''Nyaaa~'' Naruto kecil tampak tertawa senang. Mata bundarnya tampak mengerjap perlahan beberapa kali. Membuat Minato nyaris kehilangan kendali untuk menahan dirinya agar tidak mencubit pipi bayi mungil itu keras-keras.
''Lihatlah, betapa lucunya dia?'' Kushina berseru riang, disentuhnya pelan pipi gembil sang bayi yang agak memerah. Ia tersenyum gemas sebelum mencium pipi Naruto penuh sayang. Minato tertawa dibuatnya, ia merangkul sang istri dan membawanya berjalan bersama.
''Naruto, malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama,'' ia mengecup dahi Naruto dan tak lupa, kening istrinya juga. Kushina terbelalak kaget dan wajahnya memerah.
''Mi—minato! Ini tempat umum—ttebane!'' Ia melotot kepada sang suami yang tampak menatapnya tenang. Kushina menolehkan kepala ke sekelilingnya dan tersenyum kikuk kepada beberapa warga Konoha yang melihat perbuatan suaminya itu. Ada yang menatapnya dengan kagum, iri, bahkan menggoda juga. Segera saja sebuah deathglare dikirimkan oleh Minato secara cuma-cuma.
''Hm, biar saja, kau kan Istriku,'' Laki-laki itu tampak cuek dan tak peduli keadaan sekitar. Wajah Kushina semakin merona.
Oh, lihatlah, seorang hokage harus memberi contoh yang baik, bukan?
.
.
Wanita
7
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
Story©NadyaA
Rated: T
Warning: OOC, alur cepat, nggak nyambung, datar
Happy reading~
.
.
.
''Teuchi-jiisan!''
Pria paruh baya yang terlihat sedang menjerang mie dari dalam panci rebusan tampak menoleh ke arah pintu masuk kedai kecil miliknya. Senyuman tampak mengembang di wajahnya tatkala menemukan dua sosok pelanggan setianya semenjak mereka masih ada dalam jenjang remaja.
''Ho! Ternyata kau, Minato! Selamat datang, duduklah!'' Teuchi—pria itu—tampak mempersilahkan Minato dan keluarga kecilnya untuk masuk dan mendudukkan diri di bangku pelanggan yang masih kosong di dekat tembok. Minato hanya meringis lebar sebelum menarik tangan Kushina—yang sedang menggendong Naruto—untuk masuk ke kedai Ichiraku.
''Baiklah, mau pesan apa, Hokage-sa—''
''Jangan memanggilku dengan panggilan itu kalau sedang tidak berada dalam suasana formal, jii-san, bukankah aku sudah mengatakannya?'' Minato tampak mendengus main-main sebelum tertawa kecil.
Teuchi tampak tertawa. ''Wakatta, wakatta…., jadi? Mau pesan apa?''
Minato tampak melirik Kushina. Wanita itu hanya mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum lembut.
''Terserah kau saja,'' begitu katanya.
Minato yang mendengarnya hanya mengangguk lalu kembali menolehkan kepalanya kepada pemilik kedai yang sedang berdiri menunggu pesanan keduanya.
''Yang seperti biasa saja, paman…,''
Laki-laki tua itu tampak mengangguk sebelum melenggang menuju dapur. Mengatakan pesanan Minato pada Ayame—putrinya— sementara dirinya menyelesaikan garnish pesanan sebelumnya yang sempat tertunda.
Sembari menunggu, ayah muda yang baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki itu tampak memperhatikan malaikat kecil yang sedang berada dalam dekapan bidadari tercintanya. Laki-laki berambut kuning itu tampak tersenyum sebelum mengulurkan jari telunjuknya kepada sang anak—merasakan genggaman hangat dari jari-jari mungil sang bayi.
''Ne, Naruto, Tou-san mengakui wajahmu itu imut sekali. Keturunan dari siapa ya?''
Naruto tampak mengerjap beberapa kali sebelum tertawa riang sembari menggenggam erat jari Minato, sementara tangannya yang lain tampak nakal memainkan rambut Kushina yang tak terikat. Kushina tampak tersenyum sebelum menyusupkan jarinya ke dalam genggaman jari Naruto yang sedang memainkan rambutnya.
''Tentu saja, turunan Kaa-san nya, iya kan, Naru?''
Naruto kecil tampak mengerjap sembari bergumam pelan. ''Nyaaa~'' begitu katanya.
''Bukannya itu turunan dariku, Kushina?'' Minato tampak menaikkan sebelah alisnya. Ia tampak menggoyangkan jarinya pelan, bermain dengan Naruto.
Aduh, mulai lagi, suamiku.., Kushina membatin dalam hati.
''Tentu saja tidak, Minato. Wajah Naruto itu turunan dariku,'' Kushina memandangi suaminya dengan tatapan hei-yang-benar-saja.
''Tidak, tidak. Naruto itu laki-laki, dan laki-laki itu tampan, laki-laki itu aku dan yang seperti itu adalah aku,'' Minato menjelaskan dengan panjang lebar—agak tidak jelas. Kushina sudah mulai berkedut gemas, ia menatap kesal sembari mendengus pelan, menerpa rambut Naruto yang memandang bingung kepada kedua orang tuanya.
''Lihatlah, wajahnya bulat, sepertiku. Kalau dia imut berarti itu karena bentuk wajahnya yang turunan dariku. Satu lagi, siapa yang bilang kalau kau itu tampan?'' Kushina tampak tersenyum penuh kemenangan sembari menepuk pelan punggung Naruto yang sudah mulai iseng memainkan poni rambut merah yang membingkai wajah cantik ibunya.
Minato menatap Kushina lamat-lamat. ''Siapa yang bilang?'' katanya pelan, lalu menyeringai.
Laki-laki berstatus suami dari Kushina Uzumaki itu tampak menggeser kursinya mendekati Kushina.
''Tentu saja kau,'' Ia tertawa puas melihat wajah Kushina yang mulai memerah, sebelum menambahkan,
''Dan puluhan gadis sampai ibu-ibu yang saat ini terbaring tak berdaya di rumah sakit akibat amukanmu saat mereka mengunjungimu setelah melahirkan beberapa minggu lalu,''
BUGH!
''Diamlah! Jangan mengingatkanku dengan kejadian menyebalkan itu—dattebane!'' Kushina menggeram malu sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak peduli akan nasib Minato yang nyaris terjungkal membentur meja akibat dorongan super kuat dari pukulannya.
''Aduduh, iittaaii, Kushina,'' Minato meringis pelan sembari menggosok bagian tubuhnya yang terkena serangan tangan Kushina. Laki-laki itu tampak menutup sebelah matanya menahan nyeri sembari memandangi istrinya yang kini sedang membuang muka.
Seakan mengerti akan keadaan ayahnya, Naruto kecil tampak merentangkan tangannya, mengusap pelan pipi Minato—karena hanya bagian itu yang bisa ia gapai. ''Nn~Atata~''Naruto kecil tampak tersenyum riang, memperlihatkan dua bola mata sebiru langit miliknya yang tampak berkaca-kaca diterpa penyinaran ruangan.
Minato melirik sekilas sebelum mencium pipi Naruto gemas. ''Arigatou, Naruto, tou-san baik-baik saja,''
Kushina kemudian tersenyum melihat suami dan putranya kini sedang bercengkrama dengan akrab—meski ia tak yakin Naruto mengerti benar apa yang dikatakan Minato, begitupula sebaliknya. Ia baru saja akan mencium Naruto ketika sebuah tangan mungil mendarat di pinggangnya. Ia bisa merasakan tangan itu semakin menggapainya turun—seperti menjadikan tubuhnya sebagai tunjangan, atau pun tumpuan—sebelum pada akhirnya merambat naik, lalu berhenti di bahunya.
''Kushina baa-san,''
''Eh?!''
Tampaklah seorang bocah laki-laki berwajah kalem sedang –berusaha—duduk di atas kursi. Mata onyx miliknya yang tampak bundar berkilat senang ketika berhasil menemukan sosok yang ia cari selama ini berada dalam pelukan Kushina.
''Aku membawa Sasuke ke sini,'' Itachi—bocah itu— tersenyum lebar kepada Naruto yang kini sedang memandangnya bingung—belum kenal, sepertinya. Mata polos berwarna biru itu tampak memandangi sosok bocah laki-laki yang sedang tersenyum itu dengan tatapan siapa-kau?. Melihat itu, Itachi mengerjap beberapa kali sebelum tertawa kecil dan mengulurkan tangan mungil yang sepertinya hangat itu kepada kedua tangan Naruto yang masih sibuk menggenggam tangan ayahnya. Segera saja, Naruto melepaskan genggaman tangan ayahnya dan menyambut uluran tangan Itachi dengan agak ragu.
''Aku Uchiha Itachi, kau bisa memanggilku Itachi-nii,'' calon penerus kepemimpinan klan Uchiha muda itu kembali menampakkan senyum hangatnya dan menggerakkan tangannya—yang tengah digenggam Naruto— dengan perlahan. Naruto yang sebelumnya tampak ragu, kini tertawa senang sembari mempererat genggamannya pada tangan mungil milik Itachi.
''Baiklah, kurasa kalian sudah saling mengenal, hm?'' Kushina menaikkan sebelah alisnya gemas melihat tingkah polos dua bocah yang bisa dibilang kelewat imut itu. Wanita yang telah menjadi ibu diusia yang masih bisa dibilang muda itu tampak membelai lembut kepala Itachi, membuat bocah itu mengerucutkan bibirnya tak suka. Mata onyx miliknya yang masih tampak polos menatap Kushina lekat-lekat.
''Aku sudah besar, baa-san,'' Ujarnya. Kushina tertawa dibuatnya, kini yang ia lakukan justru menyentil pelan hidung mungil Uchiha Itachi yang semakin mengerucutkan bibirnya ke depan.
''Hai, hai. Wakatta…,'' Wanita muda berambut merah itu hanya tersenyum lembut sebelum menghentikan aksi 'penjahilan' terhadap seorang Uchiha Itachi kecil.
Itachi tersenyum senang sembari menganggukkan kepalanya—ada seorang lagi yang mengakui kalau dia sudah besar. Ia mendudukkan diri di kursi yang sedari tadi digunakannya sebagai tumpuan kedua kakinya—melihat Naruto. Setelahnya Itachi meneguk segelas air yang baru saja disodorkan Minato padanya sebelum bergumam terimakasih.
''Ne, kemana ayah dan ibumu, Itachi?'' Minato tampak memperhatikan gerak-gerik bocah kecil di depannya yang tengah asyik meneguk segelas air pemberiannya. Itachi tampak melirik Minato sebentar sebelum menghabiskan air minumnya dengan cepat.
''Tou-san dan Kaa-san ada di belakangku tadi. Aku pergi ke sini mendahului tou-san dan kaa-san,'' jelasnya singkat. Itachi tampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling sebelum kembali menatap Minato yang tampak menaikkan sebelah alisnya.
''Itu mereka,'' Jari telunjuk berukuran mini itu menunjuk dua sosok berbeda gender yang sedang berjalan santai ke arah kedai Ichiraku. Fugaku dan Mikoto—tak lupa Sasuke di dalam gendongan Mikoto. Minato mengangguk singkat sebelum menyeruput teh hangat pesanannya yang baru sampai.
Kushina yang tengah asyik bermain dengan Naruto, menolehkan kepalanya ketika mendengar nama sahabatnya disebut oleh Itachi. Rautnya berubah bingung ketika melihat cara berjalan Mikoto yang tak wajar. Sahabat terdekatnya itu tampak menggandeng tangan suami datarnya sembari berjalan dengan pelan—sedikit pincang?
''Kau kenapa, Mikoto?'' Kushina langsung saja mengajukan pertanyaan kala sahabatnya itu sampai dan mendudukkan diri di sebelahnya, sementara lelaki tampan berwajah batu yang tadi berjalan bersama Mikoto—Uchiha Fugaku—memilih untuk duduk di sebelah sang Hokage muda.
''A—ah, t—tidak apa-apa, hanya tersandung batu tadi, jadinya aku jatuh,''
Kushina berani bersumpah, ia melihat raut panik dan semburat kemerahan menghiasi wajah Uchiha anggun itu. Tak mau berburuk sangka terhadap sahabatnya, Kushina memilih untuk menganggap semua sumpahnya tadi hanya halusinasi belaka.
''Lain kali, kau harus hati-hati,'' ujar Kushina menasihati. Sementara yang jadi sasaran ucapan itu hanya meringis gugup. Wanita berambut hitam sepunggung itu memilih untuk membetulkan letak Sasuke di dalam dekapannya sebagai penutup kegugupan.
Senyum Kushina merekah cerah ketika sepasang Violet indah miliknya menangkap sosok bayi berwajah imut di dalam dekapan sahabatnya. Ia memandang sekilas sebelum menyentuh pelan pipi sang bayi—yang tak kalah gembul dengan pipi putranya—sembari berujar pelan, ''Konbanwa, Sasuke,''
Mikoto hanya tersenyum penuh arti melihat kelakuan sahabat merah di sampingnya. Baru saja dirinya akan memesan kepada Teuchi, ketika sepasang tangan tiba-tiba saja menyembul dari bawah meja, menggenggam pinggirannya, disusul dengan bunyi benda yang sedang digeret. Tak lama setelahnya, malaikat pertamanya muncul dengan tampang polos, mendekati adiknya dan mengucapkan sesuatu di telinganya—berbisik. Entah apa itu, yang jelas Sasuke hanya memberikan tatapan Innocent sebagai respon dari bisikan Itachi.
''Eh? Apa yang kau katakan, Itachi?'' Kushina jadi penasaran melihat gerak-gerik dua bocah yang sedang sibuk berkomunikasi—entah bagaimana caranya mereka mengerti apa yang diinginkan lawan bicaranya. Itachi tampak mengedipkan matanya kepada Sasuke sebelum menelengkan kepalanya ke samping. ''Itu rahasia, Kushina baa-san telalu dewasa utntuk mengetahuinya,'' ujarnya kalem.
Kushina terkikik sembari menepuk kepala Itachi pelan. ''Kau ini, sudah main rahasia ya…,'' Ia meringis sebelum menolehkan kepalanya kepada Naruto—sosok kecil yang sedang menarik rambutnya. Mungkin merasa dilupakan oleh ibunya?
''Ah, Naruto, kau punya teman baru lagi disini,'' wanita cantik itu sedikit membetulkan letak Naruto—sedikit menegakkan tubuhnya— lalu mencondongkan tubuhnya kepada Mikoto. ''Lihatlah, namanya Sasuke,'' ia berujar lembut, disodorkannya Naruto ke dekat Sasuke. Bayi-bayi malaikat itu tampak saling memandang, lalu memicing sengit. Tiga orang di dekatnya hanya bisa menatap keheranan. ''Dada~nyacacu! Tata!'' Naruto meracau tidak jelas sembari mengacungkan tangannya kepada Sasuke. Bayi beriris legam itu hanya menatap Naruto polos. ''Nn!'' hanya itu tanggapan dari Sasuke. Bagaimanapun, ia adalah anak Fugaku, jadi sedikit-sedikit trademark sialan itu pasti juga akan menurun pada anaknya.
Bibir Naruto tampak maju satu senti sembari memalingkan wajahnya. Sementara Sasuke tampak menyeringai—meski itu tak bisa dikatakan sebagai seringaian, mengingat bayi itu belum punya gigi.
''Ow ow, coba ibu lihat, sepertinya ada yang bertengkar di sini?'' Mikoto tampak menatap mata bulat Sasuke sebelum memeluknya erat. Kushina hanya tertawa sebelum menarik Naruto kembali pada posisi semula, mencium sebelah pipinya pelan.
.
.
.
''Kita dilupakan,'' nada datar meluncur dari bibir pemimpin klan tersohor di Konoha. Wajahnya tampak datar, sementara mata onyx miliknya tampak memandangi—mengawasi—gerak gerik istrinya tercinta. Sesekali mengirimkan deathglare—yang meskipun datar—mengerikan sekaligus mematikan kepada beberapa laki-laki iseng yang melirik istrinya. Aduh, dua suami yang overprotective.
Minato tampak terkekeh pelan sebelum kembali meneguk tehnya yang tinggal setengah. ''Biarkan saja, toh itu juga anak kita. Wajar mereka seperti itu, namanya juga ibu muda,'' katanya. Fugakau hanya mendengus pelan—tetap dengan wajah datarnya.
''Ngomong-ngomong, bicara soal istri, bagaimana misi khusus yang kuberikan kemarin?'' Hokage muda berjuluk Konoha no Kiiroi Senkou itu melirik rekan terdekatnya yang sedang sibuk menyesap teh—sama seperti dirinya.
Fugaku balas melirik Minato sebelum meletakkan cangkir teh miliknya ke meja. ''Misi berjalan sukses, Hokage-sama,'' laki-laki itu menyeringai puas sembari menelengkan kepala melihat sang istri yang tengah bercengkrama dengan istri rekannya, sekaligus teman perempuan yang paling dekat dengannya—meski tidak bisa dibilang dekat, mengingat keduanya seringkali bertengkar hanya untuk masalah-masalah sepele.
''Baguslah, kuharap kau senang dengan pemberian misi itu,'' Minato berujar santai sebelum menghela napas—merenggangkan otot-otot tangan yang terasa kaku.
''Hn,''
.
.
.
''Eh? Kau kenapa, Itachi?'' Kushina menghentikan pembicaraan dengan Mikoto ketika –tanpa sengaja— melihat kepala Itachi terkulai lemas di meja. Dengan sebelah pipi menempel erat di atas permukaan meja dan bibir mungilnya yang setengah terbuka. Wajahnya tampak kusut saat ini.
''Mengantuk,'' begitu katanya. Kushina membulatkan bibirnya mendengar jawaban parau dari bocah itu. Sementara Mikoto—tetep memainkan tangan Sasuke yang telah tertidur—tampak memandang khawatir kepada putra sulungnya itu.
''Kau tidak bisa tidur dengan nyenyak, Itachi?'' nada-nada cemas tampak kentara dari kalimat yang muncul dari bibir nyonya Uchiha yang telah dikaruniai dua orang anak itu.
''Aku tidak bisa tidur…,'' Itachi mengucek matanya pelan sebelum menguap—menahan kantuk. Yang mendengar jadi bingung dibuatnya. ''Kenapa tidak bisa tidur?'' Kali ini Kushina yang gantian bertanya. Ia menepuk pelan punggung Naruto yang menggeliat nyaman dalam tidurnya.
Itachi tampak mengangkat kepalanya, mengerucutkan bibirnya. ''Aku tidak bisa tidur sejak kemarin malam,'' jawaban yang agak melenceng memang, tetapi cukup ampuh untuk menarik perhatian dua wanita yang duduk di sisi kanan kirinya.
''Kenapa tidak bisa tidur? Ada yang mengganggumu, nak?'' Mikoto bertanya lembut sembari mengusap pelan kepala Itachi penuh sayang. ''Apa yang mengganggumu?'' sambungnya. Mata lebar milik Itachi menatap Mikoto dan Kushina bergantian. Hening beberapa saat sampai bocah berusia 5 tahun itu membuka mulutnya untuk berbicara.
''Tou-san … dan Kaa-san….,'' Itachi mengerucutkan bibirnya kesal.
''Eh? A—aku?'' Mikoto tampak menatap Kushina bingung, menunjuk dirinya sendiri. Kushina hanya mengangkat bahu. Ia melemparkan tatapan kau-tanya-saja-padanya pada Mikoto, lalu mengalihkan pandangan kepada Itachi—yang masih tampak kesal.
''Kok, Itachi bisa tau kalau itu kedua orangtua Itachi?'' Kushina tampak bertanya penuh rasa penasaran. ''Entah, yang jelas, suara kaa-san kedengaran jelas,'' Itachi menjelaskan apa adanya.
''E—eh? K—kaa-san?'' Mikoto bertambah bingung saat ini, ia tak tahu apa sebenarnya yang akan dikatakan anaknya yang satu itu.
''Iya, suara kaa-san, suara tou-san juga terdengar sesekali,'' begitu kata Itachi
''Eh? Kok bisa?'' Kushina yang semakin penasaran mendekatkan diri kepada Itachi. Menunggu kelanjutan dari bocah itu. ''Bisa kau ceritakan?'' iris violet bening itu tampak berbinar antusias menanti cerita dari mulut bocah yang mengaku tidurnya telah terganggu itu.
''Tadi malam—''
.
.
Itachi baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap tidur. Ia naik ke atas ranjangnya dan mulai mebeberkan selimut biru kesayangannya untuk menghangatkan diri. Setelah mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur, Itachi berniat memejamkan matanya ketika telinganya menangkap suara samar dari kamar ayah dan ibunya—terletak tepat di depan kamarnya. Mencurigai sesuatu telah terjadi, bocah kecil berparas tampan-imut itu mengurungkan niatnya untuk pergi tidur. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan dengan berjingkat menggunakan kaki-kaki kecilnya menuju kamar kedua orang tuanya. Matanya kembali memicing ketika mendengar semacam teriakan seorang wanita dari dalam kamar ayah-ibunya. Setelah sampai, dengan hati-hati bocah itu menempelkan diri di dekat tembok sebelah pintu—berusaha menekan chakra dan hawa keberadaan. Ia mendengar jelas potongan-potongan suara dari dalam kamar yang cukup luas itu.
''K—kyaaa!''
Itu teriakan ibunya!
''FUGAKU!''
Keningnya berkerut ketika mendengar sang ibu berteriak kencang.
''HENTIKAN!''
Apakah mereka sedang bertengkar?
''Tenanglah, Mikoto. Ini Misi..,''
Misi? Ayahnya sedang melakukan misi? Kenapa di dalam rumah?
''Fu—''
''Terima saja, ini akibat perbuatanmu,''
Itu suara ayahnya.
''Tap—''
Dan begitulah, Itachi menguping dari luar dan untuk selanjutnya, suara-suara lain yang tak kalah memecah keheningan malam kembali terdengar. Itachi bahkan sempat ragu kalau itu adalah ayah-ibunya—mengingat kedua orangtuanya adalah tipe pecinta ketenangan. Merasa semua aman saja—karena ayah ibunya ada— Itachi memilih untuk kembali ke kamarnya. Meskipun itu berarti bocah itu harus mati-matian menutup mata dan pendengarannya, sebab suara berisik nan mengganggu itu terus berlanjut sampai dini hari.
.
.
Kushina melongo mendengar pernyataan Itachi. Beberapa saat lalu otaknya mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ragu-ragu, ia melirik pada sang sahabat yang—kali ini— menjadi terdakwa dalam kasus ''Pemecahan Ketenangan Malam Itachi''
Mikoto mematung mendengar celotehan sang putra. Ia bahkan tak sadar kalau Kushina sudah memandanginya penuh arti sedari tadi.
''Oooh, jadi kau dan muka datar itu—''
''DIAM!''
Kushina terkikik kecil sembari menatap Mikoto dengan tatapan menertawakan—tersirat banyak makna di dalamnya. Mikoto hanya mendesah kesal, berusaha menyembunyikan wajah yang telah memerah dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Itachi yang ada di antara keduanya hanya bisa menatap bingung—tidak mengerti—pembicaraan dua wanita dewasa di sisinya.
''Ibu, ada apa?''
Mikoto hanya tertawa gugup, merutuk dalam hati.
Cowok-cowok sialan! Awas saja nanti!
.
.
.
ToBeContinued
A/N: Minna, maaf update telat lagi T.T. Internetnya belum bayar, jadi wifi gak berfungsi deh…
Apakah ini masih kurang panjang? :o
Ini ceerita kesannya itu-itu aja yah? Nggak ada apa-apanya TT TT Maaf deh, maaf. Apalagi chapter ini, datar banget yaa? Maaffff, aku minta maaf telah mengecewakan kalian
Oke, untuk Sakura Haruno, mungkin nanti dikeluarkan kapan-kapan XD, saya juga masih bingung mau diatruh dimana*jujur
#inipakaiakuapasayasih?
Errr, chapter ini OOC ya? Terutama Itachi? Iya saya juga menyadari, sepertinya saya telah membuatnya OOC*pundung
Hm…, apalagi yah? Untuk request, boleh…, tapi saya gak janji bakal ngelakuin semua *digampar
Mungkin hanya yang 'mampu' saya lakukan :D
Baiklah, mungkin sampai di sini dulu ya…, balasan review mungkin kapan-kapan, gak sempet buka review XD, tapi tenang, sudah kubaca, kok….
Terima kasih buat yang sudah baca, review, fave, dan follow, juga para silent readers…, terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk fic-telat-update ini *pelukciumsatusatu
Aku sayaaaaaaang kalian semua! :*
Baiklah, segini dulu ya? Kalau ada yang salah atau kurang, beritahu lewat review, nggak usah ditahan, blak-blakan juga kagak apa XD
Kritik dan saran selalu ditunggu…
Review yah? Flame silahkan saja…
Arigatou ^^
23 Desember 2013
Akai Kiiroi
*khusus buat event hari ibu, aku post chapter dobel loh XD sitambah satu chapter special, semoga suka~ :*
