenya lama yah! Arigatou reviewnya~ :D
Buat yang login, kubalas lewat review. Buat yang belum terbalas, ngomong yah, soalnya internet disni sering error, jadinya kadang nggak terkirim gitu*atau akunya yang lupa? :D Oke abaikan :P
Arigatou ^^
12 Desember 2013
NadyaA
