Aomine mencoba memejamkan matanya rapat-rapat saat sinar matahari menerangi wajahnya dari tirai jendela yang telah dibuka. Ia mengerutkan dahinya. Sinarnya terlalu silau, untuk jam yang masih menunjukkan pukul 7 pagi.
Aomine menutupi wajahnya dengan bantal. Ia berusaha tertidur kembali. Toh dia hanya tertidur selama 3 jam. Atau kurang dari 3 jam. Atau bahkan ia tidak tidur sama sekali.
Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Ia merasa ... buruk. Lebih buruk. Jauh lebih buruk. Kejadian semalam seharusnya tidak pernah terjadi. Ia berharap itu adalah sebuah mimpi buruk. Ia ingin bangun dari mimpi buruk ini. Tapi nyatanya dia sudah terbangun sekarang, dan ia sadar bahwa itu bukan mimpi buruk.
Ia merasa sangat bodoh. Bodoh sekali.
Aomine berdecak keras-keras.
"Selamat pagi, Aomine-kun,"sebuah suara pelan seakan membuat kedua mata Aomine terbuka semakin lebar pagi itu. "Selamat natal." Tambahnya.
Aomine beringsut bangun dari tempat tidurnya. "Tetsu?" Aomine mengusap-usap matanya yang masih terasa berat itu. Seingatnya, ia tidak sekamar dengan Kuroko. Seharusnya Aomine melihat wajah Midorima dan Kagami, jadi wajar saja ia sedikit terkejut saat Kuroko ada di kamarnya. "Kenapa kau disini ?"
"Udara pagi ini kurang bersahabat," pemuda yang mempunyai sepasang mata sewarna dengan langit itu memberi Aomine sebuah mantel alih-alih menjawab pertanyaannya. "Kurasa kau membutuhkan ini."
Aomine menerima mantel itu, tapi ia tidak mengenakannya. "Kau belum menjawab pertanyaanku." Katanya saat ia mulai terusik dengan tatapan datar yang diberikan Kuroko padanya.
"Apa kau mencari Kagami-kun dan Midorima-kun ?" tanya Kuroko. Tentu saja Aomine tidak terlalu penasaran dengan keberadaan Midorima dan Kagami. Yang menjadi pertanyaannya bukanlah hal itu, tetapi keberadaan Kuroko di kamarnya. "Midorima-kun sedang berlatih basket, dan Kagami-kun sedang mempersiapkan sarapan. Semuanya sedang sibuk, dan kupikir Aomine-kun tidak ingin tertinggal saat sarapan, jadi aku membangunkanmu."
Tidak ada kebohongan dalam kata-kata Kuroko. Tapi Aomine merasa tatapan Kuroko padanya menyimpan suatu kekhawatiran, meskipun terlihat samar sekali. "Kau tidak membangunkanku hanya untuk sekedar sarapan, bukan?" tanya Aomine. "Kau tidak cukup pandai menyembunyikan sesuatu dariku, Tetsu."
"Tidak," jawabnya singkat. "Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah dengan mata Aomine-kun."
"Sesuatu selalu salah dengan kepalaku, Tetsu," kata Aomine. "Sejak lahir, mungkin?"
Aomine tidak mengharapkan Kuroko membalasnya dengan tatapan datar.
"Apa kau baik-baik saja, Aomine-kun?" Kuroko menatap Aomine tepat di matanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja," Aomine mengalihkan pandangannya dari Kuroko. Ia merasa Kuroko dapat membaca pikirannya saat ia menatapnya seperti itu. "Apa yang kau harapkan?"
"Aku tahu Aomine-kun akan berbohong," kata Kuroko. "Benar, kan?"
"Apa?" Aomine menatap Kuroko, bertanya-tanya darimana pemuda itu mendapat asumsi seperti itu.
"Aomine-kun," kata Kuroko. "Kau selalu mengalihkan pandanganmu saat kau berbohong."
Bingo, Kuroko seakan benar-benar bisa membaca pikirannya.
"Kau masih sama seperti yang dulu, Tetsu," gumam Aomine. "Aku merasa kembali pada hari-hari saat kita bersama di Teikou."
"Kalau begitu, Aomine-kun bisa kembali."
"Apa maksudmu?"
"Hari-hari Aomine-kun di Teikou dulu terasa lebih hidup, tidakkah kau berpikir begitu? Saat ada seseorang yang selalu menemanimu, meskipun untuk sekedar membeli popsicle, ataupun one-on-one berkepanjangan yang hanya dapat dipisahkan oleh waktu," kata Kuroko. Pandangannya seperti menerawang ke dalam mata Aomine. "Terkadang hal-hal kecil adalah sesuatu yang paling kita rindukan, bukan?"
"Tetsu—"
"Aomine-kun merupakan karakter yang berbeda saat kembali di Teikou dulu," potong Kuroko sebelum Aomine sempat melempar protes. "Seharusnya Aomine-kun menyadari hal itu."
"Tetsu, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan," Aomine mendengus. "Kau tahu, mungkin sebaiknya kau mulai bicara dengan bahasa yang tidak bertele-tele."
"Menjadi keras kepala tidak akan menghilangkan sesuatu yang mengganjal didalam hatimu, Aomine-kun," kata Kuroko. "Kau menyadari sesuatu, tapi kau tidak pernah ingin hal itu timbul, bukan?"
"Sadar atau tidak sadar pun tidak ada pengaruhnya bagiku."
"Lihat, kan?"
Kuroko dapat mendengar Aomine menggeram frustrasi. Dan pemuda itu pun memutuskan untuk duduk di sebelah mantan rekannya itu.
"Aomine-kun," panggil Kuroko pelan. "Mungkin tidak akan ada lagi kesempatan berkumpul seperti ini lagi. Dan kau hanya akan mengacaukan semuanya jika kau tetap bersikukuh dengan pemikiranmu yang seperti ini."
Kuroko mendapati Aomine hanya terdiam saja, mungkin berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk melawan argumennya. Dan sebelum hal itu terjadi, sebaiknya Kuroko terus berbicara.
"Mungkin kembali ke Teikou bukan ide yang buruk." Gumam Kuroko. Ia sengaja membuat suaranya menjadi serendah mungkin. Ia ingin mengetes apakah Aomine mendengarkannya atau tidak. Dan sepertinya itu berhasil, Aomine menoleh ke arahnya.
"Kau tau maksudku 'kan, Aomine-kun?" Kuroko tersenyum padanya. Senyuman tipis dan datar yang biasa diberikan Kuroko pada Aomine.
"Aku tidak yakin, Tetsu," kata-kata yang keluar dari mulut Aomine terasa begitu lemah. "Aku telah mengacaukan semuanya. Aku bahkan telah melukai perasaannya. Aku tidak tahu—"
"Aku yakin Aomine-kun bisa memperbaiki semua ini. Tentunya, sebelum terlambat. Aku tahu Aomine-kun tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi." Kata Kuroko, yang mendapat balasan dengusan keras dari Aomine. Dan Kuroko tersenyum. "Apa yang terjadi dengan 'yang bisa mengalahkanku hanya aku'?" Mungkin memberikan semangat pada mantan cahaya nya bukanlah pilihan yang buruk.
Aomine tertawa, bisa-bisanya Kuroko menggodanya seperti itu. Jika Aomine ingin diberi nasihat, mungkin Kuroko bisa melakukan hal itu hingga berhari-hari. Mungkin Kuroko juga akan menggetok kepala Aomine dengan tongkat berlapis baja untuk menyadarkannya tentang betapa bodohnya pemikiran Aomine tentang perasaannya sendiri. Selama ini, Aomine selalu meremehkan perasaannya sendiri, jadi Kuroko memberinya sedikit pencerahan untuk mengatasi hal itu. Itu pun jika Aomine tidak terlalu bebal untuk menanganinya. Atau memahaminya.
"Pagi yang indah, Tetsu," Aomine terdengar seperti menggunakan sarkasme dalam kata-katanya. "Terima kasih atas ceramahnya." Ia mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya perlahan. Bro fist, pikir kuroko. Sudah lama sekali ia dan Aomine tidak melakukan hal itu.
"Terima kasih kembali," Kuroko tersenyum, ia mengetukkan kepalan tangannya sendiri ke kepalan tangan Aomine. "Kuharap kondisimu lebih baik dari ini, Aomine-kun."
Kuharap juga begitu.
Kuroko berdiri dari tempatnya dan mulai berjalan keluar.
"Tetsu," panggil Aomine tepat sebelum Kuroko keluar dari kamarya. Pemuda kecil itu menoleh pada Aomine. "Selamat natal."
.
.
Kasamatsu tidak bisa tidur sejak kemarin malam.
Ia berusaha untuk melupakan kejadian kemarin dengan memikirkan hari natal, bermain gitar, ataupun bermain basket. Dan tidak ada satu pun yang membantunya. Ia tetap tidak bisa tidur. Dan sekarang, ia tengah terduduk di teras, menatap matahari yang perlahan bangun dari tidurnya.
Kacau. Mungkin kata itu bisa mendeskripsikan keadaan Kasamatsu sekarang secara singkat. Secara fisik, ia mungkin tidak tampak seperti itu. Karena kepribadiannya sudah dibentuk agar tidak terlalu menonjolkan emosinya didepan orang lain, itu akan membuatnya kelihatan lemah. Dia seorang kapten, jadi ia tidak akan bersikap lembek didepan orang-orang. Kasamatsu bahkan tidak ingin bersikap lembek pada dirinya sendiri.
Tapi kondisi didalamnya dirinya tidak tampak seperti kondisi luarnya. Perasaannya terlalu kacau. Bahkan hal itu sampai berpengaruh ke pikirannya. Pandangannya kosong menembus awan-awan putih diatasnya. Seandainya Kasamatsu bisa mempunyai jin ajaib yang bisa mengabulkan seluruh keinginannya, mungkin ia akan meminta untuk mendapat amnesia—meskipun itu artinya ia juga akan melupakan jin tersebut.
Kise tidak bisa berhenti memandang Aomine.
Kenyataan pahit yang harus ditelan Kasamatsu. Menyukai seseorang yang masih menyukai orang lain. Mungkin hal itu tidak akan menjadi masalah ketika orang itu berada jauh darinya. Toh, ia akan gampang melupakan hal itu karena kegiatan klub rutin, atau tugas sekolah yang berlebihan.
Tapi ini tidak. Kise adalah kouhainya. Mentari tim basket Kaijou. Anggota yang paling berpengaruh bagi timnya. Yang jelas, Kasamatsu akan melihatnya setiap hari. Kasamatsu senang akan hal itu. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mengenyahkan perasaannya pada Kise. Kise yang tidak bisa berhenti memandang seorang Aomine Daiki.
Kasamatsu menghela nafasnya. Ia mengambil gitar yang sedari tadi berada di sampingnya. Ia kerap memainkan gitar saat ia mempunyai waktu. Sejujurnya ia tidak cukup ahli dalam bermain gitar, tapi ia bisa memainkannya meskipun ia tidak profesional.
Ia memetik senar-senar gitar itu, sambil menggumamkan lirik-lirik lagu secara acak. Mungkin pikirannya terlalu kacau, bahkan untuk mengingat lirik lagu.
Ia mencoba lebih berkonsentrasi sekarang. Ia memetik senar-senar gitarnya. Alunan melodi pun terdengar pelan.
I wish upon a star
I wonder where you are
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
Ia meletakkan jemarinya di senar-senar gitarnya yang masih berdengung, dan otomatis membuat suara gitar itu berhenti mendadak.
Ia menatap gitarnya. Bunyi gitarnya agak sumbang. Benar-benar aneh. Seingat Kasamatsu, ia sudah membenarkan senar-senar gitarnya. Bahkan ia sudah mengeceknya.
Ia membenarkan gitarnya lagi, menyetelnya hingga suara yang dikeluarkan menjadi sebaik mungkin. Tapi suaranya tetap sumbang, meskipun tidak separah yang tadi. Kasamatsu akhirnya tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Ia kembali memainkan gitarnya.
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
Terasa sesak di dadanya saat ia menggumamkan lirik itu. Bahkan Kasamatsu tidak ingat kapan terakhir kalinya ia memainkan lagu itu.
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you
Kasamatsu menahan rasa sesak yang mulai menjalari tenggorokannya. Pathetic, mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Ia merasa begitu ... menyedihkan. Dan begitu hampa.
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
Tidak hujan. Mungkin lirik yang benar adalah salju, bagi Kasamatsu. Tapi ia tidak menangis. Air matanya tidak bisa keluar dari matanya. Ia tidak bisa menangis.
Kise tidak merasakan hal yang sama seperti Kasamatsu. Dan Kasamatsu tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Perasaan Kise pada Aomine, atau perasaannya pada Kise ?
Tidak. Kedua hal itu sudah sangat menyakitkan.
I wish that I could fly, I wonder what you say
I wish you're flying back to me again
Hope everything's the same like it used to be
Tidak. Tidak akan sama seperti sebelumnya. Dan Kise juga tidak akan pernah kembali ke Kasamatsu. Tunggu, sejak kapan Kise jadi milik Kasamatsu? Bukankah pemikiran itu terlalu egois?
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on
I don't know if I can go on without you
Without you
Tanpamu.
Tanpamu.. ?
Kata itu terngiang terus-terusan di kepala Kasamatsu. Ia kembali meletakkan jemarinya di senar gitarnya, dan suara gitar itu pun lenyap dalam sekejap. Bermain gitar sama sekali tidak membangkitkan semangatnya. Hal itu justru membuatnya merasa semakin buruk.
Kasamatsu hendak kembali ke dalam rumahnya, sebelum ia menyadari kehadiran sepasang mata yang menatapnya beberapa kaki didepan rumahnya. Mata hangat yang sewarna dengan madu.
Kasamatsu menenangkan dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menoleh kearah pemilik kedua mata itu.
"Sejak kapan kau berdiri disana—" Kasamatsu menahan nafasnya sejenak sebelum menghembuskannya. "—Kise ?" tambahnya cepat-cepat.
"Baru saja," Kise tersenyum padanya. "Tepat saat kau membenahi gitarmu."
Kasamatsu tidak menjawabnya, jadi Kise memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu.
"Apa aku boleh masuk ?" tanyanya dengan sopan. Ia melihat Kasamatsu menganggukkan kepala dan menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. Kise mengerti gestur itu dan segera beranjak untuk menduduki kursi itu.
"Tidakkah kau pikir bahwa lagu yang barusan kau mainkan itu terdengar—" Kise melirik Kasamatsu. "—sedih ?"
"Entahlah," Kasamatsu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak bisa merasakan hal semacam itu sekarang."
Tentu saja Kasamatsu berbohong. Mana mungkin ia tidak merasakan hal seperti itu saat kejadian semalam masih terbayang jelas di pikirannya. Apalagi dengan kehadiran Kise disampingnya sekarang.
"Maaf, aku terlalu emosional semalam," gumam Kise. "Lalu, aku juga sudah mengotori bajumu, maafkan aku."
"Jangan meminta maaf karena hal itu, dasar bodoh," kata Kasamatsu. "Yang lebih penting, bagaimana perasaanmu sekarang ?"
"Lebih baik, kurasa," Kise tersenyum. "Kau sebaiknya lebih memperhatikan dirimu sendiri daripada memperhatikanku, kau tahu ? Kau terlihat begitu buruk."
Kasamatsu mendengus. Kise bahkan terlihat jauh lebih buruk daripada kemarin malam. Matanya yang menatapnya hangat terlihat begitu lelah. Wajahnya terlihat lesu.
"Lihat siapa yang berbicara," balas Kasamatsu. "Kau yang terlihat begitu buruk."
"Benarkah ?" tanya Kise. "Kurasa aku selalu terlihat buruk dimatamu."
"Kise," kata Kasamatsu. "Kau kesini bukan hanya untuk meminta maaf, bukan ? Ada apa sebenarnya?"
Kise tersenyum pada Kasamatsu. Dan Kasamatsu langsung menyadari bahwa itu adalah senyum kegetiran.
"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu."
.
.
"Kerja bagus, semuanya!" teriak Riko dari tempat duduk di pinggir arena basket. "Latihan hari ini cukup sampai disini, kalian bisa beristirahat sekarang."
Semua orang yang berada di arena basket berhenti dengan nafas yang terengah-engah. Mereka berjalan perlahan menuju bangku yang berada di pinggir lapangan itu.
"Yah," Riko mengangkat bahunya sambil memberikan beberapa botol minuman pada Kiyoshi, Hyuuga dan Kagami. "Kalian tidak terlalu buruk. Meskipun berada pada tim yang berbeda."
Benar. Pada latihan kali ini, mereka bermain 3 on 3 dengan anggota tim yang dipilih secara acak. Terdapat 3 tim pada latihan kali ini. Tim pertama—terdiri dari Kiyoshi, Akashi, dan Aomine, tim kedua—terdiri dari Murasakibara, Hyuuga, dan Kuroko, dan yang terakhir adalah tim ketiga—terdiri dari Kagami, Kise, dan Midorima.
Masing-masing tim bermain dengan tim lainnya dengan waktu yang sudah ditentukan. Singkat cerita, yang paling banyak mencetak skor —tentu saja— adalah tim pertama.
"Tidak terlalu buruk ?" ulang Kagami. "Apa kau berusaha mengatakan bahwa—sesungguhnya—kami terlihat sedikit buruk ?"
"Aku tidak berkata seperti itu, loh," Riko tersenyum pada Kagami. "Aku hanya berkata bahwa kalian tidak terlalu buruk. Lagipula, kalian sudah mulai membiasakan diri dengan hal baru, bukan ?"
"Membiasakan diri apanya," Kagami mendengus keras. "Ganggang bermata empat itu benar-benar menyebalkan."
"Siapa yang kau panggil 'ganggang bermata empat'," Midorima tiba-tiba menoleh kearah Kagami. "kutu lompat ?"
"Hah ! Kau—apa kau ingin berke—"
Plak!
Riko menepuk pundak Kagami, dengan tangan kosong. Dengan. Tangan Kosong. "Oh ayolah, Bakagami. Tidak bisakah kau diam sekali dalam sehari?"
Kagami berteriak keras. Sakit sekali. Jika hanya dengan tangan kosong bisa sesakit ini, apa yang akan terjadi dengan pundaknya jika pelatihnya itu memukulnya dengan—yah, mungkin tongkat golf ?
"Sekarang sudah waktunya makan malam," lanjut pelatih Seirin itu. "Aku akan membantu Momoi-san di dapur. Jika kalian ingin membantu, maka cukup dengan diam saja. Mengerti ?" Ia melirik rekannya satu per satu.
"Tapi—" Kagami hendak melempar protes pada pelatihnya itu, yang langsung batal karena Hyuuga menarik kaus punggungnya. Jangan. Seolah-olah kaptennya berkata seperti itu.
"Me-nger-ti ?" ulangnya dengan tersenyum. Dan Kagami sekarang tahu kenapa kaptennya menarik kausnya. Senyum pelatih sama sekali tidak terlihat seperti senyuman. Lebih seperti ancaman berkedok senyum. Dan Kagami cukup lega karena dia tidak sempat protes.
"Mengerti." Ujar mereka bersamaan. Mereka tentu saja tidak ingin mencari gara-gara dengan pelatih mereka yang mempunyai kekuatan untuk menerbangkan seisi ruangan itu. Dan dengan itu, Riko mulai beranjak meninggalkan mereka.
Senyum Riko dapat diartikan sebagai maut. Ia mungkin tersenyum karena ia tidak perlu dibantu dalam memasak—yang sudah pasti akan menjadi cita rasa yang sangat buruk jika sampai melewati lidah mereka.
"Pelatih kalian terkadang bisa menjadi orang yang menakutkan," gumam Murasakibara, yang cukup keras untuk didengar oleh anggota Seirin. "Sedikit mengingatkanku pada pelatihku."
"Kurasa hampir setiap saat dia seperti itu," jawab Hyuuga sambil merenggangkan tangannya. "Kau beruntung pelatihmu tidak pandai memasak seperti pelatih kami." Ia mengatakannya seolah-olah memberi penekanan pada pandai.
Sebenarnya Murasakibara ingin berkata sesuatu, tapi ia membatalkannya saat ia melihat Kise tiba-tiba berdiri dari bangkunya. Dan semua mata secara otomatis mengarah kearah Kise.
"Maaf, aku sedang tidak enak badan," Kise tersenyum polos sambil menggaruk pelan pipinya dengan jari telunjuknya. "Apakah aku boleh kembali duluan ?"
"Apa kakimu sakit?" tanya Midorima. "Aku akan membawakanmu krim pereda nyeri." Midorima beranjak berdiri dari kursinya.
"Ah, itu tidak perlu, Midorimacchi," Kise mengibaskan tangannya dengan pelan. "Lagipula, obat darimu masih ada. Kurasa aku bisa meminumnya setelah ini."
Midorima memandang temannya itu dengan tatapan curiga. Kise bertingkah aneh sejak tadi. Sama anehnya dengan Aomine. "Baiklah kalau begitu," kata Midorima. "Jaga dirimu."
"Youkai!" kata Kise sambil tersenyum. "Kalau begitu aku kembali dulu. Sampai nanti."
Saat Kise mulai melangkah menjauh, Akashi tiba-tiba langsung melirik Kagami.
"Tunggu, Ryouta."
Kise menoleh kepada Akashi, dan anehnya ia melihat—sekilas—Akashi menyeringai.
"Kagami-kun akan mengantarmu ke kamarmu," kata Akashi. "Benar begitu, bukan, Kagami-kun ?"
"He ? Kenapa harus—" Kagami batal melanjutkan ucapannya saat melihat Akashi tersenyum kepadanya. Senyum yang sama menakutkannya dengan senyum pelatihnya. Mungkin Akashi jauh lebih menakutkan dari pelatihnya. Seribu kali lebih menakutkan. Sebenarnya Kagami juga tidak ingin sebegitu mudahnya menuruti perintah Akashi, tapi tidak ada salahnya mengantar orang yang sakit kembali ke kamarnya. Mereka semua juga tahu kalau cedera Kise belum sembuh total. Bocah itu bisa saja menyembunyikan rasa sakitnya di balik senyumnya. Jadi.. yah, tidak ada salahnya. Bukan karena dia takut pada Akashi. Bukan. Dan tidak sama sekali.
Baiklah, mungkin sedikit. Sangat sangat sedikit. Benar benar amat sangat sedikit.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu," Kagami berdiri setelah ia selesai merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia mulai berjalan kearah Kise. "Ayo, Kise."
Kise mengangguk pelan. Kagami pun mendampinginya dengan berjalan di sampingnya. Tidak. Tidak sedekat itu. Karena ia merasakan bahwa seseorang sedang menatapnya dengan seksama. Begitu kuat hingga bulu halus dibelakang lehernya sempat berdiri. Kagami mengutuk Akashi dalam kepalanya karena selalu menjadikan dirinya sebagai sasaran empuk.
.
.
"Yosh, makan malam selesai!" teriak Momoi dan Riko bersamaan saat mahakarya mereka selesai.
Riko segera menaruh sebuah panci besar diatas meja, lalu ia membuka tutupnya sementara Momoi sibuk menata hidangan yang lain.
"Ini terlihat normal," Kagami mengulurkan tangannya untuk mengambil sumpit untuk mencoba masakan mereka.
"Apa yang kau lakukan, Kagamin ?" Momoi menepuk tangan Kagami saat ia hendak mencicipi masakan itu. "Tidak boleh mendahului yang lainnya. Tunggulah sebentar lagi."
"Apa yang kau katakan ?" balas Kagami. "Kami semua sudah berkumpul sejak tadi."
"Ah, benar," gumam Momoi saat ia melihat sekelilingnya. "Tapi ngomong-ngomong, aku belum melihat Ki-chan."
"Kuroko baru saja menjem—"
"Momoi-san," potong sebuah suara kecil yang sepertinya berusaha mengatur nafasnya.
"Tetsu-kun! Ada apa? Kenapa kau kelihatan—"
"Kise-kun tidak ada di kamarnya."
Dan seketika itu, kedua mata Momoi membelalak kaget.
.
.
Malam itu, butiran-butiran kecil salju mulai turun perlahan. Sangat pelan. Seolah-olah terjadi slow motion pada salju itu. Seseorang dengan sepasang iris berwarna biru gelap mulai menendang tumpukan salju tipis yang menghalangi langkah kakinya. Dengan tiap tendangannya, ia menggerutu dalam hatinya tentang betapa bodoh dirinya.
Ia tidak bisa berhenti mengulang kejadian yang tadi dilihatnya, meskipun ia memaksa otaknya untuk berhenti memikirkan hal itu. Otaknya mengkhianatinya. Seluruh tubuhnya mengkhianatinya. Bukankah ia sudah memerintahkan untuk berhenti memikirkannya? Tetapi mengapa mereka tidak bisa berhenti?
Tangannya mengepal keras. Kakinya seolah-olah mewakili emosinya dengan menendang-nendang tumpukan salju. Kedua matanya terlihat memercikkan kilatan emosi. Giginya bergemeletuk untuk menahannya mengucapkan hal yang tidak perlu.
Kedua kakinya membawanya berjalan kembali ke penginapan. Tapi Aomine tidak ingin masuk ke dalam. Ia pasti akan menerima berbagai pertanyaan jika ia masuk ke dalam. Dan ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Lagi pula, susasana hatinya sedang—benar-benar—buruk.
Ia terduduk di teras penginapan itu. Tempat dimana—setidaknya—ia aman dari salju-salju kecil yang turun. Sebenarnya, salju itu tidak mengganggunya. Memang terdengar aneh, tapi yang mengganggunya adalah dirinya sendiri.
Ia tidak begitu mengerti kenapa ia bersikap seperti itu. Hanya karena melihat Kise di pelukan Kasamatsu ? Lantas mengapa dia merasa begitu.. gusar ? Marah ? Jengkel ? Kenapa dia harus merasa seperti itu ? Lagi pula, Kise tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Aomine. Jadi seharusnya dia tidak berhak untuk marah, bukan ?
Ada sedikit penyesalan saat ia khawatir kepada Kise. Tidak seharusnya ia khawatir seperti itu. Yang dikhawatirkannya pun tidak lagi memandang dirinya. Bahkan sepertinya dia tidak peduli lagi. Toh, dia memiliki seseorang yang bisa menjaganya. Dia merasa begitu bodoh.
Kurasa kau harus lebih mendengarkan perasaanmu daripada isi kepalamu.
Kata-kata sahabatnya kembali ke ingatan Aomine.
Saran yang bodoh.
Pertama kalinya ia mengikuti perasaannya, hal bodoh ini terjadi kepadanya. Ia bodoh karena mengikuti saran dari sahabatnya. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya.
Jika yang dikatakan Momoi benar, maka ia lebih memilih isi kepalanya yang salah. Jika memang dalam dirinya terdapat 'perasaan' pada Kise, maka ia harus menghentikannya. Jika tidak, maka ia hanya akan merusak hubungan Kasamatsu dan Kise.
Tapi bagaimana ?
"Ao—" seseorang memanggilnya dengan suara yang sangat lirih. "—minecchi?"
Kise.
Aomine segera menatap ke arah pemilik suara itu. Wajahnya memerah, mungkin karena kedinginan karena ia hanya memakai jaket yang cukup tipis tanpa mengenakan syal. Matanya terlihat lelah, mungkin karena dia memaksakan dirinya yang masih sakit. Dan Aomine hanya bisa menatapnya, tanpa menjawabnya.
"Uhh—" Kise terlihat sedikit canggung. "Apa yang kau lakukan disini? Kukira—"
"Jadi kau memutuskan untuk kembali?" cetusnya. "Kukira kau akan tinggal di rumah kapten-mu itu." Tambahnya dengan penekanan pada 'kapten-mu'.
"Apa maksudmu ?" tanya Kise.
"Oh ayolah, jangan berpura-pura bodoh," jawab Aomine dengan ketus. "Kau pikir jika kau bisa menyembunyikan semuanya jika kau memasang wajah polosmu itu ?"
Kise tidak bisa menjawabnya. Dia menatap Aomine dengan tatapan bingung, yang membuat Aomine semakin jengkel.
"Baiklah. Kau terlihat tidak mengerti, jadi akan kujelaskan," kata Aomine, ia beranjak berdiri—sejajar dengan Kise. "Jika kau kemari untuk membuatku merasa bodoh saat mencarimu, maka lebih baik kau tidak usah kembali kemari."
Eh?
Mata Kise mulai terbuka lebar.
"Kau membuat kami khawatir, Kise," Aomine mulai berbalik memunggungi Kise. "Ketika kami semua mencarimu, dimana kau?"
Kise ingin membalas ucapan Aomine. Dia ingin menjelaskan semuanya. Tapi satu sisi didalam dirinya seolah berkata 'jangan'. Lalu dia mengingat pepatah. Orang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Refleks Kise mengikuti hal itu. Dia tahu Aomine sedang gusar, jadi tidak ada gunanya untuk menjelaskan sesuatu. Menjelaskan tidak akan membuatnya percaya, justru akan membuatnya bertambah marah. Dia memutuskan untuk diam saja, mungkin Aomine akan tenang dengan sendirinya jika dia tidak melawan kata-katanya.
"Dengar, aku hanya akan mengatakannya sekali," kata Aomine, ia menolehkan wajahnya, mencoba melihat Kise dari sudut matanya. "Berhentilah membuat kami semua khawatir, karena kau hanya merepotkan kami."
"Kau tahu, Kise?" tanya Aomine. "Aku merasa bodoh karena sempat khawatir padamu. Dan saat aku melihatmu, aku tidak begitu lega. Dan saat kau terdiam seperti ini, malah lebih terasa menjengkelkan."
"Apa wajahmu itu hanya berfungsi sebagai pajangan ?" cetusnya.
Sakit.
Sakit sekali. Bernafas terasa sakit. Hanya untuk sekedar menatap Aomine pun terasa sakit. Kise ingin mencoba berkata sesuatu. Tetapi suaranya hanya akan bergetar saat ia mengeluarkannya. Ia paham betul tentang hal itu. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menahannya sebentar hingga ia cukup yakin bahwa dia bisa melakukan ini, dan menghembuskannya perlahan.
"Maafkan—"
"Tidak perlu meminta maaf," kata Aomine. "Kau terdengar menggelikan."
Aomine mulai melangkah, menjauh dari Kise. Lalu ia berhenti sejenak.
"Kurasa aku tidak ingin melihatmu lagi."
Dan dengan itu, ia benar-benar menjauh dari Kise hingga punggunya tidak terlihat. Meninggalkan Kise dengan air yang hendak mengalir dari pelupuk matanya.
.
.
Kasamatsu merasa buruk karena dia telah mengantar Kise ke bandara.
Tanpa bertanya pun, Kasamatsu sudah tahu kalau sesuatu telah membuatnya berubah pikiran dari reuni dengan teman-teman pelanginya itu, menjadi pulang tanpa sepengetahuan teman-teman pelanginya.
Sesuatu sedang mengganggunya, Kasamatsu tahu hal itu. Dia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya apa yang sebenarnya mengganggunya. Wajah pria yang bermata sewarna madu itu terlihat sangat pucat. Setidaknya di mata Kasamatsu, Kise terlihat pucat. Tetapi pria itu selalu berusaha untuk menutupinya dengan tersenyum.
Tersenyum tidak selalu dapat menyembunyikan sesuatu darimu. Ataupun dapat menyelesaikan masalah.
Kasamatsu tidak dapat menolak saat Kise meminta bantuannya untuk mengantarnya ke bandara. Dia merasa sangat iba padanya. Pada awalnya, Kise tidak memberitahu apa pun tentang 'jangan beritahu mereka'. Tapi Kise tiba-tiba berkata seperti itu ditengah perjalanan mereka.
Tentu saja, Kasamatsu menolaknya. Tapi Kise berkata bahwa dia tidak tahu harus memberi alasan apa pada mereka jika mereka bertanya mengapa dia memutuskan untuk pulang.
"Jadi maksudmu, kau tidak meminta izin kepada mereka?" tanya Kasamatsu. "Kau tahu, aku merasa bersalah karena aku bersedia mengantarmu."
"Jika mereka menanyaiku sesuatu tentang alasan mengapa aku kembali, aku tidak tahu harus berpikir apa," jawabnya. "Dan mungkin mereka tidak akan membiarkanku kembali sendirian, dan mungkin saja aku merusak liburan mereka."
"Meskipun sepertinya aku sudah merusaknya." Tambahnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu mereka saat mereka kembali?" tanya Kasamatsu. "Tidakkah itu hal yang sama?"
"Setidaknya aku mempunyai waktu untuk berpikir saat mereka menanyaiku nanti," dia tertawa kecil. "aku bisa mencari jalan keluarnya."
"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya," Kasamatsu menghela nafasnya. "Aku cukup yakin kalau mereka akan mencariku saat ini untuk bertanya hal seperti 'apakah kau tahu dimana Kise' atau mereka mungkin sudah menghubungiku karena ponselku terus bergetar sejak—" dia melihat arloji yang berada di tangan kirinya. "entahlah, beberapa menit yang lalu?"
"Kau bisa memberitahu mereka jika pesawatnya sudah lepas landas," kata Kise. "setidaknya mereka tidak akan mencegahku saat di bandara."
"Kau sudah benar-benar gila, Kise," kata Kasamatsu. "dan mungkin jauh lebih gila darimu karena aku menuruti permintaan bodohmu ini."
Kise terkekeh pelan, dan itu membuat Kasamatsu menghela nafasnya.
"Aku tidak tahu apa yang akan kau katakan tentang alasanmu untuk kembali, tapi sepertinya aku tahu apa yang menyebabkanmu kembali," kata Kasamatsu, pandangannya tidak luput dari jalan yang terbentang dihadapannya. "Dengar, paling tidak—"
"Kasamatsu-senpai," panggil Kise, yang otomatis membuat Kasamatsu berhenti berbicara. "Kau tahu, kadang sesuatu tidak berjalan dengan baik. Terkadang ada saja hal yang menyebabkan rencana kita gagal. Kadang hampir tidak terpikirkan. Jauh diluar pikiran kita."
Sejujurnya Kaasamatsu tidak mengerti apa maksud Kise. T api dia memutuskan untuk diam, karena suara Kise sudah cukup pecah.
"Karena bagaimana pun juga, sebuah mangkuk yang sudah pecah, meskipun kita berusaha menyatukannya dengan berbagai macam cara, mangkuk itu tidak akan pernah kembali seperti dulu," kata Kise. "Pasti terdapat berbagai retakan pada mangkuk itu."
Dan sekarang Kasamatsu paham apa yang dimaksud Kise barusan. Kasamatsu melirik Kise dari sudut matanya. Pria itu tersenyum, pedih. "Kurasa lebih baik jika mangkuk itu dibuang."
"Apa kau bodoh?" tukas Kasamatsu. "Membuang sesuatu yang masih bisa digunakan? Tidakkah kau berpikir bahwa itu adalah hal yang sangat disayangkan? Maksudku, diluar sana, ada orang yang berjuang untuk mendapatkan sebuah mangkuk. Bahkan masih ada yang memakainya meskipun mangkuk itu rusak."
Kasamatsu dapat merasakan tatapan Kise yang tertuju kearahnya. Kise merasa bingung dengan ucapan Kasamatsu.
"Dengar, meskipun mangkuk itu rusak, dan tidak akan pernah kembali seperti dulu, setidaknya mangkuk itu masih bisa dipakai, bukan?" kata Kasamatsu. "Siapa yang peduli tentang retakan pada mangkuk itu. Selama mangkuk itu bisa bertahan, itu sudah cukup."
Kise berkedip.
"Kasamatsu-senpai, kau selalu melihat permasalahan dengan positif," Kise tersenyum. Kali ini, dia benar-benar tersenyum. Dia merasa sangat kagum pada sosok senpai yang berada disebelahnya. "Kau sangat mengagumkan, kau tahu?"
Tch.
Dan Kise tertawa mendengar decakan Kasamatsu.
"Kau tahu, senpai?" Kise tengah tersenyum kearahnya. Samar. Tapi Kasamatsu dapat melihatnya, meskipun tidak secara langsung karena kedua mata Kasamatsu sedang berfokus pada jalan. "Kurasa jika kau memiliki kekasih, kau akan memperlakukannya dengan sangat baik. Dan orang yang menjadi kekasihmu nantinya pasti orang paling beruntung di dunia karena bisa menakhlukkanmu—maksudku, hatimu. Karena kurasa kau bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta."
"Maaf?"
"Sebenarnya aku sudah beberapa kali melihat gadis-gadis itu menyatakan perasaan mereka padamu," kata Kise. "Tp kau menolak mereka semua. Dengan begitu tegasnya, tanpa mempertimbangkan perasaan mereka."
"Aku merasa dimata-matai."
"Aku tidak sengaja," bantah Kise. Kasamatsu menghela nafasnya. Dia tidak mengira bahwa Kise mengetahui hal itu. Kasamatsu tidak bermaksud menolak mereka mentah-mentah, tapi jika dia memberi mereka harapan dengan sekedar 'biar kupikirkan terlebih dulu', lalu pada akhirnya dia memutuskan untuk menolak mereka, maka itu akan semakin melukai perasaan mereka. Memberikan harapan palsu sama sekali bukan sifat Kasamatsu. Jadi lebih baik ia menolak mereka di awal daripada menolak mereka saat harapan mereka bertambah besar terhadapnya.
"Sayang sekali kau menolak mereka. Mereka terlihat seperti gadis-gadis yang baik," kata Kise. "Kurasa mereka juga cukup manis, dan mereka pasti akan sangat menghargaimu sebagai kekasih mereka."
Dan itu bukan seperti Kasamatsu bisa menerima mereka sebagai pasangannya. Karena mata, pikiran, dan hati Kasamatsu tidak lagi ada pada dirinya sendiri. Matahari telah menelan semuanya.
"Aku bukan tipikal orang yang bisa membagi hatiku, kau tahu," kata Kasamatsu. "melepaskan pandanganku darimu pun sudah cukup susah. Hampir terasa tidak mungkin."
Hal itu membuat wajah Kise memerah. Jantungnya berdegup cukup kencang. Kasamatsu selalu saja berhasil melakukan hal ini padanya. Secara natural, tanpa dibuat-buat. Perasaannya benar-benar murni. Dan terkadang, Kise merasa takut karena ia merasa dirinya lah yang membuat Kasamatsu tidak bisa melangkah maju. Tapi mungkin Kasamatsu dapat membuatnya melangkah maju.
"Aku merasa bersalah, karena kau selalu ada saat aku membutuhkanmu," kata Kise, berusaha mengungkapkan isi pikirannya. "Dan itu sedikit menakutiku, kau tahu?"
Lampu lalu lintas memancarkan warna merah, dan Kasamatsu menghentikan laju mobilnya.
"Apa yang kau bicarakan ?"
Keheningan adalah balasan yang berhasil didapat oleh Kasamatsu. Ia memutar-mutar otaknya untuk berpikir. Menakutinya? Untuk apa? Kasamatsu tidak pernah bercanda dengan perasaannya. Dan dia juga tidak—
Tunggu.
"Apa maksudmu kau takut kalau kau—" Kasamatsu refleks menoleh kearah Kise. Pemuda itu menutupi wajahnya dengan syal yang dia pakai. Kasamatsu dapat melihat telinga Kise memerah, dan ia tahu bahwa apa yang ia tebak sepertinya benar.
Kise takut untuk mulai jatuh cinta padanya. Kise takut untuk mulai memandangnya. Setelah semua yang ia alami, hal-hal itu terasa menakutkan sekaligus menyakitkan bagi Kise. Dan Kasamatsu dapat memahami hal itu.
"Kurasa aku sudah mengatakan ini sebelumnya, tetapi kurasa kau belum benar-benar memahami perkataanku," kata Kasamatsu. "Aku tidak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku, aku juga tidak ingin memaksamu untuk memandangku. Itu tidak adil, mengingat kondisimu sekarang."
"Aku tidak peduli aku harus menunggu bertahun-tahun untuk jawabanmu. Karena aku benar-benar tidak ingin memaksakan perasaan seseorang kepadaku," tukasnya.
"Jika kau berpikir aku bisa saja memiliki seorang kekasih, maka kau salah besar," kata Kasamatsu. "Bagaimana bisa aku menyukai orang lain jika sudah tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk mereka?"
"Baiklah, sebenarnya ini semua salahmu," kata Kasamatsu. Dan Kise langsung menatapnya dengan cemberut.
"Apa salahku?" tanya Kise.
Ia menatap Kise kemudian ia mengulurkan tangan kanannya, seolah meminta sesuatu. Dan itu membuat Kise berkedip kebingungan.
"Kembalikan hatiku," kata Kasamatsu. "itu sudah terlalu lama berada padamu."
Lagi-lagi, Kasamatsu membuat pipi Kise memerah hingga ke telinganya.
"Hentikan, kumohon," Kise cepat cepat menutupi seluruh wajahnya dengan syalnya. "Aku akan mati."
Manis. Dan hal itu juga membuat degup jantung Kasamatsu menjadi semakin cepat dari biasanya.
Lampu lalu lintas itu meredupkan warna merahnya dan memancarkan cahaya hijaunya. Mobil Kasamatsu melaju dengan perlahan.
"Dengar, Kise,"kata Kasamatsu. "Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku sendiri. Jadi jangan pernah kau meragukanku."
Kise hanya bisa mengangguk pelan, dengan sedikit melirik ke arah Kasamatsu dari celah syalnya. Pria itu tengah tersenyum, simpul. Dan Kise tersenyum dibalik syal itu. Bagi Kise, senyum simpul Kasamatsu memiliki kharisma tersendiri.
Beberapa menit yang lalu, Kise merasa begitu tidak bersemangat. Dia bahkan merasa begitu... hancur? Entahlah. Hancur rasanya bukan kata yang tepat. Jika memang Kise telah hancur, maka Kasamatsu lah yang membuatnya dapat kembali utuh. Kasamatsu yang menyatukan puing-puing yang telah hancur tadi. Perlahan-lahan. Dan perlahan-lahan membuat pandangan Kise berbalik ke arahnya. Mungkin—hanya mungkin—ia bisa mulai memandang Kasamatsu.
.
.
Mengapa penumpang harus datang satu jam sebelum keberangkatan?
Tidak bisakah 15 menit sebelum keberangkatan? Atau mungkin 10 menit? Satu jam merupakan waktu yang cukup lama. Ditambah lagi, hawanya cukup dingin.
Menurut Kise, sudah hampir satu jam dia duduk menunggu pemberitahuan keberangkatan pesawatnya. Tapi megaphone itu masih belum berbunyi.
Kise menghembuskan nafas melalui mulutnya. Masih terasa dingin. Ia pun menyalakan ponselnya, membuka berita tentang cuaca. Tidak ada badai salju, menurut laporan perkiraan cuaca yang dia baca. Setidaknya keberangkatannya untuk pulang tidak akan tertunda karena cuaca yang buruk.
Mungkin beberapa menit lagi, pikirnya sebelum ponselnya bergetar. Mungkin teman-temannya yang tengah mengkhawatirkannya. Tentu saja Kise merasa tidak enak pada mereka. Tapi Kise juga tidak ingin dia menghancurkan liburan mereka.
Ia menghela nafasnya. Keputusan untuk mengikuti liburan ini ternyata salah. Seharusnya Kise tidak ikut. Karena ia hanya semakin memperburuk suasana.
Ia membuka pesan-pesan itu. Beberapa pesan dari Momoi yang menanyakan keberadaannya dan menyuruhnya untuk cepat kembali. Ia membuat catatan mental untuk membalas pesan gadis itu ketika ia sudah menginjakkan kakinya di rumah. Ketika ia mengusapkan jarinya kebawah, layar ponselnya menunjukkan pesan dari Aomine. Notifikasi pesan dari Aomine sudah cukup untuk membuat Kise terkejut. Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah isi pesannya.
From: Aominecchi
Berusaha meminta maaf padamu. Tapi bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk meminta maaf. Kemarin, aku membiarkan emosi mengambil alih diriku. Aku telah mengatakan hal yang sangat buruk padamu. Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti itu. Mungkin saat ini kau sangat membenciku, dan aku tidak menyalahkanmu untuk hal itu. Hanya saja.. Berikan aku kesempatan untuk meminta maaf padamu, Kise. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku.
From: Aominecchi
Jika waktu bisa berputar kembali, mungkin aku akan tinggal pada saat kita masih di Teikou.
Pesan terakhir dari Aomine membuat nafas Kise terasa berat. Otaknya seolah berhenti berpikir.
Kenapa.
Kenapa disaat Kise sudah mulai melangkah.
Kenapa disaat Kise sudah mulai mempercayakan perasaannya pada Kasamatsu.
Kenapa.
Ia membungkukkan punggungnya sambil memeluk perutnya. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya agar bibirnya berhenti bergetar.
Aominecchi.
.
.
HAAAAAIIIIII! YA TUHAN KALIAN BAIK SEKALI SUNGGUH. NGGAK TAHU HARUS NGOMONG APA KE KALIAN SEMUA HIKS *XOXO* MAAFKAN SAYA *BOWS* SAYA BENAR-BENAR AUTHOR YANG JAHAT HIKS *BOWS BOWS* MAAFKAN SAYA KALAU CHAPTER INI MEMBOSANKAN T_T *BOWSBOWSBOWS*
Jujur saja awalnya saya sempat give up sama cerita ini. Kenapa ? Waktu itu, internet positif everywhere until a few months. Lalu, tugas perkuliahan sangat sangat banyak sekali. Lalu saya sempat buntu untuk menulis fanfic. Lalu beberapa hari yang lalu saya buka akun saya, lalu saya baca review-review dari kalian, dan saya mendadak semangat sekali melanjutkan cerita ini. Maaf sekali berjuta maaf dari saya karena membutuhkan waktu lama untuk chapter ini. Terima kasih bagi kalian yang review. Terima kasih banyak sangat terima kasih terima kasih. Terima kasih juga yg fave dan follow, terima terima terima kasih kasih kasih sekali ^^ Kalian benar-benar moodbooster.
Yes anyway, lagu yang dinyanyikan Kasamatsu, judulnya Teardrops in the Rain oleh CN Blue. Lagu akustik, tp saya suka sekaliiiii aaaaa cocok buat mereka
Soal lanjut atau enggaknya, lanjut doong soalnya endingnya sudah on the way hehe~ saya usahakan update faster ya, tergantung perkuliahan juga soalnya. Tp lanjut kok ceritanya jadi don't worry~ WELL ANYWAY, APA PENDAPATMU TENTANG CERITA INI ? ^^ Review please.
Oh ya, seperti biasa, balasan review:
ai selai strawberry: HAIIIII ini updatenya semoga suka ya maaf kalau membosankan T_T saya juga ngerasa ending tbc nya selalu nyesek kenapa ya-_- mungkin karena kise empuk disiksa (?) /dilemparin gunting/ anyway, thank you for the review, xoxo~
DevilFujoshi: HALOOO. Iya kasian kise digantungin mulu ya hmm dia gak bisa milih kasamatsu ato aomine sih ngahahahahahahahahahaha *ketawa jahat* thank you for the review, xoxo~
shiro yuki: HAIIIII saya juga sedih nulisnya kelamaan hiks maaf yaaa T.T ini update nya, semoga suka ya maaf kalau membosankan hiqs T.T thank you for the review, xoxo~
moutonshot: HIIIIII omg thank you so much i'm flattered T.T iyaaa kasian kasamatsu ya sebenernya. Dia sabat banget gitu ya sama kise. Emang sosok yg sempurna gitu deh si kasamatsu hiks mending buat saya aja daripada buat kise /EHHH /dilemparin kerosukenya midorin/ hehe, thank you for the review, xoxo~
Chesee-ssu: HALOOOHH kise dibagi 7, buat semua GOM, kasamatsu, sama saya (?) /huah/ iya sebenernya saya pengen bikin lebih banyak scene kompor-komporannya akashi sama aomine gitu XD yang lebih dari kompor pengennya hahaha XD hueeheheeh terima kasih atas reviewnya, xoxo~
BakaAho: HIIIIII. Ini lanjut kok fanficnya, maaf ya sudah terlalu lama sampek banyak sarang laba-labanya hiks. Iya aomine terlalu ashfjnajpn pengen saya lempar sendal jadinya hiks Semoga suka, maaf atas kekurangannya. Anyway, terima kasih atas reviewnya, xoxo~
Ry: HAAIII sudah lanjut yaaa hihi enjoy! Thank you for the review, xoxo~
humusemeuke: HIII. Ada kok ini lanjutannya maaf lama. Thank you for the review, xoxo~
Cherry Raven Fyan: HALOOO. Udah sampek seberapa tuh temboknya digarukin gara-gara ini fanfic ahahha maaf yaaaa lama T-T semoga suka. Thank you for the review, xoxo~
Ichisada124: HALOOHHH sudah update meskipun nggak kilat maafkan saya. Semoga suka yaaa. Terima kasih reviewnya, xoxo~
Terima kasih, bagi yang mau mampir membaca cerita ini. Terima kasih sudah memberi semangat. Terima kasih sudah menunggu cerita ini. I can't thank you enough for this omg
Don't forget to leave your review, kay?
Until next time, XOXO~
