Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
"Kalau kubilang aku suka Haruno Sakura, bagaimana?"
Sasuke kenal betul bagaimana kakaknya. Dia adalah tipikal orang yang serius dengan kata-kata meski terdengar konyol. Entah kenapa kali ini Sasuke yakin kakaknya sedang serius. Tapi apa menariknya gadis seperti itu? Tidak cantik, tidak pintar, tidak punya status, tidak punya orangtua, dan tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan darinya. Lalu kenapa kakaknya menyukai gadis seperti itu? Sasuke tahu betul selera kakaknya seperti apa.
"Kalau kau membuat lelucon. Itu sama sekali tidak lucu. Sebaiknya kau kembali saja ke New York."
"Hmm… bagaimana ya? Aku tidak ingin pulang ke sana lagi. Wanita di sana sudah membosankan. Lebih baik pulang ke kampung halaman sendiri. Lagipula… Ayah lebih butuh aku di sini daripada di sana."
"Wanita Tokyo bukan tipemu. Dan kalau itu urusan Ayah, aku sama sekali tidak peduli."
"Memang bukan tipeku. Tapi terkadang, patokan untuk menyukai seorang wanita itu bukan berdasarkan tipe kan? Sebaiknya kau berhati-hati…"
"Apa maksudmu?"
"Oh ya. Aku lupa bilang. Kemarin Sakura pingsan. Aku membawanya ke rumah sakit. Kelihatannya dia masih sakit. Kemarin aku ingin memberitahumu tapi dia bilang tidak perlu. Karena takut mengganggumu yang sangat sibuk itu."
Sasuke diam. Apa katanya? Dia sakit? Lalu kakaknya tahu darimana?
"Kau pasti kaget ya? Aku dan dia kemarin sempat jalan bersama. Yah kuakui dia memang orang yang cukup menyenangkan. Aku juga penasaran, bagaimana caranya dia bisa meluluhkan hatimu yang sedingin es itu. Oh ya, sampai nanti. Kau pasti sibuk kan? Aku akan mencari Kakashi dulu… bye-bye Adikku sayang…" lanjut Itachi sambil melambaikan tangannya.
Sasuke menendang pohon di belakangnya dengan kesal. Lalu mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya.
"Hei… kau dimana? Apa? Kampus kau bilang? Apa kau bodoh hah! Tunggu aku di sana! Sepuluh menit lagi aku sampai!"
Sasuke meninggalkan lokasi syutingnya begitu saja menuju mobil sedannya.
.
.
*kin*
.
.
Sakura melongo melihat ponsel di tangannya itu. Tiba-tiba menelpon dan marah-marah. Jujur saja, gadis ini sampai tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Super Star ini. Kenapa dia sepertinya selalu ingin marah-marah pada Sakura. Memangnya Sakura melakukan kesalahan apa?
Dia memang ingin kuliah karena di rumah saja bosan. Dan sulit membuat alasan pada Hinata yang tampaknya memang mencemaskan dia. Seharian betul tidak pulang. Wajar saja kalau dia khawatir.
"Sakura, ada apa denganmu? Kau pucat sekali. Dan lihat hidungmu. Mereka merah seperti hidung badut!" sindir Ino yang sudah duduk di sebelahnya. Sakura kembali mengucek hidungnya. Yah tadi pagi kembali berair. Sepertinya hidungnya selalu berair setiap pagi hari.
"Hei! Itu tambah merah. Apa kau sakit? Kau seperti ayam lesu saja…" ledek Ino lagi.
"Tidak… hanya sedikit flu…"
"Oh… memangnya kau kemana saja sih sampai―"
Ino terdiam dan memutus tiba-tiba kata-katanya. Matanya melotot ke depan. Sakura bingung dengan sikap tiba-tiba temannya itu. Memangnya kenapa sih? Sepertinya berbeda sekali dengan yang tadi.
Begitu Sakura juga melihat ke depan ternyata ada seorang Super Star masuk ke kelasnya dan berjalan cepat ke tempat duduknya.
Sakura langsung melongo. Dia benar-benar serius datang ke kampusnya!
Tanpa berkata apapun lagi, pria itu menarik tangan Sakura dan membawanya keluar kelas. Tentu saja semua mahasiswa yang ada di sana melihat adegan dramatis itu dengan mata terbelalak.
Lagi-lagi artis ini bertingkah seenaknya. Kini mereka berdua sudah duduk di dalam mobil artis ini.
"Hei mau kemana! Aku tidak mau bolos lagi!" ujar Sakura sambil memegangi setir mobil Sasuke.
"Diam sajalah!" kata Sasuke sinis dan dingin. Dan sekali lagi, artis itu mengabaikan apapun yang dikatakan oleh Sakura dan melaju ke jalanan. Entah kenapa sepertinya Sakura selalu tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang ini. Sakura hanya diam sambil melihat sekeliling jalan. Mungkin sebaiknya bolos saja. Kepalanya terlalu pusing untuk ikut pelajaran hari ini.
.
.
*kin*
.
.
Mereka berhenti di pinggir sebuah taman kota yang cukup sepi. Entah kenapa mendadak berhenti. Memangnya mau apa di sini.
"Kakakku bilang kau kemarin masuk rumah sakit," ujar Sasuke membuka percakapan mereka.
Ahh~ rupanya Itachi memberi tahu orang ini.
"Bukan masalah penting. Aku sudah tidak apa-apa," jawab Sakura.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Setidaknya aku bisa mengantarmu!"
"Karena aku tidak mau merepotkanmu. Kau bilang jadwalmu padat dan kau sibuk. Terakhir kali aku menelponmu, kau bilang jangan menghubungimu untuk urusan tidak penting. Kau pasti akan menganggapku berlebihan dan manja," jelas Sakura. Itu memang benar. Dia hanya tidak ingin Sasuke menganggapnya berlebihan dan manja. Dia tidak ingin menyulitkan Sasuke. Dan tidak ingin membuat Hinata salah paham. Benar-benar tidak ingin.
"Lagipula... kita bukan kekasih sungguhan. Kau hanya membayarku di depan kamera dan fans-mu. Aku tidak punya alasan untuk bersikap kekanakan begitu. Aku juga harus memikirkan perasaan Hinata," lanjut Sakura lagi.
Sasuke terdiam. Gadis ini pemikirannya sungguh panjang. Sasuke pikir alasan dia tak mau menghubunginya adalah karena itu adalah masalah yang tidak penting.
"Tapi kau jangan lagi bertemu Kakakku! Dia itu berbahaya!"
"Heh? Kenapa? Itachi-san orang yang baik. Setidaknya dia ramah dan selalu tersenyum. Berbanding terbalik denganmu!" sindir Sakura.
"Hei, kau mau menyindirku ya?"
"Tidak. Itu kan kenyataan. Lalu kenapa aku tidak boleh bertemu Itachi-san lagi?"
"Karena dia itu playboy! Dia itu suka semua gadis. Setiap kali bertemu dengan gadis yang menarik untuknya, langsung dirayu. Setelah kau jatuh dalam perangkapnya dia pasti akan meninggalkanmu. Dia itu banyak wanita simpanan di luar sana. Makanya jangan berhubungan dengan orang sebrengsek itu. Kau tahu?"
"Hah? Masa sih? Kurasa dia bukan orang seperti itu…"
"Aku ini sudah hidup dengannya selama 20 tahun, kau pikir aku tidak tahu orang seperti apa dia itu? Aku hanya menyuruhmu untuk hati-hati saja. Jangan sampai tertipu olehnya…"
"Kenapa kau katakan ini padaku?"
"Karena kau itu bodoh dan gampang ditipu!"
"Hah? Aku tidak seperti itu!"
"Kau memang seperti itu. Sudahlah… kau pulang saja, hidungmu merah seperti badut! Dengan muka pucat begitu kau mirip zombie. Pulang saja sana!"
"Aku tidak mau meninggalkan kelas lagi. Antarkan aku ke kampus saja!"
"Hei! Apa sekarang waktunya keras kepala hah? Pulang!"
"Tidak mau! Memangnya apa pedulimu? Aku tidak mau pulang ke rumah. Antarkan aku ke kampus sekarang! Ayo cepat…"
"Kalau kau membantah lagi aku tidak akan membayarmu!"
"Kau mengancamku begitu? Baiklah. Aku tidak mau jadi kekasih bohonganmu lagi. Biar saja kukatakan kalau kau berselingkuh dengan gadis lain!"
"Astaga gadis ini keras kepala sekali!"
Untuk sesaat pertengkaran itu terasa menyenangkan. Diam-diam Sakura menyukai cara Sasuke yang memarahinya karena khawatir padanya. Sepertinya dia memang khawatir pada Sakura. Mungkin Sasuke bukanlah pria yang bisa berkata baik padanya. Bukan juga tipe pria baik hati yang selalu mengucapkan kata-kata manis. Bukan juga pria ramah yang selalu tersenyum padanya. Sejujurnya, Sakura memang suka pada Sasuke yang seperti ini. Sasuke yang ketus, dingin, dan sinis padanya. Dia benar-benar menyukainya. Dan entah sampai kapan bisa bertahan yang seperti ini. Dia tak pernah tahu. Yang Sakura tahu, dia sudah menyukai pria ini terlalu dalam. Dan sejujurnya, Sakura takut jika nanti dia tak bisa keluar dari perasaan yang begitu dalam ini.
.
.
*kin*
.
.
Hari ini kebetulan kampusnya libur. Jadi tidak perlu datang ke sana. Semalam juga dia sudah minta ijin dengan supervisor-nya untuk tidak bekerja dulu. Tapi hari ini kondisinya sudah agak mendingan. Lebih baik dari kemarin meski hidungnya masih berair. Hinata cukup khawatir dengan keadaan Sakura. Bahkan Hinata sudah berbaik hati merawat Sakura. Tapi hari ini dia ada janji dengan manager-nya Sasuke. Rasanya tidak enak di awal pertemuan sudah melanggar janji. Siapa tahu dia bisa bertemu dengan Sasuke. Karena saking sibuknya dia tak punya kesempatan melihat pria itu lagi.
Sakura diminta untuk menemuinya di kantornya. Tapi kantornya cukup sepi. Entah kenapa tidak ada orang. Apa semuanya pada menghilang ya?
"Hei… kau datang?"
Sakura mengenali suara itu. Ketika berbalik rupanya benar, itu adalah kakaknya Sasuke. Sepertinya orang ini punya waktu luang yang banyak ya?
"Oh, apa kabar. Kau juga datang kemari?" sapa Sakura.
"Yah… Kakashi mengundangku datang. Lalu apa yang kau lakukan disini? Menemui siapa?"
"Sama. Aku juga diminta manager Kakashi untuk bertemu dengannya. Tidak tahu untuk apa."
"Oh ya? Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" Itachi hendak menempelkan telapak tangannya ke dahi Sakura. Tapi otomatis Sakura mundur ke belakang menghindarinya.
"Hei? Ada apa? Aku tidak akan macam-macam. Cuma ingin tahu kondisimu…"
"Maaf aku tidak sengaja… hanya saja… Sasuke bilang harus hati-hati denganmu…" lirih Sakura.
"Hah? Hati-hati? Memang aku kenapa?"
"Sasuke bilang kau itu playboy. Punya banyak wanita simpanan. Jangan-jangan kau dekat padaku juga hanya main-main…"
Bukan jawaban yang terdengar, tapi Itachi malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan lugu Sakura. Tentu saja gadis itu bingung. Apa dia salah bicara atau…
"Astaga! Jadi anak itu bilang begitu? Sakura, kau harus percaya. Aku bukan orang seperti itu. Mungkin dia sedikit cemburu karena aku bersikap baik denganmu. Pasti dia yang mengarang cerita itu."
"Kenapa Sasuke begitu?"
"Mungkin karena dia cemburu padaku. Kekasihnya kudekati."
Tiba-tiba wajah Sakura berubah panas lagi. Cemburu? Sasuke cemburu padanya? Astaga! Itu jelas tidak mungkin. Bagaimana bisa Sasuke cemburu padanya? Ahh tidak mungkin.
"Oh kebetulan kau sudah datang. Ayo kita berangkat. Kita sudah terlambat," sela Kakashi yang datang entah darimana.
Hah? Maksudnya kemana?
*kin*
Sakura tidak diberitahu mau dibawa ke mana. Katanya ini adalah rahasia penting. Rasanya aneh saja. Kenapa pula main rahasia begitu. Rasanya ini tidak benar.
Mereka sampai di sebuah jalan di Ginza. Seperti sebuah lokasi syuting. Kenapa Sakura dibawa kemari? Bahkan semuanya kru yang sepertinya tengah menyiapkan sebuah film. Apa maksudnya ini?
"Nah Sakura. Kau tunggu di sana sebentar ya. Silahkan bersiap dulu…" ujar Kakashi sambil memanggil seorang kru dan mendorong Sakura untuk pergi ke tempat yang dimaksud oleh Kakashi. Sebenarnya ada apa sih?
"Hei… kau sedang merencanakan apa dengan anak itu?" ujar Itachi yang tanpa sengaja ikut kemari. Dia hanya ingin lihat adiknya syuting saja.
"Rencana bagus. Aku yakin setelah ini ratingnya akan semakin meningkat!" ujar Kakashi misterius.
Itachi melihat adiknya yang juga baru tiba itu. Sasuke turun dari mobilnya dan langsung menuju tempat Kakashi dan Itachi. Kakashi melambaikan tangannya dan menyuruh Sasuke bergegas.
"Kau sudah datang?" seru Kakashi.
Itachi hanya melihat sekilas kakaknya yang berada di belakang Kakashi lalu kembali beralih ke manager-nya.
"Konyol sekali ada acara seperti ini," gumam Sasuke.
"Hei ini untuk rating dramamu! Aku sudah siapkan orang yang tepat."
"Hhh… jadi dimana gadis itu?" Sasuke mengedarkan pandangannya dengan tatapan malas.
"Oh ya? Kau pasti suka ini…"
Kakashi melirik ke arah tempat yang dimaksudnya sambil tersenyum sumringah. Sasuke ikut melirik ke sana. Dan tentu saja matanya langsung melebar luar biasa.
Gadis berambut pink itu sudah didandani layaknya artis papan atas. Meskipun pakaian sederhana layaknya pakaian seorang gadis yang ingin kencan, tapi tetap cocok untuknya. Dia seperti gadis biasa umumnya. Dan hanya… tambah cantik.
Sasuke nyaris tidak berkedip melihat penampilan gadis itu. Karena biasanya dia melihat penampilan biasa saja selama ini.
Sasuke maju selangkah mendekati gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Sasuke.
"Karena manager-mu menyuruhku kemari. Aku tidak tahu mau disuruh apa."
"Kenapa kau main setuju saja? Kau tidak tahu ke sini untuk apa?"
"Tidak."
"Nah… nah… bagaimana Sasuke? Kekasihmu sudah cantik kan? Banyak artikel yang memberitakan tentang kalian. Sepertinya kalian tidak terlihat dekat dan mesra lagi semenjak berlalu kabar itu. Banyak fans-mu yang ingin melihatmu kencan dengan kekasihmu. Jadi… acara 'Kencan Sehari' ini kupasangkan kau dengan kekasihmu sendiri. Bukankah lebih enak kencan dengan kekasih sendiri?" sela Kakashi sambil menjelaskannya panjang lebar.
"Kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya?" tanya Sasuke.
"Kenapa? Kan surprise untukmu. Bagaimana? Terkesan? Ini untuk rating dramamu tahu! Aku yakin acara ini juga pasti banyak yang menonton. Kalian tinggal bersikap alami saja seperti kencan biasa. Jangan pikirkan kamera dan lainnya ok!" ujar Kakashi lagi.
"Ta-tapi aku belum pernah―maksudku… aku tidak bisa mendadak begini," sela Sakura.
"Tidak apa-apa. Anggap saja kencan biasa. Makanya usahakan serileks mungkin saja. Jangan tegang. Kan dengan kekasih sendiri," lanjut Kakashi
"Bukan begitu… tapi…" Sakura tampak serbasalah.
"Baiklah. Bagus sekali pasanganku dia. Kita lakukan saja yaa…" timpal Sasuke.
Sakura melirik tidak percaya pada pria di depannya ini. Hah? Tidak apa-apa apa maksudnya itu?!
"Sasuke!" bisik Sakura.
"Tenang saja. Ini akan menarik…"
Sakura melirik ke arah mana pria ini memandang sinis. Dan ternyata dia melihat kearah Itachi berdiri. Ada apa sih dengan mereka ini?
.
.
*kin*
.
.
"Nona Sakura. Santai saja ya… anggap saja tidak ada kamera apapun…" kata sutradara itu menginstruksikan pada mereka dan mulai merekam kencan sehari mereka. Sasuke dan Sakura sudah berjalan berdampingan di troroar jalan. Meskipun dibilang begitu, Sakura tetap saja tegang. Dia tidak pernah berkencan sebelumnya. Jadi bagaimana mungkin tahu bagaimana rasanya berkencan?
"Hei… kau seperti robot. Kau pikir ini film fiksi ilmiah apa? Kau kan bukan robot. Berjalanlah dengan alami seperti berjalan dengan kekasihmu," jelas Sasuke. Rencananya kencan sehari ini hanya diisi oleh soundtrack dramanya nanti. Jadi percakapan mereka sama sekali tidak direkam.
Sakura masih sedikit kaku dan gugup, ini pertama kalinya dia 'berkencan'. Meskipun memang bukan kencan yang sebenarnya. Tetap saja rasanya masih terasa asing. Dia tidak pernah tahu seperti apa kencan itu.
"Sasuke, apa kau tahu, kencan itu seperti apa? Aku… belum berpengalaman," lirih Sakura malu. Memang pertanyaan aneh dan bodoh.
"Hah? Sekali pun belum pernah? Yang benar saja…" kata Sasuke meremehkan.
"Kau bilang bersikap alami. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana," balas Sakura.
"Untunglah kau bisa berkencan dengan Super Star ya… baiklah… kita mulai dari sini."
Sasuke mengambil sebelah tangan Sakura dan menggenggamnya. Lima detik kemudian Super Star itu tersenyum lembut padanya. Seperti senyum yang selalu dia tunjukan kepada Hinata.
"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Sasuke dengan senyum menawannya. Kini Sakura kembali di masa dia pertama kali begitu mengagumi Super Star ini. Senyum yang tidak bisa dilupakannya.
Dengan ragu, Sakura membalas senyuman pria itu. Meskipun mereka seumur, tapi tetap saja terasa beda. Dunia yang berbeda.
Dan kencanpun dimulai.
.
.
*KIN*
.
.
Pertama, Sasuke dan Sakura berjalan dengan mesra layaknya pasangan kekasih. Banyak mata yang memandang iri pada mereka. Bahkan para fansnya pun berteriak heboh. Mereka membeli es krim di sebuah toko es krim. Memang mereka berada di kawasan Ginza. Suasananya sangat ramai. Bahkan banyak yang memperhatikan mereka. Sasuke justru bersikap biasa saja. Seperti tidak terjadi apapun. Dia berjalan dengan nikmat dan memakan es krim yang mereka beli. Sakura juga ikut terbawa suasana. Dia begitu nyaman dan seolah-olah tidak terjadi apapun. Setelah memakan es krimnya sampai habis, mereka makan siang bersama. Mereka tertawa akan suatu hal lucu atau karena Sakura yang sengaja mencari bahan tertawaan. Setelah makan siang mereka pergi ke sebuah pasar malam karena hari sudah beranjak malam. Sakura mendapat hiasan rambut dari Sasuke dengan bentuk bunga sakura berwarna pink. Cantik sekali. Dan saat itulah Sakura memakainya. Mereka masih menjadi sorotan semua orang. Masih juga ada yang berteriak histeris. Tapi mereka seakan sama sekali tidak peduli. Mereka masih menikmati jalannya kencan mereka.
Terakhir mereka masuk ke arena ski. Yah… di musim dingin begini arena ski adalah tempat kencan paling favorit. Sakura sama sekali belum pernah mencoba ice skating. Rasanya seumur-umur dia memang belum pernah. Sakura berkali-kali menolak. Tapi mereka sudah berada di arena itu. Sasuke menariknya perlahan. Memegangi tangan Sakura yang kaku seperti robot. Sasuke malah tertawa terbahak ketika Sakura jatuh karena tidak bisa menyeimbangkan dirinya sendiri.
Sakura menggembungkan pipinya dan bertingkah seperti anak kecil yang merajuk. Karena merasa bersalah, Sasuke hendak mengulurkan tangannya bermaksud membantu gadis itu berdiri, tapi Sasuke main-main dengan menarik lagi tangannya. Sakura semakin kesal dan tidak mau melihat Sasuke. Tapi lagi-lagi pria itu mengulurkan tangannya dan kali ini tersenyum memohon maaf. Sepertinya dia sudah tidak mau main-main lagi.
Kali ini giliran Sakura. Dia menarik kuat-kuat tangan pria itu hingga Sasuke kini ikutan jatuh bersamanya. Sakura tertawa terbahak-bahak melihat pria itu jatuh tersungkur. Sasuke ikutan tertawa dan membantu Sakura berdiri dengan mengangkat pinggang gadis itu. Dengan wajah tulus, Sasuke mengambil lagi kedua tangan gadis itu, menariknya dari belakang dan membawanya meluncur bersama. Mereka masih dilihat oleh sekian banyak orang. Tapi Sakura tak peduli. Asalkan bisa seperti ini… dia sungguh tak butuh apapun. Dia hanya ingin melihat Sasuke yang tersenyum padanya. Hanya padanya.
Bolehkah dia begitu ingin bersikap egois? Bolehkan seperti itu?
Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Memberi isyarat pada Sakura untuk menengok ke atas. Dan…
Ribuan kembang di atas langit malam itu bermekaran dengan indahnya. Sakura takjub bukan main. Di arena skating yang terbuka ini dia bisa melihat langit malam yang diterangi puluhan kembang yang bermekaran itu. Sungguh. Ini adalah malam ter-romantis yang pernah dia alami selama 20 tahun ini. Akankah ada hari seperti ini selanjutnya?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah acara 'Kencan Sehari' itu, akhirnya Sakura sudah boleh pulang. Mereka baru berhenti merekam ketika tepat pukul 11 malam. Benar-benar melelahkan.
Tapi rasa lelah itu sungguh sudah terbayar dengan kegiatannya tadi.
Sepanjang perjalanan dari lokasi syuting mereka sampai ke rumah Sakura, karena Sasuke yang bertanggungjawab mengantarnya, Sakura terus memandangi diam-diam wajah Super Star itu. Rasanya memang begitu menyenangkan. Sakura hanya berharap pria ini tidak akan tahu apa yang dilakukan Sakura.
"Kita sudah sampai…" ujar Sasuke.
Sakura langsung salah tingkah. Lalu membetulkan penampilannya dan mengucapkan terima kasih dengan tergesa lalu turun dari mobil pria dingin itu. Dia sudah bersikap seperti biasa lagi.
"Sakura," panggil Sasuke.
Sakura menoleh sebelum menaiki anak tangga menuju rumahnya.
"Aaa~ mau bertemu Hinata? Nanti ku―"
"Kenapa kau memandangiku sepanjang jalan tadi?" potong Sasuke tanpa ekspresi. Wajah Sakura mendadak kaget. Ternyata pria ini sadar.
"Hah? Aku? Apa maksudmu?" tanya Sakura pura-pura tak mengerti.
"Apa kau… menyukaiku?" tanya Sasuke lagi.
Sakura terdiam untuk kesekian kali. Menyukainya? Bukankah Sakura sudah lama menyukai Super Star ini. Yah tentu saja yang bersangkutan tidak tahu sama sekali.
"Aku tidak pernah bilang begitu kan?" sangkal Sakura. Meskipun dalam hatinya dia ingin sekali bilang yang sebenarnya.
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya di antara kita… jangan ada yang pernah mengatakan 'aku menyukaimu'. Jika salah satu dari kita mengatakan itu... Mungkin kita tidak bisa―bukan… kita tidak boleh bertemu lagi."
Jantung Sakura mencelos luar biasa. Apa itu artinya…
"Hanya jaga-jaga. Aku tidak mau merusak hubungan bisnis kita. Aku tahu kau pasti tidak menyukaiku setelah mengetahui kebiasaan burukku. Semua gadis sama. Mereka hanya menyukaiku ketika aku di atas. Dan ketika aku di bawah, mereka akan meninggalkanku dan beralih ke yang lain. Aku hanya tidak ingin seperti itu. Dan lagi… aku tidak mau Hinata tersakiti hanya karena hal konyol seperti itu," lanjut Sasuke.
Sakura nyaris menangis karena kata-kata tajam pria itu.
"Jadi maksudmu… perasaan menyukai itu tidak ada artinya? Biar kuberitahu Sasuke, yang kau maksud tadi, itu bukan perasaan suka. Mereka hanya penggemar. Orang yang tulus menyukaimu, tentu saja tidak akan meninggalkanmu baik kau ada di atas maupun kau ada di bawah. Mereka akan menerima apapun keadaanmu dan apapun kebiasaanmu. Itu baru namanya menyukai dengan tulus. Dan kau tenang saja. Jika ada saat dimana aku tidak bisa menahan lagi, aku akan mengatakan kata-kata tabu itu untukmu. Jika kau sudah mendengarnya dariku, kita tak perlu bertemu lagi selamanya…" kata Sakura balik.
Sakura bermaksud untuk naik ke tangganya. Tapi dia teringat di atas rambutnya terganjal sesuatu. Sakura berbalik lagi dan melepaskannya lalu mengulurkannya pada Sasuke yang ternyata masih ada di sana.
"Apa?" tanya Sasuke tak mengerti.
"Properti syuting. Kau pasti tidak benar-benar ingin membelikannya untukku kan? Gadis yang ingin kau hadiahi sudah pasti bukan aku," jelas Sakura santai.
"Jadi maksudmu aku yang harus menyimpannya? Aku ini pria. Masa menyimpan barang wanita? Itu juga tidak bisa kuberikan pada Hinata. Anggap saja bonus bayaranmu. Kau yang simpan," kata Sasuke cuek.
"Kau memberikanku bonus barang murahan? Enak saja! Simpan saja sendiri. Kalau kau mau buang ya buang saja. Aku tidak peduli. Toh itu bukan barang yang menarik!"
Sakura menaruh jepitan rambut bunga sakura itu di atas kap depan mobil Sasuke lalu menghentakkan kakinya menuju rumah mungilnya.
"Astaga! Kenapa gadis itu? Bukannya dia tadi senang sekali mendapatkannya? Aneh! Apa itu… Cuma akting saja?" pikir Sasuke.
.
.
*KIN*
.
.
Sakura jadi semakin merenungi apa yang dikatakan Sasuke. Sebenarnya dia tidak ingin mengembalikan hiasan rambut itu. Tapi otaknya menolaknya. Sebenarnya dia ingin Sasuke mengatakan 'ya ini milikmu, simpanlah,' seperti itu. Memangnya sulit mengatakannya? Meskipun hanya basa basi. Sakura sendiri tidak mengerti siapa sebenarnya pemilik hiasan rambut itu? Tidak mau diberikan pada Hinata karena bekas Sakura? Dasar pria brengsek!
"ARGGHHHH!" teriak Sakura frustasi.
"Hei! Apa kau gila! Semua orang sudah mengira kau akan gila! Bukannya senang sudah kencan sama kekasih hati malah jadi gila!" sindir Ino. Yah bukan hal aneh lagi kalau hal itu sudah tersebar ke seluruh area kampus!
"Ino… apa kau masih ingat cerita putri duyung?" kata Sakura lesu. Sebelah wajahnya sudah menelengkup di atas meja memandangi Ino yang duduk disebelahnya.
"Ya. Lalu kenapa? Sepertinya kau suka sekali cerita itu."
"Putri duyung harus mengatakan 'aku menyukaimu' pada pangerannya kan? Supaya dia bisa jadi manusia dan menikah dengan pangerannya," lanjut Sakura.
"Yah… memang agak sedikit berbeda, karena mestinya pangeran itu yang mengatakan aku mencintaimu pada putri duyung itu. Yah tapi pangeran kan tidak tahu itu putri duyung yang menyelamatkannya."
"Mungkin… kalau aku… jika aku mengatakan 'aku menyukaimu' pada pangeranku… aku justru akan berubah jadi buih ya?"
"Hah? Kau ini bicara apa? Tapi tunggu dulu! Kau juga pernah bilang soal pangeran yang kau selamatkan. Apakah itu orang yang sama dengan pangeran yang sedang kau bicarakan sekarang? Apa… itu Sasuke?!" tebak Ino antusias.
Sakura langsung mengangkat kepalanya dan bersikap biasa. Karena dia sudah gugup bukan main. Ino terlalu pintar.
"Bukan! Tidak kok… pangeranku dan Sasuke adalah orang yang berbeda! Bukan artis payah itu!" sangkal Sakura.
"Hah? Lihat-lihat… kau sudah mengatakan kekasihmu sendiri artis payah! Apa kau berselingkuh? Hei… masa kau selingkuh di belakang kekasihmu sendiri!" tuduh Ino.
"Astaga… sudah kubilang itu bukan… kau tidak percaya? Ini keadaan yang―sebentar!"
Sakura mengambil ponselnya di saku celana jinsnya. Ada yang menelponnya di jam makan siang? Apa Sasuke? Aihh! Tentu saja bukan. Bagaimana mungkin itu dia! Itachi?
"Halo… oh… ya sebenarnya aku… sedang menunggu dosen, tapi sepertinya dia tidak masuk. Oh… sekarang? Baiklah… aku akan segera ke sana," kata Sakura di telponnya. Lalu bergegas membereskan barangnya.
"Hei! Kau mau kemana? Apa itu Sasuke?" tanya Ino.
"Bukan! Aku pergi dulu ya…"
"Hei! Sakura kau mau selingkuh ya!"
"Hei! Kalau kau teriak begitu nanti ada yang salah paham! Kalau sampai ada gosip yang tidak-tidak tentangku kau akan mati Ino!" ancam Sakura.
.
.
*KIN*
.
.
Entah kenapa Sakura mengiyakan bertemu begitu saja ketika hanya diminta ditemani makan siang. Seharusnya sikap Sakura ini salah. Tapi dia juga tidak peduli. Kenapa harus diambil pusing. Lagipula… toh hubungannya akan segera berakhir. Yang perlu Sakura tunggu adalah setelah gosip tentang Sasuke berakhir dan kesehatan Hinata membaik. Setelah itu… dia tak perlu apa-apa lagi. Hanya bertahan sampai hari itu tiba.
Sakura sudah sampai di tempat yang di maksud. Akhirnya dia bisa juga lega setelah tadi sempat pusing karena ocehan dosen di musim dingin begini. Memang tidak baik sekali.
"Apa kabar Itachi-san. Sudah menunggu lama?" sapa Sakura.
"Tidak juga. Nah mau makan apa? Kau juga pasti lapar kan?" tawar Itachi.
"Hah? Aku… tidak usah. Aku tidak lapar kok."
"Ayolah. Memangnya aku memanggilmu untuk melihatku makan saja? Tentu saja karena aku ingin makan bersamamu. Ayo…"
"Tapi… aku…"
"Tidak apa. Kita bisa diam-diam tanpa diketahui Sasuke. Pelayan!"
Sebenarnya bukan itu. Tapi… apa boleh buat.
Itachi adalah orang yang menyenangkan. Berbeda dengan Sasuke. Mereka memang kakak adik yang mirip. Tapi secara sifat jauh bertolak belakang.
Itachi dan Sakura bercerita banyak mengenai syuting mereka kemarin. Juga bercerita soal masa kecil Sasuke dan persahabatannya dengan Kakashi, manager Sasuke.
Setelah makan siang, mereka berkeliling toko buku karena ada buku yang mau dicari Itachi. Sakura dengan senang hati menemaninya karena sudah ditraktir makan siang. Sebenarnya tidak enak juga. Tapi sifat kakak beradik ini ada yang sama. Sama-sama keras kepala. Buku-buku yang dilihat oleh Itachi adalah buku-buku marketing berbahasa Inggris. Bahkan ada kumpulan kisah sukses orang-orang terkaya di dunia versi majalah Time yang terkenal itu. Wah… ini ya bacaan orang kaya? Karena sepertinya Itachi begitu serius melihat bukunya, Sakura bermaksud mencari kumpulan novel dan buku kuliahnya. Tapi dia lupa apa nama pengarangnya. Padahal Ino sudah memberitahukannya. Hhh… kenapa bisa lupa sih?
Tanpa sadar, Sakura justru berjalan ke arah kumpulan dongeng anak. Ada berbagai macam buku cerita. Dari Cinderella―jelas itu bukan dia karena pangerannya tidak jatuh cinta padanya pada pandangan pertama―lalu ada Snow White―yah di jaman modern begini mana ada yang namanya buah apel beracun, ada juga apel busuk―kemudian Sleeping Beauty―dia bukan putri tidur yang dicium pangeran kan? Itu benar-benar tidak sinkron―dan selanjutnya ada Beauty and the Beast―kalau saja Sasuke bisa berwajah menyeramkan yang ternyata pangeran tampan, tapi apa mungkin Sakura mau kalau wajahnya begitu?―dan terakhir… Mermaid Princess. Atau putri duyung.
Tanpa sadar, Sakura mengangkat buku itu. Sudah banyak drama TV yang membuat drama yang berdasarkan cerita dongeng itu. Lalu kenapa harus dengannya kisah ini terjadi? Kenapa harus putri duyung yang berakhir tragis? Padahal semua kisah yang ada selalu berakhir bahagia dengan pangeran mereka masing-masing. Lalu kenapa harus putri duyung?
"Kau suka itu?" tegur seseorang.
Sakura terlonjak kaget. Tentu saja kaget jika dikejutkan seperti itu. Itachi berdiri di sampingnya dengan tampang tanpa dosa.
"Kau mengagetkanku. Apa kau sudah dapat bukunya?" tanya Sakura.
"Hmm… yah sudah. Tapi tidak ketemu satu. Katanya belum diedarkan. Oh ya… kenapa kau lihat buku itu? Putri duyung ya?" kata Itachi sambil mengambil buku yang dipegang Sakura.
"Gadis mana yang suka akhir yang menyedihkan?" lirih Sakura.
"Hah? Oh… kupikir kau suka karena kau pegang ini. Kenapa? Apa kau seperti putri duyung yang bisu? Yang tidak bisa mengatakan 'aku mencintaimu' pada pangeranmu?" sindir Itachi.
Raut wajah Sakura berubah. Lagi-lagi topik itu. Jika mendengar hal itu maka dia pasti teringat apa yang dikatakan oleh Sasuke kemarin.
"Yah. Mungkin aku akan berubah jadi buih jika aku mengatakan hal itu pada pangeranku. Ayo pergi… ini sudah hampir malam loh…" ujar Sakura beranjak dari tempatnya.
Itachi melihat ekspresi aneh dari gadis itu. Niatnya tadi hanya bercanda. Lalu kenapa gadis itu menanggapinya dengan begitu serius? Apakah… ada yang dipikirkan gadis itu?
.
.
*KIN*
.
.
Itachi bersikeras ingin mengantar Sakura pulang. Sakura selalu tidak bisa menolak apa yang diinginkan pria ini. Tapi memang bukan pilihan yang buruk kok. Paling tidak dia bisa hemat ongkos bisnya sendiri. Baru akan tiba di rumahnya ponsel Sakura berdering. Kali ini dia asal mengangkatnya saja. Begitu mengangkatnya, rupanya supervisor-nya yang menelponnya dan langsung mengatakan hal itu dan menutupnya tanpa mendengar alasan dari Sakura lagi. Tapi sepertinya ini memang salahnya Sakura. Sudah pasti dia akan berakhir seperti ini.
"Kenapa?" tanya Itachi yang melihat ekspresi aneh gadis itu.
"Aku dipecat. Sudah seharusnya begitu. Yah paling tidak aku harus cari kerjaan baru. Oh sudah sampai… terima kasih Itachi-san sudah mengantarku. Oh ya, kapan-kapan aku akan ganti mentraktirmu. Kalau aku sudah mendapat pekerjaan baru ya."
Gadis itu keluar begitu saja. Wajahnya memang sempat ceria beberapa saat, tapi setelah keluar dari mobil Itachi, gadis itu berjalan gontai menuju lantai atas rumahnya. Setelah memastikan gadis itu sampai di atas rumahnya, Itachi baru menyalakan mesin mobilnya. Sekarang Itachi jadi ragu, sebenarnya Sasuke serius atau tidak dengan gadis itu.
Baru akan memindahkan gigi mobilnya, Itachi melihat ponsel gadis itu masih tergeletak di tempatnya duduk tadi. Sepertinya dia lupa soal itu.
Itachi mengambil ponselnya dan bermaksud untuk naik ke atas. Ternyata gadis ini tinggal di tempat seperti ini. Rumahnya mungil. Tapi pemandangan di atas sini memang terlihat bagus.
Itachi mengetuk perlahan pintu rumah mungil gadis itu. Sakura keluar dari rumahnya dengan wajah kusut.
"Itachi-san?" mendadak Sakura kaget karena melihat tamunya.
"Kau melupakan ponselmu lagi," kata Itachi sambil mengulurkan ponsel gadis itu. Cepat-cepat gadis itu mengambilnya. Untung rumah Sakura sedang sepi.
"Kau… tinggal sendiri?" tanya Itachi yang tidak melihat siapapun di rumah itu.
"Ahh ya! Aku tinggal sendiri. Kau tidak perlu cemas. Aku bisa jaga diri. Selamat malam Itachi-san!" jelas Sakura buru-buru. Lalu menutup pintunya. Orang aneh.
Itachi bersiap pulang. Dia sebenarnya ingin mampir ke rumah gadis itu. Tapi malam begini… tidak baik rasanya.
Begitu turun dari tangga rumah mungil itu, Itachi dikejutkan dengan kemunculan seseorang di dasar tangga itu sambil membawa beberapa kantong.
Itachi terkejut bukan main. Kenapa dia ada di sini?
Bahkan orang itu menjatuhkan kantongnya karena sama-sama terkejut dengan kemunculan mendadak dan tanpa diduga itu.
"Kupikir kau sudah menghilang. Apa yang kau lakukan disini, Hyuuga Hinata?" tanya Itachi tajam.
Dan gadis itu… hanya bisa menunduk dan diam.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna… maaf ya akhirnya baru bisa update… terlalu banyak kerjaan jadi sekarang pun waktunya mepet… hehehehe
Maaf kalo ada yang nemuin typo. Itu karena tahap awal pengerjaan fic ini masih pake nama Korea, jadi beberapa typos kayaknya soal namanya. Mohon maaf sama ketidaknyamanannya yaa saya akan berusaha lebih teliti lagi.
Kalau ada yang salah, jangan sungkan untuk mengoreksi. Saya selalu menerima kritik dengan tangan terbuka…
Bales review dulu yaaa…
Haha : makasih udah review senpai… makasih banyak udah suka ficnya hehehe. Maaf updatenya gak kilat yaa heheh
NaraGirlz : makasih udah review senpai… heheh mungkin ada beberapa oknum aja kok. Gak semuanya gak suka hehehe…
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… iyaa ini udah update hehehe makasih udah nunggu…
Ichiro kenichi : makasih udah review senpai… maaf updatenya gak kilat yaa… tapi ini udah update ehehehe
Titan-miauw : makasih udah review senpai… hola juga heheh makasih udah nunggu hiksss terharu hehehe iya ini udah lanjut kok hehehe
Racchan Cherry-desu : makasih udah review senpai… boleh kok panggil apa aja hehehe. Masalah pengurangan dialog, yah saya sih menyesuaikan keadaan aja. Kalau memang keadaannya mesti begitu ya saya buat begitu hehehe. Gak papa kok, saya suka dikoreksi, jadi jangan sungkan untuk memberikannya hehe.
Yuiko : makasih udah review senpai… hehehe iya ini udah update kok hehehe
Pinkcherry : makasih udah review senpai… maaf ya kalo gak kilat hehehe iya ini udah saya update kok hehehe mmm… gimana dengan chap ini?
Yera30ciemut : makasih udah review senpai… jangan panggil senpai dong, Kin aja gak papa hehehe iya ini udah update lagi hehehe
Febri Feven : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehhee
Nao-lu : makasih udah review senpai… gak kok, umurnya ibu sasuke itu sudah pertengahan 40 tahunan. Itu kan istilah aja karena wajahnya masih awet muda heheheh
Dikdik717 : makasih udah review senpai… maaf kalo lama tapi tetap akan saya lanjut kok hehehe…
Eysha 'CherryBlossom : makasih udah review senpai… heheheh iya juga yah… bener banget tuh hehehe
Sofi asat : makasih udah review senpai… maaf gak kilat yaa tapi ini udah update kok hehehehe
Haruchi Nigiyama : makasih udah review senpai… makasih udah suka ceritanya hehehe, oh soal review itu, yah udah gak saya pusingin lagi kok. Sekarang maunya siapa yang mau aja sih hehehe, soal slight itu, sebenernya alasan saya gak ngasih, supaya pembaca fokus sama pair utama aja, kalau ada slight pair kan jadinya gak fokus lagi sama pair utama Cuma itu aja sebenarnya hehehe
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iyaa heheh panggilnya Kin aja ah, jangan senpai dong hehehe ya saya juga baru mulai nulis di fandom ini hehehe. Ini udah lanjut hehehe
Kumada Chiyu : makasih udah review senpai… hehehe kan buat plotnya hehehe. Wah entar bingung gak kalo banyakan slight pair-nya?
Purnama : makasih udah review senpai… saya suka review panjangnya hehehe. Makasih atas reviewnya, saya sangat suka hehehe, oh ya mengenai itu. Ya itu typo. Sebenernya ini pengerjaan awalnya pake nama Korea, jadi masih rasa nyempil kali yah hehehe nanti akan saya koreksi lagi hehehe
Tsurugi De Lelouch : makasih udah review senpai… makasih hehehe, wah suka lupa untuk ngasih italic-nya. Nanti saya koreksi lagi yah hehehe
SASUrasauKe : makasih udah review senpai… hmm… apakah senpai salah mengenali orang?
Parinza ananda 9 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Uchiha yuki cherry : makasih udah review senpai… makasih banyak, manggilnya Kin aja gak papa kok hehe, ah ya soal itu… biarlah plot yang mengalir hehhehe
Sakura Zouldyeck : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehhe… makasih semangatnya hehehe
Uchihafenny : makasih udah review senpai… hehehe slightnya apa gak kebanyakan? Entar bingung gak? Hehehe masih dipertimbangin hehehe.
Makasih buat yang udah baca apalagi sampe review. Makasih banyak…
Masih ada yang mau lanjut?
Boleh Review?
Jaa Nee!
