Setelah aku baca chapter-chapter sebelumnya, aku menyadari sesuatu

Ternyata disini gak ada cerita cinta Papa Zola en Mama Zila

Hah... biarlah... emang susah kalo bikin pairing mereka berdua

Selamat membaca!

Pahlawan-pahlawan cilik kita masih tertegun, melihat Mama Zila yang sedang sibuk memukul-mukul tangannya ke sebuah kurungan berwarna pink transparan berbentuk kotak. Keheningan pun dipecah oleh bentakan Mama Zila.

"Hei, alien kerdil! Lepaskan aku dari benda aneh ini!"

"Ha ha ha! Jangan harap!" kata Adu Du sambil tertawa.

"Tak guna kau Adu Du! Lepaskan Mama Zila! Atau aku sendiri yang akan menghancurkan perangkap itu beserta kau!" ujar Boboiboy, yang telah membelah menjadi 3.

"Heh... coba saja kalau bisa!" ejek Adu Du.

"Gerugi Taufan! Keris Petir! Tanah Tinggi!" 3 Boboiboy itu menyerang benda itu secara bersamaan, namun bahkan tidak tampak adanya bekas.

"Sekarang biar kami yang mencobanya" ujar Yaya.

"Tumbukan Padu!"

"Seribu pukulan beruntun!"

"Cakar Bayang!"

"Tukaran Makanan!"

Dan hasilnya nihil. Adu Du kemudian berucap penuh kebanggaan.

"Asal kalian tau, kurungan ini kubuat dari bahan yang bahkan lebih kuat daripada perisai Robot PETAI. Jadi usaha kalian akan sia-sia! Perangkap ini tak mungkin dihancurkan!"

"Itu pendapatmu wahai alien durjana!" sebuah suara muncul tiba tiba. Reflek semua kepala menoleh ke arah suara tersebut. Dan *jeng jeng* tampaklah seorang mengenakan pakaian superhero ketat dengan perut tampak membuncit *dirotan* berdiri seraya membusungkan dada.

"PAPA ZOLA!" 5 anak (atau mungkin 7?) tersebut berseru serentak.

"KAKANDA!" Mama Zila pun berseru dengan gembira.

"Wahai alien jahat! Aku beri kau peringatan! Lepaskan istriku! Atau kau akan melihat akibatnya!" Papa Zola pun berkata dengan gagahnya*hoek!*

"Hah! Kau kan tak punya kuasa apa-apa! Jangan kira kau bisa merusak kurungan istrimu ini!"

"Jangan salah! Aku punya kuasa, yang bahkan ditakuti oleh murid-muridku ini! Dan aku akan menunjukkannya pada kau alien sombong!"

"APA?! Kau punya kuasa yang bahkan Boboiboy dan teman-temannya takuti? Komputer, kenapa kau tak tau?!" ucap Adu Du mulai takut.

"JANGAN KELUARKAN SENJATA ITU CIKGU PAPA!" Gopal berseru dengan takut.

"Dari data yang saya kumpulkan, Papa Zola memang tak punya kuasa apapun. Tapi, melihat reaksi mereka, mungkin memang dia punya kuasa tapi tak pernah ia tunjukkan.." Komputer menjelaskan, sedangkan Adu Du mulai ketakutan.

"SUDAH TERLAMBAT UNTUK MINTA AMPUN ADU DU! SAKSIKANLAH! KUASA TERHEBAT SEPANJANG MASAA! SERANGAN ROTAN KEINSYAFAN! HYAHHH!" seru Papa Zola seraya memukul kurungan itu dengan rotannya.

Dan mari kita saksikan reaksi semua yang ada di situ.

Adu Du terdiam dengan mulut menganga.

Boboiboy dkk beserta Mama Zila menepuk jidat masing-masing.

Komputer berkata "Analisisku tak mungkin salah. Dia memang tak punya kuasa apa-apa" dengan bangga.

Sedangkan Papa Zola dengan gigih sibuk memukul kurungan itu dengan rotannya, hingga...

KREK!"AHHH! ROTAN KEINSYAFAN TELAH PATAH! TIDAKK!"

Lemaslah Mama Zila dan diameter mulut Adu Du pun bertambah.

Oke lain kali ingatkan Papa Zola bahwa senjatanya yang 'luar biasa' itu hanya berlaku untuk anak-anak didiknya yang manis-manis itu.

"Hah... kan aku dah cakap untuk tidak gunakan senjata tu... tak ada gunanya..." kata Gopal.

"Memang kau kira sejak kapan Papa Zola kita mau memperhatikan kata orang hah?" ujar Ying kemudian.

"Dasar tak berguna.." kata Fang dengan singkat, padat, dan menyengat seperti biasa.

"Buat malu saja.." ujar Boboiboy seraya memalingkan muka.

Astaga... bagi semua yang masih pelajar, harap jangan tiru perkataan 'lembut' superhero kita ini, semenyebalkan apapun guru kita.

Kruit... Kruit.. terdengar suara yang tidak asing, berasal dari ketua kelas mereka.

"Menghina guru adalah pelanggaran. Kalian mau nama kalian ditulis di buku cantik ini?" ujar Yaya dengan seringaian yang sangat mereka kenali. Di tangannya telah tersedia buku notes kecil serta pulpen beraksesoris kepala domba yang selalu bergerak ke kiri dan ke kanan setiap akan digunakan. Tentu saja keempat anak itu langsung bungkam dan menjawab dengan gelengan.

Sedangkan Adu Du yang telah sembuh dari jawdropnya menekan suatu tombol. Dan keluarlah sebuah tangan robot dari kurungan tersebut dan meng'kick' Papa Zola hingga terpental dan jatuh ke tanah.

"Kakanda!" seru Mama Zila dengan khawatir melihat Papa Zola terlempar ke tanah. Yah, sepayah apapun Papa Zola, ia tetap suami Mama Zila yang sangat ia sayangi.

"Tak guna kau Adu Du! apa yang kau nak hah!" seru Boboiboy.

"Oh, tak ada apa... aku cuma nak barter.."

"Barter?"

"Iya, aku bagi kalian Mama Zila, dan kalian bagi aku kuasa kuasa kalian."

"Heh! Jangan harap!"

"Oh, kalau macam tu, akan aku setrum Mama Zila sampai pingsan!" Adu Du mengeluarkan sebuah remote, dan mereka tahu remote itu berfungsi menyetrum target yang berada dalam kurungan tersebut.

"JANGAN! ADINDA!" Papa Zola pun bangkit dan berlari menuju Adu Du. Namun jari Adu Du telah berada dekat dari remote.

Semakin dekat...

Semakin dekat...

Dan-"INCIK BOS!"

Seruan ini langsung mengalihkan perhatian Adu Du, sekaligus menunda niatnya untuk menekan tombol dalam remote. Sosok pemilik suara itu pun menghampiri Bosnya. Siapa lagi, kalau bukan robot ungu bernama P.R.O.B.E.

"Dari mana saja kau ni hah!" bentak Adu Du.

"Aku dari Markas Kotak, Incik Bos lupa membawa benda tu.."

"Benda apa?"

"Boneka ni lah...(sambil mengeluarkan boneka teddy bear Adu Du)

Semuanya pun terdiam. Namun masing-masing berkata dalam hati.

'Boneka itu! Syukurlah, misi konyol ini berakhir juga! Terima kasih Tuhan!' ini kata hati Boboiboy dkk.

' Itu boneka yang diinginkan andinda! Aku harus dapatkan boneka itu meski taruhannya nyawa!' ini kata hati Papa Zola. Jujur saja, meskipun di sini author banyak menistakan Papa Zola, namun author sendiri kagum terhadap kecintaan Papa Zola yang sangat besar terhadap istrinya. Duh, author jadi terharu *usap air mata*.

'Tak kusangka boneka macam tu benar-benar ada.. di tangan musuh lagi.. lepas ni aku akan minta maaf kepada suamiku' ini kata hati Mama Zila. Lho, apa maksud perkataan Mama Zila itu?

Sedangkan Adu Du masih kebingungan menangkap maksud ajudannya. Probe mulai tidak sabar.

"Hish Incik Bos ni! Jadi, Mama Zila itu lagi hamil. Trus, dia ngidam boneka kayak punya Incik Bos. Nah, Incik Bos bisa barter, boneka itu ditukar dengan jam kuasa mereka.."

Loading 20 %

Loading 40 %

Loading 60 %

Loading 80 %

100 %. Complete.

"AAAPPPPAAA! TAK BOLEHH! KAU KAN TAU BONEKA NI HADIAH DARI MAK AKU TERSAYANG! MESKIPUN DENGAN SEMUA KOKO DI BUMI INI, MESKIPUN DENGAN JAM KUASA ATAU BAHKAN OCHOBOT, TAK ADA YANG BISA MENANDINGINYA! POKOKNYA BONEKA INI MILIKKU!" Adu Du membentak Probe sembari ngos-ngosan karena banyaknya energi yang ia gunakan. Sedangkan pihak yang dibentak langsung mundur. Tiba-tiba boneka yang dipegang Probe lenyap.

"Aik? Kemana boneka Incik Bos ni?"

"Bukannya tadi ada di tanganmu?" Adu Du berkata seraya panik.

"Haloo... Adu Du, apa kau mencari sesuatu?" ujar Boboiboy Halilintar seraya mengacungkan sebuah teddy bear. Rupannya selama Adu Du dan Probe sibuk bercengkrama(?), Boboiboy Halilintar bergerak menggunakan gerakan kilatnya, mengambil boneka itu dari tangan Probe.

"Nah, sekarang mari kita mulai barternya. Kau bebaskan Mama Zila, dan aku akan kembalikan boneka ni." Boboiboy Halilintar pun memulai perundingan.

Adu Du pun tampak ragu, namun kemudian berkata,"Baiklah, aku bebaskan Mama Zila." Dan membuka kurungan. Mama Zila pun keluar dan langsung diterjang oleh Papa Zola

"Aduh, adinda tidak apa-apa kan? Masih sehat kan? Pusing tidak? Duh adinda pasti ketakutan sekali kan?" dan serentetan pertanyaan lainnya. Yang ditanya hanya bisa menjawab "Aku tidak apa-apa."

Sementara itu, Boboiboy Halilintar tampak melemparkan boneka tersebut ke arah Adu Du, kemudian mengancam,"Pergi dari sini atau kau akan jadi alien panggang." Adu Du beserta para ajudannya pun langsung cabut. Sementara itu, Boboiboy yang sudah bersatu, dirubung oleh teman-temannya.

"Boboiboy, kau ni bagaimana!"

"Tadi itu boneka yang kita cari selama ini!"

"Kenapa kau kembalikan!"

Boboiboy yang diberondong pertanyaan demi pertanyaan kewalahan juga. Namun sebelum ia sempat menjawab, Mama Zila berkata dengan lirih.

"Maaf semua, sebenarnya aku berbohong. Aku tidak ngidam."

.

.

.

Hening

.

.

.

"HHHAAAHHH?!"

OooO

Di kedai Tok Aba...

"Jadi alasanku bilang ngidam karena aku ingin tahu apakah kakanda benar-benar mencintai adinda. Kita kan sudah terpisah lama di dunia game. Adinda takut kakanda telah berpindah ke lain hati. Jadi adinda meminta kepada kakanda sesuatu yang mustahil ada. Adinda tidak menyangka akan begini kejadiannya. Sekali lagi maafkan adinda ya..." jelas Mama Zila.

Papa Zola pun tersenyum serta mengelus kepala Mama Zila dengan lembut,"Adinda tidak usah risau. Biar kita terpisah berjuta-juta tahun pun kakanda tetap memilih adinda.."

"Oh kakanda..."

"Oh adinda..."

Dan kedua insan itu berpelukan, persis seperti sinetron cinta. Bedannya jika sinetron cinta penontonnya akan menangis terharu, di sini malah penontonnya mengeluarkan aura suram.

"Jadi itu cuma untuk pembuktian cinta?"

"Setelah dengan sabarnya kita menerima ejekan dari anak-anak tak tau diri itu?"

"Setelah capek-capek kita buat boneka?"

"Setelah jariku tertusuk jarum?"

"Itu semua hanya karena untuk pembuktian saja?"

"JANGAN BERCANDA!" 5 superhero pun membuyarkan adegan mesra yang terjadi di depan mereka.

"Ahaha... janganlah marah. Hadiahnya tetap akan Cikgu beri. Nih Penggaris P masing-masing satu." Papa Zola pun membagikan 5 penggaris itu kepada mesing masing anak, satu menerima dengan antusias, 4 yang lain menerima dengan muka kelam.

"Wah, Penggaris P Papa Zola! Anakku, boleh tak penggaris itu buat Papa saja?" Pak Kumar pun memulai negosiasi dengan anaknya(sejak kapan Pak Kumar ada di situ).

"Tak boleh!"

"Alah, janganlah pelit..."

Tak tahan melihat perdebatan keluarga itu, Boboiboy dkk pun memberikan penggaris mereka ke Pak Kumar yang masih sibuk memohon-mohon. Pak Kumar pun berlari dengan senang hati. Berlari? Iya, karena Gopal dengan gembiranya mengejar ayahnya, tidak rela ayahnya mendapatkan 4 penggaris sedangkan ia hanya dapat satu.

Dan mari kita lihat 4 orang yang tersisa, menatap ke arah amplop yang mereka terima. Bukan, isinya bukan uang. Papa Zola sendiri berkata bahwa isinya tips ujian matematik. Yaya dan Ying berseru senang, Boboiboy dan Fang ikut tertarik, sedikit. Seakan dikomando, mereka membuka amplop itu bersamaan dan membaca isinya. Dan isinya adalah..

Tips Ujian matematik

Kerjakan soal dengan benar

Kerjakan dengan tangan kanan (kecuali orang kidal)

Kerjakan sambil duduk

Jangan mengerjakan ujian menggunakan pensil yang patah

Jangan mencontek

Dan berbagai tips lainnya yang bahkan anak TK pun tahu. Dan sudah bisa dipastikan, aura hitam pun bertambah kelam. Papa Zola meneguk ludah, Mama Zila dituntun oleh Ochobot menjauhi tempat itu.

"Kenapa?" ujar Mama Zila.

"Adegan selanjutnya tidak baik untuk kandunganmu." Kata Ochobot.

Mama Zila pun pulang dituntun oleh Ochobot. Beberapa menit kemudian, terdengar suara teriakan.

"KKYYAA!"

Mama Zila spontan berhenti.

"Suara apa itu?" tanya Mama Zila.

"Ung... anu... suara orang sedang dihajar oleh 4 anjing gila." Jawab Ochobot asal.

"Oh... kasihannya perempuan itu..." ujar Mama Zila sambil berlalu

**FIN**

YEY! Akhirnya 1 fanficku ada yang selesai juga *tebar bunga*

Dan kenapa endingnya seperti ini? Karena saya membaca di buku psikologi, bahwa ngidam itu ada karena hormon kewanitaan sedang labil, sehingga muncul keraguan pada suami dan keinginan untuk mengetes suami dengan ngidam.

Jadi nanti jika readers sekalian(aku tahu readers di sini pasti kebanyakan wanita) hamil, jangan terpengaruh hormon dan percayalah dengan cinta suami.

Tapi kalau tetap ngotot, ya... siap-siap saja suami kalian bernasib seperti Papa Zola.

Terima kasih bagi yang telah membaca, mereview, memfollow dan favorite fanfic ini.

For the last word, REVIEW PLEASEEE!