Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.

.

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.

.

.

.

"Bukankah sudah jelas kukatakan waktu itu. Segera pergi dan jangan menampakkan dirimu didepan Sasuke lagi. Apa yang kau lakukan di sini?" kata Itachi dengan raut muka yang memanas dan kesal. Dia menyuruh gadis itu mengikutinya ke belakang mobilnya. Namun gadis di hadapannya ini hanya diam ketakutan.

"Hyuuga Hinata? Kau tidak mau bicara?"

"Maafkan aku Itachi-san. Aku tahu ini tidak benar. Tapi… aku benar-benar… Sasuke tidak bisa melepaskanku. Dia butuh aku. Dan aku―"

"Tidak. Jika kau menghilang sudah jelas dia tak butuh kau lagi. Kau yang membuatnya seperti itu. Dengar… apa yang menimpamu memang salah keluargaku. Tapi aku sudah memberikan semua kompensansi yang kau butuhkan. Kenapa kau masih menginginkan Sasuke? Kau harus melepaskannya! Dia sudah jauh lebih baik!"

"Kau salah. Apa yang kau lihat sekarang adalah… semua yang Sasuke lakukan untukku. Dia benar-benar mencintaiku. Ada orang yang membantu kami. Karena itu… kumohon tolong mengertilah. Kami benar-benar saling mencintai."

"Orang yang membantumu? Maksudmu… siapa?" kali ini Itachi tak berani memikirkan kemungkinan orang itu.

"Kau sudah tahu kan. Ada seorang gadis yang bersedia menjadi kekasih Sasuke. Sasuke dan gadis itu membuat kesepakatan untuk membantu kami. Dia gadis yang baik. Dia bahkan mengijinkanku tinggal dengannya."

"Apa maksudmu… Haruno… Sakura? Maksudmu… mereka… hanya berpura-pura saja?"

"Yah… namanya Sakura. Kau pasti sudah mengenalnya kan? Kudengar dari Sasuke kau juga sering bertemu dia."

"Apa dia tahu semuanya tentang kalian?"

"Tidak. Hanya masa lalu kami saja yang dia tidak tahu. Tapi yang lainnya dia tahu."

Itachi mendengus tidak percaya.

"Hei… Hyuuga… apa kau sudah gila? Apa yang kalian lakukan pada gadis itu!" bentak Itachi.

"Karena dia setuju membantu kami. Apa aku salah? Dia juga bilang tidak jatuh cinta pada Sasuke… Tak bisakah kau memberikan kami kesempatan?"

"Tidak! Karena aku yakin, Sasuke tidak benar-benar mencintaimu! Dia hanya kasihan padamu! Apa kau tidak tahu? Dan kau tidak berhak menahannya seperti itu! Bahkan melibatkan orang lain… kalian benar-benar tidak masuk akal! Bahkan dia berani-beraninya menipuku! Baiklah kalau kau yang memaksa. Aku akan segera mungkin memaksanya pindah ke New York!"

"Itachi-san tunggu dulu!"

Hinata berlutut di depan Itachi. Tapi Itachi tidak peduli sama sekali. Dia sudah terlalu kesal melihat gadis ini. Dia benar-benar tidak habis pikir. Pantas saja Sasuke bersikap biasa saja pada Sakura dan tidak peduli.

"Jangan bawa Sasuke pergi! Aku tak bisa hidup tanpanya. Tunggu sebentar saja. Biarkan aku memilikinya. Paling tidak… sampai aku menghilang. Kalau kau ijinkan aku memilikinya sebentar, aku benar-benar akan menepati janjiku. Aku akan menghilang demi dia."

Itachi berbalik menatap gadis yang sudah terisak itu. Di satu sisi dia memang kasihan. Tapi di sisi lain dia tidak bisa terima adiknya terus menerus menderita karena masa lalu.

"Benarkah kau akan menghilang dan menepati janjimu? Karena bagaimanapun kau tak akan pernah direstui oleh siapapun. Termasuk aku. Jika kalian terus memaksa, akulah orang yang pertama kali yang menentang. Aku tak mau adikku hidup dalam penyesalan."

"Asalkan aku menghilang… kau janji tidak akan mengatakan apapun padanya? Kau akan tetap berpura-pura tidak tahu?"

"Yah. Aku akan berpura-pura tidak tahu. Hyuuga, kau tentu harus tahu. Kau tak bisa selamanya seperti ini. Kau tidak bisa menahan Sasuke karena masa lalu kalian. Tidak bisa. Jika kau bersedia menghilang, aku akan membantumu. Dan untuk terakhir kalinya, jangan menemui Sasuke lagi."

Itachi meninggalkan gadis itu sendirian dan melaju dengan mobilnya. Rasa bersalah. Masa lalu. Menyedihkan sekali. Dia tak mau adiknya mengalami hal itu lagi.

.

.

*KIN*

.

.

"Oh kau sudah pulang?" ujar Sakura yang baru saja keluar dari kamar mandinya. Tadi dia hanya mengganti pakaian sekalian basah badan sebentar. Sakura melihat Hinata yang masuk ke rumahnya dengan tampang lesu luar biasa. Bahkan wajahnya merah seakan baru habis menangis. Buru-buru gadis itu menghampirinya.

"Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Sakura khawatir sambil menghampiri Hinata yang berjalan tanpa arah. Bahkan dia hampir menabrak meja makan. Buru-buru Sakura memegangi Hinata dan menuntunnya menuju tempat tidur.

Sakura mendudukkan gadis itu di atas tempat tidurnya dan Sakura ikut duduk di sampingnya.

"Ada apa? Kau darimana saja? Aku khawatir… kupikir kau… maksudku…" Sakura serba salah ingin mengatakan apa.

"Sakura…" panggil Hinata. Sakura menoleh ke arah gadis itu.

"Apakah kau… benar-benar tulus membantuku? Karena selama ini… sekalipun kau tidak pernah bertanya padaku… tentang masa laluku… tentang Sasuke padaku… kenapa kau mau membantuku tanpa tahu semuanya tentangku?" tanya Hinata.

Sakura terpaku mendengar pertanyaan gadis itu. Jujur saja, awalnya dia hanya ingin tahu seperti apa gadis yang setengah mati disembunyikan oleh Sasuke. Dan setelah tahu keadaan gadis ini dia jadi kasihan. Lalu mengetahui kenyataan bahwa keluarga Sasuke sudah pasti sangat pemilih tentang kriteria seorang menantu untuk mereka. Sekilas, Sakura merasakan hal itu.

"Sebenarnya… awalnya aku hanya ingin mengenalmu saja. Lalu tanpa sadar jadi ingin menolongmu setelah tahu kondisi kalian. Tentangmu dan masa lalumu itu bukan masalahku. Aku tidak perlu menanyakan suatu hal yang mungkin membuatnya merasa sedih. Aku akan mendengarkannya jika kau sendiri yang mau membicarakannya. Dan jika saat itu tiba, aku akan jadi pendengar yang baik," jelas Sakura dengan senyum lebar di wajahnya.

Hinata melihat ketulusan lagi di wajah polos Sakura.

"Aku yang tak punya siapa-siapa lagi ini… ternyata masih bisa memiliki teman yang pengertian seperti ini. Kau gadis yang baik," lanjut Hinata.

"Tidak. Aku hanya merasa kalau situasi kita sedikit mirip. Aku juga tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Orangtuaku sudah meninggal. Aku hanya anak tunggal. Dan aku tidak punya siapapun yang dekat denganku kecuali teman kampusku. Tapi aku bisa menikmati hidup."

"Orangtuamu… sudah meninggal?" tanya Hinata.

"Yah. Kecelakaan. Klasik ya? Semua drama TV juga begitu. Seorang gadis miskin yang tidak punya orangtua lagi. Kelihatannya… aku seperti itu ya. Sayang sekali belum ada pemeran pria yang jadi pangerannya," kelakar Sakura.

Untuk sesaat, Hinata mulai merasa tenang. Dia memang gadis yang baik. Dan Sasuke sama sekali tidak salah memilih orang untuk mengerti keadaan dirinya. Tapi Hinata belum sepenuhnya yakin. Apakah benar gadis ini bisa menjaga perasaannya nanti?

.

.

*KIN*

.

.

Ino tidak masuk kuliah. Katanya dia demam sejak kemarin malam. Sebenarnya Sakura tidak punya orang yang dikenalnya selain Ino di kampus ini. Sakura memang tertutup dan tidak terlalu pandai membuka percakapan dengan orang asing. Jadinya selama dua tahun dia kuliah tetap saja tidak punya teman. Rasanya memang menyedihkan.

Dan untungnya hari ini hanya ada satu mata kuliah. Kelas juga sudah selesai. Sekarang dia hanya perlu pulang. Ahh tidak. Dia perlu mencari kerja sambilan baru. Sasuke belum memberinya uang. Dan dia malas memintanya langsung. Kesannya dia benar-benar gadis materialistis. Meskipun memang kenyataan semua wanita memang butuh uang dan materi. Tapi ya… paling tidak dia harus bersabar. Sasuke pasti sibuk setengah mati sekarang. Dia mulai tidak mengantar dan menjemput Ji-Han lagi. Dan dia sudah hapal betul itu.

Baru akan keluar dari kampusnya, Sakura melihat mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya. Sepertinya dia kenal mobil itu. Tapi… apakah itu Itachi?

Sakura masih menerka-nerka siapa orang yang berhenti di sampingnya itu, dan tak lama kemudian, seorang wanita dengan dandanan anggun dan terhormat keluar dari sana. Sakura langsung melongo. Astaga! Apakah ini hari sialnya?

"Bisa kita minum kopi sebentar?" tanyanya pada Sakura.

Kalau bisa menolak, apa yang akan terjadi dengannya?

.

.

*KIN*

.

.

Mereka tiba di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus Sakura. Duduk satu meja dengan orang dari kalangan kelas atas memang berbeda. Sakura hanya sanggup menunduk saja, seolah kepalanya terasa berat untuk menatap wanita anggun dan terhormat di depannya ini. Apalagi yang diinginkan olehnya?

"Aku sudah melihat syuting kencan kalian. Sepertinya Sasuke benar-benar menyukaimu ya? Kalian tampak alami walaupun di depannya ada kamera," ucap wanita aristocrat itu.

Alami dari mana? Itu murni 100% tanpa campuran adalah akting!

Mana ada Sasuke bersikap begitu manis kalau bukan di depan kamera. Yah mereka juga memang melakukan itu hanya di depan kamera dan publik. Bukan untuk serius.

"Apa Sasuke pernah mengatakan sesuatu padamu soal keluarganya? Mengingat kita pernah bertemu sebelum ini," ujar wanita itu lagi.

"Tidak pernah. Sasuke… tidak pernah mengatakan apapun soal keluarganya," jawab Sakura gugup. Astaga. Mungkin jantung Sakura akan segera meledak karena terlalu tegangnya dia berada di depan ibunya Uchiha bersaudara ini!

"Benarkah? Dia tidak mengatakan apapun? Kudengar juga… kau sudah pernah bertemu dengan putra sulungku. Kalian juga sudah saling mengenal bukan?"

Waw! Ancungan 10 jempol untuk bibi ini. Dia bahkan tahu Uchiha Itachi mengenalnya. Apakah ibunya ini detektif? Yah paling tidak itu bukan hal sulit untuk orang sekaya keluarga Sasuke.

"Ya… kami memang sempat bertemu dan berkenalan," jawab Sakura masih gugup luar biasa.

"Sebenarnya bukan tanpa alasan aku datang menemuimu dengan sengaja begini. Kulihat sepertinya Sasuke benar-benar menyukaimu. Aku belum pernah melihat anakku begitu serius akan sesuatu kecuali dunia aktingnya. Karena itu dia pasti akan mendengarkan apapun katamu kan?"

Hah? Apapun kata Sakura? Sepertinya itu mustahil!

"Hah? Ohh itu tidak benar. Sasuke sama sekali tidak mendengarkanku―maksudku… kami hanya menjalin hubungan biasa. Tidak yang aneh-aneh," jelas Sakura, takutnya Mikoto salah paham.

"Sebenarnya aku juga tidak yakin. Tapi paling tidak kau bisa membantu walau sedikit, karena kau orang yang dipilih oleh anakku sebagai kekasihnya di depan seluruh publik. Hubungan Sasuke dan Ayahnya kurang baik. Selama ini Sasuke tidak pernah pulang ke rumah dan bertemu Ayahnya. Mereka memang orang yang keras kepala. Tapi aku ingin anak dan suamiku hidup rukun. Bisakah kau membuat Sasuke berbaikan dengan Ayahnya? Kalau kau bisa melakukannya aku akan merestui hubungan kalian meski… kau anak yang tanpa orangtua. Aku tidak mengharapkan banyak. Hanya… agar Sasuke bisa pulang ke rumah dan berbaikan dengan Ayahnya saja."

Sakura memang pernah ingat kalau Sasuke tidak mau pulang ke rumah karena ayahnya. Tapi Sakura tidak tahu ada apa sebenarnya. Waktu pertama kali datang juga… Itachi memberitahu soal ayahnya.

"Tapi… saya tidak yakin ini akan berhasil. Sasuke… sangat keras kepala," kata Sakura.

"Aku tahu. Kau bisa mulai mengenal Ayahnya dulu. Suamiku juga ingin bertemu dan melihatmu. Tapi karena dia terlalu sibuk, jadi tidak sempat memanggilmu. Bagi kami, seorang gadis yang diakui sebagai kekasih harus dikenalkan kepada kami. Agar kami tahu, seperti apa gadis yang dipilih oleh anak-anak kami."

Hah? Serius ya?

"Kalau kau sempat, datanglah mengunjungi suamiku. Dia pria yang baik. Meski tampangnya menyeramkan dia tidak akan menakutimu. Aku tunggu kabar baiknya."

Mikoto mengambil tasnya dan langsung meninggalkan Sakura sendirian di kafe itu. Apa katanya?

Hah?

Mengenal ibunya saja sudah cukup membuat jantungnya kehabisan darah karena saking tegangnya. Ini mau ditambah ayahnya pula! Yang benar saja!

Tapi sebenarnya, Sakura juga sedikit penasaran. Ada masalah apa antara ayah dan Sasuke? Kenapa begitu serius dipikirkan?

Dan lagi… kalau selama bertahun-tahun Sasuke tidak pernah pulang ke rumah, sepertinya itu masalah yang sedikit rumit. Sepertinya Sakura semakin yakin kalau artis sial itu adalah anak keras kepala yang pembangkang. Huh! Bisa mengatakan Sakura keras kepala? Memangnya dia apa? Dia jauh lebih keras kepala. Kepala batu yang ada di air terjun Niagara!

.

.

*KIN*

.

.

Sasuke sedang serius membaca naskahnya. Sepertinya perannya kali ini agak sedikit cengeng. Berulang kali dia harus memerankan adegan yang mengharukan dan penuh isak tangis. Memangnya dia secengeng itu? Ahh~ ini bisa merusak image-nya. Sialan Kakashi!

"Yo Sasuke!"

Sasuke menoleh ke arah sampingnya. Kakaknya kembali datang. Padahal dia sudah berulang kali mengatakan untuk tidak menemuinya di saat syuting seperti ini. Sasuke melirik dengan malas kakaknya itu, yang kini sudah mengambil kursi untuk duduk di sebelahnya.

"Kalau Kakak mau cari Kakashi Nii-san dia ada di ruang kostum," kata Sasuke sinis.

"Wuah! Memangnya aku harus mencari Kakashi? Aku mau melihatmu tahu! Ibu bilang dia ingin bertemu denganmu. Kau tidak kasihan pada Ibu? Dia merindukanmu tahu! Sudah cukup bertingkah jadi anak keras kepala. Nanti kau jadi anak durhaka loh!" ceramah Itachi.

"Apa aku peduli? Aku tidak peduli," balas Sasuke dingin.

"Astaga anak ini. Benar-benar kepala batu. Baiklah terserah padamu. Tapi… sepertinya kau terlalu sibuk ya sampai tidak memperhatikan kekasihmu itu. Dia pasti rindu padamu setengah mati."

"Dia bukan gadis seperti itu. Bagaimana mungkin dia bisa merindukanku kalau dia tidak menyukaiku," gumam Sasuke.

"Hah? Sakura tidak menyukaimu?" kata Itachi cepat-cepat.

Sasuke langsung salah tingkah begitu kakaknya ternyata mendengar gumamannya. Ini bisa jadi masalah.

"Ahh maksudku… dia tidak suka kalau aku sibuk. Mungkin dia sedang kesal karena aku tidak menemuinya. Nanti aku akan menelponnya dan mengajaknya makan malam mumpung aku bisa pulang cepat hari ini," kilah Sasuke.

"Ahh~ kau mau mengajaknya makan malam? Padahal aku ingin mengajaknya duluan."

"Hei Nii-san. Sudah kubilang untuk tidak usil dengan kekasihku kan? Jangan-jangan kau menemuinya setiap aku tidak bisa menemuinya ya?" kata Sasuke curiga.

"Wuah! Adikku benar-benar jenius! Yah aku memang menemui selagi kau tidak menemuinya. Kan kasihan dia merasa punya kekasih tapi kekasihnya terus menerus mengabaikannya. Bukankah itu mubazir namanya?"

"Aku tidak mengabaikannya. Aku sibuk dan tidak sempat menemuinya. Kau mau main-main dengannya ya?"

Itachi menyeringai pada adiknya. Dan dengan sorot mata yang serius, Itachi menatap dalam mata adiknya yang sedingin es itu.

"Kau lupa aku pernah bilang apa? Aku menyukai gadis itu. Kau pikir itu main-main? Jadi silahkan buktikan sendiri apakah aku main-main atau tidak."

Sasuke jadi sedikit bingung dengan kata-kata kakaknya. Kalau kakaknya bicara begitu artinya dia serius dengan apa yang diinginkannya. Sasuke mengenal dengan baik kakaknya. Tapi… dia hanya tidak yakin benarkah gadis seperti Sakura yang bisa meluluhkan hati playboy cap buaya itu? Tentu saja Itachi pasti dengan mudah bisa menemukan gadis seseksi dan secantik yang jauh dari sosok Sakura yang lugu dan tidak cantik juga tidak seksi itu. Apa yang bisa dibanggakan dari gadis payah seperti itu?

"Ahh~ sebelum aku lupa. Sekali saja, sekali kau membuat celah untukku dan membiarkan gadis itu terluka, percayalah… aku orang pertama yang akan mengambilnya darimu. Kau tentu tidak berencana ingin membuatnya terluka kan? Apalagi kau mengenalkan dia sebagai gadis yang kau sukai sebagai kekasih. Bukan orang lain!" lanjut Itachi ini Sasuke yakin kakaknya serius. Tapi… bagaimana mungkin?

.

.

*KIN*

.

.

Sasuke jadi gelisah. Syuting pun tidak dia perhatikan dengan serius. Bahkan sutradaranya mulai marah-marah padanya karena dia dianggap tidak serius. Pikirannya terganggu dengan kata-kata kakaknya.

Setelah syuting, Sasuke langsung menghubungi ponsel Sakura. Syukurlah gadis itu mengangkatnya. Dan tanpa pikir panjang lagi Sasuke mengajak gadis itu pergi makan malam. Hinata memaklumi itu karena mereka memang sudah seharusnya terlihat bersama. Publik akan curiga kalau mereka tidak pernah pergi keluar sama sekali.

Sakura menunggu di depan rumahnya seperti biasa. Mobil Sasuke datang. Awalnya Sakura menawarkan apa ingin melihat Hinata dulu, tapi pria itu memilih untuk langsung pergi saja.

Diam-diam, Itachi melihat sikap aneh dari adiknya itu. Dia yakin adik lucunya itu mulai terganggu dengan apa yang dia katakan tadi siang. Itu lebih baik untuk Sakura dan Sasuke. Sudah seharusnya Sasuke melupakan gadis itu. Gadis yang menahan Sasuke selama ini.

.

.

*KIN*

.

.

Sakura menatap tidak percaya pria di depannya ini. Tiba-tiba mengajak makan malam dan membawanya ke restoran mahal. Lalu memesan semuanya sendiri, juga untuk bagian Sakura dan makan sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Apa dia kumat lagi? Sakura harus memilih waktu yang tepat menanyakan hal yang mengganjal itu. Tapi… tidak tahu kapan kepala batu air terjun Niagara ini bisa tenang.

"Hei… ada apa? Apa kau menang lotre atau baru dapat gaji? Mengajakku makan di restoran mewah begini," kata Sakura sambil memperhatikan isi restoran mewah yang berada di lantai paling atas gedung berlantai 20 yang merangkap sebagai hotel ini.

Sasuke tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Sakura. Dia tetap lanjut makan tanpa peduli apapun.

"Kalau kau sudah gajian, bukannya kau harus membayarku? Asal kau tahu aku ini baru saja di pecat dari kerja sambilanku. Dan aku butuh uang. Kau belum membayarku selama ini. Dan lagi aku kan juga butuh yang lainnya," lanjut Sakura.

"Heh! Makan saja dulu! Kenapa kau berisik sekali hari ini…" ujar Sasuke sambil menatap geram pada gadis di depannya ini. Sakura menurut dan mengambil sendok dan garpunya. Lalu mulai makan seperti biasa.

Keadaan berubah hening. Mereka tidak bicara satu sama lain. Kali ini Sasuke yang resah karena gadis ini hanya diam saja.

"Apakah tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Sasuke penasaran.

"Tadi kau suruh aku makan," balas Sakura.

"Apa kau… bertemu Kakakku lagi?" tanya Sasuke mengabaikan kata Sakura sebelumnya.

"Iya," jawab Sakura tanpa dosa.

"Hei!" teriak Sasuke.

Seluruh pengunjung restoran langsung menoleh ke tempat mereka. Sakura sendiri sampai terlonjak kaget. Menyadari sikapnya berlebihan, Sasuke mengatur sikapnya lagi.

"Kau kan sudah kubilang untuk tidak bertemu si playboy itu lagi. Kenapa masih menemuinya!" kata Sasuke sedikit geram.

"Bukan aku. Tapi Kakakmu. Kami selalu bertemu tidak sengaja. Ahh tidak juga. Dia yang menelpon untuk mengajakku makan siang. Memangnya salah? Kami kan berteman."

"Kalian bertukar nomor telepon? Apa kau menelponmu setiap malam jika aku tidak tahu?"

"Aku tidak memberikan nomor teleponku. Dia sendiri yang memasukkan nomornya dan mencatat nomorku. Kami juga tidak pernah menelpon setiap malam bahkan saat kau tidak tahu. Aku bukan orang yang menyembunyikan hubungan dengan orang lain! Tidak seperti seseorang!" sindir Sakura.

"Kau menyindirku ya. Kau kira kau siapa menyindirku begitu! Jadi kau mau balas dendam padaku?"

Sakura menatap malas pada Sasuke dan menghentakkan alat makannya ke meja dengan kesal. Matanya mulai panas. Kenapa Sasuke menuduhnya seperti itu? Memangnya dia yang salah di sini?

"Aku memang bukan siapa-siapa untukmu! Bahkan kau sendiri tidak pernah menganggapku siapapun untukmu. Kenapa aku harus balas dendam? Bukankah hubungan kita hubungan bisnis? Dan kau… hanya perlu sandiwaraku kan? Selama ini aku sudah cukup baik melakukan banyak hal untukmu. Tapi apa yang kau lakukan? Menuduhku yang tidak-tidak dengan Kakakmu sendiri? Jadi ini tujuanmu mengajakku makan malam? Supaya kau bisa memarahiku sepuasmu?"

Sasuke diam. Sebenarnya tujuannya bukan seperti itu. Kebiasaan buruknya kalau sedang marah. Dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu.

"Sebenarnya aku… tidak bermaksud…"

"Kau memang menyebalkan tahu! Dasar kepala batu Niagara!"

Setelah mengatakan hal itu Sakura langsung bergegas pergi. Sakura tidak peduli Sasuke yang memanggilnya sedari tadi. Begitu keluar dari restoran itu, Sakura langsung berlari menuju lift karena menyadari pria itu juga mengejarnya.

Beruntungnya ketika Sakura datang ada pintu lift yang terbuka dan Sakura langsung masuk. Sasuke melihatnya masuk lalu berniat mengejarnya, tapi pintu liftnya sudah tutup.

Di dalam lift itu, Sakura tidak tahan lagi menyembunyikan airmatanya. Kenapa dia harus menangis? Kenapa?

Apa sesakit ini rasanya? Apakah putri duyung juga merasakan sakit yang menderita begini begitu pangerannya tidak mengenalinya dan tidak bisa mendengar suaranya?

.

.

*KIN*

.

.

Sasuke kesal karena kalah cepat dari lift itu. Sasuke mencoba lift lainnya dan berniat menyusul Sakura. Dia memang keterlaluan tadi itu. Tidak seharusnya dia bicara sekasar itu. Tentu saja gadis itu akan terluka. Dia hanya tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau sampai kakaknya melihat celah ini. Kalau sampai Sakura marah padanya. Dia bisa berada dalam masalah. Hinata juga akan berada dalam masalah. Dia benar-benar tidak tahu begini jadinya.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah yakin Sasuke tidak bisa mengejarnya, Sakura berjalan menyusuri trotoar di pinggir jalan itu. Lampu kota Tokyo sudah menyala seluruhnya. Malam kian larut. Dari restoran menuju rumahnya perlu waktu satu jam. Dia tak yakin sanggup berjalan sejauh itu. Menunggu bis di malam hari sangat lama. Salah-salah dia bisa bertemu penjahat malam di Tokyo.

Seharusnya dia tidak marah-marah begitu juga. Tapi yang salah kan kepala batu Niagara itu! Memang salahnya Sakura?

Sakura baru akan bicara dengannya lagi kalau kepala batu itu mau meminta maaf dan berlutut di depannya. Meskipun sepertinya tidak mungkin orang seperti itu mau berlutut di depannya. Yah… paling tidak dia ingin Super Star sial itu minta maaf. Biar bagaimanapun dia yang bersalah.

Sakura sudah berjalan hampir setengah jam. Lihat! Artis itu bahkan tidak menyusulnya. Tapi… Sajyra sengaja lewat jalan pintas menuju rumahnya. Mungkin Sasuke tidak berhasil menemuinya di jalan.

Tidak-tidak. Jangan berharap yang bukan-bukan. Kalau memang niat dia pasti menemukannya. Sasuke tak pernah berniat melakukan sesuatu untuk Sakura.

Karena sudah letih untuk berjalan, akhirnya, Sakura duduk di pinggir trotoar yang dekat dengan taman itu. Kebetulan ada bangku di sana.

Sakura memilih duduk di bangku itu dan menunduk dalam. Gawat. Dia mulai mengantuk. Sakura menggosok kedua matanya dengan sebelah tangannya. Dia tidak makan dan pulang jalan kaki. Benar-benar hebat!

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Sakura mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria yang berdiri di depannya. Sasuke?

Rupanya dia datang. Sakura langsung berdiri dan berwajah senang.

"Akhirnya kau datang! Kupikir kau tidak―"

Raut wajah Sakura kembali berubah. Itu bukan Sasuke. Wajah dan suaranya memang mirip. Sayang sekali.

"Kau menunggu seseorang di sini?" tanyanya lagi.

"Tidak. Aku hanya lelah sebentar. Lalu Itachi-san sendiri apa yang kau lakukan?" tanya Sakura memasang wajah ceria.

"Sudah malam. Ini dingin sekali. Kau bisa sakit lagi. Mau kuantar pulang?" tawar Itachi.

"Hah? Tidak usah. Aku tidak mau merepotkan―"

"Dilarang menolak! Kau tentu tahu kan, maniak di Tokyo sudah banyak. Kau mau dikuntit oleh maniak seperti itu? Seharusnya ada orang yang menjagamu di malam hari begini. Baiklah kau tidak takut yang seperti itu. Tapi bagaimana kau bisa melawan mereka dengan kondisi seperti ini? Mengantuk dan lelah."

Akhirnya… Sakura tak punya pilihan lain. Dia memang tidak boleh menolak kebaikan orang lain. Lagipula ini juga salah si kepala batu Niagara itu. Biar saja dia yang susah. Sekali-kali kepala batu itu perlu di beri pelajaran.

.

.

*KIN*

.

.

"Kita sudah sampai. Maaf aku parkir agak jauh ada mobil lain yang―"

Itachi menghentikan kata-katanya begitu dia melirik gadis di sampingnya. Dia tertidur dengan pulasnya. Ide bagus untuk membuntutinya tadi. Meskipun kini Itachi jadi bertanya-tanya kenapa dia jadi seperti ini. Kalau bukan Sakura tadi, mungkin dia bisa disangka stalker nyasar. Udara sudah bertambah dingin. Dan kalau Sakura tak bangun juga mereka bisa bermalam di dalam mobil.

Akhirnya mau tak mau, Itachi keluar dari mobilnya dan berputar menuju pintu penumpang. Dengan hati-hati pria itu menggendong Sakura di punggungnya. Gadis itu nampak tidak peduli apa yang terjadi dan tetap melanjutkan tidurnya. Kelihatannya dia benar-benar lelah.

Itachi sempat mendengar gadis itu mengoceh banyak. Tapi itu hanya igauan saja. Dan di akhir igauannya dia mendengar nama adiknya disebut. Apakah tadi… gadis ini baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan?

"Apa dia yang menelponmu untuk minta digendong begitu?" sindir seseorang.

Di depan Itachi tak jauh darinya, Sasuke berdiri di depan mobilnya sambil bersedekap dada.

"Tidak. Kami hanya bertemu kebetulan. Dia kelelahan karena berjalan jauh dan mengantuk. Aku tidak tega membangunkannya jadi kuputuskan untuk mengantarnya masuk ke rumahnya," jelas Itachi santai.

"Kalau begitu kau bisa berhenti sekarang. Karena aku yang akan membawanya masuk." Sasuke maju mendekati kakaknya dan mengambil Sakura yang masih tertidur itu di punggung kakaknya. Sasuke membopongnya dan menatap kakaknya sinis.

"Aku tidak keberatan kau mau jadi calon kakak ipar yang baik. Tapi kau harus bedakan sikapmu pada gadis yang kau mainkan dan kekasih adikmu. Kalau kau menemukannya dimana pun, kau harus memberitahuku agar aku bisa menjemputnya. Jadi tidak perlu merepotkanmu." Setelah mengatakan hal itu, Sasuke naik ke tangganya dan membawa pergi gadis itu.

Itachi tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Sudah pasti adiknya cemburu bukan? Itu hal yang bagus. Tapi… entah kenapa… Itachi mulai tidak suka Sasuke menaruh perhatian pada gadis itu. Itachi hanya ingin dia saja yang memperhatikannya.

.

.

*KIN*

.

.

"Sepertinya Sakura mudah sekali sakit. Dia kelelahan tadi. Tolong beritahu aku kalau keadaannya aneh," ujar Sasuke setelah menaruh Sakura di kasurnya.

Hinata awalnya terkejut melihat kekasihnya membopong gadis itu dengan hati-hati. Dan wajahnya juga terlihat tidak biasa. Apa yang terjadi dengannya?

"Hmm… baiklah aku mengerti. Kau sudah mau pulang?" tanya Hinata.

"Yah. Aku besok ada syuting. Kau hati-hati ya."

"Sasu," panggil Hinata.

Sasuke menoleh pada gadis yang dia cintai itu dengan senyum tipis.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hinata.

"Yah. Aku baik-baik saja. Kenapa?"

"Tidak. Aku hanya cemas. Hati-hati ya…"

Yah… Hinata hanya cemas. Cemas, jika nanti ada yang berubah pada kekasihnya itu.

.

.

*KIN*

.

.

Hari ini Sakura tidak ada kuliah apapun. Maklum dosennya mendadak tidak bisa menghadiri perkuliahan. Jadi Sakura memutuskan untuk berada di perpustakaan kampus sambil mencari bahan untuk ujian nanti. Sejak pagi tadi Sakura sengaja mematikan teleponnya. Jadi tidak ada yang perlu mencarinya. Siapapun!

Dia mulai bosan melihat kedua kakak beradik yang saling merasa kesal kalau salah satunya dilebihkan!

Apa-apaan mereka itu!

Satunya keras kepala satunya lagi egois. Ihh~ bagaimana bisa Sakura bertemu kakak beradik menyebalkan itu. Yah paling tidak dia tidak perlu tahu itu. Toh sebentar lagi perannya akan selesai. Tidak usah khawatir lagi. Setelah menerima uangnya dia bisa meninggalkan artis sial itu.

Sakura berhenti menulis. Kata-kata ibu Uchiha bersaudara itu jadi teringat kembali. Sasuke sangat keras kepala bahkan tidak mau bertemu ayahnya selama ini. Memang ada apa sih? Tapi dipikir-pikir, Sakura belum pernah sekali pun bertemu dan melihat ayahnya. Memang seperti apa sih ayahnya mereka? Ibu mereka begitu cantik. Apakah… ayahnya juga tampan? Mereka berdua mewarisi wajah yang begitu tampan. Sudah pasti semua gadis akan bertekuk lutut dan pingsan di depan mereka. Tapi satunya playboy satunya lagi sulit berkomunikasi dengan orang lain. Tapi dipikir sayang juga mematikan ponsel. Kalau ada perlu bagaimana nanti? Ahh sebaiknya Sakura menyalakan ponselnya saja. Agak lama menunggu ponselnya menyala, Sakura mengembalikan semua buku yang dibacanya. Meski sebenarnya semua buku itu tidak sepenuhnya dibacanya.

Baru akan beranjak dari tempat duduknya ponselnya langsung bergetar. Ya ampun, baru juga dinyalakan malah sudah berbunyi. Sakura melihat nomor siapa yang memanggilnya. Kalau sampai salah satu dari mereka bersaudara, lihat saja!

Ternyata Ino! Tumben dia menelpon di saat seperti ini. Bukannya dia bilang tidak mau datang ke kampus karena sibuk dengan restorannya? Aneh!

"Halo Ino ada apa? Hah? Sekarang? Baik! Baik! Aku akan sampai 20 menit―ahh tidak! 10 menit lagi! Tunggu ya!" jelas Sakura berbinar. Senyumnya tak lepas dari wajahnya! Akhirnya!

.

.

*KIN*

.

.

"Benar-benar 10 menit. Hei kau niat sekali sih… naik apa kemari? Kau berlari? Memangnya kau atlit olimpiade?" ceramah Ino yang geleng-geleng kepala melihat temannya terengah-engah sampai di depan restorannya karena kecapekan.

"Hhh… ituh… tidak penting… terima kasih ya… mau memberikuh… pekerjaan…" kata Sakura bersemangat sambil mengatur nafasnya yang naik turun karena berlari sepanjang perjalanan tadi.

"Yah sudahlah. Maaf kau tidak sempat istirahat. Kita sedang sibuk. Jadi segera ganti bajumu dan layani tamu ok! Aku tunggu lima menit," kata Ino sambil menyerahkan celemek dan peralatan lain pada Sakura.

Sakura langsung berganti pakaian dan datang melayani tamu. Dipikir-pikir baru kali ini dia datang dan langsung menjadi pegawai kerja sambilan di restoran Ino. Karena biasanya sudah ada orangnya. Mungkin kali ini sangat ramai. Yah entah kenapa jadi begitu ramai. Sakura dengan antusias melayani tamu dan membawanya pesanan. Kini dia membawa pesanan untuk meja 13. Sebenarnya itu tugas dari Ino sebelumnya, jadi Sakura yang ambil alih.

"Silahkan dinikmati…" ujar Sakura setelah mengantar pesanan kepada meja 13 yang ternyata seorang pria setengah baya dengan setelan rapi yang tampak mahal. Pria itu tampak seperti orang kaya yang terhormat. Tapi kenapa makan di restoran sederhana begini ya? Dan lagi wajahnya memang cukup menyeramkan. Lebih mirip bodyguard kasar. Sakura sampai bergidik ngeri.

"Yah… oh tunggu! Kau… kekasih putraku itu kan?" tanya pria itu.

Sakura melongo mendengar kata-kata pria paruh baya itu. Masa sih?

"Hah?" respon Sakura.

"Ahh ternyata benar. Istriku seringkali menceritakan dirimu padaku. Tapi aku tidak sempat bertemu karena sibuk. Perkenalkan, aku Ayahnya Sasuke. Uchiha Fugaku. Dan kau pasti Haruno Sakura kan?"

Hah? Sakura tak bisa berpikir benar. Masa sih kebetulan seperti ini? Ini tidak mungkin. Di saat sedang tidak ingin bertemu keluarga Sasuke ataupun Sasuke sendiri malah bertemu ayahnya. Bagaimana ini?

"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya ayah Sasuke.

"Oh, sebenarnya… saya baru saja bekerja di sini, jadi… tidak mungkin… maksud saya…"

"Baiklah. Aku tunggu setelah kau selesai bekerja saja. Aku akan datang lagi setelah restorannya selesai. Oh ya, bagaimana kalau kita makan malam?"

.

.

*KIN*

.

.

"Ayahnya Sasuke? Paman itu?" ulang Ino yang tampak aneh karena Sakura begitu lama melayani tamu pertamanya. Sekarang mereka sedang mengobrol sekaligus melayani tamu.

"Aku benar-benar tidak tahu kalau itu Ayahnya… bagaimana? Dia mau datang lagi dan bicara padaku… bertemu Ibunya saja sudah membuat jantungku nyaris kehabisan darah karena tegang… lalu ayahnya pula! Bagaimana ini?" rengek Sakura.

"Itu kan masalahmu. Sudah seharusnya kau memang mengenalkan diri pada keluarganya. Secara kau juga tidak punya orang tua. Bukankah hal bagus menjalin hubungan baik dengan keluarga kekasihmu?" timpal Ino.

"Bukan itu! Kau tidak mengerti… kenapa pula harus bertemu tidak sengaja sih?" rutuk Sakura.

"Kurasa bukan tidak sengaja. Paman itu adalah langganan tetap kami. Dia sering makan siang di sini. Kadang dia makan bersama beberapa orang yang sama dandanannya seperti dia. Tapi kebanyakan sering makan sendiri. Dan itu… kira-kira sudah berlangsung tiga tahun," jelas Ino.

"Oh ya? Ayah Sasuke suka makan di sini? Memangnya restoranmu ini buka sejak kapan sih?"

"Sejak aku lahir. Dulu memang sedikit orang yang tahu. Sekarang sudah cukup banyak dan kau lihat… sekarang jadi sangat terkenal. Dan aku ikut kewalahan. Sudah cukup! Ayo kerja lagi. Kau tidak mau kan melihat Ibuku mengamuk karena kita ngobrol dari tadi," ujar Ino.

Berarti ayahnya sering kemari. Apakah restoran Ino adalah restoran favorit ayah Sasuke? Tapi tidak sekali pun Sasuke kemari. Bahkan Sakura ragu apakah Sasuke pernah kemari. Itachi juga sama. Ada apa ya?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Holaa minna... maaf telat yaa... mungkin nanti akan saya langsung update chap selanjutnya. ini berhubung cuma satu yang bisa saya update. maaf kalo ada typonya yaa...

sekali lagi maaf ya yang udah review, tapi kali ini saya tetep gak akan membalas review yang masih ngotot soal pair. itu keputusan mutlak saya. mohon dimengerti. saya juga gak memaksa siapapun yang baca fic ini buat review. hanya yaa... untuk kenyamanan bersama aja.

bales review...

Racchan Cherry-desu : makasih udah review senpai... makasih udah koreksi yaa hehehe iya kadang emang suka ketuker. semoga yang ini gak ada lagi yaa hehehe

Akasuna Sakurai : makasih udah review senpai... ahahah iya kok sebentar lagi pasti dikasih tahu konfliknya. ditunggu aja yaa heheh

haruchan : makasih udah review senpai... makasih banyak sarannya hehhee hmm, karena fic ini udah rangkup alurnya jdi kayaknya hasil akhir bisa saya pertimbangkan hehhee

pinkcherry : makasih udah review ny-chan... hehehe iya gak papa kok sya seneng malah hehehe iya ini udh update kok

asa : makasih udah review senpai... maaf gak bisa update kilat yaa ini udah review hehehe

UchihaYuki Cherry : makasih udah review senpai... ahahah iya sebenernya fic ini emang terinsipirasi dari cerita putri duyung. ya semoga aja gak bakal begitu akhirnya hehhee

Uchiha Ratih : makasih udah review senpai...

Kumada Chiyu : makasih udah review senpai... ahahahah kan tuntutan cerita kok ehehhe

: makasih udah review senpai... hehhehe namanya aja tuntutan cerita ya harus begitu kalo gak gitu gak dapet feelnya heehe

Hanna Hoshiko : makasih udah review Hanna... hehhee oke deh ini udah lanjut kok

hn : makasih udah review senpai... hehehe iya ini udah update kok...

aiko : makasih udah review senpai... maaf gak bisa update cepet ya ini udah update lagi hehehe

tataruka : makasih udah review senpai... ini udah lanjut kok hehhee, iya nanti liat chap mendatang yaa hehhee

sami haruchi 2 : makasih udah review senpai... heheh iya ini ada penjelasannya, dikit sih heheh biar penasaran lagi

Sakura Zouldyeck : makasih udah review senpai... maaf ya updatenya gak bisa cepet ini udah update lagi hehe

Febri Feven : makasih udah review senpai... iya ini udah lanjut lagi

Meguharu Yuka : makasih udah review senpai... hehehe ini ada penjelasannya walo dikit sih bukan kok tenang aja heheh

.9 : makasih udah review senpai... iya ini udah lanjut

fitri komariah : makasih udah review senpai... ahahah iya emang rada nyontek drama dikit sih heheh makasih udah suka...

MKUchiharuno : makasih udah review senpai... maaf gak bisa update kilat yaa tapi ini udah update lagi...

Iqma96 : makasih udah review senpai... iya ini udah update lagi kok hehhee

qori Hidarikikino : makasih udah review senpai... hehehe iya ini udah lanjut lagi kok heheh

piscesaurus : makasih udah review senpai... makasih banyak supportnya heheh saya senang tetep ada yang nyemangati saya hehehe

haha : makasih udah review senpai... iya ini udah update maaf ya kalo telat hehhe

emili : makasih udah review senpai... iya ini udah lanjut lagi hehhe

Animea-Khunee-Chan : makasih udah review senpai... ahahah makasih banyak udah suka, tapi jangan manggil senpai yaa Kin aja gak papa kok heehe iya ini udah lanjut ehheheheh

sekali lagi terima kasih banyak yang udah baca palagi sampe review. saya tegaskan sekali lagi ya, kalo mau ngotot soal pair ataupun chara lagi gak akan saya tanggapi. bukan apa, saya gak mau terjadi hal-hal yang tidak nyaman kalo kita terus-terusan berdebat hal yang sama. jadi saya hanya luruskan, kalau memang tidak suka fic ini saya gak memaksa baca apalagi diliat. alangkah baiknya kalo kita bersama menghargai pendapat satu sama lain.

Jaa Nee!