Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
Tentu Sakura tak bisa berdiam diri begitu saja melihat sosok sebaik Uchiha Fugaku sampai begitu menyedihkan karena dibenci oleh putranya sendiri. Bahkan Fugaku sama sekali tak berkeberatan dibenci oleh anak yang disayanginya itu. Umumnya, orangtua akan menghukum anaknya yang berani berbuat seperti itu. Tapi Fugaku tidak. Seakan-akan apa yang dilakukan darah dagingnya itu adalah hal yang sudah semestinya. Bahkan Fugaku pun sampai hati ingin bertemu terakhir kalinya dengan anak bungsunya itu.
Sakura tak tahu apa sebenarnya masalah keluarga Uchiha ini.
Kenapa sampai sebegitunya Sasuke meninggalkan keluarganya sendiri untuk bersama dengan gadis seperti Hinata?
Bukannya Sakura berpikir buruk tentang Hinata. Hanya saja, keluarganya saja bisa menerima Sakura kan? Ayahnya begitu baik meski ibunya tidak. Masa sih orang sebaik Fugaku enggan menerima Hinata yang bahkan dua kali lipat lebih baik dari Sakura? Setidaknya dari sikap dan perilaku perempuan itu jauh lebih baik dari Sakura dalam bertata krama kan?
Bukankah situasi mereka sebenarnya sama? Sakura dan Hinata sama-sama tidak memiliki keluarga dan sebatang kara. Lalu apa yang membedakan mereka berdua sehingga Sasuke mati-matian menyembunyikan Hinata dan membenci keluarganya seperti itu?
Sekembalinya dari bertemu Fugaku tadi pun, Sakura masih merasa penasaran bukan main.
Haruskah…
Tapi sungguh ini bukan masalah Sakura. Seharusnya Sakura tidak mencampuri urusan keluarga Uchiha kan? Kalau Sakura sampai begitu usilnya, nanti yang ada mereka malah berpikir Sakura yang tidak-tidak lagi. Jadi harus bagaimana?
Memikirkan hal itu, Sakura tak menyadari kalau dirinya cukup lama berjalan kaki. Di udara sedingin ini Sakura justru begitu kuat berjalan kaki. Hebat sekali…
Hari sudah menjelang malam. Sakura harus menghidupkan—
Argh! Sialan! Sakura lupa memasang bohlam lampu yang baru dibelinya tadi pagi!
Sudah gelap begini siapa yang mau diandalkan memasang bohlam lampunya? Oh sial…
Karena begitu banyak yang terjadi, Sakura bahkan lupa dengan urusan dirinya sendiri.
Bingung harus berbuat apa, Sakura akhirnya mencoba menelpon Ino untuk membantunya memasangkan bohlam sialan itu. Tapi yang ditelpon sebanyak empat kali ini tidak mengangkatnya juga. Sakura sudah mengirim pesan tetap tidak ada balasan. Akhirnya Sakura duduk di pertengahan anak tangga menuju apartemen kecilnya itu. Apa Sakura minta bibi tetangga saja ya? Tapi jujur saja Sakura memang tidak terlalu akrab dengan tetangga apartemen di sini. Mereka juga kebanyakan menutup diri dan jarang keluar. Tempat ini memang minim penghuni. Makanya sedikit ada yang tahu mengenai kehidupan Sakura di sini. Akhirnya, Sakura memeluk lututnya dan menelungkupkan kepalanya di sela lututnya. Siapa yang kira-kira bisa dimintai tolong ya?
"Hei bodoh, apa yang kau lakukan?"
Sakura terkesiap. Dirinya langsung bangkit mendadak. Wajahnya juga berseri-seri hendak menyambut pemilik suara itu. Mungkinkah…
"Itachi… san?" gumam Sakura setelah menyaksikan dengan seksama sosok yang berdiri di dasar tangga itu.
"Kau memikirkan orang lain?" goda Itachi.
"Oh, tidak. Ada apa… datang kemari? Sepertinya kau cukup sering mengunjungiku sekarang," ujar Sakura.
"Tentu saja aku ingin melihat gadis-ku setiap saat. Kau tak kunjung menelponku sejak kau pergi menemui orang baik yang kau kenal itu. Padahal aku menunggu teleponmu," kata Itachi sambil bersedekap dada.
"Eh? Kau… menunggu teleponku? Maafkan aku… ada banyak hal yang terjadi tadi… jadi aku…" Sakura merasa tampak bersalah sekali.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda. Tapi aku benar-benar menunggu menelponku untuk memintaku menjemputmu atau apa. Aku khawatir karena kau pergi begitu lama," sambung Itachi lagi.
Sakura tersenyum seadanya pada pria berambut gelap ini.
Itachi sungguh kebalikan dari Sasuke. Tapi itu tidak membuat Sakura lantas mengubah perasaannya tiba-tiba. Pada dasarnya melupakan sesuatu yang amat berarti itu sangatlah sulit. Meski telah dicoba berbagai cara, mengikis perasaan yang sudah melekat di dalam hati ini sama seperti cat dinding. Perasaan itu akan menghilang ketika cat dindingnya mengelupas dimakan waktu atau ditambal dengan cat lainnya. Sakura saat ini belum memiliki cat lain yang bisa menambal bekas cat di dalam hatinya. Makanya banyak ungkapan yang beredar bahwa mencintai seseorang cukup memerlukan waktu satu hari. Tapi melupakannya tak akan cukup walau seumur hidup.
"Hei, kau melamun apa? Tidak masuk ke dalam?" tanya Itachi tiba-tiba.
Seakan Sakura kembali tersadar, kepala Sakura tertunduk dalam sambil memainkan jari tangannya dengan bingung.
"Aku… lupa memasang bohlam lampuku…" lirih Sakura.
"Bohlam lampu?"
"Kemarin… bohlamnya putus. Jadi… kamarnya gelap sekali. Sebenarnya tadi pagi aku sudah membeli bohlam baru tapi lupa memasangnya…"
Itachi tersenyum, tidak, hampir tertawa mendengar penuturan konyol gadis manis di depannya ini. Wajahnya memerah karena malu dan tidak enak.
"Jadi, kau ingin aku yang memasangkannya?" tanya Itachi.
"Kalau… kau tidak keberatan…" gumam Sakura.
"Kau tahu tidak, selain tampan dan kayaraya, aku ini bisa apa saja. Jadi, kau ingin aku berubah jadi tukang listrik sekarang kan?"
"Ehh? Aku tidak mengatakan itu… aku hanya…"
"Bercanda, baiklah kita masuk ke dalam kamarmu yang gelap itu."
Sakura mengangguk dan membiarkan Itachi berjalan lebih dulu menuju apartemennya. Kini mereka sudah sampai di depan kamar Sakura, dan Sakura juga sudah membukakan pintu apartemennya.
"Kau tidak perlu masuk, tunggu saja di luar. Katakan, dimana bohlam bermasalah itu dan dimana aku harus menggantinya."
"Bohlam baru ada di kantung belanja yang kuletakkan di meja makan. Yang harus diganti ada di dekat tempat tidurku…" jelas Sakura.
Itachi mengangguk mengerti dan masuk ke dalam kamar gadis berambut pink itu seraya mengingat-ingat yang dikatakan olehnya.
Itachi hari ini memang hanya memakai celana jeans biasa dan kemeja bersama dengan luaran sweater. Pekerjaan seperti ini memang dibutuhkan seorang laki-laki. Tapi sepertinya Sakura tidak begitu. Dia mungkin bisa melakukan apa saja, asal bukan dalam keadaan gelap. Itachi ingin sekali membantunya bisa sembuh dari phobianya mengenai kegelapan ini. Tapi itu sama saja dengan berusaha menyiksanya. Tidak semudah itu bisa sembuh dari suatu phobia.
"Aku sudah selesai, kau bisa masuk."
Itachi sudah menghidupkan lampunya. Kini kamarnya sudah terlihat terang benderang. Begitu akan membuang kotak bekas mengisi bohlam itu, Itachi menuju tempat sampahnya. Dan matanya terpaku pada sebuah kotak case dvd.
Karena penasaran, Itachi mengambil kotak tipis itu dan melihatnya dengan seksama. Kotaknya masih bagus. isinya juga masih bagus. kenapa dibuangnya oleh Sakura?
Begitu membuka kotak itu, Itachi langsung mengerti kenapa Sakura membuangnya.
Berarti… dia memang bersungguh-sungguh ingin melupakan Sasuke kan?
Bolehkah Itachi berpikir demikian?
"Wah, sudah hidup! Terima kasih Itachi-san…" seru Sakura ketika dirinya telah melangkah masuk ke dalam apartemennya. Menyadari kedatangan sang gadis, Itachi membuang semua barang yang dipegangnya ke dalam kotak sampah itu. Berharap Sakura tak akan melihatnya lagi.
"Aku bisa diandalkan, tenang saja," kelakar Itachi.
"Karena sudah memperbaiki lampuku, aku harus berterima kasih padamu. Sebenarnya aku ingin menawarkanmu sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang kau suka. Sebagai balasannya, kau bisa katakan apapun yang kau mau karena telah memperbaiki lampuku," kata Sakura dengan wajah cerianya.
Itachi diam sejenak memperhatikan wajah itu. Sungguh, Itachi akan melakukan apa saja asal Sakura bisa terus memasang wajah seceria ini padanya. Karena melihat wajah seceria ini, Itachi sudah merasa lega. Karena akhirnya gadis yang disayanginya ini akan baik-baik saja.
"Bisakah kau benar-benar melupakan Sasuke?" gumam Itachi.
Sakura yakin mendengar kata-kata itu. Tapi tidak jelas. Apa yang dikatakan oleh Itachi tadi?
"Eh? Apa yang kau katakan?" ulang Sakura merasa tak enak.
"Tidak ada. Kalau begitu bagaimana dengan mie ramen? Aku ingin sekali makan mie ramen malam ini."
"Mie… ramen? Kau mau makan itu? Apa kau yakin tidak yang lain?" kata Sakura tak percaya. Masa sih tadi Itachi mengatakan mie ramen? Sepertinya bukan.
"Iya, aku tidak pernah lagi memakan mie ramen sejak tinggal di luar negeri sampai hari ini. Makanya aku rindu sekali. Apa kau punya mie ramen?"
"Aku baru beli tadi… baiklah kalau kau ingin itu. Aku akan memasaknya dulu. Kita bisa makan di luar. Cuacanya sedang bagus."
"Baiklah, aku tunggu di luar."
.
.
*KIN*
.
.
Sasuke membuka matanya dengan perlahan. Rasanya kepalanya ini masih sangat pusing sekali. Sasuke yakin beberapa saat ini Sasuke sudah begitu lama tidur. Tubuhnya bahkan sedikit terasa kaku bukan main. Badannya juga masih merasa sedikit hangat.
"Sasu, kau sudah bangun?"
Masih berbaring, Sasuke menoleh ke sumber suara itu.
Hinata duduk di sisi ranjangnya sambil menggenggam sebelah tangannya. Wajahnya juga terlihat khawatir.
"Hinata…" bisik Sasuke.
"Kau demam dari semalam. Begitu kuberikan obat kau terus tertidur sampai sekarang. Sepertinya demammu sudah pergi. Kau mau makan sesuatu?" tawar Hinata sambil mengelus pipi Sasuke yang masih terasa hangat dengan tangannya yang dingin.
Sasuke berusaha duduk di atas kasurnya meski Hinata langsung berinisiatif membantu Sasuke untuk segera duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Ruangan ini… oh ya, mereka masih berada di hotel rupanya.
"Sasu, kau harus makan. Biar kupesankan sesuatu untukmu," ujar Hinata yang bersiap akan menggunakan telepon kamar hotel untuk memesan layanan hotel.
"Hinata," panggil Sasuke seraya memegang dengan lemah tangan Hinata yang akan beranjak darinya.
Hinata diam dan kembali pada posisinya dengan duduk di sebelah Sasuke. Kekasihnya itu masih terlihat pucat sekali. Pasti ada banyak hal yang menjadi beban pikirannya saat ini. Hinata bahkan sengaja mematikan ponsel Sasuke agar kekasihnya ini bisa beristirahat.
"Ada apa?" tanya Hinata pula.
Namun Sasuke hanya berubah diam. Tapi perlahan-lahan genggaman tangannya pada Hinata sedikit menguat. Sungguh, Sasuke ingin sekali mengatakan hal jujur di dalam hatinya saat ini. Tapi Sasuke tidak menemukan kata-kata yang pas. Dia tidak ingin menyakiti Hinata, tapi tidak ingin membuat Hinata seperti ini karena perasaannya.
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Sasuke agar semuanya tidak tersakiti?
"Hinata, sebenarnya—"
"Ayo kita pergi."
Sasuke terlihat kaget mendengar Hinata yang langsung memotong kalimatnya.
Hinata tahu apa yang mungkin dikatakan Sasuke saat ini. Tapi Hinata tidak akan pernah memberikan Sasuke kesempatan untuk itu. Tinggal sedikit lagi usahanya akan bersama dengan Sasuke selama-lamanya. Hinata tidak ingin sesuatu sekecil apapun mengubah mimpinya selama ini. Hinata tidak ingin menyia-nyiakan tahun-tahun penantian panjangnya hanya untuk bisa hidup bebas bersama dengan Sasuke. Bukan hidup dalam persembunyian seperti ini.
"Sasu, kau mungkin berpikir aku ini egois. Ya, aku memang egois Sasu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa agar kau tetap berada di sisiku. Aku sadar, perasaanmu perlahan sudah berubah. Aku tahu, hatimu tak sama lagi seperti dulu. Dan aku tahu, mungkin bukan aku lagi yang kau pikirkan saat ini. Tapi Sasu, aku sudah pernah mengatakannya kan? Tanpamu aku mati. Jadi, jika seandainya kau hanya ingin mengatakan perasaanmu sudah berubah padaku, maka biarkanlah aku mati kali ini."
"Hinata, apa yang kau katakan?"
"Seluruh dunia ini memusuhiku, Sasu. Hanya kau yang kumiliki. Kalau kau juga pergi… lalu untuk apa aku ada di dunia ini? Bukankah lebih mudah memintaku mati daripada kau yang pergi? Mungkin perasaanmu memang sudah berubah padaku. Aku tahu itu, Sasu. Tapi bisakah kau berada di sisiku meski perasaanmu telah berubah?"
Sasuke diam mendengarkan semua keluh kesah Hinata.
Hal inilah yang membuat Sasuke selalu tak tega pada gadis sebatang kara ini. Karena perbuatan ayahnya, Hinata harus menanggung penderitaan sebesar ini. Sendirian di dunia sebesar ini, bagaimana bisa Hinata melanjutkan hidupnya?
Hinata kemudian menangis dan beranjak memeluk Sasuke dengan erat.
"Tetaplah di sisiku, Sasu. Meski perasaanmu telah berubah, tetaplah di sisiku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini… rasanya menyedihkan seperti ini. Tapi aku tak punya pilihan… tolong aku, Sasu…" isak Hinata.
Ya… tanpa Sasuke, Hinata tak akan bisa apa-apa.
Tapi gadis itu… pasti bisa. Dia adalah gadis yang jauh lebih kuat dari siapapun.
Mungkin benar Sasuke… tak memiliki kesempatan bersama dengannya, tapi perasaan Sasuke tidak akan pernah berubah untuknya. Hanya inilah yang bisa Sasuke lakukan.
"Baiklah, ayo kita pergi…" lirih Sasuke.
.
.
*KIN*
.
.
"Sudah siap!"
Sakura dengan senyum sumringah membawa sebuah nampan yang berisi dua mangkuk mie ramen panas dan dua kaleng jus. Itachi sudah menunggu di depan teras apartemen Sakura. Untungnya di teras ini punya meja berkaki rendah yang bisa mereka jadikan tempat duduk. Langsung saja Itachi dan Sakura duduk berhadapan di atas meja itu.
"Hati-hati, masih panas," pesan Sakura setelah meletakkan mangkuk pertama di hadapan Itachi.
"Wah, kelihatannya enak," puji Itachi.
"Tentu saja enak. Aku ini paling ahli membuat mie ramen," ujar Sakura.
Itachi mencicipinya setelah meniupnya dengan sedikit bersemangat.
"Ahaha, kau benar. Ini enak. Tapi, apa kau bisa memasak makanan lain selain ini?" tanya Itachi.
"Uhm, mungkin masakan rumahan sederhana? Kalau kau ingin masakan bintang lima, aku tidak bisa. Memang kenapa?"
"Bagus juga, aku juga senang masakan rumahan. Kau harus membuatkannya untukku lain kali."
"Boleh saja. Tapi kenapa kau tanya itu?" tanya Sakura penasaran.
"Kau tidak mungkin kan nanti membuatkanku mie ramen setiap hari? Baguslah kalau kau bisa memasak…"
Membuatkan mie ramen setiap hari?
Setiap hari…
"Kenapa aku harus membuatkanmu mie ramen setiap hari?" tanya Sakura polos.
"Karena isteriku harus memasakkan makanan untuk suaminya kan?"
Hee?
Tampang Itachi yang tadinya serius berubah konyol dan diselingi dengan tawa lebar karena melihat ekspresi kaku Sakura. Setelah sekian detik dari tawa Itachi, Sakura baru sadar apa yang dikatakan Itachi dan langsung salah tingkah. Wajahnya memerah otomatis dan langsung melahap mie di dalam mangkuknya dengan ganas.
"PANAAAASSS!" pekik Sakura.
Itachi semakin tertawa karena sekarang Sakura melompat setelah sepertinya seluruh mulutnya terbakar oleh panas mie buatannya sendiri. Dengan segera, Sakura menyambar kaleng jusnya dan meminum semuanya dengan sekali teguk. Astaga…
Lidah Sakura benar-benar mati rasa sekarang…
"Apakah kau selalu bertingkah konyol begini setiap kali digoda oleh laki-laki?" tanya Itachi.
"Enak saja… aku tidak pernah digoda seperti ini…" sungut Sakura.
"Kalau begitu, aku tidak menggodamu. Ini sungguhan…"
"Itachi-san… jangan bercanda begitu…" gerutu Sakura.
Itachi hanya tersenyum simpul setelah puas menertawai gadis cantik ini. Selagi Sakura sibuk mengurus mulutnya yang masih terasa panas itu, Itachi menyadari bahwa sudut bibir gadis berambut pink ini masih terdapat bekas kuah mie ramen di sana. Segera saja Itachi mengeluarkan saputangannya. Tapi Sakura tidak menyadari apa yang dilakukan Itachi sehingga akhirnya, Itachi memilih langsung menyeka bekas itu. Dan tentu saja Sakura langsung terlonjak kaget karena tiba-tiba tangan Itachi sudah tiba tepat di depan wajahnya.
"Eh? Itachi-san… apa yang kau lakukan?" tanya Sakura bingung.
"Jangan bergerak. Karena kehebohanmu itu sekarang wajahmu penuh dengan kuah ramen," ujar Itachi.
Sebelah tangan Itachi memegangi wajah Sakura dan sebelah lagi dengan saputangannya mengusap noda kecokelatan itu. Sakura tetap diam seperti perintah Itachi. Itachi mungkin hanya fokus pada noda yang berusaha dihilangkannya itu. Tapi tidak untuk Sakura.
Semakin lama Sakura memperhatikan wajah Itachi, pikirannya jauh menerawang.
Dua orang ini begitu mirip. Jika begini mirip, bagaimana Sakura bisa melupakannya? Rasanya benar-benar… benar-benar…
"Sudah selesai."
Begitu Itachi menyelesaikan tugasnya, Itachi baru menyadari ternyata Sakura sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk lesu. Apalagi yang dipikirkannya?
"Sakura?" panggil Itachi.
Sakura mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum seadanya.
"Ya?" jawab Sakura.
"Karena aku penasaran, aku tidak bisa menahannya lagi. Bolehkah kau memberitahuku sekarang, siapa orang baik yang kau temui itu?" tanya Itachi.
"Eh?"
"Aku hanya penasaran, orang sebaik apa… yang begitu ingin kau temui meski kau mengatakan badanmu sedang tidak sehat, bahkan kau menolak diantar olehku. Jujur saja ini benar-benar menggangguku seharian ini," jelas Itachi.
Sakura merasa lega.
Ternyata Itachi benar-benar peduli padanya. Setidaknya, Itachi memang memperlihatkan kesungguhannya pada Sakura, meski sampai hari ini Sakura tetap belum bisa mengubah apapun di dalam hatinya. Meskipun cat yang baru itu sudah tiba, tapi Sakura belum bisa menambal cat lamanya. Sakura baru saja berubah jadi buih, dan perlu waktu untuk kembali berubah. Ya, kali ini Sakura bingung. Perubahan seperti apa yang akan terjadi padanya nanti. Apakah dia akan berubah menjadi putri duyung lagi, atau menjadi salah satu putri di dalam cerita dongeng. Jika iya, putri mana yang akan dia perankan kali ini. Karena dihadapannya, masih seorang pangeran meski bukan pangeran impiannya.
Atau mungkin, Sakura tak akan berubah menjadi apapun. Tetap menjadi buih…
"Orang itu… ayah Itachi-san," ujar Sakura akhirnya.
"Ayah… ku?" ulang Itachi.
"Ya, beliau adalah ayah Itachi-san… dan Sasuke. Beliau adalah orang baik yang selalu mendukungku di saat kondisi tersulitku setelah mengenal Uchiha Sasuke. Beliau juga, yang begitu hangat menyambutku di dalam keluargamu. Makanya, beliau adalah… orang paling baik yang pernah kutemui," jelas Sakura.
Itachi bingung kali ini. Mungkinkah alasan kenapa ayahnya menyetujui Itachi untuk melindungi Sakura adalah karena ayahnya…
Ya, Itachi memang tahu jika ayahnya pernah bertemu dengan Sakura. Ibunya juga pernah mengatakan hal itu. Tapi Itachi tak menyangka jika ternyata mereka berdua… cukup mengenal dekat. Apalagi Sakura bahkan menyebutnya orang paling baik yang pernah dikenalnya.
"Apakah… Sasuke tahu kau pernah bertemu dengan ayah kami?" tanya Itachi.
"Kurasa tidak. Aku tidak pernah membicarakan itu padanya. Tapi, ada satu hal yang membuat perasaanku mengganjal hingga hari ini. Aku sungguh penasaran, tapi kupikir ini sama sekali bukan urusanku. Aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang usil dengan urusan keluarga orang lain. Tapi… melihat Paman sesedih itu… aku…"
"Apa yang ingin kau tahu?"
Sakura mengangkat wajahnya dan memperhatikan wajah Itachi dengan cukup lama sampai akhirnya dirinya memiliki keberanian untuk mengatakannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara Sasuke… dan Paman? Mengapa Sasuke begitu membenci Paman? Kenapa… Paman sebaik itu, bisa dibenci oleh Sasuke yang adalah anaknya sendiri? Apa salah Paman itu sampai… Sasuke berani meninggalkan rumah?"
Apa yang ditanyakan oleh Sakura tidaklah salah. Bahkan sebenarnya dia berhak mengetahui semua ini setelah Sakura terseret dengan semua masa lalu ini. Walau pada akhirnya, jika Itachi berani membuka kenyataan ini di depan Sakura, maka Itachi juga harus membuka semuanya. Walau sebenarnya tidak ada alasan untuk menyembunyikan hal ini pada Sakura.
"Sakura… jika kau ingin tahu, maka aku harus membuka semuanya. Bahkan mulai dari masa lalu keluarga kami tiga tahun yang lalu yang berhubungan dengan… Hyuuga Hinata."
Sakura terbelalak lebar bukan main. Kenapa ada nama Hyuuga Hinata di sini? Dan bahkan… tiga tahun yang lalu? Tahun dimana Sasuke meninggalkan rumah dan hidup di dalam persembunyian bersama Hinata? Jadi…
Syok, tentu saja. Jantung Sakura bahkan berdegup kencang bukan main. Sesak…
"Sebelum ini, keluargaku sudah meminta Hinata meninggalkan Sasuke. Kami bahkan memberikannya kompensasi yang cukup supaya dia bersedia meninggalkan Sasuke. Tapi gadis itu tidak terima. Sasuke yang mengetahui hal itu marah dan meninggalkan rumah begitu saja. Ya, kupikir selama tiga tahun ini aku tak akan lagi mendengar nama Hyuuga Hinata, tapi ternyata aku bertemu lagi dengannya. Dan tentu saja, itu benar-benar membuatku kesal."
"Jadi… selama ini… Itachi-san tahu, soal aku yang menjadi… kekasih bohongan… Sasuke?"
"Aku tahu. Aku tahu semuanya dari mulut Hinata. Maaf aku merahasiakan semua ini darimu. Tapi sungguh, aku tak bermaksud untuk menipumu atau apapun itu. Perasaanku padamu, bukan karena aku kasihan padamu. Aku tulus. Sepenuhnya tulus dan jujur kepadamu. Aku takut setelah kau mengetahui semua ini, kau akan meragukan perasaanku padamu, jadi sebelumnya, aku akan menegaskannya padamu. Aku, bersungguh-sungguh padamu, Haruno Sakura. Aku benar-benar mencintaimu…"
"Aku… mengerti itu…" lirih Sakura.
"Terima kasih kau sudah mengerti. Jadi… aku akan menceritakan semuanya padamu… semua yang kuketahui selama ini… rahasia keluarga Uchiha padamu…"
.
.
*KIN*
.
.
Kini di malam yang larut ini, Sakura masih terduduk di teras depan apartemennya.
Bersama dengan dua mangkuk mie dan dua kaleng jus.
Sendiri.
Setelah menceritakan segalanya, Itachi tak mengatakan apapun lagi pada Sakura. Itachi kemudian pamit pulang setelah memastikan Sakura baik-baik saja.
Tapi Sakura tidak merasa baik setelah mendengar semua yang terjadi sebenarnya di dalam keluarga Uchiha ini. Rahasia yang selama ini ditutup begitu lama dan begitu rapat. Hingga akhirnya Sakura semakin merasa kasihan dengan sesosok pria paruh baya yang baik hati itu. Sakura menyesal kenapa baru sekarang dirinya mengetahui semua kebenaran ini. Jika Sakura mengetahui semua lebih cepat…
Apa yang harus dilakukan oleh Sakura sekarang?
Tidak ada. Meskipun ada, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sakura seperti ini. Tidak ada.
Sakura menatap ponsel yang kini berada di dalam genggamannya.
Sejak tadi, dirinya hanya menatap kosong layar ponsel itu tanpa berbuat apapun. Hingga kini, larut sudah kiat mendekat. Apakah… ini tidak apa-apa?
Sakura sudah mengakhiri segalanya. Sudah seharusnya Sakura bisa melakukannya. Dia harus kembali menjadi Haruno Sakura sebelum mengenal Uchiha Sasuke. Ya, Sakura harus melakukannya jika ingin semuanya kembali baik-baik saja. Sakura akan melakukannya meskipun harus menahan gejolak hatinya sendiri. Ya, ini adalah kewajiban yang harus dilakukannya saat ini. Mau tidak mau.
Sakura membuka layar ponselnya dan mencari dari sedikit daftar nama yang ada di dalam ponselnya itu. Ya, Sakura memang tidak punya banyak nama yang disimpannya di dalam ponsel itu. Hanya nama-nama orang yang menurutnya penting dan sering dihubungi saja. Meskipun pada kenyataannya ada satu nama yang tidak begitu sering dihubunginya.
Sakura berjanji dia hanya akan melakukan satu kali panggilan. Jika dalam satu kali panggilan tak ada jawaban dan tak ditelepon kembali, Sakura akan menyerah. Sakura sudah berjanji di dalam hatinya. Jadi, dia tak akan melanggar janjinya sendiri.
Sakura menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu di daun telinganya. Dering pertama, dering kedua, dering ketiga… hingga dering selanjutnya tak ada panggilan tersahut. Hingga detik-detik dering terakhir tetap tak ada respon. Konyol…
Mana mungkin diangkat kan? Apakah sungguh harus berakhir seperti—
"Halo?"
Sakura sempat menahan napas. Rasanya baru kemarin Sakura mendengar suara ini. Tapi dia sudah merindukannya begini gila. Dirinya sempat merasa sesak yang amat menyiksa. Hingga akhirnya air matanya jatuh juga.
"Sakura?"
Sakura menutup mulutnya dengan satu tangannya. Hatinya masih berdebar setiap kali laki-laki ini memanggil namanya. Tapi kali ini, debaran ini terasa begitu sakit.
Sekian lama mereka hanya terdiam. Sakura tak menyangka bahwa laki-laki ini tidak menutup sambungannya meski Sakura hanya diam saja setelah sekian lama.
"H-halo…" lirih Sakura akhirnya.
Dia tak membalasnya. Tapi Sakura yakin seyakin-yakinnya, laki-laki itu mendengarnya.
"Sasuke… apa kabarmu?" tanya Sakura akhirnya setelah berhasil mengendalikan dirinya. Ya, seharusnya Sakura minta Ino menemaninya saat ini, agar perasaannya tak terbawa seperti ini.
"Aku baik-baik saja," kata Sasuke. Suaranya memang terdengar baik-baik saja.
"Hei, besok… apa kita bisa bertemu?" tanya Sakura.
"Besok?"
"Hm, besok. Aku ingin bertemu denganmu. Ada… beberapa hal yang belum kukatakan padamu. Dan… kau tidak lupa soal bayaranku kan?" ujar Sakura akhirnya dengan nada cerianya seperti biasa. Sakura sudah berusaha untuk bersikap tenang setelah mati-matian menahan gejolak perasaannya.
"Hm, aku tidak lupa," balasnya kemudian.
"Jadi, kau bisa menemuiku besok?"
"Ya."
"Baiklah, kau ingin kita bertemu dimana?"
"Terserah padamu."
"Oke, aku akan memberitahumu besok. Selamat malam, Sasuke."
Sasuke tak membalas. Tapi sambungan tidak terputus. Sakura menunggu laki-laki tampan itu supaya segera menutup telepon mereka. Tapi Sasuke tak kunjung menutupnya. Bahkan setelah beberapa puluh detik berlalu, sambungan telepon mereka masih menyala.
"K-kalau begitu, aku… tutup dulu," ujar Sakura akhirnya.
Akhirnya, Sakura lebih dulu telepon itu. Ya… sudah.
.
.
*KIN*
.
.
Hinata sudah lama tertidur di pelukannya malam itu.
Tapi Sasuke tidak bisa tidur sekarang ini. Pikirannya menerawang kemana-mana.
Setelah yakin Hinata tidur dengan nyenyaknya, Sasuke beranjak dari kasur itu dan memilih berdiri di beranda sejenak. Cuaca malam hari ini terlihat begitu cerah. Entah kenapa, Sasuke mengambil ponselnya sendiri dan menyalakannya. Sepertinya Hinata yang mematikan ponselnya selagi Sasuke demam tadi. Begitu menyalakannya ada banyak pesan dan panggilan masuk ke dalam ponselnya. Semuanya dari agensi dan manager-nya.
Sasuke hanya melihatnya sejenak tanpa berniat membalasnya apalagi membacanya.
Ketika itulah Sasuke terkejut bukan main ketika ponselnya mendadak berbunyi. Tanda satu panggilan masuk. Tadinya Sasuke akan segera mematikan ponsel itu jika dari agensi atau manager-nya. Tapi tangannya langsung terhenti ketika menyadari nama pemanggil itu.
Sasuke bingung harus apa sekarang ini.
Hatinya benar-benar bimbang. Di satu sisi dia ingin sekali mengangkatnya, tapi di sisi lain, rasanya berat sekali mengangkatnya. Karena, jika Sasuke mengangkatnya, dirinya takut keinginan egois itu akan muncul lagi. Dan sungguh rasanya begitu dilema.
Ketika dering panggilan itu semakin lama, akhirnya Sasuke tak dapat menahan perasaannya lagi. Sejujurnya dia memang sudah merindukan suara gadis cerewet ini.
Sasuke memanggil pelan nama gadis berambut pink itu ketika tak ada jawaban terdengar dari panggilannya. Sasuke bisa mendengar sedikit suara yang tertahan di sana. Hingga akhirnya Sasuke memberanikan dirinya untuk memanggil nama sang gadis.
Pembicaraan mereka mengalir seperti biasa. Sasuke sendiri bahkan sebenarnya bingung bukan main harus bagaimana. Tapi mendengar suara Sakura yang terdengar baik-baik saja itu membuat hatinya lega bukan main. Setidaknya, gadis itu… masih baik-baik saja.
Ketika pembicaraan mereka selesai, Sasuke tak menutup panggilan itu lebih dulu. Dia ingin Sakura-lah yang menutupnya. Jadi Sasuke akan menunggunya seberapa lama pun itu. Karena Sasuke ingin memberitahukan pada gadis itu, setidaknya, bukan Sasuke yang menginginkan hubungan mereka berakhir. Tidak, Sasuke tidak pernah menginginkannya.
Meski Sasuke tahu, mereka berdua menahan beban yang sama beratnya, atau bahkan beban Sakura-lah yang jauh lebih berat.
Namun, yang membuat Sasuke lega saat ini, dirinya tahu, bahwa gadis itu… adalah gadis yang kuat.
.
.
*KIN*
.
.
Pagi ini, Sakura sudah mengirim pesan pada Sasuke dimana mereka dapat bertemu.
Ya, Sakura memilih tempat dimana ayah Sasuke mengajaknya bertemu terakhir kalinya. Di pantai itu.
Sakura mencoba memakai pakaian terbaiknya. Mematut dirinya di cermin meski Sakura tak berdandan sama sekali. Dia hanya ingin terlihat baik di depan Sasuke. Karena mungkin, ini adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Ya, Sakura yakin ini adalah yang terakhir kalinya. Tidak akan ada kedua kalinya lagi. Hari ini, siap atau tidak, mereka akan melepaskan semuanya.
Sakura berjalan menuju halte dimana bus yang akan membawa dirinya pergi.
Seperti biasa, hari ini pun suasananya tampak sepi. Ya, ini masih pertengahan musim dingin. Apalagi kampus Sakura juga sudah diliburkan. Sebentar lagi mereka akan memasuki semester baru.
Sakura merapatkan syal birunya agar sekeliling lehernya merasa hangat. Sebentar lagi dirinya akan sampai.
Begitu tiba di sana, Sakura berjalan mengelilingi pantai itu sejenak. Mungkin Sasuke belum—
Kedua kaki Sakura berhenti melangkah. Di depannya, Sasuke sudah ada di sana sembari berdiri memandangi lautan dengan ombak yang melambai cukup besar. Hari ini Sasuke memakai mantel panjang berwarna hitam dengan syal berwarna putih. Agak lama Sakura diam di sana karena merasa Sasuke belum menyadari kedatangannya. Ya, sebentar saja. Saat ini Sakura ingin berpuas diri memandangi sosok yang akan menghilang sebentar lagi. Sosok yang tak akan pernah lagi ditemuinya.
"Kau sudah datang?"
Seketika itu pula Sasuke menoleh. Sepertinya Sasuke ingin melanjutkan perjalanannya, tapi terhenti karena menyadari Sakura yang berdiri di sana. Sakura berusaha memasang senyum seceria mungkin meski Sasuke terlihat begitu datar.
"Lama menungguku?" tanya Sakura.
"Hm, lama," jawab Sasuke.
"Huh? Memang berapa lama kau menungguku?" tanya Sakura tak mengerti.
"Dua jam."
"Eeh? Kau menunggu selama itu? Di cuaca begini dingin? Kenapa?" tanya Sakura semakin tak mengerti. Orang ini…
"Karena aku ingin melihat wajah bodohmu."
"Kau mengatakan bodoh lagi."
Sedikit, tapi Sakura yakin dirinya melihat Sasuke tersenyum padanya. Sangat samar hingga jika Sakura tak memperhatikan Sasuke, Sakura tak akan tahu jika laki-laki itu tersenyum padanya.
"Nah, sekarang mana bayaranku? Kau tahu kan aku sudah lama menunggunya," ujar Sakura.
"Berapa yang kau inginkan?"
"Eh, berapa? Hm, aku tidak yakin, kau tidak pernah mengatakan padaku berapa kau akan membayarku…" gumam Sakura.
"Aku mengatakan padamu, akan membayar sebanyak yang kau inginkan. Jadi berapa yang kau inginkan?"
"Benarkah kau mengatakannya begitu? Hm… berapa…"
Sakura asyik memikirkan berapa uang yang seharusnya diinginkannya. Sakura tak berpikir jika Sasuke yang akan menanyakan nominal uangnya, karena Sakura pikir Sasuke sendiri yang akan memberikannya.
"Apa kau sungguh akan pergi bersama Itachi?"
Sakura berhenti berpikir ketika Sasuke menanyakan hal itu.
"Ya, aku akan pergi bersamanya. Ke tempat dimana aku bisa melupakan semua ini. Bukankah kau juga akan pergi bersama Hinata, seperti janji kalian dulu?"
"Hm, aku akan pergi bersama Hinata. Besok."
Tangan Sakura sedikit gemetar, tapi kemudian dikepalnya sedikit kuat agar gemetarnya bisa hilang. Sakura sungguh tak menyangka bahwa…
"Cepat sekali…" lirih Sakura.
"Karena jika terlalu lama… aku akan semakin merindukanmu."
Sakura menundukkan kepalanya.
"Nah, segera katakan, berapa banyak yang kau inginkan dariku?" tanya Sasuke lagi.
"Jadi, apa kau sudah memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi kemari?"
"Ya, aku sudah memutuskannya."
Sasuke tidak akan pernah kembali lagi. Artinya Sasuke bersungguh-sungguh tidak akan kembali lagi kemari apapun yang terjadi.
"Kalau begitu, apapun akan kau berikan untukku kan sebagai bayaranku?"
"Ya. Apapun."
"Kalau begitu, sebagai bayaranku… aku ingin minta tolong padamu."
Sasuke mengernyit bingung ketika Sakura mengatakan hal seperti itu. Sungguh gadis ini tidak ingin uang? Bukankah dia mengatakan pada Sasuke kemarin itu dia ingin uangnya saja? Kenapa ini Sakura meminta… tolong?
"Tolong… temui ayahmu untuk terakhir kalinya," lanjut Sakura.
Sasuke membelalakkan onyx hitamnya. Bibirnya sempat gemetar, tapi perasaannya dikendalikannya sebisa mungkin.
"Yang kuingat, kau hanya ingin uang dariku, bukan sebuah permintaan kan?"
"Kau sudah mengatakannya akan memberikan apapun yang kuinginkan sebagai bayaranku?"
"Lalu kenapa kau menyia-nyiakan kesempatanmu hanya untuk hal konyol hah? Kukatakan akan kuberikan semua yang kau inginkan, karena paling tidak… yang kau inginkan dariku adalah…"
Sasuke menghentikan kata-katanya. Rasanya terlalu berat sekarang. Sasuke memegangi kepalanya. Gawat… kepalanya terasa pusing sekarang. Dirinya merasa mual bukan main.
Sakura menyadari keadaan Sasuke yang berubah aneh itu. Langsung saja rasa khawatir bergelayut di dalam benaknya.
"Sasuke, kau baik-baik saja?"
"Jangan ayahku," lirih Sasuke.
"Sasuke…"
"Kau bisa minta apa saja, tapi jangan ayahku. Aku tidak mau…"
"Kau mengatakan tidak akan pernah kembali lagi kan? Beliau ingin bertemu denganmu sekali saja terakhir kalinya denganmu. Kenapa kau tidak mau menemuinya bahkan untuk sekejap saja? Beliau… sudah lama merindukanmu…"
"Kau tidak tahu apa yang dilakukan oleh ayahku di masa lalu?! Kau tidak tahu apa yang dilakukannya hingga membuat keadaanku seperti ini! Kau tidak tahu apa-apa, Sakura!" bentak Sasuke.
"Aku tahu," balas Sakura.
"Apa?"
"Itachi-san sudah memberitahuku semuanya. Aku tahu apa yang dilakukan oleh ayahmu sehingga kau jadi seperti ini. Dan aku tahu… apa yang terjadi dengan keluarga Hyuuga Hinata…"
Sasuke membelalakkan matanya selebar mungkin. Sakura tahu, tidak… Itachi tahu? Bagaimana mungkin Itachi mengetahui…
"Ayahmu adalah orang yang baik, Sasuke. Kau mungkin tidak tahu apa yang sudah beliau lakukan untuk kebaikanmu dan Hinata. Tapi kumohon, temuilah beliau untuk terakhir kalinya. Setelah itu, kau boleh tidak mau lagi menemui beliau, kau boleh pergi dari sini selama-lamanya. Tapi kumohon, temuilah ayahmu. Ayahmu… sangat merindukanmu…"
"Kalau kau memintaku menemuimu hanya untuk hal konyol seperti ini, maaf saja. Aku tidak akan pernah menemuimu."
"Ya, tidak apa-apa kalau kau tidak mau menemuiku lagi. Itu bukan masalah sama sekali asalkan kau mau menemui ayahmu sekali saja. Kau sudah berjanji padaku kan?"
"Tapi aku tidak pernah berjanji untuk mengabulkan permintaan konyolmu ini. Apapun yang dilakukan oleh ayahku, meskipun itu untuk kebaikanku dan Hinata, aku tidak akan pernah memaafkannya."
"Sasuke, kau tidak boleh seperti itu…"
"Terserah padamu."
Sasuke berbalik dan segera mengambil langkah lebar hendak meninggalkan Sakura. Tentu saja reflek Sakura mengejarnya dan menahan langkah Sasuke dengan memegangi lengan laki-laki itu.
"Sasuke, jangan keras kepala seperti ini," pinta Sakura.
"Kau tidak tahu apapun! Jika bukan karena dia, aku tidak akan pernah berada dalam situasi seperti ini!"
"Apa begitu sulitnya memaafkan ayahmu sendiri?"
"Ya! Kau tidak akan tahu sesulit apa rasanya memaafkan orang seperti dia!"
Sasuke menyentakkan pegangan Sakura dan kembali pergi menjauh. Sakura tak kehilangan semangat. Sakura sudah berjanji pada Fugaku dia akan memenuhi keinginan Fugaku. Bagaimanapun, Sakura akan membawa Sasuke menemuinya.
Sakura terus mengejar Sasuke sebisa mungkin, hingga akhirnya laki-laki berambut gelap itu menghentikan langkahnya dan berbalik cepat lalu meraih Sakura. Kini, Sasuke memeluknya dengan sekuat tenaga sampai Sakura merasa dirinya sesak bukan main. Rasanya terhimpit beban yang begitu berat. Sasuke meremas punggung Sakura sambil berusaha menahan emosinya sedari tadi.
Kepalanya sudah pusing bukan main.
"Berhenti mengejarku… atau aku akan berbuat nekat padamu," lirih Sasuke, nada bicaranya penuh dengan peringatan.
"Tidak apa-apa, silahkan saja berbuat nekat, aku tidak peduli asalkan aku bisa membawamu menemui ayahmu."
"Apa yang sebenarnya diberikan oleh ayahku sehingga kau mau melakukan hal konyol seperti ini?! Kau tahu ini terakhir kalinya kita bisa bertemu, tapi apa yang kau lakukan? Seharusnya yang kau inginkan adalah aku!"
"Ayahmu memang tidak memberikan apapun padaku. Tapi beliau melakukan sesuatu yang jauh lebih berarti untukku ketika aku merindukan seorang ayah. Apakah menurutmu itu tidak cukup? Biar pun aku menginginkanmu, kita tidak akan bisa bersama Sasuke…"
Sasuke melepaskan pelukannya dan memegangi bahu Sakura sedikit kasar. Sasuke bahkan meremasnya sedikit kuat. Sakura bisa merasakan kebimbangan yang luar biasa yang dirasakan oleh Sasuke saat ini.
"Baiklah, aku akan menemuinya jika kau begitu menginginkannya. Tapi dalam satu kondisi."
"Apa itu?"
"Biarkan aku menciummu."
Sakura membelalakkan matanya. Apakah orang ini…
"Sasuke…"
"Aku sudah mengatakannya tadi, aku akan berbuat nekat. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau masih ingin aku menemui ayahku?"
Sakura diam sejenak. Jika Sasuke bisa memegang kata-katanya, tidak masalah.
"Baiklah. Lakukan."
"Kaulah yang keras kepala, Sakura."
Sakura hanya diam tanpa membalas kata-kata Sasuke. Sakura menatap laki-laki di hadapannya ini dengan sorot mata yang tajam. Apapun akan dilakukan Sakura agar laki-laki ini mau berhenti keras kepala.
"Tutup matamu, lalu aku akan menciummu," sambung Sasuke.
Tanpa berpikir dua kali, Sakura menutup matanya dengan rapat. Tangannya juga mengepal erat berusaha menahan dirinya sendiri.
Sasuke ingin melakukannya, tapi di luar perjanjiannya dengan gadis ini. Sasuke ingin mencium gadis ini dengan penuh gairah, tapi tidak sebagai perjanjian. Dia tidak pernah ingin melukai hati gadis yang disayanginya dengan pertaruhan seperti ini. Sakura mungkin sudah cukup banyak menderita. Jadi, ini terakhir kalinya… Sasuke membiarkannya menangis. Karena setelahnya, Sakura tak akan melihatnya lagi. Dan tidak ada lagi alasan Sakura untuk menangis dan menderita setelah Sasuke pergi dari hidupnya.
Sakura menunggu cukup lama, tapi tak ada reaksi sama sekali.
Begitu Sakura membuka matanya, dirinya terkejut bukan main karena Sasuke sudah mencapai mobilnya. Langsung saja Sakura memekik memanggi nama artis itu dan berlari mengejarnya. Sakura berusaha sekuat mungkin berlari.
Tapi terlambat. Sasuke sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja. Sakura sempat mengejarnya hingga ke tepi jalan raya, tapi mobil itu tak kunjung berhenti, bahkan… mobil itu terus menjauh darinya.
Akhirnya, setelah cukup jauh berlari, Sakura menghentikan dirinya. Mobil Sasuke… sudah pergi menjauh dan menghilang. Bayangan Sasuke… tak lagi terlihat di depan matanya. Sejauh matanya memandang, hanyalah jalanan hampa yang begitu… kosong.
Sakura hanya tak menyangka seperti inilah akhir dari mereka.
Pertemuan terakhir mereka… benar-benar… selamat tinggal…
.
.
*KIN*
.
.
Seminggu kemudian.
Berita mengenai kepergian Sasuke ke luar negeri secara mendadak itu adalah sebuah duka bagi seluruh fansnya yang ada di Jepang. Secara resmi Sasuke mengumumkan kepergiannya tepat di hari keberangkatannya. Sasuke bahkan tidak memberitahu kemana tujuannya pergi dari Jepang ini. Menurut kabar, agensinya sempat merasa kecewa dengan pilihan ceroboh Super Star itu, tapi Sasuke tetap keras kepala dan tidak mengindahkan sedikit pun saran dari agensi yang sudah membesarkan namanya itu.
Meski pada akhirnya Sasuke tidak menjelaskan alasan kenapa dirinya memilih meninggalkan Jepang di saat debutnya sebagai Super Star tengah naik daun seperti ini. Biasanya seorang artis yang tiba-tiba pergi dari ranah hiburan ketika dirinya mulai beranjak terkenal, pasti ada sesuatu yang memicunya. Sebagian orang berpikir jika yang terjadi pada Sasuke karena beberapa skandal-nya yang sampai membuat dramanya terhenti tiba-tiba itu. Karena proyek drama Sasuke berhenti, rumah produksi itu tetap menjalankan dramanya kembali walau dengan pemain pengganti untuk Sasuke.
Dan setelah seminggu berlalu, tak ada seorang pun yang mengetahui kabar terakhir sang bintang itu. Bahkan mantan manager-nya, Hatake Kakashi tak mengetahui dimana rimba sang artis asuhannya itu. Meski mereka yakin saat ini Sasuke baik-baik saja.
Sakura mendapat informasi dari Ino yang mencari tahu karena penasaran memberi kabar kalau Sasuke sudah mengundurkan diri dari kampus mereka tiga hari sebelum Sasuke memutuskan pergi dari Jepang. Walau Sakura tahu, rencana itu… memang sudah lama berlalu.
Dan hari ini, Sakura sudah selesai dengan bersih-bersih apartemen kecil tempat dimana dirinya menghabiskan hidupnya selama ini. Semuanya sudah dibereskan dan disusun dengan rapi. Ya… semuanya…
"Nee Sakura, kau sungguh… ingin pergi?"
Ino yang sedari pagi menemani Sakura membersihkan apartemen kecilnya ini mendadak merasa sedih bukan main. Jelas saja, sahabat satu-satunya memutuskan pergi dari sisinya. Ino sungguh merasa kehilangan bukan main. Meskipun Ino tahu situasi apa yang dialami oleh Sakura, tapi tetap saja rasanya tidak terima dengan semua ini.
"Maafkan aku…" balas Sakura.
"Kupikir… kita akan lulus bersama, mencari kerja bersama, menikah bersama… dan semuanya bersama-sama… aku tak menyangka… semua ini terjadi padamu sampai membuatmu memutuskan pergi seperti ini," ujar Ino.
Sakura kemudian beranjak memeluk sahabat terbaiknya itu.
Mana mungkin Sakura tidak meneteskan air mata melihat Ino yang begitu sedih dengan kepergiannya. Sakura juga merasa sedih. Sejak orangtuanya tiada, Sakura memang hidup seorang diri. Bertahan seorang diri dan menyanggupi dirinya sendiri. Tapi ketika bertemu Ino, Sakura sudah tak merasa sendiri lagi. Ino adalah keluarga yang Sakura miliki saat ini, tapi sekarang dengan egoisnya Sakura harus meninggalkan keluarga satu-satunya ini.
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, Ino. Aku berpikir bisa selamanya ada di sini, tapi… tapi jika aku tidak pergi… aku takut akan memikirkan Sasuke terus menerus…" isak Sakura.
Ino akhirnya ikut menangis mendengar pengakuan sahabat baiknya ini. Bagaimanapun Sakura sudah memutuskan untuk hidup lebih baik bersama Itachi, tidak seharusnya Ino merengek seperti ini pada Sakura yang sekarang mencoba untuk menghapus masa kelamnya di sini.
"Maafkan aku, Sakura... aku hanya merasa sedih sekali berpisah denganmu. Aku juga ingin kau bahagia… maafkan aku, sungguh maafkan aku yang bicara begitu egois padamu…"
Seketika itu pula dua gadis ini berpelukan begitu lama dan membiarkan isak tangis mereka memenuhi seluruh ruangan. Memang berat rasanya, tapi sungguh Sakura tak punya pilihan lain. Sakura saat ini sungguh tak bisa hidup di sini. Dan pergi menjauh adalah satu-satunya jalan terbaik yang Sakura miliki.
Setelah menangis melepas emosi itu, akhirnya kedua sahabat ini bisa tertawa bersama lagi. Mereka tersenyum seraya saling melempar ejekan satu sama lain. Karena mereka tahu, mungkin waktu yang akan mereka lalui setelah ini adalah waktu yang panjang. Dan entah kapan akhirnya mereka akan kembali bersama seperti ini lagi.
Setelah membantu membereskan apartemen Sakura, Ino mengajaknya untuk makan bersama di sebuah kedai yang tak jauh dari apartemen Sakura. Karena ini sudah malam, jadi paling tidak mereka bisa bepergian tanpa harus mendengar sindiran orang lain.
"Aku mau ramen saja," usul Sakura setelah mengenakan pakaian musim dinginnya.
"Heee? Apa hanya ramen yang ada di kepalamu itu? Kita coba makan yang lain. Bagaimana kalau sushi?"
"Heeee, itu mahal…" keluh Sakura.
"Hei, kau mengatakan sudah mendapatkan bayaran dari artis sial itu kan?! Sebagai perpisahan terakhir kenapa kau tidak traktir aku saja huh?"
"Bayaran apa… dia bahkan melarikan diri setelah mempermalukan diriku," geram Sakura.
"Hah? Melarikan diri? Mempermalukanmu? Apa yang terjadi? Kau tidak cerita padaku?" heboh Ino.
"Aku terlalu malu untuk cerita padamu! Makanya aku diam saja," sungut Sakura.
"Hei! Kau sudah berjanji tidak akan merahasiakan apapun lagi padaku kan?"
"Ini berbeda dengan apa yang kukatakan waktu itu,"
Sakura segera membuka pintu rumahnya untuk segera membuat Ino menutup mulutnya yang cerewet itu. Bagaimana mungkin Sakura menceritakan hari dimana terakhir kali dirinya melihat Sasuke. Sungguh memalukan. Sakura baru menyadari dirinya yang begitu memalukan itu ketika dirinya sudah tiba di rumahnya. Sungguh memalukan!
"Oh, kau mau pergi?"
Ketika membuka pintu, Sakura terkejut melihat Itachi yang berdiri di depan pintu rumahnya sambil mengangkat sebelah tangannya. Sepertinya Itachi hendak mengetuk pintu rumahnya.
"Itachi-san? Sedang apa di sini?" tanya Sakura bingung.
"Sebenarnya aku ingin memberimu kejutan, tapi sepertinya kau mau pergi ya dengan Yamanaka-san?"
"Hee? Oh ini, kami baru—"
"Memberi kejutan untuk Sakura? Wah boleh saja. Aku akan mengalah hari ini, tapi besok kalian harus mentraktirku makan di restoran bintang lima. Bagaimana? Hitung-hitung sebagai kado perpisahan dari sahabatku yang manis ini."
"Hei, Ino! Kau bicara apa?" bisik Sakura.
"Apakah benar tidak apa-apa? Aku jadi mengganggu kalian," ujar Itachi.
"Tidak, tidak. Sama sekali tidak mengganggu. Seharian ini kami juga sudah bersama, kalau begitu aku pulang lebih dulu. Sampai nanti, Itachi-san."
Setelah mengatakan hal itu, gadis pirang itu justru pergi begitu saja. Sakura mencoba menghentikannya tapi Ino keburu pergi dengan gesitnya. Astaga…
"Maafkan temanku satu itu ya," kata Sakura tak enak.
"Tidak apa-apa. Aku benar-benar akan mengajaknya makan di restoran bintang lima kok karena sudah mengalah hari ini untukku," jelas Itachi.
"Tapi… kita mau kemana memang?"
"Kau akan tahu setelah kita tiba di sana."
Seperti biasa, Itachi menuntun Sakura untuk sampai di mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk Sakura dan bersikap baik. Perlakuan lembut seperti itu tentu saja membuat gadis mana pun terpesona seketika. Untuk Sakura yang begitu lama memimpikan akan seorang laki-laki yang begitu jantan memperlakukannya bak seorang putri, tentu saja Sakura terharu bukan main. Setidaknya, dengan Itachi, Sakura tak akan berubah menjadi buih kan?
Tak terasa perjalanan mereka sudah usai.
Sakura sudah tak merasa heran lagi jika Itachi sering membawanya pergi ke tempat begini mahal. Malam ini, Itachi bahkan mengajaknya ke sebuah restoran bintang tujuh di sebuah gedung pencakar langit. Sepertinya sih ini hotel karena pemandangan restorannya yang berada di puncak gedung dengan jendela kaca yang memperlihatkan seluruh kota Tokyo dengan begitu indah.
"Itachi-san, kalau kau mau pergi kemari, bisakah memberitahuku?" keluh Sakura.
"Kenapa? Aku sudah mengatakannya kan ini kejutan?"
"Setidaknya aku bisa memperbaiki pakaianku…" lirih Sakura.
Itachi diam sejenak sembari memandangi Sakura dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum mereka masuk ke dalam restoran itu. Sakura tak berwajah merah karena malu dengan penampilannya sekaligus dengan pandangan Itachi padanya. Jelas saja karena mala mini sebetulnya Sakura berencana makan di kedai pinggiran saja. Makanya dia hanya mengenakan sepatu boot biasa, dengan jaket musim dinginnya, syal dan topi rajutannya. Rasanya benar-benar tidak sebanding dengan Itachi yang mengenakan pakaian formal dengan mantel panjang berwarna cokelat muda, vest dan kemeja berwarna putih.
Tak lama kemudian Itachi tertawa lebar.
"Aku benar-benar malu saat ini, jadi jangan menertawaiku," rengek Sakura.
"Kau lebih baik seperti ini. Karena seperti ini, adalah Sakura yang aku sukai. Kau adalah satu-satunya gadis tercantik dengan apa adanya dirimu tanpa perlu menipu penampilanmu sendiri."
Sakura terdiam sejenak dengan kata-kata Itachi itu.
Sejenak… Sakura sempat berpikir…
Jika Sasuke sungguh menyukainya dengan tulus… apa yang membuat Sasuke menyukainya? Apakah Sasuke menyukainya seperti apa yang dikatakan oleh Itachi padanya? Ataukah… ada hal lain? Sakura penasaran akan hal itu.
"Tidakkah menipu penampilan itu salah satu taktik wanita untuk menggaet pria tampan dan kaya sepertimu? Karena kebanyakan pria selalu tertarik dengan wanita yang mampu menipu penampilannya dengan hebat."
"Tapi aku bukan pria seperti itu. Sekarang, kita harus masuk. Dia pasti sudah menunggu lama."
"Heee? Ada orang lain? Siapa?"
"Nanti kau juga akan tahu…"
Itachi hanya tersenyum seraya menggandeng Sakura dengan segera.
Astaga… orang ini benar-benar hebat membuat Sakura berdebar tak karuan!
.
.
*KIN*
.
.
"Aku begitu terkejut ketika Itachi mengabarkan bahwa kau ingin makan malam bersama. Sungguh menyenangkan akhirnya kita bertemu lagi."
Sialan Itachi.
Sakura hanya mampu meremas ujung sweater panjang yang dikenakannya ini. Jelas saja, Sakura kan mengenakan pakaian yang begitu kasual. Sungguh tidak sopan berada di restoran yang begini mahal dengan pakaian yang begini memalukan.
Apalagi sekarang ini Sakura malah bertemu lagi dengan Fugaku… huuu…
"Aku mohon maaf," ujar Sakura sembari menundukkan kepalanya dalma-dalam di hadapan Fugaku. Karena saat ini Sakura tepat duduk di sebelah Itachi dengan Fugaku yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau minta maaf tiba-tiba?" tanya Itachi bingung.
"Karena… pakaianku yang tidak begini sopan menemui Anda, Paman…" lirih Sakura.
"Jangan terlalu dipikirkan. Pakaian tidak akan membuatmu terlihat tidak sopan sama sekali. Yang diperlukan adalah sikap, bukan begitu, Itachi?" ujar Fugaku.
"Nah, ayahku sudah mengatakan seperti itu. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan lagi. Angkat kepalamu," bujuk Itachi.
Ragu, perlahan Sakura mengangkat kepalanya. Rasanya benar-benar malu meskipun ayah anak ini mengatakan hal seperti itu.
"Jadi, kalian akan berangkat lusa pagi?" tanya Fugaku seraya mengiris daging steaknya sebagai menu makan malam mereka hari ini.
"Ya, karena itu aku ingin mengajak Otou-san makan malam bersama hari ini karena besok ada banyak hal yang harus kulakukan."
"Kemana kalian akan pergi?"
Itachi menoleh ke arah Sakura yang tengah mengiris dengan pelan makan malamnya itu. Sebelum ini, Itachi sudah berdiskusi kemana mereka sebaiknya pergi. Tapi Sakura hanya mengatakan kemana saja bukan masalah asal bersama dengan Itachi. Tapi Sakura juga mengatakan kalau dia tidak tertarik sama sekali pergi ke luar negeri. Entah apa yang dipikirkan olehnya, tapi sepertinya Sakura benar-benar tidak ingin pergi ke luar dari Jepang. Dia hanya tidak ingin tinggal di Tokyo untuk sementara ini.
"Kami memutuskan pergi ke Hokkaido," ujar Itachi akhirnya.
"Hokkaido? Kenapa tidak coba ke luar negeri? Bukankah lebih baik di sana karena fasilitas pendidikan jauh lebih baik? Mungkin sebaiknya kalian pergi ke Amerika atau Inggris."
"Sakura tidak ingin pergi ke sana," jawab Itachi.
Fugaku diam sejenak. Merasa percakapan mereka terhenti tiba-tiba, akhirnya Sakura sadar bahwa dirinya yang tengah dibicarakan saat ini. Akhirnya Sakura menghentikan makannya dan menatap Fugaku dan Itachi bergantian.
"A-aku hanya—"
"Hokkaido juga memiliki pemandangan yang bagus. Pastikan kalian berkeliling Hokkaido dengan baik. Mungkin sesekali aku juga akan berkunjung ke sana," sela Fugaku.
"Hm, mungkin kita bisa pergi ke Okinawa. Aku sudah lama tidak melihat laut Okinawa dan makan seafood di sana," lanjut Itachi.
"Aku benar-benar minta maaf!" sela Sakura akhirnya.
Dua pria itu kembali diam. Sakura tahu yang mereka bicarakan sedari tadi hanyalah untuk membuat Sakura merasa lebih baik.
"Aku mohon maaf, karena aku… keluarga Paman dan Itachi-san… aku benar-benar minta maaf, seharusnya aku tidak—"
"Bukankah sudah kukatakan ini bukan karenamu?" sela Itachi.
"Seminggu yang lalu, aku bertemu dengan Sasuke, Paman. Karena dia mengatakan itu adalah pertemuan terakhir kami. Dia mengatakan kalau Sasuke… memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Sebelum Sasuke pergi, aku sudah membujuknya untuk bertemu dengan Paman sekali saja. Karena kebodohanku, Sasuke justru pergi begitu saja dan—"
"Sakura, sudah cukup," potong Fugaku.
"Tapi…"
"Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan hingga hari ini. Aku benar-benar merasa bahagia ketika kau berusaha begitu keras untuk membuat Sasuke mau bertemu lagi dengan ayahnya ini. Walau apapun yang dilakukan Sasuke, aku tidak akan pernah membencinya. Dan aku tidak akan pernah menyalahkanmu atas apapun. Aku percaya padamu."
"Paman…"
"Kalau begitu, bisa kau memanggilku, Otou-san?"
"Hee?" Sakura membelalakkan matanya selebar mungkin.
"Apa kau merindukan ayahmu?" tanya Fugaku.
"Ya, sangat…" lirih Sakura.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak memanggilku Otou-san saja? Kau sudah kuanggap seperti putriku sendiri."
"Apa… aku boleh?"
"Tentu saja…"
"Otou… san…"
"Hm, mungkin aku akan lebih sering mengunjungi kalian di Hokkaido. Kudengar bisnis Uchiha di sana sudah berkembang dengan baik."
Dan entah kenapa, malam itu menjadi malam yang begitu menyenangkan untuk Sakura.
Ya, seharusnya itu adalah malam terindah yang pernah Sakura lalui di dalam hidupnya.
Dia memang kehilangan seseorang yang dicintainya, tapi Sakura mendapatkan lebih banyak orang yang menyayanginya dengan sepenuh dan setulus hati. Sakura mungkin bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik sekarang. Meski akhirnya… cintanya tetap bertepuk sebelah tangan.
Karena pada akhirnya, Sasuke tetap memilih kekasihnya.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Yap Minna, chapter depan adalah chapter terakhir dari fic ini. Semoga saya bisa cepat menyelesaikan chapter terakhirnya yaa.
Oh ya, mungkin ada beberapa yang gak suka sama chapter ini, tapi saya mohon, cobalah melihat situasi semua tokoh dari sudut pandang yang berbeda. Karena penyelesaian akhir ada di chapter terakhir.
Ah ya, balas review dulu…
Perempuan : makasih udah review senpai… hm, sebenarnya saya bingung apa yang mau saya balas dari review anda, tapi saya pikir anda terlalu berlebihan menanggapi sebuah fic. Ini kan hanya fiksi kenapa harus marah dengan tokoh fiksi? Maaf kalo saya berkata seperti ini.
Guest : makasih udah review senpai… ya ini udah lanjut lagi hehehe
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… iya endingnya chapter depan yaa hehehe
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya ini lanjut lagi…
Kazama Sakura : makasih udah review senpai… hahaha seharusnya sih begitu yaa…
Suket alang alang : makasih udah review senpai… maaf gak kilat yaa, ini udah update lagi kok hehehe
Clallucinttahdyaa : makasih udah review senpai… heheh iya ini udah update lagi kok…
Silent reader : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi kok hehehe
Sofi asat : makasih udah review senpai… hehehe boleh juga sih hehe
Henilusiana39 : makasih udah review senpai… heheh iya dong kan Sakura dari awal suka sama Sasuke, tapi gak bisa bilang karena kondisi mereka yang gak mendukung.
Guest : makasih udah review senpai… tunggu chapter terakhir yaaa
Tataruka : makasih udah review senpai… wah, ini kan rate T, masa ada lime heheh iya ini udah update lagi kok…
Sasusaku's fans : makasih udah review senpai… iya makasih banyak semangatnya yaa heheh ini udah update lagi hehe
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi hehehe
Jeremy Liaz Toner : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheh jangan didorong dong heheh
Manda Vvdenarint : makasih udah review senpai… ahahah iya kayaknya yaa kasihan juga sih hehe
Miskiyatuleviana : makasih udah review senpai… ahahah ditunggu endingnya yaa, saya juga sebenarnya sulit di posisi Sasuke itu, makanya dia bingung harus bersama siapa sih.
Tamaki William Onyx : makasih udah review senpai… kalo tanya akhirnya, nanti di chapter depan yaa hehehe
Mantika mocha : makasih udah review senpai… hehehe ini udah lanjut lagi yaaa
Chizuru Mey : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi, terima kasih yaa sama sudut pandang kamu, saya suka sekali sama sudut pandang kamu yang menanggapi fic ini seharusnya seperti apa, karena memang saya mau pembaca melihat seperti apa yang kamu lihat sebenarnya hehhe makasih ya sekali lagi karena tiap baca review kamu saya semangat melanjutkan fic ini terus heheh
Uchihayuki chery : makasih udah review senpai… chapter depan terakhir kok hehehe
Anka-chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe mereka sulit jujur karena gak mau sakit menyakiti heheh
An username : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Sasusaku : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh makasih yaa udah lanjut baca fic saya lagi hehehe
NekoCherry : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa ini udah lanjut lagi kok heheh
Putri Hyuuga : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa hehehe
Lynn : makasih udah review senpai… makasih banyak heheh iya saya memang suka ganti penname kalo dapet feel pengen ganti heehe
Mikyo : makasih udah review senpai… iya chapter depan terakhir hehehe makasih banyak yaa ini udah lanjut lagi hehehe
Subarashii Shinju : makasih udah review senpai… kalo gitu saya bisa panggil apa nih heheh, wah terima kasih yaa walaupun saya penulis amatir gini kok, tulisan saya pun masih perlu banyak koreksi hehehe
Sakura uchiha stivani : makasih udah review senpai… heheh saya memang suka menulis chapter panjang sih hehehe
Re UchiHaru Chan : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Axwdgs : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi kok hehehe
Hseya : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
Arada : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi heheh
Makasih banyak yang udah meluangkan waktu untuk fic saya.
Jaa Nee!
