Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Hinata terkesiap saat menyadari pintu apartemen Sasuke dibuka begitu saja. Tadinya Hinata masih duduk di atas sofa sembari memeluk lututnya. Kepalanya sudah dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang ingin ditanyakan langsung kepada Sasuke-nya. Tapi ternyata Hinata malah ragu untuk menanyakan pertanyaan itu pada Sasuke. Beberapa kemungkinan yang tidak diinginkan Hinata. Mungkin saja benar jika ternyata jepitan itu memang milik Sakura. Tapi apa alasan Sasuke menyimpan jepitan itu?
Kenapa Sasuke tidak membuangnya saja? Kenapa Sasuke tidak menghancurkannya saja?
"Sasu? Kau… sudah pulang?" sambut Hinata begitu mendengar kembali pintu apartemen itu tertutup.
Sasuke tampak begitu terburu-buru dan langsung masuk ke kamarnya hanya untuk mengambil beberapa pakaian yang dimasukkannya ke dalam tas ransel sedang. Bahkan jika dilihat baik-baik, itu hanya pakaian biasa saja. Bukan pakaian yang dipakai oleh Sasuke untuk pergi syuting atau kepentingan pekerjaan lainnya.
Hinata mengikuti Sasuke hingga ke kamarnya untuk memperhatikan laki-laki yang dicintainya itu sibuk berputar di sekitar kloset pakaiannya dan sesekali membuka ponselnya.
"Sasu…?" panggil Hinata akhirnya.
Sasuke masih fokus pada kegiatannya, bahkan menoleh ke Hinata pun tidak.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Hinata berlari menyambut Sasuke dan memeluknya dari belakang dengan erat. Tentu saja Sasuke yang mendapat kejutan ini sedikit kaget dan baru menyadari jika Hinata sejak tadi ada di dekatnya.
"Hinata? Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke bingung.
"Aku sudah memanggilmu tiga kali tadi. Tapi kau tidak mendengarku. Hari ini kau pulang. Kau tidak akan pergi lagi kan?" lirih Hinata.
Sasuke menghela napas sejenak lalu melepaskan pelukan kekasihnya ini. Berbalik untuk menatap Hinata dan mengelus puncak kepala gadis berwajah cantik itu.
"Mungkin… aku tidak akan pulang untuk beberapa hari ini."
"Kenapa? Pekerjaanmu?" tanya Hinata.
"Sebenarnya, ya memang pekerjaan. Tapi ada hal lain. Sakura… ada di rumah sakit."
"Apa?"
"Dia mengalami insiden yang cukup… buruk. Jadi aku memutuskan untuk menemaninya di sana. Kuharap kau mengerti, sekarang aku harus pergi dulu."
"Kenapa sekarang ini perhatianmu lebih banyak kepada Sakura? Kenapa sepertinya kau lebih dekat dengan Sakura daripada denganku. Dulu… tidak satu hari pun kau tidak menemuiku. Tapi sekarang… bahkan melihat sekarang ini… sulit sekali…" lirih Hinata.
"Hinata, dengarkan aku… saat ini, Sakura lebih membutuhkan aku. Aku tidak mungkin meninggalkannya pada kondisinya seperti ini. Dia ada di dalam situasi seperti ini juga karena aku. Jadi aku harus bertanggungjawab untuknya."
"Makanya sudah kukatakan! Berhenti saja, kita pergi sekarang. Jadi kau tidak perlu memikirkan Sakura lagi. Aku… saat ini aku kesepian…"
"Maafkan aku. Saat ini sungguh tidak bisa. Kalau kau butuh sesuatu, kau tinggal menghubungi staff apartemen di bawah. Karena ini apartemen yang cukup bagus, jadi rahasia pemilik apartemen di sini sangat dijaga ketat. Aku akan menghubungimu."
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke segera mengambil tasnya dan pergi secepat kilat dari hadapan Hinata. Bahkan Hinata sendiri belum sempat untuk mencegah kepergian kekasihnya itu.
Ini pertama kalinya Sasuke lebih mementingkan orang lain disbanding Hinata. Ini pertama kalinya Sasuke mau bertanggungjawab untuk orang lain selain Hinata. Pertama kalinya… Sasuke meninggalkan Hinata seperti ini.
Hinata tak mengerti lagi apa yang seharusnya dia lakukan sekarang ini?
Perasaan kalut seperti ini sungguh membuatnya frustasi.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah memastikan kondisi sahabatnya itu sudah lebih baik, Ino meninggalkannya sebentar untuk mengganti bajunya yang sudah seharian sejak Sakura masuk ke rumah sakit. Sakura juga baru saja tidur jadi Ino ada waktu sebentar.
Ino juga berpamitan pada ibunya untuk tidak menjaga restoran keluarga mereka dulu setelah menceritakan kondisi Sakura pada keluarganya.
Tapi ada yang aneh.
Begitu Ino kembali di ruang dimana Sakura dirawat, gadis berambut pink itu sudah tidak ada di sana. Ino sedikit panik dan bingung. Apa mungkin Sakura sudah meninggalkan rumah sakit? Tapi wartawan dan fans liar Sasuke itu masih membabi buta memburu Sakura. Mereka tidak bisa memasuki rumah sakit karena dijaga oleh polisi yang diminta Ino untuk menjaga sahabatnya itu mengingat insiden yang menimpanya pagi tadi.
Begitu bertanya pada perawat, ternyata Sakura dipindahkan ke ruangan lain. Perawat itu sudah memberitahukan Ino di ruang mana Sakura dirawat, tapi alangkah kagetnya ketika Ino malah menemukan dua orang pria besar… ya mereka memang tinggi dan besar, juga asing. Kenapa ada penjaga di depan ruang rawat ini? Siapa yang melakukannya?
Lebih baik Ino menerobos masuk.
"Maaf, pengunjung dilarang masuk ke dalam, Nona Haruno butuh istirahat."
Penjaga berkacamata hitam dan berpakaian serba hitam itu menghalangi Ino untuk masuk ke dalam.
"Hah? Apa maksudmu hah?! Aku ini sahabatnya, sejak tadi aku yang menunggunya. Aku hanya mengganti baju sebentar. Aku mau masuk!" paksa Ino.
"Pengunjung dilarang masuk. Tolong Nona bisa menjaga sikap Nona sebelum kami melakukan hal yang tidak diinginkan."
"Hei! Kalian ini sebenarnya siapa hah?! Temanku itu bukan artis atau terpidana! Dia tidak perlu dijaga begitu! Kalian ini disuruh siapa memangnya?!"
"Tuan Muda Uchiha."
Apa?! Si artis sialan itu? Sejak kapan dia…
"Hei, katakan pada artis sialan itu kalau dia ingin selamat biarkan aku masuk sebelum aku mencabik-cabik wajah menyebalkannya itu!" ancam Ino.
"Sudah, sudah. Biarkan saja dia masuk sebentar. Dia sudah mengatakan kalau dia sahabat Sakura kan?
Kali ini Ino bertambah terkejut melihat kedatangan seorang pria paruh baya dengan setelan mahal itu. Memutar sedikit ingatannya, pria ini adalah paman yang bertemu dengan Sakura di kedai milik Ino. Dan kalau tidak salah lagi, paman ini mengenalkan dirinya pada Sakura sebagai…
Menyadari hal itu, Ino segera menundukkan kepalanya sedalam mungkin sampai membungkukkan tubuhnya 90 derajat.
Gawat, gawat! Ini ayahnya Sasuke!
"Mohon maafkan aku atas kelancanganku tadi… aku sungguh tidak bermaksud membuat keributan apapun di sini," mohon Ino tak enak.
"Astaga, tidak apa-apa. Aku juga tidak mengira putraku akan melarang sahabat kekasihnya sendiri masuk ke dalam. Kalau begitu, mari kita lihat bersama-sama. Setelah mendengar berita yang cukup heboh itu, aku langsung ke sini walau harus membatalkan rapat," cerita Fugaku, ayahnya Sasuke itu.
Heee? Demi menjenguk Sakura saja dia sampai membatalkan rapat?!
"Ah, rasanya aku tidak enak. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengecek keadaannya saja. Kulihat sudah cukup baik. Kalau begitu, aku permisi lebih dulu nanti aku akan kemari lagi."
Setelah berpamitan dengan seformal mungkin, Ino langsung melesat kabur. Dia tidak ingin ditahan seperti itu. Benar kata Sakura, meski wajahnya terlihat ramah tapi tetap saja rasanya tegang sekali. Ini baru ayahnya, bagaimana dengan ibunya?
Tidak, tidak! Ino tidak mau membayangkan keluarga mengerikan seperti itu!
Mengenali ayah Sasuke, para penjaga itu menyilakan Fugaku untuk segera masuk.
Ketika Fugaku masuk, ternyata Sakura sudah bangun. Gadis itu terlihat duduk di atas tempat tidurnya sembari melihat-lihat ponsel di tangannya itu. Sepertinya Sakura tidak menyadari kedatangan Fugaku sama sekali.
"Bagaimana kabarmu?"
Menoleh, Sakura terkejut luar biasa, sampai-sampai rasanya matanya bisa keluar kapan saja saat ini. Bagaimana mungkin—
"P-Paman? Apa yang Paman lakukan di sini? Bagaimana Paman tahu aku… di sini?" tanya Sakura gugup sekaligus bingung. Sakura sama sekali tidak menyiapkan mental untuk bertemu keluarga Sasuke lainnya.
Saat dirinya tertidur tadi, tiba-tiba kamarnya sudah berubah total saat pertama kali dirawat tadi. Begitu bangun juga, Sakura tidak melihat Ino yang sejak tadi menjaganya. Makanya Sakura membuka ponselnya untuk menghubungi Ino. Sakura ingin bertanya siapa yang memindahkan dirinya di ruangan yang kelihatannya mahal ini. Jelas saja mahal kalau seluas dan sebagus ini. Ini sih bukan ruangan rumah sakit, lebih mirip hotel!
"Beritamu sangat heboh. Aku jadi khawatir dan langsung kemari saat media mengabarkanmu dilarikan ke rumah sakit. Lukamu sudah dirawat dengan baik?"
"O-oh, begitu. Ya… dokter mengatakan kalau lukaku baik-baik saja…" jawab Sakura dengan gugup, bagaimana tidak gugup? Rasanya tangannya ikut gemetaran. Kepalanya juga dari tadi menunduk saja.
Fugaku mengambil tempat duduk di dekat Sakura.
"Jika keadaanmu sudah memungkinkan, sebaiknya kau segera melakukan scan seluruh tubuhmu untuk memastikan tidak ada luka di dalam tubuhmu. Aku akan mencarikan dokter yang bagus. Atau lebih baik kita pindah ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap saja, bagaimana?"
"Heee? T-tidak perlu, Paman. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku sudah biasa mendapatkan luka seperti ini dulu, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Aku akan baik-baik saja…" cegah Sakura. Benar-benar orang kaya…
Fugaku terlihat sedih. Sakura tak mengerti apa yang sedang dipikirkan pria paruh baya ini. Wajahnya terlihat lelah bukan main. Dan Sakura yakin itu bukan hanya sekadar pekerjaannya saja.
"Terima kasih," kata Fugaku.
"Eh? Terima kasih… untuk apa?" tanya Sakura bingung.
"Terima kasih sudah berada di sisi Sasuke selama ini. Terima kasih sudah mempertemukanku dengan Sasuke sejak terakhir kali dia meninggalkan rumah. Terima kasih sudah tidak menyalahkan Sasuke setelah apa yang menimpamu kali ini. Kupikir, ketika kau melihatku, mungkin kau akan menyalahkan Sasuke dan padaku."
"Aku tidak mungkin berpikiran seperti itu. Lagipula… ini hanya luka kecil…" lirih Sakura. Mana mungkin Sakura mengatakannya penyebab dirinya dihantam begini hebat kan?
"Karena itu, aku ingin meminta secara pribadi denganmu. Maukah kau menemani Sasuke selamanya? Sepertinya, dia jauh lebih peduli padamu daripada keluarganya sendiri."
Benar, sungguh benar. Kali ini mata Sakura bisa saja keluar.
"Aku…" Sakura bingung bagaimana meresponnya!
"Kau mencintai Sasuke bukan?"
Fugaku melihat Sakura dengan wajah yang meneduhkan walau tatapannya terlihat serius. Tatapan seorang ayah yang sudah lama dirindukan oleh Sakura. Bagaimana mungkin Sakura bisa berbohong di depan sosok seorang ayah yang sudah lama tidak Sakura temui bahkan di dalam mimpi?
"… ya. Aku… mencintainya…" lirih Sakura. Air matanya juga jatuh tak tertahankan.
"Syukurlah. Terima kasih sudah mencintai putraku dengan segala kekurangannya. Mungkin dia orang yang sulit dan sedikit kasar, tapi dia adalah laki-laki paling baik di dunia ini. Mungkin… Sasuke juga membutuhkan gadis seperti dirimu. Seseorang yang berhati besar untuk menerimanya."
Jika memang seperti itu, mungkin Sakura tidak akan berpikir dua kali untuk tetap berada di sisi Sasuke. Tapi situasi mereka sungguh rumit. Mereka tidak mungkin bisa bersama apapun alasannya. Tidak ada benang merah yang mengikat mereka. Jadi bagaimana bisa… Sakura ada di sisi Sasuke?
"Sakura."
Ternyata Sasuke masuk ke dalam ruangannya. Fugaku menoleh sebentar kemudian kembali melihat Sakura. Astaga… situasi apa ini? Kenapa bertemu ayah dan anak ini membuat Sakura bingung bukan kepalang?! Rasanya bukan lukanya yang bertambah sakit, tapi jantungnya yang bisa-bisa mendadak meledak kalau dikagetkan seperti ini terus.
"Nah, istirahatlah. Aku harus kembali ke kantor. Kalau kau sudah lebih baik, segera hubungi aku. Nanti aku akan minta Itachi untuk memberitahumu. Kudengar dari isteriku kau juga mengenal Itachi kan? Nanti dia akan kusuruh menjengukmu juga."
Rasanya Sakura ingin sekali menampar jidat lebarnya sendiri. Bisa-bisanya ayahnya mengatakan soal Itachi di depan Sasuke. Bagaimana jika Sasuke tahu kalau yang menyebabkan masalah ini adalah Itachi? Pasti akan terjadi perang saudara yang maha dahsyat nanti!
Fugaku tidak melihat Sasuke sedikit pun dan langsung keluar begitu saja. Sepertinya insiden di kedai waktu itu sudah membuat Fugaku cukup jera bertemu Sasuke. Tapi, kenapa tadi Fugaku terlihat aneh ketika mengatakan terima kasih karena Sakura mempertemukan bocah ingusan ini? Tch…
Begitu pintu ditutup, Sasuke segera mendekat ke tempat tidur Sakura.
"Hei, memangnya ayahku kenapa? Dia memarahimu atau apa?" tanya Sasuke tak sabar.
"Tidak ada. Beliau hanya menjengukku saja kok…" balas Sakura.
"Lalu kenapa kau menangis hah?"
Cepat-cepat Sakura menghapus wajahnya yang memang masih terasa basah karena air mata bodohnya tadi. Kalau tahu Sasuke akan muncul begini, Sakura akan menahan diri untuk tidak menangis.
"Kau tidak perlu menghapusnya kalau sudah ketahuan olehku! Dasar gadis bodoh!" ejek Sasuke.
"Hei, apa mulutmu itu tidak bisa mengatakan yang lain selain bodoh hah?!" balas Sakura sama kesalnya.
"Tidak bisa!"
"Dasar Kepala Batu Niagara! Hei, apa kau tahu siapa yang memindahkanku kemari hah? Aku tidak punya uang untuk membayar biayanya. Dan jangan coba-coba menyuruhku memakai uang bayaranmu itu ya!"
"Kau pikir aku ini artis miskin yang tidak bisa membayar biaya rumah sakit murah begini hah?" geram Sasuke.
"Oh, mau kau yang bayar? Ya sudah, mungkin aku akan istirahat di sini selama satu minggu saja," sindir Sakura.
"Ya, satu bulan juga bukan masalah asal kan kepalamu benar-benar baik-baik saja. Maaf tidak ada di sana ketika kau seharusnya paling membutuhkanku."
Sakura menoleh sejenak. Wajah Sasuke terlihat tulus kali ini meski masih terkesan dingin dan datar. Orang ini…
"Memangnya kapan kau pernah ada di saat aku membutuhkanmu?" kembali Sakura menyindirnya.
"Ya… tidak pernah ada. Dan aku menyesal karena tidak bertanggungjawab sepenuhnya kepadamu. Maafkan aku…"
"Hei, kau salah minum obat hari ini huh?"
"Apa?"
"Sepertinya ini bukan Sasuke yang aku kenal. Yang bermulut tajam dan menyebalkan dan berhati sedingin es."
"Bukannya itu kau sendiri yang bermulut menyebalkan hah?"
"Karena itu… tolong jangan memberikan perhatian, meski sedikit kepadaku. Kau tidak ingin aku berubah pikiran kan?"
"Apakah aku salah berbuat seperti ini ketika kau terluka seperti ini?"
"Dan sejujurnya ini bukan karena kau. Ini murni kesalahanku. Jadi aku pantas menerimanya. Dan sebaiknya—"
"Jadi maksudmu, Itachi boleh berbuat seperti itu padamu dan aku tidak, padahal aku jelas-jelas adalah KEKASIHMU?"
Sakura membelalakkan matanya mendengar kata-kata Sasuke saat itu.
"Kau pikir aku tidak tahu siapa yang bersamamu malam itu? Laki-laki mana yang berani memelukmu, kau pikir aku tidak akan tahu? Dan apa kau pikir, jika kau berubah pikiran, siapa yang akan mendapatkan simpati sekarang ini jika publik mengetahui apa yang kau perbuat di belakangku?"
"Kenapa kau menuduhku seperti itu?! Apa yang kau ingin lakukan padaku sebenarnya?"
"Yang kuinginkan darimu adalah menjauh dari Itachi! Kalau kau tidak bisa menjauhinya, aku yang akan membuat kau menjauhinya. Kau tidak boleh bertemu dengannya baik dengan sengaja atau tidak. Apa kau tidak paham kenapa aku melarangmu menemuinya? Karena hal buruk mungkin akan terjadi padamu karena dia! Kau tidak bisa seperti Haruno Sakura sebelum mengenal Uchiha Sasuke. Sekarang kau adalah kekasih dari Uchiha Sasuke, jadi tolong batasi pergaulanmu dengan laki-laki lain meskipun itu adalah kakak kandungku sendiri untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman."
Sakura kembali diam. Dia tak mampu membalas satu pun kata-kata dari Sasuke. Biasanya di saat seperti ini Sakura selalu bisa membalasnya. Tapi kenapa… kali ini mulutnya malah terkunci rapat seperti ini ketika dirinya malah terang-terangan mengakui kesalahan seperti ini? Di saat Sasuke sudah mengetahui segalanya?
"Sebaiknya kau beristirahat, aku ada jadwal syuting."
Setelah mengatakan itu, Sasuke segera keluar dari kamar Sakura.
Sebenarnya Sasuke tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu. Sasuke tahu, setelah ini pasti Sakura akan menangis lagi.
Tapi Sasuke tidak punya cara lain selain seperti ini untuk melindungi gadis itu.
Karena mungkin… hal buruk tidak akan berhenti sampai di sini saja.
.
.
*KIN*
.
.
"Lukanya sudah lebih baik, hari ini sudah diperbolehkan pulang."
Sasuke mendapatkan telepon dari rumah sakit mengenai kondisi Sakura. Ya, karena tidak ada wali atau siapapun yang mendampingi Sakura, jelas saja Sasuke meminta pihak rumah sakit untuk segera menghubunginya apabila terjadi sesuatu dengan gadis bodoh itu.
Karena jadwal syuting tidak ada hari ini, paginya Sasuke langsung bergegas menuju rumah sakit. Beberapa waktu ini, Sasuke sengaja tinggal di hotel dekat tempat syutingnya. Banyak hal yang perlu diurusnya setelah kasus Sakura kemarin. Media banyak yang ingin mewawancarainya. Tapi Sasuke tetap tidak ingin berkomentar apapun. Sasuke hanya menyampaikan rasa kecewanya pada fans-nya yang sudah berbuat begitu lancang pada kekasihnya. Karena itu banyak fans-fans-nya yang langsung meminta maaf secara terbuka.
Meskipun jujur saja, Sasuke tidak peduli pada semua fans-nya itu.
Benar, Sasuke masih ingat apa yang dikatakan oleh Sakura. Orang yang tulus menyukainya tetap akan menyukainya apapun yang terjadi pada Sasuke.
"Maaf Tuan, lift di sini sedang rusak, Anda harus menaiki lift di tempat lain."
Sasuke menggeram kesal. Kalau rusak kenapa tidak dipasang label peringatan? Sasuke hampir saja masuk ke dalam situ kalau tidak diperingatkan oleh perawat yang lewat. Padahal ini adalah lift yang menuju langsung ruangan Sakura. Kalau memutar… astaga… lumayan jauh.
Setelah memutar kurang lebih lima menit, Sasuke akhirnya tiba juga di kamar gadis bodoh ini. Dia terlihat sudah merapikan dirinya.
"Kau ingin sekali pulang hah?" sindir Sasuke begitu memasuki ruangan itu.
"Hei! Ketuk dulu baru kau masuk!" bentak Sakura.
"Hei, aku ini kekasihmu. Aku juga yang bayar biaya kamarmu! Kenapa aku harus mengetuk pintu segala? Kau yakin semua sudah selesai? Tidak ada yang tertinggal?"
"Aku tidak bawa apa-apa kemari, apanya yang akan tertinggal?"
Sasuke kemudian mendekati Sakura dan hendak menggandeng tangan gadis bermata besar itu. Tapi belum sempat menyentuhnya, Sakura langsung menyentakkan tangannya.
"Hei! Kau mau apa?" tuduh Sakura.
"Di luar sana banyak orang! Aku harus menggandengmu untuk meyakinkan mereka kalau kita ini benar-benar sepasang kekasih. Jangan menyulitkanku sekarang!"
Mulai lagi dengan nada dingin itu.
Tidak juga, dia memang begitu sejak kemarin. Apalagi telah mengatakan hal yang sejujurnya sungguh membuat Sakura takut bukan main. Ya, tidak bisa dipungkiri Sakura benar-benar takut saat itu melihat Sasuke. Dia tidak terlihat biasanya hari itu. Apalagi setelah menyangkut urusan Itachi.
Akhirnya, Sakura membiarkan Sasuke menggenggam tangannya keluar dari ruangannya. Kepala Sakura memang masih diperban karena lukanya ini. Begitu keluar dari ruangan, Sakura terkejut lagi. Benar-benar habis ini harus cek kondisi jantungnya deh.
"Oh, kau sudah mau pulang, Sakura?"
"Itachi-san…" gumam Sakura.
Sasuke langsung mengeratkan genggaman tangannya pada Sakura dan memandang sinis pada Itachi.
"Kalau kau ingin menjenguk sudah terlambat. Sebaiknya kau pergi karena aku akan mengantarnya pulang," kata Sasuke dengan nada dingin.
"Wah, wah… begitu ya? Tapi ayah menyuruhku untuk menjenguknya. Karena hari ini aku baru ada waktu luang makanya baru bisa kemari. Bagaimana kalau aku menjenguk di rumah saja?" tawar Itachi.
Sasuke terlihat tengah menahan diri. Astaga, orang ini benar-benar menakutkan kalau mau marah. Sakura jadi berpikir dua kali sekarang kalau ingin bertengkar dengan kepala batu ini. Tatapan mengintimidasinya ini benar-benar mirip ibunya!
"Sakura, pergilah ke lift lebih dulu. Tunggu aku di lobby," ucap Sasuke.
"Eh, tapi—"
"Pergi sekarang. Kau dengar aku?" tekan Sasuke.
Tanpa banyak bicara, Sasuke melepaskan genggaman tangannya dan Sakura segera pergi setelah pamit pada Itachi dengan menundukkan kepalanya seadanya.
Itachi tersenyum tipis melihat adiknya yang berubah menjadi begitu menakutkan itu. Sakura sampai-sampai tidak berani lagi adu mulut dengannya.
"Ini peringatan terakhir. Tolong berhentilah menemui Sakura," pinta Sasuke.
"Kalau aku tidak mau?"
"Aku akan melakukan sesuatu untuk memaksamu berhenti menemuinya!"
"Kau kan tidak pasti bersamanya selamanya, kenapa harus melarangnya menemuiku? Kau tidak boleh begitu Sasuke, siapa tahu dia berjodoh denganku."
"Dia tidak akan berjodoh denganmu selagi aku masih menjadi kekasihnya!"
"Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau berhenti menjadi kekasihnya," tantang Itachi.
Tiba-tiba lampu yang berada di semua koridor mati mendadak selama tiga detik. Sasuke agak kaget, tapi kembali memasang wajah dinginnya. Lain halnya dengan Itachi yang agak panik walau lampu sudah kembali menyala.
"Kenapa lampunya mendadak mati?"
"Sepertinya lift yang rusak itu korslet lagi."
"Apa ada orang di dalamnya?"
"Tidak tahu, tapi kalau tidak ada orang, kenapa tiba-tiba bisa korslet?"
Itachi dan Sasuke diam sejenak mendengar suara-suara ribut di sekitar mereka itu.
"Kau tidak memberitahu Sakura tentang lift rusak itu?!" bentak Itachi.
"Tidak, apa dia terjebak di sana?" gumam Sasuke.
"Apa yang kau lakukan padanya! Sakura itu phobia dengan ruangan gelap!"
Itachi segera berlari setelah membentak adik bodohnya itu menuju lift yang rusak itu. Dan benar ada beberapa orang yang berkerumunan di sana.
"Ada apa?" tanya Itachi panik pada beberapa orang yang berdiri di sana setelah menghubungi petugas listrik.
"Ada seorang gadis yang masuk kemari. Kami sudah memberitahu, tapi dia langsung masuk begitu saja. CCTV di dalam lift juga dimatikan karena lift rusak, kami tidak tahu kondisi di dalam sana," jelas staff rumah sakit yang ada di sana.
Itachi segera berusaha menggedor pintu besi itu.
"SAKURA?! KAU DENGAR AKU? SAKURA!"
Sasuke juga ikut menggedor pintu besi lift itu sembari mencari cara bagaimana membukanya. Meskipun mustahil tapi Sasuke terus mencoba. Dia sungguh tidak tahu kalau Sakura takut dengan ruangan gelap. Sasuke tidak pernah tahu karena Sasuke tidak pernah menemui Sakura di saat kondisi begini.
"SAKURA?!" pekik Sasuke.
.
.
*KIN*
.
.
Sakura benar-benar marah pada laki-laki sialan itu.
Dia benar-benar kejam dan jahat.
Karena itu, Sakura segera berlari menuju lift untuk langsung pulang saja tanpa menunggu Sasuke lagi. Biar saja dia mengamuk. Ketika menuju lift, Sakura menelpon Ino untuk menjemputnya di sekitar halte rumah sakit. Sakura berencana untuk kabur dari Sasuke dulu dan menginap di tempat Ino.
Begitu menunggu lift terbuka, Sakura sepertinya mendengar seseorang berteriak, tapi Sakura masih fokus pada teleponnya. Bahkan sampai masuk lift pun Ino tidak menjawab ponselnya. Dasar gadis itu, kemana dia sebenarnya.
Sakura akan menekan angka menuju lantai bawah, tapi kemudian tiba-tiba lampu di dalma lift mati selama tiga detik. Setelah tiga detik, lampunya kembali menyala, tapi kemudian mendadak ada percikan api keluar dari atas atap lift hingga membuatnya korslet. Sakura langsung terduduk dan langsung menutup telinganya otomatis. Ruangannya menjadi gelap.
Gemetar, Sakura mencoba menghubungi CCTV yang ada di lift. Tapi sepertinya tidak berfungsi karena tidak ada respon.
Sakura benar-benar ketakutan di dalam sini. Tubuhnya mendadak gemetar hebat dan napasnya tiba-tiba menjadi sesak. Sepertinya rasanya oksigen mengurang dengan drastis di dalam sini. Keringat dingin segera mengucur deras dari tubuhnya. Dengan tangannya yang gemetar, Sakura mencoba menggedor pintu besi itu untuk meminta pertolongan.
Sakura sudah benar-benar sulit bernapas hingga bernapas melalui mulut pun rasanya sulit sekali.
Sakura sampai terguling di lantai lift yang dingin itu hingga meringkuk. Tubuhnya memang tidak sakit. Tapi rasa sesak ini membuatnya benar-benar tidak nyaman. Lama Sakura menunggu, hingga dirinya benar-benar tak kuat lagi menunggu.
Tapi apa yang sebenarnya ditunggu oleh Sakura?
Bahkan… Sasuke sendiri tidak tahu kalau Sakura… takut dengan kegelapan.
Ya… Sasuke tidak tahu…
Kepala Sakura sudah pusing dengan sangat. Hanya berusaha tetap kuat sampai bantuan datang. Ya, kalau lift ini rusak seharusnya ada seseorang yang menyadarinya.
15 menit Sakura terpaksa menunggu dengan keadaan menyedihkan seperti ini. Sampai akhirnya, perlahan-lahan pintu lift terbuka. Cahaya dari luar jelas menyilaukan matanya. Tapi beruntungnya Sakura bisa kembali bernapas dengan baik perlahan-lahan.
"Sakura? Kau tidak apa-apa? Sakura?!"
Seseorang memapah dirinya dan memegangi pipinya dengan lembut.
"Tubuhmu dingin! Wajahmu juga pucat. Kita harus segera keluar dari sini!"
Seseorang menggendong dirinya dengan cekatan dan membawanya keluar dari ruangan terkutuk itu.
Ketika keluar dari lift itu banyak orang sudah berkerumun. Tapi sekilas, Sakura melihat seseorang berdiri di antara kerumunan itu dengan wajah sedih.
Itu kan… Itachi?
.
.
*KIN*
.
.
"Kaa-chan… buka pintunya… Sakura di sini… Tou-chan…"
Apa ini?
Kenapa Sakura ada di ruangan gelap ini lagi?
"Kaa-chan… hiks… Tou-chan… Sakura takut…"
Samar-samar Sakura melihat bayangan seorang anak kecil yang duduk di sudut ruangan sambil menangis tersedu-sedu. Sedikit cahaya, Sakura baru sadar ternyata gadis kecil itu adalah dirinya sendiri. Bukankah ini bayangan ketika Sakura masih kecil dulu?
Saat dirinya terperangkap di dalam gudang rumahnya sendiri?
"ARGH!"
Sakura tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya tersengal hebat. Sakura juga merasa tubuhnya basah karena keringat.
"Sakura? Ada apa?"
Sakura menatap kedua tangannya. Tangannya gemetar hebat.
"Sakura!"
Astaga… Sasuke berdiri begitu dekat di sisi ranjangnya. Wajah laki-laki itu begitu dekat dengan wajah Sakura. Sasuke?
"Kau mimpi buruk? Tanganmu gemetaran…"
Sasuke segera duduk di sisi ranjang Sakura dan menggenggam kedua tangan gadis bermata hijau itu dengan erat. Tangannya basah karena keringat dan gemetaran. Semakin Sasuke mengeratkan genggamannya, tangan Sakura tak lagi gemetaran.
"Maaf aku lupa memberitahu soal lift yang rusak itu. Maaf… aku tidak tahu ternyata kau… takut gelap…" lirih Sasuke.
Sakura tersenyum tipis meski dirinya masih berusaha mengendalikan rasa ketakutannya dan napasnya sedari tadi.
"Akhir-akhir ini kau banyak sekali mengatakan maaf. Aku jadi takut kau benar-benar… salah makan obat…"
Sasuke menatap wajah gadis berambut pink itu.
Sepertinya Sakura tidak main-main saat terjebak di dalam lift itu. Wajahnya sampai pucat dan napasnya tersengal begitu. Begitu Sasuke membawa Sakura untuk segera diperiksa, dokter mengatakan Sakura mengalami syok karena trauma. Berarti ada sesuatu yang membuat Sakura menjadi begitu trauma dengan ruangan gelap. Setelah diberi obat penenang, Sakura tertidur selama 10 jam lebih. Di sela-sela waktu itu, Sasuke terus memantau keadaan Sakura sambil dirinya bekerja.
Dan beruntungnya, Itachi cukup tahu diri untuk tidak membuat kekacauan di saat kondisi Sakura seperti itu.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau takut ruangan gelap?"
"Karena kupikir itu tidak penting…" jawab Sakura.
'Tapi kenapa Itachi tahu?!"
"Aku tidak memberitahunya. Oh…"
"Apa?!"
"Mungkin waktu itu… saat aku terjebak di gudang kampus. Rupanya Itachi-san yang datang… sudah kuduga itu bukan kau," gumam Sakura.
"Hei, kau ini benar-benar bodoh sekali! Bagaimana mungkin kau selalu terjebak di ruangan gelap seperti itu padahal kau takut gelap!"
"Mana aku tahu kalau aku akan terjebak begitu! Memangnya kau pikir… hhh…"
Sasuke sial! Sakura masih belum bisa mengendalikan napasnya, dia malah mengajak Sakura adu mulut seperti ini. Wajar saja kalau akhirnya Sakura merasa napasnya tersengal lagi.
Tanpa diduga Sakura, ketika dirinya tengah mengendalikan napasnya sendiri, Sasuke semakin mendekatinya hingga terakhir, satu tangannya yang tidak menggenggam tangan Sakura merangkul bahunya dan membawanya mendekat pada Sasuke. Tunggu! Posisi ini… bukankah ini…
Sasuke memeluknya!
Kontan saja mata Sakura terbelalak hebat. Ok, baiklah. Ini benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi!
"Hei… kenapa kau… begini…" bisik Sakura. Sejujurnya, Sakura ingin melepaskan pelukan ini sebelum dirinya terhanyut lebih jauh. Tapi semakin Sasuke membuat pelukan ini menjadi lebih dekat, keinginan Sakura untuk melepaskannya semakin pudar.
"Tarik napasmu perlahan, tenanglah. Jangan memikirkan apapun dulu," bisik Super Star itu.
Sakura segera melakukan apa yang dikatakan oleh Sasuke barusan. Sakura juga memejamkan matanya perlahan-lahan untuk membuat dirinya sendiri menjadi tenang. Suara Sasuke saat itu sungguh terdengar berbeda. Jauh lebih lembut. Suara yang bahkan tidak pernah Sakura dengar selama terlibat dengan artis ini. Dan ditambah lagi… dengan jarak sedekat ini, Sakura dapat mencium wangi si Super Star ini…
Wangi yang begitu menenangkan. Sakura menyukai wangi ini. Apakah ini wangi parfum-nya? Tidak, ini tidak seperti wangi parfum. Ini seperti wangi sabun… tidak juga. Wangi apa ini? Yang Sakura tahu, ini adalah wangi yang hanya dimiliki oleh Uchiha Sasuke seorang.
"Lebih baik?"
Sakura terbangun dari lamunannya.
"Hm, aku lebih—"
Sekali lagi mata Sakura terpaksa membelalak tak karuan. Sasuke memang melepaskan pelukannya, tapi ternyata wajah mereka jauh lebih dekat lagi. Mungkin hanya berjarak beberapa senti saja. Sakura bahkan sampai menahan napas karena posisi mereka yang sangat berbahaya ini.
Tapi entahlah, mengapa wajah Sasuke saat ini terlihat begitu serius. Bukan serius karena dia marah. Ekspresi lain yang sekali lagi tak pernah dilihat oleh Sakura.
Jadi… otomatis wajah Sakura memanas tak karuan. Sekarang rasanya darah mengalir ke luruh wajahnya. Astaga!
BLETAK!
"Aw! Sakit sialan!" pekik Sakura ketika akhirnya Sasuke menyadarkan fantasi anehnya itu dengan sebuah sentilan dua jari di dahi Sakura.
"Apa yang kau pikirkan sampai wajahmu merah begitu? Tch…" ejek Sasuke.
Kali ini Sasuke langsung mengambil jarak dengan menjauh sedikit dari Sakura. Sasuke juga sudah melepaskan genggaman tangannya dari Sakura namun masih duduk di sisi ranjang Sakura.
"Tidak ada yang kupikirkan! Ini karena ruangannya panas!" bantah Sakura.
"Memangnya kau hidup dimana hah? Udara sedingin ini kau katakan panas. Sepertinya karena luka di kepalamu itu sudah menyebabkanmu mengalami masalah otak!"
"Dasar sialan! Kau selalu saja ingin cari masalah denganku!"
"Mencari masalah denganmu… sedikit membuatku merasa lebih baik."
"Hah? Apa? Kau mau mengejekku ya?!"
"Pekerjaan yang membosankan, hidup yang membosankan. Selain bertemu Hinata, aku tidak menyangka ada hal lain yang dapat membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya."
Sakura diam. Entahlah, orang ini kenapa lagi. Sepertinya dia benar-benar salah makan obat.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi… aku merasa sangat beruntung memilihmu untuk menjadi kekasihku."
"Beruntung karena hanya aku yang bisa kau panggil bodoh kan?" balas Sakura.
Sasuke hanya tersenyum tipis dan kembali menyentil dahi Sakura dengan dua jarinya.
"Tidurlah, kau cerewet sekali."
"Aku ini lapar, kau pikir aku bisa tidur kalau perutku kosong!"
"Jadi kau ingin makan, malam begini huh?"
"Tentu saja! Aku tidak mau makanan rumah sakit. Belikan aku sushi di luar. Karena kau artis, tolong belikan yang mahal!"
Sasuke terlihat kesal dengan pesanan Sakura yang seenaknya itu.
"Baiklah, karena aku artis kaya, aku akan membelikannya. Tapi melihat tingkahmu tadi, aku akan memotongnya dari bayaranmu."
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke menyeringai dan langsung keluar dari kamar rawat Sakura.
"Hei! Sasuke sialan! Awas saja kau berani memotongnya ya!" pekik Sakura tak terima.
Sakura melengkungkan senyum di wajahnya.
Ini adalah sekian kalinya Sakura melihat sosok lain dari wajah Sasuke. Melihatnya bertingkah seperti bukan Uchiha Sasuke yang dikenal Sakura dulu. Sosok berbeda yang membuat Sakura kembali jatuh cinta padanya berulang kali. Sosok itu… yang membuatnya berani bermimpi lebih dari apa yang diharapkannya.
Tapi…
Tidak. Itu tidak mungkin…
Begitu Sakura akan kembali berbaring, tiba-tiba terdengar suara ponsel yang berbunyi.
Sakura melihat ponselnya yang ditaruh di bawah bantalnya, tapi ternyata bukan ponselnya yang berbunyi. Sakura mencari-cari dimana asal bunyi itu. Akhirnya Sakura menemukannya tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya. Ponsel ini…
Punya Sasuke kan?
Begitu melihat nomor pemanggilnya, tertera Apartemen saja di sana. Apa mungkin orang rumahnya? Baru saja Sakura akan mengangkatnya bunyinya sudah mati.
Tunggu… bukankah yang tinggal di apartemen Sasuke sekarang ini adalah Hinata?
Kalau begitu mungkin yang menelpon adalah Hinata kan?
Apa gadis itu butuh sesuatu?
Sakura kemudian meletakkan kembali ponsel Sasuke.
Haruskah Sakura…
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna hehehe, saya senang akhirnya respon fic ini begitu positif. Tapi ya sebentar lagi mungkin fic ini akan saya selesaikan. Jadi tinggal beberapa chap lagi deh… pastinya saya kurang yakin.
Sebenernya untuk chap ini saya kurang sreg. Agak berlebihan, atau memang lebai sih, tapi jujur saya ingin mereka memiliki perasaan dulu satu sama lain. Makanya untuk membangkitkan itu rasanya cukup susah sekali. Dan sampai sekarang pun, belum terbersit perasaan di antara mereka yang klop. Karena saya gak mau prosesnya langsung instan begitu saja. Saya selalu membutuhkan proses untuk semua karakter di sini.
Saatnya balas review…
Madeh18 : makasih udah review senpai… iya gak papa kok, dibaca aja saya udah seneng hehhee iya ini udah lanjut lagi hehehe
Dwinakwonjiyong : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa ini udah saya lanjut lagi hehehe
Gapunya akun : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut…
Xiaooo : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehe
UchiHaru Yuuki : makasih udah review senpai… iya makasih banyak heheh ini udah lanjut lagi kok hehehe
Kuro Shiina : makasih udah review senpai… wah kalo gitu sama dong kayak saya heheh biar Saku gak merasa sedih terus sih kalo sayanya hehehe
UchiHaruno Misaki : makasih udah review senpai… oke kalo gitu saya panggil Saki aja boleh hehehe? Makasih banyak udah suka yaa… saya seneng banget ada yang mereview cerita saya seperti kamu. Jadi saya tahu seperti apa perasaan pembacanya hehehe
Animea-Khunee-Chan : makasih udah review senpai… hehe iya ini udah lanjut lagi yaa heheh makasih banyak udah suka fic saya yang pas-pasan ini hehehe
Ika : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Sgiariza : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh
Anka-Chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Little Deer Chanie94 : makasih udah review senpai… oke saya panggil Fitri aja gak papa yaa hehehe makasih udah suka fic saya heheh
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya mereka memang pas jadi canon kok soalnya mereka memang serasi sih hehehe
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa ini udah lanjut heheh
Heni lusiana 39 : makasih udah review senpai… oke jadi panggil Heni hehehe iya ini udah lanjut lagi hehehe
Kin : makasih udah review senpai… ahaha iya ini udah lanjut lagi kok heheh
Cherry Huanggara : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi heheh
Persephone-Athena : makasih udah review senpai… ahahah dilihat nanti yaa
Uchihafenny : makasih udah review senpai… hehehe jadi bingung gimana balesnya…
Inggrit stivani : makasih udah review senpai… makasih banyak udah suka yaa heheh gak marah kok, saya justru senang sama review yang panjang karena saya suka bacanya heheh ini udah lanjut.
Lynn : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe
Guest : makasih udah review senpai… makasih semangatnya heheh iya ini udah lanjut lagi heheh
Aitara fuyuharu1 : makasih udah review senpai… iya nanti ambil formulirnya sama Kisame aja yaa hehehe oke saya akan manggil Tara kalo gitu hehehe makasih semangatnya ya hehehe
Michellea : makasih udah review senpai… wah, makasih udah baca fic IchiRuki saya juga ya hehehe iya ini tadinya fic original saya yang pake nama Korea. Tapi bukan dari artis yang asli kok, semua namanya saya karang sendiri hehehe makasih banyak yaa…
Namuchi : makasih udah review senpai… aduh kalo gitu caranya malah pindah rating nanti hehhe iya ini udah update lagi heheh
Tsurugi De Lelouch : makasih udah review senpai… wah senangnya akhirnya senpai baca fic ini lagi. makasih banyak yaa hehe ini udah lanjut lagi…
Yumae-chan : makasih udah review senpai… saya juga suka Hinata kok di anime aslinya hehehe… makasih udah suka yaa hehehe
Makasih banyak buat yang udah ngeluangin waktu buat fic saya.
Jaa Nee!
