Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.

.

.

.

Tidak disangka ternyata artis itu punya hidup yang enak ya? Sakura sedari tadi hanya melongo melihat betapa mewahnya rumah di kawasan elit Tokyo ini. Sebenarnya siapa sih Uchiha Sasuke itu? Meski tahu dia artis dari keluarga kaya baru kali ini Sakura melihat langsung betapa kayanya orang itu. Kalau sudah begini kaya kenapa masih mau jadi artis? Padahal hidup seperti biasapun sudah lebih dari cukup. Dan setahu Sakura, Sasuke itu tinggal di apartemen sendiri. Memangnya ada apa dengan keluarganya sih? Ini malah jadi misteri.

Apalagi selama ini Sakura tahu benar, Sasuke jarang mengekspose keluarganya. Sepertinya tidak ingin mengenalkan mereka kedunianya.

Sakura diantar masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu. Ada beberapa pelayan yang tampak membersihkan ruangan di belakang. Dan ada juga pelayan yang mengantarnya masuk ke dalam ruang tamu itu sembari menunggu tuan rumahnya. Sakura sibuk mengedarkan pandangan ke seisi ruang tamu. Tidak ada foto keluarga. Entah kenapa tidak ada. Sepertinya memang aneh keadaan keluarga ini.

"Nyonya sudah tiba," ujar pelayan itu. Tentu saja Sakura terlonjak kaget. Kenapa mesti dikasih tahu begitu sih?

Seorang wanita berparas cantik, yang sangat tidak tampak sudah tua. Seperti masih berusia di awal 30 tahun. Dia masih muda dan cantik. Juga anggun. Benar-benar orang aristocrat. Sakura menundukkan kepalanya memberi hormat dan mengucapkan salam. Wanita itu menyilakannya duduk. Sedari tadi bertemu, Sakura tidak sanggup mengangkat kepalanya. Benar-benar deh.

"Jadi… siapa namamu?" kata wanita itu. Ya ampun! Suaranya bahkan sangat lembut. Sepertinya terlalu sayang Sasuke punya ibu yang lembut begini. Benar-benar bertolak belakang dengan sifatnya itu!

"Haruno… Haruno Sakura," ujar Sakura tergagap.

"Hm, Haruno-san. Jadi kau gadis yang dikejar oleh anakku itu. Sepertinya tidak ada yang istimewa darimu. Kudengar juga kau gadis biasa. Apa anakku benar-benar menyukaimu?"

Pertanyaan telak!

Bagaimana mungkin Sakura jujur bilang kalau dia hanya membantu anaknya untuk berpura-pura pacaran untuk menghindari masalah karena gadis yang disembunyikan artis sial itu! Untuk beberapa saat Sakura sama sekali tidak bisa bicara. Lidahnya jadi kaku.

"Kalau kalian memang pacaran, sebelum mengenalkanmu pada publik, Sasuke pasti mengenalkanmu pada keluarganya dulu 'kan? Aku tidak membatasi pada siapa Sasuke ingin menjalin hubungan. Tapi kalau kalian ingin serius, seharusnya kau bisa menemui keluarganya dulu kan? Bukankah sudah tradisi kalau ingin serius harus mengenal seluruh keluarganya?" jelas ibu itu lagi.

Ya Sakura juga tahu itu! Tapi kan kondisinya dia bukannya ingin serius―meski ingin―posisinya tidak menguntungkannya sama sekali.

"Kulihat kau seperti gadis baik-baik. Apa pekerjaan orangtuamu?" pertanyaan umum yang ditanyakan orangtua.

"Orangtua saya… mereka sudah tidak ada," lirih Sakura.

"Apa? Maksudmu… orangtuamu sudah… meninggal?"

Sakura menganggukkan kepalanya perlahan. Benar-benar kondisi yang tidak bagus.

"Astaga. Apa yang dipikirkan anak itu!" gumam wanita itu lagi. Yah pikiran semua orangtuakan akan jadi berbeda kala mendengar anak lelakinya menjalin hubungan dengan gadis tanpa orangtua!

"Tidak biasanya Sasuke memilih gadis yang seperti itu. Apa kalian benar-benar menjalin hubungan?"

Apanya yang tidak biasa memilih gadis yang seperti itu? Lalu bagaimana keadaan hyuuga Hinata? Memangnya Sakura dan gadis itu tidak jauh beda? Apa jadinya kalau ibu Sasuke ini bertemu dengan Hinata? Sakura saja sudah diceramahi habis-habisan.

"Ibu!" teriak seseorang dari pintu masuk.

Astaga! Oase segar!

.

.

*kin*

.

.

"Ibu? Apa yang Ibu lakukan ini?" ujar Sasuke langsung menerobos masuk ke dalam ruang tamunya dan melihat ibunya tengah menghakimi gadis itu.

Sakura tampak bernafas lega sekaligus sumringah begitu Sasuke datang menyelamatkannya. Kau tak akan pernah tahu bagaimana jantungmu akan melompat keluar saking tegangnya berada di ruang tamu ini!

"Apa? Ibu hanya ingin tahu gadis seperti apa yang kau kenalkan pada publik, tapi tidak kau kenalkan pada orangtuamu! Apa kau tahu bagaimana Ayahmu marah?" jelas ibunya.

"Tapi 'kan bukan main culik begini. Ibu membuatnya takut. Ini salahku yang seenaknya. Paling tidak Ibu harus bersabar dulu."

"Bersabar? Ibu sudah bersabar selama ini. Selama tiga tahun Ibu sudah bersabar. Ibu bahkan ingin bertanya apa yang kau lihat dari gadis seperti itu. Gadis yang bahkan tidak punya orangtua! Bagaimana mungkin kau bisa menjalin hubungan dengan gadis seperti ini? Bahkan mengenalkannya pada publik!"

Tampaknya ibunya begitu ingin marah. Tapi sedari tadi ibunya seakan menahan emosi pada Sasuke.

"Bukankah aku sudah bilang akan memutuskan hidupku sendiri. Ibu tidak perlu ikut campur."

Sasuke meninggalkan ibunya dan menarik tangan Sakura untuk keluar dari ruangan itu.

"Sasuke! Ibu belum selesai bicara! Sasuke!" teriak ibunya.

Tapi pria itu sama sekali tidak mau mendengarkan ibunya. Dia terus menarik tangan Sakura. Bahkan Sakura belum sempat pamitan pada ibunya. Kali ini tampaknya Sasuke yang marah. Tanpa sadar, Sasuke malah mencengkeram tangan Sakura sekuat mungkin. Sakura hanya mengikutinya dari belakang. Bukan hal baik untuk menyelanya sekarang ini.

"Sasuke?"

Sasuke berhenti dan tampak dari arah gerbang sebuah mobil mewah memasuki halaman besar rumah ini. Seorang pria berambut hitam berpakaian rapi keluar dari mobil itu. Wajahnya sekilas mirip dengan Sasuke. Tapi pria satu ini kelihatan agak dewasa dibanding Sasuke yang menyebalkan!

Sasuke dan pria itu saling bertatapan sampai akhirnya pria itu berhenti di depan Sasuke. Sasuke tidak melepaskan tangannya dari Sakura. Dan gadis itu malah melongo melihat dua pria itu.

"Sudah lama kau tidak pulang. Sekalinya pulang langsung membawa seorang gadis. Apa gadis ini yang kau kenalkan pada publik itu?" tanya pria itu.

"Jangan salah paham. Bukan aku yang mau kemari. Tapi Ibu yang menculik gadis ini. Lagipula aku tidak bilang aku pulang," jawab Sasuke ketus.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Ini sama sekali tidak merubah apapun. Kau harus berhenti keras kepala!"

"Katakan itu pada Ayah. Aku pergi!" Sasuke lagi-lagi meninggalkan pria itu dan menarik paksa Sakura.

Kenapa sepertinya Sasuke memusuhi semua orang yang ada di rumah ini?

Bahkan di dalam mobil mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Sasuke masih mencengkeram erat setir mobilnya.

"Ibuku bilang apa padamu?" ujar Sasuke. Sakura menoleh pada pria itu. Sepertinya keadaan sudah membaik ya?

"Tidak ada. Dia hanya tanya sedikit," jawab Sakura.

"Apakah Ibuku menyinggung soal orangtuamu?"

"Yah, dia kan tanya orangtuaku. Yah aku jawab saja. Lagipula… tidak ada yang perlu ditutupi kan? Tenang saja. Aku tidak apa-apa kok."

"Apa kau bodoh! Seharusnya kau diam saja! Tidak perlu menjawabnya. Ibuku memang suka usil pada kehidupanku! Dan lagi kenapa kau mau-maunya ikut bertemu Ibuku? Apa kau sudah tidak waras?"

"Hei… kenapa kau marah-marah? Kalau aku tidak ikut ke sana bagaimana jika Ibumu mencari tahu tempat tinggalku dan menemukan Hinata? Aku mau bilang apa coba? Kau tidak memikirkan perasaan Hinata? Padaku saja Ibumu seperti itu. Apalagi pada Hinata? Untung yang dihadapi Ibumu itu aku!" rutuk Sakura.

"Lalu kenapa kau mau melakukannya?"

"Kenapa? Bukankah sudah kubilang aku akan membantumu? Lagipula apapun yang diucapkan Ibumu sama sekali tidak kumasukkan dalam hati kok. Wajar saja seorang Ibu bersikap begitu. Dia mencemaskan anaknya. Dan lagi, siapa pria yang bertemu kita sebelum ini? Dia juga tampak mengkhawatirkanmu."

"Kakakku," kata Sasuke singkat.

"Apa? Dia kakakmu? Wah! Beda jauh denganmu yah."

"Lain kali… tidak! Itu terakhir kalinya kau dengan bodohnya mau ikut ke rumahku! Lain waktu jangan lagi. Biar aku saja yang menghadapi Ibuku."

Sakura ingin sekali lagi bertanya tentang hubungan yang tidak baik antara Sasuke dengan keluarganya. Tapi rasanya tidak etis bertanya-tanya soal pribadi seperti itu. Meski sebenarnya Sakura sangat penasaran. Apa yang membuat Sasuke begitu tidak ingin kembali ke rumahnya sendiri? Pasti ada alasan khusus kan? Tapi… kalau memang Sasuke ada masalah dengan keluarganya… masalah apa ya? Yang Sakura tahu selama ini rasanya Sasuke baik-baik saja. Mungkin karena Sakura tidak terlalu tertarik soal keluarganya. Saat itu, Sakura hanya fokus pada Sasuke saja. Karena selama ini yang Sakura tahu, orang yang memiliki keluarga ada orang yang bahagia. Yah setidaknya dulu dia memang begitu.

.

.

*kin*

.

.

Setelah menurunkan Sakura di rumahnya, pria itu langsung pergi. Katanya ada syuting yang tak bisa ditunda. Biasanya dia mampir dulu untuk melihat kekasih hatinya itu. Sepertinya mood-nya jadi jelek setelah kembali ke rumahnya sebentar tadi. Hari sudah menjelang malam. Kerja part-timenya terbengkalai lagi. Yah… paling tidak dia seharusnya langsung saja kesana. Menyebalkan!

Begitu akan naik ke tangga, Sakura melihat rumahnya masih gelap. Apa lampunya tidak dinyalakan? Selama ini, sebelum ke tempat kerja sambilannya, Sakura selalu pulang dulu untuk menyalakan lampu rumahnya. Karena Sakura tidak suka ruangan gelap. Walaupun dia memang punya alasan untuk takut ruangan gelap.

Akhirnya Sakura memutuskan untuk menunggu di tangga rumahnya. Kemana Hinata? Biasanya Hinata sudah menyalakan lampu jam seperti ini. Kalau Sasuke tahu, Sakura bisa berada dalam masalah. Mana hari sudah mulai dingin. Bahkan salju sudah turun meski sedikit. Musim dingin memang menyebalkan sekali ya?

Shin Sakura menggosok kuat-kuat kedua tangannya untuk menghangatkan dirinya. Dan meniup-niup telapaknya yang sudah memerah. Hampir setengah jam dia disini. Astaga! Kemana sih?

"Sakura-san? Kenapa kau tidak masuk?"

Dari jauh Sakura melihat Hinata datang dengan kantung plastik di kedua tangannya. Sakura menghampiri gadis itu dan membawakan salah satu kantung itu.

"Aku menunggumu," jawab Sakura singkat.

"Astaga! Tanganmu dingin. Sudah berapa lama kau diluar? Kenapa kau tidak masuk kedalam?" tanya Hinata khawatir.

"Lampunya… belum dinyalakan."

"Lampu? Oh ya, aku lupa. Maksudku ingin membuatkanmu makan malam. Karena aku sudah merepotkanmu. Tapi… kau bisa hidupkan sendiri kan?"

Sakura menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Meskipun punya alasannya rasanya tidak nyaman menceritakan alasan itu pada orang lain.

"Hmm… sebaiknya aku makan di rumah saja ya… kau mau masak apa?" Sakura mengalihkan pembicaraan mereka. Hinata tampak semangat menjelaskan menu makan malam mereka. Sebaiknya tidak usah kerja dulu, karena menunggu di luar rasanya badannya tidak enak dan pusing. Apa sebaiknya Sakura mencari kerja di tempat lain saja ya? Dia sudah keseringan bolos.

.

.

*kin*

.

.

Huatsyii!

Sakura menggosok hidungnya dengan ganas. Hidungnya sudah memerah dan berair. Wajar saja kalau begini di musim dingin. Sudah agenda tiap tahun Sakura pasti begini. Tadi malam, Sasuke memberitahu kalau syutingnya tak bisa ditunda. Jadi dia menginap di tempat syuting dan otomatis tidak kuliah. Makanya dia bilang Sakura pergi kuliah sendiri saja.

Memang selama ini dia pergi kuliah dengan siapa?

Karena harus mengejar bis, Sakura jadi harus bangun pagi. Dan sekarang dia berada dalam bis yang sesak dan udara yang luar biasa dingin karena pagi ini tumpukkan salju ada dimana-mana. Enak sekali ya bisa bermain salju. Seandainya saja Sakura bisa. Tapi Ino tidak suka salju. Menurutnya itu adalah gumpalan putih berair yang menyebalkan.

Beberapa saat kemudian, Sakura sudah sampai di kampusnya. Tetap ramai dan semua orang masih meliriknya dengan pandangan bertanya. Memangnya dia kenapa?

"Hei… Sakura!"

Siapa lagi kalau bukan Ino. Bahkan belum sampai di kelas saja temannya sudah berteriak seperti itu. Sakura tidak peduli dan langsung masuk ke dalam kelasnya. Lalu mengambil tempat di belakang sekali. Badannya tidak enak sekali hari ini.

"Hei kenapa kekasihmu tidak mengantarmu? Kalian bertengkar ya?" sindir Ino.

"Sembarangan! Dia syuting…" jawab Sakura lalu menelungkupkan kepalanya di atas mejanya.

"Huh? Syuting? Oh ya, semalam ada iklannya. Katanya rating-nya bagus. Apalagi pemainnya pada terkenal semua. Hhh… katanya juga, drama ini memuat kisah cinta rakyat biasa loh… pasti jadi kisah yang menarik!" jelas Ino berapi-api. Meski dia bukan penggemar artis manapun, tapi dia adalah pecinta drama. Jadi drama apa saja yang sedang diputar dia akan menontonnya dengan serius dan sampai habis. Memang orang aneh!

"Jadi yang main nanti itu pacarmu ya? Astaga… aku sudah bosan melihatnya di kampus malah harus lihat di layar kaca lagi… memangnya tidak ada artis lain ya?" masih Ino mengoceh soal itu.

"Mana aku tahu. Memangnya aku produsernya?" rutuk Sakura.

"Tapi… katanya sebelum pemutaran drama itu, akan ada acara spesial loh?"

"Maaf saja. Aku tidak peduli…"

.

.

*kin*

.

.

Akhirnya kelas selesai. Sedari tadi Sakura mendengar ocehan Ino soal drama itu. Sakura saja tidak tertarik sama sekali dengan drama itu. Meskipun tertarik tapi rasanya tetap tidak ingin menontonnya. Nanti dia malah jatuh cinta pada artis sial itu. Bagaimana mungkin bisa Sakura jatuh cinta pada artis yang membawa pacar aslinya ke rumahnya Sakura? Ada juga pasti sakit hati habis-habisan. Yah walaupun ini cuma main-main…

Baru akan keluar kelas ponsel Sakura berdering. Dari nomor tidak dikenal pula. Apa ini terror dari fans fanatiknya Sasuke? Hebat sekali bisa tahu nomor telepon Sakura. Awalnya Sakura tidak ingin mengangkatnya. Tapi jika itu penting dia bisa celaka.

"Halo?" ujar Sakura malas. Lalu tak lama kemudian dia langsung bersin.

"Halo… apa benar ini ponselnya Nona Sakura?" ujar suara di seberang sana.

"Iya―huatsyii!"

"Nona Sakura? Kau baik-baik saja?" suara di seberang sana malah terdengar panik.

"Aku tidak apa-apa. Cuma bersin biasa. Ini siapa?" kata Sakura sambil menggosok hidungnya dengan telunjuknya.

"Oh maaf aku lupa mengenalkan diri. Aku Hatake Kakashi. Managernya Sasuke. Apa kau bisa datang ke kantor agensiku sekarang? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Oh ya… itu kalau kau tidak sibuk. Apa kau sibuk?"

"Sebenarnya… tidak sih untuk sekarang. Apa aku harus datang ke sana sekarang?"

"Yah. Secepatnya. Kalau begitu nanti aku kirimkan alamatku padamu. Terima kasih Nona Sakura."

Sekarang manager-nya. Memangnya kenapa sih semua orang ingin bertemu dengannya? Ahh~ dia lupa. Sekarang ini dia kan pacarnya artis. Pasti semua orang ingin tahu seperti apa pacar si artis itu!

.

.

*kin*

.

.

Setelah dari jalan utama, masuk ke lorong dan belok ke kiri. Kenapa memilih kantor agensi di dalam lorong begini?!

Sakura sudah tiba di jalan utama. Tinggal menuju kantornya saja. Baru saja akan masuk ke dalam lorongnya, hujan deras langsung mengguyurnya. Oh tidak! Kenapa hujan di cuaca seperti ini sih? Sakura ingin berteduh, tapi semua tempat ramai dan sebenarnya dia tinggal sedikit lagi sampai di kantor itu. Akhirnya karena tidak ingin membuang waktu, Sakura langsung melaju menembus hujan untuk ke sana. Karena kalau dia mengulur waktu bisa lama dan… dia akan terlambat datang ke tempat kerja sambilannya.

Alhasil, Sakura muncul di kantor itu dengan keadaan basah kuyup. Bajunya basah karena hujan lebat itu. Memalukan sekali muncul di kantor dengan pakaian basah seperti ini.

Untung saja saat itu kantor sudah sepi, Sakura langsung menuju resepsionis kantor ini. Benar-benar deh.

"Permisi. Apa aku bisa bertemu dengan Hatake Kakashi?" tanya Sakura pada wanita resepsionis itu dengan kikuk. Ini pertama kalinya dia berkunjung ke tempat seperti ini.

"Apakah Anda sudah punya janji?" tanya resepsionis itu.

"Hmm… dia yang memintaku datang. Oh ya, bilang saja Haruno Sakura. Dia pasti kenal."

"Nona Haruno Sakura? Baiklah. Tunggu sebentar ya…"

Sakura menunggu resepsionis itu untuk menghubungi orang yang dimaksud. Begitu akan berbalik badan, Sakura langsung menabrak seseorang. Pasti karena dia seenaknya saja berbalik. Karena merasa bersalah, Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memohon maaf.

"Maafkan aku! Aku tidak sengaja," ujar Sakura.

Orang yang ditabraknya itu nampak membenahi pakaiannya yang basah karena bertubrukkan dengan Sakura. Kali ini dia sudah membuat banyak masalah.

"Kau? Orang yang kemarin dengan Sasuke kan?"

Sakura mengangkat wajahnya dan melihat orang yang berkata tentang Sasuke.

Astaga!

Wajah yang mirip dengan Sasuke!

Itu kakaknya Sasuke!

Karena malu dan gugup, Sakura langsung menganga dan tak lama kemudian menundukkan kepalanya lagi. Kemarin ibunya, sekarang kakaknya! Apakah Tuhan begitu kejam padanya? Bahkan dia bertemu dengan keadaan memalukan seperti ini!

"Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja dan… tidak tahu."

"Astaga. Tidak apa-apa. Tapi… bajumu?" pria itu menunjuk baju Sakura yang basah kuyup. Bahkan air mengalir dan menetes dari pakaiannya.

"Ahh ini. Tadi aku kehujanan. Makanya basah kuyup," jelas Sakura tak enak. Dia malu sekali bertemu dengan kakak Sasuke seperti ini.

"Lalu? Kau ada apa kemari? Bertemu Sasuke?"

"Tidak. Bukan bertemu dia. Aku disuruh datang oleh Hatake Kakashi. Manager-nya Sasuke."

"Kalau begitu sama. Aku juga mau ketemu dia. Sebaiknya kau ganti baju dulu. Baju basah tidak baik dipakai terus menerus. Apalagi ini musim dingin."

"Tapi… aku tidak bawa… baju ganti…" kata Sakura malu.

"Ayo ikut aku."

.

.

*kin*

.

.

Pria itu menarik tangan Sakura dan membawanya pergi dari kantor itu. Membukakan pintu untuk Sakura dan menyuruhnya masuk ke dalam sedan hitam mewah itu. Awalnya Sakura sama sekali tidak mau merepotkan. Tapi dia terus memaksa sehingga Sakura tak ada pilihan. Kenapa dia jadi begini sih?

Kakaknya Sasuke, dan Sakura sama sekali tidak tahu namanya. Membawanya ke sebuah mall di Tokyo. Memilihkan beberapa pakaian untuk Sakura dan menyuruhnya pakai. Meskipun ditolak ratusan kali tetap saja Sakura dipaksa. Dan jujur saja, Sakura tidak berani menolaknya. Kelihatannya kakaknya bahkan sama seperti ibunya Sasuke. Menyeramkan!

Kenapa satu keluarga sama seramnya? Bagaimana dengan ayahnya?

Setelah memilih pakaian, dan untungnya Sakura tidak kedinginan lagi, pria itu kembali menarik Sakura untuk berkeliling. Kali ini mereka memilih masuk ke dalam sebuah kafe. Sebenarnya tidak nyaman bersama orang asing seperti kakaknya Sasuke. Tapi… keadaan memang tidak bagus.

"Maafkan aku sudah merepotkan. Aku akan menggantinya nanti…" ujar Sakura gugup, setelah mereka duduk di kafe itu.

"Tidak perlu sungkan. Lagipula, aku melakukannya karena aku suka! Oh ya, kau pasti kedinginan ya? Mau makan yang hangat? Atau minum?"

"Ahh~ tidak perlu… aku―"

"Oh ya, aku pesan cokelat panas dulu. Dua ya!" potong pria itu lagi. Kini pesanan sudah ditulis oleh pelayan itu. Benar-benar deh.

"Siapa namamu?" tanya pria itu lagi.

"Haruno… Sakura…"

"Oh, Sakura! Namaku Uchiha Itachi. Senang berkenalan denganmu. Kudengar kemarin kau bertemu Ibuku ya? Ibuku memang suka usil. Jadi maafkan saja kalau dia suka seenaknya. Tapi tenang saja. Dia adalah seorang Ibu yang baik. Bahkan sebenarnya Ibuku sangat menginginkan anak perempuan. Karena kami semua laki-laki jadi dia agak sedikit protektif pada kami kalau berhubungan dengan perempuan."

Diluar dugaan, kakaknya lebih ramah daripada adiknya. Benar-benar dua hal yang sangat berbeda. Kakaknya baik dan ramah. Juga punya senyum yang sangat menawan. Dijamin, wanita manapun yang melihatnya pasti akan langsung pingsan. Mungkin hal yang sama yang dimiliki oleh kakak beradik ini adalah wajah yang sama. Mereka sama-sama tampan. Sepertinya wajahnya menurun dari ibunya yang cantik.

Tak lama kemudian pesanan mereka tiba. Cokelat panas. Itachi langsung menyilakan Sakura untuk minum. Karena Itachi sudah minum juga. Lagipula… ini udaranya dingin dan jujur saja, karena kehujanan tadi dia merasa tubuhnya ikut menggigil.

"Jadi katakan padaku… bagaimana Sasuke bisa menyukaimu?"

BRWUSSHH!

Otomatis, minuman yang harusnya melewati tenggorokan jadi menyembur keluar karena pertanyaan aneh itu. Darimana artis sial itu bisa menyukai Sakura? Kalau kakaknya tahu pasti ini akan jadi lelucon yang sangat lucu!

"Kenapa? Kau kaget sekali ya? Aku kan tidak tanya hal yang aneh."

Tentu saja aneh! Siapa bilang? Oh astaga! Sepertinya memang mustahil orang seperti Uchiha Sasuke itu menyukai gadis lugu dan sederhana seperti Sakura. Wajar saja kalau semua orang meragukan hubungan mereka. Bahkan sebenarnya selera Sasuke sangat tinggi. Buktinya dia menyukai orang secantik Hyuuga Hinata.

"Bukan. Aku hanya tersedak saja. Hmm… aku juga kurang begitu yakin kenapa Sasuke bisa menyukaiku."

"Oh ya? Aku tahu watak adikku meski dia tidak bilang. Dia itu sangat pemilih. Tidak mau berhubungan dengan gadis yang tidak dia sukai. Aku hanya penasaran bagaimana kau bisa meluluhkan hati Sasuke yang dingin seperti itu,"

Pertanyaan telak!

Apa yang mau dikatakan? Apa Sakura harus jujur bahwa dia tengah membantu adiknya berbohong karena sedang menyembunyikan kekasih aslinya di depan publik? Dan tidak mau sampai ketahuan? Mana mungkin bilang begitu kan? Selagi manager-nya saja dia tidak tahu? Lalu apa yang harus dikatakan oleh Sakura? Seharusnya ada Sasuke yang menolongnya di saat seperti ini!

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi ponsel. Dan jelas itu bukan bunyi ponselnya Sakura. Diam-diam gadis itu menarik nafas lega karena tidak perlu meneruskan pertanyaan aneh itu. Kalau sampai diteruskan dia bisa gawat!

"Halo?" sapa Itachi. Tampaknya memang telepon untuknya. Setelah menyapanya, Itachi menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan menutup sebelah telinganya pula. Sepertinya telepon dari seseorang yang sedang marah ya?

"Hei! Aku tahu… dia bersamaku… memang tidak boleh? Aku kan juga ingin tahu. Tenang saja. Dia tidak kuapa-apakan kok. Kenapa kau begitu sewot? Hei aku ini temanmu dari kecil tahu! Yayaya… terserahlah… baiklah aku akan membawanya kesana," Itachi menutup sambungannya. Lalu menghembuskan nafas dengan berlebihan.

"Tampaknya ada yang sedang marah. Kau ingin bertemu Kakashi kan? Tadi dia menghubungimu tidak kau angkat. Ayo biar kuantar. Aku juga ingin melihat wajahnya yang menyebalkan itu."

"Ehh? Oh ya? Astaga. Aku meninggalkan ponselku di mobilmu. Ehh… Tidak perlu… aku bisa―"

"Hei… aku bisa terluka kalau kau terus menerus menolak kebaikan hatiku. Apakah Sasuke yang memberitahumu untuk tidak terlalu dekat denganku?"

"Hah? Tidak. Bukan begitu. Sasuke tidak pernah bilang begitu. Aku hanya tidak enak saja."

"Oh begitu! Anggap saja kebaikan dari calon kakak ipar. Aku senang kalau kau yang dipilih oleh Sasuke. Kuharap hubungan kalian terus baik-baik saja ya… karena sepertinya aku menyukaimu."

Sakura menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Wajahnya berubah panas sekali serasa dibakar. Kenapa kakaknya bilang begitu dengan santainya? Bahkan jantung Sakura terasa berdetak sangat kencang. Luar biasa kencang malah! Astaga! Dia bisa gila berada di sekelilingi keluarga Sasuke ini!

.

.

*kin*

.

.

Kakashi hanya menyuruhnya untuk datang dua hari lagi saat tayangan perdana drama Sasuke akan diputar. Kenapa ya? Cuma menyuruh seperti itu saja malah harus bertemu secara langsung. Kan bisa menyuruh Sasuke yang bilang. Sepertinya Sasuke sangat sibuk. Dia bahkan tidak sempat mengunjungi Hinata. Tapi kelihatannya gadis itu tampak biasa saja tidak bertemu dengan Sasuke. Mungkin hubungan diam-diam ini sudah biasa mereka jalani. Dan Hinata juga tak bisa menolak.

Sasuke buru-buru masuk ke tempat kerja sambilannya. Dia hanya kena marah habis-habisan oleh supervisor-nya karena membolos seenaknya. Dan kesalnya lagi supervisor-nya itu malah menyinggung soal Sasuke. Ya hampir seluruh penduduk Jepang tahu bahwa dia adalah kekasih seorang Super Star yang terkenal. Wajar saja kalau dia di sorot habis-habisan. Tapi bukan di tempat kerja juga tahu!

Setelah dimarahi dan diberi peringatan, akhirnya Sakura sudah boleh ikut kerja lagi. Kalau sekali lagi dapat peringatan maka Sakura benar-benar akan habis. Setelah mengganti seragam kerjanya, Sakura mulai mengurusi dapurnya. Tapi tiba-tiba udara di sekitarnya terasa panas. Bahkan dia bertanya pada rekan satu dapurnya. Mereka semua bilang keadaan dapur bahkan jauh lebih dingin dari biasanya. Astaga. Ada apa dengannya? Kenapa semua mendadak terasa panas. Mungkin sebaiknya dia minum obat dulu. Karena sejak tadi dia memang sudah tidak enak badan.

Begitu membuka lokernya, dia merasa ada sesuatu yang lupa. Tapi itu apa ya?

Sakura sibuk berdiri di depan lokernya. Memang ada yang tertinggal. Lalu apa itu? Apa yang tertinggal ya? Mungkin sebaiknya dia menelpon―

Ya ampun ponselnya.

Ponselnya tertinggal di mobilnya Itachi. Pasti karena tadi dia buru-buru datang ke tempat kerjanya makanya tinggal. Ponselnya masih ada di tempat duduknya tadi. Karena takutnya akan ada yang menghubunginya makanya dipegangnya begitu saja. Dan sekarang dengan cerobohnya dia meninggalkannya begitu saja.

"Ten-Ten, boleh aku pinjam ponselmu sebentar?" ujar Sakura pada rekan kerjanya.

"Boleh… untuk apa? Ohh… kau mau menelpon kekasihmu ya? Tidak apa-apa kok. Jangan dihapus ya nomornya…" kelakar teman kerjanya itu.

"Bodoh. Aku mau menelpon… ponselku. Sepertinya tertinggal…"

Setelah menerima ponsel dari rekannya, Sakura langsung menekan beberapa nomor. Ya nomornya sendiri. Lama sambungan itu berlangsung. Apa dia yang salah ya? Kira-kira dia taruh dimana? Apa hilang dijalan? Masa sih hilang? Aduh…

"Halo?" akhirnya suara di ujung sana menjawab teleponnya. Syukurlah diangkat. Sakura pikir tidak akan diangkat.

"Maaf ponselku tertinggal. Bisakah nanti aku mengambilnya?" tanya Sakura.

"Oh kau Sakura ya? Yah sepertinya ini memang ponselmu. Biar aku yang antar. Kau ada dimana sekarang?"

"Ehh tidak usah. Aku saja yang mengambilnya nanti. Aku sudah merepotkanmu―"

"Lagi-lagi menolak. Kau kenapa sih tidak mau kubantu? Katakan kau ada dimana nanti aku ke sana. Mumpung aku ada di jalan. Lagipula… aku senang bisa bertemu denganmu lagi."

"Itachi-san…" suara Sakura terdengar formal.

"Hahaha… tidak usah sungkan. Nanti kau kirimkan alamatnya ya. Aku akan segera kesana."

Hubungan pun terputus. Rasanya ini tidak benar. Bagaimana bisa kakaknya Sasuke seperti itu? Kalau Sasuke tahu apa yang mungkin terjadi ya?

.

.

*kin*

.

.

Tiba-tiba suasana restoran jadi ramai. Beberapa pegawai lain tampak saling berbisik senang dan seperti fans yang kedatangan artis idolanya. Memangnya siapa sih yang datang? Sakura tidak mau mengacuhkannya sedikit pun. Tapi sepertinya pegawai lainnya tampak begitu antusias melihat siapa yang datang.

"Sakura, ada yang mencarimu. Seorang pria yang sangat tampan. Siapa dia? Selingkuhanmu?" ujar salah seorang pegawai wanita pada Sakura.

"Hah?"

"Dia sangat tampan! Bahkan lebih tampan dari Uchiha Sasuke! Astaga… bagaimana kau bisa dikelilingi pria tampan? Bisa kau kenalkan padaku nanti?"

"Siapa memangnya yang mencariku?"

Sakura mengabaikan semua bisikan padanya. Dia memang tidak peduli pada semua itu. Ahh…

Ternyata pria itu sudah tiba.

Itachi duduk di meja tengah restoran itu dan menjadi sorotan pengunjung lain. Wajar saja semua orang ingin tahu tentang dia. Kan tidak perlu sampai masuk ke dalam? Dia bisa dimarahi kalau sampai membuat kekacauan disini.

"Oh kau sudah datang?" ujar Itachi sumringah.

"Hmm… kenapa kau masuk kemari? Kan aku bisa keluar…"

"Di luar dingin. Aku juga ingin melihat dimana kau kerja. Rupanya kau kerja sambilan disini ya? Memangnya Sasuke tidak tahu kau kerja di sini?"

"Dia tahu. Tapi dia tidak bilang apapun. Kalau begitu boleh aku dapat ponselku?" ujar Sakura pula. Dia tak mau jadi sorotan orang-orang.

"Sasuke tahu? Tapi kau pasti pulangnya malam kan? Seharusnya dia melarangmu kerja di sini. Kau itu seorang gadis. Masa pulang selarut itu? Memangnya Sasuke tidak takut kau diapa-apakan oleh orang jahat?"

"Aku tidak mau merepotkan dia. Dia sudah cukup repot dengan urusannya. Lagipula aku sudah biasa kerja seperti ini. Dan―"

Sakura memegangi sebelah kepalanya. Gawat. Matanya sudah berkunang dan kepalanya serasa pusing sekali. Kelihatanya inilah puncak dari rasa tidak enak badannya sejak pagi tadi.

"Maafkan aku… sepertinya…"

BRUUK!

.

.

*kin*

.

.

"Dia belum pulang?" tanya Sasuke.

"Yah… biasanya dia pergi kerja sambilannya. Tapi aku tidak tahu kenapa dia belum pulang selarut ini. Apa terjadi sesuatu padanya?" ujar Hinata khawatir.

"Sakura bukan orang yang perlu kau khawatirkan seperti itu. Sudah masuklah. Ini sangat dingin."

"Aku hanya khawatir saja. Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Dia selalu bilang dia baik-baik saja. Tapi sejak pagi tadi kulihat kondisinya aneh. Kupikir dia sakit…"

"Kalau dia sakit dia seharusnya pulang ke rumah. Bukan berkeliaran di jalan kan? Lebih baik pikirkan kondisimu dulu. Kau lebih penting. Kalau sampai kau sakit lagi aku yang bingung…"

Setelah memastikan kekasih hatinya masuk ke dalam rumah itu, Sasuke bergegas turun kebawah dan menghampiri mobilnya.

Sekarang setelah dipikir, benar juga. Padahal Sasuke datang sudah agak malam, karena syuting baru berakhir tadi. Mungkin memang dia belum pulang kerja sambilan. Dan sudah dua hari terakhir ini dia tidak mengantar maupun menjemput kekasih palsunya itu. Tapi… Sasuke tahu, Sakura bukanlah gadis lemah. Dia tidak pernah mengeluh sama sekali selama menjadi 'kekasih' seorang Super Star. Sasuke sendiri tidak tega jika Hinata ada di posisi Sakura. Pasti setiap hari dia akan mendapat sindiran dari fans-nya. Tenang saja… pasti baik-baik saja.

.

.

*kin*

.

.

Perlahan, Sakura membuka matanya. Dia tadi jatuh ke lantai dan kepalanya langsung terbentur. Rasanya pusing sekali. Lalu semuanya berubah gelap. Apa dia pingsan? Sepertinya dia memang pingsan.

Begitu melihat seisi ruangan itu semuanya serba putih. Astaga! Dimana dia sekarang? Seharusnya dia pulang, Hinata bisa mencemaskannya lagi nanti.

Sakura ingin bangun dari tempat tidurnya, namun mendadak kepalanya langsung pusing seperti dihantam benda keras.

"Jangan bangun dulu…"

Seseorang dengan lembut menghampirinya dan membantunya kembali berbaring ke kasur itu.

"Dokter bilang kau sedang flu. Kalau tidak ditangani secepatnya mungkin sudah jadi flu berat dan demam tinggi. Panasmu saja sudah 39 derajat. Kenapa kau tidak minum obat?" ceramahnya lagi.

Setelah memastikan dengan penglihatannya yang tadi samar-samar, sekarang semuanya sudah terlihat jelas. Mata Sakura terbelalak lebar. Hah?

"Itachi-san? Apa yang kau lakukan?"

"Apa yang kulakukan? Hei kau jatuh di depanku seperti buah apel yang bebas landas. Apa maksudmu dengan bilang apa yang kulakukan? Tentu saja membawamu ke rumah sakit. Pasti pemicunya hujan deras tadi ya?"

"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu,"

"Kenapa harus minta maaf? Syukurlah kalau kau sudah sadar dan baik-baik saja. Paling tidak istirahatlah dulu sampai besok."

"Tidak bisa. Sebaiknya aku pulang dan istirahat di rumah saja. Maafkan aku sudah merepotkan―"

"Ini sudah ketiga kalinya kau terus menerus menolak pertolongan orang lain. Kau pikir kau sudah cukup kuat untuk berjalan? Bahkan melangkah saja kau pasti tidak sanggup! Kenapa terus membantah? Manusia itu ada kalanya mesti merasa lemah. Tidak perlu selalu merasa kuat. Kau kan tidak sendirian…"

"Tapi aku…"

"Sakura, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau pikirkan. Tapi aku tidak akan macam-macam denganmu. Karena kau kekasih adikku. Anggap saja aku ini seorang kakak untukmu. Bisa? Kudengar kau tidak punya orangtua dan keluarga. Di saat seperti ini bukankah kau butuh seseorang untuk menjagamu?"

Sakura terdiam. Sedari dulu dia memang butuh orang seperti itu. Tapi sayang. Selama ini… setidaknya lima tahun lalu dia memang tidak punya orang lain yang bisa dia andalkan. Dia selalu sendirian. Makanya selama ini dia hanya berpikir untuk mandiri tanpa tergantung orang lain. Bahkan tidak pernah terpikir untuk meminta tolong orang lain.

"Atau kau mau aku telepon Sasuke biar bisa menemanimu?"

"Ahh tidak usah," jawab Sakura cepat.

"Kenapa?"

"Pasti dia sedang sibuk. Aku tidak mau merepotkannya hanya karena masalah sekecil ini. Lagipula…"

Lagipula kenapa Sasuke harus khawatir. Memang dia siapa? Kekasih gadungan. Mana mungkin dia mau memikirkan Sakura. Dia tak pernah penting untuk artis itu. Kalaupun penting hanyalah untuk membantunya menutupi semua kerjaannya selama ini. Sakura tidak pantas bermanja-manja pada orang seperti Sasuke. Sudah pasti pria itu akan marah kalau dihubungi dengan dengan hal tak penting seperti ini.

"Lagipula?" ulang Itachi.

"Sepertinya dia sibuk syuting. Aku tidak apa-apa kok. Kalau… Itach-san mau pulang tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Aku janji akan diam di sini sampai keadaanku membaik."

"Hubungi aku kalau ada apa-apa. Tadi aku sudah menyimpankan nomorku di ponselmu. Kalau begitu istirahatlah…"

Itachi menyerahkan ponsel Sakura padanya. Sakura menatap ponsel di tangannya itu. Kalau kakaknya saja baik begitu, Sakura benar-benar akan jatuh cinta.

.

.

*kin*

.

.

Pagi ini Itachi sudah bergegas datang ke rumah sakit untuk melihat gadis itu. Tapi begitu sampai, ternyata gadis itu sudah tidak ada. Kata beberapa suster dia sudah pulang 10 menit yang lalu. Selisihnya sedikit sekali. Itachi nampak sedikit kesal. Tapi diam-diam dia tersenyum.

Setelah tak mendapat apapun dari rumah sakit itu, Itachi langsung melesat menuju lokasi syutingnya Sasuke. Sudah lama dia tidak bicara dengan adiknya. Dan kesempatan bagus untuk bertemu Kakashi. Mereka memang teman lama yang sudah jarang bertemu. Sekalian saja bertemu sebentar.

Begitu tiba Itachi langsung melihat Sasuke yang duduk di bawah pohon sambil membaca naskahnya.

"Hai… sudah lama ya?" ujar Itachi dengan senyum lebarnya menyapa adiknya itu. Tapi Sasuke hanya meliriknya sinis dan tidak suka.

"Astaga adikku ternyata masih sama seperti dulu ya. Dingin sekali. Mungkin itulah daya tarik yang kau miliki untuk menggaet banyak hati gadis-gadis itu."

"Setidaknya aku bukan playboy sepertimu."

"Ahh ya. Kau adalah tipe orang yang setia ya. Tapi sayang. Meskipun kau setia tapi kau tidak pernah memperhatikan kekasihmu dengan baik ya."

Sasuke menoleh pada kakaknya satu ini.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dingin.

"Kalau kubilang aku suka Haruno Sakura bagaimana?"

Sesaat kakak beradik itu saling bertatapan. Sasuke dengan tatapan dinginnya dan Itachi dengan senyum lebarnya seakan tidak terjadi apapun.

.

.

*kin*

.

.

TBC

.

.

Hmm gimana ya, pokoknya saya udah bilang di chap sebelumnya. Maaf bukannya saya egois, saya hanya gak mau memperpanjang urusan. Terus kalo masih ngotot nanya ini endingnya apa, ya silahkan baca pas endingnya aja. Saya gak keberatan. Juga kalo memang gak ada yang mau review, ya saya juga gak maksa. Saya biasa mendapatkan review yang hanya tiga orang. Tiga orang gak papa yang penting mereka ikhlas dan mengerti apa yang ingin saya tulis.

Jadi kalo gak ada yang review, itu sama sekali gak nakutin saya. Makasih sebelumnya.

Kali ini saya hanya akan membalas review yang sekiranya patut saya balas saja.

Hanazono yuri : Makasih udah review senpai… hhehe wah saya belum rencana memunculkan naruto di fic ini hehehe mungkin bisa dipertimbangkan heheh

Mika : Makasih udah review senpai… ya SasuHina di sinikan sesuai plot hheheh makasih atas pengertiannya.

Aiko : Makasih udah review senpai… hehehe ini udah update…

Gui gu : Makasih udah review senpai… makasih kaka katas semangatnya. Iya tetap akan saya lanjut sesuai dengan sitkon kok hehehe… makasih sekali lagi ya kak…

Kimchan : Makasih udah review senpai… hmm, saya gak pernah nonton Monstar, saya juga gak tahu ceritanya gimana. Sebenernya ini fic yang saya ketik tahun 2010. Udah lama memang makanya saya pindahin ke ffn karena sebelumnya ini orific di dokumen saya hehehe makasih semangatnya, soal rambut Sakura, sebenernya sama kayak rambutnya yang sekarang, tapi kalo kamu sukanya kayak gitu ya boleh juga hehehe

Makasih yang udah review. Saya sangat senang masih mendapatkan semangat dan dukungan dari kalian semua.

Jaa Nee!