Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Sasuke melepaskan pelukan eratnya dan kembali menatap ke arah Sakura yang kini berada tepat berada di depannya. Mata mereka bertemu, tapi hijau zamrud itu tampak berkaca-kaca dan membelalak kaget. Bukan hanya berkaca-kaca, tapi juga begitu pedih. Tampaknya dia sudah berusaha mati-matian menahan perasaannya. Sama seperti apa yang tengah dialami oleh Sasuke saat ini.
Ya, Sasuke akan menerima segala perlakuan yang akan diberikan oleh Sakura padanya setelah dirinya berani melakukan perbuatan tidak bertanggungjawab ini pada seorang gadis yang sudah cukup banyak menderita demi dirinya.
Tapi tiba-tiba, seluruh lampu yang menyala di rumah Sakura padam seketika.
Sakura tampak terkejut dan dengan reflek memeluk erat leher Sasuke. Seluruh penglihatannya berubah gelap begitu saja. Sekarang karena hal tak terduga ini, pikiran Sakura jadi kacau balau dan tak terkendali lagi.
Sama seperti di rumah sakit waktu itu.
Napas Sakura tercekat, rasanya sulit sekali oksigen masuk ke dalam pernapasannya, belum lagi sesak yang menyerangnya seperti ini.
"Tenanglah… aku di sini…" bisik Sasuke akhirnya yang mulai merespon pelukan spontan dari Sakura.
Sasuke menepuk perlahan punggung Sakura mencoba menenangkan gadis dalam pelukannya ini. Mereka berdua begitu dekat, ya tak ada sedikit pun jarak yang memisahkan mereka berdua. Semuanya memang terlihat baik-baik saja. Tapi Sakura sadar tak ada yang baik dengan semua ini.
Terlena dengan segala fatamorgana yang terjadi sekilas tadi membuat Sakura bahkan merasa jauh lebih rendah dari sebelumnya.
Akhirnya, setelah menenangkan diri, Sakura menghitung mundur angka sepuluh sampai satu. Perlahan Sakura mencoba memaksakan dirinya untuk tetap kembali tenang meski suasana gelap di rumahnya ini tak bisa membohonginya sama sekali. Ketika hitungan Sakura sudah mencapai angka satu, Sakura menarik napas panjang lalu melepaskan pelukannya tadi. Berusaha membuat dirinya baik-baik saja walau Sakura tahu tak ada yang baik dari dirinya saat ini. Ya, saat ini.
"Maafkan aku, tapi aku sudah lebih baik. Pulanglah kalau kau sudah selesai mengatakan semuanya," ujar Sakura. Kali ini kakinya bergerak untuk melangkah pergi menjauh dari Sasuke, tapi karena gelap, akhirnya dirinya malah tersandung sesuatu. Sepertinya ada yang ditendangnya hingga membuat Sakura nyaris terjungkal ke depan.
Dengan sigap, Sasuke menahan Sakura dan memeluknya dari belakang.
"Rumahmu segelap ini, kau yakin tidak apa-apa? Kau phobia gelap kan?" bisik Sasuke lagi.
Sungguh, jika mereka tidak memiliki beban masalah seperti ini, Sakura tak akan berpikir dua kali untuk meminta Sasuke berada di sisinya. Bahkan jika lampu ini sudah menyala pun, Sakura tidak akan membiarkan laki-laki ini pergi dari sisinya. Meski hanya sejengkal. Tapi apa yang bisa diperbuat Sakura?
Tidak ada.
Sakura melepaskan tangan Sasuke yang masih melingkar di pinggangnya. Tidak berbalik menatap Sasuke tapi menjauh sedikit darinya.
"Bohlamnya mungkin sudah lama, jadi pasti putus. Aku akan keluar membelinya, kau pulang saja."
"Ini sudah terlalu larut untukmu pergi berkeliaran seorang diri di luar. Aku akan di sini sampai besok pagi."
"Kau tidak perlu memaksakan diri—"
"Aku tidak memaksakan diri. Kau yang memaksakan diri."
"Sasuke!" akhirnya Sakura tak tahan untuk tidak membentak laki-laki ini.
Apakah Sasuke tidak tahu seberat apa Sakura berusaha menahan semuanya demi orang ini? Apakah Sasuke sungguh tidak peduli perasaan Sakura saat ini?
"Aku selalu mengatakan untuk tidak memperumit masalah kita. Tapi kau selalu memperumit semuanya sehingga kau tidak pernah membiarkanku menyelesaikannya sendiri. Jadi siapa menurutmu yang memaksakan diri di sini? Kau, atau aku?"
"Tidak ada jalan keluar untuk kita saat ini. Bukankah lebih bagus seperti ini? Jika aku yang memaksakan diri, kenapa tidak kau saja yang mempermudah segalanya? Kau hanya cukup menyetujui semua pilihanku dan meninggalkanku. Apakah itu sulit?" kata Sakura akhirnya.
"Ya, itu sulit untukku. Apa kau masih tidak percaya dengan kata-kataku?"
"Tidak. Aku tak pernah percaya kata-katamu hingga hari ini. Jadi hentikanlah."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Tidak."
Tidak ada alasan menurut Sasuke jika Sakura tak pernah percaya padanya. Ya, tidak ada alasan untuk Sakura percaya padanya. Semenjak awal, seharusnya Sasuke tidak memberikan kepercayaan kepada siapapun selain pada Hinata. Jadi, alasan kenapa kali ini Sasuke ingin Sakura percaya padanya adalah…
"Kau mungkin tidak pernah percaya padaku. Tapi aku tidak pernah berbohong padamu sampai hari ini," ujar Sasuke.
Sudah.
Setitik air mata bergulir ke pipi Sakura. Sekian lama dirinya menahan perasaan ini adalah agar perasaannya tidak ketahuan seperti ini. Tapi apa yang bisa Sakura perbuat?
Sungguh… jika keadaan mereka tidak serumit ini, Sakura akan selalu mempercayai Sasuke sekali pun Sasuke selalu berbohong padanya. Tidak, bahkan jika Sasuke jelas-jelas membohonginya pun… Sakura akan memilih tetap percaya padanya.
Sasuke tak bisa melihat ekspresi gadis yang terus berdiri di depannya ini tanpa menunjukkan wajahnya pada Sasuke. Meskipun segelap ini, Sasuke masih berharap dia bisa melihat wajah Sakura melihat ke arahnya. Dengan cepat, Sasuke meraih tangan Sakura dan menggenggamnya dengan erat.
"Tanganmu dingin dan gemetar seperti ini kau masih mengatakan kau baik-baik saja? Kau tidak pernah pintar berbohong."
Sasuke menyalakan ponselnya untuk membuat penerangan dari cahaya ponselnya. Ketika keadaan ruangan itu sedikit bercahaya, Sasuke membimbing Sakura menuju tempat tidurnya. Karena tempat tidur Sakura adalah ranjang berkaki rendah, jadi Sasuke duduk di lantai sementara Sakura berbaring di kasurnya.
"Tidurlah, aku akan di sini sampai rumahmu cukup terang dari kegelapan ini," ujar Sasuke.
Bohong jika Sakura tak menginginkan ini. Bohong jika Sakura tidak ingin Sasuke ada di sini.
Bahkan di dalam kegelapan pun, Sasuke masih bisa melihat kebohongan di dalam diri Sakura.
Setelah semuanya.
.
.
*KIN*
.
.
Ino pagi-pagi sudah meninggalkan rumahnya karena dia telah berjanji untuk menjenguk Sakura. Kemarin anak itu tidak terlihat baik, apalagi si artis itu muncul di saat yang tidak tepat begitu. Sepertinya hari ini Sakura akan mengalami flu atau semacamnya. Ino sudah mempersiapkan beberapa obat memang. Selain ingin tahu keadaan Sakura setelah semua kegilaan yang dilakukannya kemarin, Ino juga ingin tahu apa yang dibicarakan oleh mereka berdua semalam.
Jujur saja, Ino ingin Sakura membuat keputusan yang baik, Ino juga ingin Sakura bahagia dengan segala cara yang tidak menyakitinya. Tapi melihat gadis itu ternyata tetap mencintai si Super Star itu meski sudah disakiti seperti ini, rasanya Ino jadi semakin kasihan padanya. Padahal kan, masih ada Uchiha Itachi yang super tampan dan mapan itu. Kadang Ino tak mengerti jalan pikiran seorang gadis yang jatuh cinta. Meski sudah disakiti seperti itu, mereka tetap mencintai orang yang sudah menyakiti mereka seperti itu.
Apakah semua gadis yang jatuh cinta itu mengalami semacam penyakit mati rasa dan mati akal? Sepertinya iya mengingat jumlah gadis-gadis yang bunuh diri di Jepang semakin hari semakin meningkat. Bahkan mereka bunuh diri karena alasan yang beragam. Dan sebagian besar disumbangkan karena penyakit cinta. Mulai dari ditolak, diselingkuhi, diduakan, diputuskan hingga diteror mantan kekasih. Semuanya memang bikin sakit kepala saja.
Ino sudah tiba di depan apartemen Sakura. Ino memang sudah mengetuk pintunya, tapi sepertinya si gadis pemalas itu masih tidur pagi ini.
"Dasar… hei Sakura! Aku masuk ya!"
Begitu membuka pintu, Ino terkejut karena pintunya sama sekali tidak dikunci. Astaga… gadis ini tidur atau apa? Memangnya dia tidak takut kalau-kalau ada maniak nyasar jika rumahnya tidak dikunci begini? Dasar gadis ceroboh!
"Hei, kalau pintumu tidak dikunci—"
Astaga!
Niatnya Ino tadi ingin memarahi sahabatnya itu.
Tapi kemudian, mendadak kakinya langsung membawanya keluar dan menutup pintu serapatnya tanpa suara.
Ino bahkan masih begitu terkejut dan gugup.
Apa-apaan pemandangan yang dilihatnya itu?!
.
.
*KIN*
.
.
Hinata menunggu dengan cemas di depan pintu kamar hotel.
Semalaman Hinata tidak tidur karena memikirkan keadaan kekasihnya kini. Sasuke mengatakan hanya sebentar saja. Tapi kenapa setelah semalaman dia tidak pulang juga? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa Sasuke tidak memberikan kabar pada Hinata yang sudah berubah begini cemas?
Hinata juga berusaha menghubungi Sasuke, tapi laki-laki itu tak mengangkat ponselnya sama sekali. Dan kini, pagi menjelang seperti ini, Sasuke tak kunjung pulang. Mungkinkah terjadi sesuatu padanya? Kalau iya, apa yang terjadi pada kekasihnya itu?
Di saat kegelisahan yang terus menerus bertambah karena bingung memikirkan keadaan kekasihnya itu, pagi ini Hinata terkejut karena suara pintu kamar hotelnya yang diketuk dengan sangat perlahan. Mungkin jika Hinata tak mendengarnya dengan serius, Hinata tak akan tahu jika ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Mengintip dari lubang pintu yang ada, Hinata semakin terkejut karena ternyata itu adalah kekasihnya. Langsung saja Hinata membukanya dengan cepat dan menghampiri Sasuke yang sudah berdiri di depan pintu kamar hotel mereka. Saat itu Sasuke menundukkan kepalanya.
"Sasu? Apa yang terjadi? Kau darimana?" tanya Hinata dengan penuh kecemasan seraya memegangi kedua tangan Sasuke. Entahlah, Hinata merasa sungguh ada yang aneh dengan laki-laki berparas tampan ini.
"Aku—"
Hinata sempat menjerit kecil karena kekagetan bertambah dua kali lipat sekarang.
Sasuke roboh di pelukannya.
Hinata memanggil-manggil nama kekasihnya ini, tapi Sasuke tak kunjung menjawab. Dengan susah payah, akhirnya berhasil membawa Sasuke masuk dan membaringkannya di kasur hotel. Begitu melihat lebih teliti, ternyata wajah Sasuke cukup pucat dan badannya panas. Hinata panik melihat keadaan kekasihnya ini yang tiba-tiba berubah menjadi begini aneh. Kemana sebenarnya laki-laki ini pergi hingga membuatnya sakit seperti ini?
Setelah menenangkan diri, Hinata segera mengambil beberapa benda yang bisa digunakan untuk merawat Sasuke sekarang. Hinata juga mengompres dahi Sasuke untuk menurunkan panas badannya. Hinata juga memberikan obat penurun panas padanya. Beberapa jam Hinata menunggu di sisi kekasihnya itu memastikan keadaan Sasuke.
Dan di saat menunggu itulah Hinata mendengar apa yang seharusnya tidak didengarnya.
Di dalam tidurnya karena demam itu, Sasuke sempat mengigaukan nama seorang gadis yang dipintanya untuk tidak pergi darinya. Ya, itu pastilah nama seorang gadis. Tapi sayangnya, nama itu bukan milik Hinata.
Melainkan nama seorang gadis yang sama sekali tidak pernah ingin didengar lagi oleh Hinata.
Jika pada akhirnya Sasuke memang ingin bersama gadis itu, kenapa Sasuke tidak meninggalkan Hinata? Tidak melepaskannya? Kenapa Sasuke bersikeras masih menginginkan Hinata jika dia tak ingin gadis dalam mimpinya itu pergi?
Jika Sasuke berjanji akan mengembalikan lagi Sasuke yang dulu pada Hinata, kenapa Sasuke masih memikirkan gadis itu ketika Sasuke yang dulu tak pernah memikirkan gadis selain Hinata?
Tidak…
Hinata tidak akan menyerah hanya karena Sasuke menyebut nama gadis lain di dalam tidurnya. Hinata tidak akan membiarkan Sasuke meninggalkannya semudah itu. Tidak akan pernah Hinata melepaskan Sasuke dalam hidupnya.
Hinata akan egois. Ya, inilah saatnya Hinata menunjukkan sisi egoisnya.
Karena Sasuke… hanya miliknya. Sasuke harus kembali hanya padanya.
Sekali pun pada akhirnya Sasuke memilih gadis lain…
.
.
*KIN*
.
.
Di dalam kegelapan itu, Sasuke terus menggenggam tangan Sakura selagi Sakura berbaring di atas kasurnya. Mereka diam dalam keheningan malam itu tanpa berkata apa-apa lagi. Sakura seharusnya mengatakan sesuatu pada Sasuke malam itu. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkannya. Jika memang waktu perpisahan mereka semakin dekat, Sakura ingin menghabiskan sedikit waktunya berdua dengan laki-laki tampan ini. Meskipun mereka tak pernah menghabiskan waktu berdua selama menjalin hubungan palsu ini.
Seperti putri duyung yang masih bisa melihat kebahagiaan sang pangeran di dekatnya. Dimana putri duyung menghabiskan malam berdua dengan pangeran sebelum pernikahan sang pangeran tiba. Pangeran itu menghabiskan waktu dengan putri duyung seraya bercengkerama dengannya di malam purnama yang begitu indah. Pangeran terus memuji betapa cantik dan indahnya suara sang putri yang akan dinikahinya itu. Betapa baiknya sang putri yang telah menyelamatkannya di hari kapal sang pangeran karam di laut. Melihat wajah bahagia sang pangeran, putri duyung bahkan tak mampu memendung perasaannya sendiri.
Bahkan putri duyung tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada sang pangeran karena suaranya terkunci rapat akibat dari perjanjian sang penyihir yang telah memberikannya sepasang kaki untuk ditukar dengan suaranya.
Sakura bahkan tak menyangka jika ternyata cerita putri duyung akan terjadi padanya.
Sakura memang pernah berharap jika dongeng para putri itu bisa terjadi padanya. Seperti halnya Cinderella atau putri tidur. Mereka berakhir bahagia dengan pangerannya masing-masing. Tapi kenapa putri duyung tidak?
Bukankah itu terlalu sedih? Untuk cerita sebuah dongeng yang seharusnya berakhir bahagia?
"Sakura? Kau sudah bangun?"
Sakura tersadar dari alam pikirannya. Ternyata sedari tadi dirinya tengah bermimpi.
Sakura mengerjapkan matanya dengan setengah malas. Berat sekali matanya. Tapi kenapa ketika membuka mata ini rasanya ada banyak sekali air yang mengalir dari celah matanya? Apa dia baru saja menangis? Menangis di dalam mimpi? Lucu!
"Ini sudah siang! Cepatlah bangun!"
Lumayan malas, akhirnya Sakura bangun dari tidurnya dan duduk sebentar di atas kasurnya untuk mengembalikan setengah nyawanya yang berterbangan kemana-mana itu. Bangun pagi memang menyebalkan. Astaga… Sakura baru sadar ternyata cahaya sudah masuk ke dalam rumahnya. Benar-benar sudah siang…
"Oh, selamat pagi Ino…" sadar Sakura ketika melihat sahabat dekatnya itu sudah duduk di hadapannya dengan wajah penasaran bukan main.
"Hei! Apa yang sebenarnya terjadi semalam hah? Apa kau…? Kau dan dia… kalian…" kata Ino dengan suara terbata-bata.
"Apa yang kau katakan? Katakan dengan jelas. Aku belum begitu sadar…" keluh Sakura.
"KAU DAN SI ARTIS SIAL ITU! APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN SEMALAM HAH?!" pekik Ino akhirnay sambil mengguncang-guncang tubuh Sakura.
Sialan kau Ino! Sekarang Sakura malah merasa pusing bukan main…
"Apa maksudmu hah?!" rengek Sakura seraya melepaskan pegangan Ino pada kedua lengannya ketika gadis pirang ini mengguncang tubuhnya tadi.
"Tadi sebelum aku masuk, aku melihat kalian berdua tidur bersama di satu ranjang! Dia bahkan memegangi tanganmu! Kalian terlihat seperti… oh astaga! Katakan kalau yang kulihat tadi tidak benar! Kau kan sudah berkencan dengan Itachi-san? Masa mau kau khianati begitu saja?!" cerocos Ino.
Sakura menunduk dan memperhatian kedua tangannya dengan serius.
Jadi semalam… itu bukan mimpi? Sasuke sungguh ada bersamanya?
"Apakah semalam yang kalian bicarakan itu karena si artis sial itu ingin kembali padamu dan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang jahat? Atau dia akhirnya ingin membalas dendam padamu? Atau dia mau—"
"Tidak ada," potong Sakura.
"Hah? Apanya yang tidak ada?"
"Tidak ada yang terjadi semalam. Selagi kami berdebat karena masalah ini… tiba-tiba lampu rumahku mati. Sepertinya bohlamnya sudah lama, karena itu… Sasuke menemaniku sampai cahaya…"
Tidurlah, aku akan di sini sampai rumahmu cukup terang dari kegelapan ini
Jadi itu artinya… kata-katanya semalam…
"Sampai cahaya apa? Apa benar hanya seperti itu? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku lagi kan?"
"Memangnya apalagi yang kusembunyikan darimu hah? Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Memangnya ada alasan bagiku untuk membatalkan semuanya? Kau mau aku dicap serendah apalagi hah?"
"Begitu… aku hanya takut perasaanmu goyah lagi ketika kau mengatakan masih mencintai si Super Star itu… hati perempuan kan mudah luluh oleh sikap lembut seorang laki-laki. Dan karena itulah banyak perempuan yang terjerumus ke dalam kejahatan laki-laki…"
"Aku ini tidak terlalu bodoh untuk hal seperti itu. Sudahlah, kau temani aku saja membeli bohlam baru. Sekalian sepertinya aku harus belanja sedikit makanan. Sejak dari rumah sakit itu rasanya perutku tak pernah merasa kenyang sedikit pun!"
"Heee? Kau yakin sudah cukup baik keluar sekarang ini?"
"Orang-orang tak akan peduli dengan diriku, jadi kenapa aku harus peduli dengan orang lain?"
.
.
*KIN*
.
.
Benar kata Ino.
Keluar di saat seperti ini sungguh membuat Sakura terlihat seperti buronan.
Sakura dan Ino hanya pergi ke supermarket terdekat dari apartemen tinggal Sakura. Dan sepanjang jalan menuju ke sana, Sakura selalu melihat beberapa orang yang berbisik di belakangnya. Ino bahkan melotot pada mereka yang coba-coba ingin menghujat Sakura. Sekarang ini, Sakura sama sekali tidak ingin peduli dengan mulut orang lain.
Karena itu Sakura keluar dari rumah tadi dengan penutup telinga yang tebal. Ya, salah satu alasannya untuk menghindari ini sih selain cuaca yang memang tengah berada di puncaknya musim dingin ini…
Sakura juga memilih kebutuhan yang penting untuknya sekarang ini. Sepertinya mencari pekerjaan sambilan yang baru akan butuh waktu lama setelah insiden sial ini. Dan terpaksa akhirnya Sakura menggunakan tabungan daruratnya untuk bertahan hidup sampai akhirnya Sakura bisa mendapatkan pekerjaan kembali. Tentunya setelah insiden sialan ini berakhir juga. Susah memang hidup di tempat yang orang-orangnya terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain daripada hidup mereka sendiri.
"Nee, ada yang menggangguku sejak kemarin," buka Ino ketika Sakura tengah asyik memilih-milih sampo di konter. Ino berdiri di sebelah Sakura sembari memperhatikannya dengan penuh minat.
"Apalagi yang mau kau tanyakan?" ujar Sakura sambil tetap mengambil dan mengembalikan beberapa botol yang dilihatnya sekaligus itu.
"Kau benar-benar akan menerima uangnya si artis sial itu?"
Sakura menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap kosong konter dimana Sakura memilih sampo tadi.
"Uang bayaranku maksudmu?" ujar Sakura.
"Memangnya uang apalagi?" balas Ino.
"Tentu saja," kata Sakura akhirnya seraya mendorong trolinya ke depan.
"Eh? Kau mau? Setelah semua ini?" kejar Ino.
"Menurutmu apa yang akan dipikirkan Sasuke seandainya aku tidak menerima uang itu setelah malam kemarin? Jujur saja, ada banyak yang kukatakan padanya, dan semua itu kata-kata yang bertolak belakang dengan apa yang kurasakan saat ini. Jika seandainya Sasuke benar-benar memberikan uang itu padaku, tidak ada alasan untuk menolaknya kan? Kalau aku menolaknya… entah apa yang akan dipikirkan Sasuke nantinya."
"Tapi dengan begitu… Sasuke pasti benar-benar menganggapmu…"
"Itu kan konsekuensi untukku. Lagipula… aku dan dia sudah berakhir sekarang. Mungkin, kami tak akan pernah bertemu lagi selamanya…"
"Ehh? Apa dia akan pergi dari Jepang?" tanya Ino dengan mimik terkejut.
"Aku pernah cerita kan tentang gadis yang disembunyikan oleh Sasuke. Dia adalah kekasih sungguhan Sasuke. Sebelum ini, gadis itu sempat bercerita kalau tak lama lagi Sasuke dan dia… pergi dari Jepang setelah semuanya selesai. Kupikir… mungkin sekarang inilah saatnya."
Ya, jika memang Hinata dan Sasuke sudah lama merencanakan hal ini, tentu saja sekarang adalah waktu yang tepat. Sasuke mungkin akan memutuskannya segera.
Meskipun… kata-kata Sasuke terakhir kalinya untuk Sakura itu sungguh…
Sungguh benar-benar membuat Sakura goyah.
.
.
*KIN*
.
.
Belanjaan Sakura memang cukup banyak. Tapi belum sampai di rumah Sakura, Ino sudah mendapatkan telepon dari ibunya yang mengatakan kalau Ino disuruh pulang sekarang. Ino bahkan terlihat pucat karena ternyata dia pergi begitu saja pagi-pagi hanya untuk menemui Sakura saja. Sakura sungguh merasa bersalah padanya jika sampai Ino mendapatkan masalah karena dirinya.
Sakura membawa dua kantong besar di kedua tangannya. Perjalanan menuju rumahnya kini adalah perjalanan terpanjang yang pernah Sakura lalui. Jelas saja karena kedua beban ini. Sedikit lagi Sakura akan tiba di depan rumahnya. Tapi dasar sial, Sakura lupa jika dia harus menaiki tangga untuk—
"Sakura."
"Itachi… san?"
Hah? Itu kan benar Itachi? Mau apa dia di depan rumah Sakura begini pagi?
Itachi berjalan menghampiri Sakura dan segera mengambil kedua kantong belanjaan Sakura yang besar itu.
"Eh, aku bisa membawanya sendiri," ujar Sakura berusaha mengambil kantongnya lagi. Karena sibuk berpikir yang aneh, Sakura tak sadar kantongnya sudah berpindah tangan.
"Seharusnya kau mengatakan padaku kalau kau ingin berbelanja begini banyak. Kenapa kau pergi sendirian di cuaca sedingin ini?" tanya Itachi.
"Aku… sebenarnya tidak sendiri. Tadi bersama teman… dan dia tiba-tiba harus pulang ke rumah… jadi—"
"Teman pirangmu kemarin? Kalau tak salah namanya… Yamanaka kan?"
"Iya… Itachi-san sendiri, sedang apa di sini? Begini pagi?"
"Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Bagaimana kalau setelah menaruh belanjaanmu ini kita pergi sebentar keluar?"
Sakura memang tak punya pilihan selain mengikuti Itachi.
Lagipula mereka pergi dengan mobil, bukannya berjalan kaki. Jadi Sakura tak perlu menebalkan telinga lagi untuk mendengar semua bisikan sial yang belakangan ini sering didengarnya ketika Sakura melewati beberapa kerumunan orang lain. Dari yang muda sampai yang tua sama-sama menghujat dirinya.
Ya, siapa juga pasti iri setengah mati dengan Sakura kan?
Bertemu dengan artis terkenal, menjadi kekasihnya, putus lalu terakhir mengumumkan pernikahan dengan pewaris Uchiha yang begitu kaya dan tampan. Siapa yang tidak iri dengannya yang bagaimana putri di dalam dongeng?
Itachi mengajak Sakura makan di sebuah restoran hotel bintang lima. Karena tempat yang mewah ini, privasi sangat dihargai jadi Sakura tak perlu merasa risih lagi berjalan berdua dengan Itachi seperti ini. Hanya saja… karena pakaian Sakura yang begitu sederhana… rasanya Sakura merasa dia salah alamat.
Meskipun hanya memakai coat panjang, tapi Itachi memakai setelan yang cukup bagus untuk berada di tempat seperti ini. Ya, seharusnya Sakura tak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.
Itachi memesan makanannya dan untuk Sakura. Jujur saja, Sakura memang tidak pernah merasa kenyang makan makanan seperti ini. Sakura ingin makan ramen dengan jumlah besar dengan campuran berbagai sayur, telur dan—sialan… Sakura semakin lapar bukan main.
"Sakura? Kau tidak terlihat baik, apa kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat," ujar Itachi ketika makanan mereka sudah tiba.
"Eh? T-tidak apa-apa kok. Mungkin karena cuaca dingin… aku baik-baik saja."
"Sakura, maaf jika tiba-tiba aku mengatakan hal ini padamu. Mungkin ini adalah permintaan egois dariku. Tapi sungguh, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kau berada di sini lebih lama lagi."
Sakura diam mendengar kata-kata Itachi itu.
"Ya, berita tentangmu pasti akan segera menghilang dengan sendirinya. Tapi kau tahu kalau itu butuh waktu kan? Dan mungkin bukan waktu yang sebentar. Mungkin, selama waktu itu… lebih baik kau… pergi dari sini sementara waktu. Dan aku berniat agar kau pergi denganku."
Sakura bukannya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Itachi. Sakura juga tahu Itachi pasti akan mengatakan hal ini padanya. Sakura sudah menebaknya sejak Sakura memutuskan melakukan semua ini. Ya, Itachi tidak salah. Apa yang ditawarkannya pada Sakura adalah keputusan bagus. Sakura tidak perlu berpikir melankolis. Sakura harus meneruskan hidupnya sendiri.
"Mungkin kau mau memikirkannya—"
"Tidak. Aku tidak perlu memikirkannya," potong Sakura.
"Jadi, kau—"
"Aku setuju. Aku akan mengikuti apa yang menurut Itachi-san baik. Lagipula aku sudah cukup merasa muak berada di sini dengan semua masalah yang ingin segera kulupakan…"
Sejujurnya Itachi cukup kaget ketika Sakura langsung menerima permintaannya begitu saja. Sebegitu kuatnyakah Sakura ingin melupakan Sasuke dan masalahnya?
Tidak… bukan melupakan masalahnya. Mungkin yang ingin dilupakan oleh Sakura adalah…
"Kalau begitu, aku akan membantumu mengurus masalah kuliahmu. Kau bisa meneruskan kuliahmu dimanapun yang kau inginkan. Kita bisa melakukan transfer nilai ke universitas yang ingin kau tuju. Apa kau sudah memikirkan universitas mana yang kau inginkan?"
"Dimana saja bukan masalah. Asalkan jauh dari sini…" lanjut Sakura sambil meneruskan makan paginya.
Ya, bukan masalah dimana pun. Asal benar-benar jauh dari sini hingga Sakura tak akan pernah berpikir untuk kembali kemari. Bahkan, Sakura tak akan pernah melihat sosok Sasuke lagi selamanya. Dengan mengubah segalanya, tentu saja Sakura berharap kehidupan lamanya akan kembali lagi padanya. Bersama Itachi… tentu saja akan mengubah segalanya.
Dan Sakura sungguh berharap dirinya bisa mengubah perasaannya juga.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan pagi yang cukup canggung itu, tentu saja karena Sakura terus diam sepanjang makan. Memang hari ini Sakura sungguh tak merasa mood melakukan sesuatu. Sekarang ini, Itachi bersama dirinya sedang di dalam mobil menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan ini pun mereka hanya diam berdua saja. Ada banyak hal yang tiba-tiba berputar di dalam kepala Sakura. Semuanya.
Ya… entah bagaimana caranya, Sakura kembali membayangkan pertemuan pertamanya dengan artis itu. Semua berlalu begitu saja. Bahkan Sakura tak pernah menyangka bahwa dirinya bisa berada dekat dengan artis yang disukainya sejak pertama kali Sasuke memulai debutnya sebagai artis. Setiap ada waktu, dulu Sakura selalu memperhatikan artis idolanya ini di depan layar kaca. Bahkan di berbagai sudut Tokyo dimana pun pantulan artis ini ada. Entah di layar kaca atau di pamplet, bahkan di majalah sekali pun. Sakura bahkan merindukan saat-saat dirinya mengagumi sang artis bahkan dalam diam sekali pun.
Sekarang semuanya berubah.
Bahkan… Sakura sekarang harus memaksakan dirinya untuk melupakan Sasuke.
"Sakura, ada apa? Kau terlihat diam sekali hari ini," tegur Itachi yang menyadari teman seperjalanannya ini hanya memandang jalanan di jendela samping pintu mobilnya dengan mimik yang terlihat sedih.
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya merasa… tidak enak badan…" balas Sakura.
"Tidak enak badan? Haruskah kita ke rumah sakit? Kau mau minum obat?"
"Aku hanya ingin istirahat di rumah saja."
"Baiklah kalau begitu. Maaf mengajakmu keluar seperti ini padahal kau sedang tidak enak badan," sesal Itachi.
"Tidak begitu. Aku senang bisa pergi berdua dengan Itachi-san."
Itachi tersenyum mendengar kata-kata Sakura yang terdengar tulus itu. Sesekali Itachi menoleh dan kembali senang melihat gadis yang disayanginya ini sudah kembali tersenyum seperti biasanya. Ya, tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat wajah ceria Sakura. Makanya Itachi ingin berusaha sekuat mungkin agar tak lagi melihat wajah sedih gadis manis ini. Terlalu sayang untuk gadis seperti Sakura yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan ceria malah harus mengalami masalah begini rumit. Tak seharusnya Sakura seperti ini hanya untuk seseorang seperti adiknya itu.
Begitu akan tiba di rumah Sakura, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Bunyinya bukan untuk pesan. Ini panggilan.
Begitu membuka ponselnya, Sakura mengernyit sebentar. Ini…
"Ino, ada apa?" tanya Sakura.
Sakura bisa mendengar suara bising keramaian di ujung sana. Pasti Ino sekarang ini ada di restorannya. Ibunya pasti marah besar sekali dan memaksanya bekerja.
"Hei, kau ada dimana sekarang?" tanya Ino. Suaranya sedikit terburu-buru. Sesekali Ino juga terdengar menjawab panggilan ibunya dengan asal-asalan.
"Aku? Dengan Itachi-san. Tapi aku akan pulang ke rumah. Ada apa?" tanya Sakura lagi.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu harus bagaimana. Tapi karena kulihat dia orang baik… sepertinya kau harus menemuinya. Karena dia tidak tahu alamat rumahmu dan ponselmu, dia datang tadi untuk menemuiku dan menyampaikan pesan ini," jelas Ino.
"Dia siapa? Kau malah membuatku bingung dengan penjelasan anehmu itu."
"Ayahnya… Sasuke?"
Sakura terdiam beberapa saat ketika Ino menyebutnya nama itu.
"Aku juga bingung harus mengatakan apa padanya. Tapi karena dia kelihatan tulus ingin bertemu denganmu, sebaiknya kau temuilah dia. Dan jelaskan sesuatu pada Paman itu… kau tahu kan kalau perbuatanmu ini sedikitnya sudah mempengaruhi semua keluarga Uchiha?"
Ayahnya… Sasuke dan Itachi ya…
"Baiklah, aku mengerti."
Ino mengatakan kalau Sakura setuju, maka Ino akan mengirimkan alamat dimana ayahnya bisa bertemu dengan Sakura.
"Ada apa, Sakura?" tanya Itachi setelah Sakura menutup ponselnya. Kini mereka sudah tiba di depan apartemen Sakura.
"Oh, seseorang ingin bertemu denganku," jelas Sakura.
"Siapa?"
"Aku tidak bisa memberitahu Itachi-san sekarang. Kalau begitu aku akan menemuinya dulu. Itachi-san bisa pulang lebih dulu."
"Kau kan sedang tidak enak badan? Aku akan menemanimu bertemu—"
"Tenang saja, kali ini aku bertemu orang yang baik. Sampai nanti, Itachi-san."
Itachi tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Sakura langsung memutuskan keluar dari mobilnya dengan cepat dan kemudian sedikit berlari.
Orang yang baik? Apakah sepenting itu bertemu dengan orang itu?
.
.
*KIN*
.
.
Ino mengirimkan alamat yang cukup jauh dari pusat kota. Entahlah, sepertinya ini bukan daerah yang berdekatan dengan Tokyo. Sakura bahkan sampai harus naik bus untuk menemukan tempat yang dimaksud Ino. Bahkan Ino sendiri tidak tahu tempat seperti apa ini. Yang membuat Sakura tercengang adalah, tempat pertemuan itu mengarah ke laut.
Setengah jam kemudian, Sakura tiba di sebuah pantai yang cukup asing untuknya.
Sakura tak pernah ke sini. Dan lagi tempat ini cukup sepi.
Tentu saja! Memangnya siapa yang mau ke pantai di udara sedingin ini? Hanya orang kurang waras yang mau—ups!
"Nona Haruno?"
Sakura terkesiap kaget ketika seorang paman berpakaian rapi dengan setelan jas serba hitam datang menghampirinya. Paman itu terlihat tak asing. Benarkah?
"I-iya, ada perlu apa denganku?" tanya Sakura gugup.
"Presdir sudah menunggu Anda. Silahkan ikut saya."
Presdir?
Tunggu… presidr mana yang dimaksud oleh paman ini?
"Eh, aku… tidak mengenal… seorang Presdir…" sela Sakura sebelum mengikuti paman itu yang sudah lebih dulu berjalan di depan Sakura.
"Presdir Fugaku. Beliau adalah ayah dari Itachi-sama dan Sasuke-sama."
Heeeee?
Serius?
Astaga… sekarang Sakura terlihat seperti orang bodoh! Tentu saja itu ayah mereka berdua. Bukankah tujuan Sakura kemari karena ingin bertemu dengan paman itu?
Sakura mengikuti paman yang menjemputnya ini dengan diam. Dia sudah terlalu malu ingin bertanya lagi.
Tapi kemudian, dirinya pun bertemu dengan pria paruh baya yang tampak kesepian itu. Pria itu berdiri di bibir pantai seraya mengaitkan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan memejamkan matanya. Sepertinya dia tengah berpikir sesuatu. Atau…
"Presdir, Nona Haruno sudah tiba," lapor paman berbaju hitam itu.
Fugaku membuka matanya perlahan kemudian menoleh ke arah Sakura yang berdiri tak jauh darinya. Fugaku tersenyum ramah pada Sakura karena merasa senang akhirnya gadis ini mau memenuhi permintaannya. Sakura juga langsung membungkukkan badannya dengan formal untuk memberikan salam pada Fugaku. Wajahnya terlihat kikuk dan gugup.
Mereka berdua kemudian berjalan berdampingan di sepanjang bibir pantai. Sakura tidak melihat paman yang menjemputnya tadi. Sekarang tempat ini begitu sepi. Mungkin hanya ada mereka berdua. Udara juga mulai menggila. Lebih dingin dari pagi tadi meskipun ini sudah mulai siang. Ditambah lagi angin pantai yang berhembus sedikit lebih kuat dari biasanya. Sudah lama memang Sakura tak pergi ke pantai.
"Maaf jika aku memanggilmu mendadak begini. Kau pasti kaget," buka Fugaku.
"Eh? T-tidak begitu. Aku… aku senang jika Paman… masih bertemu denganku… setelah apa yang kulakukan…" lirih Sakura. Jujur saja Sakura sekarang sangat bingung. Dia tak tahu sebaiknya berkata apa. Sakura saat itu hanya berpikir untuk menemuinya karena Fugaku menerimanya dengan tangan terbuka meski dia tahu seperti apa Sakura ini.
"Begitu? Syukurlah… kupikir setelah kau memutuskan hubungan dengan Sasuke, kau akan menolak bertemu denganku."
"Mana mungkin seperti itu. Kalau pun aku tidak ingin bertemu dengan Paman… itu karena aku… merasa malu.."
"Malu?"
"Aku merasa malu pada Paman. Aku sudah mengacaukan keluarga Paman. Dan karena perbuatan memalukanku ini, kedua anak Paman… menanggung perbuatan yang tidak seharusnya mereka terima karena aku. Makanya aku… merasa malu pada Paman…" jelas Sakura sambil menundukkan kepalanya. Bagaimana pun Fugaku adalah seorang ayah. Ayah mana yang mau melihat anaknya dipermalukan oleh gadis seperti Sakura? Bahkan ibunya saja tidak ingin melihat Sakura lagi…
"Aku mengerti apa yang maksudmu. Dan aku mengerti kenapa kau harus melakukannya. Aku hanya terkejut… ternyata Itachi juga menaruh perasaan padamu."
"Eh?"
"Itachi sudah menemuiku dan meminta restu padaku sehari sebelum dia melakukan konferensi pers tentang rencana pernikahan kalian."
"Eh?"
Fugaku teringat pada malam dimana sehari sebelum Itachi memutuskan untuk mengadakan konferensi pers mengenai keinginannya menikahi Sakura. Itachi menjelaskan duduk perkaranya pada sang ayah. Termasuk keberadaan Hinata yang disembunyikan oleh Sasuke selama ini. Itachi memberitahu alasan Sasuke mengapa adiknya itu berhubungan dengan Sakura. Semuanya diceritakan Itachi tanpa ada yang ditutupi. Ya, Itachi bisa jujur pada sang ayah. Tapi tidak pada ibunya. Satu-satunya orang yang menentang hubungan Sasuke dan Hinata adalah sang ibu.
Belum lagi alasan dari semua akar masalah ini terjadi. Sebab mengapa Sasuke sampai mempertaruhkan segalanya untuk berada di sisi Hinata.
Penyebab kecelakaan itu memang karena kelalaian Fugaku yang menyetir sedikit sembrono karena lampu jalan yang padam. Tapi kemudian, Fugaku menemukan fakta yang sedikit mengejutkan datang dari bawahannya.
Kecelakaan itu direncanakan oleh ayah Hinata sendiri karena perusahaannya yang bangkrut. Penyebab kebangkrutannya pun karena permainan saham yang dimenangkan oleh perusahaan Uchiha. Merasa dendam karena hidupnya tak adil, ayah Hinata berusaha menyalahkan Fugaku atas semua kejadian yang menimpanya. Tentu saja hal ini diketahui oleh Mikoto. Mikoto bermaksud membeberkan semuanya ke seluruh dunia. Tapi Fugaku menghalanginya karena merasa bersalah pada Hinata yang akhirnya menjadi sebatang kara dan tak memiliki apapun.
Sasuke hanya mengetahui Fugaku adalah dalang dari semua kecelakaan ini karena Fugaku bersikeras menutup rapat semua kenyataan itu. Mikoto tak bisa berkata apa-apa karena Fugaku memaksa Mikoto untuk tutup mulut.
Saat itu Sasuke sendiri adalah teman sekelas Hinata yang mengenal baik Hinata.
Merasa bertanggungjawab, Sasuke pun memberitahu Mikoto dan Fugaku bahwa dia sendiri yang akan bertanggungjawab untuk Hinata jika kedua orangtuanya menolak bertanggungjawab untuk Hinata.
Dan akhirnya… semua terjadi begitu saja.
Sasuke pergi dari rumah untuk selamanya dan memutuskan semua hubungannya dengan keluarganya sendiri.
Hal yang disesalkan Mikoto adalah Fugaku menolak memberitahu kenyataan itu. Sedangkan Fugaku menyesal karena dirinya tak bisa memberikan tanggungjawab yang layak untuk Hinata.
Hingga semuanya berakhir seperti ini.
Fugaku juga terkejut karena malam ini, Itachi membeberkan segalanya.
"Otou-san, alasan kenapa aku memberitahu semuanya pada Otou-san, karena aku tidak ingin gadis yang kusayangi mengalami penderitaan karena masa lalu seperti ini. Karena sudah saatnya Otou-san tahu, bahwa aku… mengetahui segalanya tentang kebenaran kecelakaan keluarga Hinata…"
Fugaku diam ketika Itachi membuka kembali tabir kegelapan tiga tahun yang lalu itu. Rasa bersalah kembali menghantui Fugaku.
"Otou-san sendiri tahu bahwa Otou-san sama sekali tidak bersalah dalam kejadian itu. Otou-san melakukan semua ini karena ingin menjaga nama baik Hinata dan keluarga Hyuuga. Tapi Otou-san tidak tahu, karena masa lalu ini, seorang gadis yang tidak bersalah jadi terseret dan ikut menderita karena hal ini."
Itu benar, tapi Fugaku sama sekali tak punya keberanian untuk menghadapinya. Semuanya berlalu begitu saja bahkan sebelum Fugaku memulai segalanya. Jika sekarang Fugaku muncul pun, hanya akan memperumit segalanya.
"Otou-san mungkin akan melarangku melakukan ini. Tapi Otou-san, selain aku… tidak ada lagi yang melindungi gadis itu. Dia sendirian, sebatang kara. Dia sudah cukup menderita dengan kehidupannya. Aku tidak ingin dia jauh lebih menderita lagi karena ulah Sasuke. Otou-san mungkin kaget mendengar ini. Tapi aku sudah mengambil keputusan. Aku akan melindungi Haruno Sakura."
Gadis itu sama sekali tidak bersalah. Tidak… Fugaku-lah yang bersalah.
"Lakukanlah," ujar Fugaku akhirnya setelah berdiri membelakangi Itachi.
"Otou-san…?"
"Lindungi gadis itu. Kau harus berada di sampingnya untuk memastikan dia baik-baik saja. Aku akan bertanggungjawab mulai dari sekarang."
"Otou-san tidak perlu bertanggungjawab mengenai apapun. Satu-satunya hal yang harus Otou-san lakukan adalah meyakinkan Okaa-san."
Setelah mengatakan hal itu, Itachi pamit pergi.
Mengingat kejadian malam itu, Fugaku memahami satu hal.
Seharusnya, jika Fugaku bisa lebih jujur pada perasaannya dan mengatakan yang sebenarnya, seharusnya semua ini tidak akan terjadi. Jika… semua orang bisa dengan mudah menerima kenyataan ini…
Kini, Fugaku kembali beralih kepada gadis muda di depannya ini. Dia terlihat tulus pada kata-katanya. Dia gadis yang baik.
"Nak, apa kau… masih mencintai Sasuke?"
Jantung Sakura berdetak cepat ketika Fugaku mengatakan hal itu. Pada Ino, Sakura memberikan kejujuran hatinya yang paling dalam. Bahwa seluruh hatinya masih mencintai sosok Super Star itu. Mulutnya memang selalu berkata bohong soal perasaannya, tapi jauh di lubuk hatinya, Sakura tak pernah berbohong akan perasaan itu.
Mungkin benar, jika Sakura lebih jujur pada perasaanya, Sakura mungkin tak akan pernah melepaskan Sasuke dan menjadi orang egois. Tapi Sakura adalah manusia biasa yang memiliki perasaan lainnya. Dia juga seorang gadis yang pernah mencintai seseorang. Jadi bagaimana Sakura bisa mengabaikan perasaan seorang gadis layaknya Hinata yang sama seperti dirinya? Bahwa mereka sama-sama mencintai laki-laki yang sama.
"Aku…"
"Aku tahu jawabannya. Tidak perlu kau katakan. Tapi aku akan tetap berterima kasih padamu untuk semua yang sudah kau lakukan. Baik untuk Sasuke maupun untuk Itachi. Terima kasih banyak. Aku… hanya ingin menitipkan satu pesan padamu. Setelah perasaanmu kembali membaik, setelah semua ini sudah kembali normal, aku ingin kau lebih jujur pada perasaanmu. Tuhan tak pernah memberi satu kesempatan pada semua orang. Ada banyak kesempatan yang diberikannya jika mereka mau jujur pada dirinya sendiri."
Sakura menundukkan kepalanya dalam. Sepertinya, Fugaku sudah mengetahui semuanya mengenai perasaan Sakura.
"Dan kemudian, tolong jaga Itachi. Karena dia benar-benar tulus ingin bersamamu. Kurasa, hanya ini saja yang ingin kubicarakan denganmu. Sampai nanti."
"Paman!" panggil Sakura sebelum Fugaku pergi lebih jauh.
Fugaku berhenti dan menoleh kepada Sakura yang masih berdiri di dekatnya.
"Jika… jika ada yang bisa kulakukan, tolong katakan padaku. Aku pasti akan melakukannya untuk Paman apapun yang terjadi. Karena itu… kalau Paman ingin sesuatu… bisakah Paman… memberitahuku?"
Fugaku tersenyum simpul mendengar kata-kata dari Sakura.
"Kau gadis yang baik. Hm, jika ada yang kuinginkan… mungkin aku ingin bertemu putraku sekali saja. Jika aku bisa bertemu dengannya sekali, aku tak akan memintanya menemuiku lagi."
"Paman… kenapa Paman bicara begitu?" lirih Sakura dengan mimik sedih.
"Karena Paman… adalah orang jahat yang dia benci…"
Itu adalah kata-kata terakhir dari Fugaku. Kemudian seorang pria paruh baya yang datang menjemput Sakura tadi datang menjemput Fugaku.
Bagaimana mungkin ayah yang begitu baik sampai dibenci oleh anaknya sendiri?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna hehehe
Ah ya, mungkin ada yang berpikiran chap ini gak begitu penting karena biasa aja, tapi bagi saya ini adalah chapter penting karena pada akhirnya semuanya udah tahu apa yang terjadi pada Hinata kan?
Meski Sakura belum tahu, karena walaupun Sakura tahu dia gak bisa mengubah apapun, makanya saya bikin Sakura gak tahu aja, walaupun sebenarnya Itachi udah tahu semuanya. Dan, banyak yang bilang Sasuke plinplan ya? Saya memang membuat karakternya begitu, tapi sebenarnya Sasuke itu memiliki perasaan tidak ingin meninggalkan Hinata yang terluka karena masa lalu mereka. Ditambah lagi Sasuke sama sekali tidak tahu kenyataannya kan hehehe…
Seperti janji ini memang sebentar lagi akan berakhir… ada yang udah nebak kira-kira endingnya seperti apa?
Oke saatnya balas review…
Jai : makasih udah review senpai… ahahah Saku nya masih kelihatan lemah ya? Padahal saya udah berusaha membuatnya setegar cewek biasanya sih hehehe
Mantika mocha : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheheh silahkan dinikmati chapternya ya heheh
Kenichi hachi : makasih udah review senpai… maaf kalo gak cepet tapi ini udah update hehehe
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… iya saya juga udah berusaha dari pertama ngetik supaya gak ada typo, kalo masih ada saya sungguh minta maaf… ini udah lanjut lagi…
Mikyo : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa heheh ini udah lanjut lagi heheh
Intan sept : makasih udah review senpai… maaf ya kalo lama ini udah update lagi kok
Manda Vvidenarint : makasih udah review senpai… hehehe iya betul banget tu kan susah yaa?
Re UchiHaru Chan : makasih udah review senpai… makasih semangatnya ya hehehe ini udah update lagi kok hehehe
Chizuru Mey : makasih udah review senpai… ahahah saya seneng kok membaca semua tulisan kamu mengenai fic saya. Sejujurnya karena review seperti kamu yang bikin saya tetep semangat melanjutkan fic ini terus hehehe ini udah update lagi ya hehehe
Sasusaku's fans : makasih udah review senpai… ahahaha masih mau hurt-nya ya? Ntar tambah nangis loh hehehe iya ini lanjut lagi hehehe
Suket alang alang : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah lanjut lagi ya hehehe
Cherry Ryl-chan : makasih udah review senpai… heheheh nanti diperjelas lagi kok, sebentar lagi kan udah mau endingnya hehehe
Ica : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah lanjut lagi kok hehehe
Silent reader : makasih udah review senpai… maaf ya gak kilat tapi ini udah update lagi hehehe
Tataruka : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi hehehehe
Henilusiana39 : makasih udah review senpai… ahaha kalo gitu enaknya dipanggil apa yaa? Oke ini udah update lagi kok hehehe
Animea-Khunee-Chan : makasih udah review senpai… ahahah saya makan biasa kok gak makan paku, gunting ato piso, ya saya gak debus juga kok hehehe iya ini udah update lagi walo gak semuanya ya hehehe
Bluestar2604 : makasih udah review senpai… hehehe kan namanya aja plot, kalo datar aja gak seru kan? Hehe iya ini udah update lagi kok heheh
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah di update lagi kok hehehe
Sgiariza : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Ichi-Kuran : makasih udah review senpai… salam juga heheh iya ini udah lanjut lagi kok hehehe
Palvection : makasih udah review senpai… ahaha iya bentar lagi kelar kok tenang aja hehehe
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… ahahah pair bar utu Ino sama Itachi heheh makasih banyak semangatnya yaa
Yumae-chan : makasih udah review senpai… ahahah boleh juga kok silahkan dipilih aja hehe
Krissica : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh
6934soraoi : makasih udah review senpai… ahahah gak papa kok, saya suka bacanya tenang aja hehehe iya ini udah lanjut lagi hehe
Anka-Chan : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah lanjut lagi ya heheh
Uchihayuki cherry : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Sakura uchiha stivani : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi kok hehehe
Subarashii Shinju : makasih udah review senpai… eh? Iya saya pun udah berusaha agar typo gak terlalu ganggu, maaf ya jika masih ada typo nya heheh iya ini udah lanjut lagi kok heheh
Uchihafenny : makasih udah review senpai… hehehe iya memang Sasuke gitu sih heheh
Chery liyana : makasih udah review senpai… iya gak papa kok, kan ikut baca juga heheh iya ini udah lanjut lagi hehe
An username : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Awan putih : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheh iya ya kurang berasa, mungkin emosinya memang masih kurang ya heheh
Lynn : makasih udah review senpai… iya suka pake username nya itu hehe ini udah lanjut lagi kok hehehe
