Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Sasuke tidak tidur malam itu. Ia hanya duduk diam di sisi tempat tidurnya, menunggu Naruto bangun. Sama sekali belum terlihat tanda-tanda Naruto akan hidup lagi setelah pukulan telak Sasuke yang merenggut nyawanya. Bagaimana kalau Orochimaru membohonginya lagi? Berbagai macam prasangka memenuhi otak Sasuke dan kalau seandainya Naruto belum bangun juga sampai matahari terbit, Sasuke tak tahu apa yang akan dia lakukan.

Malam itu rasanya adalah malam terpanjang dalam hidup Sasuke. Ketika seberkas cahaya matahari menembus celah di antara tirai jendela Sasuke, tanda bahwa matahari sudah terbit, ketegangan Sasuke memuncak. Tapi tepat saat itu Naruto bergerak dan mengeluarkan erangan pelan. Sasuke bangkit dari kursinya untuk pindah di sisi tempat tidur.

Naruto membuka matanya. Sasuke lega iris di balik kelopaknya masih biru cemerlang seperti biasanya. Naruto beringsut dan mendudukkan dirinya, memandang sekelilingnya dengan bingung dan tatapannya terpaku pada Sasuke.

"Kukira aku mati," ucap Naruto. "Dimana aku?"

"Apartemenku," jawab Sasuke singkat.

Naruto mengurut keningnya. "Sumpah, aku yakin sekali aku sudah tewas semalam. Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia tidak yakin bagaimana harus menjelaskan apa yang terjadi pada Naruto. Tapi Naruto harus tahu. Sasuke berdehem dan mulai bicara. Ia menceritakan semuanya, bagaimana Naruto tewas dan perjanjian yang ia lakukan dengan Orochimaru. Ketika ia selesai, reaksi Naruto persis seperti yang ia bayangkan.

Pemuda itu mencengkram lehernya dan dengan satu gerakan cepat, membanting Sasuke ke tempat tidur dengan lututnya menahan dadanya. Sasuke bisa merasakan kalau Naruto jadi jauh lebih kuat.

"Harusnya kau membiarkanku mati!" teriak Naruto di wajahnya sementara cengkramannya di leher Sasuke makin menguat.

"Maaf," ucap Sasuke lirih, "Aku sama sekali tidak berpikir—"

"Jelas kau sama sekali tidak berpikir!" potong Naruto. "Menurutmu aku mau jadi monster abadi sepertimu, hah?!"

Sasuke tidak menjawabnya kali ini. Ia hanya bergeming di bawah tekanan Naruto. Mata hitamnya masih terpaku di mata biru Naruto yang memancarkan kemarahan.

"Kau tahu kan kalau Iblis itu mengerjaimu lagi? Ia hanya ingin kau membunuh untuknya!"

"Aku tidak bisa membiarkanmu mati."

Naruto berdecak. Cengkraman di lehernya bisa mematahkan leher Sasuke kapan saja. Hanya dengan satu tekanan tepat. Meskipun mereka berdua sama-sama tahu Sasuke tidak akan mati hanya dengan mematahkan leher.

Namun tiba-tiba Naruto mengerang kesakitan dan dia ambruk di atas tubuh Sasuke.

"Naruto?" panggil Sasuke khawatir, dan menyadari kalau Naruto mencengkram dada kirinya, tempat di mana jantungnya berada.

"Naruto," panggil Sasuke lagi. Ia mengenali reaksi semacam ini. "Kau harus mengigitku. Rasa sakitnya tidak akan berhenti sampai kau menghisap darahku," ujarnya.

Naruto masih terus merintih, tapi ia menggeleng. "Aku tidak sudi."

"Naruto," ucap Sasuke lagi, dengan nada lebih mendesak kali ini. Ia tahu rasa sakitnya tidak tertahankan. Jantungnya serasa dicengkeram oleh cakar-cakar tajam. Sasuke sangat familiar dengan rasa sakit itu.

Naruto memandang Sasuke yang masih berbaring di bawahnya, Sasuke hanya memberinya anggukan meyakinkan. Detik berikutnya, Naruto menelengkan kepalanya dengan kasar dan Sasuke merasakan taring Naruto menancap di lehernya. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang luar biasa menyerang setiap saraf di tubuh Sasuke. Ia mencengkram punggung Naruto untuk menahan dirinya berteriak kesakitan. Kulitnya serasa terbakar seiring dengan setiap tetes darah yang Naruto hisap darinya. Ketika Sasuke sudah nyaris menyerah pada rasa sakitnya dan akan pingsan, rasa sakitnya justru berhenti. Naruto menjauhkan bibirnya dari leher Sasuke dan merebahkan diri di sisi Sasuke.

Tak ada yang bicara selama beberapa menit. Yang terdengar hanya suara engahan napas mereka berdua. Sasuke sendiri, ia nyaris tak punya tenaga untuk tetap menjaga dirinya agar tetap sadar. Tapi ia memaksakan diri untuk menoleh ke arah Naruto.

Pemuda itu berbaring diam dengan mata tertutup. Kemarahan masih tergurat jelas di wajahnya. Selain itu, Sasuke mengenali ekspresi jijik di balik kemarahan itu. Naruto pasti merasa jijik dengan dirinya sendiri. Sasuke benar-benar memahami perasaan itu karena ia juga merasa seperti itu beratus-ratus tahun yang lalu, begitu menyadari kutukan macam apa yang Orochimaru tanamkan padanya. Meskipun seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai memudar dan Sasuke mulai bertanya-tanya apa ia akan menjadi seperti Orochimaru, iblis tak berperasaan. Tapi detik ini Sasuke sedikit merasa lega. Ia tahu ia masih punya perasaan.

Naruto membuka matanya secara tiba-tiba, dan menoleh ke arah Sasuke, membalas tatapannya. "Kita harus membunuh Orochimaru," ujarnya. Nadanya begitu mantap dan tegas. "Mungkin dengan begitu, kutukannya akan hilang."

Sasuke tidak langsung menanggapi itu, tapi kemudian ia mengangguk perlahan.

-tbc-

Pendek? Checked. OOC? Checked. Subtle? Checked. *ngakak setan*

Oh, and just for a fair warning, fanfic ini sasunaru/narusasu. Dan kayaknya kebanyakan malah lebih cenderung ke narusasu. Jadi sebelum teman-teman terlibat lebih jauh dan menyesal, kalau tidak suka narusasu, lebih baik berhenti ;)

Terimakasih buat yang udah baca, ngefav, ngefollow dan ngereview. Buat pertanyaan-pertanyaannya di review, mungkin akan terjawab seiring berjalannya waktu :p haha.