Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
"Hei, aku sudah membelinya. Apa kau tidur?"
Sakura masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sekarang ini Sakura tengah merasa gugup sekali bertemu dengan Sasuke.
Sasuke yang merasa sedikit kesal karena sepertinya gadis berambut pink ini tidak terlihat mempedulikannya, padahal dia sudah jauh-jauh mencari sushi mahal untuknya, dia malah tidur begini.
"Hei! Bangun sana!"
Sasuke menarik selimut yang menggulung tubuh Sakura dengan sedikit kasar. Begitu selimut itu terbuka, Sakura malah meringkuk di sana, enggan menatap Sasuke.
"Katamu perutmu lapar, kenapa sekarang malah tidur?!" geram Sasuke.
Sakura langsung buru-buru bangkit dari posisi tidurnya. Kepalanya masih menunduk meski dia sudah duduk di atas tempat tidurnya. Sasuke menyodorkan sekotak sushi yang masih di dalam bungkusnya itu. Tanpa banyak bicara, Sakura segera mengambil kotak sushi itu, membukanya dan segera melahap isinya dengan cepat.
"Astaga, kau seperti tidak makan berhari-hari saja. Awas saja kalau kau tersedak!"
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke malah menarik kursi untuk duduk tepat di sebelah tempat tidur Sakura. Laki-laki itu hanya duduk dan menatap Sakura tanpa ekspresi. Sepertinya Sasuke malah terlihat memandangi Sakura yang makan begitu lahap hingga dalam hitungan menit semua sushi itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Sakura berusaha menelan semua sushi itu dengan susah payah karena dia memasukkan beberapa sushi ke dalam mulutnya. Sakura juga berusaha untuk tidak tersedak. Tapi kemudian mulutnya yang sudah penuh itu susah untuk bergerak dan menelan semuanya sekaligus.
"Apa kataku kan? Kau benar-benar bodoh!"
Sasuke bangkit dan menyodorkan segelas air minum dan menepuk-nepuk punggung Sakura untuk membantunya melancarkan pencernaaan di dalam mulutnya itu. Menelan saja seperti itu. Apalagi dengan sushi sebanyak itu. Dasar bodoh.
Setelah acara makan Sakura yang berlangsung aneh karena dirinya yang terlihat memalukan itu, Sasuke segera menyingkirkan kotak sushi itu dan bermaksud untuk membuangnya ke sampah. Tapi sebelum Sasuke pergi, Sakura justru menarik tangan laki-laki berwajah dingin itu. Sakura juga menyadari bahwa tangannya justru berubah dingin saat mencoba memegang Sasuke.
"Jangan pergi… dulu," lirih Sakura.
"Apalagi sekarang? Aku hanya membuang ini," ujar Sasuke.
"Jangan pergi… sampai aku tidur. Kau yang mengatakan akan menjagaku kan? Kalau begitu tunggu sampai aku tidur. Setelah itu… setelah itu… kau… boleh pergi," kata Sakura akhirnya dengan susah payah.
"Aku tidak akan pergi kemana pun. Hanya membuang sampah saja. Memangnya aku mau membuangnya di Osaka? Aku tidak akan lama."
"Tetap saja kau akan pergi," rengek Sakura.
"Hei, ada apa denganmu hari ini? Apa kepalamu benar-benar sudah rusak? Perlukah kita CT-scan untuk kepala bodohmu itu?"
Sakura hanya menundukkan kepalanya dan melepaskan tangannya dari Sasuke. Apa yang sebenarnya Sakura ingin lakukan?
Tapi kemudian, Sasuke menaruh kotak kosong itu di meja samping tempat tidur Sakura dan kembali duduk di tempatnya tadi. Sakura menoleh ketika melihat Sasuke ternyata tidak pergi walau sebenarnya dia hanya ingin membuang kotak sushi itu saja.
"Sudah? Sekarang tidurlah."
Sakura menurut dan kembali berbaring serta menarik selimutnya lagi.
Apa yang sebenarnya Sakura coba lakukan sekarang?
Saat ini, sisi egois-nya yang berkuasa. Sakura bahkan tak menyangka jika akhirnya Sasuke justru mengalah dan menuruti semua kemauan Sakura. Jika saja Sasuke tidak menurutinya dan memilih pergi, Sakura pasti tidak akan berharap lebih banyak. Karena sekarang, kejujuran di dalam lubuk hati Sakura sungguh mengerikan. Sakura takut dia berubah jadi gadis egois yang tidak terkendali dan memaksakan keinginannya untuk terus bersama laki-laki yang bukan miliknya ini.
Ya, sejak awal Sasuke bukanlah miliknya. Sasuke tidak bsia bersamanya apapun yang Sakura coba lakukan. Jika tetap memaksa, Sakura tidak yakin hubungan mereka akan bisa kembali seperti ini. Ya, seperti sepasang kekasih sungguhan. Meskipun bukan di depan kamera, Sasuke memperlakukannya dengan baik hari ini. Sasuke terus ada di sisinya meski Sakura tidak apa-apa. Sakura hanya takut kebaikan Sasuke ini malah akan membuatnya salah paham. Mungkin Sasuke hanya bertanggungjawab padanya, tidak ada perasaan lebih.
Perasaan Sasuke sekarang hanya milik Hinata.
Hinata…
Membayangkan gadis itu yang tidak memiliki siapapun. Membayangkan Hinata hanya memiliki Sasuke seorang di dunia ini. Membayangkan Hinata yang selalu hidup kesepian dalam persembunyian sebagai kekasih sejati Sasuke. Sakura tidak bisa bersikap egois jika yang dihadapinya adalah sosok seperti Hinata.
Mungkin… mungkin… jika itu bukan Hinata… mungkin Sakura bisa…
"Sasuke."
Sakura kembali merubah posisinya duduk di atas tempat tidurnya sembari menatap Sasuke dengan serius.
"Apalagi kali ini? Sepertinya ketika kau sakit, kau sungguh merepotkan," ujar Sasuke.
"Tadi… saat kau pergi tadi… ada yang menelponmu," buka Sakura.
"Menelpon? Siapa?" tanya Sasuke.
"Aku tidak tahu siapa. Ketika aku mau mengangkatnya, aku takut kau marah. Jadi aku bingung harus bagaimana. Karena yang menelponmu… berasal dari apartemenmu tinggal."
Sasuke tertegun mendengar penjelasan itu. Dirinya berubah diam. Sasuke tak tahu harus bagaimana sekarang ini. Perasaan ini sungguh rumit. Jika memang itu dari apartemennya, sepertinya itu telepon dari…
"Sasuke, pulanglah."
Kembali Sasuke kaget mendengar penuturan dari Sakura kali ini.
"Apa yang kau katakan? Tadi kau menyuruhku jangan pergi," kata Sasuke akhirnya.
"Sasuke, pulanglah. Kalau kau tidak pulang, aku… aku… aku yang akan pulang!"
"Hei—"
"P-pulanglah. Aku sudah lebih baik. Mungkin, Hinata membutuhkan dirimu. Pulanglah sekarang. Aku mohon…" lirih Sakura.
Dihadapi dilema seperti ini sungguh membuat Sasuke bingung. Tapi akhirnya, dari sekian banyak pilihan, Sasuke justru pergi meninggalkan Sakura dan bergegas pulang.
Melihat kepergian Sasuke seperti itu, Sakura justru merasa jika keinginannya adalah hal mustahil yang bisa diwujudkan. Mustahil memang menginginkan seseorang yang bukan milikmu sejak awal.
Mungkin… Sakura-lah yang harusnya menghentikan ini sebelum terlalu jauh.
Ya… hentikan. Semuanya harus dihentikan.
Sakura harus bangun dari mimpi indah ini.
Karena memang mimpi yang indah hanyalah bunga tidur. Dan selamanya hanya ada di dalam mimpi.
.
.
*KIN*
.
.
"Hinata? Hinata? Kau dimana?"
Sasuke segera masuk ke dalam apartemennya dan mencari-cari sosok kekasihnya yang seharusnya ada di sini. Sasuke sangat khawatir sekarang karena sepanjang perjalanan menuju apartemen ini, Sasuke terus menerus mencoba menghubungi Hinata melalui telepon apartemennya. Tapi tak ada yang mengangkat. Sasuke panik sekarang. Dia tak menyangka jika Hinata akan berbuat seperti ini.
"Hinata?!" pekik Sasuke akhirnya.
Begitu mencoba mencari di kamar mandi, pintunya terkunci dari dalam. Sasuke semakin panik karena saat dirinya berusah menggedornya, ternyata tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya pilihan terakhir, Sasuke berusaha mendobrak paksa pintu itu.
Sekian lama berjuang, akhirnya pintu sialan itu terbuka juga.
"Hinata! Hinata!"
Sasuke terkejut mendapati sosok Hinata sudah terkulai lemas di lantai kamar mandi dengan mulut yang penuh busa. Di dekatnya ada sebotol cairan pembersih. Sasuke berusaha menyadarkannya, tapi sepertinya Hinata sudah tidak sadarkan diri.
Sesegera mungkin Sasuke menggendong Hinata dan membawanya pergi ke rumah sakit. Sekarang ini Sasuke sudah tidak peduli apapun lagi. Jika sesuatu terjadi pada Hinata sekarang ini, sepenuhnya adalah kesalahannya. Jika Hinata nanti akan menyalahkan seseorang dan membuatnya bertanggungjawab untuk Hinata, Sasuke benar-benar akan melakukannya.
Ini… adalah kesalahannya yang paling fatal di dalam hidupnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Dramanya dihentikan sementara waktu. Skandalnya semakin parah saja. Sekarang karir Sasuke benar-benar akan binasa dalam hitungan waktu."
Kakashi meletakkan koran pagi kali ini.
Tiga hari yang lalu, Sasuke tertangkap seorang paparazzi yang mengikutinya dari apartemen rumahnya menuju rumah sakit. Dan sialnya itu adalah hari dimana Sasuke membawa seorang gadis tak dikenal ke rumah sakit. Seusai membawa gadis itu, Sasuke tak kunjung keluar dan kemudian fotonya yang membawa gadis itu tersebar luas ke seluruh Jepang. Setiap saat ada saja beberapa wartawan yang menunggu di rumah sakit untuk meminta penjelasan mengenai siapa gadis misterius itu.
Sasuke tetap tak berkomentar banyak. Bahkan pihak agensi dan managernya saja tidak tahu mengenai hal ini. Kakashi yang bertanggungjawab selaku manager-nya juga pusing setengah mati ketika agensi dan wartawan mulai mencari-cari dirinya mengenai ini. Belum lagi amukan fans yang bertambah jadi.
Di rumah sakit, tidak ada yang bisa menemui Sasuke karena dijaga oleh beberapa bodyguard. Bahkan ibunya sendiri tak bisa menemui Sasuke. Hanya dokter dan perawat-lah yang boleh menjenguk Sasuke di dalam kamar yang dijaga itu. Semuanya jadi semakin kacau ketika Sakura yang juga ikut terlibat masalah ini.
Pagi ketika malam itu Sasuke meninggalkannya, Sakura dikejutkan dengan Ino yang langsung datang padanya menyampaikan berita itu. Sakura juga berusaha menemui Sasuke untuk meminta penjelasan. Tapi laki-laki itu malah mengabaikannya. Bukannya Sakura yang mengamuk, justru Ino yang membuat kehebohan.
Sekarang semua berita mengenai Sasuke ada dimana-mana. Bahkan baik TV maupun majalah terus membahas dirinya.
Sasuke jadi top berita di seluruh Jepang dengan berbagai skandalnya. Ditambah lagi Sakura ikut dikaitkan dengan masalah ini. Bahkan ada berita yang mengatakan bahwa mungkin alasan Sakura yang berhubungan dengan fotonya beberapa waktu lalu adalah ini.
Itachi yang sedari pagi berada di kantor Kakashi untuk berdiskusi dengannya jadi ikut bingung. Belum lagi ditambah ibunya yang mengamuk karena masalah ini dan marah besar karena Sasuke berani mengabaikannya. Mikoto juga masih berusaha menemui Sasuke dengan segala cara.
"Dia memang jadi artis populer, tapi aku tak menyangka jika kepopulerannya malah berasal dari skandal. Apa yang harus kulakukan sekarang…" keluh Kakashi.
"Kau sudah menemuinya?" ujar Itachi.
"Belum. Dia masih tidak mau ditemui. Sekarang aku benar-benar penasaran dengan gadis itu. Siapa dia sebenarnya? Apa hubungannya dengan Sasuke? Sasuke tak pernah memiliki hubungan khusus dengan gadis mana pun kecuali Sakura," kata Kakashi lagi.
Itachi hanya diam tak bersuara. Bagaimana lagi, meski Itachi tahu siapa gadis itu, tak akan ada yang bisa membantunya. Malah akan menambah memperkeruh suasana saja.
"Itachi, apa mungkin kau tahu sesuatu mengenai gadis itu? Sasuke kan adikmu," tanya Kakashi.
"Tidak, aku tidak tahu apapun."
Yang ada di pikiran Itachi sekarang adalah bagaimana dengan perasaan gadis satu lagi.
Sejak berita itu meluas, Itachi sudah berkali-kali menghubunginya, tapi tak pernah ada jawaban. Itachi juga berusaha menemuinya di tempat tinggalnya, tapi sejak masalah itu keluar, apartemennya tetap kosong. Sekarang Itachi tak bisa menemukan Sakura dimana pun. Baik di tempat tinggalnya mau pun di kampusnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Ibuku memang mengijinkanmu tinggal di sini karena mengingat kau sahabatku, tapi tetap saja… kau harus berhati-hati. Karena sekarang banyak orang yang mencarimu."
Sakura masih duduk di depan jendela kamar Ino sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang. Kamar Ino ada di lantai dua memang. Selama tiga hari terakhir ini, Sakura hanya berdiam diri di sini. Tidak kemana pun, apalagi ke kampus. Sekarang, Sakura tak punya tempat untuk pergi kemana pun. Ditambah lagi dengan kenyataan gila ini.
Sakura sudah tak bicara selama tiga hari ini, apapun yang Ino katakan selalu direspon dengan anggukan kepala atau gelengan kepala. Sesekali dengan isyarat.
Ino paham apa yang dialami oleh Sakura. Tapi jika gadis itu tak bicara apapun dengannya, apa yang bisa Ino bantu? Walau sejujurnya, Ino ingin sekali tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Sakura.
"Nee, Sakura… jangan seperti ini. Aku benar-benar takut tahu! Kau tidak seharusnya menderita seperti ini hanya untuk orang seperti Sasuke sialan itu! Kau harus mengembalikan hidupmu seperti dulu! Makanya sudah kukatakan untuk menghentikan berhubungan dengan orang itu kan? Dia tidak peduli sama sekali denganmu!"
Ino sudah tak tahu harus mengatakan apalagi pada Sakura. Setiap hari Ino membujuknya untuk bicara padanya. Makanya Ino menjauhkan segala macam surat kabar dan TV kepada Sakura karena berita sialan itu.
"Sakura, kalau kau memang masih menganggapku sahabatmu, dan kau masih peduli padaku… tolonglah. Tolong bicara padaku, aku pasti akan mendengarkannya dengan baik. Lepaskan bebanmu sejenak saja…" lirih Ino.
"Ino, mau dengar cerita tentang putri duyung?" ujar Sakura akhirnya dengan wajahnya yang seperti biasa. Tidak lagi terkesan sedih. Tapi sedikit lega.
"Hah?"
.
.
*KIN*
.
.
Hinata membuka matanya perlahan.
Beberapa waktu lalu Hinata merasa ada dalam pilihan hidup dan mati. Dia terus bermimpi jika Hinata tengah menyeberangi sebuah jembatan yang begitu rapuh. Setiap kali Hinata melangkah, jembatan itu akan bergoyang dan kayu-kayu penyangganya akan roboh. Tapi jika Hinata berdiam diri di jembatan itu, larva panas di bawah jembatan itu akan melahapnya hidup-hidup.
Mimpi itu sungguh mengerikan.
"Hinata…?"
Suara ini…
"Hinata? Kau sudah sadar?"
Hinata menatapnya dengan sinis.
"Pergi."
"Hinata?"
"Biarkan aku sendiri. Pergi!"
Sasuke hanya mendapati reaksi dari kekasihnya ini. Maka, Sasuke hanya mematung diam di sana mendengar permintaan dari Hinata hari ini setelah tiga hari lamanya Hinata koma tak sadarkan diri. Tapi sekarang ketika Hinata bangun, sikapnya berubah seperti ini.
Hinata memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidurnya. Tapi kepalanya ternyata masih teramat pusing. Namun Hinata tak peduli, tangannya langsung mencengkeram kerah kemeja Sasuke yang ada di hadapannya dengan erat.
"Kemana kau pergi Sasuke ketika aku benar-benar membutuhkanmu?! Bahkan ketika aku akan mati pun kau sama sekali tidak peduli! Aku berusaha menghubungimu tapi kau tetap tidak peduli! Aku lelah diperlakukan seperti ini! Kalau kau tidak menginginkanku lagi, buanglah aku! Aku juga tidak ingin hidup lagi…"
Mendengar penuturan dari Hinata, Sasuke semakin terdiam. Sasuke tahu dia yang bersalah, tapi tak tahu harus bagaimana menebus kesalahan ini.
"Kau sudah berubah… kau sudah tidak mempedulikan aku lagi… kenapa kau tidak membunuhku saja Sasuke? Seharusnya aku memang mati saja bersama keluargaku… kalau kau hanya menganggapku sebagai beban… kenapa kau tidak meninggalkanku? Apa artinya aku ini Sasuke…?"
"Hinata…"
"Dan mulai hari ini, aku semakin yakin kalau kau hanya kasihan padaku selama ini. Hidup sebatang kara, kesepian, tak memiliki siapapun dan apapun. Aku adalah gadis malang yang lebih mirip pengemis untukmu hingga kau begitu kasihan padaku. Seharusnya aku hidup di jalanan saja. Bukan bersamamu. Karena kau akhirnya… sudah tak peduli padaku."
"Kau ingin bukti apa dariku?" ujar Sasuke akhirnya yang memilih menyerah menghadapi Hinata yang tengah dilanda kegalauan seperti ini. Wajar apabila sikap Hinata akhirnya berubah seperti ini. Sasuke tak akan menyalahkan Hinata jika semua ledakan yang ditahan Hinata selama ini keluar begitu saja. Sasuke juga tak keberatan lagi dengan apapun yang diinginkan oleh Hinata saat ini. Ya, apapun…
"Apa yang bisa kau buktikan padaku? Aku bahkan tak mempercayaimu lagi, bahwa kau masih mencintaiku hingga hari ini. Kau sudah berubah. Hatimu sudah goyah. Kau bukan Sasuke yang dulu lagi…"
"Jadi… kau ingin Sasuke yang dulu?" kata Sasuke.
"Ya, kembalikan Sasuke-ku yang dulu. Sasuke yang hanya ada di sisiku selama yang aku inginkan. Sasuke yang hanya melihat dan mencintaiku seorang. Jika Sasuke tidak kembali… aku yang akan pergi. Selamanya…"
Sasuke kemudian memegang dengan lembut jemari Hinata yang masih mencengkeram erat kemejanya. Melepaskannya dengan perlahan dan beralih memeluk tubuh kurus kekasihnya itu. Sasuke memeluknya dengan erat dan penuh sayang.
Ya, sekarang Sasuke akan mengakui segalanya. Dia memang laki-laki munafik. Dia memang plinplan. Dia memang menyebalkan. Dia memang jahat. Dia memang seenaknya. Dia memang naif. Dia adalah segala hal terburuk yang pernah ada di muka bumi ini.
Sasuke memang tak bisa memilih karena pilihan itu sejak awal tak pernah ada.
Mungkin jika kejujuran bisa memudahkan segalanya, Sasuke mungkin tidak apa tanpa Hinata. Tapi tanpa Sasuke, apa yang akan terjadi pada Hinata?
Karena itulah seluruh manusia di dunia ini beramai-ramai melakukan kebohongan. Meski kebohongan itu kecil dan tak berarti, tapi terkadang yang dapat menyelamatkan hidup seseorang adalah sebuah kebohongan. Dan dengan kebohongan, seseorang akan bisa bertahan hidup lebih lama meski kenyataan begitu kejam. Karena itulah kejujuran adalah hal termahal di dunia ini. Tidak semua orang yang kaya raya mampu membeli kejujuran itu. Ya, walau dia adalah orang miskin di dunia ini, tapi jika dia berani, dia bisa membeli kejujuran itu berapapun harganya.
Dan untuk Sasuke sekarang ini… nilai kejujuran itu jauh lebih mahal dari hidupnya.
"Sasuke-mu… akan segera kembali…" bisik Sasuke akhirnya.
Hinata memejamkan matanya dengan erat dan meresapi pelukan yang diberikan Sasuke padanya hari ini. Pelukan yang begitu lama dilupakannya.
.
.
*KIN*
.
.
"Sakura… kau… apa?"
Ino tak percaya dengan segala yang sudah diceritakan oleh Sakura di sela isak tangisnya itu. Ino benar-benar tak percaya bahwa apa yang selama ini ditutup rapat oleh Sakura ternyata sebuah rahasia besar yang dapat menghancurkan seorang Uchiha Sasuke termasuk keluarga besarnya!
Bagaimana mungkin Sakura bisa bertahan selama ini dengan rahasia yang begitu besar ini? Bagaimana Sakura bisa menahan perasaannya selama ini?
Apalagi kalau kenyataan ternyata gadis yang tengah ramai dibicarakan itu adalah kekasih asli dari Sasuke. Dan Sakura harus memerankan peran ini untuk menutupi semua hal tentang Sasuke yang sudah diperbuatnya.
"Kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau menyetujui semua ini?! Dan bayaran? Dia sungguh ingin membayarmu setelah semua ini? Astaga…" keluh Ino.
Sakura menghela napas panjang. Tak ada tangisan dan airmata selama dirinya bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya selama ini. Bagi Sakura, menangis sekarang sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri. Sejak awal tak perlu ada yang ditangisinya. Kalaupun ada yang harus ditangisi adalah kebodohannya karena sudah nekat mencintai orang seperti Uchiha Sasuke. Meski akhirnya Sakura sendiri tak bisa menghentikan perasaannya sendiri. Ya, dia adalah seorang gadis biasa yang tak punya kemampuan hebat untuk menahan diri. Sakura sama seperti gadis biasa pada umumnya. Mudah untuk jatuh cinta meski pada orang yang salah.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Sakura? Kau sudah disakiti sedemikian, dan kau masih—"
"Dan aku masih mencintainya. Aku masih mencintainya. Jika saja semua ini tidak berlalu selama ini, aku tak akan mencintainya. Mungkin hanya sebatas menyukainya saja. Tapi setelah segalanya yang terjadi… mana mungkin aku tidak mencintainya."
"Kau memang mencintainya, dan dia? Apa perasaannya sama denganmu sehingga kau rela disakiti seperti ini olehnya? Dia sudah lebih dari keterlaluan padamu! Seharusnya kau memutuskan hubungan itu segera dengannya."
"Ya, aku akan segera mengakhirinya. Karena sudah saatnya… aku berubah menjadi buih."
Ino diam. Sakura memang terlihat datar saja selama bercerita mengenai asal usul hubungan mereka, tentang siapa sebenarnya gadis yang tengah jadi bahan berita itu, bagaimana keluarga Sasuke dan bagaimana Sakura sampai terjebak di semua masalah ini. Ino bahkan tak tahu sebenarnya Sakura saat ini tengah bersedih atau menyesal.
"Jadi… buih yang selama ini kau sebut-sebut itu…"
"Ya, aku adalah si putri duyung yang menolong pangeran itu. Tapi pangeran memilih menikah dengan putri lain sehingga putri duyung berubah menjadi buih karena cintanya tidak terbalas. Setidaknya, putri duyung rela menjadi buih demi cintanya pada pangeran. Karena di akhir cerita, putri duyung tidak sanggup membunuh pangeran untuk mendapatkan kembali dirinya yang sesungguhnya. Aku juga, tidak sanggup membunuh Sasuke seperti itu."
"Kau juga tidak akan mendapatkan kehidupanmu seperti dulu jika kau…"
"Aku juga tidak bisa kembali seperti dulu sebelum mengenal Sasuke. Aku tetap akan menghadapinya Ino, karena itu… tolong bantu aku."
"Membantu bagaimana?"
"Tolong dukung aku, berikan aku semangat setelah apa yang akan kuputuskan nanti. Bagaimana?"
"Kau tahu benar aku pasti akan berada di pihakmu kan?"
Sakura tersenyum lembut. Merasa semua bebannya sudah terangkat ke atas. Sekarang tak ada lagi penyesalan di dalam dirinya. Sudah saatnya Sakura berubah menjadi Sakura yang dulu. Yang tidak mudah menangis untuk hal-hal konyol. Sudah cukup untuk dirinya sekarang ini menjadi gadis melankolis. Sakura sekarang harus menjadi gadis yang kuat untuk menghadapi kenyataan nanti. Bukan, menghadapi realitas nanti. Bahwa sebentar lagi, Sakura akan bangun dari mimpi panjangnya.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada keluarga Ino, Sakura memutuskan untuk pulang ke apartemennya sendiri. Ibu Ino juga tahu mengenai masalah yang dihadapi Sakura. Ibunya sungguh mendukung Sakura dengan sepenuhnya. Rasanya lega memang ketika beberapa orang mendukung Sakura di saat seperti ini. Sakura merasa tidak sendirian lagi menghadapi kehidupannya.
Berbekal topi rajut yang menutupi seluruh rambutnya, kacamata bening biasa, syal tebal yang menutupi hampir sebagian wajahnya, dan baju musim dingin yang tebal. Ya, dilihat sekilas memang tak akan ada yang mengenali Sakura seperti ini berkat pakaian milik Ino yang dipinjamnya sementara. Sembari waspada pada sekelilingnya, Sakura juga tidak begitu mempedulikan lingkungan sekitarnya. Sakura terus berjalan maju hingga menunggu di halte bus untuk membawanya kembali pulang. Tapi saat akan menghampiri halte bus itu, Sakura berhenti di sebuah minimarket. Ada sekeranjang koran yang berjejer rapi di sana. Dan rata-rata berita yang dimuat di sana adalah mengenai Uchiha Sasuke bersama gadis misterius yang berada di rumah sakit. Sampai saat ini Sasuke belum bisa dimintai keterangan dan menolak bertemu siapapun termasuk agensi dan keluarganya. Drama dan beberapa pekerjaannya juga dihentikan sementara waktu sampai Sasuke meluruskan skandal ini.
Sakura memang berniat mengakhirinya, tapi Sakura tak ingin melihat Sasuke terpuruk seperti ini. Bagaimana dengan karirnya? Bagaimana dengan Hinata nanti jika publik akhirnya mengetahui siapa Hinata yang sebenarnya? Dan bagaimana keluarga Sasuke akan menerima ini? Karena setahu Sakura, tak ada satu pun orang yang mengetahui hubungan Sasuke dan Hinata. Termasuk keluarganya.
Lama Sakura berpikir mengenai bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini sampai dirinya tak sadar dia sudah sampai di apartemennya sendiri.
Sakura melihat ke atas dimana bangunan apartemennya ada.
Lampunya belum dinyalakan. Ditambah lagi keadaan sudah berubah malam. Haruskah Sakura nekat saja? Rasanya masuk ke dalam rumahnya jadi semakin mengerikan begitu melihat kegelapan itu.
"Benar-benar menyebalkan!" keluh Sakura.
"Sakura?"
Sakura terkejut ketika melihat sebuah lampu menyala menyorotinya dari belakang. Ini sepertinya lampu mobil. Begitu Sakura berbalik perlahan, matanya langsung silau karena lampu mobil itu menyala begitu terang. Seseorang keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri Sakura. Begitu menyadarinya Sakura terbelalak bukan main.
"Itachi… san?" lirih Sakura.
"Kau darimana saja? Kemana kau tiga hari belakangan ini? Aku terus mencarimu. Apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku ketika kau menghilang begitu saja? Bahkan rumahmu terus kosong selama ini," cerca Itachi begitu dirinya mendekat kepada Sakura.
"Kau… mencariku?" tanya Sakura.
"Tentu saja! Apa kau sudah lihat beritanya?" tanya Itachi berusaha sehati-hati mungkin.
"Bagaimana kau mengenaliku? Aku kan sudah menyamar sebaik mungkin agar tak ada yang mengenaliku? Wah… sepertinya aku sama populernya dengan artis ya?" goda Sakura sembari tersenyum lebar. Wajahnya seakan-akan tak memikirkan apapun.
"Sakura… kau… baik-baik saja?"
"1000 persen sudah baik. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan diriku. Sekarang aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Dan maaf kalau aku tidak menghubungimu. Aku permisi dulu," jelas Sakura akhirnya.
Sakura berbalik hendak menaiki tangga menuju rumahnya. Tapi langkahnya terhenti ketika Itachi menarik tangannya dengan cepat. Sakura justru mematung diam tanpa menoleh kepada Itachi.
"Di atas gelap sekali. Bukankah kau takut gelap?"
"Benar tebakanku, ternyata Itachi-san yang memberitahu Sasuke ya…"
Itachi diam ketika Sakura malah mengatakan hal itu padanya.
"Sakura—"
Sakura berbalik menatap Itachi dengan senyum terbaiknya. Meski Itachi tahu bahwa itu hanyalah senyum palsu yang berusaha dibuat oleh Sakura sebaik mungkin. Itachi masih bisa melihat kesedihan di dalam senyum itu.
"Itachi-san… sekarang ini… aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Sasuke. Jadi… Itachi-san tidak perlu lagi memberitahu Sasuke tentangku. Aku akan berpisah dengannya."
Itachi melepaskan tangannya yang masih menggenggam tangan Sakura tadi. Wajah gadis manis itu masih terlihat tersenyum. Tapi kesedihannya bertambah dua kali lipat lagi. Jika lebih lama lagi, mungkin sebentar lagi Sakura akan…
"Apa… kau ingin mengakhirinya karena berita itu?"
Sakura menganggukkan kepalanya perlahan.
"Jadi… kau tahu siapa gadis itu?"
"Aku tahu, makanya aku ingin mengakhirinya. Kurasa sudah cukup sampai di sini saja aku mengenal Uchiha Sasuke."
"Jika kau mengakhiri hubunganmu dengan Sasuke… itu artinya kau bisa memulai hubungan denganku kan?"
Sakura terbelalak mendengar kata-kata itu justru keluar dari mulut Itachi sendiri. Itachi menatapnya dengan serius tanpa ekspresi main-main seperti pertama kali mereka bertemu. Itachi terlihat tulus kepadanya dan bersungguh-sungguh.
"Itachi-san…?"
"Aku sudah pernah mengatakan ini pada Sasuke, jika kalian mengakhiri hubungan kalian maka aku akan memulainya denganmu. Jika Sasuke meninggalkanmu, aku yang akan bersamamu. Bukankah waktu itu sudah kukatakan padamu, bahwa aku bersungguh-sungguh. Jadi, kalau kau sungguh ingin meninggalkan Sasuke, aku akan membantumu untuk meninggalkannya."
Sakura hanya diam. Ini terlalu mendadak, bukan, ini tidak mendadak. Sakura sudah mengetahui ini. Bahwa ini mungkin akan terjadi sejak saat itu. Ketika Itachi datang di malam itu dan memeluk dirinya. Sakura sudah tahu kemungkinan ini akan terjadi. Itachi memang tulus padanya.
"Kau mungkin belum siap dengan apa yang akan kulakukan untuk membuatmu meninggalkan Sasuke, tapi percayalah, semakin cepat kau meninggalkannya, semakin cepat kau akan melupakan kesedihanmu. Jangan terlalu jatuh ke dalam jurang, Sakura. Kalau kau jatuh terlalu dalam, aku tidak bisa menarikmu keluar lagi."
Tidak bisa menarik Sakura keluar lagi…
"Kau harus berpikir cepat. Atau masalah ini akan semakin membesar. Dan semakin besar masalahnya, maka semakin lama masalah ini akan menghilang. Sekarang dadu ada di tanganmu, kalau kau tidak melemparnya, tidak akan ada yang akan memulainya. Karena ini sudah malam, aku akan mengantarmu masuk ke dalam. Kau takut gelap kan?"
Itachi melangkah lebih dulu untuk menemani Sakura masuk ke dalam rumahnya yang masih gelap gulita itu.
"Apa yang akan kau lakukan untuk membantuku meninggalkan Sasuke?" tanya Sakura akhirnya.
Dirinya masih terdiam di tempatnya tadi walau Itachi sudah berada di atas anak tangga menuju rumahnya.
"Aku akan melakukan sesuatu… yang mungkin akan menyakitimu. Tapi percayalah, aku akan melindungimu dengan segala yang kumiliki. Kau hanya akan merasa sakit sebentar, tapi rasa sakit itu akan cepat menghilang. Aku janji," ucap Itachi.
Sesuatu yang akan menyakitinya?
Tidak apa-apa, asalkan tidak menyakiti Sasuke. Dan Sakura percaya Itachi akan memenuhi janjinya. Jika itu Itachi, mungkin Sakura akan merasa lebih baik. Ya, Sakura tidak akan merasa terbebani lagi. Itachi tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi. Dia sudah berjanji dan bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu… lakukan untukku…"
.
.
*KIN*
.
.
Pagi ini Sakura terbangun dari tidurnya.
Semalam Itachi yang masuk duluan ke dalam apartemennya kemudian menyalakan lampu. Setelah memastikan Sakura masuk, Itachi langsung pamit pulang. Sakura juga melihat Itachi dari atas apartemennya. Melihat laki-laki itu pergi dengan mobilnya.
Selama ini Sakura selalu berpikir jika tak ada satu orang pun kecuali Ino yang mau peduli padanya. Sakura selalu berpikir jika dia memang benar-benar sebatang kara di dunia ini. Tapi Itachi… mau bersamanya meski sudah mengetahui jati diri Sakura. Itachi mau melakukan apa saja untuk bersama Sakura. Sedangkan Sasuke?
Kenapa Sakura masih berharap pada laki-laki seperti itu?
Setelah mandi pagi ini, Sakura menyalakan TV di kamarnya. Dia sudah empat hari ini tidak melihat TV. Sakura juga sudah lama tidak menonton kartun. Tapi begitu melihat berita pagi ini, ternyata berita tentang Sasuke masih juga bermunculan walau sekilas. Benar-benar pesona seorang Super Star. Kemana pun dia pergi selalu saja jadi berita heboh.
Selagi TV berkoar-koar di ruangannya, Sakura kemudian mematut dirinya di depan cermin riasnya. Sialan, dahinya ternyata meninggalkan bekas luka yang bagus sekali. Kalau begini lama-lama bisa jadi codet. Laki-laki mana yang mau dengannya karena bekas luka ini?
Eh, tunggu? Bukankah ada operasi plastik?
Ah~ kenapa Sakura bisa lupa. Operasi plastik sekarang ini sudah murah dan menjamur. Tidak sulit menemukannya. Atau sekalian saja Sakura mengoperasi seluruh wajahnya biar secantik bintang sekelas Hollywood? Boleh juga.
Begitu membuka laci meja riasnya, Sakura menemukan sebuah kotak tipis plastik. Ini seperti sebuah case DVD. Begitu membukanya, Sakura ingat ternyata ini adalah PV yang sempat diberikan oleh Sasuke beberapa waktu lalu.
Sakura berdiri dari tempatnya duduk, berjalan menuju dapurnya.
Kalau ingin memulainya dari sekarang… mulailah dari sini.
Sakura menjatuhkan kotak DVD itu ke dalam tempat sampah, lalu membungkusnya dan membuangnya ke luar dimana petugas kebersihan selalu mengambil sampah yang dikumpulkan penghuni apartemen ini.
Begitu masuk kembali ke dalam apartemennya, tiba-tiba ponsel Sakura berbunyi.
Hm, pagi begini dari… Itachi?
"Halo?" sapa Sakura.
"Bersiaplah, aku sudah di depan rumahmu."
"Eh? Kita mau kemana?" tanya Sakura yang langsung kaget dan melihat keluar jendela dimana menghadap langsung jalanan di bawah apartemennya.
Dan ternyata benar mobilnya sudah ada di bawah sana!
"Membantumu berpisah dari Sasuke."
"Hah?"
"Apa aku perlu menjemputmu ke atas?"
"T-tidak usah! Aku segera turun…"
Apa yang akan dilakukan oleh Itachi sebenarnya?
Begitu Sakura turun, Itachi sudah menunggu di depan mobilnya sembari bersandar di pintu mobil dan bersedekap dada. Dia tampak memakai setelan resmi yang kelihatannya mahal. Hei bodoh, dia kan Uchiha Itachi yang kayaraya. Tentu saja akan tampak memalukan kalau setelannya kelihatan murah.
Sedangkan Sakura hanya memakai jaket musim dingin biasa, kaos tangan panjang, jeans dan sepatu keds. Sekarang Sakura terlihat salah tingkah.
"Uhm, kau rapi sekali… mau… kemana?" tanya Sakura ragu.
"Sudah kuduga, kalau begitu haruskah kita menyiapkan dirimu?"
"Hah?"
Sakura sungguh bingung bukan main.
Ketika mereka tiba di sebuah tempat, Sakura baru menyadari jika itu adalah sebuah butik mahal yang ada di Ginza!
Butik di sini harganya bisa mencapai ratusan ribu yen! Tentu saja harga yang tidak sebanding dengan uang yang diperoleh Sakura bekerja sambilan selama berbulan-bulan!
Itachi mengajaknya masuk ke dalam. Begitu Sakura tanya kenapa butiknya bisa sesepi ini, ternyata butiknya sudah di-booking khusus oleh Itachi. Jadi tamunya pagi ini hanya ada Itachi dan Sakura seorang.
Begitu masuk ke dalam butik itu, tampak beberapa pelayan toko datang menghampiri dan mulai menarik Sakura pergi. Sakura diminta duduk di sebuah meja rias yang sengaja ada di butik ini. Seorang penata rias bersama alat make up-nya datang dan mulai menata wajah dan rambut Sakura sehingga terlihat sedemikian cantik. Mirip dengan gadis-gadis anggun sekelas bangsawan mungkin.
Setelah wajahnya dipermak habis, seorang pelayan kemudian menggiring Sakura menuju kamar pas. Di sana Sakura diminta mengenakan beberapa gaun yang dipilih langsung oleh Itachi. Di dalam kamar pas itu sendiri Sakura bingung bukan main. Apakah yang dilakukannya ini sudah benar? Apakah dengan pertolongan Itachi semua akan baik-baik saja?
Sakura melihat dirinya di depan cermin besar di kamar pas itu. Inikah dirinya yang sesungguhnya? Inikah Haruno Sakura sebelum mengenal Uchiha Sasuke? Ataukah… inikah Haruno Sakura yang seharusnya?
Setelah memakai salah satu gaun berwarna pastel yang cocok dengan kulit pucat Sakura, dirinya keluar dari kamar pas itu. Ternyata Itachi sudah menunggunya di depan kamar pas itu. Begitu Sakura keluar, Itachi tersenyum padanya dan menarik tangan Sakura menuju sebuah cermin setinggi dua meter yang sudah disediakan oleh pelayan toko itu.
Sekali lagi Sakura menatap dirinya di depan cermin itu. Tapi kini di belakangnya ada Itachi yang juga ikut berdiri bersama Sakura di dalam cermin itu.
"Apakah… ini tidak akan apa-apa?" tanya Sakura akhirnya.
"Tidak, ini pasti akan berdampak serius padamu."
Tebakan Sakura benar. Ini tidak mungkin tidak apa-apa.
"Tapi lebih baik seperti ini. Kalau kau ingin berpisah dari Sasuke, kau tidak bisa pergi begitu saja. Aku tahu kau pasti tidak ingin menyakiti Sasuke kan?"
Sakura menoleh ke belakang tepat dimana Itachi berdiri.
"Kau pikir aku tidak akan tahu perasaanmu pada Sasuke? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau… mencintainya?"
Sakura terdiam.
"Aku tahu perasaanmu pada Sasuke, makanya aku berani melakukan ini padamu. Kau pasti tidak ingin skandal ini menyakiti Sasuke kan? Kau pasti ingin melindungi Sasuke apapun taruhannya. Jika tidak, mana mungkin kau menerima tawaranku untuk membantumu berpisah dari Sasuke kan? Jika kau mendiamkan Sasuke seperti ini, semuanya akan berakhir dengan hancurnya Sasuke. Mungkin karirnya akan binasa begitu saja. Mungkin untuk Sasuke tidak apa-apa, tapi bagaimana dengan semua orang yang terlibat dengannya? Agensinya, keluarganya? Merekalah yang akan terkena dampak itu."
Orang-orang yang terlibat…
"Tapi kalau kau, tidak akan ada seorang pun yang terlibat denganmu. Jika kau berpisah dari Sasuke, semua orang akan bersimpati padanya. Karirnya juga akan selamat. Orang-orang hanya akan mengingatmu untuk beberapa saat, dan ketika kau menghilang, semua orang akan melupakanmu. Tidak akan ada seorang pun yang ingat tentang kau adalah kekasih Uchiha Sasuke. Apalagi jika kau memutuskan pergi dari sini."
Ya, Sasuke pernah mengatakan hal itu. Jika Sakura yang memulainya, semua simpati akan berdatangan untuk Sasuke. Karirnya bisa terselamatkan dan orang-orang tidak akan mengungkit soal Hinata lagi. Mereka akan hidup seperti dulu sebelum Sakura masuk ke dalam kehidupan mereka berdua.
"Tapi bagaimana denganmu? Kalau kau ikut terlibat kau akan—"
"Aku sudah memutuskannya. Aku akan mengorbankan segalanya untukmu. Lagipula aku tidak terikat dengan publik. Aku bisa pergi kemana pun dari Jepang. Dan bersamamu. Dan ketika kita memulainya, semua orang tidak akan mengganggumu dan aku lagi. Kau hanya akan merasa sakit sebentar saja. Dan jika kau pergi, kau akan melupakan segalanya yang pernah terjadi di sini. Kau hidup sendiri bukan? Kalau begitu yang berhak menentukan hidupmu adalah kau sendiri."
Itachi saja bisa mengorbankan segalanya untuk Sakura. Kenapa Sakura tidak bisa mengorbankan—apa yang perlu dikorbankan oleh Sakura? Dia tidak punya apapun yang berharga untuk dikorbankan. Sakura hanyalah gadis miskin yang tak memiliki apapun. Sakura hanyalah gadis biasa saja yang tidak berarti apapun. Jika dia menghilangpun tak akan ada yang peduli padanya. Jika Sakura pergi pun, tak akan ada yang menghentikannya. Jika Sakura tidak ada, tak akan ada yang mencarinya.
Tak ada yang mencintainya di dunia ini.
"Kau sungguh tak apa-apa mengorbankan dirimu untuk gadis sepertiku? Kau akan menyesal," ujar Sakura.
"Aku sudah sering menyesal, jadi menyesal sekali lagi juga bukan masalah."
"Terima kasih, Itachi-san…"
.
.
*KIN*
.
.
Jadi skenarionya seperti ini.
Sakura beralasan sudah berpisah dari Sasuke sekitar sebulan yang lalu karena Sasuke yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan Sakura tidak suka berpacaran dengan artis karena kemudian kehidupannya menjadi tidak tenang lagi. Memang usia hubungan mereka masih seumur jagung, tapi Sakura tidak ingin berkomitmen dengan artis. Karena Sakura tidak mau kehidupan pribadinya diusik oleh orang luar.
Setelah putus, mereka memang terlihat tetap bersama untuk menjaga nama baik Sasuke. Tapi kemudian Sakura bertemu dengan kakak Sasuke dan menjalin hubungan diam-diam. Awalnya mereka hanya sering bertemu di satu tempat lalu lama kelamaan mereka merasa cocok dan mulai menjalin hubungan bersama. Jadi ketika berita mengenai laki-laki yang memeluk Sakura malam itu terkuak ke media, Itachi memutuskan untuk memberitahu hubungan mereka ke media.
Itachi juga mengatakan jika mereka dalam waktu dekat ini akan segera menikah.
Sepanjang jumpa pers yang diadakan oleh Itachi yang digelar di sebuah ballroom hotel itu, Sakura sungguh terlihat gugup dan takut. Tapi Itachi terus memegangi tangannya selama mungkin untuk membuat Sakura merasa nyaman.
Setelah jumpa pers itu, Sakura langsung mendapatkan jawabannya mengenai apa yang terjadi pada keputusannya itu.
Ya, semua orang menilainya sebagai gadis murahan dan pengkhianat. Sakura juga sempat melihat beberapa penggemar Sasuke yang datang ke acara itu dan menyumpah serapah Sakura dengan kata-kata buruknya. Sakura sudah biasa mendengarnya. Jadi Sakura tidak akan merasa sedih untuk kedua kalinya. Acara itu diputar secara live dan di seluruh Jepang. Jadi pasti akan menjadi berita hangat karena akhirnya Sakura mengumumkan jati diri laki-laki yang memeluknya malam itu. Dan sudah dipastikan bahwa media mulai mencari tahu asal usul Sakura dan Itachi. Mereka juga mulai mencari tahu tentang keluarga Sasuke.
Dan akhirnya, Sasuke bisa lepas dari semua tuduhan yang terjadi padanya.
Media juga lambat laun tidak lagi mengusut mengenai gadis yang berada di rumah sakit itu.
Karena isu mengenai kabar pernikahan Itachi dan Sakura yang terkuak ke media itu sudah menjadi trending topic yang panas.
Memang beban yang dirasakan Sakura sudah lepas. Karena itu sekarang Sakura sudah bisa bernapas dengan lega. Walau sekarang image dirinya yang menjadi gadis tidak baik sudah menyebar luas.
Ya… gadis pengkhianat yang mempermainkan perasaan orang lain. Playgirl yang mencari orang kaya sebagai korban. Gadis mata duitan. Semua itu sudah didengar Sakura bahkan ketika dirinya menjadi kekasih Uchiha Sasuke.
"Kau tidak apa-apa?"
Sakura baru sadar jika kini dirinya sudah berada di dalam mobil berdua dengan Itachi. Mereka berdua duduk bersebelahan di bangku penumpang sedangkan seorang supir yang mengemudikan mobil ada di depan mereka.
"Hah? Aku? Tidak apa-apa? Kenapa?" tanya Sakura bingung.
"Kau terlihat sedih? Apa kau… menyesal?"
"Sedih? Menyesal? Kenapa? Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya… merasa cukup buruk sekarang ini. Tapi tenang saja, nanti akan segera kulupakan. Ini tidak akan lama…"
"Kau merasa buruk untuk Sasuke?"
"Setengahnya ya. Dan setengahnya lagi… untukmu…"
Itachi menatap Sakura dengan lembut. Gadis ini bahkan terlihat terlalu tegar. Itachi tak menyangka Sakura mampu menahan semuanya dan tetap berwajah baik-baik saja seperti itu. Jika gadis lain, mungkin mereka akan menangis berjam-jam karena diperlakukan seperti itu. Tapi Sakura tidak. Dia… terlalu kuat bahkan untuk menjadi seorang gadis.
"Untuk apa merasa buruk? Justru aku seharusnya yang merasa buruk karena aku… kau jadi diperlakukan seperti ini."
"Tidak apa-apa. Aku sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jadi ini bukan apa-apa."
"Kau sungguh—"
Suara ponsel memotong kata-kata Itachi. Mereka terpaksa berhenti bicara karena Itachi mengangkat ponselnya. Begitu melihat nama pemanggilnya, Itachi terlihat ragu untuk mengangkatnya. Tapi kemudian dia tetap mengangkatnya dan tak lama kemudian, Itachi langsung memanggil Kaa-san.
Kaa-san?
Sakura terbelalak kaget. Astaga! Apalagi yang akan terjadi kali ini?
Itachi tak lama bicara karena setiap kali Itachi akan bicara selalu terputus hingga telepon pun dimatikan. Itachi kini menatap ponsel itu dengan serba salah.
"Ada… apa?" tanya Sakura ragu.
"Ibuku… memintaku mengajakmu menemuinya."
Benar kan…
"Menemuiku?" ulang Sakura.
"Sepertinya Ibu sudah melihat berita kita. Tidak apa-apa, aku sendiri yang akan bicara padanya, kau tidak perlu menemuinya di saat seperti ini. Aku akan mengantarmu pulang—"
"Tidak, ayo kita temui Ibumu. Aku harus ikut bertanggungjawab juga."
"Menemuinya sekarang hanya akan membuatnya bertambah marah saja. Kau juga mungkin—"
"Dan dengan tidak menemuinya, aku akan dicap sebagai anak kurangajar. Ibumu pasti akan bertambah marah tidak hanya denganku tapi denganmu juga. Aku mengerti apa yang mungkin ibumu ingin katakan. Aku sudah siap. Cepat atau lambat, beliau pasti akan menemuiku juga."
"Ibuku orang yang sulit, Sakura."
"Aku tahu. Aku pernah menghadapinya dua kali. Dia memang orang yang sulit. Tapi aku mulai terbiasa. Percayalah."
Itachi tak punya pilihan. Sakura terlihat baik-baik saja dan justru mengajukan diri untuk menemui ibunya yang kemungkinan sekarang akan menjadi banteng liar. Pasti ibunya akan mengamuk karena berita ini. Apalagi nama Uchiha sudah dibawa-bawa oleh media karena Sakura. Keluarga terpandang seperti Uchiha pasti akan dicap jelek sekarang.
Karena itu Sakura ingin meluruskan semua ini meski dia tahu tidak mungkin untuk meluruskannya sekarang.
"Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan hah?!"
Sakura hanya menunduk dalam di sebelah Itachi.
Baru juga mereka tiba di kediaman Uchiha, Mikoto sudah menunggunya di ruang tamu. Mereka juga belum dipersilahkan duduk, tapi Mikoto langsung menyembur Itachi dan Sakura seperti itu. Amarah terlihat jelas di wajahnya. Salah sedikit mungkin Mikoto bisa berbuat nekat. Ya, seperti di drama-drama dimana ibu pemeran utama yang marah besar karena tahu anaknya berpacaran dengan gadis miskin bahkan akan menikahinya. Jelas saja seperti itu. Waktu dengan Sasuke saja Mikoto terlihat jelas tidak suka dengan Sakura. Nah ini, ditambah lagi dengan Itachi.
Mana mungkin kan mereka mengatakan hal yang sebenarnya pada Mikoto. Apalagi jika menyangkut nama Hinata di sana.
"Bukankah Kaa-san sudah mengatakannya bahwa Kaa-san merestui Sakura dan Sasuke? Itu artinya Kaa-san menerima kehadiran Sakura kan?" kata Itachi.
Hah?
Sakura terbelalak. Apa itu maksudnya?
Sakura segera mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Uchiha Mikoto. Wajah wanita anggun itu terlihat serba salah dan bimbang. Juga sedikit malu. Entahlah, Sakura juga tidak jelas mengenai mimik yang tengah dibuat oleh ibu Uchiha bersaudara ini.
"Bukankah kau tahu alasannya kenapa Ibu mau menerima gadis ini hah? Dan apa yang kalian lakukan di depan wartawan tadi itu?! Kau membuat nama Uchiha malu besar, Itachi!"
"Kenapa harus malu? Aku tidak menjalin hubungan dengan janda ataupun isteri orang lain. Kenapa aku tidak boleh menjalin hubungan dengan Sakura?"
"Dia itu kekasih adikmu! Kau tahu adikmu itu apa di Jepang ini hah? Ini bukan luar negeri tempat dimana kau menghabiskan masa mudamu yang tidak peduli aturan."
"Mungkin Kaa-san belum tahu, tapi Sasuke tidak pernah menyukai gadis ini. Dia hanya mempermainkan perasaannya saja untuk kepentingannya sendiri."
"Itachi-san," sela Sakura.
"Apa maksudmu?" tanya Mikoto tak mengerti.
Itachi lupa jika dirinya tidak pernah memberitahu Sakura tentang Hinata yang sudah diketahuinya itu. Jika sekarang Itachi membicarakan mengenai masalah itu, bukan hanya Sakura saja yang terseret. Justru masalah akan melebar kemana-mana.
"Pokoknya aku serius dengannya. Kaa-san sudah merestui Sakura kan? Jadi tidak masalah dia mau dengan siapa. Toh kami berdua sama-sama anak Kaa-san kan?"
"Kau mau mempermainkan orangtua hah?! Ibu tidak terima. Putuskan hubunganmu dengannya, atau kau tidak akan kuanggap anak lagi!"
Sakura semakin takut dengan ancaman Mikoto. Astaga… ini benar-benar seperti di drama!
"Nyonya, aku tidak bermaksud—"
"Sakura… diamlah. Biar aku saja," bisik Itachi.
Sakura jadi bingung sekarang. Kenapa jadi bertambah rumit seperti ini…
"Tidak ingin menganggapku anak? Silahkan saja. Tapi harap Kaa-san ingat, jika Kaa-san menendangku keluar dari keluarga ini, tidak akan ada yang meneruskan perusahaan Otou-san karena Sasuke, sudah tidak mungkin mau. Selain aku, Kaa-san tidak punya pilihan. Kalau Kaa-san terus keras kepala, aku takut Kaa-san akan menyesal karena kehilangan kedua putra Kaa-san. Lagipula aku tidak melakukan kesalahan besar. Apa yang kulakukan adalah benar. Sebelum Kaa-san memutuskan suatu hal, pikirkanlah ini. Aku bisa hidup tanpa tergantung Kaa-san dan Otou-san. Tapi kalian, tidak bisa hidup tanpa aku."
Setelah mengatakan hal itu, Itachi segera menarik tangan Sakura untuk pergi dari rumah itu. Sebisa mungkin, Sakura menyempatkan diri untuk memberikan salam pamitnya.
Itachi bergerak begitu cepat hingga tanpa sadar mereka sudah berada di luar rumah dan kembali masuk ke mobil. Kali ini Itachi sendiri yang membawa mobilnya.
"Itachi-san, jangan berkata seperti itu pada ibumu…" ujar Sakura.
"Tenang saja, Kaa-san tidak mungkin seperti itu. Dia sayang padaku," jawab Itachi enteng.
"Tapi beliau—"
"Kaa-san memang belum menerima keputusanku. Pasti dia kecewa padaku. Aku tahu itu, tapi jika tidak begini, Kaa-san tidak akan mengerti. Sejak Sasuke pergi dari rumah, aku adalah harapan mereka. Mereka sungguh bergantung padaku yang kelak akan meneruskan perusahaan dan nama Uchiha."
Bahkan Sakura belum memberikan jawaban mengenai perasaannya. Sakura jadi bimbang sekarang ini… jika Sakura tidak memberikan jawaban akan perasaan Itachi padanya, sudah jelas Sakura adalah gadis brengsek.
"Oh ya, kau sempat mengatakan bahwa ibumu merestuiku bersama Sasuke, apa maksudnya?"
"Dia merestui hubunganmu dengan Sasuke. Kaa-san menerimamu sebagai kekasih Sasuke. Karena dia berharap, kaulah yang akan membawa Sasuke kembali ke rumah dan memperbaiki hubungan Sasuke dengan Otou-san. Karena Kaa-san sepertinya tahu kau berhubungan baik dengan Otou-san."
Jadi… seperti itu…
Astaga… Sakura benar-benar gadis yang jahat… Sakura tidak tahu…
"Jangan dipikirkan. Meskipun kau sudah direstui oleh Kaa-san, kau tetap tidak akan pernah bisa membawa Sasuke pulang. Anak itu… tidak akan pernah kembali lagi apapun yang terjadi. Bahkan jika kedua orangtua kami meninggal pun, dia tidak akan pernah pulang."
Meskipun begitu…
.
.
*KIN*
.
.
Setelah keluar dari kediaman Uchiha, Itachi mengajak Sakura untuk berkeliling sebentar melepas penat seharian ini. Sakura juga tidak menolaknya, tapi sebelumnya Sakura meminta Itachi untuk memperbolehkannya berganti pakaian yang menyusahkan ini. Tentu saja Itachi mengijinkannya. Akhirnya Sakura memakai bajunya tadi dengan sedikit tambahan topi rajut yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Begitu selesai berganti pakaian, ternyata Itachi sudah menunggunya di depan mobil. Tapi kali ini Itachi sudah melepas jas dan dasinya. Itachi juga menggulung lengan kemejanya hingga ke batas siku. Melihatnya berpenampilan seperti itu, Sakura merasa Itachi juga adalah seorang pria biasa.
Bukan seorang seorang artis yang selalu dikejar wartawan dan penggemar. Mereka bisa bebas pergi kemana pun yang mereka mau tanpa takut dengan adanya paparazzi.
Sakura dan Itachi memilih makan di sebuah restoran keluarga yang tidak terlalu ramai. Setelah makan, mereka juga berkeliling di sekitar Shinjuku. Banyak orang yang mungkin memperhatikan mereka, tapi Sakura tak peduli sama sekali. Semua orang pasti akan berpikir buruk tentangnya, tapi selama Itachi tak memikirkan itu, Sakura tak peduli sama sekali.
"Itachi-san, kau tahu. Ini pertama kalinya aku pergi dengan seorang laki-laki berdua saja," buka Sakura.
"Pertama kali? Berarti kau belum pernah berkencan dengan Sasuke dengan normal?"
"Hm, tidak pernah. Waktu itu hanya untuk keperluan syuting. Ternyata menyenangkan. Karena aku tidak pernah merasakan namanya punya kekasih," kata Sakura pula.
"Jadi… kau belum pernah punya kekasih sungguhan? Maksudku… selain dengan Sasuke?"
"Iya. Karena aku tidak berani memulai hubungan dengan orang lain setelah mereka tahu jati diriku. Lagipula siapa yang mau dengan gadis miskin dan jelek sepertiku," gurau Sakura.
"Aku mau."
Sakura menoleh kepada Itachi yang masih lurus menatap jalanan di depannya.
"Karena aku adalah pria tampan yang kayaraya, seharusnya semua gadis akan menyukaiku. Termasuk gadis jelek dan miskin sepertimu."
"Benar…" lirih Sakura.
"Jadi… apa artinya aku bisa jadi kekasih pertamamu? Yang sesungguhnya?"
Sakura diam. Itachi terus berjalan ke depan bahkan ketika Sakura berhenti melangkah dan tertinggal di belakangnya.
Apakah sebenarnya selama ini Itachi…
"Itachi-san… jangan-jangan kau…"
Itachi berbalik ke belakang ketika menyadari Sakura tidak berjalan di sebelahnya lagi.
"Hei, kalau aku tinggal jangan menangis ya!"
Apakah sebenarnya Itachi sudah…
.
.
*KIN*
.
.
Sasuke tak bisa kembali ke apartemennya karena dipenuhi oleh wartawan di depan pintu utama apartemen. Hari ini, menjelang sore tadi Hinata sudah diperbolehkan pulang. Jadi diam-diam dari pintu belakang rumah sakit, Sasuke membawa Hinata pulang. Tapi kali ini mereka memilih hotel yang keamanannya terjamin penuh. Jadi sekarang Hinata sudah istirahat di hotel untuk sementara waktu ini.
Sasuke terkejut ketika melihat berita hari ini.
Karena berita itu, memang wartawan yang ada di rumah sakit berkurang dari jumlah kemarin-kemarin. Tapi Sasuke tak menyangka jika ternyata Itachi berani melakukannya.
Mana mungkin Sakura berani melakukan hal itu sendirian jika bukan Itachi yang memaksanya.
"Kau mau kemana?" tanya Hinata ketika Sasuke bersiap-siap akan pergi dengan setelannya yang sedikit mencurigakan.
Ya, Sasuke mengenakan topi, kacamata biasa, jaket tebal dan syal yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
"Ada keperluan sebentar," jawab Sasuke.
"Apa kau akan menemui Sakura?" tanya Hinata dengan wajah sedih.
Sasuke diam sejenak di depan pintu kamar hotel itu.
"Aku akan segera kembali. Aku janji…"
Hinata hanya menatap sedih kepergian Sasuke kali ini. Tapi Sasuke sudah berjanji akan kembali menjadi Sasuke yang dulu. Mungkin… Sasuke akan mengakhirinya hari ini juga.
.
.
*KIN*
.
.
"Sudah sampai."
Hari memang sudah menjelang malam. Hari ini, demi melupakan semua yang mereka lakukan, Sakura bersama Itachi berkeliling banyak tempat. Untuk pertama kalinya Sakura merasakan pergi bersama seorang laki-laki layaknya sepasang kekasih yang normal. Mereka banyak melakukan berbagai hal. Sakura bahkan lupa apa yang sudah dilakukannya pagi ini.
Itachi dengan baik membukakan pintu mobil untuk Sakura. Sikap sederhana seperti ini sungguh membuat Sakura merasa terharu. Laki-laki ini begitu baik memperlakukannya seperti seorang putri. Hal-hal kecil yang dilakukan Itachi memang sebenarnya adalah perhatian seorang laki-laki pada seorang gadis. Dan sebenarnya itu sikap yang wajar, tapi untuk Sakura, tidak begitu.
Seperti diam-diam memberikannya setangkai bunga mawar merah yang manis, menggandeng tangannya di sepanjang jalan. Duduk di bangku taman sembari melihat orang-orang berlalu lalang. Tersenyum pada Sakura. Semua itu hanyalah hal biasa.
"Terima kasih untuk hari ini, Itachi-san…" ujar Sakura ketika mereka sudah berada di dekat tangga menuju apartemen Sakura.
"Bagaimana kalau aku temani ke atas? Rumahmu pasti gelap," ujar Itachi.
"Tidak apa-apa. Aku akan membuka pintu lebar-lebar supaya cahaya luar masuk dan menyalakan lampunya. Aku tidak mungkin memintamu menemaniku seperti itu setiap hari kan?"
"Tapi aku tidak keberatan kalau harus setiap hari."
"Itachi-san…"
"Baiklah, aku mengerti. Hati-hati…"
"Sampai nanti…"
Sakura hendak berbalik setelah memberikan salam pamitnya pada Itachi.
"Hei gadis jelek."
Sakura menoleh. Itachi tersenyum padanya dengan lembut. Seperti biasanya.
"Karena semuanya sudah terjadi, mungkin sebaiknya kau cepat menjawab perasaanku. Aku akan patah hati kalau kau tidak segera menjawabnya."
"Tapi—"
"Sekarang tidak ada alasan untuk menolakku lagi kan? Kau sudah bukan kekasih Sasuke lagi. Dan soal janjiku, aku benar-benar bersungguh-sungguh. Aku tidak akan seperti Sasuke. Aku akan selalu mencintaimu seorang. Tidak apa-apa kalau kau belum mencintaiku, tapi cobalah untuk berada di sisiku dulu."
Berada di sisi Itachi?
Sekarang… Sakura bukan lagi kekasih Sasuke? Walau kenyataannya Sakura hanya memutuskannya secara sepihak?
"Sakura!"
Sakura terkejut mendengar namanya dipanggil. Sumbernya berasal dari atas tangga.
Begitu menoleh, seseorang berlarian dari atas tangga itu menghampirinya. Tentu saja Sakura langsung terbelalak.
"Ino?"
"Hei! Aku menghubungimu berkali-kali tahu! Ponselmu selalu tidak kau angkat! Aku menunggumu seharian ini sampai ibuku marah besar karena meninggalkan restoran tanpa ijin! Apa yang terjadi di TV hari ini? Kau benar-benar—eh?"
Ino langsung mengerem mulutnya ketika menyadari bahwa di depan Sakura masih ada seseorang yang berdiri. Begitu pandangan mereka bertemu, Itachi tersenyum dan menyapa Ino dengan ramah.
"Apa kabarmu, aku Uchiha Itachi. Salam kenal."
"Eh? O-oh, apa kabar. Aku Yamanaka Ino, salam kenal. Ternyata… kau masih di sini ya?" kata Ino tak enak. Tentu saja, dia merepet saja daritadi tanpa menyadari yang bersangkutan masih ada di sini.
"Apa kau teman Sakura?" tanya Itachi.
"I-iya. Aku temannya. Maaf mengganggu, kupikir kalian sudah selesai…"
"Aku baru saja mau pulang. Maaf sudah mengganggu."
"Eh, tidak kok. Bukan begitu. Ternyata… Anda jauh lebih tampan daripada di TV ya…" puji Ino.
"Ino!" sambar Sakura
"Oh, terima kasih banyak. Aku tersanjung. Baiklah, karena sudah malam aku akan segera pulang. Sampai nanti."
Itachi masih tersenyum sebelum masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian Itachi langsung pergi.
Sakura memandang Ino setengah malas. Baru kali ini Sakura melihat Ino yang salah tingkah sendiri di depan seorang laki-laki. Sakura langsung naik ke atas apartemennya. Begitu tiba ternyata memang gelap. Ino yang cerewet dari tadi dipaksa Sakura untuk menyalakan lampu sebelum dia masuk. Dan setelah menyala, Sakura mengabaikan Ino dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Sakura ingin segera tidur di kasurnya.
"Hei! Kenapa kau tidak mengatakannya kalau kakaknya si artis sial itu sangat tampan? Astaga… dia seperti malaikat tertampan yang pernah kulihat! Kenapa bukan dia saja yang jadi artis? Pasti fans-nya lebih banyak daripada si artis sial itu. Apalagi dia begitu ramah, baik dan sopan… ah~ Sakura! Kau harus jadi menikah dengannya! Aku mendukungmu!" ujar Ino bersemangat.
"Katamu kau tidak suka dengan keluarga Uchiha…" sindir Sakura.
"Ya, memang benar. Tapi kan pria itu berbeda! Dia punya kharisma dewa yang begitu mematikan. Aku saja hampir meleleh karena tatapannya~"
"Jadi… apa maumu ke sini?" tanya Sakura malas setelah melepas topi dan jaketnya.
"Tentu saja menanyakan kebenaran berita pagi ini. Kau sudah membuat satu kampus—tidak, seluruh Jepang gempar tahu! Apalagi tentang pewaris dari Uchiha itu sangat tampan. Ah~ kenapa aku terlambat menyadarinya ya? Ini karena si Sasuke-sial itu tidak pernah mengekspose keluarganya!"
"Hh, semuanya benar. Kau puas?"
"Jadi kau sungguh sedang berkencan dengannya?"
"Hm…" jawab Sakura setengah sadar. Sekarang dia sangat mengantuk.
"BENAR?! Kyaa! Syukurlah! Akhirnya kau mendapatkan kekasih sungguhan yang 100 kali, tidak 1000 kali lipat lebih baik daripada artis sialan itu. Hei, hei, bagaimana kalian bertemu? Ceritakan padaku semua! Bagaimana dia mengungkapkan perasaannya padamu? Ayolah, aku ingin tahu!" rengek Ino seraya menarik-narik selimut Sakura yang tengah dikenakannya sekarang.
Sekarang Sakura ingin tidur karena jujur dia sudah sangat lelah. Tapi Ino tak berhenti merongrongnya seperti anak kucing yang minta makan.
"Argh! Aku lelah sekali! Besok saja aku—"
Sakura menghentikan kata-katanya ketika ponselnya berbunyi. Tanda sebuah pesan baru masuk. Sakura membukanya. Wajahnya terlihat bimbang.
"Hei, dari siapa? Itachi-san?"
Aku di depan rumahmu. Keluarlah.
"Bukan…"
"Heh? Lalu dari siapa?" tanya Ino penasaran.
Sakura memutuskan untuk tidak menjawabnya. Sakura saat ini tidak—belum bisa menghadapinya. Kalau sekarang… kalau sekarang Sakura menemuinya… mungkin…
Tak berapa lama kemudian, sebuah pesan masuk lagi.
Aku di depan pintu rumahmu. Bukalah.
Sakura berusaha menahan air matanya. Berusaha untuk tetap tenang.
"Hei, sebenarnya itu dari siapa? Kenapa kau hanya membacanya?"
Bagaimana Sakura bisa membalasnya? Sakura tidak tahu harus membalasnya apa. Kalaupun Sakura membalasnya, Sakura tak yakin kata-kata apa yang sebaiknya dia ucapkan. Sakura takut perasaan yang sudah dibangunnya sedemikian rupa ini akan runtuh lagi. Setiap kali menatap wajah itu, Sakura tak bisa berpikir jernih. Setiap kali melihatnya, sisi terjahat Sakura selalu muncul begitu saja.
Ya, keinginannya untuk memiliki laki-laki itu, keinginannya untuk bersama laki-laki itu, keinginannya yang paling egois. Sakura takut tak bisa membendungnya.
Tak berapa lama, pintu apartemen Sakura pun digedor dengan cukup kuat hingga Ino melompat kaget mendengarnya. Pintu itu digedor berkali-kali bahkan dengan suara yang cukup besar.
Melihat Sakura yang masih duduk di atas tempat tidurnya, Ino berkesimpulan bahwa Sakura tidak ingin membuka pintu itu.
"Siapa yang malam begini mau menemuimu…" gumam Ino seraya berdiri hendak menghampiri pintu apartemen Sakura.
"JANGAN DIBUKA INO!" pekik Sakura.
Lagi-lagi Ino terlonjak kaget.
"Astaga… tidak perlu berteriak. Aku jadi kaget… tamumu itu terus menggedornya. Memangnya siapa sih? Tukang kredit atau penagih hutang?" gerutu Ino.
"Jangan pernah membukanya. Biarkan saja…" lirih Sakura.
Ino jadi bingung setengah mati sekarang. Jadi bagaimana?
Di saat bingung itulah, Ino kembali terlonjak kaget ketika pintu Sakura justru dibanting dengan kuat. Dibanting untuk dibuka.
Begitu menoleh ke arah pintu masuk itu, Ino terkejut bukan main melihat tamu yang memaksa masuk itu.
"Kau tidak berhak mengabaikanku seperti itu."
Entah mengapa sekarang Ino justru berubah merinding dan takut. Sakura bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempat tidurnya.
Begitu Ino kembali menoleh ke arah pintu masuk itu, sang tamu menatapnya dengan wajah dingin. Kesan amarah yang terpendam begitu kental di sana.
"Kau bisa pergi dulu? Ada yang ingin kubicarakan dengan Sakura," ucapnya dengan nada datar.
"Jangan pergi Ino! Aku sedang tidak ingin menemui siapapun sekarang," sambar Sakura.
"Pembicaraan ini sungguh penting. Kau mengerti kan?" lanjut si tamu itu.
"Ino kalau kau sahabatku, kau pasti akan mendengarkanku kan?" sambung Sakura pula.
"Aku sungguh minta tolong padamu, tinggalkan kami berdua sekarang."
"Ino!"
"Sudah diam! Kalian berdua ini, kenapa jadi aku yang pusing!" bentak Ino.
Setelah mengambil napas dengan pelan, Ino menghampiri Sakura dan meremas lembut tangan Sakura. Ino baru sadar kalau ternyata Sakura sudah berkeringat dingin dan gemetar. Sakura terlihat gugup sekali.
"Sakura… kau tahu jika yang kau lakukan ini salah kan? Bicaralah dulu dengannya. Kau harus menyelesaikannya baik-baik. Aku pulang dulu. Kau pasti akan baik-baik saja. Besok pagi-pagi aku akan menjengukmu lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Ino segera berdiri dari tempatnya dan meninggalkan dua orang itu. Ino juga menutup pintu apartemen Sakura dengan perlahan. Sekarang, Ino malah bersimpati dengan artis itu, meski sebenarnya Ino sudah tahu kenyataan yang sebenarnya.
Ya, siapa suruh membuat Sakura menderita begitu?!
Setelah Sakura mampu mengendalikan dirinya, akhirnya Sakura turun dari kasurnya, menghampiri si tamu pemaksa itu tapi tentunya dengan jarak yang cukup agar tidak terlalu dekat. Sakura juga mencoba memasang wajah datar dan dingin sepertinya. Sakura tidak mau lagi perasaannya goyah untuk ke sekian kalinya.
"Ada apa menemuiku? Bukannya sekarang kau harus berada di rumah sakit?"
"Aku sudah menunggumu dari siang tadi di depan rumahmu. Apakah menyenangkan pergi bersama Itachi? Kau senang?" sindirnya.
"Ya, aku senang. Memang ada yang salah?"
"Berapa kali harus kukatakan kau itu KEKASIHKU! Apa yang kau lakukan hari ini sungguh membuatku ingin membunuh Itachi!"
"Kenapa kau ingin membunuhnya? Apa kau tidak tahu yang kulakukan hari ini untuk siapa?"
"Aku sudah mengatakannya berulang kali kalau aku yang akan membereskannya! Kenapa kau begitu keras kepala hah?! Kau pikir aku tidak mampu membereskan masalah ini sampai kau yang harus merendahkan dirimu di depan banyak orang?! Apa kau tidak berpikir apa yang kau lakukan hari ini sudah menunjukkan kepada semua orang betapa murahnya dirimu?!"
"Kenapa? Kau kecewa karena ternyata kekasihmu adalah gadis rendahan dan murahan? Bukankah awalnya aku menyetujui menjadi kekasih bohonganmu karena uang? Kau lupa itu?"
"Hei!"
"Akui saja kenyataannya Sasuke. Aku bersamamu karena uang, jadi aku akan meninggalkanmu karena uang juga. Itachi sudah berjanji akan membahagiakanku. Dia bahkan berjanji akan membawaku pergi dari Jepang. Dia mengatakan akan memperlakukanku seperti seorang putri jika aku meninggalkanmu. Karena kupikir itu bagus, jadi apa salahnya."
"Kau sungguh berpikir semua ini karena uang? Apa kau jujur mengatakan padaku kau memilih Itachi karena uang?"
"Ya. Untuk gadis miskin sepertiku, memangnya apalagi yang kuinginkan selain uang? Aku sudah bosan menunggumu membayarku. Lagipula, aku sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari menjadi kekasih bohonganmu. Dengan menjadi kekasih sungguhan Itachi, hidupku pasti akan berubah 180 derajat!"
"Apa kau pikir keluargaku akan merestuimu?! Mereka tidak akan pernah sudi menerima menantu rendah sepertimu!"
"Aku tahu, tapi Itachi sudah mengatasinya. Dia berjanji tidak akan meninggalkanku. Karena itu, ayo kita hentikan di sini saja. Kupikir ini sudah cukup kan?"
Sasuke mendekat kepada Sakura dengan langkah lebar. Ekspresi marah di wajahnya tak bisa membohonginya. Dia mencengkeram erat bahu Sakura hingga mendorongnya ke dinding. Sekarang Sakura justru tersudut ke dinding rumahnya dengan Sasuke yang menahannya. Mereka begitu dekat. Tapi tatapan marah itu benar-benar menakutkan.
"Apa kau melakukan hal ini untuk menghentikan hubungan kita? Apakah kau melakukan semua ini karena aku?"
"Kau sendiri yang mengatakannya, jika aku melakukannya, kau akan mendapatkan simpati semua orang. Kau sudah mendapatkannya, dan karirmu tidak akan hancur. Apalagi yang kau inginkan dariku?"
"Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan hal seperti ini!"
"Lalu bagaimana dengan Hinata? Bisa kau katakan alasan kenapa Hinata masuk rumah sakit begitu mendadak? Apa yang terjadi padanya, bisa kau beritahu aku?"
Sasuke mengendurkan tangannya yang tadi mencengkeram erat bahu Sakura.
"Kau tidak bisa memberitahuku? Jadi sekarang, kenapa aku harus mempertahankan hubungan palsu ini lebih lama? Kenapa aku harus berjuang untuk seseorang yang tak pernah berjuang demi aku? Itachi berbeda denganmu. Dia mau berjuang demi aku. Dia mau menerimaku apa adanya meski aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depan seluruh Jepang. Bahkan di depan ibu dan ayahmu. Dia tulus kepadaku dan mau menungguku bahkan di saat aku masih menjadi kekasihmu! Jadi sekarang, berikan aku alasan, kenapa aku harus mempertahankan hubungan semuku denganmu dan menolak Itachi yang jelas-jelas memberikan kepastian kepadaku?"
Sasuke kemudian melepaskan tangannya dari bahu Sakura. Sasuke tak punya jawaban untuk itu karena Sasuke juga tak tahu alasannya.
Alasan kenapa Sasuke ingin Sakura terus berada di sisinya meski bukan sebagai seorang kekasih. Sasuke sendiri tidak tahu alasan kenapa Sasuke menginginkan Sakura tetap ada di sisinya meski Sasuke tahu, Sakura hanya akan menderita jika dia lebih lama bersama Sasuke.
"Jadi itu… alasanmu kenapa kau ingin bersama Itachi? Karena dia mau berjuang untukmu?"
Sakura diam.
Sungguh, Sakura sekarang merasa sangat jahat pada Sasuke. Hatinya mulai goyah. Dia merasa amat bersalah pada Sasuke jika Sakura terus memperlakukan Sasuke seperti ini. Bukan tanpa alasan Sasuke memperlakukan Sakura seperti ini. Tapi Sakura juga tidak bisa membiarkan semua kebohongan ini berlanjut lebih lama dan menyakiti lebih banyak orang.
"Kalau begitu, berikan aku pilihan," ujar Sasuke.
"Kau tidak punya pilihan Sasuke. Sejak awal, kau tidak punya pilihan."
"Apa itu karena Hinata?"
"Kau ingin membuatnya menderita berapa lama lagi, Sasuke? Jika aku yang pergi, Hinata akan baik-baik saja. Tapi kalau kau yang pergi, bagaimana dengan Hinata? Kita bahkan tidak pernah memiliki hubungan khusus. Kau dan aku… kita berdua tidak memiliki perasaan apapun…"
Sakura bohong. Tapi Sakura tak bisa menunjukkannya sekarang.
"Baiklah… kalau itu maumu. Aku akan melakukannya. Sakura… aku menyukaimu."
Tidak mungkin… apa?
"Kau bercanda di saat seperti ini? Apa menurutmu aku akan terkecoh? Baiklah sesuai perjanjian kita—"
"Haruno Sakura… aku… menyukaimu."
Obsidian hitam itu menatap lekat ke dalam mata Sakura. Pandangan Sasuke tak lepas dari Sakura. Sasuke menatapnya bersungguh-sungguh sekarang ini. Sakura bahkan merasa kakinya bergetar hebat hingga dirinya takut kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya.
Terakhir kali, Sakura yang melakukannya. Dia berusaha menghindari Sasuke dengan mengatakan kata tabu itu. Tapi Sasuke tidak percaya dan menganggapnya bercanda. Padahal Sakura sudah bersungguh-sungguh saat itu. Tapi ketika Sasuke memaksanya menatap matanya, Sakura justru merasa takut…
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku sungguh menyukaimu…" lanjut Sasuke.
"Kau mengatakan ini untuk mengakhiri semuanya? Apa menurutmu aku akan percaya?"
"Kalau begitu, lihatlah ini. Terserah padamu mau percaya atau tidak."
Sasuke meraih kedua sisi wajah Sakura dengan kedua tangannya. Membawanya mendekat dalam sekali tarik hingga Sakura tak sadar jika ternyata mereka sudah menyatu sedemikian erat.
Sakura merasa dirinya sekarang sungguh mati rasa. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun karena gerakan tiba-tiba ini. Sakura bahkan sulit bernapas, tidak napasnya berhenti mendadak. Bibirnya terkunci begitu saja.
Kakinya bahkan mendadak kehilangan kekuatannya untuk menjaga Sakura tetap berdiri. Menyadari hal itu, Sasuke menyelipkan satu tangannya ke belakang punggung Sakura untuk menahan Sakura tetap berdiri. Sakura bisa merasakan wangi Sasuke dengan jelas. Mereka begitu dekat bahkan tanpa jarak sama sekali. Apalagi ketika Sasuke memeluknya sedemikian erat sampai dada Sakura terasa sesak dibuatnya.
Sakura harus menghentikannya…
Tapi, bagaimana?
Sakura tak tahu caranya. Sisi terjahatnya kembali muncul bahkan membiarkan dirinya jatuh ke dalam jurang ini lebih jauh lagi.
Sakura tak bisa membohongi dirinya sekarang ini.
Bahwa dia pun menginginkan ciuman ini tak pernah berakhir.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna…
Heheh, dari sekian fic saya saat ini, maksud saya seluruh fic saya ya, jujur saya lagi memprioritaskan fic ini dulu karena sesuai dengan janji saya chap lalu kalo fic ini gak akan lama lagi tamat. Kira-kira tiga atau empat chap lagi, bisa kurang tapi gak mungkin lebih hehehe. Jadi harap sabar menunggu chap terakhirnya yaa… oh ya, mohon maaf kalo chap kali ini panjang dan bikin pegal. Saya udah mikirin apa sebaiknya dipotong saja, tapi saya gak menemukan celah yang pas untuk dipotong. Jadi maafkan saya yaa…
Ok, ini balas review dulu…
lisVadelova : makasih udah review senpai… ahaha makasih banyak udah seneng sama fic saya yaa terharu banget… ah ya, saya pun sebenarnya pengennya adanya suatu slight pair itu gak harus membuat pair itu jadi dibenci daripada pair utama. Kan tujuannya untuk mendukung aja ehehe…
guest : makasih udah review senpai… terima kasih udah bacanya juga heheh iya ini udah lanjut lagi.
Haruno Yuuki : makasih udah review senpai… ahaha kita lihat nanti yaa kalo akhirnya Saku sama siapa…bentar lagi tamat kok hehehe
Guest : makasih udah review senpai… sebentar lagi ending, nah nanti kan udah ketahuan Saku sama siapa hehehe oh masalah Hina… gimana kalo jadi rahasia dulu? Hehehe
Bluestar2604 : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe makasih yaa…
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… maaf gak kilat yaa tapi ini udah update lagi hehehe
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… oh ya, dimana typonya? Maaf ya kalo saya kurang teliti…
Kuro Shiina : makasih udah review senpai… chap kemarin pendek? Apa chap ini kepanjangan? Saya kebablasan ngetiknya hehehe
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya boleh kok dipanggail apa saja saya suka, asal gak aneh aja yaa hehehe
Sakura uchiha stivani : makasih udah review senpai… salam kenal yaa heheh ini udah lanjut…
Uchihafenny : makasih udah review senpai… oke, saya panggil fenny deh kalo gitu hehehe ini udah update lagi heeh
Uchihayuki cherry : makasih udah review senpai… ahahah niatnya memang pengen mirip kayak drama korea kok heheh saya kan suka drama korea hihihi
Chizuru Mey : makasih udah review senpai… iya saya pun sebenarnya kurang suka ngebuat pemeran pendukung wanita jadi terlalu antagonis. Karena saya berpikir gak mungkin ada cewek yang begitu kejamnya kayak di sinet. Dia punya perasaan jadi paling gak saya pengen kalaupun dia bersikap egois, itu semata-mata karena situasinya hehehe makasih semangatnya yaa…
Henilusiana39 : makasih udah review senpai… maaf gak kilat yaa tapi ini udah update hehehe
Aitara fuyuharu1 : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa hehehe iya, kan Kisame partnernya Itachi, jadi Itachi nitip ke dia deh hehehe ntar saya temenin kalo takut… iya proses SasuSaku lumayan yaa heheh
Anka-Chan : makasih udah review senpai… ahahah Sasu menganut kepercayaan tsundere kayaknya karena dia kurang peka hehehe
Lynn : makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut hehehe suka nama review kamu yaa…
Animea-Khunee-Chan : makasih udah review senpai… aduh jangan dipanggil Senpai ah, sedikit merinding untuk saya hehehe ahaha saya memang kalo update suka lebih dari tiga fic hehehe
Palvection : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Namuchi : makasih udah review senpai… ahahah Sasu kan gak pernah tahu Saku punya phonia dan Saku juga gak pernah bilang makanya jadi begitu deh heheheh
Re UchiHaru Chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut, makasih yaa
An username : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe, saya memang lebih suka hubungan yang pelan tapi pasti daripada instan yang terlalu dibuat-buat sih hehehe
Makasih banyak buat yang udah ngeluangin waktu untuk fic saya…
Jaa nee!
