Disclaimer : Bleach © Kubo Tite.
Author : The Abnormal Kid.
Rate : M Gore.
Genre : Supernatural.
Chapter : 11.
Warning : AU, OOC, Typo (s), Gore, gaje, hancur, abal-abal, dan lainnya.
Kebanyakan Clan di zaman ini memiliki sebuah profesi khusus yang biasanya dilakukan secara turun temurun.
Dan ada beberapa Clan yang mempunyai produk terbaik buatannya yang unik dan tak bisa ditiru oleh orang lain, produk ini disebut sebagai Masterpiece.
Ada beberapa Clan terkenal yang sudah memiliki Masterpiece, contohnya Clan Hirako yang merupakan spesialis di bidang perhubungan memiliki Teleport Gate yang mampu memindahkan orang ataupun benda dari satu kota ke kota lainnya.
Tentunya dengan membayar harga yang sepadan.
Beda lagi dengan Clan Komamura yang memiliki bisnis peternakan terbesar, mempunyai seekor hewan yang merupakan gabungan antara kerbau jantan dan sapi betina yang dinamakan Chimera.
Sapi betina yang digabungkan dengan tubuh kerbau ini sangat kuat melebihi hewan lainnya sehingga cocok untuk pekerjaan di sawah sementara susunya juga sangat banyak dan berkualitas.
Chimera juga tidak mudah sakit dan tak perlu lagi pengeluaran dana untuk suntikan pencegahan penyakit.
Begitu juga dengan para Blacksmith yang memiliki Masterpiece beragam.
Beberapa diantaranya sangat terkenal karena kekuatannya, salah satunya adalah Muramasa.
Konon, Muramasa adalah pedang yang haus darah.
Orang yang memakainya seakan dipengaruhi oleh niat jahat dalam pedang itu dan menciptakan hasrat membunuh yang kuat.
Luka yang diakibatkan oleh Muramasa pun tak bisa disembuhkan oleh obat dan cara apapun.
Karena itu, setiap kali ada orang yang menggunakan Muramasa pasti akan ada ratusan nyawa yang melayang.
Bahkan keluarga si pengguna juga turut menjadi korban.
Melihat kekejaman Muramasa di depan matanya, seorang Blacksmith membuat pedang tandingan Muramasa untuk mencegah korban berjatuhan akibat pedang terkutuk itu.
Pedang yang dinamakan Masamune ini bisa menyembuhkan luka yang disebabkan oleh Muramasa dan hanya Masamune yang bisa menyaingi kekuatan Muramasa.
Setelah beberapa tahun berlalu, kedua pedang itu sudah tak diketahui lagi keberadaannya.
Kabar tentang sang pedang haus darah mulai menghilang dan dilupakan.
Hanya sedikit orang saja yang masih mencari Muramasa demi memuaskan nafsu membunuhnya.
Last Blood.
"Tidak, kau tak boleh ikut!" Suara Ichigo memecah keheningan pagi hari di rumah Ryuuken.
"Aku juga ingin bertarung! Mana bisa aku pergi ke Shelter dan bersembunyi di sana jika aku mengetahui teman-temanku sedang bertarung!" Suara Rukia yang sangat keras ini membuat Orihime yang sedang meminum teh hampir menjatuhkan gelasnya.
Setelah Noire menyerang, tentara dan polisi memang membuat sebuah Shelter yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah Ryuuken sebagai tempat perlindungan para warga.
Info tentang Shelter ini disebarkan secara rahasia pada para warga supaya tak diketahui oleh Noire.
Yoruichi yang mengetahui keluarga empat murid kesayangannya telah berada di dalam Shelter langsung memberitahu pada mereka sehingga bisa pergi bertarung tanpa khawatir soal keluarganya.
Shelter ini berbentuk bangunan rumah dua tingkat yang disembunyikan dengan teknik kamuflase tipe Altair.
Banyak orang berjaga di sekitar Shelter dan jika ada warga yang ingin masuk harus berbicara pada salah satu orang yang berjaga dan akan dimasukkan dalam Shelter.
"Di sana berbahaya! Kau bisa saja tewas dan jika itu terjadi aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri!" Ichigo meraih bahu Rukia dan sedikit mengguncangnya seakan tak mau Rukia menghilang dari sisinya.
"Duh, kenapa sih lelaki di sini pada gak peka semua? Rukia itu ingin ikut bertarung bukan cuma untuk melawan Noire tapi juga melindungimu, Ichigo," Orihime yang semula duduk menikmati tehnya, berjalan menuju sisi kanan Rukia dan merangkulnya.
"Eh?" Ichigo tak bisa berkata lagi setelah mendengar ucapan Orihime barusan.
"Biarkan dia ikut, Ichigo. Lagipula Rukia itu cukup kuat jadi tak usah khawatir. Aku juga membiarkan Orihime ikut kok" kata Ulquiorra sambil menikmati kopinya.
"Sudah tak ada waktu lagi, ayo berangkat," ucap Yoruichi yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Tunggu, aku ikut," Uryuu yang masih ragu untuk ikut saat diajak oleh Yoruichi, akhirnya memutuskan untuk ikut bertarung bersama.
"Kukira kau tak mau ikut, Uryuu," Ryuuken yang juga bergabung di ruangan itu tak mengira anaknya akan ikut bertarung.
"Tadinya memang begitu, tapi kupikir ini merupakan kesempatan bagus untuk menguji kemampuanku."
"Baiklah, ayo berangkat," Yoruichi dan lainnya kemudian berjalan menuju halaman depan rumah untuk melakukan teleportasi.
Berbagai senjata mereka bawa untuk bertempur melawan Noire.
Ulquiorra membawa Hexord, Ichigo dengan Zangetsunya dan Uryuu membawa Gungnir miliknya.
Tapi yang paling menonjol adalah Rukia yang membawa sebuah pedang di tangan kanannya, padahal Rukia bukan petarung yang menggunakan pedang.
Di saat Yoruichi hendak memulai tekniknya, angin dingin tiba-tiba menerpa mereka dan seekor burung es besar muncul di atas Yoruichi.
"Sepertinya aku datang di saat yang tepat ya, boys and girls?" Toushirou akhirnya datang dengan burung es buatannya setelah menyimpan barang-barangnya ke Shelter.
"Jadi kau yang disebut Silver Sky?" Yoruichi menatap Toushirou yang tak terlalu kelihatan karena terhalang burung esnya yang cukup besar.
"Begitulah. Apakah bisa dimulai sekarang, my lady?" Toushirou sepertinya sedang menunggu Yoruichi melakukan teknik teleportasinya.
"M-my lady?! Uh, baiklah akan kumulai."
Teknik teleportasi ini merupakan teknik yang menggunakan petir sebagai medianya.
Petir akan menyambar dan memindahkan semuanya yang berada dalam jangkauan petir.
Karena petir yang menyambar dari atas ke bawah dalam satu garis lurus, sesuatu yang ada di atas pengguna juga akan di pindahkan.
Walaupun disambar petir tapi teknik ini tak menimbulkan rasa sakit karena petir yang dimunculkan adalah petir biru khusus teleport bukan petir yang biasa dijumpai saat hujan.
Oleh karena itu, Toushirou terbang di atas Yoruichi dan lainnya supaya bisa ikut teleport tanpa perlu mendaratkan burung esnya.
Markas utama Noire terletak di sebuah gunung yang lumayan jauh dari kota Alpha.
Di kaki gunung itulah kapal Noire mendarat dan tak jauh dari sana ada sebuah pintu masuk ke dalam markas.
Namun tak seperti biasanya, ratusan pasukan Noire disiagakan di depan markas organisasi teroris itu.
Tampaknya rencana penyerangan Yoruichi dan lainnya telah diketahui dan Noire sudah bersiap menyambut lawannya ini.
Di hadapan para pasukan ini, Ulquiorra dan kawan-kawan muncul dengan bantuan sebuah petir biru.
Mereka sangat terkejut melihat begitu banyak pasukan yang telah disiapkan Noire.
Tapi tidak dengan Toushirou, dengan santai dia mendaratkan burung esnya di depan Ulquiorra dan setelah turun ia berjalan ke hadapan para pasukan itu.
"Kalian naiklah burung itu dan pergi menuju pintu markas, aku akan menangani yang ada di sini," ucap Toushirou.
"Kurasa tak ada pilihan lain, kuserahkan padamu," Ulquiorra lalu menaiki burung itu disusul yang lainnya dan dengan cepat terbang menuju pintu markas Noire.
"Kau yakin dia bisa mengatasinya?" tanya Yoruichi pada Ulquiorra.
"Tak apa, pasukan seperti itu sangat mudah baginya."
Bersamaan dengan perkataan Ulquiorra, seluruh pasukan itu berubah menjadi ratusan kristal es.
Toushirou hanya perlu menjentikkan jarinya dan seluruh pasukan itu langsung membeku dengan sendirinya.
Tapi masih ada orang yang belum membeku, orang itu berada di sebuah bangunan tak terpakai yang cukup jauh dari tempat Toushirou berada.
Dengan senjata sniper miliknya, ia membidik Toushirou melalui Scopenya.
"Kenapa bocah cebol botak seperti dia ada di sini? Ah sudahlah, nanti juga dia akan mati seperti lainnya," dengan mantap gadis berambut pirang itu menekan pelatuk sniper yang bernama Kohoutek tersebut dan menembakkan sebuah laser api pada Toushirou.
Mengetahui dirinya diserang, Toushirou dengan cepat menghindar dari serangan yang sangat akurat itu.
"Alpheratz tipe sniper ya? Dilihat dari arah tembakannya, kurasa jaraknya cukup jauh dari sini. Benar-benar lawan yang merepotkan, tapi itu lebih baik daripada hanya berdiam diri di sini saja," Toushirou kemudian berlari menuju tempat gadis itu menembak berdasarkan perkiraannya.
Sementara itu, Ulquiorra serta yang lainnya telah masuk ke dalam markas dan meninggalkan burung es itu di pintu markas.
Diluar dugaan, markas yang cukup besar ini sangat sepi dan hampir tak ada orang di dalamnya.
Hanya ada satu orang yang berdiri di depan mereka yang wajahnya sangat dikenal oleh Ulquiorra dan Ichigo.
"Selamat datang di markas Noire! Aku sudah menyingkirkan seluruh orang yang menghalangi dan mengumpulkannya di luar sehingga kita bisa bertarung dengan bebas. Bukan begitu, Vampire dan Werewolf?" ucap Gin.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, Gin! Kali ini kau akan kuhancurkan karena telah menodai hidupku dengan perbuatanmu!" Kemarahan Ichigo langsung menemui puncaknya saat melihat wajah Gin yang sangat ia benci.
"Oh, semangat yang bagus. Kalau begitu, kuperkenalkan dulu rekan baruku, Muramasa," Gin menarik Muramasa dari sarungnya yang terletak di pinggangnya dan menunjukkan pada Ulquiorra dan lainnya, darah langsung mengalir dari bilah tajam pedang terkutuk itu seolah menunjukkan bahwa ia siap melahap musuh yang berada di hadapannya.
To be continued.
