Keheningan bukanlah sesuatu yang bisa ditangani dengan mudah jika kau sedang berdua dengan—mantan—seseorang yang—pernah—engkau sukai. Setidaknya itu yang sedang ada dipikiran Kise, yang begitu berbeda dengan Aomine. Ia tampak acuh dan santai, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.

"Kise," kata Aomine, berusaha memecah keheningan. "Aku bukan orang yang begitu peka, tapi kau sedang menjauhiku, kan?"

Kise melirik Aomine dari sudut matanya. Ia menemukan pemuda itu tidak sedang menatapnya. Untunglah, Kise tidak perlu repot-repot menyembunyikan kegugupan yang tersirat di wajahnya.

Tunggu, gugup ? Dengan Aomine ? Apa ...

"Bukankah Aominecchi yang memintaku untuk menjauh?" Kise bertanya balik.

"Hah?" Aomine sontak menoleh pada Kise. "Sejak kapan aku memintamu untuk menjauh?"

"Aominecchi sudah lupa, ya," kata Kise tanpa menoleh. "Saat hari kelulusan Teikou kau berkata seperti itu-ssu." Ia menenggelamkan wajahnya hingga ke pipinya.

Kise takut jika ia bertatap wajah dengan Aomine maka ia akan kehilangan kata-kata. Sekuat apa pun Kise mencoba untuk menghilangkan perasaannya itu, ia tak akan bisa. Ia tidak mau mengakuinya terang-terangan, tapi ia merasa...gugup. Sangat gugup hingga tangannya bergetar. Jika ia tidak sedang berendam, mungkin Aomine akan menyadari hal itu.

Berbicara soal berendam, ini bukan tempat dan posisi yang bagus untuk berbicara berdua dengan Aomine. Kise cukup sadar tentang hal itu. Oleh karena itulah ia menyembunyikan rona merah yang tergambar di kedua pipinya.

"Aku tidak pernah memintamu untuk menjauh, kau ini tuli, ya?" kata Aomine. "Aku hanya berkata padamu untuk tidak masuk ke Touou."

Mendengar kata Aomine, Kise langsung menaikkan wajahnya. "Tapi Aominecchi berkata bahwa aku ini menyusahkan dan kau tidak mau bermain denganku," kata Kise. "Bukankah itu sama saja kau ingin aku menjauh?"

Aomine berdecak keras. "Dengar, sepertinya kau salah memahami ucapanku," kata Aomine. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ingin kau masuk Touou karena aku tidak ingin kau bergantung padaku secara terus menerus."

Kise tercengang ketika ia mendengar hal itu keluar dari bibir Aomine. Ia membiarkan keheningan mengelilingi mereka, ia tak mampu membalas ucapan Aomine. Ia tidak tahu harus membalas apa. Kata-kata Aomine sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya, tanpa perlu dibalas oleh Kise.

Kise menoleh, menatap Aomine selama beberapa detik untuk mengamatinya. Kise berusaha mencari kebohongan dalam kalimat Aomine barusan, tapi ia tidak memperoleh hasil apa pun. Aomine tampak begitu tenang, tak ada kebohongan dalam mimik wajahnya.

Kise menyadari ada yang berubah dari ekspresi Aomine. Aomine yang ditemuinya sebelum ini tak sedikit pun terlihat seperti ini. Meskipun perubahannya tidak terlalu mencolok, tapi Kise sadar akan hal itu.

"Aominecchi," panggil Kise perlahan. "Kau sudah sedikit berubah, ya."

Aomine hanya melirik Kise dari sudut matanya. Ia merendam tubuhnya lebih dalam di air panas itu.

"Kurasa, kalah dari Kurokocchi tidak seburuk yang kukira." Kata Kise.

Aomine terkekeh pelan. Kise benar. "Tetsu tidak selemah yang dulu," kata Aomine. "Meskipun aku tidak mau mengakui bahwa cahayanya sekarang lebih terang daripada yang dulu."

Kise tersenyum tipis. Senyum yang bahkan tidak akan disadari oleh Aomine. Aomine benar-benar sudah mulai berubah.

"Aku masih ingat saat pertama kali Tetsu bertanding," kata Aomine. "Ia terjatuh, lalu hidungnya berdarah, bahkan Akashi pun—"

"Aku dengar itu, Aomine-kun." Suara seseorang dibelakang mengagetkan Kise dan Aomine.

Kuroko berdiri di belakang mereka dengan wajah polos dan tanpa ekspresi, seakan-akan ia tidak mendengar pembicaraan mereka.

"Kurokocchi, sejak kapan kau disini?" tanya Kise.

"Baru saja," jawab Kuroko jujur. "Kukira tidak ada Aomine-kun disini."

"Oi, Tetsu! Setidaknya beri sinyal kalau kau ingin masuk!" Aomine mendengus, ia menatap Kuroko yang sedang melempar ekspresi datar padanya. Rasanya ingin sekali Aomine merobek ekspresi itu dari wajah Kuroko.

"Aku sudah berulang kali mengetuk pintu, tapi sepertinya kalian tidak mendengarnya." Kata Kuroko.

"Ternyata hawa keberadaan Kurokocchi memang tidak begitu terdeteksi, ya." Kise menghela nafasnya, yang membuat Kuroko segera menoleh kearahnya.

"Kise-kun," kata Kuroko. "Kagami-kun memintaku untuk memanggilmu. Ia ingin Kise-kun segera menemuinya di dapur. Kurasa ia butuh sedikit bantuan."

Kise mengedipkan kedua matanya ketika Kuroko mengalihkan pandangannya dari Kise untuk menatap Aomine.

"Lalu, Aomine-kun," panggil Kuroko. "Aku minta maaf karena telah mengganggu rencanamu."

Aomine hendak membuka mulut untuk membantah ucapan Kuroko, tapi pria kecil itu sudah menghilang, meninggalkan kedua orang temannya itu dalam onsen. Kise melirik Aomine yang berdecak keras, sambil berusaha memahami ucapan Kuroko tadi.

Rencana ?

.

.

"Lebih tipis, Kise. Potonganmu terlalu tebal." Kata Kagami.

"Ah," Kise menatap daging yang ada didepannya. Benar kata Kagami, daging itu terlalu tebal. "Baik, Kagamicchi." Kise mengiris daging itu perlahan-lahan kali ini, meskipun agak susah karena diameternya yang terlalu lebar.

Mereka sedang membagi tugas. Kise yang menangani bagian daging dan saus, sementara Kagami bergelut dengan sayuran dan kuah. Tanpa sadar, ia melirik Kagami yang begitu lihai memotong-motong sayuran.

"Kagamicchi, kau sangat cekatan," kata Kise. "Kau ini pintar memasak, ya?

"Tidak juga," jawab Kagami. "Aku tinggal sendirian, jadi aku hanya memasak apa yang aku bisa saja."

"Tapi kau memotong sayuran itu dengan cepat, itu hebat sekali!" Kedua mata Kise sedag terfokus pada daging yang sedang ia iris sekarang, tetapi ia masih bisa melihat Kagami dari sudut matanya.

"Itu karena aku sudah terbiasa di dapur." Jawab Kagami.

"Kagamicchi, kenapa hanya kita berdua yang memasak?" tanya Kise. "Dimana Momocchi dan pelatihmu? Seharusnya mereka yang melakukan pekerjaan ini."

Kagami bergidik. Ia memandang Kise dengan tatapan ngeri. "Mereka itu ... Sangat buruk," gumam Kagami. "Terburuk dari yang terburuk. Masakan mereka rasanya jauh lebih buruk dari mimpi buruk."

"Ah," Kise kini sama ngerinya dengan Kagami. Ia baru ingat kalau Momoi benar-benar buruk dalam hal memasak. Ia bisa-bisa mencampurkan bubuk kopi sebagai merica dan garam sebagai gula. Memikirkan hal itu saja membuat Kise merinding akan rasa masakannya jika mereka yang membuatya. Kise tentunya tidak ingin mati muda. "Kau benar, aku baru ingat."

"Sebenarnya aku tidak ingin meminta bantuanmu," kata Kagami. "Tapi aku terpaksa. Aku tidak punya pilihan lain, jika mengingat selera anggota Seirin jelasnya berbeda dengan mereka. Lagipula, sepertinya kau orang yang cocok untuk hal seperti ini."

Kise tidak menatap Kagami—ataupun meliriknya. Tapi Kise tersenyum. Kagami memang bukan tipikal orang yang mudah untuk meminta bantuan seseorang, karena wataknya hampir-hampir seperti Aomine. Hal itu membuat Kise sedikit senang karena Kagami mempercayainya daripada anggota Kiseki no Sedai yang lain.

"Kenapa kau tidak meminta bantuan Kurokocchi ?" tanya Kise yang kedua tangannya masih bergelut dengan daging.

"Tidak, terima kasih," kata Kagami. "Bisa-bisa ia membakar dapur ini karena tidak tahu bagaimana cara mengendalikan api di kompor."

"Bagaimana dengan Midorimacchi?" goda Kise. "Kulihat kalian bersosialisasi dengan baik."

Kagami terlihat gusar selama beberapa detik, kemudian ia terdiam. Seringai jahat terlihat dari sudut bibirnya.

"Hah," kata Kagami. "Akan kubuat kacamata sialan itu menikmati hidangan ini hingga ke tulang."

"Kagamicchi, kau seram sekali." Gumam Kise.

Dapur itu kini terlihat menyeramkan dengan Kagami yang begitu menggebu-gebu untuk memasak hidangan spesial untuk Midorima. Kise yang berusaha menghentikan hal itu hanya membuat Kagami semakin menggila, jadi ia memutuskan untuk diam saja. Toh kagami hanya memasukkan serbuk merica dan cabai dalam supnya.

Kise dan Kagami beriringan membawa hidangan itu ke ruang makan, menatanya sedemikian rupa agar terlihat rapi. Kise menyadari ada sesuatu yang kurang dari hidangan mereka. Tidak ada nasi diatas meja makan itu.

"Kagamicchi," panggil Kise. "Apa kita lupa memasak nasi?"

"Ah, soal itu..." Kagami menggaruk pipinya, melirik ke arah lain. "Sebenarnya nasinya sudah matang, tapi pelatih tidak memperbolehkan untuk menyiapkannya."

"Aneh sekali," gumam Kise. "Kurasa Momocchi ada hubungannya dengan hal ini."

"Entahlah," kata Kagami. "Tapi kurasa kita harus memanggil yang lainnya. Ini sudah hampir jam makan malam."

.

.

Aomine sedang bersantai di ruangannya, membolak-balik majalah Horikita Mai edisi terbaru. Tidak ada siapapun didalam kamar itu. Midorima sedang berendam di onsen, sedangkan Kagami jelas-jelas sedang memasak di dapur bersama Kise.

Berbicara soal Kise, sebenarnya Aomine ingin meminta maaf atas cedera kakinya yang terlihat parah itu. Tetapi saat ia sadar bahwa Haizaki juga ada hubungannya dengan hal itu, ia menelan lagi kata-kata yang sudah ada di lidahnya itu. Ia sudah memukul Haizaki untuk Kise, jadi tidak masalah, bukan?

Setidaknya itu yang ia pikirkan.

Disisi lain, bukankah Aomine seharusnya juga memukul dirinya sendiri atas perilakunya pada Kise ?

Kise sudah melewati berbagai masa sulit. Mulai dari pertandingan melawannya, Haizaki, atau bahkan Seirin. Ditambah lagi dengan masa rehabilitasi kakinya. Sudah jelas bahwa pemuda itu dilarang mengikuti latihan berat.

Aomine masih teringat saat Kise tidak bisa berdiri dan harus ditopang oleh Kasamatsu. Saat Kise melawan Aomine. Saat kata-kata Aomine dengan kejamnya menusuk Kise, meskipun ia tidak menyadari hal itu. Kise sudah mempunyai anggota tim yang begitu peduli dengannya, jadi untuk apa Aomine peduli? Aomine tidak memiliki hubungan yang kuat bagi Kise sekarang. Hanya sebatas mantan rekan saat di Teikou.

Aomine tidak lagi terfokus pada majalahnya itu. Pikirannya sedang melayang entah kemana. Aomine merebahkan majalah itu pada wajahnya, bermaksud menghalangi pandangannya dengan majalah itu sehingga ia tertidur.

Sebelum ia sempat menutup matanya, pintu kamarnya terbuka.

"Aomine," suara Midorima. "Saatnya makan malam. Aku tahu kau belum tertidur." Midorima menutup pintu itu tanpa repot-repot mengusik Aomine.

Ah benar, makan malam. Bagaimana ia bisa lupa akan hal itu.

Ia menaruh majalahnya sembarangan, mungkin ia akan melihatnya lagi setelah makan malam.

Aomine beranjak malas dari kamarnya ke ruang makan. Ia disambut oleh beberapa pasang mata yang meliriknya sekilas. Mereka tampak sedang berbincang-bincang, tapi Aomine bahkan tidak mau tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

Midorima duduk di ujung, disebelahnya ada Murasakibara, dan Momoi. Diseberang mereka ada Kuroko, Hyuuga, Kiyoshi dan Riko yang duduk berdampingan. Akashi terlihat duduk di kursi utama—yang terlihat seperti seorang kepala keluarga kalau saja dia tidak pendek—dan Aomine bisa mengerti akan hal itu.

Aomine memutuskan untuk duduk disebelah Momoi karena kursi diseberangnya sudah jelas diisi dengan pemain Seirin. Tapi ada yang kurang dari mereka. Aomine melirik kedepan dan kesamping perlahan-lahan, tidak mau kelihatan mencurigakan. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.

Kagami dan Kise tidak ada disana.

"Hei, Riko," panggil Kiyoshi. "Aku tidak melihat Kagami. Kemana dia?"

"Berbicara soal itu, aku juga tidak melihat Kise-kun." Kata Kuroko.

"Ah, aku menyuruh Ki-chan dan Kagamin untuk membeli minuman tadi." Momoi tersenyum menatap Kuroko dan Kiyoshi.

"Ahhh, aku lapar sekali." Suara Murasakibara akan terdengar seperti rengekan kalau saja ia tidak sedang mengunyah sebatang pocky.

"Kurasa kita bisa makan terlebih dulu, mereka tidak akan keberatan." kata Riko. "Lagipula, mereka lama sekali. Ini sudah hampir 20 menit."

"Baiklah," Murasakibara menepukkan kedua telapak tangannya perlahan. "Ittadakimasu."

Yang lainnya pun melakukan hal yang sama dengan Murasakibara. Kecuali Akashi, yang sedari tadi menatap aneh nasi diatas mejanya itu.

Aomine mengambil daging yang yang dilumuri saus hangat. Asap tipis terlihat di udara saat Aomine hendak meniup daging itu. Baunya sedap sekali.

Meja terasa bergetar saat Aomine mengunyah daging itu. Ia melihat kearah Hyuuga yang sedang susah payah menelan makanan yang barusan dikunyahnya. Sementara Kiyoshi menahan sekuat tenaga agar ia tidak memuntahkan makanannya. Sepertinya hal yang sama juga dialami oleh Midorima. Ia terlihat membatu.

"Hei," Murasakibara mengangkat mangkuknya. "Nasi ini terasa asam dan pahit." Ekspresinya datar, tapi ia tampak tetap mengunyah nasi itu.

Aomine menatap semangkuk nasi yang ada didepannya, lalu ia mencicipinya.

Hmph.

Aomine langsung menelan nasi itu, ia bahkan tidak ingin mengunyahnya. Benar kata Murasakibara, rasanya aneh sekali.

"Ini perusakan cita rasa makanan." Kata Midorima.

"Satsuki," Aomine menoleh kearah Momoi, yang sedari tadi hanya tersenyum. "Kau yang melakukan semua ini?"

"Ah, Dai-chan jahat sekali," kata Momoi. "Nasiku terasa seperti biasanya, mungkin hanya perasaanmu saja." Ia tersenyum kearah Aomine.

"Tidak," kata Kuroko. "Rasanya benar-benar seperti obat."

"Sudahlah," kata Riko. "Habiskan saja. Kita tidak boleh membuang makanan." Dia tersenyum sadis pada anggota Seirin. Hal itu membuat Kiyoshi dan Hyuuga bergidik.

"Nah, semuanya, ayo silahkan." Momoi tersenyum pada semua orang di meja itu.

Aomine menengok ke arah sahabatnya itu. Dia menghela nafas. Semuanya pasti sudah tertata rapi sesuai dengan rencananya. Riko dan Momoi tampak santai-santai saja memakan hidangan mereka, berbeda dengan yang lainnya.

Midorima terpaku menatap nasinya. Seakan-akan menganggap nasi itu seperti jamur beracun. Berbeda dengan Murasakibara di sebelahnya, raksasa berambut ungu itu sedang mengunyah nasi itu seperti tidak ada yang salah dengannya. Akashi tidak menyentuh nasi itu sama sekali, sepertinya ia tahu hal ini akan terjadi karena sedari tadi ia memandang mangkuknya itu, ia hanya memakan lauk dan supnya saja. Begitu pula yang terjadi pada Kuroko, ia bahkan tidak menghabiskan daging dan supnya. Lalu Kiyoshi dan Hyuuga—

"Aku selesai," Hyuuga merobohkan kepalanya ke meja makan. "Aku butuh air..." suaranya terdengar sangat tersiksa, atau mungkin karena efek tersedak nasi.

Riko menengok simpati ke arah Hyuuga yang menggeletakkan kepalanya dengan pasrah di atas meja. "Ah, sebenarnya minumannya—"

"Kami.. Pu.. lang .."

Semua pasang mata yang ada di meja makan itu melihat ke arah suara yang memotong ucapan Riko barusan.

"Ki-chan!" Momoi berlari ke arah Kagami yang sedang menggendong Kise di punggungnya. "Apa yang terjadi, Kagamin?"

Nafas Kagami tampak tersengal-sengal. Mungkin dia akan berkeringat jika saja udaranya tidak sedingin ini. Nafasnya tidak terlalu kuat untuk menjawab pertanyaan Momoi dengan beban seberat Kise di punggungnya dan tas plastik berukuran besar yang berisi minuman kaleng yang ia bawa.

Kise yang ada dibelakang Kagami tampak tenang, dia tersenyum kearah Momoi. "Tidak apa, Momocchi. Ini semua salahku." Kata Kise.

"Apa yang terjadi, Ki-chan?" Momoi terlihat khawatir.

"Aku tidak sengaja tergelincir di salju saat kami berangkat," kata Kise, memasang senyum bodohnya. "Kakiku terkilir, jadi Kagamicchi menggendongku sepanjang perjalanan hingga kesini lagi."

"Ehhh?! Kakimu terkilir?" Momoi melihat kaki Kise yang cedera. "Ki-chan, kakimu—"

"Ah, jangan khawatir, Momocchi," Kise menepuk-nepuk kepala gadis itu. "Hanya terkilir biasa, tidak terlalu parah."

Bohong sekali. Kagami ingin mengatakan hal itu, tapi ia sudah berjanji pada Kise untuk tidak mengatakannya pada siapapun.

"Syukurlah, Ki-chan." Momoi menghela nafasnya.

"Midorin," Momoi menoleh pada Midorima yang sedari tadi terdiam. "Kau bisa menangani hal ini, kan?"

"Serahkan padaku-nanodayo." Midorima membenarkan posisi kacamatanya sambil menahan rasa mual di perutnya.

"Baguslah," Momoi tersenyum. "Nah, Ki-chan, Kagamin, kalian makanlah dulu."

"Rasanya aku ingin mati." Kata Kagami diselah-selah nafasnya.

"Kagamicchi, kau masih hidup, tahu!" Kise tertawa lalu mengacak-acak rambut Kagami yang sedang bersusah payah mengatur nafasnya. Kagami mungkin akan melakukan aksi protes jika saja nafasnya tidak sedang berderu seperti itu. Rasanya sesak sekali. Dan Kise sangat berat sekali. Ditambah lagi jarak dari penginapan ke toko itu tidak bisa dibilang dekat.

Aomine yang melihat pemandangan seperti itu –entah mengapa—mulai kehilangan nafsu makannya.

"Aku selesai." Semuanya menatap Aomine seketika.

Ia berjalan meninggalkan ruang makan itu, mengabaikan tatapan yang dilemparkan seisi ruangan itu padanya. Aomine melirik Kise sesaat saat ia berjalan melewati mereka. Dan Kise sadar akan hal itu.

"Aominecchi .." gumam Kise.

Momoi tersenyum lemah kearah Kise. Ia jadi merasa iba melihat Kise. "Jangan terlalu dipikirkan, Ki-chan," Momoi menepuk-nepuk lengan Kise. "Dai-chan memang terkadang seperti itu jika ada sesuatu yang mengganggunya. Tapi jangan khawatir, ia pasti akan merasa lebih baik nanti."

Kise membalas senyuman Momoi tanpa berkata apapun, dia hanya mengangguk.

Kise menepuk pundak Kagami. "Kagamicchi, kau bisa menurunkanku sekarang."

"Aku menunggumu mengatakan hal itu dari tadi, Kise." Kagami menurunkan Kise perlahan-lahan, mengingat kakinya yang sedang cedera parah itu barusan terkilir.

Momoi mengambil tas plastik itu dari Kise. "Nah, semuanya. Ini minuman kalian." Momoi membagikan minuman kaleng itu.

Hyuuga yang awalnya senang karena mendapat minuman setelah memakan nasi pahit itu mulai kehilangan rasa senangnya.

"Apa-apaan ..." gumam Hyuuga saat melihat minuman kaleng itu.

Minuman kaleng itu adalah sebuah jus. Jus yang terdiri dari brokoli, wortel, jeruk, kacang merah, bayam, dengan ekstrak telur dan gandum. Dengan tulisan 'Zero Sugar' yang melekat pada kaleng itu.

Akashi membuka minuman kaleng itu dan meneguk isinya. Bagi Akashi, mungkin hal ini sudah biasa karena ia diharuskan meminum jus sayur dan buah ketika ia dirumahnya. Tapi bagi orang yang tidak terbiasa dengan sayur seperti yang lainnya, hal itu mungkin dianggap sebagai lelucon.

"Nah, silahkan," kata Riko. "Itu minuman spesial dari kami."

.

.

"Kau terlalu bodoh jika kau berpikir kami akan percaya dengan kata-katamu." Midorima mengompres kaki Kise yang cedera—dengan es batu yang telah diremukkan di dalam plastik dan dibalut oleh handuk. Kakinya sedikit memar dan terdapat bercak merah disana. "Apanya yang 'terkilir biasa'."

Midorima menekan pergelangan Kise perlahan, membuat pemuda itu meringis kesakitan. "Sudah kuduga." Midorima menatap tajam kearah pergelangan kaki Kise.

Midorima tahu kedua kaki Kise sedang cedera karena ia terlalu memaksakan dirinya di beberapa pertandingan. Dan cederanya belum sembuh total, bahkan Kise seharusnya masih dalam masa rehabilitasi. Ia tahu Kise memiliki alasan mengapa ia menyembunyikan soal kakinya yang cedera. Dan untuk soal ini, Midorima tidak ingin ikut campur.

"Kise-kun," Kuroko menatap Kise yang kakinya sedang dibalut oleh Midorima. "Kenapa kau berbohong tadi?"

"Ini hanya cedera kecil, Kurokocchi," Kise tertawa kecil. "Lagipula kita kesini untuk bersenang-senang."

"Dari ekspresi wajahmu pun aku bisa tahu kalau itu bukan cedera kecil, Kise-kun."

"Kise," Midorima melirik temannya itu dari sudut matanya. "Aku bukan dokter, jadi aku tidak tahu pasti tentang cederamu. Tapi seharusnya kau tidak memaksa kakimu untuk melakukan sesuatu yang diluar batas."

Kise tidak membalas ucapan Midorima. Ia tahu Midorima benar, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin berhenti bermain basket ataupun membolos latihan hanya karena kondisi kakinya. Ia tetap berlatih dirumahnya—karena pelatihnya, Kasamatsu, dan rekan timnya yang lain tidak akan membiarkannya ikut berlatih disekolah.

Midorima mengoleskan krim dingin pada pergelangan kaki Kise. "Ini bisa membantu mengurangi memar dan rasa sakit pada pergelangan kakimu." Kata Midorima. "Setidaknya untuk sementara." Ia berdiri, kemudian beranjak meninggalkan Kuroko dan Kise.

"Satu hal lagi," Midorima berhenti sebelum ia keluar dari pintu itu. "Jangan melakukan tindakan ceroboh—dalam hal apapun."

Dengan itu Midorima menutup pintu itu.

"Kise-kun," Kuroko berdiri. "Aku berjanji pada Kagami-kun untuk membantunya mencuci piring. Jadi aku akan meninggalkanmu sebentar. Tidak apa, kan?"

"Tentu saja tidak apa-ssu." Kise tersenyum pada Kuroko.

"Jika ada apa-apa, kau bisa datang pada Midorima-kun atau Aomine-kun." Kuroko tersenyum, lalu dia berjalan melewati Kise.

"Aku meragukan hal itu." Gumam Kise, tapi sepertinya Kuroko sudah menghilang dari ruangan itu.

Ia menghela nafas. Kuroko memang tidak terlalu mencolok keberadaannya, sampai-sampai ia tidak sadar kapan Kuroko melewati pintu ruangannya.

Kise merasa ada yang salah dengan suhu tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa kedinginan, sangat dingin. Ia menyentuh lehernya dengan punggung tangannya, lehernya terasa hangat. Aneh sekali, padahal ia merasa kedinginan.

Kise mengabaikan hal itu dan membuka ponselnya. Ada 2 pesan yang belum terbuka terpampang di layar ponselnya. Lalu ia menyadari sesuatu. Ia belum membalas pesan Kasamatsu sedari tadi karena ia terlalu sibuk, bahkan ia sampai lupa mengecek ponsenya itu.

Ia membuka pesan pertama,

From: Kasamatsu-senpai

Aku baik-baik saja, kondisi ayahku juga mulai stabil. Bagaimana denganmu? Apa terjadi sesuatu disana?

Pesan kedua,

From: Kasamatsu-senpai

Kise .. Aku tahu kau belum sepenuhnya melupakan Aomine, dan aku tidak berharap hal itu terjadi. Aku hanya ingin kau tahu bahwa jika kau ingin melampiaskan sesuatu, aku akan berada disini. Kau bisa mengandalkanku, kau tahu. Aku tahu aku tidak berhak untuk khawatir padamu. Tetapi terkadang kau bisa bertindak terlalu ceroboh, dan itu sudah membuatku cukup khawatir padamu. Beritahu aku jika terjadi sesuatu,Kise. Aku bersedia mendengarkanmu.

Ia tidak tau harus menangis atau tersenyum saat Kasamatsu mengirim seperti itu padanya. Ia senang karena Kasamatsu begitu peduli padanya, tetapi disisi lain, ia terluka karena Kasamatsu berkata seperti itu. Kise tidak ingin Kasamatsu berpikir bahwa dirinya adalah sebagai pengalihan karena ia tidak dapat meraih Aomine. Tidak. Kise tidak seperti itu. Kise sangat menghormati Kasamatsu, baik sebagai senior, maupun kapten. Ia berusaha untuk lebih memandang Kasamatsu, dan itu berhasil—sedikit berhasil. Perlahan-lahan, butiran perasaan Kise tumbuh karena kehadiran Kasamatsu. Meskipun Kise juga tidak yakin bahwa perasaan itu bisa disebut sayang, atau cinta.

Kise tidak membalas pesan itu. Ia menekan tombol hijau pada kontak Kasamatsu, mencoba untuk menghubungi kapten Kaijou itu.

Seseorang diseberang telepon itu mengangkat panggilan Kise.

"Kise?"

"Kasamatsu-senpai," Entah kenapa, Kise tersenyum saat ia mendengar suara Kasamatsu. "Aku—"

"Kenapa kau tidak membalas pesanku?" Kasamatsu memotong ucapan Kise.

"Ah, aku baru saja ingin berbicara tentang hal itu," kata Kise. "Tadi aku membantu Kagamicchi menyiapkan makan malam dan membeli minuman diluar, jadi aku tidak sempat memeriksa ponselku."

"Aku baru saja membaca pesanmu. Kupikir sudah terlambat untuk membalasnya, jadi kuputuskan untuk menelponmu saja."

"Lupakan soal itu," kata Kasamatsu. "Apa terjadi sesuatu?"

Kali ini, untuk sepersekian detik, Kise terdiam. "Tidak. Disini baik-baik saja, kecuali udaranya sangat dingin."

"Kise," suara Kasamatsu terdengar agak keras di telinga Kise. "Jangan berbohong padaku."

Jika Kise berbicara soal kakinya yang terkilir, mungkin Kasamatsu akan menjadi semakin khawatir padanya, dan Kise tidak ingin pikiran Kasamatsu terbebani hanya karena hal itu. "Apa yang membuatku yakin kalau aku berbohong?" Kise tertawa, mencoba menutupi kegugupan dalam suaranya.

"Entahlah," Kasamatsu menjawabnya jujur. "Hanya saja, aku hanya mendapat firasat seperti itu."

"Tidak terjadi apa-apa, sungguh. Aku—"

"Bukankah tadi aku berkata agar kau tidak berbohong padaku?"

Kise hampir lupa kalau Kasamatsu bukan tipikal orang yang mudah dibohongi. Ia tertawa. Bagaimana bisa ia berpikir bahwa Kasamatsu akan percaya padanya dengan mudah? Jika sudah seperti ini, mau tidak mau, Kise harus berbicara jujur.

"Benar, aku minta maaf soal itu," kata Kise. "Kakiku terkilir, hanya cedera kecil. Kau tidak perlu—"

"Kaki kirimu." Kata Kasamatsu, memotong ucapan Kise.

"Tidak apa, sungguh. Ini hanya cedera kecil," Kise berusaha meyakinkan Kasamatsu. "Lagipula, Midorimacchi sudah menangani cederaku."

"Aku sedang tidak berada disana, jadi mungkin aku tidak tahu seberapa ringan cederamu itu," Sarkasme. "Aku percaya padamu, Kise. Kau tahu itu kan?"

Hening. Kise terdiam sejenak. Entah kenapa saat Kasamatsu berkata seperti itu, ia merasa sangat tenang. "Ya .." Senyum kecil perlahan terlihat di bibirnya.

"Kenapa kau belum tidur, Kise?" Kasamatsu mengalihkan topik mereka. "Ini sudah larut malam."

"Ah, aku tidak bisa tidur karena masih terbayang dengan rasa makan malam tadi," jawab Kise jujur. Ia jadi teringat dengan Kagami. Kagami harus menghabiskan seluruh sisa makan malam—karena Riko dan Momoi mengatakan bahwa mereka tidak boleh membuang-buang makanan. "Kasamatsu-senpai sendiri juga belum tidur, ada apa?"

"Aku menunggu balasan pesanmu," kata Kasamatsu pelan. "Aku khawatir terjadi sesuatu padamu karena kau tidak membalas pesanku sedari tadi. Tapi karena sekarang aku mendengar suaramu, aku jadi sedikit tenang."

"Ternyata menelponmu adalah pilihan yang tepat, Kasamatsu-senpai," Kise tersenyum lebar. "Aku senang sekali mendengar suaramu."

Nada suara Kise mengalun lembut di telinga Kasamatsu. Mau tidak mau, ia tersenyum juga mendengar Kise yang berbicara seperti itu. "Bodoh," gumam Kasamatsu.

"Eeehh? Apa barusan kau mengataiku bodoh? Kau jahat sekali Kasamatsu-senpai!"

"Kau memang bodoh, tahu," kata Kasamatsu. "Tapi orang bodoh sepertimu bisa-bisanya membuat jantungku bergegup kencang."

DEG.

Kise tercengang.

Aku juga, Kasamatsu-senpai..

Ingin rasanya ia berkata seperti itu, tetapi entah kenapa, hati kecilnya melarangnya. Jantung Kise memang berdegup kencang saat Kasamatsu bersamanya. Tapi rasanya berbeda. Ia tidak tahu pasti akan hal itu.

"Kise?"

Sebelum Kise sempat membuka mulutnya untuk menjawab Kasamatsu, ia mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Aku akan menghubungimu lagi nanti, Kasamatsu-senpai," kata Kise. "Sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku."

"Baiklah," kata Kasamatsu. "Jaga dirimu baik-baik, Kise."

Kise tersenyum. "Kau juga, senpai."

Biiip. Sambungan telepon diputus oleh Kise. Untunglah ada seseorang yang mengetuk pintunya. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Kasamatsu saat itu, jadi .. Ia melarikan diri, untuk sementara.

Kise membuka pintu itu dan mendapati Momoi berdiri didepan pintunya. "Momocchi? Ada apa?"

"Ayo ikut aku, Ki-chan," kata Momoi, ia menarik tangan Kise. "Semuanya sudah menunggumu."

.

.

"Kenapa aku harus bersamanya ?!" teriak Hyuuga sambil menunjuk Kiyoshi.

"Karena Kagami-kun dan Kuroko-kun belum kembali," kata Riko. "Lalu, Teppei juga sedang cedera. Jadi tidak mungkin dia kubiarkan berkeliaran sendirian."

"Mohon bantuannya, Hyuuga." Kiyoshi menepuk pundak Hyuuga sambil tersenyum.

"Berisik!"

"Sacchin," panggil Murasakibara, dengan mulut yang dipenuhi Maiubo. "Kenapa mereka juga berpasangan?" ia menunjuk Aomine dan Kise, yang sama-sama terlihat canggung satu sama lain.

"Oh itu," Momoi mendekati Murasakibara. "Ki-chan sedang cedera, dan kurasa Dai-chan orang yang tepat untuk mendampinginya." Bisik Momoi. Sebenarnya, ini adalah bagian dari rencana Momoi.

Mereka sedang diberi latihan khusus oleh Riko, seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Mereka semua harus mendaki bukit sampai ke puncaknya. Bukit itu tidak terlalu curam. Jarak ke puncaknya hanya sekitar 2 km. Terdapat beberapa jalan untuk menuju puncak bukit itu, meskipun agak licin karena salju.

Hal itu bertujuan agar otot-otot tubuh mereka tidak terlalu kaku sesudah liburan selesai. Lagipula, liburan ini tidak hanya tentang berlibur saja, tentu saja sudah ada beberapa acara yang telah disusun oleh Momoi dan Riko.

Momoi dan Riko telah menyediakan peralatan kemah mereka, yang harus dibawa secara sama rata. Mereka membagi rute perjalanan menjadi 6 bagian. Rute-rute itu dipilih secara khusus oleh Momoi karena itu memang jalur yang paling aman untuk dilewati pejalan kaki. Ia telah memberi peta untuk masing-masing rute agar mereka tidak tersesat.

"Nah, kalian pergilah duluan," kata Riko. "Kami akan menunggu Kuroko-kun dan Kagami-kun."

Yang pertama meninggalkan tempat adalah Hyuuga, yang diikuti oleh Kiyoshi dibelakangnya. Diikuti oleh Midorima, Akashi dan Murasakibara yang berlawanan arah satu sama lain.

Kise menatap Aomine yang berjalan terlebih dulu didepannya. Kise tidak terlalu memperhatikan kecanggungan yang ada di udara sekitarnya. Ia lebih berfokus tentang bagaimana ia bisa menaiki bukit itu dengan selamat.

Kakinya sedang cedera, mungkin tidak terlalu parah karena Midorima memberinya penghilang rasa sakit tadi. Tapi tetap saja, 2 km bukanlah jarak yang dekat, apalagi Kise harus berjalan menanjak. Satu-satunya cara agar ia tidak jatuh mungkin hanya berpegang pada pohon-pohon di sekitarnya—atau berpegangan pada Aomine.

Meskipun jarak antar satu rute dan rute lainnya cukup jauh, tapi Kise masih bisa melihat pendar-pendar cahaya lampu senter. Kise jadi berpikir, mungkin Akashi tidak memerlukan peta untuk sampai ke puncak. Matanya dapat digunakan untuk hal seperti ini, jadi ia tidak akan mungkin tersesat.

Yang ia khawatirkan adalah Murasakibara. Murasakibara cenderung terlalu santai, bahkan meskipun ia tersesat. Mungkin bukan perkara besar jika Murasakibara tersesat, mereka akan mudah menemukannya karena ukuran tubuhnya y yang terlalu santai. Kise bertanya-tanya apakah dia bisa mengerti arah peta yang diberikan Momoi.

Kise dan Aomine berjalan mengikuti arah yang ada pada peta. Tapi setelah beberapa lama berjalan, kaki Kise yang terkilir terasa nyeri. Efek krim yang dioleskan Midorima sepertinya telah habis. Kakinya terasa lebih kaku daripada yang sebelumnya. Mungkin karena ia sudah cukup lama berjalan dan semakin lama jalan yang ia lewati terasa semakin menanjak. Hal itu diperburuk dengan tubuhnya yang semakin terasa dingin.

"Kurasa kita masih jauh," kata Aomine tiba-tiba. "Bahkan puncaknya saja tidak kelihatan dari sini."

Kise mendongak keatas, mengabaikan rasa sakit yang perlahan mulai terasa di pergelangan kakinya. Ia hanya melihat pepohonan yang membentang luas dan dipenuhi oleh butiran-butiran salju yang mulai turun dari langit.

"Salju sudah mulai turun," gumam Kise. "Apa Midorimacchi mengatakan sesuatu tentang cuaca malam ini?"

"Tidak akan ada badai salju malam ini, tapi kurasa salju kecil juga sama berbahayanya jika kita mendaki bukit seperti ini."

"Momocchi aneh-aneh saja-ssu." Kise menghela nafasnya.

"Otaknya memang dipenuhi oleh hal yang aneh dari dulu," Aomine tetap berjalan kedepan, ia bahkan tidak menengok sedikitpun. "Aku tidak percaya ia mengajak Seirin kemari."

"Kurasa tidak ada yang salah dengan itu," kata Kise. "Aku senang mereka disini. Lagipula, semakin ramai maka semakin menyenangkan."

"Menyenangkan apanya," bantah Aomine. "Kagami itu berisik sekali. Aku jadi ingin menendangnya keluar dari kamar."

"Kagamicchi sebenarnya baik, meskipun wajahnya sedikit menakutkan."

"Jangan bilang sekarang kau sedang jatuh cinta pada Kagami." Aomine menoleh kearah Kise, menatap pemuda yang berjalan dibelakangnya itu dari sudut matanya.

"Apa?" Kise terkejut. "Aominecchi, kau terlalu banyak menghayal. Mana mungkin aku menyukai Kagamicchi."

"Lupakan," Aomine memalingkan pandangannya kembali ke jalan. Sejujurnya ia menyesali kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan. Bagaimana ia bisa berkata sesuatu seperti itu tanpa berpikir ? Sudahlah, toh Aomine memang bodoh. Aomine beruntung Kise tidak menangkap maksud dari ucapannya itu.

Tunggu dulu, memang apa maksud dari ucapannya ?

Aomine tidak ingin membahas hal itu lagi, jadi ia memutuskan untuk diam dan tetap berjalan menaiki bukit itu.

Aomine mengutuk dirinya keras-keras dalam kepalanya. Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya, ia bahkan tidak sempat memprosesnya. Aomine sendiri bahkan tidak mengerti arti dari kata-kata itu sendiri. Ia tidak bermaksud berkata seperti itu, tetapi sesuatu dalam hatinya menyuruhnya agar berkata seperti itu. Tidak biasanya ia membiarkan hatinya bicara.

Apa? Hatinya ?

Bodoh, bodoh, bodoh! Diam! Diam!

Saat ia melihat Kise yang berada di punggung Kagami saat di ruang makan, entah kenapa dadanya terasa berat. Nafsu makannya tiba-tiba menghilang, dan itu membuatnya lebih jengkel lagi. Aomine berspekulasi bahwa itu adalah efek dari makanan tidak jelas yang disiapkan oleh Momoi dan Riko. Karena seperti biasa, ia tidak ingin menyadari perasaan itu. Perasaan yang selalu menyelimutinya dalam kabut tipis selama ini.

Aomine mendongak keatas, menatap pepohonan yang semakin menipis jumlahnya. Aomine dapat melihat puncak bukit itu dari kejauhan. Ada asap tipis yang terlihat di atas, mungkin sudah ada yang sudah sampai disana.

Aomine menatap Kise dari sudut matanya. Pemuda itu sedang bersusah payah untuk melangkahkan kakinya yang terasa semakin nyeri itu. Bahkan dari melihat sekilas pun Aomine tahu kalau cedera Kise sudah cukup parah.

"Bagaimana kakimu?" tanya Aomine.

Kise menatapnya. "Hanya perkara kecil."

Saat Kise menatapnya, Aomine tahu kalau itu bukanlah hal kecil. Wajah Kise memerah, kepulan asap terlihat diudara saat dia berbicara.

"Jangan bercanda," kata Aomine. "Sebuah cedera kecil tidak akan membuat Kagami menggendongmu hingga kembali ke penginapan."

"Sebuah cedera kecil juga tidak akan membuatmu berjalan terseok-seok seperti itu," tukasnya. "Apa kau selalu memaksakannya seperti itu?"

"Tidak apa," jawab Kise. "Aku menghindari tumpukan salju agar tidak tergelincir lagi, Aominecchi."

"Tidak terlihat seperti itu di mataku."

Kise hanya bisa menundukkan kepala, ia tidak ingin bertemu pandang dengan Aomine. Kakinya terasa lebih kaku dan sukar digerakkan lagi, jadi ia hanya terdiam ditempatnya. Ditambah lagi, udara dingin dan salju yang membuat kepalanya terasa berat. Kise tidak bisa berpikir untuk membalas ucapan Aomine, ataupun untuk sekedar berbohong.

Yang Kise tahu, pandangannya sudah mulai berputar, kakinya semakin terasa nyeri, dan nafasnya kian berderu. Ia berusaha berjalan menyusul Aomine yang ada di depannya, tapi kakinya tidak mau mendengarkannya.

Bergeraklah kaki bodoh! Kutuknya dalam hati.

Kise hampir menangis karena ia terlihat begitu lemah di mata Aomine. Kenapa ia harus bersama dengan Aomine disaat seperti ini. Terlebih lagi, kenapa harus Aomine yang melihat sisi lemahnya. Jika saja ia lebih kuat, mungkin ia tidak akan seperti ini. Mungkin saja ia tidak akan memandang orang yang ada didepannya sekarang.

Ini semua salah Kise. Kalau saja ia tidak begitu bodoh—

"Bodoh," Aomine tiba-tiba menepuk kepala Kise. "Kau pikir aku akan termakan dengan tipuan seperti itu?"

Aomine berbalik, lalu ia mengangkat Kise dan menempatkannya di punggungnya.

Eh ?

Kise mengerjapkan kedua matanya. Apa Aomine sedang ... menggendongnya? Ia menepuk pundak Aomine, lalu menyadari bahwa pemuda itu benar-benar sedang membawanya di punggungnya.

"Aominecchi, tolong turunkan aku," kata Kise. "Aku tidak apa-apa,"

"Tidak apa-apa apanya," tukasnya. "Kau ini berjalan seperti orang tua, lalu, wajahmu juga memerah. Kau sedang demam, kan?

Saat Kise tidak menjawab pertanyaannya, Aomine pun mengerti bahwa Kise tidak bisa mengelak lagi. Ia memang sedang sakit.

Dan Kise menyerah. Ia memang sudah tidak sanggup lagi. Ia teringat Midorima yang melarangnya melakukan tindakan ceroboh. Mungkin Midorima akan menceramahinya habis-habisan karena Kise akan menyusahkannya setelah ini. Tapi sepertinya Kise lebih berhutang budi pada Aomine yang membawa perlengkapan kemah sambil menggendong Kise.

"Aominecchi.." panggil Kise dengan suara yang lemah.

"Hmm ?"

Ia menumpukan dagunya di pundak Aomine. "Maafkan aku." gumamnya lirih.

"Untuk apa kau minta maaf ?" tanya Aomine.

"Karena aku menyusahkanmu," suaranya bertambah pelan seiring ia berbicara. "Dan karena aku begitu lemah."

"Jangan meminta maaf, dasar bodoh." Kata Aomine.

Kise hanya bisa tersenyum lemah sekarang. Selama sesaat, Kise merasa Aomine telah kembali seperti yang dulu. Aomine yang dijumpainya di Teikou dulu.

Degupan jantung Aomine pun tidak bisa setenang biasanya. Kise berada dipunggungnya dan nafasnya berderu di leher Aomine. Nafas Kise terasa panas di lehernya. Hal itu membuat Aomine begitu gugup karena berada sedekat itu dengan Kise. Bahkan tidak ada jarak pada tubuh mereka.

Aomine berusaha menenangkan jantungnya itu, yang berakhir sia-sia karena semakin lama, jantungnya berdegup semakin kencang sesuai dengan deruan nafas Kise. Untuk sementara ini, Aomine telah membiarkan perasaannya menguasai dirinya. Walau ia pun juga tidak menyadari apa sesungguhnya perasaan itu.

Aomine melirik Kise. Pemuda itu menutup kedua matanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Aomine. Wajahnya masih memerah, dan hembusan nafasnya menjadi semakin panas.

Tetapi, jika dilihat sedekat ini, wajah Kise jadi benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang tertidur pulas. Aomine tersenyum tipis, secara tidak sengaja.

Untuk apa ia tersenyum?

Terlebih lagi ...

Aomine berhenti sejenak, lalu ia menekan dadanya, mencoba menormalkan sistem kerja jantungnya itu.

"Dasar bodoh." Gumamnya.

.

.

"Mido-chin, apa kita tersesat?"

"Tidak," jawab Midorima enteng.

Murasakibara menatap peta yang ada di tangannya. "Tapi aku seharusnya tidak lewat sini." Katanya.

"Itu semua salahmu, karena kau memotong jalur rute seenaknya." Kata Midorima.

"Benarkah?" tanya Murasakibara malas. "Tapi peta Sacchin berkata seperti itu. Tunggu, petanya terbalik." Ia membolak-balik posisi peta itu.

"Itu karena kau tidak bisa membaca arah peta itu!" tukas Midorima.

"Sungguh?" Murasakibara menatap Midorima yang kepalanya hampir terbakar karena harus mengurus seekor raksasa beruang ungu yang tersesat. Yang membuatnya kesal adalah, ia terus-terusan mengunyah Maiubo sejak tadi.

Midorima menghela nafasnya. "Tidak ada pilihan lain."

Ia mengeluarkan sebuah alat pendeteksi. Layar alat itu menunjukkan arah dari sebuah titik yang berkedip-kedip.

Midorima membenarkan posisi kacamatanya. "Kita kearah sana."

"Eh? Darimana kau tahu?" tanya Murasakibara.

"Aku memasang alat pelacak pada mantel Akashi," kata Midorima. "Kita bisa menemukannya dengan ini."

"Ah, Mido-chin pintar sekali~"

.

.

a/n:

Jadi .. endingnya gak jelas. Ahahaha XD

Haloooo ! kita ketemu lagi ! apdetnya lama banget yah ? maaf ..

Hal itu dikarenakan adanya UAS, remidial, rapotan, dan acara libur sekolah ^^

Readers pada liburan ke mana ? Sekolah saya ke jogja 3 hari XD jadi maaf kalau lama apdetnya..

Ceritanya tambah gak jelas ya ? aduh, maaf yah efek liburan T.T /eh /apa hubungannya

Seperti biasa, maafkan saya kalau ada typo/kesalahan. .

Kritik/saran sangat diterima sekali ^^

Mind to review ? *kedip-kedip*

anyway, ini balasan reviewnya:

xxx: terimakasih ! kasamatsu emang keren kok XD here's an update~ semoga suka yak T.T

Ai Selai Strawberry: terimakasih ! hmmmmm, kise belom jadian sama kasamatsu kok xD aominenya masih gengsi mau ngapa"in /eh XD ini apdetnya~ semoga suka yah T.T

Kiwok: terimakasih XD aomine sebenernya gak mau ngakuin perasaannya ke kise sih T.T jangan kagami ntar kasihan kuroko /eh XD sudah di apdet, enjoy yak T.T

Chesee-ssu: sebenernya aomine mau godain, tapi gengsi gitu hahahaahaha XD kalo si aomine dibikin sakit hati, paling juga gak kerasa, akhirnya nggak diakuin T.T pekok sih dia /eh /digebukin kasamatsu emang sayang banget sama kise, tapi liat aja kise bisa muv on ato enggak XD /eh /eh terimakasih, btw! ini apdetnya, semoga suka T.T

sekali lagi, Mind to Review ? saya paling suka kalo ada review sih, jadi semangat XD