Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Ternyata benar-benar dijemput. Ino dan Sakura sampai melongo melihat paman itu, Uchiha Fugaku, begitu setia menunggu di luar restoran. Ini sih terlalu niat. Rasanya tidak benar ini.
Setelah berpamitan dengan Ino dan keluarganya, Sakura langsung pergi dengan ayahnya Sasuke. Mereka pergi menuju restoran mewah tempat yang pertama kali dimana Sasuke membawa Sakura makan malam. Kelihatannya selera ayah dan anak ini sama.
"Kau mau pesan apa? Makan saja. Kau pasti belum makan malam kan?" tanya Uchiha Fugaku.
"Ah, sebenarnya tidak usah repot begini Paman," ujar Sakura sambil menahan malu.
"Hmm… sepertinya memang terasa asing ya kalau kita sendiri yang bertemu. Jadi terasa canggung. Istriku bilang, kau sudah bertemu dengan putra sulungku. Bahkan kau sudah cukup dekat dengan Itachi. Aku hanya ingin tahu, seperti apa gadis yang bisa menarik perhatian kedua anakku. Di luar dugaan, kau memang menarik ketika pertama kali dilihat," jelas Fugaku.
Sakura yang menunduk sedari tadi itu hanya diam saja. Wajahnya sudah memanas tidak karuan. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh paman ini 100 persen meleset. Mana ada kedua orang itu tertarik dengan Sakura. Mereka cuma main-main saja. Satunya playboy dan satunya lagi cuma untuk kamuflase. Mana ada Sakura mampu menarik perhatian mereka. Itu benar-benar tidak masuk akal! Dan lagi apakah sebegitu susahnya menarik perhatian Sasuke? Yah kalau dilihat dari segi kepribadiannya yang dingin seperti Kutub Es, dan kepala batu di Niagara itu, tentu saja sulit.
"Anda terlalu berlebihan. Saya tidak seperti itu," jawab Sakura lembut.
"Tidak, tidak, kau memang seperti itu. Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu tadi. Jadi… kau bekerja di restoran itu? Aku sering ke sana untuk makan siang. Dagingnya adalah favoritku. Tapi… akhir-akhir ini istriku sering marah kalau aku makan daging lagi. Katanya tidak bagus untuk kesehatan."
"Ah, tidak juga. Saya baru hari ini bekerja di sana karena restoran itu kekurangan pegawai. Saya hanya kerja sambilan. Dan lagi… itu adalah restoran teman saya sendiri."
"Kerja sambilan? Apa pekerjaan orangtuamu?"
"Mereka… sudah meninggal," jawab Sakura singkat. Sebenarnya ini adalah hal pertama yang ditanyakan setiap orangtua pada kekasih anaknya. Dan Sakura akui itu. Bahwa dimana-mana siapa orangtua kita itu adalah yang terpenting.
"Oh, maafkan aku. Jadi, selama ini… kau tinggal sendiri? Apa kau punya keluarga lain?"
"Tidak ada. Saya anak tunggal. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Anda makan sendirian? Apakah Anda tidak mengajak salah satu putra Anda?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau orangtua Sasuke berpikir macam-macam, sama seperti ibu Sasuke dulu.
Tapi, mendengar pertanyaan itu, justru Fugaku yang diam. Seakan memikirkan sesuatu yang sangat panjang. Sakura jadi salah tingkah. Apakah dia salah bicara? Sepertinya iya.
"Ah, maafkan saya. Saya tidak bermaksud…" ujar Sakura penuh rasa bersalah dan sebenarnya cukup takut.
"Jadi, apakah kau sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Sasuke?" tanya Fugaku sambil menatap lurus mata hijau Sakura.
"Maaf kalau saya lancang. Saya tidak sepenuhnya tahu. Saya hanya tahu kalau Sasuke sudah beberapa tahun ini tidak pulang ke rumah. Dia juga tidak membicarakan itu dengan siapapun termasuk saya. Maaf kalau kata-kata saya tidak sopan." Sakura berulang kali menunduk dalam sambil mengucapkan permohonan maaf.
"Tidak apa-apa. Yah memang semua ini salahku. Akulah penyebab Sasuke pergi dari rumah. Dan akulah sebab mengapa dia membenci keluarganya. Aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu. Kulihat kau adalah seorang gadis yang bisa menjaga Sasuke. Syukurlah Sasuke yang memilihmu. Aku jadi lega karena dia memilih gadis yang baik dan mengerti dia. Tolong jaga dia untukku. Juga bahagiakan dia. Karena sebenarnya dia adalah anak yang kesepian."
Sakura memutuskan untuk tidak menjawab permintaan ayahnya Sasuke. Dia hanya diam karena merasa tidak enak sudah merusak pertemuan pertamanya dengan ayahnya Sasuke. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu.
Tapi dari luar Sakura tahu, ayahnya merindukan anaknya. Ada beribu rasa bersalah di dalam mata pria paruh baya itu. Masalah apa yang membuat Sasuke begitu membenci ayahnya? Apakah masalah serumit itu? Sangat rumit dan tidak bisa dipecahkan sekali pun? Tapi untuk kepala batu seperti Sasuke, tampaknya dia tidak terlalu mempedulikan ayahnya. Dia benar-benar pria brengsek!
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan malam yang cukup canggung itu, Sakura kembali pulang. Dia tidak enak diantar pulang. Jadi cukup diantar sampai di depan halte bis saja. Ayahnya memang cukup menyenangkan. Setidaknya, Sakura tidak perlu tegang seperti bertemu ibunya. Meskipun wajahnya menyeramkan dia memang baik. Tampaknya kata-kata ibu Sasuke ada benarnya. Sepertinya sifat menyenangkan Itachi berasal dari ayahnya. Dan sifat menyebalkan Sasuke berasal dari ibunya. Benar-benar perpaduan yang bagus sekali.
Halte yang berhenti menuju rumah Sakura agak cukup jauh. Dia perlu berjalan selama 20 menit dulu. Padahal hari sudah hampir malam. Sasuke punya orangtua yang baik dan perhatian padanya. Kenapa dia tidak peduli begitu? Padahal orangtuanya begitu mengkhawatirkan si kepala batu itu.
Begitu sampai di dekat rumahnya, Sakura melihat seseorang yang memarkirkan mobil di depan rumahnya. Ji-Han melihat lebih dekat lagi. Ternyata si kepala batu.
"Kau sudah mau pulang?" sapa Sakura setelah dia berjalan mendekat ke arah Sasuke. Pria itu sendiri cukup kaget karena Sakura muncul dari belakangnya.
"Hei! Di udara dingin begini kau dari mana? Katamu kau baru saja kena pecat. Seharusnya istirahat di rumah kan? Padahal jalan sedikit saja lelah dan langsung tidur sampai tidak sadar begitu. Memangnya menggendongmu sampai ke kasur itu enteng?!" rutuk Sasuke.
"Hah? Kau yang menggendongku?" ulang Sakura tidak mengerti. Sejujurnya, dia hanya ingat Itachi-lah yang mengantarnya pulang. Tapi tidak ingat kalau Sasuke juga ada. Hinata juga tidak bilang apa-apa.
"Hah kau bilang? Huah! Ingatanmu jauh lebih buruk dari ikan ya? Ikan memang punya ingatan hanya dua detik," sindir Sasuke.
"Apa? Ikan? Enak saja! Aku bukan ikan!" bantah Sakura.
"Memang kau terlihat seperti ikan. Bodoh!"
Sakura ingin sekali membalasnya, tapi dia sedang tidak mood untuk saat seperti itu. Dia juga tidak ingin membawa-bawa nama Itachi lagi. Kemarin saja Sasuke marah bukan main. Padahal mereka bukan sepasang kekasih betulan. Tapi sikapnya seperti kekasih betulan.
"Ngomong-ngomong, MV kita sudah jadi. Lagunya dijadikan soundtrack dramaku. Ternyata kencan itu dijadikan MV untuk lagunya. Katanya sih responnya bagus. Kau mau lihat?" tawar Sasuke.
"Apa kau ke sini untuk memberitahuku itu?"
"Tidak juga. Apa aku kurang kerjaan? Tentu saja aku ingin bertemu Hinata. Khayalanmu terlalu tinggi," sindir Sasuke.
"Dasar kepala batu Niagara!" gerutu Sakura.
"Apa?"
"Kau suka makan daging?" tanya Sakura tiba-tiba.
"Daging? Suka… kenapa?"
"Apa besok kau kosong? Ayo kita makan siang? Kita sudah lama tidak keluar bersama kan? Kau juga tidak mau kan ada gosip yang bilang kita kurang harmonis karena kau sibuk bekerja. Kau juga kesal kalau aku makan siang dengan pria lain."
"Hei, aku bukannya kesal kau makan dengan pria lain. Tapi kalau kau pergi dengan Kakakku… sudah kubilang kau harus jauhi dia karena dia itu berbahaya!"
"Ahh~ baiklah, baiklah… kenapa kau jadi marah-marah sih? Aku kan tanya kau mau tidak makan siang?" ulang Sakura kesal.
"Besok? Hmm… sepertinya bisa. Kulihat dulu. Nanti aku kabari lagi."
"Kalau kau tidak bisa besok, aku bisa minta temani orang lain."
"Kalau kau mau pergi dengan Kakakku lagi, kau mati!"
"Aku tahu! Aku bahkan belum bilang mau makan dengan siapa..."
"Sudahlah masuk sana. Di sini dingin sekali tahu. Aku tidak mau kau merengek sakit karena berdiri terlalu lama di udara dingin begini."
"Aku tahu. Memangnya aku selemah itu. Ya sudah pergilah. Hati-hati ya…"
"Ya… aku tahu."
Sakura berlari kecil menuju tangga rumahnya sambil menggosok telapak tangannya. Sasuke belum masuk ke dalam mobilnya sampai melihat gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Sasuke pikir, gadis itu menghindarinya karena masalah semalam. Apalagi sejak pagi tadi dia tidak bisa dihubungi. Untungnya gadis itu tidak tahu kalau dia sempat cemas dengan apa yang dilakukannya.
.
.
*KIN*
.
.
Kebetulan ini adalah hari libur. Sakura tidak perlu kuliah. Dan ini adalah saat yang tepat untuk melakukan tugasnya. Pagi-pagi Sakura sudah bangun. Hinata hanya bertanya apa yang sedang Sakura lakukan. Mereka berbincang banyak hal pagi ini. Sebenarnya Sakura bilang mau mengajak Sasuke makan siang. Sakura juga sudah menawari gadis itu untuk pergi, tapi gadis itu menolak. Menurutnya tidak baik kalau publik melihat mereka jalan bertiga seperti itu.
Setelah siang, rupanya Sasuke memberi kabar kalau dia bisa makan siang bersama Sakura. Bahkan Sakura sempat mendengar suara manager Sasuke, Kakashi yang bilang kalau mau kencan tidak perlu khawatir, karena jadwal Sasuke sudah habis untuk hari ini. Benar-benar aneh.
Sakura sudah bersiap-siap. Dan tak lama dari situ, Sasuke datang menjemputnya. Awalnya dia melihat Sakura yang mempersiapkan diri begitu hebat. Seperti mau kencan. Lalu tak lama kemudian, beralih pandang ke Hinata. Sebenarnya Sakura cukup kecewa, tapi apa boleh buat. Dia juga tidak seharusnya bersikap begitu pada Sasuke. Apa kata Hinata nanti?
Setelah berpamitan pada Hinata, Sasuke dan Sakura langsung naik ke mobil biru metalik milik Sasuke.
"Kita mau makan di mana?" tanya Sasuke yang sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Oh ya! Aku mau mengajakmu makan di restoran daging milik temanku. Restoran di sana ramai sekali. Juga enak. Karena kau suka daging kita coba ke sana. Kau pasti bilang enak!" jelas Sakura bersemangat.
"Ramai? Kau gila menyuruhku ke sana? Bagaimana kalau kita dikerubungi fans-ku? Kau pikir itu bagus?"
"Tapi di sana itu jarang ada anak muda. Biasanya mereka membawa keluarga. Tenang saja. Temanku yang akan mengatasi itu. Bagaimana?"
"Tumben sekali kau memaksa ingin pergi denganku begini. Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan ada rencana jahat yang kau sembunyikan…" tuduh Sasuke. Sakura terdiam. Sebenarnya bukan rencana jahat sih. Tapi memang ada rencana. Apa Sasuke akan marah ya kalau dia bertindak begini? Sakura tahu Sasuke pasti marah. Tapi dia juga harus membuat Sasuke mengerti. Bahwa mereka perlu bicara.
"Benarkan ada yang kau rencana kan? Katakan ada apa!" kejar Sasuke lagi.
Sakura mau membalas kata-kata itu, tapi ponselnya berdering. Jadinya Sakura tidak menggubrisnya. Sakura mengambil ponselnya dari tas tangannya dan melihat siapa yang memanggilnya. Setelah melihatnya, tiba-tiba muncul ide nakal di benak Sakura. Sambil menatap Sasuke dengan sinis, Sakura mengangkat telepon itu.
"Oh… halo Itachi-san… ada apa? Oh mau makan siang ya… kau sengaja menelponku untuk mengajakku makan siang?" kata Sakura dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Apa? Itachi? Hei! Apa itu Kakakku? Matikan! Cepat matikan!" perintah Sasuke. Sekarang dia tidak fokus menyetir mobilnya. Sakura menjauhkan ponselnya darinya dan bicara pada Sasuke.
"Kau ini kenapa sih? Aku juga berencana mengajak Itachi-san makan bersama. Tidak boleh?" ancam Sakura.
"Hei… kau bilang mau kencan biar publik tidak curiga pada hubungan kita. Kau pikir apa enaknya kencan dengan tiga orang?!"
"Tidak apa. Kau bisa ajak Hinata kalau kau mau… Itachi-san―aduuuh!"
Tiba-tiba Sasuke menghentikan mobilnya mendadak lalu menatap Sakura dengan sangar. Bahkan Sasuke tidak sadar, kepala Sakura terantuk kaca mobilnya.
"Berikan ponselmu!" perintah Sasuke.
"Kau mau apa?!" tanya Sakura sambil berusaha menghalangi suara terdengar dengan Itachi.
Sasuke tidak sabaran dan segera mendekati Sakura berusaha mengambil ponselnya. Sakura menjauhkan ponselnya sejauh-jauhnya dari tangan Sasuke yang terus mengulurkan sejauhnya untuk mencapai ponsel itu. Bahkan tanpa sadar, Sasuke jadi begitu dekat dengan Sakura.
Ketika akhirnya Sakura berteriak kecil karena kelakuan Sasuke, pria itu sudah memegangi kedua tangan Sakura ke belakang kepala sandaran kursi mobilnya dengan satu tangannya. Sementara tangan lainnya mengambil ponsel Sakura dan mematikannya. Mereka sadar dengan posisi mereka. Wajah kedua orang itu sungguh dekat. Mata Sakura membulat sempurna dengan posisi ini. Sasuke juga demikian. Mereka diam seolah tidak tahu mau apa. Tepatnya salah tingkah. Wajah keduanya pun memerah.
"Nomornya sudah kuhapus. Jangan coba-coba menghubunginya,"gerutu Sasuke yang akhirnya melepaskan tangannya dan bersikap biasa lalu melempar ponsel Sakura padanya. Sakura sendiri masih berwajah merah dan malu. Lalu bergerak gelisah.
"Itu ponselku! Bukan ponselmu!" rutuk Sakura balik.
"Kalau kau membantah, aku benar-benar tidak mau membayarmu…"
"Kau mengancam dengan itu lagi!"
Sekilas, Sasuke menyunggingkan senyum tipisnya. Terkesan seperti senyum licik sang rubah. Sakura tidak habis pikir. Hanya karena Itachi menelponnya begitu dia sampai bersikap di luar kendali. Orang aneh!
.
.
*KIN*
.
.
Bahkan sampai di depan restoran pun, mereka masih diam dan canggung karena hal tadi. Tapi Sakura sesegera mungkin merubah suasana dan langsung beranjak dan menarik Sasuke masuk. Tapi setelah mematikan mesin mobilnya, Sasuke agak terpana sejenak melihat restoran ini. Dia berdiri cukup lama memandangi restoran ini. Rasanya ada yang dia pikirkan. Tapi Sakura tidak tahu apa itu. Sasuke baru sadar, ketika Sakura menyentuh tangan pria dingin itu.
"Kau kenapa? Tidak enak badan?" tanya Sakura khawatir karena tidak biasanya Sasuke berwajah begitu aneh.
"Ah, tidak ada." Dan lagi ditambah, dia bicara tidak sedingin dan sejutek biasanya. Kenapa sih?
Begitu masuk juga, Sasuke agak canggung dan melihat seisi restoran ini. Entah kenapa dia begitu aneh. Seakan memandang penuh rindu tempat ini. Matanya juga nampak sayu. Apa ada hal yang aneh?
"Kau mau duduk di mana?" tanya Sakura lagi.
Begitu mendengar suara gadis itu, Sasuke mendadak melihat sebuah meja yang berada di pojok restoran itu. Matanya kembali menerawang. Dan tepat saat itu rupanya ada seorang pria yang duduk di sana sambil memandangi makanannya. Pria setengah baya itu duduk di pojok, dimana tempat yang Sasuke lihat. Mendadak matanya menjadi membulat dan seakan ingin marah. Wajahnya berubah kesal seakan ingin menghajar sesuatu. Lalu tak lama kemudian Sasuke memilih keluar dengan emosi yang meluap. Sakura agak terdiam beberapa detik sebelum menyadarinya. Begitu melihat apa yang dilihat Sasuke rupanya di sana ada ayahnya. Ayahnya juga menyadari kedatangan Sasuke dan berdiri hendak mengejar putranya. Tapi tidak jadi karena Sasuke langsung keluar. Sakura melihat itu. Wajah ayahnya yang dari jauh nampak kecewa dan sedih. Kau tak akan tahu betapa sedihnya melihat ekspresi wajah dari seorang ayah yang tidak ingin ditemui anaknya.
.
.
*KIN*
.
.
"Sasuke tunggu! Sasuke!" panggil Sakura sambil berlari mengejar Sasuke yang sudah berjalan di depannya. Dengan perasaan marah.
"Sasuke!" teriak Sakura supaya pria itu berhenti dan melihatnya. Tapi pria itu tidak mau berhenti seakan dia tak mendengar apapun. Akhirnya, dengan susah payah, Sakura berhasil mengejar pria itu dan menghentikan langkahnya dengan menarik lengannya. Sakura mengatur nafasnya yang tersengal karena berlarian sedari tadi.
"Hhh… apa yang terjadi denganmu? Kenapa keluar begitu saja? Kita bahkan belum makan apapun," ujar Sakura berpura-pura tak mengerti situasinya.
"Kau… apa kau sengaja mengajakku makan disini?" tanya Sasuke sinis.
Awalnya Sakura ingin berbohong. Tapi, berbohong bagaimanapun, dia tak akan menyelesaikan masalah ini. Justru akan semakin menjauhkan masalah ini dari jalan selesai. Sakura menatap mata Sasuke.
"Ya. Aku sengaja. Awalnya aku juga tidak tahu. Tapi mendadak aku tidak sengaja bertemu Ayahmu. Dia tak bicara banyak soal kalian. Aku hanya ingin kau dan Ayahmu bicara saja. Memang itu salah? Kau sudah bertahun-tahun tidak bertemu Ayahmu," jelas Sakura.
"Memang kau siapa berani berbuat lancang seperti itu?! Kau pikir karena aku mau ikut denganmu kau jadi besar kepala! Jangan sombong! Kau tidak pantas melakukan ini!"
"Aku memang tidak pantas melakukan ini. Tapi kau jauh lebih tidak pantas memperlakukan orangtuamu seperti itu. Seburuk apapun beliau, dia tetap orangtuamu. Kenapa kau tidak bisa menahan egomu sejenak untuk bicara baik-baik dengan orangtuamu sendiri."
"Diamlah. Kukatakan kau tidak berhak mengatakan hal itu padaku!"
"Masalah sebesar apapun, jalan keluarnya hanya bicara baik-baik. Bukan dengan cara menjauh seperti ini. Apa kau tidak tahu betapa sedihnya orangtuamu melihatmu seperti ini?"
"Kalau kau tidak tahu masalahnya jangan sok ikut campur! Kau yang tidak punya orangtua bagaimana bisa merasakan apa yang kurasakan!" teriak Sasuke emosi.
"Yah. Aku memang tidak punya orangtua. Tapi aku tidak akan memperlakukan orangtuaku sedemikian buruk. Aku akan bicara baik-baik dengan orangtuaku apa masalahnya. Bukankah sebagai anak kita wajib memaafkan segala kesalahan orangtua kita? Apakah menurutmu tidak punya orangtua begitu menyenangkan?"
"Yah! Menyenangkan tanpa orangtua! Bahkan aku berharap seperti itu!"
"Sasuke!" pekik Sakura.
"Cukup sampai di sini kau ikut campur masalah pribadiku. Aku tak mau melihatmu lagi!"
Sasuke meninggalkan Sakura yang masih termangu dengan kalimat terakhirnya. Lalu dengan langkah lebar, Sasuke meninggalkan gadis itu dan masuk ke dalam mobilnya. Masih dengan penuh emosi dia menghidupkan mobilnya.
Sakura sadar dengan itu langsung berlari menghampiri mobil Sasuke dan meminta dibukakan pintunya. Sakura ingin minta maaf sekaligus membicarakan semuanya baik-baik. Tapi pria itu tak mau dengar meskipun berapa kali Sakura memanggilnya dan mengetuk kaca mobilnya. Sakura bahkan berlari mengejar mobil Sasuke. Tapi pria itu tetap tak peduli. Tanpa sadar, Sakura justru menangis. Apakah kali ini sikapnya keterlaluan? Apakah dia mulai seenaknya lagi?
Sakura terduduk di jalan itu melihat kepergian mobil Sasuke. Airmatanya seakan tidak mau berhenti.
.
.
*KIN*
.
.
Sasuke memukul setir mobilnya dengan kesal dan berteriak frustasi. Darimana gadis itu bisa bertemu ayahnya? Sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu ada benarnya. Tapi Sasuke tidak bisa menahan emosinya dan tiba-tiba memperlakukan gadis itu dengan buruk. Bahkan mengatakan tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Dia tadi hanya emosi. Haruskah dia meminta maaf pada gadis itu?
Tidak. Tidak. Tidak. Dia masih kesal karena gadis itu mempermainkannya. Paling tidak dia harus menghukum gadis itu dulu. Supaya dia tidak bertindak seperti itu lagi. Dia tak mau lagi bertemu dengan ayahnya. Tak mau lagi melihat kenangan buruk itu. Apa yang dia katakan soal menyenangkan seandainya tidak punya orangtua memang benar. Seandainya dia tidak punya.
.
.
*KIN*
.
.
Kemarin benar-benar salahnya. Sudah pasti Sasuke marah padanya. Bahkan menurut Hinata, Sasuke tidak datang lagi ke rumah untuk bertemu Hinata. Sebenarnya ada apa sih? Mungkinkah Hinata tahu mengenai keluarga Sasuke? Tapi tidaklah sopan bertanya seperti itu pada Hinata.
Pagi-pagi sekali, Ino mengirim pesan. Dia bilang ada pembersihan kampus mendadak. Dan yang wajib datang adalah angkatannya. Kalau tidak datang maka nilainya sudah pasti C. kalau begitu, kapan Sakura bisa lulus? Pembersihan seperti ini memang diadakan tiap tahun. Apalagi di cuaca dingin seperti ini. Bahkan semalam turun salju. Sudah pasti susah bergerak. Dan daerah kampus pasti penuh dengan salju yang menumpuk. Sebenarnya Sakura malas sekali datang. Tapi apa boleh buat. Dia harus datang. Dengan setengah hati, dia datang ke kampusnya untuk pembersihan yang menjengkelkan itu.
Sakura dan Ino sudah datang. Yang datang hanya beberapa. Karena kebanyakan sakit karena flu di musim dingin. Dan sebagian lagi ada halangan lain. Padahal pihak kampus sudah memberi peringatan. Seharusnya Sakura begitu. Kampusnya memang kurang beres!
Ino dan Sakura kebagian membersihkan bagian dalam kampus. Ternyata di belakang kampus mereka ada sebuah gudang gelap yang tanpa alat penerangan apapun.
"Hei… pintunya jangan ditutup ya. Tidak bisa dibuka dari dalam. Kalau tertutup kalian bisa terkunci…" ujar Kin salah satu mahasiswi di kampus Ino dan Sakura. Mereka juga kebagian membersihkan gudang. Yang mereka bersihkan hanyalah luar gudang yang terkena salju saja. Bukan dalamnya. Sakura sendiri sudah merinding di dalam sana. Gudang segelap ini. Dia berada di dalam sana saja sudah membuatnya ketakutan. Apalagi sampai masuk ke dalam.
Setelah membersihkan gudangnya, tugas mereka selesai. Bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan tugasnya boleh pulang.
BRUUKK!
"Aduuh…" keluh Sakura.
"Maaf Sakura, Aku tidak sengaja," ujar Kin sambil meminta maaf karena sudah menabraknya di dalam gudang itu.
"Ah, tidak apa-apa kok."
"Kenapa? Hei Sakura, kita makan ramen yuk... dingin begini enaknya makan yang panas-panas…" ajak Ino.
"Oh ayo! Kin, kau mau ikut?" tawar Sakura.
"Nanti aku menyusul," sahut Kin.
.
.
*KIN*
.
.
"Wuah! Terima kasih Bibi!" ujar Sakura bersemangat. Dia langsung melahap ramen yang baru saja dihidangkan oleh bibi penjaga kantin yang sengaja buka.
"Astaga anak ini… pelan saja makannya. Kau tampak seperti orang yang tidak makan lima hari…" rutuk Ino yang takjub melihat cara makan sahabatnya itu yang main masuk saja padahal asapnya saja masih mengepul begitu.
"Tidak apa-apa. Selagi aku masih semangat makan aku akan makan. Bukannya bagus aku nafsu makan. Kebanyakan gadis kalau sedang patah hati mereka mogok makan!" rutuk Sakura balik.
"Jadi? Apa kau sedang patah hati? Sepertinya begitu melihat caramu makan. Kenapa? Sasuke berbuat apa padamu? Dia selingkuh?" tebak Ino.
Bahkan dia selingkuh di depan matanya. Ahh~ itu bukan berita bagus. Meskipun begitu, memang inilah penderitaan terbesar Sakura. Tapi dia melakukannya juga bukan gratis. Tunggu sampai Sasuke membayarnya saja.
"Heh… sepertinya Kin belum datang juga. Apa dia masih di kampus. Serius sekali sih. Tugas membersihkan kampus itu bukan tugas kita. Kenapa harus menyuruh mahasiswa? Jam berapa ini?" tanya Ino.
"Itu kan tugas tahunan? Ahh tunggu dulu, aku tak bawa jam… ponsel… ponsel… pon―hah? Mana ponselku?" kata Sakura setelah mengaduk saku celananya. Dia bahkan sampai berdiri dan melongok ke bawah meja makan mereka.
"Hei… kau ini kenapa sih?"
"Ponselku… ponselku hilang―ah! Pasti jatuh di gudang tadi. Pinjam ponselmu. Siapa tahu dipungut orang lain," ujar Sakura.
"Hei… aku ini lupa bawa ponsel. Makanya bertanya padamu jam tadi. Gawat. Aku sudah harus pulang. Kau tahu kan restoranku sedang ramai? Sudah sana pergilah. Siapa tahu masih ada Kin. dia pegang kunci gudang. Tapi cepat yaa kulihat semua orang sudah bersiap pulang."
"Hah? Kau tidak mau menemaniku?" tanya Sakura.
"Aku sudah harus pulang… kau mau aku dipancung Ibuku? Sudah sana ambillah. Nanti Kin pulang loh…"
"Tapi… gudangnya… gelap…" kata Sakura ragu.
"Tinggal buka saja pintunya lebar-lebar. Kenapa kau begitu penakut sih?"
Masalahnya bukan karena takut. Tapi…
.
.
*KIN*
.
.
"Ohh! Kin! tunggu dulu!" teriak Sakura begitu Kin mau naik ke mobil pribadinya.
"Loh… kau masih di sini? Ada apa?"
"Boleh aku pinjam kunci gudang? Ponselku tertinggal di sana..."
"Hah? Tapi sudah kukembalikan pada penjaga. Soalnya dia mau pulang. Kau minta saja lagi. Sebelum dia belum pulang."
"Oh… begitu. Terima kasih."
Sakura merutuk kesal dalam hati. Dia tadi sudah makan sedikit karena buru-buru kemari. Malah dioper begini. Perutnya sudah lapar dan badannya mulai lemas karena kerja rodi tanpa sarapan tadi. Dan ini sudah menjelang sore.
Sakura buru-buru menghampiri penjaga kampus. Untungnya belum pulang―ahh tidak juga. Baru mau pulang.
Dengan memohon setengah mati karena penjaga itu bilang besok saja, tapi Sakura tidak bisa meninggalkan ponselnya begitu saja, akhirnya pengawas itu memberikan kuncinya pada Sakura dan menyuruh Sakura mengembalikannya besok saja karena dia sedang buru-buru dan takut tidak keburu. Sepertinya sudah mulai sepi. Yah tentu saja. Ini kan bukan hari ke kampus. Besok baru dimulai perkuliahannya.
Sakura melongo ke dalam gudang kampus itu. Begitu gelap. Bahkan menjelang sore begini malah tambah gelap. Sakura berulang kali maju mundur masuk ke gudang itu. Tiba-tiba saja, cuaca jadi aneh. Angin mulai bertiup deras. Sial sekali Sakura hanya mengenakan jaket tipis. Seharusnya dia juga pakai jaket tebal. Dia tidak tahu kalau keadaannya begini. Dia benar-benar ceroboh.
Akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberanian, Sakura masuk ke gudang itu dan membuka pintunya lebar-lebar. Kenapa juga dia mesti tabrakan dengan Kin tadi. Karena gelap dan minimnya cahaya, Sakura tak bisa melihat ponselnya dengan jelas. Kenapa begini gelap si―
BRAAKK!
Sakura menoleh dengan cepat. Pintunya tertutup karena tertiup angin kencang. Bayangkan! Pintu seberat itu bisa ditiup angin! Sakura langsung panik dan mencoba membuka pintunya. Pintunya terkunci. Dan kuncinya ada di luar.
Sakura menggedor pintunya dari dalam sekencangnya. Dan berteriak meminta tolong. Sakura jadi panik berada di dalam keadaan gelap begini. Ponselnya belum juga ditemukan.
Sakura mencari-cari barang yang bisa dia gunakan untuk membuka pintu, tapi begitu sedang mencarinya, karena panik dan gelisah, Sakura tidak tahu kalau rak kayu yang sedang dia hadapi adalah rak kayu usang. Karenanya, begitu Sakura tidak sengaja mendorongnya karena saking gelap dan takutnya, rak itu roboh dan menimpa kakinya. Sakit memang. Sakura juga merasa kakinya seperti perih sekali.
Sakura menangis sejadinya. Dia bukan orang yang cengeng. Tapi berada dalam ruangan sempit dan gelap adalah hal terburuk dalam hidupnya. Berkali-kali dia memanggil ayah dan ibunya. Ketakutan dimasa kecilnya karena Sakura pernah terperangkap dua hari di dalam ruangan sempit dan gelap. Tak ada seorang pun yang tahu kalau dia terperangkap di loteng rumahnya sendiri. Dia memang selalu usil dan ingin tahu. Tiba-tiba Sakura merasa sesak dan keringat dingin. Padahal udara di luar begitu dingin.
"To-tolong…!" panggil Sakura di sela isak tangisnya. Berharap pangeran yang selama ini dia impikan datang padanya. Menolongnya untuk saat ini. Tapi jangankan menolong. Mungkin saja, Sasuke masih kesal dan marah padanya.
Tiba-tiba oase segar muncul, ponselnya mendadak berbunyi. Sakura mencari-cari bunyi ponsel itu. Tapi kakinya yang tertimpa rak itu sulit bergerak. Sakura memohon pada ponselnya jangan sampai mati. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaganya, Sakura berhasil mengeluarkan kakinya dari rak sialan itu!
Kini dengan langkah yang diseret, karena sepertinya kakinya terluka, Sakura berhasil menemukan ponselnya. Untunglah ponselnya masih hidup.
"Halo!" suara Sakura jadi terdengar cemas, takut, panik, dan ditambah lagi dia menangis.
"Sakura? Kau kenapa? Kenapa kau menangis?" ujar suara di ujung sana.
"Tolong… tolong aku! Tolong aku!" pinta Sakura sambil menangis tersedu-sedu. Nafasnya mulai tercekat. Rasanya menarik oksigen sakit sekali.
"Sakura? Kau bisa dengar aku? Sakura? Kau dimana?"
"Aku… aku di… kampusku… aku…"
Sakura menjatuhkan ponselnya. Kepalanya pusing. Rasa sakit pada dadanya tak bisa ditolerir. Napasnya sangat sesak. Dia tak sanggup lagi bernafas. Ini benar-benar di luar kendalinya. Apa saja memang bisa dihadapi oleh Sakura. Tapi jangan berhadapan dengan hal seperti ini. Kegelapan adalah kelemahannya paling besar.
.
.
*KIN*
.
.
Itachi langsung panik mendengar suara gadis itu yang terdengar takut, cemas, panik, dan menangis. Dia tak mengerti kenapa gadis itu bertingkah seperti itu. Rasanya ada yang aneh padanya.
Yang Itachi ingat, gadis itu mengatakan kampus. Apa yang dia lakukan di kampusnya?
Udara dingin begini sudah pasti ada apa-apanya. Akhirnya Itachi bergegas meninggalkan rumahnya dan menuju kampus gadis itu. Itachi tak tenang. Entah kenapa bayangan buruk seakan merasuki otaknya. Sepertinya ada yang aneh. Pasti!
Itachi tiba di kampus gadis itu. Tapi semuanya terasa sepi. Tidak ada seorangpun. Dimana gadis itu? Itachi menghubungi ponsel gadis itu lagi. Tapi kali ini tidak diangkat. Itachi semakin panik.
"Maaf… anda mencari siapa?" ujar seorang pria setengah baya dan kurus itu. Itachi kaget. Tapi langsung bertanya.
"Maaf, apa ada seorang mahasiswi yang masih tinggal di sini?"
"Mahasiswi? Rasanya semuanya sudah pulang. Tadi cuma membersihkan kampus sebentar," jelas pria tua itu.
Itachi jadi merasa aneh. Kalau dia sudah pulang, harusnya tidak menyebut kampus kan?
"Tapi, tadi masih ada yang meminjam kunci gudang dan belum dikembalikan. Katanya dia pinjam untuk mencari ponselnya," jelas pria tua itu lagi.
"Mahasiswi? Boleh tahu dimana gudangnya?"
Entah inisiatif darimana, Itachi merasa Sakura ada di sana. Mereka berdua bergegas menuju gudang. Pintu gudang itu tertutup rapat. Lalu ada kunci yang bertengger di sana.
"Dasar. Sudah dibilang kembalikan. Malah ditinggal disini," gerutu pria tua itu.
Itachi tak melihat siapapun di sini. Akhirnya dia kembali menelpon ponsel gadis itu.
"Pintunya rusak, tidak bisa dibuka dari dalam. Seharusnya diperbaiki dulu," lanjut pria tua itu.
Itachi mendengar bunyi ponsel dari dalam gudang itu. Dan ditambah lagi katanya pintunya rusak? Itachi bergegas menyuruh pria setengah baya itu membuka pintu gudang itu.
Dan benar saja, gadis itu pingsan di dalam gudang itu. Itachi berlari menghampirinya.
"Sakura? Sakura? Bangunlah! Sakura! Paman tolong panggil ambulansnya!" teriak Itachi panik. Bapak tua itu juga panik dan langsung berlari mencari bantuan.
Itachi masih berusaha membangunkan gadis itu. Hatinya mendadak gelisah bukan main. Dia hanya takut… gadis itu tidak mau membuka matanya.
"Sakura!" panggil Itachi lagi.
Akhirnya Itachi membuka matanya. Matanya tampak sayu. Lalu beberapa saat kemudian gadis itu menangis.
"Sasu… ke?" panggil gadis itu lemah.
Itachi berhenti memanggil Sakura. Orang yang pertama dipanggilnya malah pria itu. Sepertinya gadis ini begitu menyukai orang itu. Tapi apa… orang itu juga demikian? Karena Itachi yakin, Sasuke tak begitu. Apalagi setelah dia tahu semuanya.
"Sasuke? Maaf, maafkan aku… aku, tidak bermaksud seperti… maaf… kan…" dengan suara lemah dan susah payah mengucapkannya, Itachi hanya mendengar gadis itu ingin meminta maaf pada Sasuke. Apakah mereka bertengkar?
.
.
*KIN*
.
.
"Itachi! Kau kemana? Kau bilang mau minum bersama?" gerutu Kakashi.
Itachi merasa tidak enak mengabaikan panggilan kawannya itu. Tapi dia juga berada dalam situasi tidak baik.
"Maaf. Sepertinya hari ini tidak bisa," jawab Itachi.
"Hah? Kenapa?"
"Aku harus menjaga seseorang di rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Ayah? Ibumu?"
"Bukan. Sakura."
"Haruno Sakura? Kekasihnya Sasuke? Dia kenapa?" tanya Kakashi penasaran.
"Tidak apa-apa. Katakan pada Sasuke tidak perlu khawatir. Itu kalau dia khawatir. Aku akan menjaganya untuknya."
"Apakah sakitnya parah? Sakura baik-baik saja kan? Sasuke mungkin tidak bisa datang karena sibuk. Syutingnya hari ini bahkan sampai malam."
"Tidak apa-apa. Aku tahu dia sibuk. Makanya aku menggantikannya. Sudah dulu ya, banyak perawat mulai melirik sadis padaku karena pakai ponsel."
Seketika hubunganpun terputus. Kakashi masih melihat ponselnya.
"Apa Nii-san tadi bilang… Sakura?" tanya seseorang.
Kakashi menoleh. Rupanya ada Sasuke yang berdiri di belakangnya.
"Oh, kau dengar ya? Ya… Itachi bilang Sakura ada di rumah sakit. Itachi bilang kau tidak perlu khawatir," jelas Kakashi.
"Sakura di rumah sakit? Rumah sakit mana?" kali ini Sasuke terdengar agak panik.
"Hei, aku tahu kau mengkhawatirkannya, tapi syutingmu dulu yang―Sasuke!"
Sasuke tidak mendengarkan kata-kata manager-nya dan langsung melesat meninggalkan Kakashi menuju mobil biru metaliknya.
Lagi-lagi dia tidak tahu. Lagi-lagi gadis itu tidak memberitahunya. Lagi-lagi kakaknya yang tahu duluan. Dan lagi-lagi.
Banyak orang yang berusaha mengejarnya karena syuting belum selesai. Untuk pertama kalinya Sasuke bertindak tidak professional begini.
.
.
*KIN*
.
.
Itachi duduk di samping gadis itu. Melihat wajah tidurnya. Gadis ini memang tidak menarik. Tidak cantik, tidak seksi, dan tidak punya apapun. Tapi entah kenapa di dekatnya membuatnya ingin tahu lebih banyak soal gadis ini. Membuatnya ingin dekat dengannya. Mungkin faktor pertama yang Itachi dapat setelah melihat gadis ini, memang hanya ingin menggodanya. Karena dia kekasih adiknya. Faktor kedua, dia merasa kasihan karena dimanfaatkan begitu oleh adiknya sendiri dengan gadis menyebalkan itu. Dan faktor ketiga… perlahan dia mulai menaruh perasaan pada gadis ini. Yang membuatnya ingin melindunginya kapan pun dia bisa. Kali ini ponselnya kembali berdering. Itu dari adiknya.
Itachi bermaksud tidak ingin mengangkatnya. Tapi ternyata adiknya jauh lebih keras kepala. Dia menelponnya berkali-kali. Akhirnya, Itachi menyerah.
"Bukannya sudah kukatakan pada Kakashi untuk memberitahumu tidak usah khawatir? Aku akan menjaganya," ujar Itachi pertama kali.
"Dimana? Di rumah sakit mana?" kata Sasuke dingin.
"Wah? Apa sekarang kau sedang berada di dalam mobil? Hebat sekali. Apa kau meninggalkan syutingmu yang berharga itu?"
"Nii-san!"
"Pertama kalinya aku melihatnya menangis kuharap itu bukan karena dirimu. Tapi, dia terus menerus menyebut namamu dan meminta maaf padamu. Apa yang kau lakukan padanya aku tidak mau tahu, tapi apa kau lupa? Sedikit saja, sedikit saja kau membuka celah… kau akan menyesal."
"Itachi!"
"Mulai hari ini kau jangan cemas. Aku berminat menjadi pria yang menghapus tangisnya. Dan mulai sekarang, aku ingin merampasnya darimu. Karena kau… tidak pantas ditangisinya. Bahkan kau jauh lebih brengsek dariku. Lebih baik bermain-main dengan seribu gadis daripada menyakiti satu gadis. Kau harus tahu itu."
"Baiklah. Kurasa bertanya pun tidak ada gunanya. Tunggu saja. Aku akan mencari semua rumah sakit di Tokyo. Itu bukan soal susah. Akan kubuktikan aku adalah orang yang mampu membuatnya menghentikan tangisnya itu."
Sasuke menutup ponselnya. Itachi tersenyum tipis. Adiknya memang tak pernah mau kalah darinya. Lihat saja… ini akan menarik.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minnaa maaf ya jadi sangat terlambat update fic ini hehehe tapi ini mulai lanjut lagi kok hehehe
Saatnya balas review…
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… hehehe semoga aja, kita doain sama-sama yaa hehe
Sami haruchi : makasih udah review senpai… pendek yaa? Waduh saya pikir ini malah kepanjangan hehehe
uchihaYuki Cherry : makasih udah review senpai… kan Hinata pacarnya Sasu hehehe…
pinkcherry : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa heheh pokoknya ada hubungan semua kok tenang aja, ntar juga pasti diceritain hehehe
kihara : makasih udah review senpai… yaa doain aja saya tetep semangat buat lanjut hehehe
whites : makasih udah review senpai… maaf ya gak kilat tapi ini udah update kok hehehe
piscesaurus : makasih udah review senpai… maaf yaa update gak kilat ini udah update heheh
Uchiha Ratih : makasih udah review senpai… jadi dipanggilnya apa hehe? Iya ini udah lanjut kok bersabar menunggu yaa hehe
Ntika blossom : makasih udah review senpai… makasih banyak hehehe
Chibiusa : makasih udah review senpai… ini udah update hehe
MKUchiharuno : makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut kok hehehe
Iqma96 : makasih udah review senpai… makasih iqmachan hehehe iya nanti ada kok bagian masa lalunya hehehe ditunggu yaa
Akasuna Sakurai : makasih udah review senpai… heheh pokoknya nanti ada kok bagian penjelasan itu, ditunggu yaa hehehe
Amu B : makasih udah review senpai… makasih banyak semangatnya hehhe iya ini udah update, ntar bagian itu pasti ada heheh
Alsyam : makasih udah review senpai… hmm saya belum kepikiran buat nambah chara lagi hehehe ini udah update hehehe
Syal : makasih udah review senpai… heheh mau bikin julukan yang unik sih tapi malah kepikiran yang begitu hehe manggilnya Kin aja, memang dari putri duyung hehehe…
Titan-miauw : makasih udah review senpai… ini udah update heheheh
Lucy Hinata : makasih udah review senpai… heheh memang temanya udah sangat pasaran kok iyaa ini udah lanjut hehehe
Akiko Mi Sakura : makasih udah review senpai… maaf ya gak update kilat hhehe, wah hubungannya jadi rumit yaa? Tenang aja semuanya bakal terjawab kok hehehe
Kumada Chiyu : makasih udah review senpai… wah nambah ide pairing kah ini? Heheh memang sengaja dibuat begitu namanya aja bahan cerita hehehe…
Meguharu Yuka : makasih udah review senpai… kan saku udah janji gak bakal cerita ke siapapun soal ini, termasuk sama ino makanya saku tetep diem sampe sekarang heheheh
Haruchan : makasih udah review senpai… jadi manggilnya apa? Heheh iya saran dipertimbangkan kok heheh makasih yaa
Yukina Itou Sephiienna Kitami : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut… kirakira sebentar lagi yaa hehehe
Guest : makasih udah review senpai… kan ini ceritanya memang begitu…
Ah ya sejujurnya saya agak gak puas sama adegan yang di gudang itu, kayaknya memang terlalu maksa yaa? Sebenarnya saya pengen bikin adegan yang seperti itu supaya Itachi ada alasan buat deket sama sakura, tapi gak kepikir yang lain yang akhirnya malah kebikin begitu… maaf ya kalo keliatannya jadi aneh…
Jaa Nee!
