Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Sasuke masih terdiam cukup lama setelah mendengar kata-kata itu.
Tapi kemudian, Sakura malah melepaskan tangannya yang tadi masih melingkar di tubuh Sasuke. Tentu saja Sasuke yang menyadari ini jadi berbalik ke belakang untuk melihat gadis berambut pink ini. Wajah Sakura menunduk, enggan melihat kepada Sasuke.
"Kau ini—"
"Aku sudah mengatakannya. Kau ingat perjanjian kita kan? Kalau begitu, kita bisa mengakhirinya sekarang. Tenang saja, aku akan bertanggungjawab untukmu."
Setelah mengatakan hal itu, Sakura langsung berbalik hendak meninggalkan Sasuke.
Namun Sakura tertegun kaku ketika Sasuke malah menghentikan langkahnya dengan menarik tangannya dengan erat. Sasuke menggenggam pergelangan tangannya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya. Tentu saja Sakura jadi berubah kaku dan sulit berpikir. Kenapa Sasuke…
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sampai kau berubah jadi orang konyol seperti ini! Tapi yang jelas, yang memutuskan untuk mengakhiri semua ini adalah aku. Jadi kau jangan sok hebat sekarang mengatakan untuk mengakhirinya!"
Sakura berbalik dan menatap tajam ke arah Sasuke. Kenapa laki-laki ini jadi begini merepotkan? Sakura tak menyangka respon yang didapatnya malah menyulitkan seperti ini. Seharusnya Sasuke membiarkannya pergi dan menyetujui semua yang dikatakan oleh Sakura. Karena bagaimana pun ini keputusan yang susah payah dibuat oleh Sakura untuk tidak menyakiti siapapun.
"Kau sendiri yang membuat perjanjian seperti itu! Sekarang malah kau sendiri yang mengelaknya. Maumu sebenarnya apa hah?!"
"Kalau kau mengatakan hal itu hanya untuk menghindariku aku tidak terima!"
"Aku tidak menghindarimu!"
"Ya kau menghindariku orang bodoh!"
"Apa? Kau memanggilku bodoh lagi!"
"Kau memang bodoh tahu, orang bodoh!"
"Uchiha Sasuke! Kau benar-benar artis menyebalkan terparah yang kutemui! Kenapa kau bersikap begini egois hah?! Memangnya aku salah apa padamu sampai kau menyulitkanku begini?!"
"Aku tidak pernah menyulitkanmu! Kau sendiri yang membuatnya jadi sulit! Kalau kau memang tidak ingin aku menyulitkanmu kenapa kau tidak mau mendengar apa yang kukatakan hah?! Kalau memang kau ingin mengatakan hal itu, sekarang kau mengatakannya dengan melihat ke mataku. Sekarang!"
Sakura tak mengerti.
Laki-laki itu tetap menggenggam tangannya dan melihat begitu fokus kepada Sakura. Sampai Sakura sangat yakin dan seyakin-yakinnya Super Star ini tengah melihat matanya begitu intens. Mereka saling menatap begitu lama hingga akhirnya Sakura sendiri yang memilih menundukkan kepalanya untuk menghindari onyx gelap itu. Kenapa Sakura malah terhipnotis sendiri pada tatapan artis payah ini?
"Hei, kenapa kau menunduk, ayo katakan lagi supaya aku mendengarmu!" perintah Sasuke.
"Tidak jadi…" gumam Sakura.
"Hah? Kau mengatakan apa?"
"Tidak jadi," kata Sakura seraya menguatkan sedikit suaranya, tapi dirinya masih tidak mampu melihat Sasuke langsung. Dirinya hanya mampu menunduk saja sekarang ini.
"Hah?"
"TIDAK JADI! DASAR SIALAN! KAU MAU APA SEBENARNYA HAH?!" pekik Sakura.
Sasuke menyeringai dengan misteris, nyaris tersenyum sebenarnya. Tapi itu senyuman iblis yang benar-benar menyebalkan. Sakura tak menyangka laki-laki ini bisa begitu menyebalkan sekarang. Meskipun dia dulu sama menyebalkannya, tapi Sakura tak menyangka dia bisa menggoda Sakura begini berlebihan. Dasar sialan!
"Kalau begitu aku anggap yang tadi tidak pernah kau katakan. Sekarang kau pulang saja sana. Aku tidak mau kau menghindariku, mengabaikan teleponku, menolak bertemu denganku, tidak mendengarkan kata-kataku, berbuat konyol dan…"
"Banyak sekali! Sebenarnya kau ini mau apa hah?" potong Sakura.
"Dan menangis sendirian. Kau tidak perlu menangis untuk hal yang tidak pasti. Karena itu, bersabarlah sebentar. Aku akan menyelesaikannya."
Sakura kembali terdiam sejenak. Kini dirinya sudah berani mengangkat kepalanya menatap Sasuke. Entah apa yang terjadi, tapi saat itu Sasuke menatapnya dengan sedikit… berbeda.
"Kau mengerti tidak?" tiba-tiba Sasuke mengetuk dahi Sakura dengan cukup keras menggunakan dua jarinya.
"Aw! Sakit sialan!" keluh Sakura.
"Pulanglah."
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke melepaskan genggaman tangannya dan segera masuk ke dalam mobil.
Dan tak lama kemudian mobil artis menyebalkan itu sudah melaju pergi meninggalkan Sakura.
Sungguh, jika dia bersikap seperti itu, Sakura sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sakura tidak tahu apakah nanti dia masih bisa bersikap seperti ini dan berharap tidak menyakiti siapapun. Kalau memang Sasuke tidak ingin Hinata salah paham seperti ini, seharusnya Sasuke tidak melakukan hal-hal seperti itu. Seharusnya Sasuke sekarang meninggalkan Sakura saja. Jika Sasuke yang meninggalkan Sakura saat ini, mungkin perasaannya tidak akan kembali. Mungkin Sakura tidak akan berharap lebih banyak seperti saat ini. Dan mungkin… Sakura tidak akan pernah bermimpi jika nanti Sasuke mungkin…
Mungkin…
Mungkin…
.
.
*KIN*
.
.
"Itachi… apa kau sudah tahu dimana Sasuke tinggal sekarang? Dia tidak pernah memberitahu siapapun dimana dia tinggal saat ini. Ibu ingin menemuinya," ujar Mikoto siang itu ketika meminta anak sulungnya untuk berkunjung ke rumah saat jam makan siang berlangsung.
"Apa yang Kaa-san inginkan bertemu dengan Sasuke?" tanya Itachi.
"Ibu… ingin Sasuke pulang. Apa… kau bisa membujuknya pulang? Ibu tidak masalah dengan gadis yang tengah berkencan dengannya itu sekali pun dia tidak punya orangtua. Lagipula… kelihatannya dia gadis yang baik."
Itachi tertegun mendengar kalimat itu justru keluar dari mulut Mikoto. Karena yang Itachi tahu, ibunya ini sangat protektif pada anak-anaknya dan sangat peduli pada siapa anak-anaknya bergaul.
"Kenapa Kaa-san bisa mengatakan hal itu. Padahal Kaa-san hanya bertemu dengannya satu kali," kata Itachi.
"Ayahmu sudah bertemu dengan gadis itu," sahut Mikoto.
Kontan saja Itachi terbelalak mendengarnya. Jadi… ayahnya bertemu juga dengan Sakura. Tapi bagaimana bisa ayahnya yang sangat sibuk itu bertemu dengan Sakura?
"Apa Tou-san yang memaksa bertemu gadis itu seperti Kaa-san membawanya waktu itu?" tebak Itachi.
"Tidak. Mereka tidak bertemu dengan sengaja. Ayahmu juga mengatakan kalau dia… memang gadis yang baik. Karena untuk pertama kalinya sejak Sasuke keluar dari rumah ini… gadis itu membawa Sasuke bertemu dengan ayahmu."
Jadi… apakah ini artinya… ibunya sudah menjinak sekarang? Agak aneh memang mengatakan hal itu. Tapi bukankah Haruno Sakura bukan siapa-siapa sekarang ini? Jadi bagaimana mungkin untuk seorang Uchiha Mikoto mau menyetujui hubungan anaknya dengan orang seperti Sakura.
"Kupikir Kaa-san akan menjodohkan Sasuke dengan kenalan Kaa-san."
"Ya, tadinya memang begitu. Tapi jika gadis itu bisa mengembalikan hubungan Sasuke dan ayahnya, Ibu tak akan menolak dua kali."
Itachi jadi serba salah sekarang.
Jika ibunya tahu yang sebenarnya, jika sebenarnya Sakura hanyalah kamuflase untuk menutupi kebohongannya, jika Sakura hanyalah alat sandiwaranya dan jika Sakura tidak pernah sedikitpun disukai oleh Sasuke—tunggu, mungkin kalimat terakhir mulai diragukan—bagaimana ibunya akan menerima kenyataan ini? Bahwa Sasuke masih terikat dengan gadis di masa lalunya itu?
Itachi tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Tapi bagaimana jika Itachi-lah yang sebenarnya ingin serius dengan gadis itu? Karena menurut Itachi, selain dirinya mungkin tidak ada pria yang lebih baik untuk membuat gadis itu bahagia.
Apalagi karena Sasuke, gadis itu sudah terlalu banyak menangis.
"Aku… akan bicara dengan Sasuke nanti," ucap Itachi akhirnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Sasuke… kau dimana? Kau… tidak pulang?"
Setelah akhirnya mau tak mau Sasuke mengakui kalau sebenarnya tadi dia sedikit kesal dengan tingkah Sakura yang mulai membuatnya pusing, sekarang kepalanya bertambah pusing lagi mengingat kini kekasihnya benar-benar tinggal di dalam apartemennya sendiri. Karena setelah memastikan Sakura kembali ke rumahnya, Sasuke segera mencari Hinata. Dan benar, gadis berambut gelap itu sudah menunggu di lobby apartemennya dengan barang bawaannya. Akhirnya mau tak mau Sasuke menampungnya juga di sana setelah Hinata tidak mengatakan alasan kuat hingga dia memutuskan keluar dari rumah Sakura.
Mungkin Sasuke berpikir kalau mungkin sebenarnya Hinata dan Sakura bertengkar. Tapi sepertinya tidak begitu jika melihat gelagat Sakura yang tidak sedikit pun menyinggung nama Hinata saat bertemu dengannya tadi. Lagipula, kenapa Sakura harus bertengkar dengan Hinata? Bukankah hubungan dua orang itu baik-baik saja?
"Mungkin aku tidak akan pulang. Hari ini ada syuting sampai pagi…" ucap Sasuke akhirnya.
"Oh, begitu… baiklah. Hati-hati, Sasuke…"
"Hm, tentu."
Setelah Hinata menutup telepon itu, dirinya masih saja memandangi telepon pribadi di apartemen Sasuke. Kini keputusannya untuk tinggal bersama Sasuke sudah dilakukannya. Tapi kenapa laki-laki tampan itu seperti menghindarinya. Kenapa Hinata jadi berpikir begini? Sasuke mana mungkin mengkhianatinya kan?
Tapi justru karena itu, Hinata berubah menjadi takut.
Benarkah keputusannya ini sudah tepat?
Hinata hanya tidak ingin Sasuke ragu kepada keputusannya nanti. Waktu Sasuke mengatakan akan mempertimbangkan kembali rencana mereka, jelas saja Hinata sudah sangat takut. Bagaimana jika seandainya nanti Sasuke benar-benar goyah?
Hinata tidak ingin menyakiti siapapun. Apalagi Sakura yang sudah dianggapnya sangat dekat. Sakura adalah teman pertamanya sejak beberapa tahun belakangan ini Hinata mengasingkan diri. Jelas saja Hinata tidak ingin hubungannya dengan Sakura akan canggung karena Sasuke. Meskipun Sakura sudah berjanji untuk tidak akan mengusik Sasuke… tapi Sasuke…
"Ya Kakashi, terima kasih. Untung kau tahu password anak itu. Mungkin aku akan menunggunya di sini saja. Oh ya, sampaikan—"
Hinata terkejut bukan main saat seseorang masuk begitu saja ke dalam apartemen Sasuke. Dan lebih terkejut lagi itu adalah kakaknya Sasuke!
Hinata jadi takut karena seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang jahat. Itachi bahkan sampai membelalak lebar melihatnya ada di apartemen pribadi adik kandungnya ini. Dengan kasar Itachi mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. Melirik sinis kepada Hinata.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Itachi.
"A-aku… Sasuke… yang memintaku tinggal di sini," jawab Hinata seraya menundukkan kepalanya.
"Apa? Sasuke? Apa kau bercanda? Bagaimana mungkin Sasuke menyuruhmu tinggal di sini saat semua rekan Sasuke bisa saja keluar masuk apartemen ini?"
"Sasuke akan mengatasinya. Lagipula, tak lama lagi kami akan segera pergi dari Jepang," kata Hinata akhirnya.
"Pergi dari Jepang? Sasuke tidak pernah mengatakan itu!"
"Sasuke memang tidak mengatakannya. Dia tidak ingin orang lain tahu. Dia tidak ingin ada yang menghalangi kami."
"Seingatku aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga dirimu dari Sasuke. Jadi kau tidak mengindahkan peringatanku kepadamu?"
"Apapun yang Itachi-san lakukan, kami tidak akan pernah terpisahkan. Sasuke adalah satu-satunya tempatku bergantung di dunia ini. Satu-satunya tempat untukku bersandar. Jika Sasuke tidak ada… aku tidak mungkin mampu untuk hidup!"
"Tapi Sasuke punya hak untuk memilih!"
"Memangnya siapa yang membuat hidupku jadi seperti ini?! Memangnya siapa orang yang seharusnya bertanggungjawab untuk hidupku?! Kalian masih memiliki keluarga meskipun tidak ada seorang pun yang mencintai kalian. Tapi aku… aku tidak memiliki siapapun dan tidak ada yang mencintaiku. Memangnya ini salahku? Apa aku salah menginginkan Sasuke?"
Itachi diam sejenak. Itachi benar-benar muak dengan gadis ini. Dia benar-benar menyulitkan Sasuke sekarang. Meskipun Itachi tidak yakin apakah Sasuke benar-benar menyetujui keinginan gadis ini dan bersedia melakukan apa saja untuk Hinata.
"Lalu… apa yang terjadi pada Sakura?"
"Kau… tahu mengenai Sakura?" tanya Hinata terbata.
"Katakan saja, kau tidak perlu tahu itu."
"Sasuke mengatakan… dia akan segera mengakhiri hubungannya dengan Sakura. Tapi Sasuke sudah berjanji akan membayar gadis itu untuk semua yang telah dia lakukan untuk kami."
"Membayar? Apa maksudmu membayar?"
"Sasuke membayar Sakura untuk menjadi kekasih bohongannya. Dan Sakura menyetujui itu. Sakura juga mengatakan kalau dia tidak apa-apa. Dia tidak menyukai Sasuke sedikit pun."
Itachi tersenyum sinis pada Hinata.
"Jadi itu alasanmu pindah kemari?"
"Apa maksudmu?"
"Kau takut perasaan Sasuke berubah padamu kan?"
Hinata terbelalak. Wajahnya berubah gugup. Sudah Itachi duga. Ternyata memang ada yang aneh dengan tiga orang ini. Mungkin terjadi sesuatu yang membuat Hinata mengambil keputusan nekat ini. Mungkin juga ada yang terjadi di antara Sakura dan Sasuke sampai Hinata jadi begini kalap. Karena jujur saja, apa yang dia katakan semuanya terkesan begitu terburu-buru. Dan dia mengatakan semuanya mengenai kebohongan Sasuke dan Sakura begitu jelas pada Itachi.
Hinata hanya diam tanpa berani memandang ke arah Itachi sedikit pun.
"Kau tenang saja, meskipun perasaan Sasuke benar-benar berubah, aku tidak akan membiarkan anak itu seenaknya lagi. Lakukan saja rencana kalian. Aku tidak peduli. Karena ada hal yang lebih penting untuk kupedulikan."
Setelah mengatakan hal itu, Itachi segera keluar dari apartemen Sasuke.
Jadi benar masalahnya sudah berkembang begini rumit.
Sepertinya benar ada yang sudah terjadi setelah kejadian di rumah sakit itu.
Tapi Itachi tidak bisa menebak siapa yang lebih dulu menyadari semuanya.
Apa itu Sakura… atau itu Sasuke.
"Sakura, kau ada dimana? Bisa kita bertemu?" ujar Itachi ketika hubungan ponsel itu tersambung.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah bertemu dengan Sasuke tadi, Sakura hanya meringkuk di balik selimutnya di atas kasurnya saja. Tidak ada hal yang ingin dia lakukan. Bahkan untuk makan sekali pun rasanya tidak enak. Beberapa kali Sakura sudah mencoba untuk tidur.
Tapi setiap kali tidur, kepalanya malah mengingat kejadian tadi siang.
Kenapa laki-laki itu selalu membuatnya bingung begini?
Hingga tiba malam hari pun, Sakura masih tidak merasa lebih baik dari siang tadi.
Apa alasan Sasuke sebenarnya?
"Sakura, kau ada dimana? Bisa kita bertemu?"
Begitu membuka ponselnya yang berbunyi itu, dan jujur Sakura sangat malas mengangkatnya. Tapi melihat nama pemanggilnya itu, Sakura tak punya pilihan lain.
"Bertemu? Sekarang?" tanya Sakura.
"Ya, sekarang. Bisa?"
"Tapi… ada apa?" tanya Sakura bingung.
"Ada hal penting yang ingin kukatakan."
Setelah mengiyakannya, Sakura kembali menatap ponsel di tangannya itu. Tiba-tiba menelpon dan mengajak bertemu, lalu mengatakn ada hal penting. Hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Itachi?
Apakah Sakura memiliki utang yang belum dibayar? Atau—
Ibunya?! Ibunya ingin bertemu dengan Sakura lagi?
Mana mungkin… kalau iya begitu, seharusnya ibunya menjemput Sakura saja kan seperti biasanya. Lalu kenapa harus melalui Itachi?
Semakin memikirkannya, jujur saja Sakura semakin pusing. Karena itu dengan sedikit malas, Sakura mengambil jaket bertudung berwarna pinknya, jeans biru gelapnya dan sepatu sneaker hitamnya. Semoga saja Itachi tidak terlambat. Jujur saja udara malam ini sangat dingin sekali.
Itachi meminta Sakura menunggunya di taman dekat apartemen Sakura tinggal. Syukurlah tidak pergi ke tempat yang jauh. Karena jujur, selain Sakura merasa kurang sehat, rasanya benar-benar malas berjalan ke tempat jauh di malam hari seperti ini.
Beberapa menit Sakura menunggu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tak jauh dimana Sakura duduk. Melihat mobil itu tampak mendekatinya, Sakura langsung berdiri di trotoar menunggu.
Rupanya benar itu Itachi.
"Ada apa malam begini Itachi—"
Begitu Itachi keluar dari mobil itu, pria yang masih mengenakan jas berwarna hitam ini malah melaju terus ke arahnya dan melakukan perbuatan yang tidak diduga Sakura sama sekali. Kenapa…
"Itachi-san? Apa… yang kau lakukan?" gumam Sakura.
Sakura memang tidak merasa mungil sama sekali, tapi kenapa ketika Itachi memeluknya begini tubuhnya terasa kecil? Sakura benar-benar tenggelam dalam lingkaran lengan pria berambut hitam ini. Apalagi Itachi memeluknya begitu erat hingga Sakura yakin napasnya sangat terbatas sekarang.
"Selama ini aku benar-benar berusaha menahan diri, tapi sekarang aku tidak akan menahan diri lagi."
Sakura berusaha melepaskan pelukan dari kakak Sasuke ini. Tapi semakin Sakura berusaha melepaskannya, Itachi semakin memeluknya lebih erat.
"Itachi-san, tolong—"
"Tinggalkan Sasuke sekarang. Jika kau meninggalkannya sekarang, aku akan segera menjemputmu."
Kali ini Itachi-lah yang melepaskan pelukannya. Memegangi kedua pundak Sakura dengan erat dan menatap mata hijau zamrud Sakura. Satu hal yang Sakura sadari ketika wajah mereka berhadapan begini dekat.
Wajah Itachi memang begitu mirip dengan Sasuke. Bahkan mata mereka begitu mirip satu sama lain. Itachi yang menatapnya seperti ini… mirip ketika Sasuke menatapnya.
"Kau harus meninggalkan Sasuke sebelum dia menyakitimu. Kau tidak pantas untuk itu. Kau gadis yang baik. Kau tidak pantas mendapatkan Sasuke yang bahkan tidak pernah sekali pun peduli padamu."
"Kenapa tiba-tiba Itachi-san mengatakan hal ini?"
"Karena aku sudah tahu semuanya. Semua yang dilakukan Sasuke padamu."
Sakura semakin gugup dalam situasi ini. Bagaimana Itachi bisa tahu semuanya? Apakah Itachi punya radar? Apa dia punya detektif?
"Memang… apa yang dilakukan Sasuke padaku?" tanya Sakura berpura-pura tak mengerti. Dia harus tetap menjaga rahasianya meskipun Sakura tak mengerti apa maksud Itachi sekarang ini.
"Apakah aku harus menjelaskannya semuanya padamu?"
"Itachi-san… kau… membuatku takut…" gumam Sakura seraya menundukkan kepalanya sedalam mungkin. Kali ini dirinya terlalu takut untuk memandangi Itachi secara langsung. Tatapan Itachi tak seperti biasanya. Kali ini Itachi terlihat jauh lebih serius dan begitu dingin. Sakura tak pernah berpikir Itachi memiliki sisi seperti ini. Karena yang Sakura tahu, Itachi tidak seperti sekarang ini.
Itachi kemudian menurunkan kedua tangannya dari pundak Sakura.
Itachi baru sadar jika ternyata Sakura memang terlihat gugup dan takut saat ini. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya begini takut jika Itachi mengatakan hal yang sebenarnya. Apakah ini… berhubungan dengan Sasuke?
"Maaf jika aku membuatmu takut. Anggap saja kau tidak mendengar apapun yang kukatakan tadi. Tapi, soal kau harus meninggalkan Sasuke itu aku serius."
Sakura diam tak menjawab.
"Kau harus meninggalkan Sasuke. Dan aku… tidak keberatan untuk menggantikan posisi laki-laki itu di hatimu. Kau tidak seharusnya menempatkan laki-laki seperti Sasuke di dalam hatimu. Laki-laki yang akan menyakitimu lebih banyak dari ini. Laki-laki yang bahkan tak pernah sekali pun peduli padamu."
"Aku… pulang lebih dulu," ujar Sakura akhirnya. Dirinya kemudian melangkah maju meninggalkan Itachi lebih dulu.
"Kau tidak bisa menghindari ini Sakura. Semakin kau menghindarinya, kau akan semakin merasa sakit. Saat ini, adalah saat yang tepat untuk membuat keputusan. Dan meninggalkannya, adalah pilihan paling baik. Ketika sesuatu terjadi pada kalian nanti, yang akan lebih banyak merasa sakit adalah kau, bukan Sasuke. Dan aku tidak ingin melihatmu terluka seperti itu. Tidak untuk yang kedua kalinya," jelas Itachi.
Sakura memang menghentikan langkahnya ketika Itachi mengatakan hal itu. Tapi dia memunggungi laki-laki ramah itu. Dan tanpa disadarinya, kata-kata Itachi justru membuatnya tidak mampu menahan ledakan ini lagi.
Makanya… makanya…
Sekarang semuanya sudah meledak.
.
.
*KIN*
.
.
Sejak pagi ponsel Sakura terus berdering tanpa henti. Tapi Sakura terlalu malas mengangkatnya dan tidak berniat mengangkatnya. Semalaman dirinya tak bisa tertidur dan sekarang wajahnya sudah terlihat pucat dan mengerikan. Kantung mata dan lingkaran hitam sudah berkumpul di wajahnya. Benar-benar mengerikan.
Dengan langkah malas, akhirnya Sakura memilih untuk pergi ke kampusnya tanpa sekali pun melihat ponselnya. Dirinya benar-benar malas meladeni semua omong kosong hari ini.
Begitu tiba di kampusnya, Sakura bingung karena begitu ramai hari ini.
Memangnya ada artis yang datang? Huh? Artis… memang ada satu artis menyebalkan yang ada di kampur ini!
Ponselnya kembali berdering dengan kencang. Begitu kencang dan berkali-kali hingga akhirnya Sakura tak tahan lagi untuk memarahi penelpon sialan ini. Benar-benar ingin menguji emosi Sakura hah?!
"HALOOOO?!" pekik Sakura.
"Hei! Dimana kau bodoh! Aku sudah menghubungimu sejak dua jam yang lalu!" bentak si penelpon itu dengan suara yang jauh lebih emosi dari Sakura.
Sejenak, Sakura melepaskan ponselnya dan melihat nama pemanggilnya itu. Ino?
"Ino? Apa yang kau lakukan? Kenapa suaramu terdengar berisik?"
"Hei! Kau dimana sekarang? Dan aku sarankan kau jangan ke kampus dulu saat ini!"
"Hah? Apa yang kau katakan? Aku sudah berada di kampus," ujar Sakura tak mengerti.
"Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Kau tidak lihat berita hari ini?!"
"Berita apa?"
"Berita tentangmu bodoh! Apa saja kerjamu kemarin hah?!"
"Memangnya ada apa dengan—"
"ITU DIA! GADIS MURAHAN ITU!"
Sakura terdiam saat beberapa orang, tidak bukan beberapa! Tapi segerombolan gadis-gadis, mulai dari yang berpakaian seragam sekolah hingga baju bebas seperti dirinya tengah membawa kantong plastik besar di tangannya. Mereka menyerbu Sakura secara membabi buta dan memandang penuh amarah dengan Sakura.
Apa-apaan pagi buta begini hah?
"DASAR GADIS SIALAN! TIDAK TAHU DIRI!"
"HEH! KAU ITU TIDAK CANTIK! JADI JANGAN SOK CANTIK TAHU!"
"KAU INI BENAR-BENAR RENDAH SIALAN! BERANI SEKALI KAU MELAKUKAN ITU KEPADA KEKASIHMU SENDIRI!"
"SUDAH DICINTAI ORANG SEPERTI SASUKE-SAMA MASIH SAJA MENCARI MANGSA LAIN!"
"JANGAN-JANGAN KAU INI HANYA GADIS MURAHAN YANG INGIN UANG ORANG KAYA SAJA KAN?!"
Sakura tak mengerti kenapa orang-orang yang begini banyak ini menyerangnya begitu membabi buta begini. Sumpah serapah yang keluar dari mulut mereka benar-benar membuat Sakura bingung sekaligus ketakutan. Sakura sendirian di sini. Sedangkan segerombolan orang-orang ini seakan ingin menerkam Sakura hidup-hidup.
Karena keributan itu, beberapa petugas keamanan terpaksa berkumpul untuk membubarkan gerombolan yang mirip pendemo itu. Tapi mereka tak kehilangan akal, begitu dipaksa meninggalkan kampus, masing-masing dari mereka membuka kantong plastik dan melemparkan sesuatu ke arah Sakura.
Ada telur busuk, tomat busuk dan entahlah apalagi. Sakura berusaha menghindari serangan-serangan itu. Tapi karena terlalu banyak, jelas saja pasti ada yang mengenainya. Dan terakhir, Sakura merasa ada sesuatu yang begitu berat tepat mengenai dahinya. Seketika itu pula kepalanya merasa pusing luar biasa.
"Sakura! Sakura! Kau baik-baik saja?!"
Beberapa petugas yang berhasil menerobos sudah tiba untuk melindungi Sakura dari serangan peluru dadakan itu. Seingat Sakura, dia mendengar suara Ino yang berusaha menerobos gerombolan itu.
Yang terakhir kali diingat oleh Sakura, ada sesuatu yang menetes jatuh masuk ke matanya. Sesuatu yang mengalir dari dahinya.
Dan berwarna merah…
.
.
*KIN*
.
.
"Sasuke?! Kau sudah melihat berita?"
Pagi ini, suara berisik malah tiba-tiba mendatangi Sasuke begitu heboh.
Semalam sebenarnya Sasuke tidak sampai pagi syuting. Paling hanya tengah malam. Tapi dirinya tidak merasa nyaman kembali ke apartemennya sendiri mengingat di sana ada Hinata.
Karena itu, Sasuke memutuskan untuk di hotel yang berada dekat lokasi syutingnya bersama beberapa asistennya.
"Kakashi Nii-san? Astaga, apa aku ini terlihat seperti seseorang yang senang bergosip?" sahut Sasuke malas dari balik selimutnya.
"Hei, pedulilah sedikit. Kau harus melihat berita ini. Langsung heboh tahu. Bahkan masuk berita siaran langsung!"
"Apapun itu aku tidak peduli! Aku mengantuk sekarang ini," ya, Sasuke mengantuk sekali. Apalagi kepalanya masih begitu pusing dengan masalah dirinya sendiri.
"Kekasihmu itu digosipkan memiliki pria lain tahu!" ujar Kakashi akhirnya.
Seketika itu pula Sasuke bangun dari tempat tidurnya dan menatap Kakashi dengan kebingungan setengah mati.
"Kekasih? Siapa? Sakura?"
"Memangnya kau punya berapa kekasih hah?! Lihat beritanya begini heboh—oh, ada posting baru!"
Baru saja Kakashi akan menjelajah layar tablet tipis itu, Sasuke langsung merebutnya dan melihat beberapa berita yang langsung jadi hot topik.
Dan terakhir matanya tak percaya melihat foto Sakura di sana dengan kepala yang berdarah. Ditambah lagi kondisinya begitu hancur!
Tanpa basa basi lagi Sasuke segera melompat dari tempat tidurnya dan bergegas mencari tahu apa yang tengah dialami oleh kekasihnya ini!
.
.
*KIN*
.
.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kalian harus menangkap semua pembuat onar itu untuk bertanggungjawab pada temanku! Lihat, dia hampir kehilangan nyawanya karena hal konyol seperti ini!"
Sakura mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Sakura merasa dirinya tengah berbaring. Ah, kepalanya juga masih terasa sakit rupanya. Kenapa dengan kepalanya sekarang?
"Mereka harus dihukum seberat-beratnya! Atau aku bisa saja menuntut artis sialan itu yang tidak bertanggungjawab! Seharusnya dia bisa mengurus fans-fans liarnya itu dengan baik! Mereka lebih mirip binatang buas daripada manusia!"
Oh, ternyata Sakura ada di rumah sakit. Sakura baru saja berhasil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ada banyak orang yang berlalu lalang di dekatnya dengan pakaian serba putih dan suasana putih dengan bau obat steril dimana-mana ini.
"Mereka harus dihukum berat karena menuduh orang tanpa bukti! Memangnya mereka bisa membuktikan kalau itu benar Sakura hah?! Mereka asal tebak saja karena menyangka itu Sakura kan?!"
Sepertinya Ino tengah menelpon seseorang.
"Ino…" panggil Sakura lemah.
"Oh? Kau sudah bangun? Aku baru saja menelpon polisi untuk mengurus pembuat masalah tadi. Bagaimana? Kau baik-baik saja?"
"Dimana aku?" tanya Sakura.
"Bodoh! Kau di rumah sakit. Apa kau tidak ingat kepalamu terhantam batu hah? Aku bahkan sampai merinding hebat karena mengira kau akan kehabisan darah saat kepalamu tak kunjung berhenti mengeluarkan darah. Astaga… aku tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya terjadi tadi…" ujar Ino sambil menggelengkan kepalanya.
Ino kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Sakura dan menggenggam tangan Sakura dengan lembut.
"Sepertinya… bau badanku parah ya?" gurau Sakura, masih dengan suara lemah.
"Itu bukan karena bau badanmu. Tubuhmu penuh dengan ugh! Aku benar-benar ingin muntah tadi menciumnya. Berterima kasihlah aku masih berbaik hati untuk menyingkirkan semua masalah itu dengan sekuat tenaga. Kalau masih terasa bau, aku akan membelikan parfum bagus untukmu," kata Ino.
"Terima kasih…"
"Hh, kalau tahu kau akan begini menderita… sejak awal aku tidak akan pernah mengijinkanmu menjalin hubungan dengan laki-laki payah itu. Dia bahkan tidak ada di sana di saat kau benar-benar membutuhkannya," kata Ino lagi.
"Dia… banyak pekerjaan…"
"Ya, itu memang alasan. Tapi setidaknya, dia harus segera ke sini ketika kau dilarikan ke rumah sakit. Beritamu begitu heboh, masa dia sedikit pun tidak tahu? Atau jangan-jangan… dia tahu mengenai ini?"
"Memangnya… berita apa yang beredar?"
"Hah?! Jadi selama kau diserang tadi kau tidak tahu berita apa yang membuatnya jadi korban pembantaian ini?"
Sakura menganggukkan kepalanya.
"Astaga… semalam ada seseorang yang mem-posting sebuah foto kau berpelukan dengan seorang pria tak dikenal. Berita itu jadi begitu heboh dan langsung memancing amukan dari fans Super Star itu. Ya seperti yang kau dengar tadi, mereka benar-benar mengamuk. Makanya dari semalam aku sudah berusaha menghubungimu untuk tidak datang ke kampus."
Berpelukan semalam?
Astaga… ada seseorang yang melihatnya bersama Itachi semalam?
"Jadi… apa foto itu benar?" lanjut Ino ingin tahu.
"Benar," jawab Sakura.
"Jadi… kau benar-benar dipeluk pria lain?"
"Benar…" lanjut Sakura.
"Itu benar… kau?"
"Benar… itu aku."
Ino menepuk dahinya sekuat tenaga mendengar pernyataan dari gadis polos bodoh dan tak mengerti ini.
"Ya ampun, aku sudah membelamu setengah mati untuk mengatakan itu bukan kau, tapi kau malah mengakuinya. Aku bahkan memarahi polisi untuk segera menangkap pelaku pengeronyokan itu. Jadi, siapa pria itu? Kau mengenalnya?"
"Aku mengenalnya. Tapi aku tidak bisa memberitahukan itu padamu."
"Kenapa?! Setelah semua yang kulakukan tadi?" rengek Ino.
"Hanya… tidak bisa…"
Akhirnya Sakura menangis juga. Isakannya sudah berusaha ditahannya, tapi tidak bisa.
"Sakura…" panggil Ino dengan wajah sedih. Jelas saja Ino tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut merasa sedih melihat Sakura menangis begini.
"Apa yang harus aku lakukan Ino? Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa… aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku juga tidak ingin meninggalkannya. Tapi kenapa pilihan terbaik untuk semuanya adalah meninggalkannya? Aku tidak ingin jadi buih, Ino…"
Sakura akhirnya menutup kedua matanya dengan sebelah lengannya. Bermaksud untuk menutupi matanya yang sudah banjir itu.
Akumulasi dari semua beban yang dialaminya.
Seharusnya Sakura bisa saja mengambil keputusan yang jelas. Tapi hatinya masih menolak. Jika saja… jika saja Sasuke bisa membuatnya berhenti berharap, Sakura tidak akan sungkan untuk segera meninggalkannya tanpa berpikir dua kali.
.
.
*KIN*
.
.
Tadinya Sasuke segera menyusul ke kampus, tapi menurut petugas yang terlihat pendemo tadi mengatakan kalau korban sudah dibawa ke rumah sakit.
Sasuke semakin kalut karena mereka mengatakan rumah sakit. Apakah ada sesuatu yang terjadi sampai rumah sakit jadi tempat tujuan Sakura?
Begitu menerobos IGD, Sasuke mencari dimana Sakura dirawat. Napasnya tersengal-sengal karena terburu-buru untuk tiba di sini. Begitu melihat ranjang dimana Sakura dirawat, Sasuke segera mungkin untuk menyusul. Tapi kemudian langkahnya terhenti dan Sasuke malah bersembunyi di balik tirai tepat di sebelah kasur Sakura.
"Jadi… apa foto itu benar?"
"Benar."
"Jadi… kau benar-benar dipeluk pria lain?"
"Benar…"
"Itu benar… kau?"
"Benar… itu aku."
Sasuke diam mendengarkan percakapan Sakura bersama temannya itu. Jika Sasuke sekilas melihat foto dimana Sakura dipeluk itu, Sasuke sebenarnya bisa menebaknya, tapi dia sendiri tidak yakin akan hal itu. Tapi sekarang…
"Ya ampun, aku sudah membelamu setengah mati untuk mengatakan itu bukan kau, tapi kau malah mengakuinya. Aku bahkan memarahi polisi untuk segera menangkap pelaku pengeronyokan itu. Jadi, siapa pria itu? Kau mengenalnya?"
"Aku mengenalnya. Tapi aku tidak bisa memberitahukan itu padamu."
"Kenapa?! Setelah semua yang kulakukan tadi?"
"Hanya… tidak bisa…"
Apakah… ini artinya… pria yang dimaksud Sakura itu benar-benar… orang yang dikenal baik oleh Sasuke?
"Apa yang harus aku lakukan Ino? Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa… aku tidak ingin menyakiti siapapun. Aku juga tidak ingin meninggalkannya. Tapi kenapa pilihan terbaik untuk semuanya adalah meninggalkannya? Aku tidak ingin jadi buih, Ino…"
Sasuke mendengar jelas isakan tangis dari gadis polos itu.
Ya, untuk sesaat lalu, Sasuke merasa dirinya memang benar-benar brengsek.
Awalnya Sasuke benar-benar tidak pernah mempedulikan Sakura. Tapi kenapa lambat laun dirinya… dirinya merasa…
Ingin melakukan lebih banyak hal dengan gadis itu?
.
.
*KIN*
.
.
Hinata menonton berita sekilas tadi. Ya, sebenarnya Hinata juga tidak sengaja menonton televisi untuk mengusir kebosanan. Tapi benar, berita ini langsung menyebar begitu heboh. Di internet, di TV, semuanya membahas hal ini.
Sebenarnya Hinata merasa kasihan melihat Sakura diperlakukan tidak adil seperti itu. Hanya saja, Hinata juga penasaran dengan pria yang memeluk Sakura di malam hari seperti itu. Apakah Sakura mengenal pria itu? Apakah Sakura sengaja ingin dipeluk seperti itu oleh laki-laki lain?
Merasa kembali bosan, Hinata mematikan TV itu dan mulai menyusuri kamar Sasuke.
Ya, kamar ini begitu khas seorang Uchiha Sasuke. Dengan furniture yang begitu minimalis dan sekadarnya saja membuat kamar ini nyaman dihuni. Apalagi wangi milik Sasuke tercium dimana-mana. Hinata benar-benar merasa nyaman berada di sini. Seakan-akan Sasuke sudah bersamanya sekarang.
Hinata membuka kloset dimana barang-barang milik Sasuke terpajang dengan sempurna di sana.
Hinata membuka pintu lemari yang menyimpan berbagai macam jas mahal milik Sasuke yang biasa dipakainya untuk acara penting. Dan juga ada—
Mata Hinata terfokus pada sebuah kotak kecil yang ada di dalam lemari itu. Kotak berwarna biru langit dengan pita berwarna pink cerah itu bertengger di sana hingga meninggalkan kesan janggal.
Kotak apa ini?
Kenapa Sasuke menyimpan sesuatu seperti ini di lemari pakaiannya?
Dan begitu membuka kotak itu, Hinata terkejut melihat isinya.
Sebuah jepit berhiaskan bunga sakura.
Jepit itu disimpan dengan begitu rapi dan aman. Seperti Sasuke sengaja menyimpannya di sana supaya tidak hilang.
Jepit milik siapa ini?
Karena penasaran, Hinata segera membongkar laci-laci dan lemari yang ada di kamar Sasuke sembari memegangi dengan erat jepit bunga sakura itu. Jika memang ini hadiah untuk Hinata seharusnya Sasuke segera memberikannya kan? Jika disimpan seperti itu bukankah artinya ada seseorang yang seharusnya menerima hadiah ini? Tapi Hinata juga tak yakin apa hadiah ini sudah diberikan apa belum. Tidak ada tanda-tanda habis dipakai atau baru saja dibeli. Jepit ini masih begitu bagus.
Di saat penggeledahan dadakan itu, Hinata menemukan sesuatu yang mengejutkan di lemari kecil di samping tempat tidur Sasuke.
Sebuah foto.
Dan itu bukan foto biasa.
Foto Sasuke bersama dengan seseorang yang memakai jepit rambut bunga sakura ini.
Sakura…
.
.
*KIN*
.
.
Itachi terkejut dengan berita yang tersiar pagi ini.
Masih di ruangannya, Itachi membaca beberapa posting berita mengenai kekasih Uchiha Sasuke yang dipeluk oleh pria lain semalam. Menurut berita kebanyakan, mereka tidak begitu mengetahui siapa pria itu. Karena sepertinya sumber foto yang membuat berita menghebohkan ini menangkap gambar mereka yang berpelukan itu secara kabur dan diam-diam.
Memang semalam mereka hanya sebentar bertemu. Tidak lama. Jadi kemungkinan sebenarnya orang yang bertanggungjawab ini tidak lama mengikuti Sakura dan Itachi.
Itachi juga sangat marah mendapati kabar jika ternyata Sakura mengalami luka serius karena seseorang berhasil melempar sebuah batu hingga mengenai kepalanya. Itachi ingin segera menjenguk Sakura sekarang juga. Tapi jika dia muncul di sana, apa yang akan dipikirkan oleh Sakura nanti?
BRAAK!
"Tuan, Anda tidak boleh masuk!"
Itachi terkejut dan segera menutup laptop-nya ketika mendapati pintu ruangan dibuka dengan begitu kasar. Beberapa petugas berdatangan ke sana untuk mengusir tamu yang membuka pintu ruangan Itachi begitu kasar itu. Bahkan sekretarisnya sudah meminta maaf pada Itachi karena kegaduhan ini.
"Biarkan dia masuk," ujar Itachi akhirnya.
Setelah diperintahkan Itachi, beberapa orang itu akhirnya undur diri dan segera menutup pintu ruangan itu.
"Ada apa tiba-tiba kemari? Mengejutkan sekali," ujar Itachi seraya berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Sasuke, adik bungsunya yang menjadi tamu kasar pagi ini. Itachi masih tersenyum tipis meskipun tahu wajah adiknya sedang tidak dalam kondisi baik.
"Jadi itu ulahmu," tembak Sasuke.
"Ulah? Apa maksudmu?"
BUAGHH!
Dengan emosi, Sasuke meninju rahang bawah Itachi dengan kuat hingga membuat Direktur Uchiha Corp ini tersungkur ke bawah. Itachi tertawa pelan ketika menyadari ujung bibirnya sudah mengeluarkan darah.
"Kau sengaja melakukan ini padaku hah?" geram Sasuke.
"Ini pertama kalinya kau memukulku," ucap Itachi.
"Kau tahu sendiri kalau Sakura itu kekasihku! Apa yang kau lakukan padanya sampai membuatnya menderita seperti itu hah?! Kau hampir mencelakai dia Nii-san!" pekik Sasuke.
"Aku yang mencelakainya? Astaga… apa kau tidak sadar siapa sebenarnya yang membuat Sakura mengalami hal seperti itu? Selama Sakura tidak pernah berhubungan denganmu… dia tidak akan celaka!"
"Apa?"
Itachi bangkit dan mulai menatap sinis pada adik semata wayangnya itu.
"Kenapa baru sekarang bertindak seperti pahlawan kesiangan, Sasuke? Kemarin-kemarin kau kemana? Apa kau tahu sudah berapa kali Sakura terluka dan kau tidak tahu?"
Sasuke terdiam seraya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.
"Kau terlalu naif. Juga serakah. Egois. Semua sifat buruk itu ada padamu. Bukankah sudah pernah kukatakan padamu, sedikit saja. Sedikit saja kau membuat celah, aku tidak akan berdiam diri. Kau pikir aku main-main?"
"Lalu kenapa harus Sakura? Kenapa harus gadis yang menjadi kekasihku?!"
"Karena dia bukan kekasihmu! Sakura tidak pernah jadi kekasihmu?! Kalau dia kekasihmu kau tidak akan pernah membiarkannya terluka sekecil apapun! Pernahkah kau peduli padanya sedikit saja? Pernahkah kau ada di dekatnya di saat dia paling membutuhkanmu? Pernahkah kau memikirkannya sedikit saja soal perasaannya? Pernah? Kalau kau tidak pernah melakukan hal itu, kau tidak perlu sombong mengatakan dia kekasihmu!"
Sasuke diam sejenak. Memandang serius kepada Itachi.
"Jadi kau ingin bukti kalau Sakura benar-benar kekasihku?"
Sekarang Itachi yang terdiam mendengar pertanyaan adiknya itu.
"Baiklah, aku akan membuktikannya padamu, kalau Sakura… benar-benar kekasihku! Dan kau… jangan pernah lagi menampakkan dirimu di depanku maupun Sakura. Karena aku… pasti akan melindunginya kali ini."
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa Minna…
Kyaa akhirnya Naruto udah tamat yah hum akhirnya juga keren. Saya gak sabar nunggu The Last-nya heheh saya juga jadi bersemangat buat nambah archive di sini… ditunggu ya…
UchiHaruno Misaki : Makasih udah review senpai… makasih koreksinya ya hehe, kalo untuk namanya, sejak awal udah saya bilang kan kalo kemungkinan keselipet nama itu pasti karena originalnya fic ini memang pake nama korea, tapi saya gak pernah publish di screenplay. Saya juga gak pernah berkunjung ke sana. Ini tadinya adalah archive pribadi yang udah lama saya tulis hehehe
Anka-Chan : Makasih udah review senpai… makasih semangatnya ya hehehe ini udah update
Kuro Shiina : Makasih udah review senpai… ahaha apakah ini kelamaan? Semoga gak ya hehehe ini udah update…
Wiliam UchiHaruno : Makasih udah review senpai… end-nyaa? Wah belum tahu hehehe ditunggu aja yaa makasih semangatnya…
Animea-Khunee-Chan : Makasih udah review senpai… makasih banyak semangatnya heheh ini udah update
Kuli jepang : Makasih udah review senpai… makasih banyak koreksinya, makasih juga uda fave heheh jadi terharu…
Heni lusiana 39 : Makasih udah review senpai… ini udah update
HazeKeiko : Makasih udah review senpai… makasih semangatnya heheh ini udah update lagi hehehe
Mikyo : Makasih udah review senpai… makasih banyak heheh ini udah update lagi.
Miskiyatuleviana : Makasih udah review senpai… salam kenal juga heheh iya ini udah update lagi
Fitria Exo'L Hunhan Pyromaniac : Makasih udah review senpai… makasih banyak ini udah update heheh
Reafuruya-chan : Makasih udah review senpai… mimpi L-DK apa yaa? Heheh ini udah update lagi.
Zero : Makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi hehehe
Zhao mei : Makasih udah review senpai… apa ini udah cukup panjang? Hehehe
Hanna Hoshiko : Makasih udah review Hanna heheh boleh ya panggil gitu. NaruHina emang canon kan hehehe
Cherry Huanggara : Makasih udah review senpai… maaf gak cepet tapi ini udah update
Katty ; Makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut. Maaf fic yang itu lagi hilang alurnya. Saya sedang berusaha menemukan lagi alur yang hilang itu heheh
Sami haruchi 2 : Makasih udah review senpai… karena terlalu lama saya hiatus kan, jadi saya lupa alurnya, seharusnya itu sudah masuk klimaks, tapi saya lupa bagaimana alurnya. Ditunggu aja ya sampai saya menemukan lagi alurnya heheh
Fuji Seijuro : Makasih udah review senpai… maaf gak kilat tapi udah update heheh
Bluestar2604 : Makasih udah review senpai… iya ini udah update hehe
Dwinakwonjiyong : Makasih udah review senpai… makasih semangatnya heheh iya ini udah lanjut lagi
Aitara fuyuharu : Makasih udah review senpai… jadi enaknya dipanggil apa ya?heehehe salam buat Itachi udah disampaikan, katanya dia lagi nyari calon isteri, gimana tuh?heheheh makasih review panjangnya, saya suka banget bacanya hehehe
Lynn : Makasih udah review senpai… makasih banyak…
Adam y yezz : Makasih udah review senpai… makasih udah fave… jadi terharu, reviewnya saya suka banget heheh. Wah kok saya yang penasaran sama plotnya senpai nya? Kalo boleh dishare dong ke saya hehehe
Hime : Makasih udah review senpai… kita liat nanti yaa
Tataruka : Makasih udah review senpai… iya ini udah update kok hehehe
Miki : Makasih udah review senpai… makasih banyak, iya ini udah update heheh
Haekal Uchiha : Makasih udah review senpai… saya jangan dipanggil senpai yaa hehehe hm saya bingung gimana mau ngejawabnya. Saya memang sengaja gak mendetilkan masalah seperti itu sih. Soalnya saya memang gak pernah bikin hal-hal yang mendetil. Saya menulis apa yang menurut saya perlu aja. Tapi ya memang terkadang ada beberapa pembaca pasti bertanya mengenai itu. Tapi karena ini ff, saya pikir itu cuma hiasan aja, lain halnya kalo ini drama sungguhan hehehe
Anonim : Makasih udah review senpai… iya ini udah update maaf gak cepet ya heheh
Azizaanr : Makasih udah review senpai… iya ini udah update hehehe
Oke makasih banyak yang udah ngeluangin waktu buat baca ff saya hehehe
Jaa Nee!
