Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.

.

.

.

Rasanya semalam Sakura sama sekali tidak bisa tidur. Karena setelah kemarin rasanya begitu mengerikan terlibat urusan artis. Bahkan dia sampai harus keluar dari pintu belakang untuk keluar dari rumah sakit itu. Dia kapok untuk bertemu artis lagi. Sudah seharusnya dia tidak mengenal artis.

Dengan setengah sadar, Sakura masuk ke kamar mandi mungilnya. Pagi ini benar-benar dingin sekali. Masa sih semalam turun salju?

Katanya musim salju itu musim paling romantis? Sudah 20 tahun Sakura melewati musim dingin di Tokyo ini, tapi satupun belum ada kesan romantis yang terjadi padanya. Benar-benar deh! Kebanyakan sih kisah cinta yang tak sampai. Dia pernah menyukai seorang pria yang biasa saja. Tapi tetap tak berani mengatakannya. Sekarang dia suka artis dan terlibat sedikit masalah, malah membuatnya jadi bergidik ngeri. Rasanya level artis terlalu tinggi. Sebaiknya mengenal artis hanya di layar kaca saja. Tidak perlu kenal begitu dekat.

Terlibat skandal itu memang menyebalkan. Semalam juga, karena berita di koran aneh itu, Ino jadi berapi-api menanyakan masalah itu. Padahal sepertinya dia tidak terlalu tertarik membahas artis. Bahkan dia bukan fans Uchiha Sasuke. Tapi kenapa sepertinya tertarik sekali membahasnya. Benar-benar deh.

Sudah hampir ribuan kali Sakura menjelaskan tak ada apapun antara dia dengan si artis. Hanya kebetulan saja!

Tapi untuk taraf kebetulan sih memang rasanya agak aneh. Yah paling tidak dia serahkan saja pada Sasuke. Kan awalnya dia juga yang salah kenapa sampai harus membawa Sakura masuk ke dalam mobil. Kalau tidak begitu kan mana mungkin sampai ada gosip seperti ini.

Begitu turun dari rumah mungilnya itu, tiba-tiba di jalan sudah banyak orang yang mengerumuni bawah rumahnya.

Mereka semua rata-rata membawa kamera. Dan tanpa aba-aba lagi mereka semua mengejar Sakura. Sambil berteriak menanyai tentang Uchiha Sasuke.

Karena panik, Sakura langsung mengambil langkah seribu menghindari serbuan aneh itu. Kenapa pagi begini malah sudah bermasalah!

.

.

*kin*

.

.

Tidak sampai di situ. Bahkan setelah naik ke dalam bus yang penuh sesak pun masih mendapat tatapan aneh dari orang-orang di dalam bus. Dan bus yang kebanyakan anak SMA itu melirik sadis padanya. Apa-apaan sih?

"Ternyata memang jelek!" bisik anak SMA itu.

Apa? Jelek?

Sakura hanya melotot sadis pada anak SMA yang berbisik tentang dirinya. Ini sudah tidak benar lagi! Kenapa beritanya malah tambah parah sih?

Sakura sudah sangat malu diperhatikan seperti itu. Memang salahnya terlibat dengan Super Star itu? Ahh tidak. Ini memang salahnya. Kenapa juga…

Benar. Ini salahnya! Tapi paling tidak Uchiha Sasuke bisa menjelaskan keadaan ini!

Mereka hanya… teman bukan, kenalan apalagi. Hanya mahasiswa yang sama-sama dalam satu kampus. Paling tidak dia memang harus bersabar. Dia harus bertemu dengan Sasuke dan meminta pertanggungjawaban ini!

Bahkan sampai di kampusnya… tidak belum sampai di kampus. Baru sampai di depan kampusnya, lagi-lagi ada serombongan wartawan yang mendatanginya. Kali ini bagaimana bisa dia kabur?

Sakura hanya menunduk saja dan perlahan berjalan menghindari wartawan yang menyalakan lampu-lampu menyebalkan itu. Bagaimana bisa sepagi buta ini ada puluhan wartawan di depan kampusnya. Dia pasti akan dipanggil karena kehebohan ini.

"Nona apa benar anda ini kekasih Uchiha Sasuke?"

"Nona bisa minta komentar anda mengapa Uchiha Sasuke menyembunyikan identitas Anda?"

"Nona mohon beri komentar anda!"

Suara-suara menyebalkan itu membuat Sakura ingin menangis. Akhirnya Sakura mengangkat wajahnya dan hendak membentak semua wartawan yang sepertinya salah alamat itu.

"Tolong jangan membuat kekasih saya ketakutan seperti itu. Dia belum terbiasa."

Secepat kilat Haruno Sakura menoleh ke belakang. Seorang pria dengan penampilan santai, kacamata hitam dan syal hitam mendekat ke arahnya. Hah? Dia pasti salah dengar. Apa katanya tadi?

Kini pria itu sudah berada di sampingnya merangkulnya dengan bahunya dengan sebelah tangannya.

"Dia memang kekasihku. Dia hanya belum terbiasa dengan keadaanku sebagai artis. Jadi kumohon kalian tidak menyulitkannya. Aku akan mengadakan konferensi pers soal itu. Kalau begitu permisi."

Dengan sekali sentakan, Uchiha Sasuke menarik lengan Sakura menjauh dari kerumunan wartawan itu dan sekali lagi masuk ke dalam mobil pria itu.

.

.

*kin*

.

.

Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menunduk sepanjang perjalanan. Dia benar-benar ingin menangis. Kenapa hidupnya jadi begitu repot sih?

Apa salahnya selama ini? Jujur dia memang suka pada artis ini. Tapi dia tidak akan pernah siap melalui kehidupan seperti itu. Yang benar saja sih?

"Hei! Kau ini kenapa sih?" ujar Sasuke sambil mematikan mobilnya dan menatap gadis yang duduk di sebelahnya yang tengah frustasi.

"Harusnya aku yang tanya kau itu kenapa! Apa yang kau katakan pada wartawan itu tadi? Kau membuatku frustasi tahu! Bagaimana bisa kau mengatakan hal yang aku saja tidak mau membayangkannya! Kenapa kau melibatkan aku dalam hidupmu yang menyebalkan itu! Kenapa harus aku!"

Uchiha Sasuke tampak mundur perlahan karena gadis itu malah berteriak di depannya. Baru kali ini dia menghadapi gadis yang sulit begini. Memangnya dia salah bicara? Tidak kan? Bahkan dia mengusulkan hal yang bagus untuknya. Lalu kenapa dia yang kena marah?

"Maksudmu… kau tidak mau punya kekasih artis?" tanya Uchiha Sasuke.

"Bukan begitu… awalnya aku senang seandainya bisa… punya kekasih artis. Tapi… setelah berita kemarin, aku jadi takut."

"Kenapa kau takut?"

"Karena pasti kehidupanku tidak akan pernah tenang lagi. Dan aku akan dibuntuti oleh semua orang, diejek semua orang, dimaki, mungkin dibenci oleh fans si artis. Aku tidak mau yang seperti itu."

"Hahaha… kau ini banyak nonton drama ya? Itu tidak akan terjadi. Tenang saja."

"Lalu apa maksudmu jadi kekasihmu? Rasanya tidak mungkin kau mengatakan hal itu serius. Kau kan sudah punya kekasih," sindir Sakura.

"Tentu saja. Aku hanya ingin meminta bantuanmu saja."

"Apa?"

"Karena kau sudah pernah membantuku sekali, maka bantu aku sekali lagi. Gosip ini hanya ingin mengetahui apa aku punya kekasih atau tidak. Aku tidak mau mereka mengenal Hinata. Jadi… kuminta kau jadi kekasihku di depan semua orang. Kau harus mau menuruti semua kata-kataku. Apa kau mengerti?"

"Apa? Memangnya kenapa aku harus menuruti semua kata-katamu? Apa untungnya untukku? Kau bahkan menyuruhku berbohong untukmu!"

"Hei… apa kau tidak suka padaku?"

"Hah?"

"Kau suka padaku kan? Mana mungkin gadis biasa sepertimu tidak suka padaku. Sekarang aku sedang meminta bantuan padamu. Kau pasti mau kan menurutinya?"

"Wuah! Kau percaya diri sekali ya! Ternyata Super Star memang suka seenaknya. Kau pikir semua gadis akan menyukaimu begitu saja? Aku ini bukan salah satu dari mereka tahu!" kata Sakura. Sebenarnya sekarang dia yang malah terang-terangan berbohong. Tapi demi menjaga gengsi di depan artis menyebalkan ini… entah bagaimana dulu Sakura jatuh hati pada orang ini. Super Star yang menyebalkan dan suka seenaknya. Benar sekali kata Ino untuk tidak menyukai artis macam ini. Sekarang Sakura menyesal pernah menyukai orang macam ini!

"Hah? Kau yakin? Kau tidak suka padaku? Bukannya kau sedang berbohong?" ujar Sasuke tidak yakin.

"Terserah apa katamu! Aku tidak mau terlibat denganmu lagi. Sudah cukup yang kemarin. Sebaiknya kau cari orang yang mau berbohong untukmu!" Sakura bersiap keluar dari mobil artis itu. Tapi Sasuke dengan sigap menahan sebelah lengan Sakura dan melepas kacamatanya dan menatap Sakura tidak percaya.

"Astaga gadis ini! Baik-baiklah! Begini saja. Kau lakukan apa yang kukatakan, dan sebaliknya aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Hanya sampai gosip ini reda saja. Itu tidak akan berlangsung lama. Jadi kau tidak perlu repot. Aku juga tidak akan menyulitkanmu. Ahh! Aku juga akan membayarmu!" jelas Sasuke.

Sakura menatap Sasuke dengan tatapan menyelidik. Dia hanya tidak yakin Super Star itu berkata demikian. Rasanya tidak seperti seorang Super Star.

"Apa? Kau tidak percaya padaku? Sudah kubilang aku akan memberikanmu apapun yang kau inginkan! Bahkan membayarmu," ulang Sasuke lagi.

"Benarkah semua yang kuinginkan?" tekan Sakura.

"Ya! Kau tidak percaya padaku? Apa aku perlu memberikan cap darahku padamu?"

"Tapi kau tidak boleh menolak apapun yang kuinginkan bukan? Kau juga harus tepat membayarku. Kau juga tidak marah kalau aku memanfaatkanmu kan?" tanya Sakura lagi.

"Apa? Memanfaatkan?"

"Yah. Kau juga sedang memanfaatkanku kan? Apa salahnya kalau aku juga begitu? Aku mau berbohong untukmu. Dengan syarat, selama sandiwara ini berlangsung kau harus menuruti apapun yang kuinginkan. Tidak boleh menolak!"

"Hei… kau sedang mengancamku ya?"

"Kau tidak mau?"

"Baiklah! Baiklah! Kau benar-benar gadis yang mengerikan."

"Tapi… kenapa kau memintanya padaku? Kenapa bukan orang lain? Kau saja tidak tahu namaku," lirih Sakura sambil menunduk. Yah. Artis ini bahkan tidak―

"Haruno Sakura kan?"

Sakura mengangkat kepalanya melihat ke arah artis itu. Pertama kali dalam hidupnya orang yang dia sukai memanggil namanya dengan jelas. Tapi… bagaimana mungkin dia bisa tahu namanya?

"Tidak banyak orang yang bisa kupercaya. Aku juga tidak dekat dengan banyak orang. Selain Hinata dan manager-ku tidak ada lagi yang dekat denganku. Dan karena kau sudah pernah membantuku sekali, kau pasti mau menolongku sekali lagi kan?" lanjut Sasuke.

"Jadi… kau percaya padaku?"

"Mungkin begitu. Jadi kau sudah setuju ya. Nanti aku akan mengenalkanmu pada banyak orang. Sebaiknya kau bersiap saja. Telpon temanmu supaya mengisi absenmu. Kita akan mulai sibuk dari sekarang."

"Tapi… bagaimana… dengan… Hinata? Dia pacarmu kan? Apa dia tahu rencanamu?" tanya Sakura.

"Tidak perlu khawatir. Aku sudah merencanakan semuanya."

.

.

*kin*

.

.

"Hei… aku belum dengar rencana itu!" ujar Sakura dingin.

Setelah pembicaraan singkat itu, Sasuke membawanya ke rumah sakit. Sebelum masuk ke dalam sana, Sasuke sempat bertanya apakah Sakura tinggal sendirian atau bersama orang tuanya. Dan dengan polosnya Sakura menjawab tinggal sendirian. Sungguh bodoh!

Ingin rasanya mencungkil mata Super Star itu. Dia benar-benar seenaknya. Bagaimana mungkin dia bisa…

Sakura memegang sebelah kepalanya yang mendadak pusing. Hari ini dia sudah bolos kuliah dan terakhir… dia malah disodorkan rencana yang begini menyebalkan!

"Jadi begini Nona Sakura, Hinata sementara ini akan dirawat di rumahmu karena rumah sakit sudah tidak aman. Akan aneh jika orang-orang tahu aku mengunjungi gadis lain sedangkan aku sudah punya 'kekasih'. Jadi selama dia tinggal di rumahmu, aku tidak perlu repot buat alibi lagi kan? Lagipula aku sudah bilang dari awal untuk menuruti semua kata-kataku," kata Sasuke tegas.

"Kau benar-benar menyebalkan!" gumam Sakura.

"Tapi Sasu… apa… Sakura-san baik-baik saja? Kelihatannya aku akan merepotkan dia," ujar Hinata tak enak.

"Tenang saja. Dia pasti mau. Iya kan?" kata Sasuke melirik pada Sakura. Tapi gadis itu masih bersedekap dada seakan masih kesal. Karena tidak juga menjawab, Sasuke menginjak sebelah kaki gadis itu.

"Aww!" jerit Sakura.

"Kau setuju kan Nona Haruno Sakura?" kata Sasuke dengan tatapan mengintimidasi. Sejak hari ini rasanya Sakura jadi mengenal sisi lain dari sosok Super Star yang amat dipuja oleh seluruh Tokyo ini. Ternyata dia begitu menyebalkan!

"Ahh ya. Tentu saja Hinata. Tidak apa-apa kok. Aku juga senang ada yang mau menemaniku tinggal bersama," kata Sakura.

"Benarkah… tidak apa-apa? Aku jadi tidak enak merepotkan orang lain," ujar Hinata dengan nada tak enak.

"Tenang saja. Aku justru khawatir pada Hinata. Apa kau tidak apa-apa Sasuke dan aku…"

"Tidak. Aku tahu Sakura-san adalah gadis yang baik. Kau mau membantu Sasuke dengan tulus kan? Aku rasa kau jauh lebih banyak berkorban dariku. Aku baik-baik saja," balas Hinata.

Meskipun sebenarnya… untuk Sakura sendiri dia tidak akan pernah merasa baik-baik saja.

.

.

*kin*

.

.

Setelah menjelaskan semuanya pada Hinata tentang situasi yang sulit dimengerti ini, Sasuke kembali mengajak Sakura pergi.

Kali ini pertama mereka pergi ke salon. Tentu saja sakura menolak mati-matian. Tapi karena ini adalah konferensi pers Sakura yang pertama bersama seorang Super Star, dan Sasuke tidak mau mengenalkan 'kekasih' yang sembarangan, akhirnya Sakura menurut saja. Toh semuanya Sasuke yang mengatur. Dia tinggal ikut saja.

Sasuke meminta penata rias―yang tentunya langsung menganga luar biasa begitu melihat Super Star ini menyapa dirinya―untuk mendandani Sakura senatural mungkin namun masih terlihat berkesan.

Rambut pendek Sakura sengaja dibuat agak ikal dan bervolume. Rasanya memang aneh kalau tidak biasa dandan dan masuk salon. Agak berapa lama, Sakura merasa melihat dunia lain. Dia terasa seperti orang asing.

Dan akhirnya pemilihan terahir, mereka datang ke sebuah butik pakaian. Tentu saja lagi-lagi semua mata memandang kearah Sasuke. Tapi sepertinya pria itu terlihat cuek saja. Seperti sudah biasa melakukannya.

Sasuke berjalan berkeliling mencari pakaian yang sesuai untuk Sakura. Astaga! Orang ini benar-benar aneh.

Sasuke memilih warna pink terang untuk Sakura. Untung saja Sakura berkulit putih. Tapi setidaknya… masa memilih tube dress di udara sedingin ini? Tube dress selutut dengan aksen pita kecil di pinggangnya. Sebenarnya Sakura melotot pada Sasuke yang memilihkan pakaian itu, tapi Sasuke tak kalah melototnya. Dia benar-benar suka mengintimidasi orang dengan tatapan matanya. Mau tak mau Sakura menurut saja.

Setelah semua persiapan selesai, mereka menuju hall konferensi pers yang dimaksud. Semuanya memang berjalan sesuai rencana. Banyak wartawan yang sudah memenuhi hall itu. Sakura jadi gugup sendiri begitu dikenalkan Sasuke dengan rekannya. Rasanya memang tidak nyaman.

"Oh. Jadi dia gadis-nya. Manis juga…" puji seorang pria tinggi yang tampaknya agak lebih tua. Pria berambut perak itu menghampiri Sasuke dan Sakura yang baru tiba di hall itu.

"Sakura, dia manager-ku Hatake Kakashi. Dia hanya beda lima tahun dari kita. Tapi hati-hati saja. Dia playboy menyebalkan yang selalu mematahkan hati gadis manapun. Jangan jatuh cinta padanya meski dia tampan!" jelas Sasuke pada Sakura sambil memperingatkannya.

"Astaga! Apa yang kau katakan padanya? Kau membuat kesan pertama jadi tidak berkesan. Nah Sakura, senang mengenalmu. Apa yang dikatakan orang ini jangan didengar. Dia hanya berbohong agar kekasihnya tidak kurebut," kata Kakashi ramah. Sakura hanya bisa tersenyum saja. Manager-nya saja tampan begitu, wajar saja kalau Sasuke setampan ini.

"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan manager-nya yang sudah melantur itu.

"Oh ya. Sudah. Kau tinggal masuk saja. Hei Sasuke, kau tidak boleh buat gosip lagi yaa. Dan jaga kekasihmu baik-baik. Apa dia sudah tahu seseram apa fans fanatikmu itu?"

"Kakashi Nii-san!" geram Sasuke.

"Bercanda. Tapi soal fansnya benar kok. Nah Sakura, hati-hati ya. Kalau kau sudah putus dengannya cepat kabari aku. Kau pasti tidak akan betah dengan sifat menyebalkan anak ini."

"Sudah pergi sana!" usir Sasuke.

Kakashi pergi sambil menyeringai dan melambaikan tangannya. Jujur saja, Sakura sudah mulai gugup dan sakit perut. Rasanya lambungnya jadi naik ke tenggorokan.

"Kau kenapa? Gugup?" tanya Sasuke pada Sakura.

"Apakah fans fanatikmu seseram itu? Rasanya aku jadi takut sekali jika bertemu dengan fans-mu itu," ujar Sakura.

"Tidak usah didengar. Kakashi memang selalu seenaknya. Ayo masuk."

Semoga saja benar begitu.

.

.

*kin*

.

.

Suasana konferensi pers di luar dugaan Sakura. Banyak lampu kamera berkilatan di sana sini dan kamera TV. Benar-benar acaranya Super Star. Semua pertanyaan dijawab oleh Sasuke. Karena menurut Sasuke, Sakura hanya perlu tersenyum selama konferensi pers berlangsung dan tidak usah mengatakan apapun. Mau mengatakan apa juga sepertinya tidak ada yang perlu dikatakan. Semuanya juga bohong. Dia berada di sini juga karena bohong. Sama sekali bukan kenyataan. Kalaupun iya… kalaupun iya.

Sakura terus menerus menebar senyum sampai rasanya rahangnya mau jatuh ke bawah. Pekerjaan seperti ini memang bikin repot. Mau-maunya pula dia disuruh yang seperti ini.

"Sasuke-san, sepertinya anda begitu menyayangi kekasih Anda ya. Meskipun kelihatan baru kami ingin melihat kemesraan Anda sekali saja," kata salah seorang wartawan.

Yah, Sasuke beralasan pada wartawan itu semua bahwa selama ini menyembunyikannya karena kekasihnya tidak mau diekspose. Tapi karena sudah ketahuan apa boleh buat. Alasan konyol. Dan tadi juga kenapa―

"Kemesraan? Baiklah hanya sekali saja ya…"

Dan cup.

Wajah Sakura langsung memerah bagai kepiting rebus. Di depan semua wartawan dan lampu kamera serta sorotan TV itu, Uchiha Sasuke menarik wajah Sakura dengan kedua tangannya dan mencium tepat di pipinya.

Astaga…

.

.

*kin*

.

.

Lagi Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangannya sepulang dari konferensi pers terkutuk itu. Sejak tadi ponselnya tak henti-hentinya berdering. E-mail, pesan singkat, telepon. Semuanya berbunyi. Terakhir, Sakura mencabut baterai ponselnya. Dia tak mengerti mengapa semua orang malah sibuk menanyainya. Dia sendiri saja masih shock luar biasa. Kalau keadaan sepi sih bukan masalah, ah tidak! Ini juga masalah. Bagaimana bisa dia―artis sialan itu melakukan hal yang seperti ini?

"Haruno Sakura?"

Rasanya dunia sudah gila. Seharusnya Sakura senang karena bisa dicium oleh Super Star! Bahkan yang mengaku sebagai kekasihnya meski bohong. Tapi itu terlalu mendadak. Sakura bahkan belum menyiapkan mental! Bahkan salah seorang wartawan itu bilang gambar itu akan jadi berita headline di semua koran!

"Sakura?!"

Apa yang akan dia hadapi nanti di kampus? Ada Ino pula. Pasti gadis itu akan berpikir Sakura sudah berkhianat karena tidak bercerita padanya sejak awal.

"Hei! HARUNO SAKURA!" teriak Sasuke.

Sakura masih shock melompat kaget karena seseorang di sampingnya berteriak seheboh itu padanya. Sakura mengelus dadanya karena sepertinya jantungnya tiba-tiba mau melompat begitu saja.

"Hei! Tidak perlu berteriak begitu kenapa! Aku dengar kok!" balas Sakura ketus.

"Apa? Kau yakin kau dengar? Aku sudah memanggilmu tiga kali! Bagaimana kau bisa dengar dengan ekspresi frustasi begitu. Apa yang kau pikirkan?"

"Apa kau sudah gila? Kenapa melakukan hal itu di depan… di depan semua orang? Aku bahkan malu sekali pergi ke kampus besok!"

"Kenapa? Itukan ciuman biasa. Bukan ciuman di bibir pula. Lagipula kau juga pasti biasa melakukannya kan sewaktu punya kekasih dulu?"

"Sembarangan! Aku tidak pernah melakukannya bodoh!" kali ini Sakura yang berteriak didalam mobil itu.

"Hei… kenapa harus berteriak begitu? Apa? Jadi… kau sama sekali belum pernah…?"

Wajah Sakura memerah luar biasa. Kenapa dia harus mengatakan hal yang seperti ini pada orang itu! Sasuke tertawa terbahak menyadari hal itu. Dan tentu saja Sakura bertambah malu dengan reaksi berlebihan dari orang itu.

"Apa itu perlu ditertawakan?" rutuk Sakura.

"Hahah… hahahaha… maafkan aku. Tapi… masa kau selama ini tidak punya kekasih seorangpun?"

"Memangnya aneh!"

"Tentu aneh! Kau pikir itu biasa saja? Seharusnya kau punya kekasih di usiamu yang seperti ini. Wajar saja kalau kau malu begitu. Aku tidak tahu kau belum pengalaman."

"Jadi… kau sudah punya kekasih di usia berapa tahun?"

"15 tahun," jawab Sasuke singkat.

"Dengan Hyuuga Hinata?"

"Tidak. Aku pernah sekali coba punya kekasih. Tapi ternyata tidak semudah itu. Aku tidak bisa suka padanya. Meski dia cantik. Hinata itu cinta pertamaku."

Sakura diam. Bagi seorang pria, cinta pertama adalah segalanya. Hyuuga Hinata, mana mungkin bisa Sasuke lupakan. Pasti dia sangat mencintai gadis itu. Dan mungkin sebaliknya juga. Kenapa Sakura jadi melankolis begini?

"Kau juga punya cinta pertama kan?" tanya Sasuke.

"Hah?"

"Cinta pertama? Orang yang benar-benar kau cintai…"

"Oh… tidak. Belum ada. Dulu hanya sekadar cinta monyet. Suka-suka seperti itu. Tapi bukan cinta pertama. Aku masih bingung dengan cinta pertama."

"Kuharap kau bisa menemukannya. Lain waktu kenalkan padaku. Jadi aku bisa tahu seperti apa cinta pertamamu."

Tak terasa obrolan malam itu mengalir begitu lancar soal cinta pertama. Sakura menemukan sosok lain dari Sasuke. Tentang cinta pertama Super Star itu. Kenapa Sakura tidak bertemu dengan Sasuke lebih dulu? Atau mungkin tanpa sadar, dirinya yang dulu pernah mengagumi seorang Sasuke berubah jadi cinta pertama? Lalu apa yang akan dikatakan oleh Sasuke jika dia tahu itu? Pasti konyol. Pasti sangat konyol. Mungkin dia akan tertawa dan…

.

.

*kin*

.

.

Semalam benar-benar aneh dan cukup menyenangkan. Untuk pertama kalinya seorang pria datang ke rumahnya. Uchiha Sasuke mengantar Sakura sampai ke rumahnya. Sekalian melihat-lihat tempat kekasih aslinya nanti. Pertama kali Sasuke merasa tempat itu sedikit… yah tidak layaklah. Ruangannya kecil dan sempit. Tapi tempat seperti inilah yang memang dibutuhkan oleh Sasuke agar tidak mencolok. Awalnya Sasuke cukup prihatin dengan gadis yang tinggal sendirian di tempat seperti ini. Tapi begitu melihat bahwa gadis itu adalah Sakura, rasanya dia tidak perlu berlebihan seperti itu. Karena Sasuke tahu, gadis yang mau membantunya adalah seorang gadis yang kuat.

Sakura turun dari tangga rumah secepat kilat. Semalam dia benar-benar ketiduran dan tidak sadar. Rasanya badan ini lelah luar biasa. Apalagi wajahnya tampak kaku karena kemarin terus menerus tersenyum. Untung saja tidak bengkok!

Sakura mengendap-endap turun ke bawah, takut kerumunan kemarin mungkin akan muncul lagi. Tapi tidak. Tidak ada kerumunan. Kenapa? Itu cukup aneh.

Tapi gantinya sebuah mobil sedan semi sport berwarna biru gelap terparkir di pinggir jalan dekat tangga gedungnya. Mobil itu?

Semakin Sakura mendekat, rupanya ada seorang pria yang sedang berdiri bersandar pada pintu mobilnya sambil melirik jam tangannya. Hah?

"Sasuke?" panggil Sakura tidak percaya.

Seorang Super Star menjemputmu? Ahh tidak! Mungkin kebetulan saja. Tidak…

"Apa kau biasa pergi sepagi ini? Aku tidak tahu kau berangkat ke kampus jam berapa. Jadi aku tunggu dari pagi saja. Ayo pergi…"

"Hah? Maksudmu? Kau menungguku?" ulang Sakura tidak percaya.

"Ya. Ayo cepat. Ini sudah dingin. Aku sudah setengah jam menunggumu tadi tahu!"

"Kenapa?"

"Kenapa? Tentu saja karena kau sekarang kekasihku. Akan aneh kalau kita berangkat sendiri-sendiri. Paling tidak baru-baru ini kita harus berangkat bersama 'kan?"
ahh bodoh!

Sakura lupa sekarang dia adalah kekasih gadungannya Super Star ini.

Tanpa banyak bicara lagi, karena keterkejutan yang tak perlu tadi langsung menguar begitu saja. Mereka diam saja sepanjang jalan. Tidak ada yang mau dikatakan.

.

.

*kin*

.

.

"Hari ini aku ada pekerjaan. Jadi tidak bisa menjemputmu. Oh ya, Hinata sudah boleh pulang hari ini, kalau kau tidak keberatan, kau jemput dia ya. Dan ingat dia masih lemah. Perlakukan dia dengan baik," ujar Sasuke lalu langsung melesat pergi setelah menceramahi Sakura macam-macam.

Sakura hanya memandangi mobil itu yang kian menjauh dari kampusnya. Statusnya kini memang sudah jadi 'kekasih'nya Uchiha Sasuke. Tapi rasanya malah seperti jadi pembantunya saja. Apakah pilihan menolong artis itu sudah benar? Awalnya Sakura merasa simpati pada artis itu. Dia memang kelihatan sendirian dan tidak punya teman lain. Apa mungkin dia artis makanya dia bersikap begitu? Tapi agak aneh memang dia bersikap begitu dingin pada orang lain.

"Hei Sakura!" teriak seseorang dari belakang.

Ahh suara ini! Sakura tak berani berbalik karena pasti akan langsung disemprot tak karuan. Sakura sudah cukup hapal dengan suara ini.

"Hhh… kau benar-benar! Katamu kau tidak ada hubungan apapun dengan artis itu? Lalu kemarin itu apa! Konferensi pers? Dan… dan… ciuman?" kata Ino berapi-api. Bahkan dia tidak menghiraukan napasnya yang seperti akan tercekik.

"Sebenarnya aku mau memberitahumu lebih dulu. Tapi bakal repot kalau aku beritahu. Lagipula kau pasti tidak percaya kan dengan ceritaku?"

"Lalu… bagaimana dia menyatakan cinta padamu? Apa pada pandangan pertama?" kejar Ino.

"Hmm… yah mirip-mirip drama begitulah… sudahlah! Aku mau masuk. Ehh kemarin ada tugas tidak?"

"Hei!"

.

.

*kin*

.

.

Tidak di kampus, tidak juga… astaga! Sakura lupa sama sekali dengan pekerjaan part-time-nya!

Setelah menjemput Hinata dan mengenalkannya pada rumah Sakura, Sakura langsung pergi menuju restoran tempatnya kerja part-time. Begitu datang dia langsung kena marah karena menghilang selama dua hari. Dan soal berita menghebohkan itu malah sudah menyebar ke seisi restorannya. Bahkan ketika dia melayani tamu restorannya banyak yang bertanya soal dirinya. Sekarang kehidupannya tidak bisa berjalan seperti biasa.

Sepulangnya dari restoran itu, Sakura ingin bergegas pulang. Pasalnya cuaca sudah memburuk. Karena diperkirakan salju akan turun. Padahal ini masih awal Desember. Apa yang terjadi dengan cuaca disini ya?

Mana udara dingin. Sakura sampai menggigil luar biasa. Bahkan sarung tangan dan penghangat telinganya sama sekali tidak berguna. Setelah turun dari bis dan menuju lorong rumahnya, Sakura berlari kecil. Meski begitu dia harus bertahan. Sasuke sendiri yang bilang ini tidak akan lama.

Tapi begitu sampai dekat rumahnya, ada sebuah mobil sedan biru gelap yang terparkir persis di tempat mobil itu parkir tadi pagi. Buru-buru Sakura menghampirinya. Tapi tidak ada orang. Sakura mendongak ke atas dan melihat lampu rumahnya menyala. Oh ya. Pasti ya…

Sakura apa yang kau pikirkan? Kau pikir dia sengaja datang ingin melihatmu? Tentu saja tidak. Kemana sih akal sehatmu?

Masuk sekarang sungguh tidak mungkin. Mana bisa Sakura mengganggu dua orang itu. Alasan mengapa Sakura jadi kekasihnya Sasuke adalah untuk menyamarkan identitas asli kekasih Sasuke. Entah kenapa Sakura sedikit kecewa dengan apa yang Sasuke lakukan padanya tadi pagi. Tapi itu semua memang hanya sandiwara. Sejak awal, Sakura tidak perlu protes padanya.

"Yah. Sebaiknya beli ramen dululah…" gumam Sakura lalu melangkah meninggalkan rumah mungilnya. Dingin begini memang enak makan ramen instan di minimarket 24 jam. Semoga saja yang dekat rumahnya buka.

.

.

*kin*

.

.

Sekitar dua jam, setelah makan mie ramen instannya dan berkeliling di taman bermain yang tidak jauh dari rumahnya juga, akhirnya Sakura memutuskan untuk pulang. Baru saja sampai di lorong rumahnya, mobil sedan biru gelap itu juga baru melaju dengan kencangnya. Sakura reflek ingin mengejarnya. Tapi lagi-lagi terhenti. Kenapa rasanya Sakura jadi melankolis begini ya?

Pikirkanlah baik-baik Sakura. Kau lakukan ini untuk menolong orang 'kan? Yah menolong orang.

.

.

*kin*

.

.

Dan seperti pagi sebelumnya, pagi ini lagi-lagi Sasuke menjemputnya. Tapi sebelum mereka berangkat Sasuke bertemu Hinata dan mengucapkan selamat pagi yang mesra. Dan Sakura tinggal pura-pura tak melihat sambil sarapan. Sakura juga tidak keberatan tidur berdampingan dengan Hinata. Mereka tampak menjadi akrab. Memang sejak awal Hinata adalah gadis yang baik dan menyenangkan. Bahkan di saat kondisi lemah begitu dia masih membereskan kamar Sakura. Dia merasa tak enak menumpang tapi tak melakukan apapun. Namun dalam hati Sakura, kalau sampai Sasuke tahu soal ini, tentu saja dia akan digantung Sasuke!

Lagi-lagi Sasuke tidak kuliah. Langsung pergi setelah mengantar Sakura. Katanya dia sudah terima tawaran proyek besar. Drama yang rating-nya sudah dipastikan akan tinggi. Pasti sekarang dia repotnya bukan main. Sakura mengerti itu.

Dan seperti hari biasanya, dia harus biasa tanpa Sasuke. Seperti dia belum mengenal Sasuke.

Untunglah Ino masih bersikap wajar padanya. Paling tidak dia bukan fans fanatiknya Sasuke yang setiap kali melihat dirinya memandang sinis dan mengejek yang tidak-tidak. Yah… namanya juga berat jadi kekasih artis meski kekasih gadungan.

Pulang ini dia mesti secepatnya sampai di restoran. Sudah banyak pekerjaan yang―

Sakura berhenti mendadak karena sejak keluar kelas dia berlarian. Ada seorang pria besar tinggi berpakaian jas formal hitam lengkap yang menghadangnya. Hah?

"Apakah Anda Nona Haruno Sakura?" tanya pria menyeramkan bagai bodyguard itu. Wajahnya sama sekali tidak ramah!

"Heh? Ya… aku Haruno Sakura. Ada apa ya?" tanya Sakura gugup. Jujur saja dia tidak pernah terlibat utang apapun. Jadi mana mungkin kan dia rentenir?

"Maaf, Nona harus ikut saya. Karena Nyonya Mikoto ingin bertemu dengan Anda," jelas pria itu.

"Hah? Nyonya Mikoto?" ulang Sakura tak mengerti. Siapa sih Nyonya Mikoto? Seperti yang hebat saja sampai suruh orang begitu?

"Ahh maafkan saya. Nyonya Mikoto adalah Ibu dari Tuan Muda Uchiha Sasuke."

Tuan Muda… Uchiha Sasuke?

Siapa itu―

"Apa?!"

Rasanya bola mata Sakura akan meloncat keluar. Oh No!

.

.

*kin*

.

.

Berkali-kali Sakura menelpon Sasuke. Tadi pagi dia baru diberitahu. Katanya biar dia bisa mengecek keadaan Hinata. Walaupun enggan, tapi sebenarnya Sakura juga ingin mendapatkannya. Memang akan aneh kalau Sakura tidak tahu nomor kekasihnya sendiri.

Tapi ponsel artis sial itu tidak diangkat sama sekali. Kenapa sih pakai acara mau bertemu. Jujur saja ini pertama kalinya Sakura mengalami peristiwa begini.

Rasanya ingin menangis. Ini sungguh diluar perkiraan. Mana Sakura tahu kalau ibu artis sial itu ada di Tokyo. Kehidupan pribadinya saja begitu tertutup.

Tak lama kemudian, ponsel Sakura yang berbunyi.

"Halo!" suara Sakura nampak terdengar panik.

"Hei! Aku bukan memberikan nomorku untuk hal tidak penting. Kuharap hal ini mendesak makanya kau menggangguku di saat syutingku!" kata Sasuke ketus.

"Hei! Ini bukan saat yang tepat kau bicara begitu! Tadi ada orang yang disuruh untuk menjemputku di kampus. Aku harus bagaimana?!" Sakura benar-benar panik sekaligus takut.

"Hah? Siapa yang menjemputmu?"

"Ibumu! Hei… lakukan sesuatu! Aku tidak mau begini. Kan perjanjian kita bukan seperti ini! Memangnya kau tidak pikirkan yang ini hah?!"

"Ibuku? Maksudmu… Ibuku yang mau bertemu denganmu?" sekarang gantian Sasuke yang panik.

"Kuharap kau sudah punya alasan yang bagus untuk ini!" ancam Sakura.

"Astaga Nenek itu! Baiklah. Sampai di sana jangan katakan apapun soal sandiwara ini! Pokoknya kau tenang saja. Aku yang akan tangani. Oh ya sebisa mungkin jangan bicara yang lantang. Cukup tundukkan kepala dan jawab seperlunya. Ibuku tidak suka gadis yang berani dan melawan. Kau dengar?"

"Hei kau pasti menjemputku kan?"

"Tunggu saja! Aku akan tiba dalam setengah jam,"

"Setengah jam? Apa katamu? Aku sudah hampir sampai di rumahmu―halo? Halo? Hei… Sasuke! Astaga!"

Kali ini Sakura sudah tamat!

.

.

*kin*

.

.

TBC

.

.

Holaa minna, astaga, ternyata fic ini masih jadi masalah yaa?

hmmm gini aja ya, saya gak akan membalas apapun lagi yang tiba-tiba mau ngatain fic saya ataupun sayanya langsung. saya sudah kasih tahu kalau tidak suka fic ini saya gak maksa baca, jadi kalau pun memang senpai mau ngejelekin fic ini tetep dengan alasan pair, maka saya gak akan meladeninya lagi. cukup adil yaa?

ok saatnya balas review...

Cherries Berry : makasih udah review senpai... hmmm sekali lagi masalah ending, saya belum sepenuhnya sampai ke sana. karena kenyataan fic ini masih dalam tahap pengerjaan. bukankah membuat reader penasaran itu adalah keinginannya author? kalau saya kasih tahu sekarang bukannya saya sama saja dengan kasih spoiler. berarti senpai mau membaca fic saya karena pair bukan karena ficnya. kalaupun memang pada akhirnya endingnya tidak sesuai dengan keinginan senpai, itu karena demi alur cerita. bukankah banyak cerita yang endingnya tidak sesuai dengan keinginan kita karena alurnya memang begitu? kalau ternyata senpai tetep gak yakin sama saya, saya gak ngelarang kalau senpai berhenti membaca fic saya. terima kasih.

Jingga dalam Elegi : makasih udah review senpai... ah yaa terima kasih banyak senpai... saya terharu banget dengan review semangat seperti ini. baiklah, saya akan berusaha ehehehhee

Lilids Lilac : makasih udah review senpai... ahaha terima kasih banyak senpai, sisi angst? hmm sebenernya saya suka angst, tapi saya gak bisa bikin angst, takut nantinya lebai. tapi bisa dipertimbangkan ehehehe

Emeralyna : makasih udah review senpai... apakah dengan clue sebagai pair utama masih tidak memberikan kepastian mengenai fic ini? kalau senpai gak percaya dengan saya, berarti senpai gak percaya dengan fic saya. masa saya harus tegaskan berkali-kali padahal saya udah kasih clue? itu artinya senpai gak percaya kan sama saya? saya juga gak memaksa senpai baca fic ini kok kalau memang senpai gak percaya. terima kasih.

September : makasih udah review senpai... hiksss saya beneran terharu kalau ada review seperti ini yang bisa membuat saya semangat terus ehehehe

UchihaHaruno Kirana : makasih udah review senpai... saya pikir genre romance sudah terlalu umum ya, makanya saya coba genre lain saja. kalo masalah itu, bukannya wajar sasuhina punya romance, kan mereka settingnya di sini adalah sepasang kekasih. justru aneh kalau langsung kasih adegan romance sasusaku yang notabenenya bukan siapa-siapa. biarkan aja mengalir apa adanya. bukannya sesuatu yang dimulai perlahan itu jauh lebih romantis daripada hal yang langsung dimulai begitu saja?

Aysakura : makasih udah review senpai... maaf ya senpai, yang bisa saya kasih tahu cuma clue dari pair utama. selebihnya bisa senpai nilai sendiri dengan jalan cerita yang nanti akan saya buat. terima kasih.

Akasuna Sakurai : makasih udah review senpai... hikss iyaa makasih banyak ya senpai, berkat review senpai saya beneran bisa semangat untuk tetap lanjut. saya akan berusaha sebaik mungkin karena memang saya sekarang masih banyak perlu belajar. sekali lagi terima kasih yaaa

.1 : makasih udah review senpai... ah iyaa makasih banyak udah sukaa saya terharu banget, makasih sekali lagi...

khoirunnisa740 : makasih udah review senpai... hiksss makasih lagi senpai udah membantu saya... beneran saya terharu banget kalau ada review positif seperti ini. saya bisa tetep semangat deh hehehe

Maya : makasih udah review senpai... hiksss iyaa makasih sekali lagi udah kasih review yang positif ehhehe, iya tenang aja gak bakal bocor kok hehehe... ah ya khusus buat senpai saya mungkin akan menggarap lagi fts, tapi maaf ya kalau lama ehehhee

asuka-chan : makasih udah review senpai... ehehhehe iyaa ini udah update kok makasih banyak yaa ehehehe

Ukida Haruka : makasih udah review senpai... ahahah iyaa benar sekali ehehhee makasih yaa udah suka fic saya...

Iqma96 : makasih udah review senpai... salam kenal juga ehehehe iya ini udah saya update makasih banyak sekali lagi karena suka sama fic saya...

Mulberry Redblack : makasih udah review senpai... makasih banyak dengan komentar positifnya saya suka sekali hikssss iyaa ini udah update makasih yaa udah suka fic saya eheheh

Joujima-kun : makasih udah review senpai... hmm udah saya bahas sebelumnya ya di chap sebelumnya, kenapa gak saya taruh slight, karena saya cuma mau fokus sama pair utama, di semua fic saya gak ada slight pair, karena saya gak mau salah paham seperti ini muncul. bukannya kalau saya kasih slight pair senpai semakin yakin kalau ini bakalan jadi sasuhina? kan ceritanya memang Hinata pacarnya Sasuke, bahkan Sasuke gak kenal ama Sakura, gimana mereka bisa langsung pacaran? nah itulah cerita yang akan saya buat jadi kalau ternyata senpai tetep gak bisa terima ya saya gak memaksa buat baca kok. terima kasih.

Kuro Nami males login : makasih udah review senpai... makasih buat review positifnya ya senpai hiksss iyaa ini udah saya lanjutin kok ehhehe

sekali lagi, saya gak akan membalas review yang bilang fic ini modus atau apapun lah. karena bagi saya itu sama sekali gak penting. dan terakhir kali, kalau memang senpai gak percaya dengan cerita saya saya gak akan maksa baca. jadi jangankan baca, review pun tidak perlu. saya akan menghargai senpai selama senpai mampu menghargai saya. terima kasih.

masih ada yang mau lanjut? bolee review?

Jaa Nee!