Ada saatnya kau akan tahu bahwa pepatah ini benar: Cinta adalah udara. Ia bebas dirasakan dan menjadi hak tiap manusia. Siapapun itu tak terkecuali—bahkan mereka yang terjerat kekeliruan dan dosa.
x|x|x
Hetalia axis powers © Hidekaz Himaruya
Warning: OoC | OC | AU | High School|T+ for theme| Emil Steillson: Iceland | Kirana Kusnapaharani : fem!Indonesia | Arthur Kirkland : England
|OC's not mine|
|just for fun. I don't gain any material profits|
x|x|x
Sekadar keterangan: Emil [15-baru-menjadi-16 tahun freshman], Lukas, Tiino, Kirana [17 tahun 2nd year], Arthur, Berwald, Mathias [18 tahun 3rd year], Victoria Bonnefoy (non-personification of Seychelles) [15 tahun freshman sekolah lain].
x|x|x
Lapangan parkir murid sore itu tampak sepi, wajar saja, matahari sudah berada di batas cakrawala dan waktu telah menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit—sudah hampir dua jam sejak bel pulang sekolah berbunyi. Emil Steillson melangkah beriringan dengan saudara sepupunya—Lukas Bondevik—untuk menuju ke sebuah mobil biru dongker yang terparkir di pinggir lapangan parkir tersebut. Sebetulnya Emil menolak tawaran Lukas untuk pulang bersama, namun sang sepupu bersihkeras bahwa sebaiknya Emil ikut saja, sekalian mereka berdua ke kediaman Lukas yang menjadi tempat acara rutin family-gathering keluarga besar mereka.
Namun begitu jaraknya dengan mobil Lukas hanya tinggal beberapa langkah saja, pemuda Islandia itu terhenti ketika tanpa sengaja tatapannya tertuju pada satu arah.
Ia tertegun, dan saat itu juga rasanya udara yang dihirupnya tercekat di tenggorokannya.
Ia melihat Kirana. Gadis itu ada di dalam salah satu mobil berwarna putih. Di dalam sana, ia tidak sendiri. Adalah si pemuda berhelai pirang yang menemani. Pemuda berhelai pirang yang tampak memeluknya erat, memegang kedua pipi gadis itu dengan tampak lembut dan hangat. Bibir mereka tersatukan, mulut saling melumat. Kepala mereka termiringkan, dan satu tangan Kirana memegang pundak pemuda itu dan tangannya yang lain meremas helai pirang pasirnya.
Kirana dan Arthur.
Butuh waktu enam detik bagi Emil untuk mengalihkan pandangan. Butuh waktu sepuluh detik baginya untuk menghela napas yang tanpa sadar ia tahan. Perasaan pahit ini kembali ia rasakan—selalu dan selalu selama hampir satu tahun telah berlalu.
Tak peduli berapa kali ia melihat Senior Kirana tampak bahagia dengan kekasihnya, namun Emil tak akan biasa dengan rasa sakit yang ia rasakan sebagai akibatnya.
Tidak akan pernah bisa.
"Ayo pulang."
Butuh waktu tiga detik bagi si pemuda berhelai perak untuk menyadari bahwa Lukas menyentuh lengannya dan berbicara padanya. Menoleh ke arah saudara sepupunya, tak bisa Emil sembunyikan dua alisnya yang menurun sebagai pertanda rasa duka. Dan Lukas hanya menatapnya dengan ekspresi datar yang biasa, namun bola birunya bergulir ke arah tatapan Emil semula.
Namun ia masih terdiam, dan lantas menarik Emil untuk melanjutkan langkah.
Dan butuh waktu lima detik setelah itu, bagi Emil untuk menyadari bahwa kedua matanya terasa panas dan helaan napasnya terasa berat.
Memejamkan mata, ia menahan segala luapan rasa itu tumpah dalam bentuk air mata.
x|x|x
Sejak awal, Emil tahu ada sesuatu yang menjadi arti dari cara Arthur—sang ketua OSIS—memandangnya. Meski Emil bersahabat dengan Kirana, tetapi status antara Arthur dan Emil masih dalam kategori orang asing. Tetapi ada hal yang membuat Emil merasa segan dan tidak nyaman tiap kali Arthur mengarahkan tatapan ke arahnya.
Apakah ia tidak suka Emil terlalu dekat dengan Kirana? Rasanya tidak—Kirana sendiri yang bilang. Arthur pun tak pernah berucap hal yang mengindikasikan hal itu. Pemuda itu baik, namun juga tidak ramah. Hanya sebatas sikap umum layaknya orang asing—sekadar demikian.
Tetapi hari itu, adalah pertama kalinya Arthur memulai obrolan dengannya, selepas mereka bertanding basket karena kebetulan jadwal olahraga kelas Arthur dan kelas Emil berlangsung di periode yang sama. Keduanya bertanding dalam beda kubu, berlomba menyarangkan bola ke gawang musuh. Dan Emil merasakan hal itu lagi—bagaimana Arthur memandangnya seakan memiliki arti tertentu. Pikiran tertentu. Bagaimana sang Ketua OSIS itu memainkan dengan sungguh-sungguh permainan basket itu sebaik yang ia bisa, seakan-akan benar-benar ingin membuat kelompok Emil kalah telak dan ia lah pemenangnya. Dan memang benar, pada akhirnya itulah yang terjadi ketika peluit dari guru olahraga berbunyi sebagai tanda dari akhir pertandingan.
"Setidaknya kau pandai berenang," itulah ucapan Arthur ketika mereka tanpa sengaja berdiri berdekatan untuk beristirahat selepas pertandingan, "Kirana sering bercerita tentangmu padaku."
Sejenak Emil terdiam, merasa tak tahu harus merespon apa akan obrolan pertama yang Arthur mulai dengannya, "Terimakasih, Senior." Jujur, Emil tak tahu harus merespon apa.
Sepasang emerald itu memandang Emil beberapa saat, dengan pandangannya yang menyimpan banyak arti namun tak pernah Emil tahu apa.
Namun kalimat yang selanjutnya diucapkan Arthur membuat Emil sedikit-banyak tahu apa yang pemuda itu pikirkan tentangnya.
"Kirana menganggapmu sebagai adik yang sangat ia sayangi," Arthur tersenyum kecil, "Kau pasti juga menganggapnya sebagai Kakak yang tidak pernah kau miliki, bukan?"
Dan pemuda itu segera berlalu bahkan sebelum Emil sempat memberi jawaban.
Detik itu juga, Emil tahu.
Senior Arthur telah mampu membaca perasaan Emil pada kekasihnya.
x|x|x
Semenjak ia tahu bahwa perasaan yang ia rasakan tidak akan mendapat sambutan, Emil tahu dan sadar bahwa akan ada saat di mana dia harus berhenti. Berhenti memikirkan si gadis berhelai gelap. Menahan rapat-rapat keinginan untuk bertemu dan sekadar bertukar ucap. Tak boleh ia terus-terusan berfantasi akan perasaannya yang tersambut—akan akhir yang indah bagi pilihannya untuk bertahan. Karena itu semua tidak mungkin. Sekadar impian yang tak akan pernah terkabul. Kirana tidak mencintainya.
Dan Arthur, tentunya, tidak akan pernah berbuat sesuatu yang merusak hubungannya dengan Kirana. Siapapun tahu betapa pemuda itu menyayangi kekasihnya.
Namun kali ini berbeda, Emil harus mundur dan harus belajar mengakhiri semuanya, ketika ia tahu bahwa Arthur paham akan perasaannya.
Itulah yang tersirat dalam ucapannya saat itu. Itulah arti dari tatapan menilai yang selalu diberikan sepasang emerald-nya. Itulah arti mengapa tiap Emil ada, pemuda itu senantiasa bersikap protektif dan mengumbar kemesraan bersama dengan kekasihnya.
Agar Emil mundur. Agar pemuda itu berhenti bermimpi.
Dan semua itu, akan Emil sanggupi.
Setahun berlalu dan ia tahu, tak boleh ia terus seperti ini. Memendam rasa yang tak akan pernah terucap, alih-alih terbalas. Hidupnya harus terus maju, pun dengan hatinya. Tak bisa hanya berputar pada Kirana sebagai porosnya—tidak boleh. Hidupnya adalah realita, bukan fiksi yang bisa berakhir indah.
Oleh karenanya ia mulai menyingkir. Ia menjauh. Tak akan ada lagi tatapan lama-lama yang biasa ia reguk ketika berhadapan dengan sepasang iris sehitam mutiara. Tidak ada lagi banyak obrolan ringan, hanya sekadar ucapan seperlunya. Tidak bisa ia berlama-lama ketika bersama dengan gadis itu. Pun tak lagi ia mengunjungi kolam renang yang hampir tak pernah ia lupakan tiap bel pulang sekolah berbunyi.
Kebersamaan semu ini harus segera ia akhiri. Tak peduli hatinya merasa perih, tak peduli jiwanya berbisik bahwa sesungguhnya bukan ini yang ia kehendaki, tapi logika memaksa Emil untuk meneruskan keputusan yang telah ia pilih.
Jika boleh jujur, tak ingin Emil melupakannya.
"Emil, kau sudah pulang? Segera mandi, nanti sore keluarga Bonnefoy akan datang berkunjung. Ajak Lily untuk melihat-lihat kota, ya?"
Tak repot-repot ia berhenti atau membalas perkataan Ibunya. Tak peduli pada apapun, pemuda itu meneruskan langkahnya menuju kamar dan segera menutup pintunya.
Masih pukul empat kurang lima belas menit.
Ia menahan pikiran yang menyatakan bahwa biasanya, saat seperti sekarang harusnya ia berada di kolam renang bersama dia.
x|x|x
Baru beberapa langkah setelah ia melewati pintu masuk kafetaria yang ramai, pemuda itu berhenti ketika pandangan sepasang iris violetnya terpaku ke satu arah. Hanya beberapa detik ia tampak terhanyak, ketika ia buru-buru mengalihkan pandang dan justru berbalik ke arah ia semula datang.
"Aku tidak lapar," hanya itu yang ia katakan sebelum ia melangkah keluar dari kafetaria, meninggalkan Lukas, Tiino, Mathias dan Berwald yang menatap heran dan memanggil namanya.
"Hei Emil ada apa—" gerakan Tiino untuk mengejar Emil terhenti ketika Lukas menarik lengan pemuda itu.
"Biarkan saja," ucapnya datar, "Kita makan, mungkin dia memang masih kenyang."
Iris birunya bergulir, menatap ke satu arah.
Dan bisa ia lihat gadis Asia itu, yang duduk di meja di dekat meja kosong yang akan ditempati Lukas dan saudara-saudara sepupunya. Gadis yang duduk dan menatap tertegun ke arah pintu yang baru saja Emil lewati.
Ada pandangan tak mengerti bercampur kecewa yang bisa Lukas lihat jelas di sepasang iris jelaga.
Menoleh ke arah saudaranya yang lain, pemuda itu hanya bergumam, "Sebaiknya kita segera memesan makanan."
x|x|x
"Kirana sudah dua hari ini sakit dan tidak masuk sekolah."
Sepasang iris violet itu sedikit melebar tatkala ia mendengar kalimat yang diucapkan dengan datar dan pelan oleh Lukas itu. Namun hanya sejenak, sebelum ia kembali menyibukkan diri buku yang tengah ia baca di perpustakaan sekolah yang hampir tanpa pengunjung.
"Kau tidak ingin menjenguknya?" tanya Lukas ketika hampir semenit terlewat tanpa ada respon dari sang saudara sepupu.
"Aku banyak tugas dan ulangan harian," jawab Emil datar, tanpa mengalihkan pandang ke arah buku yang tengah ditekuninya.
Lukas menaikkan alis, "Seingatku dulu kau bahkan pernah membolos satu periode untuk menjenguknya di UKS saat gadis itu pingsan?"
"Tidak lagi—aku harus meningkatkan nilai-nilaiku."
"Kupikir tak ada yang buruk dalam nilai akademismu."
Emil menghela napas dengan kasar, meletakkan buku yang ia pegang, lantas mendongak dan menatap sepasang iris biru hampa itu dengan violetnya yang menyipit kesal, "Jika tujuanmu ke sini hanya untuk menggangguku, maka pergilah."
Tak ada perubahan dalam ekspresi Lukas. Raut datar itu tetap ada, tak peduli adik sepupunya terang-terangan menunjukkan ketidaknyamanan terhadap keberadaannya. Sepasang iris birunya masih menatap lurus ke iris violet di depannya. Terdiam, sembari bersedekap dada.
Dan hampir Emil kembali menunduk dan melanjutkan kegiatannya yang sejenak tertunda, saat Lukas kembali berbicara.
"Kudengar, dia sakit karena sudah berhari-hari terlalu lama di kolam renang sekolah hingga hampir petang."
Pandangan si pemuda berhelai perak tampak tertegun. Lukas hanya mengamatinya, diam sejenak, seakan membiarkan Emil untuk memahami dan menyerap baik-baik ucapannya di otak. Ketika beberapa detik telah berlalu, barulah si pemuda Norwegia kembali membuka mulut dan berbicara.
"Kupikir dia menunggu kehadiranmu."
Sejenak, Emil hanya tetap menatap Lukas. Tak memberi reaksi apapun selain sepasang irisnya yang tampak sedikit melebar. Dua tangan yang tanpa sadar terkepal erat di dua sisi buku yang diapitnya. Dan napas yang rasanya tercekat di tenggorokannya.
Namun kemudian pemuda Islandia itu menunduk dan menatap ke halaman buku yang sejenak ia lupakan, "Aku tidak peduli."
Lukas menaikkan sebelah alisnya, "Bukankah dia sahabatmu—"
"Pergilah. Aku ingin membaca," sahut Emil cepat dan terdengar menahan geraman, "Kumohon. Pergilah."
Dan ketika Lukas benar-benar meninggalkannya beberapa menit kemudian, tanpa sadar Emil menghela napasnya yang tertahan. Tangannya sakit karena terlalu terkepal, rahangnya terasa kaku karena terlalu terkatup rapat.
Dan hatinya yang terasa penuh karena terlalu menahan beban perasaan yang begitu berat.
x|x|x
Rasanya semua tidak berjalan sebaik yang ia perkirakan. Nyatanya ia tidak bisa melupakan gadis itu. Semakin ia halangi bayangannya untuk teringat, semakin sering pula tanpa sadar otaknya memproyeksikan wajah dan senyum itu di pikirannya. Semakin sering ia menghindar, semakin sering pula dadanya terasa penuh dan sesak oleh rasa ingin jumpa. Setiap kali ia mendoktrin diri sendiri dengan kalimat 'Lupakan. Lupakan. Lupakan', maka di setiap malam ketika ia terjaga sebelum terlelap, ia menyadari bahwa ia mencintainya.
Ia terlalu mencintainya hingga rasanya tak akan pernah ada gadis lain yang bisa ia lihat seumur hidupnya.
Terlalu mencintainya hingga ia rasanya menjadi laki-laki paling menyedihkan dan berputusasa di dunia.
Begitu desperet ia untuk melupakannya—apapun akan ia lakukan: menghindari kolam renang sekolah, tidak menatap iris jelaga itu ketika berjumpa, menyibukkan diri dengan tugas, bahkan sekadar membaca buku pelajaran, koran, apapun, selama itu bisa menyibukkan pikirannya. Hah, bahkan ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bersosialisasi—hal yang selama ini paling malas ia lakukan—hanya untuk mencegah pikirannya kembali mengulas semua hal tentang gadis itu.
Karenanya, hari ini Emil tidak menolak ketika anak dari sahabat Ibunya, Victoria Bonnefoy, mengajaknya keluar untuk merayakan hari ulang tahunnya yang keenambelas.
Bahkan Emil baru ingat bahwa hari ini adalah tepat hari di mana ia dilahirkan kedunia. Andaikan pikirannya adalah lembaran kertas, maka hampir seluruh permukaan kertas itu tertutupi oleh nama Kirana. Hampir tidak ada tempat untuk hal lain terulas.
Namun pada akhirnya, selama hampir dua jam ia menghabiskan waktu dengan gadis asal Seychelles itu, tak sekalipun ia ingat atau peduli pada apapun yang tengah mereka berdua lakukan atau bicarakan.
Tidak bisa. Emil tidak bisa untuk tidak mengingat.
"Kau tidak apa-apa, Emil?"
Terkesiap, pemuda itu menoleh ke arah gadis yang tengah berjalan di sampingnya. Mata coklatnya menatap cemas ke arah Emil.
"Maaf, Victoria," respon Emil pelan, "Mungkin aku hanya terlalu lelah. Maaf."
Gadis itu tersenyum kecil dan menggeleng lirih, "Tidak apa-apa. Apa sebaiknya kita pulang saja? Kita sudah makan malam dan nonton, kok."
Bibir Emil membentuk satu senyum patah yang miring, "Um, mungkin sebaiknya begitu."
"Ah, tapi sebentar," pandangan gadis itu tampak terkesiap ketika mengingat sesuatu, "Aku belum membelikanmu sesuatu sebagai kado ulang tahun."
"Tidak perlu—"
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali," gadis itu berucap cepat, dan memberi senyum lebar ke arah Emil, "Jangan ikuti aku, karena ini kejutan untukmu."
Pemuda itu hanya menghela napas ketika gadis berdarah Afrika-Perancis itu berjalan menjauh darinya. Pada akhirnya ia hanya duduk di salah satu kursi yang kosong, menunduk, dan menyisirkan jarinya di rambutnya.
Ia merasa penat.
Bahkan ia tidak bisa menikmati hari pentingnya yang hanya akan terjadi sekali setahun ini.
"Emil?"
Tanpa pikir panjang, kepala itu mendongak dan menoleh ke asal suara. Dan seketika napasnya tertahan dan mulutnya sedikit membuka ketika bayangan siapa yang telah memanggil namanya, terpantul di kedua iris violetnya.
Objek pikiran dan perasaannya kini hadir di depannya dalam bentuk yang nyata. Berdiri beberapa jauh dari sampingnya. Tampak terhenyak, dengan sepasang iris bak mutiara hitam yang menatapnya dengan sorot terkejut bercampur bahagia.
"Senior Kirana."
x|x|x
"Aku datang kemari untuk membeli ini," ia menunjukkan sebuah buku yang barusan dikeluarkannya dari dalam tas kecil yang ia sandang, "Tugas pelajaran literatur. Buku lama, makanya tak kutemukan di perpustakaan sekolah dan kota—aku harus membeli."
Tidak terlalu ingat Emil bagaimana ia bisa berpindah tempat dari bangku kosong di depan sebuah gerai, menjadi bangku yang terletak di taman kecil yang berada persis di samping mall. Udara segar khas angin malam menerpa wajah dan tubuhnya. Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya, pun kendaraan-kendaraan yang tampak hilir-mudik meramaikan jalan raya beberapa jauh di depan sana. Namun tak semua itu Emil pedulikan.
Apa artinya yang lain jika gadis itu kini ada di sampingnya?
Ironis, ketika ia sangka bahwa penghindaran yang ia lakukan selama berminggu-minggu ini membuahkan hasil, nyatanya kini jantungnya tetap berdebar—seperti dulu, malah semakin cepat. Nyatanya ia tak bisa lagi menolak untuk tidak membalas tatapan dari iris hitam itu. Tak bisa mengalihkan pandang dari bibir itu kala tersenyum.
Sama sekali tak ada yang berubah, karena kini perasaan nyaman dan hangat yang familiar ia rasakan, kembali ada saat gadis itu duduk di sampingnya.
Pandangan Emil tertuju ke arah syal yang tengah melilit di leher gadis itu, padahal udara tengah hangat. Dan seketika pikirannya mengulas apa yang diucapkan Lukas dua hari yang lalu.
"…Kudengar kau sakit?" tak bisa ia cegah mulutnya untuk bicara. Rasa melilit yang terasa mencubit, bisa ia rasa di hati ketika membayangkan bahwa dia lah alasan kenapa gadis itu tidak masuk sekolah dan harus beristirahat di rumah.
Kirana menatap ke arahnya, tampak terheran, sebelum ia tersenyum kecil, "Hanya demam."
"Kenapa?"
Gadis itu tak segera menjawab, dan kembali mengarahkan pandang ke depan—menatap jalanan yang ramai jauh di sana, "Aku hanya lelah."
"Bohong," tukas Emil cepat, "Aku dengar juga kau sering pulang hampir petang karena berdiam di kolam renang sekolah. Untuk apa?"
Sepasang iris hitam terlihat tertegun, namun kemudian tawa kecil lolos dari bibirnya, "Jadi kau tahu? Syukurlah," ia menatap ke arah Emil dan memberi pemuda itu senyum tipis. Dan dia ucapkan satu kalimat yang membuat giliran Emil yang terhenyak tak mampu bicara.
"Karena aku menunggumu dan ingin bertemu denganmu," tatapannya berubah menjadi campuran antara kecewa dan keraguan, "Kenapa kau menghindariku? Apa aku tanpa kutahu, telah melukaimu?"
Mendadak rasa penyesalan itu kembali menguat Emil rasa ketika pembenaran ucapan Lukas waktu itu, kini terucapkan langsung dari mulut Kirana. Bagaimanapun, sama sekali tidak bermaksud melukai gadis itu sedemikian rupa. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Apa yang harus ia katakan sekarang? Berkata dan mengakui bahwa ia menjauh karena ia tak ingin menyakiti dirinya sendiri lagi? Karena Arthur mengetahu rahasia yang selama ia simpan hanya untuk dirinya sendiri?
Jika ada hal yang paling ingin Emil ucapkan di dunia ini adalah bahwa ia memandang Kirana lebih dari sekadar sahabat—lebih dari sekadar adik yang memandang seorang Kakak.
"Maafkan aku," giliran bola matanya yang mengalihkan pandang, dan kini tertuju pada aspal yang menjadi lantai taman, "Akhir-akhir ini aku banyak tugas dan kerja kelompok."
Mereka berdua tahu bahwa itu bohong—ia tengah berbohong. Kirana mengenalnya bukan dari kemarin sore. Hampir tidak pernah pemuda itu mendiamkan dan menjauhi Kirana, pada saat apapun, kapanpun. Bahkan di saat yang tergentingpun, pasti Emil akan berlari menemuinya dan melupakan semua, jika memang Kirana membutuhkannya.
Namun gadis itu tak berkata apa-apa, dan justru tersenyum kecil dan mengangguk, "Begitu…"
Dan semakin membuat Emil tak merasa lebih baik ketika menyadari bahwa Kirana menerima alasannya sekalipun gadis itu tahu bahwa Emil telah berucap dusta.
"Maafkan aku, Senior," ucap pemuda itu tulus dan menunduk, "Maaf, karena membuatmu jatuh sakit."
Tawa kecil lagi-lagi lolos dari mulut Kirana, "Aku sudah sembuh sekarang, hanya sedikit pusing. Tapi itu tidak penting," ia mengulurkan tangan dan memegang lengan atas Emil, "Asal berjanjilah kau tidak bersikap seperti itu lagi. Hm?"
Emil menatap jemari yang melingkar di tangannya, lantas mengarahkan pandang pada dua bola gelap yang tengah terarah kepadanya. Sebuah senyum tipis yang terbentuk untuknya. Wajah kuning langsat dengan anak-anak rambutnya terkibar oleh angin malam di sekitar wajahnya.
Betapa putus asanya Emil merasa ketika wajah itu masih tetap terlihat cantik baginya. Senyum itu masih tampak indah dan ingin ia reguk lama-lama melalui tatapannya. Hangat di tiap pembuluh darahnya saat merasakan sentuhannya. Debaran jantung yang terasa keras—seakan ingin mengucapkan pada gadis itu apa yang tidak bisa Emil sampaikan melalui mulutnya.
Ia mencintainya.
Emil begitu mencintainya hingga ia merasa putus asa.
"Hm." Ia mengangguk pelan, memasang senyum kecil, "Maafkan aku."
Dan Kirana melebarkan senyumnya—tampak lega. Lantas beringsut mendekat dan meletakkan kepalanya di satu pundak sang sahabat dekatnya—tak menyadari bahwa pemuda itu sontak menegang dan terpaku menatapnya. Namun hanya sejenak, sebelum sang junior mampu merilekskan tubuh dan mengalihkan pandang ke arah langit yang tampak gelap tak berbintang.
Biar saja, untuk kali ini saja, Emil membiarkan perasaannya lepas.
"Hei, Emil."
"Hm?"
"Selamat ulang tahun. Maaf aku belum bisa memberimu kado—kupikir aku tidak akan pernah bisa berbicara padamu lagi seperti ini."
"Hm, tak apa."
'Karena keberadaanmu di sini, saat ini, tepat di sisiku, sudah menjadi kado yang lebih berharga dari apapun yang bisa kudapatkan dari yang lain.'
"Tapi aku janji akan memberikan sesuatu padamu besok, atau lusa. Aku harus memikirkannya dulu."
Pemuda itu tertawa pelan, "Oke."
Hanya rasa hangat yang malam itu Emil rasakan. Saat gadis itu bersandar padanya, mengobrol banyak hal bersamanya, hingga saat Kirana pamit pulang lebih dahulu karena Arthur sudah datang dan menjemputnya—kekasihnya itu tak bisa menemaninya membeli buku di mall ini karena ada urusan OSIS yang harus ia kerjakan, dan baru bisa menjemput Kirana sekarang. Rasa bahagia yang tak kunjung beranjak bahkan ketika ia duduk diam di kursi seorang diri—memandang ke arah titik di mana Kirana beberapa detik lalu berbelok dan tak mampu dijangkau pandangannya lagi.
Dan seperti sejak setahun sebelumnya, kali ini Emil kembali menyerah dan membiarkan perasaannya terus tumbuh dan berbunga.
"Emil?"
Pemuda itu menoleh, dan menatap Victoria baru saja melewati pintu keluar mall yang terletak persis di dekat taman kecil tempat Emil berada.
Pemuda itu membelalak ketika mendapati ekspresi cemas, heran, bercampur lega yang tergambar jelas di wajah Victoria.
Bagaimana bisa hampir satu jam berlalu tanpa sedikit dan sekalipun Emil mengingat dengan siapa ia datang ke pusat perbelanjaan ini?
"Victoria."
"Kenapa mendadak pergi dan menghilang?" tanya gadis itu sembari berlari-lari kecil dan mendekat. Satu kantung belanjaan ada di genggaman tangannya, "Ponselmu tak aktif. Kupikir kau meninggalkanku pulang."
"M-Maaf," ia membatinkan rutukan pada dirinya sendiri, "Aku hanya ingin mencari udara segar. Dan ponselku kehabisan daya."
Kenapa perlu berbohong? Kenapa tidak jujur saja bahwa ia bertemu seniornya dan mereka menghabiskan waktu bersama untuk beberapa saat di taman kecil ini?
Victoria menghela napas, namun ia tersenyum kecil, "Tak apa. Aku juga yang terlalu lama berbelanja memilih kado untukmu, juga aksesoris yang kubeli untuk Ibumu, sepertinya Beliau akan menyukainya," ia mengangkat kantong belanja yang ia pegang—seakan menunjukkan apa yang dia maksud pada pemuda di depannya, "Kita pulang? Kutunjukkan kadonya di mobil."
"Oke."
Dan sepanjang langkahnya ke mobilnya yang terparkir, Emil tak pernah habis pikir bagaimana kehadiran Kirana bisa membuatnya melupakan segala hal.
Betapa gadis itu sepertinya telah menjadi poros pikiran dan perasaan si pemuda Islandia.
x|bersambung|x
Ps: I am doing my best to write the next chapter of Absurdities. I am sorry for disappointing you guys. Please bear with me but hope I can make it up for you, soon. Thank you.
Thank you for reading so far.
|review?|
|fave?|
|alert?|
