::ONE STEP CLOSER TO YOU::
Main cast:
Cho Kyuhyun (19 y.o)
Lee Sungmin (21 y.o)
*and other
Summary:
Satu langkah semakin dekat dengan mu, setiap langkah itu juga yang membawaku perlahan megetahui semua tentang dirimu.
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore,jalanan kota Seoul kembali dipadati dengan berbagai macam kendaraan yang hendak pulang ke rumah masing-masing untuk melepas penat setelah hampir setengah hari bekerja. Begitu juga dengan trotoar dipinggir jalan yang dipadati dengan para pejalan kaki.
"Lelah sekali…" dengus salah seorang pemuda yang nampak memelankan langkahnya. Pemuda itu berperwakan manis sekali dengan pakaian yang dirasa sangat cocok dipakai olehnya, serta kamera DSLR yang menggantung di lehernya.
"Tidak boleh mengeluh Lee Sungmin, kau pasti bisa" ujar pemuda itu menyemangati dirinya. Lee Sungmin adalah nama dari pemuda itu.
Sungmin pun memutuskan untuk duduk di salah satu halte yang kebetulan ia jumpai di tengah perjalanannya. Namun bukan untuk menunggu bus, tapi ia hanya sekedar duduk sembari melihat hasil jepretan dengan kamera kesayangannya.
Sesekali Sungmin tersenyum puas melihat beberapa foto, sambil mengayunkan kakinya kecil, Sungmin cukup bangga dengan bakat yang dirinya miliki. Tertarik di bidang fotografi membuat pemuda kelahiran 1 januari itu lebih giat untuk mengembangkan lagi, dan hingga ia bekerja di salah satu perusahaan yang mempekerjakannya di bagian desain grafis, memang tidak ada hubungannya dengan bakat yang Sungmin miliki, tapi bukan berarti itu menjadi penghalang baginya. Sudah banyak sekali karya nya yang dipamerkan di berbagai pameran foto dan meraih banyak pernghargaan atas karya yang ia hasilkan.
Setelah puas melihat-lihat hasil fotonya Sungmin beranjak dari duduknya dan kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Bruk!
"Ahhh jatuh lagi" dengus seseorang ketika tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Sungmin. Pemuda dengan foxy eyes itu terkejut ketika barang bawaan orang tersebut jatuh berhamburan ke tanah. Dengan cekatan ia mengambil kembali barang-barang tersebut dan memasukannya ke kantung plastik yang berada di dekatnya.
"Ini, maaf ya" ujar Sungmin sambil menyerahkan barang milik orang yang telah ia tabrak.
Namun orang itu tidak bergeming dan malah menatap Sungmin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa tidak diambil?" Sungmin merasa risih dengan tatapan pria di depannya itu.
"Kau menjatuhkan nya lagi" ujar orang itu
"Aku hanya menjatuhkannya sekali, dan kupungut kembali" Sungmin melakukan pembelaan.
"Ini yang kedua kali, tapi dengan orang yang berbeda"
Sungmin memutar kedua bola matanya dengan jengah, "Lalu mau mu apa? Aku sudah memungutnya dan mengatakan maaf padamu"
Orang itupun memutuskan untuk mengambil kantung plastik miliknya dari tangan Sungmin dan pergi begitu saja tanpa membalas permintaan maaf Sungmin.
"Apa-apaan dia itu? aku sudah berbaik hati meminta maaf, bahkan tadi sepertinya dia yang berjalan dengan terburu-buru" gerutu Sungmin.
.
.
~000oo00~
.
.
"Ini bagus atau tidak?" tanya Sungmin pada salah satu sahabatnya yang berkunjung ke rumahnya.
"Semuanya bagus, hyung"
"Hae.."
"Hm?"
"Aku hanya merasa bosan"
"Kenapa, hyung?"
"Hidup ku terasa begitu membosankan, bangun pagi untuk bekerja dan jika ada waktu luang aku akan pergi memotret apapun dan kemudian mencetaknya. Makan 3 kali sehari dan menonton tayangan di televise. Hidup ku sama sekali tidak bewarna"
Donghae, sahabat terdekat Sungmin merasa sedikit iba. Memang Donghae baru berkenalan dengan Sungmin tiga bulan yang lalu, Donghae merasa sangat nyaman jika berada dengan pemuda yang jarak umurnya hanya 2 bulan lebih muda dari nya itu. Donghae sempat berfikir bahwa Sungmin adalah seorang wanita cantik, tapi setelah perlahan dijelaskan oleh Sungmin bahwa ia lelaki sejak lahir barulah Donghae percaya.
Sejak mengenal lebih dalam kehidupan sahabatnya itu, Donghae memang merasa hidup Sungmin terlalu membosankan, tidak ada motivasi selain dari kedua orang tuanya yang menetap di Jepang, Sungmin tinggal sendiri dengan segala kesendiriannya yang begitu membosankan.
"Cari pacar, hyung"
"Mwo?"
"Katanya hidup hyung membosankan, jadi apa salahnya untuk mencari pacar. Tapi aku sanksi kau mendapat pacar seorang wanita, karena para wanita pasti mengira dirinya penyuka sesama jenis bila berpacaran dengan mu"
Plak!
Ucapan hebat Donghae itu berhadiah pukulan telak di kepalanya. Sungmin mendengus kesal, saran sahabatnya sama sekali tidak membantu dalam masalahnya.
"Lalu yang kau maksud aku harus berpacaran dengan namja, begitu?"
Donghae mengangguk polos.
"Ya! Aku masih tertarik dengan wanita bahkan di dalam kamar ku banyak sekali majalah-majalah wanita dewasa yang ku koleksi" sembur Sungmin
"Ya terserah kau sajalah, hyung. Ngomong-ngomong aku lapar, bisa masakan sesuatu untuk ku?"
"Minta saja pada pacar lelaki mu itu" balas Sungmin dan berlalu menuju kamarnya.
"Tapi kan Eunhyuk tidak bisa masak" dan pada akhirnya Donghae hanya bisa pasrah menahan rasa laparnya. Siapa suruh membuat mood seorang Lee Sungmin menjadi buruk.
.
.
~000oo000~
.
.
"Wah.. Kyuhyun benar-benar hebat melukisnya" pemuda bernama Kyuhyun itu tersenyum puas mendengar pujian yang terlontar dari bibi nya.
"Benarkah jung ahjumma? Coba tebak apa yang sedang kulukis"
Jung ahjumma memasang pose berfikirnya, "Ini appa mu, eomma mu, dan si tampan ini kufikir adalah dirimu, Kyuhyun-ah. Apa ahjumma benar"
Kyuhyun mengangguk cepat, "Aku memang sedang ingin melukis mereka"
"Tapi kenapa tidak ada Siwon?"
Sontak sinar mata yang semulanya Kyuhyun pancarkan mulai meredup, tatapan kebencian ia layangkan ketika mendengar nama itu kembali, "Siwon hyung tidak pantas ku lukis karena dia bukan lagi bagian dari keluarga ku"
"Ahjumma mengerti Kyuhyun-ah, maaf telah membuat mu mengingat nama itu"
"Tidak apa-apa, ahjumma.. aku lapar"
Jung ahjumma kembali tersenyum, "Baiklah sepertinya tuan pelukis ini sudah mulai lapar ternyata, ahjumma telah memasakan sesuatu yang special untuk keponakan ku tercinta"
"Ahjumma" panggil Kyuhyun di sela-sela aktifitas makan siangnya.
"Apa sayang?"
"Aku ingin sekolah"
Jung ahjumma tertegun, ia sudah berkai-kali mendengar permintaan Kyuhyun itu. Bukan.. bukan karena Jung ahjumma tidak mampu secara ekonomi untuk membiayai sekolah Kyuhyun, bahkan Jung ahjumma adalah pemilik restaurant mewah yang lokasinya terletak di gangnam yang diketahui sebagai pusat segala kemewahan Korea Selatan. Ada alasan lain yang membuatnya urung untuk menyekolahkan Kyuhyun layaknya remaja seusianya.
"Aku tidak suka diajar Nuna Hwang.." ujar Kyuhyun lagi.
"Kyuhyun-ah dengarkan ahjumma. Untuk sementara kau sekolahnya di rumah, ahjumma akan memikirkannya kembali"
"Tapi Ahjumma janji kan?" Jung ahjumma mengangguk pelan.
"Yess… terimakasih ahjumma ku yang paling cantik sedunia"
Chup!
Itulah kebiasaan Kyuhyun sejak 8 tahun lalu, menciumnya ketika keinginannya dituruti, walaupun hanya sekedar janji yang belum tentu akan ditepati Kyuhyun cukup senang melihatnya.
"Sekarang umur ku berapa?" tanya Kyuhyun.
Jung ahjumma tertawa kecil, "19 tahun, Kyu"
"Kalau begitu aku sekolah nya seperti apa?"
"Kau mestinya sudah kuliah"
Kyuhyun tertegun, "Kuliah itu seperti apa?"
"Seperti hyung mu tetapi kau di semester yang lebih rendah darinya"
Kyuhyun mendelik tidak suka mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Jung ahjumma, "Berhenti menyebut nama itu, aku benci Jung ahjumma" Kyuhyun meninggalkan meja makan dengan makan siang yang belum ia habiskan. Sementara itu Jung ahjumma hanya bisa menghela nafas dan setelahnya mengambil ponsel yang ada di dekatnya dan menghubungi salah satu nomor.
"Dokter Im, aku sudah berulang kali mencoba memancing dengan nama hyungnya di setiap situasi berbeda tapi reaksinya tetap sama, Kyuhyun akan marah dan mengunci pintu selama seharian penuh dan akan kembali seperti biasa keesokan harinya"
"Tenang ibu Jung, saya sedang melakukan beberapa penelitian untuk menemukan cara yang tepat, sementara pakai saja cara seperti itu dulu untuk melatih otaknya mendengar nama hyung nya, yang saya takutkan ketika cara itu mendadak diberhentikan akan berdampak semakin buruk pada kondisi psikologi nya"
"Baiklah dokter Im, saya mempercayakan semua pada anda. Biar bagaimanapun juga, keponakan ku harus sembuh"
"Akan saya usahakan"
.
.
"Jung ahjumma menyebalkan, aku tidak suka… aku tidak suka" Kyuhyun melangkah menuju meja belajarnya dan mengeluarkan seluruh benda yang ia beli di toko alat lukis langganannya.
Kyuhyun meniup butiran pasir yang menyangkut di barang-baranya, "Coba saja tidak jatuh, pasti tidak akan kotor, menyebalkan sekali orang itu"
Setelah mempersiapkan semua alat yang ia butuhkan, Kyuhyun kembali dengan aktifitas biasa yang ia lakukan, melukis apapun yang ia fikirkan. Tetapi kali ini berbeda, masih dengan suasana hari yang buruk akan menyulitkannya menemukan objek apa yang akan ia lukis. Kyuhyun terus berfikir tanpa jera setidaknya cat air yang telah ia siapkan itu tidak terbuang sia-sia.
"Ahhh melukis orang itu saja" Kyuhyun mulai melukis di atas kanvas dan sesekalo terkikik kecil.
.
.
-ToBeContinued-
Haiiiii….. entah lagi kerasukan apa sehingga saya menerbitkan cerita super absurd seperti ini -_-
Gara2 nya sih denger lagu Kyuhyun yang because it's you itu. neoraso~~~ *udah Cuma bisa itu doank. Udah bisa nebak jalan ceritanya gak?
vampir halskette nya di pending dulu ya, next chap nya sih udah ada tapi belum ada kelanjutan
Last~~~ minta tanggapan donk untuk chap 1 nya.. *kedipcantik
Vampire halskette nya tetep dilanjut kok.. ^^
SEE YOU AT NEXT CHAP
