Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Itachi melirik jam di dinding kamar rawat itu. Sudah pukul 10 malam lebih. Kakashi sudah mengirim pesan padanya, untuk menanyakan dimana artis asuhannya itu. Artis itu sudah pergi dari empat jam yang lalu. Dan sampai sekarang belum kembali ke tempat syuting dan tidak bisa dihubungi. Itachi hanya tersenyum tipis melihat pesan dari Kakashi. Kemungkinan besar, bahwa artis ini sedang mencari seluruh rumah sakit di Tokyo. Itachi tidak heran dengan sikap adiknya itu. Adiknya memang punya sifat yang tidak mau kalah. Apapun yang diinginkan Itachi sudah pasti adiknya juga menginginkannya. Termasuk gadis ini. Hanya saja… sepertinya Sasuke belum begitu menyadari perasaannya sendiri. Mungkin masih terkekang dengan perasaan dari Hinata dan terikat masa lalu yang berdosa itu. Wajar saja Sasuke berada dalam masalah yang sulit. Itachi hanya ingin adiknya bisa memilih. Apa yang benar-benar diinginkannya. Meskipun…
Sebenarnya Itachi juga menginginkannya. Entah kenapa Itachi begitu mudah jatuh dalam pesona seorang Sakura Gadis biasa yang tidak punya apapun. Seandainya dulu dia sama sekali tidak berniat menggodanya, tentu saja ini tidak akan terjadi sama sekali.
Itachi kembali membuka buku favoritnya. Dia sengaja bawa buku sambil menjaga gadis yang tengah terlelap tertidur ini. Sepertinya kakinya tidak punya masalah serius. Hanya saja, mungkin sulit bergerak karena dibalut perban sedemikian banyak dan memar sedikit karena tertimpa rak usang itu.
Itachi mendengar suara desahan. Rupanya gadis itu kembali menggeliat dalam tidurnya. Kali ini dia bahkan mengerutkan dahinya dan meremas matanya sendiri. Lalu tak lama kemudian, dia seperti bergumam. Meskipun tak terdengar kentara, Itachi yakin yang dipanggil gadis ini adalah Sasuke. Tak lama kemudian, tetesan air mata mengalir dari matanya yang tertutup itu.
Itachi bergerak perlahan untuk menghapus jejak tetesan air mata itu. Bahkan dalam tidurnya pun dia menangis karena orang yang sama.
BRAAKK!
Itachi berhenti pada posisinya. Terdengar suara bantingan pintu yang keras.
Lalu kemudian, Itachi memilih untuk melihat siapa orang yang membanting pintu itu dengan kerasnya. Wajah orang itu begitu cemas. Keringat mengalir dari dahinya. Wajahnya sekilas juga terlihat amat pucat. Itachi yakin dia benar-benar berhasil mengelilingi Tokyo.
"Wah… cepat juga ya…" ujar Itachi sambil berbalik dan menatap penuh senyum pada adik kesayangannya itu. Pria itu mengambil langkah lebar dan mendekati kakaknya dengan penuh emosi.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" ujar Sasuke dingin.
"Apa? Aku? Kau menuduhku melakukan hal-hal tidak terpuji ya? Astaga adikku… aku tidak―ahh bukan. Aku belum melakukan apapun…" ujar Itachi dengan seringaian menggodanya.
"Sudah kukatakan jangan dekati kekasihku! Apa yang kau lakukan sekarang? Bukankah kau harusnya beritahu padaku kalau dia ada apa-apa!" tunjuk Sasuke pada kasur pasien itu.
"Maukah kau… berhenti berpura-pura? Di depan publik, di depan ayah dan ibu, dan di depan seluruh Jepang, mungkin kau bisa berbohong. Tapi tidak di depanku. Apakah dia benar-benar kekasih yang kau maksud? Ataukah kau marah karena aku ingin merampas boneka kesayanganmu? Sakura bukan boneka yang seenaknya kau mainkan. Kau pikir dia bukan seorang gadis? Kau pikir dia hanya seorang manusia biasa yang bisa kau manfaatkan? Kau naif Lee Sasuke!"
Sasuke berkerut bingung. Tiba-tiba kakaknya menatapnya dingin dan merasa benci.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak mengerti.
"Apa? Jadi kau ingin aku menjelaskan detilnya? Kau tidak takut ketahuan olehku? Atau… kau sudah siap mengambil resikonya?"
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan!"
"Hyuuga Hinata."
Satu nama yang berhasil membuat mata Sasuke membulat. Selama ini dia pikir kakaknya tidak tahu. Lalu darimana kakaknya bisa tahu soal… Hinata?
"Kau pikir aku bodoh? Jadi… selama bertahun-tahun ini… kau menipu kami? Aku tidak menyangka bahwa kau akan lakukan cara kotor begini demi mempertahankan harga dirimu. Kalau kau ingin memperkenalkan kekasih, kenapa tidak kenalkan saja Hinata? Atau kau malu mengenalkannya pada publik karena kau mengakui orang yang merusak hidupmu untuk jadi kekasih?"
"Sudah cukup!" kata Sasuke geram.
"Kau memang egois. Sejak dulu kau memang egois. Tidak pernah mementingkan perasaan orang lain. Kau selalu ingin jadi pusat semua orang. Hanya kau! Dan kau… tidak pernah memikirkan perasaan orang lain yang terluka karenamu."
"Itachi!" bentak Sasuke.
"Ini terakhir kalinya. Peringatan dariku. Pilih salah satu. Hinara… atau Sakura. Dan ingat… harus ada yang jadi manusia… dan harus ada yang jadi buih. Mungkin kau tidak akan mengerti. Tapi nanti kau pasti akan mengerti."
Selesai mengatakan hal itu, Itachi meninggalkan Sasuke sendirian di kamar rawat itu. Sasuke mengerti apa yang dimaksud kakaknya. Dia juga mengerti kenapa harus memilih salah satu. Sejak awal dia sudah membentengi dirinya sendiri. Tapi ternyata itu sunggu di luar dugaan. Dan dia tak pernah tahu kalau akan seperti ini jadinya. Dia sungguh tak tahu!
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sakura menggeliat di dalam tidurnya. Rasanya matanya jadi silau akan sesuatu. Dan benar saja… matahari sudah naik. Apa ini sudah pagi?
Sakura membuka matanya dan mengerjapnya berkali-kali. Sudah pagi. Artinya…
Kuliah!
Sakura langsung membelalakkan matanya selebar mungkin karena takut terlambat! Astaga! Kenapa dia bisa lalai seperti ini sih?
Tapi begitu akan bangun dan turun dari ranjang, dia langsung jatuh dan mencium lantainya. Pasalnya kakinya tiba-tiba susah sekali digerakkan. Sakit sekali. Dan begitu melihat kakinya sendiri, dia membelalakkan matanya selebar mungkin sekali lagi. Perban. Malah kakinya jadi lebih besar karena perban itu. Sepertinya dia bukan berada di rumahnya.
Sakura mengedarkan seluruh pandanganya. Tentu saja. Ini bahkan bukan kamarnya. Tapi dia terus memegangi kakinya yang diperban itu.
Ahh benar. Kemarin dia tertimpa rak. Pasti masih sakit sekarang.
Tapi… tunggu dulu! Siapa yang membawanya kemari? Seingatnya… dia melihat Sasuke yang menghampirinya dan membawanya kemari. Tapi tidak mungkin… Sasuke sibuk!
Lalu siapa yang menolongnya?
"Sakura?"
Sakura terkejut mendengar suara itu. Dia kenal suara itu.
"Sakura? Kau dimana?" panggilnya lagi.
Tidak mungkin!
"Apa dia keluar? Tidak mungkin. Sakura? Kalau kau sembunyi kau mati hari ini!" ancam suara itu lagi.
Karena takut dan cemas, akhirnya Sakura mengangkat sebelah tangannya tinggi dengan takut-takut. Dia benar-benar takut kalau sampai dimarahi lagi. Sambil menunduk dan memejamkan matanya berharap semua akan berlalu dan itu adalah ilusi belaka.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Suara itu semakin nyata. Dengan takut-takut Sakura mengangkat kepalanya dan melihatnya dengan jelas.
Super Star itu berdiri di depannya sambil bersedekap dada dan memandang kesal pada Sakura.
"Kau… di sini?" ujar Sakura ragu.
"Tentu saja. Maksudmu aku hantu? Kenapa kau selalu membuat orang lain panik? Apa itu keahlianmu?"
Sasuke berjongkok dan menyelipkan tangannya di antara bawah lutut dan punggung Sakura. Tentu saja gadis itu membelalakan matanya dan reflek memeluk leher pria itu. Wajahnya sekilas memanas dan malu.
Setelah meletakkan Sakura di kasurnya kembali, Sasuke mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur gadis itu.
"Apa masih sakit?" tanyanya biasa.
Sakura hanya bisa diam. Ini bahkan terlalu bagus untuk jadi mimpi. Sakura tak pernah memimpikan hal yang begini bagus sebelumnya. Tidak. Bermimpi pun rasanya dia takut.
"Apa kau jadi linglung berada di rumah sakit? Atau kepalamu ikut terbentur dan amnesia? Kau ingat siapa aku 'kan?" lanjut Sasuke.
"Apa… kemarin… kau yang datang?" tanya Sakura takut-takut.
"Hah?"
"Maksudku… yang membawaku ke rumah sakit. Apa itu kau?"
Sasuke diam sekian lama. Jawaban apa yang mestinya dia berikan?
"Ahh~ sudahlah. Sudah pasti itu bukan kau. Kau kan sibuk," potong Sakura cuek.
"Siapa bilang? Aku."
"Hah?" Sakura menoleh pada Super Star itu seakan tidak percaya.
"Sudah kubilang itu aku! Aku yang membawamu ke sini! Kau tidak percaya? Kau boleh tanya Kakashi Nii-san! Demi kau, aku mengorbankan syutingku! Bukankah sudah kukatakan untuk hati-hati. Apa yang kau lakukan sekarang? Kau mau membuat semua orang jantungan karena mengkhawatirkanmu?"
Sakura senang mendengar suara Sasuke yang marah-marah padanya itu. Sasuke sudah kembali. Mungkin dia tidak marah lagi pada Sakura. Rasanya senang sekali. Kebahagiaan itu menguar begitu saja. Dia begitu senang akhirnya apa yang dia impikan bisa jadi kenyataan. Bahwa pria itu mau menganggapnya dan melihatnya.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke bingung dengan ekspresi gadis itu.
"Sasuke… boleh aku melakukan sesuatu padamu?"
Sasuke reflek memundurkan kursinya dan menatap curiga pada gadis itu.
"Hah?! Kau mau apa!" bentak Sasuke
"Hanya sekali. Sekali saja. Aku ingin melakukannya. Boleh?" pinta Sakura dengan wajah memelas
"Kalau kau lakukan hal yang―"
Sasuke diam.
Gadis itu melompat ke arahnya dengan cepat dan memeluk lehernya sekuat mungkin. Sasuke juga bisa merasakan napas gadis itu di lehernya yang tidak teratur. Kemudian, terdengar suara tangisan yang ditahan.
"Kupikir kau benar-benar tidak mau bertemu aku lagi. Aku benar-benar takut kau marah dan membenciku. Sungguh aku tidak tahu kalau kau sangat marah saat itu. Aku benar-benar bodoh. Kumohon maafkan aku…" ujar gadis itu sambil terus menahan tangisnya. Sasuke tak membalas tak pula menolak pelukan itu.
"Sakura… jangan bicara padaku di saat seperti ini," gumam Sasuke.
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sasuke hanya meninggalkan Sakura ketika dia akan pergi syuting. Dan setelah syuting, Sasuke akan langsung kemari. Dia hanya satu kali memberi kabar kepada Hinata untuk mengatakan bahwa dia menjaga Sakura di rumah sakit. Sebenarnya, Sakura ingin menghentikan ini. Tapi… sisi teregois dalam dirinya menolak hal itu. Dia ingin untuk sementara ini… Sasuke ada padanya. Dia tahu egois seperti ini tidak boleh. Tapi dia juga tak bisa menghentikannya. Sasuke ada di sisinya seperti ini saja sudah membuatnya cukup bahagia dan tak menginginkan apapun lagi. Walau pada kenyataannya, dia tetap tak mungkin bisa memenangkan hati pria itu.
Setelah tiga hari dirawat, akhirnya Sakura boleh pulang. Sasuke mengatakan, dramanya sudah diputar di TV dan bisa dilihat. Mereka bercerita banyak hal selama perjalanan pulang ke rumah.
Setelah sampai, Sakura bermaksud untuk turun sendiri. Tapi dia ingat kakinya masih diperban. Benar-benar menyusahkan saja!
Di saat Sakura ingin berusaha turun, Sasuke dengan sigap membantunya turun dan membopongnya. Sekali lagi Sakura terkejut bukan main. Wajahnya kembali memanas. Tapi pria itu seakan biasa saja melakukannya. Dia menggendong Sakura sampai naik ketangga.
"Terakhir kali kau mengatakan aku berat… kenapa masih menggendongku?" rutuk Sakura di perjalanan naik ke tangga rumahnya.
"Kau memang berat. Tapi aku tidak punya pilihan. Sekarang aku sedang berperan sebagai kekasih yang baik. Kalau kau cerewet, aku akan menjatuhkanmu sekarang," ancam Sasuke.
"Kenapa kau tidak bisa bersikap lembut sedikit padaku?"
"Karena kau menyebalkan!"
"Apa?!"
"Diamlah sebentar. Kau jadi tambah berat kalau kau ribut!"
Sakura kesal, dan langsung memeluk kencang leher pria itu.
"Aduuh! Kau mau membunuhku!" teriak Sasuke.
"Tidak. Itu bukti kasih sayangku padamu… kekasih yang baik," sindir Sakura.
Karena kesal, Sasuke berpura-pura menjatuhkan Sakura. Gadis itu berteriak kecil dan kembali memeluk Sasuke lebih kuat. Bahkan wajah Sakura sampai menempel dengan kencang ke dada bidang pria itu. Tapi pria itu kembali memeluk kuat bawah lutut dan punggung gadis itu. Sasuke berhenti di pertengahan tangga dan diam menatap wajah gadis itu. Sakura mendongak melihat Sasuke. Pria itu memandanginya dengan wajah serius. Wajah yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya. Wajah mereka dekat. Sangat dekat. Bahkan Sakura bisa merasakan napas hangat Sasuke.
"Ini serius. Aku memang ingin berperan sebagai kekasih yang baik," ujar Sasuke akhirnya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Jujur saja. Dengan kata-kata selembut itu, dan juga sikap selembut itu… Sakura pasti sudah bisa jadi gila. Hal ini bahkan membuatnya lebih tidak mau melepaskan seorang Sasuke.
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Hinata baru saja selesai belanja. Dari jauh dia melihat mobil Sasuke. Hinata bermaksud menghampirinya. Tapi tak lama kemudian, pria itu memutar langkahnya dari kursi kemudi, ke kursi penumpang. Dan itu adalah Sakura. Ada apa dengannya?
Hinata melihat Sakura tampak susah sekali keluar dari mobil, dan tak lama kemudian, Sasuke menggendong gadis itu dalam pelukannya dan membawanya naik ke tangga. Mereka tampak begitu dekat. Hinata merasa ada yang aneh dengan kekasihnya. Sasuke tak pernah bersikap begitu pada gadis lain. Bahkan dalam drama sekali pun. Dia tak pernah memandang seorang gadis sedemikian layaknya dia memandang Hinata. Bahkan setelah beberapa hari ini Sasuke tampak biasa saja tidak bertemu Hinata. Padahal dulu, sehari saja dia tidak bertemu rindunya setengah mati.
Apa mungkin…
Hinata menunggu sampai Sasuke keluar dari rumah Sakura. Setelah yakin Sasuke sudah pergi, akhirnya Hinata masuk ke dalam rumah itu.
Tampak gadis itu tengah duduk di kasurnya sambil memandangi kakinya yang diperban itu.
"Ooh. Kau sudah pulang, Hinata?" ujar Sakura.
"Ya… aku barusan belanja. Kau juga baru pulang? Maaf aku tidak bisa menjengukmu," balas Hinata setelah menaruh belanjaannya di meja lalu beringsut menuju kasur Sakura.
"Tidak apa-apa. Oh ya, tadi Sasuke kemari. Tapi dia tidak bisa lama-lama karena ada syuting untuk dramanya nanti. Dia mengatakan akan menjengukmu," jelas Sakura.
"Sakura, apa kau ingin tahu, bagaimana hubunganku sebenarnya dengan Sasuke?"
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada gadis di sampingnya ini.
"Bukankah sudah kukatakan. Aku juga ingin tahu. Tapi… itu kalau kau merasa sudah siap menceritakannya padaku," jelas Sakura.
"Baiklah. Kuharap kau mengerti. Aku akan menceritakannya."
Sakura tak mengerti. Kenapa tiba-tiba saja Hinata mengatakan hal pribadi seperti ini padanya. Meskipun pada awalnya Sakura memang penasaran, tapi Sakura tak menyangka Hinata akan menceritakannya secepat ini.
"Aku juga kehilangan orang tuaku karena kecelakaan. Dan naasnya, orangtuaku meninggal karena tabrakan mobil ketika menghindari sebuah mobil yang melaju kencang ke arah mobil kami. Ayahku yang menghindarinya malah terperosok ke dalam jurang. Hanya aku yang selamat dari kejadian itu. Jujur saja, aku kesal karena hanya aku yang selamat. Usiaku saat itu masih 15 tahun. Belum siap sepenuhnya ditinggalkan orang tua dengan cara seperti itu. Akhirnya… karena depresi yang mendalam, aku berlari ke obat bius dan narkoba. Aku mulai suka ikut geng yang diam-diam membeli narkoba. Aku mulai merusak diriku sendiri.
"Waktu itu aku benar-benar depresi dan frustasi. Aku tak tahu apa yang kulakukan. Hingga akhirnya… Sasuke datang mencariku. Awalnya aku menolak kedatangannya dan selalu mengusirnya. Tapi berkali-kali pula dia meyakinkan padaku bahwa dia siap menanggung semuanya. Dia mau bersamaku dan menjagaku seumur hidupnya. Walau dia tahu… tubuhku sudah bereaksi dengan obat terlarang yang selalu aku pakai. Dia terima apapun yang aku lakukan padanya. Awalnya aku benar-benar membencinya. Tapi… seiring berjalannya waktu… aku benar-benar jatuh cinta padanya.
"Demi aku… dia keluar dari rumahnya. Demi aku… dia tinggalkan keluarganya. Demi aku… dia menjalani kehidupan yang tidak menyenangkan. Semuanya demi aku. Aku tidak akan menyalahkan Sasuke seandainya nanti dia berhenti mencintaiku. Tapi… aku sudah tidak bisa hidup tanpanya mulai sekarang. Aku sudah terlanjur menginginkannya disampingku seumur hidupnya. Meskipun aku tahu… mungkin dia hanya kasihan padaku selama ini."
Hinata diam agak lama. Sejujurnya, Sakura sampai sekarang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Sasuke dengan semua cerita Hinata. Tidakkah sebenarnya Sasuke itu tidak punya hubungan apapun dengan Hinata? Setidaknya sampai Hinata terakhir kali bicara tadi.
"Kau pasti tidak mengerti kenapa Sasuke datang padaku tiba-tiba seperti itu kan?" lanjut Hinata seolah membaca pikiran Sakura.
"Karena orang yang menabrak mobil kami hari itu adalah… mobil Ayahnya Sasuke."
Mata Sakura membelalak lebar. Ayahnya? Ayahnya Sasuke yang menabraknya?
"Kau pasti kaget. Tentu saja. Aku juga kaget. Karena ketika keluarga Sasuke tahu, Sasuke mulai menjalin hubungan denganku, mereka marah dan tidak terima. Orang kaya mana yang mau menerima menantu hancur sepertiku? Ditambah lagi kenyataan bahwa orangtuaku meninggal karena mereka. Tentu saja mereka mati-matian melarang hubunganku dengan Sasuke. Tapi tampaknya Sasuke merasa bersalah dan seolah dia yang bertanggungjawab. Jadi dia yang menanggung semuanya untukku. Bahkan ibunya dan kakaknya Sasuke sampai memberikanku sejumlah uang untuk meninggalkan Sasuke dan pergi dari Jepang. Mereka sudah menyiapkan segala kompensasi untukku. Tapi aku tidak bersedia meninggalkan Sasuke. Akhirnya, demi menjaga hubungan kami, Sasuke keluar dari keluarganya.
"Dia memilih bersamaku di dalam pelarian ini. Awalnya ini menjadi kisah yang menyebalkan. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak akan melepaskan Sasuke. Karena tahun depan, kami memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Sasuke sudah menyiapkan segalanya untuk kami."
Sakura terdiam beberapa saat. Ke luar negeri katanya?
"Itu artinya…" ujar Sakura sambil menelan ludahnya yang terasa berat.
Rasanya berat mengatakan ini. Sungguh… bahkan Sakura sendiri tidak berani mengatakannya. Rasanya jika Sakura sampai mengatakannya, Sakura takut sebuah mimpi buruk mungkin akan menjadi kenyataan untuknya.
"Kalian… tidak akan kembali lagi kemari?" lanjut Sakura akhirnya.
"Yah. Tidak akan kembali lagi. Dan itu tidak akan lama lagi."
Yang benar saja!
Disaat seperti ini…
Kenapa Sasuke tidak mengatakan sejak awal padanya? Kenapa?
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Yah. Tidak akan kembali lagi. Dan itu tidak akan lama lagi.
Setelah mengatakan hal itu, suasana kembali terasa canggung di antara mereka. Sakura sendiri tidak yakin dengan apa yang dia rasakan. Rasanya… aneh.
Dia tiba-tiba takut dengan tidak jelas. Sudah seharusnya dia menolak dari awal rencana bodoh ini. Seharusnya dia tidak terlibat seperti ini. Sudah seharusnya…
Ketika malam agak larut, Sasuke datang menemui Hinata. Tapi Sakura pura-pura sudah tidur. Dia tidak ingin melihat Sasuke untuk sekarang ini. Tidak ingin.
,
,
,
*KIN*
.
.
.
"Sampai kapan kau mau menundanya? Ini sudah hampir akhir tahun Sasuke!" kata Hinata setelah membawa Sasuke ke teras rumah mungil itu. Sasuke tampak menatap Hinata serba salah.
"Tidak bisakah kau bersabar sampai tahun depan? Aku tidak bisa tiba-tiba meninggalkan semuanya. Butuh proses Hinata."
"Aku tidak mau! Katamu kau akan segera selesai. Kalau begitu selesaikanlah! Dan aku… memutuskan untuk tidak tinggal di sini lagi."
Mata Sasuke melebar mendengar pernyataan Hinata.
"Apa? Apa yang kau…"
"Karena aku tidak tahan lagi. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi Sasuke. Kau pikir aku baik-baik saja saat kau pergi dengan gadis lain dan mengatakan pada semua orang bahwa gadis lain adalah kekasihmu? Aku lelah. Aku juga punya perasaan."
"Tapi itu hanya… sandiwara saja…"
"Kau pikir itu sandiwara? Lalu bagaimana perasaan gadis itu? Kau pikir dia benar-benar menganggap semua ini sandiwara?"
"Sakura?" ulang Sasuke mencoba meyakinkan.
"Intinya. Sudah saatnya mengakhiri ini semua. Aku tidak bisa bertahan lagi. Aku minta mulai besok carikan tempat tinggal untukku. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi."
"Kenapa? Akan aneh kalau kita ketahuan bertemu? Aku menyuruhmu tinggal di sini adalah supaya aku leluasa menemuimu. Tidakkah kau mengerti hal itu? Aku tidak ingin ada berita tentangmu."
"Kita akan menanggungnya. Bukankah kau sudah berjanji akan menanggungnya bersama? Apa kau lupa itu? Aku akan baik-baik saja. Aku janji."
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sebenarnya Sakura tak boleh lakukan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Dia penasaran. Sakura tak mendengar apapun lagi dari percakapan mereka. Sasuke tidak mengatakan apapun. Tampaknya benar. Mereka benar-benar ingin meninggalkan Jepang. Bukankah itu bagus? Dia tak perlu lagi berpura-pura. Semuanya sudah selesai.
Selesai…
Tapi kenapa airmata Sakura tidak mau berhenti. Kenapa turun begitu deras? Kenapa?
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sudah beberapa hari ini, baik Sasuke maupun Sakura tak pernah lagi saling menghubungi. Sakura memang tahu mungkin Sasuke sedang sibuk dengan syutingnya. Dan itu pasti.
Lalu keadaannya dengan Hinata juga tak begitu baik. Mereka kembali terasa canggung seakan menganggap orang tak dikenal. Bukannya tanpa alasan Sakura bersikap seperti ini. Rasanya… dia memang tidak ingin hal itu terjadi. Sama sekali tidak ingin.
Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan. Tapi… bagaimana?
Sasuke tak pernah lagi menghubunginya. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Sakura? Apakah semua akan baik-baik saja?
Mendengar cerita Hinata, Sakura makin yakin… mungkin ada yang salah di sini.
"Ck. Melamun lagi… kau ini kenapa sih?" rutuk Ino ketika mereka berada di kantin kampusnya. Sakura tidak terlalu fokus dengan kedatangan Ino.
"Aku tahu… pasti Sasuke. Ahh~ Super Star itu… seenaknya saja ya… kau pasti kesepian."
Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Ino tanpa ekspresi.
"Ino… apakah ini… saatnya aku… jadi buih?" lirih Sakura. Matanya sudah memerah menahan tangis. Tapi dia tidak mau menangis. Akan sangat konyol kalau sampai dia menangis seperti ini.
"Hah?"
"Karena aku… sepertinya… benar-benar harus jadi buih…"
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Setelah pembicaraan tidak penting dengan Ino tadi, Sakura memilih untuk pulang dan melewatkan mata kuliah terakhirnya hari ini. Dia sedang tidak bersemangat sama sekali. Rasanya benar-benar tidak semangat. Ingin sekali melakukan sesuatu, tapi tidak bisa.
Begitu sampai di rumahnya, dia melihat tumpukan barang di depan rumahnya. Ada beberapa orang yang mengangkutnya satu persatu. Begitu melihat dengan jelas, ternyata Hinata keluar dari rumahnya sambil membawa barangnya sendiri.
"Oh, kau sudah pulang? Kupikir kau akan pulang agak sore," sambut Hinata yang sadar akan kedatangan Sakura. Dan gadis itu hanya berdiri diam di puncak tangga rumahnya.
"Ada apa ini?" tanya Sakura bingung.
"Sasuke, memintaku tinggal di apartemennya saja. Dia pikir sudah terlalu banyak merepotkanmu. Dan… aku sudah bilang kan, kami sesegera mungkin akan meninggalkan Jepang. Jadi… lebih cepat lebih baik kalau aku langsung pergi saja."
Sakura terdiam cukup lama. Bagaimana mungkin Sasuke bisa… menyuruhnya tinggal di apartemen pribadinya? Apakah ini masuk akal? Tidak. Mungkin Sakura yang tidak mau percaya apapun. Mungkin Sakura yang menolak menerima hal itu.
"Maaf sudah merepotkanmu selama ini. Oh ya, kau juga tidak perlu repot lagi menjadi kekasih bohongan Sasuke. Dia mengatakan, dia yang akan membereskannya dan mengatur semuanya sesuai perjanjian kalian. Kau jangan khawatir ya. Tidak akan ada yang merugikanmu. Selamat tinggal Haruno Sakura," Hinata menundukkan kepalanya dalam dan tersenyum manis. Dia lalu melewati Sakura dan melangkah pergi meninggalkan gadis itu. Hinata tahu, bahkan gadis itu tidak sempat bicara apapun padanya soal kepindahan mendadak ini. Sebenarnya Sasuke sama sekali belum memberikan keputusan apapun soal ini. Ini hanyalah tindakan egois yang dilakukan Hinata. Selama mengenal Sasuke, belum pernah Hinata ingin bertindak begini egois. Entah kenapa… sejak Sasuke bersama gadis itu, sifat egoisnya membuncah luar biasa. Dia hanya takut. Hanya takut…
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sakura melangkah dengan gontai memasuki apartemennya. Astaga. Kenapa dia jadi begini? Apakah ada yang salah? Tidak. Tidak ada yang salah. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang tidak baik. Tapi… bagaimana bisa?
Sakura terduduk di tengah ruangan rumahnya. Lalu menangis dalam diam.
Sakura tidak mau hal ini terjadi. Tidak mau. Tapi dia tidak boleh egois seperti ini. Sejak awal dia memang tidak ditakdirkan untuk memiliki perasaan ini. Hanya saja…
Karena tidak tahu harus melakukan apa, Sakura kembali berjalan gontai menuju pintu rumahnya. Dia butuh refreshing sejenak.
Ternyata memang kesalahan besar dia kembali pulang. Seharusnya dia tidak perlu pulang saja. Kenapa dia pulang?
Sakura berjalan di trotoar seperti orang setengah sadar. Dia tidak menyadari apapun. Hanya berjalan sejauh yang dia bisa. Wajahnya juga tidak terlihat baik. Dan siapapun yang melihatnya sudah pasti akan mengira dia memang sedang tidak baik.
Tanpa sadar, Sakura sudah sampai di taman kota. Lalu duduk di salah satu bangku taman itu. Bangku yang dipayungi oleh pohon maple yang sudah tidak ada daunnya lagi. Kebanyakan sudah gugur. Bahkan angin saat ini begitu dingin. Tapi dia tidak benar-benar peduli.
Satu persatu, Sakura mengingat awal pertemuannya dengan Super Star itu. Menyetujui rencana ini. Lalu… memiliki perasaan ini dengannya. Sungguh ini adalah kesalahan besar yang indah. Tidak terlintas sedikitpun tentangnya akan berakhir seperti ini.
.
.
.
*KIN*
.
.
.
"Kau temannya Sakura kan?" ujar Sasuke begitu tiba di kampusnya dan tidak menemukan gadis itu. Sebenarnya dia ingin bicara dengan Sakura mengenai hal yang Hinata inginkan. Tapi dimana pun dia mencarinya Sasuke tidak menemukan gadis itu. Jadi… dia iseng bertanya pada teman Sakura yang memang selalu berdua dengan gadis itu. Teman Sakura sedang duduk di tengah kelas sambil melihat-lihat buku pelajarannya.
"Oh… kau mencarinya juga ya?" sindir Ino. Dia sudah tahu pasti ada yang aneh antara Super Star ini dengan Sakura. Apalagi dengan tiba-tiba gadis itu tidak bersemangat untuk masuk ke kelas.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke bingung.
"Kalau kau mencari Sakura, dia sudah pulang dari tadi dengan wajah aneh. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi kalau kau menyakiti hatinya karena kau artis, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu! Kau boleh saja menyakiti hati ratusan gadis, tapi jangan Sakura. Karena aku tidak akan tinggal diam kalau kau membuatnya terluka," jelas Ino dengan nada setengah mengancam.
"Apa? Kau ini bicara apa sebenarnya? Kapan aku pernah menyakitinya?"
"Tadi pagi dia mengatakan soal jadi buih atau apalah itu. Beberapa waktu ini dia mengeluh kenapa dia menjadi putri duyung. Yah aku tidak suka kiasan berlebihan yang dia gunakan itu. Tapi… sepertinya kau tahu kan maksudku?"
Sasuke diam sesaat dan berpikir keras. Kenapa gadis itu suka sekali mengatakan hal-hal aneh. Dan kali ini…
Tunggu dulu. Temannya bilang… buih?
Ini terakhir kalinya. Peringatan dariku. Pilih salah satu. Hinata… atau Sakura. Dan ingat… harus ada yang jadi manusia… dan harus ada yang jadi buih. Mungkin kau tidak akan mengerti. Tapi nanti kau pasti akan mengerti.
Apa-apaan ini?!
Kenapa semua orang mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?
Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke meninggalkan teman Sakura itu dan bergegas pergi. Dia juga sedang tidak dalam kondisi baik untuk mengikuti perkuliahan apapun. Dan ditambah lagi masalah seakan berdatangan padanya. Sasuke sudah berulang kali menghubungi gadis itu, tapi sama sekali tidak diangkat. Kemarin, Sasuke yakin gadis itu baik-baik saja dan sama sekali tidak marah padanya. Kalau gadis itu kesal padanya, dia sudah pasti mengamuk pada Sasuke dan bicara padanya. Tapi kenapa kali ini dia memilih diam?
Dan Sasuke berharap, masalah ini tidak datang dari Hinata.
.
.
.
*KIN*
.
.
.
Sasuke bermaksud untuk mendatangi rumahnya. Temannya bilang kalau Sakura sudah pulang dari tadi dan tidak ikut perkuliahan. Tapi kenapa dia tiba-tiba pulang? Apa dia sakit lagi? Sepertinya anak itu suka sekali sakit. Dan setiap kali dia sakit, bawaan Sasuke selalu saja tidak enak.
Begitu melintasi taman yang tak jauh dari rumahnya, tanpa sengaja, Sasuke melihat seorang gadis dengan tatapan bodoh itu duduk di bawah bangku taman sambil melamun. Sasuke pelan-pelan menghentikan mobilnya dan mundur perlahan. Sasuke perhatikan wajah gadis itu. Dan benar. Itu dia. Selalu berada di tempat aneh.
Sasuke menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu dan membunyikan klakson. Tapi gadis itu sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Dia seperti berada dalam dunia lain dan tidak mempedulikan apapun. Sasuke membunyikannya beberapa kali dan sekarang dia benar-benar aneh. Gadis itu tidak mendengarnya.
Akhirnya Sasuke menurunkan kaca mobilnya dan memanggil gadis itu. Tapi tidak juga berhasil. Sasuke sampai dongkol sendiri. Apakah gadis aneh itu sudah kehilangan pendengarannya atau bagaimana?
Terpaksa Sasuke keluar dari mobilnya dan berdiri di depan gadis itu. Tapi masih juga tidak sadar.
Sasuke kembali lebih dekat dan memanggil gadis itu dengan lembut.
Dan kali ini, gadis itu berhenti melamun dan mengangkat wajahnya melihat Sasuke. Wajahnya kelihatan aneh. Pucat dan tidak bersemangat.
"Apa kau sudah tuli mendadak? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Hah?" dan gadis itu merespon dengan lambat!
"Ikut aku," kata Sasuke singkat dan langsung berbalik.
Begitu sampai di mobilnya dan hendak membuka pintu, gadis itu masih terpaku di bangku itu dan tidak berdiri. Dia hanya menatap Sasuke dengan ekspresi aneh dan langsung berdiri meninggalkan Sasuke. Ada apa dengannya?
Mau tak mau Sasuke mengejar gadis itu.
"Hei! Kau ini sudah kukatakan―"
Begitu akan menarik lengan gadis itu, Sakura langsung menyentakkan tangannya. Pertama kali Sasuke diperlakukan sedemikian aneh dengan gadis ini.
"Sekarang tidak ada kamera apapun. Aku tidak perlu ikut kau. Kalau tidak ada hal penting dan mendesak, jangan hubungi aku," kata Sakura dingin.
"Apa? Ada apa denganmu? Tiba-tiba begini aneh? Apa kau sedang marah padaku? Kalau kau marah katakan alasannya!"
"Kenapa aku harus marah padamu tanpa alasan? Ini tidak ada hubungannya denganmu. Pergilah," Sakura hendak berbalik, tapi kali ini pria itu sudah berdiri di depannya.
"Katakan ada apa. Jangan membuatku terlihat aku menyakitimu berlebihan seperti ini. Aku tahu kau pasti marah padaku!"
Sakura menggigit bibir bawahnya. Yah. Dia marah. Tapi kenapa dia marah? Tidak ada alasan dia marah.
"Setidaknya… katakan padaku kalau kau ingin Hinata tinggal di rumahmu supaya aku tidak terlalu terkejut. Dia pindah pagi ini dengan tiba-tiba. Kenapa kau selalu membuat keputusan tanpa bertanya padaku?"
Sasuke melongo mendengar kata-kata gadis itu.
"Hinata? Hinata pindah? Pindah kemana?" kali ini Sasuke yang ikutan bingung. Jujur, dia tidak tahu bagian ini.
"Ke apartemenmu. Sudahlah. Jangan berpura-pura bodoh seperti itu. Aku jadi tambah yakin kau benar-benar menjalankan semua rencanamu tanpa memberitahu padaku. Memang berlebihan, tapi setidaknya, aku bisa memberi alasan pada orang-orang yang mungkin bertanya padaku soal hubungan kita. Hhh… aku jadi terlihat seperti orang bodoh yang mengkhawatirkan hubungan palsu ini."
"Kau salahpaham. Aku sama sekali tidak tahu kalau Hinata sudah pindah ke… apartemenku. Aku belum memutuskan apapun soal hubungan kita. Tolong jangan berlebihan seperti itu."
"Belum memutuskan? Kau pasti bercanda. Jadi soal kau mau pergi berdua dengan Hinata untuk keluar Jepang dan memutuskan melanjutkan kuliah di luar negeri, itu pun belum kau putuskan? Aku bahkan tidak tahu kau tidak mau tinggal di Jepang lagi demi Hinata," sindir Sakura.
"Darimana kau tahu itu?" kening Sasuke berkerut ketika mendengar rencananya dulu itu. Itu baru rencana, dan jujur Sasuke belum memutuskan sepenuhnya. Dia masih…
"Apa penting aku tahu darimana? Silahkan nikmati keputusanmu itu. Kalau kau mau mengakhiri hubungan ini, aku akan siap. Asal kau selesaikan sesuai dengan perjanjian kita. Dan aku tidak perlu berpura-pura untukmu lagi."
"Apa kau begitu ingin mengakhiri semua ini? Sudah kukatakan aku akan menyelesaikannya dan kau tidak perlu khawatir. Kenapa kau jadi sentimental seperti ini?"
"Khawatir? Hahaha, lucu… aku tidak pernah sekali pun khawatir pada semua urusanmu! Aku melakukan semua ini bukan untukmu, tapi demi uang. Kau puas?"
Sasuke menghembuskan napas dengan kesal. Rasanya kepalanya mau meledak. Ok, masalah datang bertubi-tubi padanya. Ini seperti drama menyebalkan yang sering disetujui oleh Kakashi padahal Sasuke benci drama!
"Jadi kau benar-benar marah padaku huh?" kata Sasuke dengan sinis.
"Aku tidak marah. Untuk apa aku marah," balas Sakura cuek.
"Kalau kau sudah mengatakan tentang uang, kau pasti marah padaku! Memangnya aku ini orang bodoh yang tidak tahu kebiasaanmu itu hah?!"
Sakura terdiam untuk sekian saat.
Apa… Sasuke tadi… mengatakan soal kebiasaannya?
Sasuke… menyadari… hal kecil seperti itu?
Sasuke terlihat menepuk dahinya dengan sebelah tangannya dan menghembuskan napas lagi. Kali ini seperti ekspresi lelah yang cukup berat.
"Baiklah, aku sudah cukup pusing dengan semua masalah yang datang seperti wabah ini. Aku akan berusaha menyelesaikannya satu persatu. Jadi kau hanya duduk diam saja jangan banyak protes. Melihatmu seperti ini benar-benar membuatku—"
Sasuke diam sembari menatap wajah aneh Sakura. Gadis itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Entahlah, sebenarnya dia memang sedang marah, kesal atau muak dengan Sasuke. Ditambah lagi wajah datarnya yang aneh itu.
"Sudahlah! Kau pulang saja. Kali ini kalau kau tidak mengangkat telepon dariku, jangan salahkan aku kalau aku tidak akan pernah mau membayarmu!"
Sasuke kemudian perlahan meninggalkan Sakura yang masih terpaku di sana.
Sakura tidak menyangka kalau Sasuke akan mengatakan hal seperti itu. Kata-kata yang membuat Sakura akan berharap jauh lebih banyak dari sekarang. Jika Sakura yang egois kali ini, apa yang akan terjadi? Apa yang akan Hinata lakukan ketika tumpuan hidupnya hanya Sasuke seorang? Jika Sakura ada pada posisi Hinata, apa yang akan Sakura lakukan untuk mempertahankan Sasuke di sisinya ketika Sasuke nantinya akan goyah?
Keinginan egois itu membuncah luar biasa. Keinginan egois itu memenuhi seluruh hatinya. Keinginan egois itu terus membayanginya. Dan sungguh… keinginan egois itu benar-benar… menyakitkan.
Sasuke berjalan perlahan, bersiap meninggalkan Sakura dan menuju mobilnya.
Apa yang harusnya Sakura lakukan?
Apa?
Apa yang bisa membuatnya tidak menjadi egois meskipun Sakura ingin mengatakan keinginannya?
Kaki Sakura berjalan pelan, kemudian sedikit perlahan, kemudian bertambah cepat, sedikit cepat, hingga akhirnya Sakura memutuskan untuk berlari.
Begitu Sasuke membuka pintu mobilnya, Sakura sudah mencapainya.
Kedua lengannya melingkar erat satu sama lain. Perasaannya sudah tumpah.
Sasuke yang mendadak mendapatkan kejutan ini, tiba-tiba terpaku diam.
"O-oi? Apa yang kau lakukan?" ujar Sasuke yang tiba-tiba dilanda kebingungan.
Jika memang harus berakhir seperti ini, tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Sakura tidak bisa bersikap egois. Sakura ingin menyampaikan perasaannya tanpa menyakiti siapapun. Sakura tahu rasanya disakiti. Dan Sakura tidak ingin seorang pun disakiti.
"Aku… menyukaimu…"
Sasuke membelalakkan matanya. Tadinya Sasuke akan menyingkirkan tangan Sakura yang melingkar di pinggangnya. Tapi kemudian gerakannya terhenti mendadak.
Bukankah… itu…
Kata-kata tabu yang tidak boleh diucapkan?
.
.
.
*KIN*
TBC
.
.
.
Holla minna…
Oh ya chap kemarin ada yang lolos edit yaa?
Hmm, saya kan udah pernah bilang dari pertama kalo sebenarnya ini fic lama yang saya rombak. Jadi tadinya saya memang pake nama Korea, tapi tenang ini bukan fic RPF kok, semua tokohnya juga fiksi dan belum pernah saya publikasikan ke tempat lain. Makanya untuk kesalahan kemarin, saya benar-benar minta maaf sebesar-besarnya.
Bales review…
Sami haruchi : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe
Amu B : makasih udah review senpai… ini udah ada masa lalunya hehehe
Yuki : makasih udah review senpai… hehehe ini udah lanjut
Anka-Chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Moechuu : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheh
Lucy Hinata : makasih udah review senpai… heheh iya makasih banyak hmm saya coba nanti ya banyakin word-nya takut kepanjangan soalnya hehehe
Sofi asat : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Himenohanachan males login : makasih udah review senpai… iya makasih banyak yaa
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe jadi mau dipanggil apa ya enaknya hehehe
Akiko Mi Sakura : makasih udah review senpai… heheh iya ini update heheh…
Uchihayukicherry : makasih udah review senpai… maaf gak lanjut cepet tapi ini udah update hehehe
Candra Uchiha : makasih udah review senpai… ahahah saya memang meminimalisir peran Hinata, soalnya saya sebenernya gak berencana bikin dia jadi antagonis banget. Jadi perannya untuk pendukung situasi cerita hehehe
Yollapebriana : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah update kok hehe
Xiaooo : makasih udah review senpai… makasih banyak… ini udah update kok ehhehe
Estu setyo : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
White's : makasih udah review senpai… jadi manggilnya apa hehehe… iya ini udah lanjut kok hehehe
OMO : makasih udah review senpai… makasih banyak heheh iya ini udah update lagi hehehe
Marukocan : makasih udah review senpai… hehehe
V3Arra : makasih udah review senpai… iya ini bener ff korea, tapi bukan RPF kok. Semua namanya di sini fiksi bukan dari nama artis asli hehehe makanya memang ada sedikit istilah yang sama dengan korea hehehe… makasih sekali lagi yaaa
Iqma96 : makasih udah review senpai… ahaha iya terima kasih banyak koreksinya yaa hehehe makasih juga semangatnya…
cherrySand1 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe
tataruka : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
piscesaurus : makasih udah review senpai… iya ini bener ff korea, tapi bukan RPF kok. Semua namanya di sini fiksi bukan dari nama artis asli hehehe makanya memang ada sedikit istilah yang sama dengan korea hehehe… makasih sekali lagi yaaa udah suka hehehe
aitara fuyuharu : makasih udah review senpai… salam kenal juga hehehe iya ini udah lanjut lagi hehehe
Aika Yuki-chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe makasih banyak yaaa
Crystal : makasih udah review senpai… iya ini udah diupdate hehehe makasih banyak yaa
Tathaa : makasih udah review senpai… makasih banyak hehehe iya ini udah lanjut kok hehehe
N : makasih udah review senpai… makasih banyak udah nunggu hehhe iya ini udah lanjut kok hehehe
Oh Hannie Yehe : makasih udah review senpai…iya ini udah lanjut lagi hehehe
Uchiher : makasih udah review senpai… iya makasih semangatnya heheh ini udah lanjut lagi ehehhe
Sasha : makasih udah review senpai… iya ini sibuk banget jadi nyari waktu buat updatenya agak susah hehehe
Kika : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Annabelle : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe
Makasih banyak yang udah baca…
Jaa Nee!
