Hola Minna. Ada yang bosen ketemu fic baru (lagi-lagi) saya? Semoga nggak ya.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama karena dalam pengerjaannya saya memakai nama orang lain terlebih dahulu.
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apalagi terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.
.
.
.
"Tidak ada yang tertinggal kan?"
"Ini terakhir, aku sudah cek semuanya."
Sakura sudah meletakkan koper terakhir ke bagasi mobil Itachi. Hari ini, sudah direncanakan kalau mereka akan pergi dari Tokyo ke Hokkaido. Ino tidak sempat mengantar pagi ini, tapi kemarin mereka sudah cukup banyak menghabiskan waktu bersama. Oh ya, kemarin juga Itachi sudah memenuhi janjinya untuk mengajak teman Sakura itu makan di restoran bintang lima yang sangat terkenal. Ino begitu senang karena akhirnya bisa makan di tempat orang kaya yang penuh dengan laki-laki yang diincarnya.
Karena kebanyakan pebisnis yang makan di sana. Sakura sudah tak punya penyesalan sedikit pun di sini. Semuanya sudah dilaluinya dengan baik. Yah, sebenarnya Sakura tidak ingin melakukan ini. Tapi Sakura tentu butuh ini. Dirinya butuh mengembalikan semuanya yang sempat hilang beberapa waktu ini karena kebodohannya. Dan dengan pergi jauh, mungkin bisa sedikit mengobati perasaannya.
Supir yang mengantar mereka berdua ke bandara hari ini sudah menunggu sejak pagi. Ya, sekarang mereka benar-benar akan pergi ke bandara. Untuk beberapa waktu selama Sakura pergi dengan tak tahu kapan akan kembali, dirinya sudah meminta pemilik apartemen untuk menjaga rumah mungilnya. Ya, mungkin ada banyak kenangan yang tidak mengenakkan di sana setelah ditinggal oleh artis sial itu. Tapi tetap itu adalah rumah peninggalan orangtuanya yang amat berharga.
Sekarang mereka sudah berada dalam perjalanan ke bandara. Sakura sempat melihat-lihat foto kenangan yang dibuat beberapa waktu ini bersama Ino sebelum mereka berpisah pada akhirnya. Ino juga sempat menginap satu malam di sana dan mereka menonton film horror yang sebenarnya tidak begitu disukai Sakura bersama. Ternyata film horror memang tidak begitu buruk jika ditonton bersama. Mereka begitu puas berteriak di malam hari hingga beberapa tetangga apartemen sempat marah karena mereka berteriak begitu keras.
Itachi juga membiarkan Sakura menghabiskan waktu berduanya dengan sang sahabat. Selain karena mengurus beberapa hal sebelum kepindahannya, Itachi juga sibuk mengurus kepindahan Sakura. Tadinya Sakura sendiri yang ingin melakukannya, tapi Itachi menolaknya dan bersikeras ingin dirinya sendiri yang mengaturnya supaya tidak membuat Sakura repot. Tapi dia suka sekali memang merepotkan diri sendiri.
Begitu mereka tiba di bandara, semua koper yang dibawa sudah dimasukkan ke bagasi pesawat. Beberapa barang memang sudah dipos oleh Sakura supaya tidak begitu banyak bawaan. Ah ya, rencananya mereka memang akan tinggal di satu komplek apartemen yang sama. Memang tidak dalam satu apartemen. Itachi ternyata menghormati privasi Sakura dan bersikap begitu gentle layaknya laki-laki. Mereka hanya akan tinggal bersebelahan.
"Oh ya!" seru Sakura tiba-tiba begitu mereka menunggu pemberitahuan keberangkatan pesawat.
"Ada apa? Kau tertinggal sesuatu?" ujar Itachi.
"Tidak. Bukan tertinggal, tapi terlupa…" lirih Sakura.
"Hum?"
"Ibumu," gumam Sakura.
"Ibuku?" ulang Itachi.
"Aku belum pamitan dengan beliau. Waktu itu hanya bertemu ayahmu, aku tidak bertemu beliau… bagaimana ini?" kata Sakura cemas.
Itachi tersenyum tipis seraya mengusap kepala Sakura dengan sayang.
"Tidak apa-apa. Aku sudah memberitahunya kok," balas Itachi.
"Tidak bisa begitu, aku tetap harus memberitahunya dengan formal. Astaga, kenapa aku sampai lupa seperti ini," sesal Sakura.
"Sakura, tidak apa-apa. Ibuku mengerti, lagipula aku sudah mengatakannya kalau dia bisa berkunjung kapan saja," jelas Itachi lagi.
"Ta-tapi, tetap saja—"
"Tetap saja itu salah."
Sakura terkejut mendengar suara yang mendekat ke arah mereka. Entah kenapa bulu kuduk Sakura rasanya meremang begitu saja. Suara angkuh ini… rasanya…
"Kalian sudah mau berangkat?"
Benar kan!
Sakura buru-buru menundukkan kepalanya, tidak, hampir sebagian punggungnya ikut menunduk dalam begitu wanita berdandan anggun dan berkelas itu sudah tepat berada di hadapan mereka. Rasa ketakutan ini datang lagi. Entah kenapa Sakura tidak pernah bisa terbiasa dengan kehadiran ibu Uchiha bersaudara ini.
"Maafkan aku, sudah tidak sopan pada Anda. Seharusnya saya menemui Anda lebih cepat," lirih Sakura.
"Sudahlah, tidak apa-apa, jangan begitu kaku. Ibuku tidak marah padamu," bujuk Itachi yang berusaha menenangkan Sakura yang begitu terlihat gugup.
"Angkat kepalamu," ujar Mikoto dengan suara datar.
Ada apa lagi ini…
Akhirnya Sakura mengangkat kepalanya meski belum berani melihat Uchiha Mikoto langsung. Untuk bisa melihatnya pergi langsung sendirian seperti ini menemui Itachi dan Sakura sepertinya…
"Ketika Itachi mengatakan akan serius bersamamu, aku setengah tidak percaya. Tapi setelah Itachi menjelaskan situasimu tentang masalahmu dengan Sasuke, aku juga tidak percaya. Tidak kusangka kau gadis yang seperti itu."
Jantung Sakura terasa sakit sekali karena debaran yang begitu cepat ini.
"Okaa-san, jangan bicara begitu pada Sakura," sela Itachi.
"Jika kau bersama dengan kedua putraku karena uang, aku sudah pasti akan segera menendangmu pergi menjauh dari anak-anakku. Karena sejak awal aku tidak begitu menyukaimu."
Kalau Sakura tidak tahu tentang karakter ibunya Itachi dan Sasuke ini, pasti Sakura sudah lama menangis.
"Okaa-san!" timpal Itachi lagi.
"Tapi akhirnya, setelah suamiku menceritakan tentang dirimu yang begitu peduli padanya dengan berusaha membawa Sasuke untuk menemui ayahnya lagi setelah sekian lama, pandanganku berubah padamu. Sejak awal melihatmu, aku yakin… kaulah yang akan membawa Sasuke kembali ke rumah kami. Tapi sekarang, melihat situasi ini rasa percayaku padamu sudah memudar."
"Sa-saya mohon maaf sebesar-besarnya."
"Aku akan menerima permintaan maafmu jika kau tidak menyakiti putraku yang sudah berani mencintaimu. Kau paham itu?"
Sakura menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Hati-hatilah, Itachi. Ibu akan benar-benar mengunjungimu lain kali di sana bersama ayahmu."
Setelah mengatakan hal itu, Uchiha Mikoto langsung pergi begitu saja.
"Astaga… aku benar-benar takut…" lirih Sakura setelah yakin Mikoto sudah pergi menjauh.
"Ibuku tidak begitu kok, hatinya benar-benar lembut dan sayang dengan anak-anaknya. Mungkin… dia agak kecewa karena Sasuke tidak juga mau kembali ke rumah."
"Ya, rasanya itu benar-benar salahku…"
Itachi menatap gadis yang disayanginya ini dengan lembut.
"Ayo… pesawat kita sudah menunggu."
Tidak menyakiti putranya yang sudah berani mencintai Sakura… apakah itu Itachi maksudnya?
Sakura tak tahu, apakah yang dilakukannya ini salah atau tidak. Dirinya sudah terlanjur menyetujui untuk pergi bersama Itachi walaupun dirinya tak tahu perasaannya pada Itachi seperti apa. Selama ini perasaan Sakura pada Itachi hanya rasa berterima kasih karena Itachi sudah bersedia berada di sisi Sakura saat kondisi tersulitnya. Itachi bertanggungjawab pada Sakura meskipun Itachi tak pernah melakukan kesalahan apapun pada Sakura.
Sebelum masuk ke dalam pesawat, Itachi mendapat telepon. Begitu melihat nama pemanggilnya, Itachi meminta Sakura masuk pesawat lebih dulu. Sakura pikir mungkin itu telepon penting dari kliennya.
Sakura sudah lebih dulu masuk ke dalam pesawat tanpa curiga sedikit pun.
Itachi kembali melihat ponselnya sembari memandangi nama pemanggilnya.
"Halo, Sasuke."
.
.
*KIN*
.
.
5 years later…
Semua sibuk menyiapkan beberapa pakaian yang mesti dipakai oleh sang model untuk keperluan pemotretan yang diadakan di Tokyo Hall ini. Semuanya adalah rancangan desainer terkenal dan keluaran limited edition untuk majalah paling bergengsi di Jepang. Sesi pemotretan ini cukup memakan waktu lama sehingga harus menunggu berjam-jam lamanya. Sebenarnya jika boleh memilih, rasanya bosan sekali melihat model yang melakukan pemotretan ini. Dengan suasana sibuk dimana-mana karena staff yang harus bergerak cepat dan membantu sang model berganti pakaian dengan cepat karena begitu banyaknya foto yang harus dimuat.
Kabarnya, model kali ini eksklusif didatangkan dari New York.
Dia memang memiliki darah Jepang, tapi menetap lama di New York sejak usianya empat tahun karena mengikuti pekerjaan orangtuanya yang salah satunya adalah warga negara asing. Tentu saja dia didatangkan karena beberapa tahun terakhir ini fansnya sudah begitu banyak di Jepang. Bahkan sudah banyak netizen Jepang yang menginginkannya bisa bermain drama di sini meski pun rasanya jarang ada orang asing bisa bermain drama di sini meskipun banyak penggemarnya.
Dilihat sekilas dia memang memiliki wajah yang menarik sih, tapi tetap bukan seleranya.
"Ck, kita harus menunggu berapa lama lagi?" keluh Sakura yang sedari tadi berdiri di dekat pintu ruang ganti sang model.
"Apa boleh buat, dia kan model terkenal, tentu saja lama," ujar rekan kerjanya. Inuzuka Kiba, seorang cameramen yang sudah berhasil mengabadikan beberapa momen kesibukan sang model.
"Sejujurnya, aku lebih suka berada di lapangan daripada menunggu seperti ini," gerutu Sakura lagi.
"Hei, sudahlah. Nikmati saja, kita juga bisa melihat-lihat orang terkenal di sini. Lihat, itu kan Temari, model yang baru saja menikah bulan lalu dengan pengusaha terkenal itu. Dia semakin cantik saja setelah menikah."
"Oh ya, dia juga aku yang mewawancarai. Dia terlihat sombong."
"Kata siapa? Dia sangat baik kok. Wajahnya memang sedikit sombong."
"Grr! Lama sekali!"
.
.
*KIN*
.
.
"Ya, kami baru saja selesai mewawancarainya. Sekarang baru akan kembali ke kantor. Apa? Harus ikut meliput di kantor polisi Ginza?"
Haruno Sakura, 26 tahun. Saat ini bekerja sebagai reporter suatu stasiun TV yang cukup populer di Tokyo. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Hokkaido, tahun lalu Sakura kembali ke Tokyo untuk memulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Hokkaido memang memiliki tempat yang menarik, hanya saja Sakura memang selalu menderita homesick. Lagipula, Sakura memang tidak berencana benar-benar meninggalkan Tokyo.
Setelah kembali ke Tokyo, ternyata Yamanaka Ino, teman dekat Sakura dulu sudah bekerja sebagai staff editor majalah fashion. Ya, sepertinya tidak ada hubungan majalah fashion dengan bisnis orangtuanya, tapi tetap saja sepertinya Ino menyukai pekerjaan itu. Orang pertama yang dihubungi Sakura setelah kembali lagi ke Tokyo memang hanya Ino.
Sakura menyukai pekerjaannya. Ada banyak orang yang ditemuinya dan banyak pengalaman tak terlupakan. Di tahun pertama dirinya menjadi reporter, banyak hal yang harus dilaluinya. Tinggal bermalam-malam di kantor, berkeliling sekitar kantor polisi bahkan menguntit orang-orang penting demi sebuah berita. Pengalaman itu benar-benar tak terlupakan olehnya. Sebenarnya ada banyak hal yang terjadi setelah dirinya kembali kemari. Tentu saja hal itu membuat Sakura tidak merasa bosan menjalani hidupnya lagi.
Dan setelah beberapa waktu sibuk mengurus berita, akhirnya Sakura bisa mendapatkan hari libur. Sayangnya hari libur kali ini dirinya malah harus berurusan dengan Ino. Di bulan Desember saat musim salju tengah mendekatinya dan berada di puncaknya! Sialan, hari ini dingin sekali, rasanya memakai baju begini tebal tak juga membendung rasa dinginnya udara bulan Desember!
"Nee, apa maksudmu membangunkanku pagi-pagi? Kau tahu benar ini jatah liburku yang amat berharga!" keluh Sakura ketika mereka sudah keluar dari apartemen Sakura. Ya, sejak ditinggal selama empat tahun memang tak banyak yang berubah. Hanya saja, setelah mendapatkan pekerjaan Sakura mulai mengubah isi perabotannya dengan barang yang lebih baik.
Ya, Sakura memang terbiasa bekerja karena di Hokkaido pun Sakura bekerja sambilan untuk biaya kuliahnya. Sakura ingin membiayai kuliahnya sendiri dengan keringatnya. Jadi bekerja keras memang sudah biasa untuk Sakura sendiri.
"Aku hanya ingin memintamu menemaniku saja kok. Kenapa kau marah begitu? Apa kau tahu aku juga ingin berlibur setelah deadline mematikan dari kantor beberapa waktu ini," keluh Ino.
"Setidaknya kau tidak perlu berlari ke sana sini untuk mengejar bahan berita yang jadi penghasilanmu!" sindir Sakura.
"Huh, kau jadi reporter juga pasti ada maksud terselubung kan?" sindir Ino.
"Apa maksudmu terselubung itu?"
"Jangan pura-pura… kau pasti masih ingin tahu tentang berita mantan Super Star itu kan? Kudengar dari staff ku yang membahas tentangnya, dia sudah jadi terkenal di New York loh… pantas saja dia tidak mau kembali…"
Sakura berhenti melangkah.
Semenjak hari itu, tak sedetik pun lagi Sakura mendengar kabar tentangnya. Semuanya berlalu seperti angin. Sakura memang berusaha melupakannya. Tapi ternyata setiap kali ingatan tentangnya muncul, selalu saja… selalu begini. Hatinya memang tidak mampu melupakannya begitu saja. Walaupun Sakura tahu, kesempatan untuk bertemu dengannya lagi tak mungkin ada. Ya… hampir nol persen. Terbersit memang keinginan jika dengan menjadi reporter dirinya bisa bertemu dengan bintang itu. Tapi sayang, keinginan itu tak mudah untuk digapai. Ya, keinginannya yang mustahil. Hampir tak mungkin. Setiap kali tempat kerjanya akan membahas mengenai sang mantan Super Star itu, bukan Sakura yang bertugas. Ya, sebenarnya Sakura senang, walaupun dirinya tak memungkiri kalau dia benar-benar ingin tahu mengenainya.
"Hei, kenapa kau diam saja di sana? Ayo cepat!"
Kenapa Sakura jadi berpikiran yang aneh-aneh? Huh…
Entahlah, Ino memang mengajaknya berkeliling butik di Ginza, tapi tak satu pun yang menarik perhatiannya. Sakura memang tak begitu tertarik membeli pakaian-pakaian mahal. Menurutnya membeli pakaian mahal sama saja membuang uang. Sakura ingin menabung supaya dirinya bisa membeli sesuatu yang berguna. Ya misalnya apartemen baru mungkin? Kata pemilik apartemen, tempat itu sebentar lagi akan dijadikan hotel bertingkat. Walaupun rumor, sudah banyak yang pindah memang dari apartemen kecil itu.
Hanya beberapa penghuni yang bertahan termasuk Sakura.
Dan setelah berkeliling seharian, akhirnya Ino berhenti juga untuk mengistirahatkan kaki Sakura yang sudah pegal bukan main. Kali ini mereka mampir di restoran pasta.
"Pegal…" keluh Sakura.
"Kau ini, bukannya kau suka sekali berlari ke sana sini demi beritamu, kenapa baru berjalan sebentar begitu sudah pegal?" sindir Ino lagi.
"Diamlah, dasar cerewet…"
"Dasar… kyaaa! Lihat Sakura, lihat itu! Tampan sekali… model berwajah campuran itu memang tampan…"
Sakura melihat ke arah mana Ino membiarkan matanya berbinar-binar aneh seperti itu. Entahlah, Ino memang tertarik dengan model sih daripada dengan artis. Begitu melihat model yang tengah diberitakan itu, Sakura langsung mendengus.
"Sudahlah, untuk apa melihat model yang sudah memiliki kekasih itu."
"Apa?! Sudah punya kekasih?" seru Ino.
"Dan sebentar lagi akan melepas masa lajang. Setidaknya dia memang mengatakan itu."
"Haaa? Kau tahu darimana?!" rengek Ino.
"Tempo hari aku sempat mewawancarainya. Katanya gadis itu adalah sepupu temannya sesama model sih sewaktu di New York dulu. Dia belum mau memberitahu siapa gadis itu, tapi sebentar lagi dia pasti akan mengundang gadis itu di acara special…"
"Heeee? Benarkah? Hmm, orang tampan sekarang ini cepat sekali menikahnya yaaa," keluh Ino.
"Hei, memangnya kau boleh bicara begitu hah? Dasar…"
"Tapi aku masih tidak mengerti… kalian bukannya sudah tinggal bersama? Kenapa kau masih tidak bisa menerimanya?"
Sakura diam sejenak. Tentu saja, arah pembicaraan Ino ini hanya seorang. Namun hingga hari ini Sakura tak juga mengerti tentang dirinya sendiri. Ya, Itachi sudah begitu lama dan sabar menunggunya. Tapi Sakura justru membiarkan Itachi melepaskannya walaupun Itachi sudah memberikan semuanya untuk Sakura.
"Tunggu, kami tidak tinggal bersama! Bersebelahan!" ralat Sakura.
"Memang apa bedanya sih? Orang sebaik itu kau lepas begitu saja… atau jangan-jangan kau masih—"
"Stop! Jangan diteruskan!" potong Sakura.
"Jadi, selama tiga tahun dulu… kalian…?"
"Aku memang merasa bersalah pada Itachi-san. Rasanya permintaan maaf juga tak cukup untuk menebus segalanya. Tapi Itachi-san mengatakan kalau dirinya tidak ingin memaksakan perasaanku. Jujur saja, saat itu adalah saat terberat untukku. Tapi Itachi-san meyakinkanku kalau dirinya akan menerima apapun keputusanku…"
"Dan kau membuat keputusan yang konyol…"
"Selama ini juga, Itachi-san sudah menjadi kakak yang sangat baik untukku. Dia benar-benar menjaga dan melindungiku seperti seorang kakak. Makanya… cukup sulit rasanya membalas perasaan orang yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Ya, aku tahu aku gadis sialan. Tapi sungguh… aku juga tidak ingin menyakiti perasaan Itachi-san…"
"Ck… tidak heran kalau sampai hari ini kau tidak pernah memiliki kekasih… kalau pun ada malah kekasih bohongan…" sindir Ino.
"Aku juga tidak mengerti dengan diriku. Aku tahu ada yang salah denganku, tapi aku tidak tahu dimana kesalahan itu. Entah kenapa, rasanya aku jadi begitu takut untuk memulai suatu hubungan dengan orang lain, aku tahu ini tidak normal, tapi aku benar-benar merasa takut sekali. Bahkan… dengan Itachi-san pun… aku merasa begitu takut…" lirih Sakura.
Ino diam sejenak mendengar penuturan sang sahabat ini. Sakura terlihat begitu serius mengatakan perasaannya. Ya, mungkin saat ini Sakura tengah mengalami yang namanya philophobia. Keadaan dimana seseorang mengalami phobia untuk jatuh cinta atau berhubungan dengan orang lain. Sakura memang tak pernah sekali pun terlihat tertarik dengan pria lain meski banyak laki-laki yang terang-terangan mendekatinya.
"Sepertinya kau harus menyembuhkan perasaanmu dulu jika kau ingin terlihat kembali normal," saran Ino.
"Menyembuhkan perasaanku?" ulang Sakura.
"Dengar, aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatmu merasa takut untuk memulai suatu hubungan dengan orang lain. Tapi yang jelas, ada banyak orang yang berusaha untuk serius denganmu. Salah satunya Itachi-san. Dia benar-benar tulus padamu. Bahkan dengan tidak memaksakan perasaannya padamu adalah bukti nyata jika Itachi-san sangat menghargaimu. Tapi ya, aku juga tidak bisa memaksamu sih. Umur kita pun sebenarnya masih muda, aku yakin kau akan baik-baik saja."
Sakura diam lagi setelah pesanan mereka sudah tiba.
Ya, Itachi adalah orang yang terlalu baik. Entahlah, sepertinya Itachi memang tulus menjaga dan melindungi Sakura meskipun Sakura tak pernah membalas perasaannya yang sangat tulus itu. Itachi pun mengerti jika Sakura memang belum benar-benar bisa menjalin hubungan baru dengan orang lain.
Sejujurnya, Sakura memang merasa jika dia adalah gadis brengsek yang memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Tapi apapun yang terjadi… tetap saja Sakura tak bisa membohongi dan mengkhianati perasaannya.
"Hei, memangnya kau boleh mengatakan ini padaku? Kau tidak menyesal?" ujar Sakura kemudian.
"Menyesal kenapa?" tanya Ino.
"Bagaimana kalau aku berubah pikiran nantinya?"
"Hei! Masa kau sekejam itu sih sama sahabatmu sendiri?!" pekik Ino akhirnya.
Sakura hanya tertawa geli melihat ekspresi Ino yang seperti kebakaran jenggot itu.
Begitu menoleh ke jendela restoran, Sakura melihat sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan. Mobil yang tak asing untuknya. Sepertinya…
Dan begitu melihat penumpang mobil itu turun, Sakura terkejut bukan main.
Seorang gadis dengan rambut panjang berwarna biru gelap turun dari sana. Gadis yang seingat Sakura adalah…
Tapi begitu Sakura ingin memperhatikan lebih baik lagi, sebuah truk melintas di depan restoran itu sampai gadis misterius itu menghilang entah kemana.
Mungkinkah?
Heee, kenapa berpikir yang tidak-tidak. Memang apa urusannya sama Sakura?
.
.
*KIN*
.
.
Beberapa hari ini, Sakura sibuk menangani kasus reporter hilang yang meliput berita di perbatasan konflik. Memang sih pekerjaan ini sungguh beresiko, tapi Sakura mulai menikmatinya. Ya, boleh dibilang Sakura memang lebih menyukai pekerjaan lapangan daripada berdiam di dalam kantor sih. Lagipula, dengan begini, Sakura jadi tahu seperti apa dunia yang selalu dilihatnya ini.
Hari ini, setelah meliput berita di kantor pemerintahan yang tengah menjadi sasaran demo para warga, Sakura dan beberapa rekannya sesama reporter dan cameramen menunggu di sebuah restoran berbintang. Hari ini rencananya mereka sudah mengadakan janji dengan seorang pengusaha terkenal. Entahlah, terlalu banyak rasanya pengusaha yang diwawancarai Sakura akhir-akhir ini.
Begitu acara wawancara yang berlangsung selama satu jam lebih itu, akhirnya selesai juga. Karena acaranya malam, jadi Sakura ingin segera kembali ke rumah saja setelah menyerahkan semua hasil wawancara hari ini. Rasanya badannya sudah cukup merasa pegal.
"Hei Kiba, fotonya bagus tidak?" tanya Sakura setelah mereka akan keluar menuju lift.
"Bagus, tenang saja. Memangnya berapa lama kau mengenalku?" sungut Kiba yang sudah memasukkan kameranya ke dalam tas khusus itu.
"Kau selalu saja mengambil foto yang tidak penting," sindir Sakura.
"Aku mengambil foto terbaik tahu!"
Ketika tengah berdebat itu, akhirnya pintu lift terbuka juga.
"Akhirnya, aku mau mandi, sudah tiga hari aku melewatkan mandi karena cuaca bersalju ini," keluh Sakura.
"Astaga… kau benar-benar bukan wanita! Bagaimana mungkin kau melewatkan mandi selama tiga hari hah?!" sindir Kiba.
"Hei, aku ini selalu berada di jalan jelas saja—"
Begitu pintu lift terbuka sempurna, Sakura terkejut bukan main. Jika matanya tak salah melihat, di depannya ini kan…
"Haruno… Sakura-san? Benar kan?"
Sakura hanya diam mendengar namanya disebutkan dengan begitu jelas. Tiba-tiba jantungnya berdebar bukan main. Ya, debaran yang aneh.
"Apa kabarmu? Aku ingin sekali bicara denganmu. Apa kau ada waktu sekarang?"
Sakura masih diam. Entahlah, suaranya terdengar merdu dan bersahabat. Ya, selalu seperti itu memang. Dia selalu terlihat baik dan begitu rupawan. Sejak pertama kali Sakura melihatnya. Dia memang selalu begitu.
"Hei, kau mengenal Nona cantik ini huh?" bisik Kiba.
"Ck, kau ini. Kiba, kau pergi duluan, aku ada urusan sebentar. Jangan menungguku dan langsung saja ke kantor. Aku akan pergi sendiri nanti."
"Heee? Ajak aku juga! Aku juga mau bicara dengan Nona cantik ini, kalau dia temanmu kenalkan padaku!" ujar Kiba. Tapi Sakura hanya mendorongnya dengan kasar dan menutup pintu lift itu dengan cepat setelah seseorang yang dikenalnya ini keluar dari pintu lift.
Sekali lagi Sakura akhirnya terpaksa datang lagi ke restoran ini meskipun dirinya memang benar-benar ingin pulang. Sakura tak tahu, kenapa dirinya setuju begitu saja diajak bicara olehnya. Ya, oleh Hyuuga Hinata.
"Tidak terasa sudah lima tahun berlalu ya. Kau semakin terlihat cantik, Sakura-san," bukanya. Hari ini penampilannya sungguh cantik. Dengan rambutnya yang digelung anggun dan gaun berwarna ungu pucat yang terlihat mahal. Apalagi dengan perhiasan yang dipakainya begitu berkilau. Sekilas jika dilihat seharusnya dia ada janji dengan seseorang kan? Apalagi melihat dandanannya yang begini cantik.
"Sepertinya kau punya janji dengan seseorang kan? Apa tidak apa-apa kau mengajakku bicara di sini?" ujar Sakura akhirnya.
"Seseorang yang berjanji denganku akan terlambat karena ada sedikit masalah. Selagi menunggunya, bagaimana kalau kita bicara saja? Aku benar-benar sudah lama ingin bertemu denganmu."
"Oh ya. Kalau begitu tidak masalah. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Hinata-san," kata Sakura akhirnya.
"Ya, maaf tidak mengabarimu ketika aku pergi bersama Sasu lima tahun yang lalu itu. Keadaannya sedikit mendesak," jelas Hinata.
"Bukan masalah. Lagipula itu bukan urusanku. Kapan kau kembali kemari?"
"Kemarin malam. Rasanya tidak begitu banyak yang berubah dari Tokyo setelah lima tahun ya. Sakura-san, apa pekerjaanmu sekarang? Kudengar dulu kau pindah dari Tokyo juga setelah kami pergi."
"Ya, aku pindah ke Hokkaido tapi kembali lagi. Ternyata aku lebih nyaman tinggal di Tokyo. Sekarang aku menjadi reporter TV."
"Wah, reporter. Pasti menyenangkan. Sakura-san, ada yang ingin kusampaikan padamu. Sepertinya jika aku mengatakannya sekarang, mungkin menurutmu ini mendadak. Tapi kami sudah lama memikirkannya, sedikit tertunda karena dia sibuk. Hanya masalah waktu saja. Tolong terima ini."
Hinata membuka tas tangannya yang berukuran kecil itu lalu mengambil sesuatu dari sana. Tak berapa lama, Hinata menyodorkan sebuah amplop pada Sakura. Amplop putih berukuran postcard. Di tengah amplop itu tertulis 'wedding day'.
"Apa… ini?" tanya Sakura.
"Undangan pernikahan. Rencananya kami akan menikah di sini. Sebelumnya kami berencana akan menikah di New York saja, tapi ternyata menikah di negeri orang tak begitu menyenangkan. Makanya kami memutuskan kembali ke Tokyo untuk melangsungkan pernikahan di sini. Aku juga ingin… agar mendiang keluargaku bisa melihat pernikahanku," jelas Hinata.
Menikah? Hinata… akan menikah?
"Kenapa… kalian baru menikah sekarang? Bukankah… kalian sudah lima tahun hidup bersama kan?" ujar Sakura akhirnya.
"Sudah kukatakan sebelumnya kan? Dia sibuk."
Sakura hanya menunduk sembari melihat amplop yang enggan dibukanya itu.
Ternyata… memang seperti itu. Wajar saja. Mereka pasti cepat atau lambat akan segera menikah kan? Sakura bahkan tak pernah berpikir mengenai itu. Kenapa tidak terpikirkan oleh Sakura bahwa mereka… mungkin akan menikah. Meskipun sudah lima tahun berlalu… tapi mereka kan…
"Sakura-san, tidak ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Hinata yang menyadari ekspresi Sakura yang berubah seperti itu.
"Oh, tidak. Tidak ada yang perlu kutanyakan."
"Benarkah? Kalau begitu kau harus datang ya. Ini adalah permintaan khusus dariku. Karena Sakura-san adalah teman pertama yang kumiliki di Tokyo. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu, Sakura-san."
Wajah Hinata terlihat begitu tulus. Ya, pada dasarnya Hinata adalah gadis yang baik. Namun semuanya memang berubah semenjak Sakura mengancam keberadaannya di sisi Sasuke. Jika seandainya Sakura tak pernah menyetujui menjadi kekasih bohongan si Uchiha sial itu, tentu saja Sakura akan senang hati berteman dengan gadis sebaik Hinata ini.
Bahkan setelah semuanya, Hinata masih menganggap Sakura adalah temannya.
"Terima kasih, Hinata-san. Semoga… pernikahanmu bahagia."
"Terima kasih banyak."
.
.
*KIN*
.
.
Katanya pernikahan itu akan digelar di Tokyo Hall seminggu hari lagi. Memang mendadak sih. Tapi kalau sudah lama direncanakan tentu saja itu bukan hal mendadak. Yang mendadak memang ketika Sakura menerima undangan ini saja.
Setelah menerima undangan itu, Sakura tak sedikit pun tertarik membukanya. Untuk apa membukanya jika sudah tahu nama siapa yang tertulis di sana. Dan sekarang, keinginan bodohnya untuk bertemu lagi dengan orang yang selama ini ada di dalam hatinya sudah terkikis sempurna.
Ternyata benar, Sakura terlalu bodoh.
Sekarang mereka akan menikah. Apa Sakura harus datang?
Apakah Sakura harus datang dan membawa bunga papan? Ya mungkin Sakura bawa saja untuk itu. Dan tulis turut berduka cita. Heee… kenapa jadi begitu?
Demi mengusir rasa sakit, astaga, Sakura baru saja berusaha untuk menyembuhkan perasaannya. Sekarang rasanya sudah terasa sakit begitu saja.
Yosh! Untuk apa memikirkan hal bodoh sekarang?!
Baiklah… mulai bekerja.
"Nee Kiba! Cepatlah bergerak!" seru Sakura sebelum akhirnya dirinya dengan penuh senyum melangkah keluar dari kantornya.
.
.
*KIN*
.
.
"Sasu… kau sudah pulang?"
Sasuke, setelah lima tahun berlalu akhirnya memiliki keberanian untuk kembali lagi kemari. Ya, karena Sasuke merasa dirinya akan kehilangan lagi jika muncul di sini. Selama ini, kehidupannya di New York memang tidak biasa-biasa saja. Karena ada kenalannya yang bekerja sebagai model mengajaknya bekerja di sana. Dan tanpa perlu menunggu, Sasuke kembali menjadi terkenal di New York. Kali ini sebagai model. Tak jarang Sasuke juga sering melangkah di catwalk New York dan sesekali mengikuti show di Paris dan sekitar Eropa lainnya.
Walaupun Sasuke ingin berhenti, tapi dirinya juga tak bisa menghentikannya. Lagipula, dengan memiliki pekerjaan, setidaknya Sasuke tidak berlarut-larut dalam kenangan bodohnya. Ya, mungkin kenangan bodoh. Tapi Sasuke masih belum bisa melupakan Sakura. Jika ditanya kenapa Sasuke tidak pernah sekali pun bertemu dengan Sakura, itu karena dirinya sudah membuat janji.
Janji lima tahun yang lalu.
Kali ini, Sasuke menyewa sebuah apartemen di Roppongi. Ya, karena apartemen yang dulu sudah dijual. Sekarang ini, Hinata tinggal bersamanya. Jadi Sasuke harus memastikan semuanya baik-baik saja untuk Hinata. Lagipula, Sasuke tidak berniat mengekspose dirinya berlebihan di sini. Sasuke juga kebanyakan menyamar jika ingin pergi berkeliling Tokyo. Dirinya benar-benar tidak ingin menjadi Super Star seperti lima tahun yang lalu di sini.
Karena menjadi Super Star sedikit banyak membawakannya kembali beragam kenangan.
"Ya, maaf membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa. Aku juga sudah lama tidak melihat-lihat Tokyo. Oh ya, coba tebak siapa yang kutemui saat makan malam kemarin."
"Makan malam?" ulang Sasuke yang kini sudah duduk di sebelah Hinata yang tengah asyik melihat-lihat dekor hall pernikahannya nanti. Rencananya pernikahannya memang akan digelar sedikit meriah. Beberapa orang penting akan turut diundang beserta dengan reporter. Tadinya Sasuke lebih menginginkan pernikahan yang sedikit privasi. Tapi karena ini pernikahan, sudah seharusnya memang sedikit megah kan?
"Ya. Aku bertemu dengan Sakura-san! Coba tebak dia sekarang bekerja menjadi apa?" ujar Hinata bersemangat.
Sasuke terdiam sejenak mendengar nama itu bergema lagi di telinganya. Dadanya seakan berdenyut nyeri. Perpisahan mereka dulu memang tidak begitu baik. Tapi hingga kini, Sasuke tak bisa berbohong mengenai perasaannya pada gadis itu. Ya… gadis yang sudah menyita banyak perhatiannya dulu. Sampai-sampai perasaan kosongnya dulu terisi perlahan-lahan meski pada akhirnya mereka tetap terpisah juga.
"Sakura-san sudah menjadi reporter TV. Melihatnya meliput sangat keren menurutku. Aku sempat melihatnya membawakan berita tadi pagi. Dia sangat cantik sekarang ya?"
Sasuke tetap diam. Sasuke juga tidak tahu harus mengatakan apa pada Hinata soal Sakura yang ditemuinya itu. Mungkin benar mereka tidak sengaja bertemu. Tapi…
"Kau tahu, Sasu? Aku mengundangnya ke pernikahanku. Aku ingin dia datang. Bukankah kau juga ingin melihatnya?"
"Kalau dia datang…" lirih Sasuke.
Ya, tidak ada alasan untuk Sakura datang ke pernikahan itu.
Jika benar Sakura datang… Sasuke berjanji akan mengakhiri segalanya di situ. Benar-benar mengakhirinya.
.
.
*KIN*
.
.
Siang ini memang Sakura tidak memiliki pekerjaan lain selain membahas bahan beritanya nanti dan mengetik beberapa berita yang sudah jadi untuk diserahkan langsung pada atasannya supaya bisa dikoreksi lagi. Tapi di sela-sela waktu senggangnya ini, Sakura malah dipaksa menemani seorang wanita cerewet demi memenuhi keinginannya.
Sakura sudah menunggu di depan butik ini selama setengah jam. Waktu pergi ke Ginza kemarin, wanita yang sudah lama bersahabat dengannya itu tidak menemukan yang sesuai dengan keinginannya. Tapi entah bagaimana, mendadak dia menemukan butik ini yang katanya pernah memajang gaun indah yang sangat diinginkannya.
Ya, gaun pengantin.
Dan ini adalah butik yang memajang dan menjual beragam gaun pengantin. Katanya sih kalau mau, di sini gaunnya bisa dibeli bahkan disewakan. Kalau lebih ingin lagi, bisa memesan gaun yang sesuai dengan keinginan kita walau memakan waktu yang cukup lama. Setidaknya satu sampai tiga bulan untuk menyelesaikannya. Terlalu lama.
"Maaf Sakura! Aku benar-benar tidak sengaja terlambat, tiba-tiba aku mendapat masalah saat—"
"Hai, hai. Sudah cukup. Aku tahu benar kau memang begitu. Haruskah kita masuk? Aku benar-benar sudah kedinginan di sini," keluh Sakura.
"Baiklah, baiklah. Terima kasih sudah mau menungguku, ayo masuk!" seru Ino bersemangat seraya menggandeng lengan Sakura untuk masuk ke dalam.
Hm, butik gaun pernikahan memang sedikit sepi sih. Tapi tetap ada beberapa pelanggan yang datang untuk sekadar melihat-lihat saja bersama pasangannya.
Seorang pramuniaga mendekati Sakura dan Ino dan mulai menawarkan beberapa gaun eksklusif yang dipajang di butik mereka. Ino sangat antusias untuk melihatnya. Sakura hanya mengekor di belakang mereka berdua. Begitu melihat gaun yang begini cantik, Sakura mulai mengkhayal sedikit. Bagaimana rupanya jika dirinya yang memakai gaun ini ya? Pada siapa nanti Sakura perlihatkan gaun ini ketika dirinya memakainya?
Selama ini, memang Sakura sedikit jauh dari kata feminin. Sejak sering didekati oleh laki-laki yang tidak diinginkannya, Sakura mengubah penampilannya dengan sedikit asal. Sekarang saja, Sakura mengenakan jaket tebal dengan syal yang memenuhi lehernya. Jeans dan sepatu boot. Rambut sebahunya juga diikatnya tinggi. Berbeda dengan Ino yang terlihat sangat feminin. Rambut pirang panjangnya yang digerainya dengan cantik. Blazer yang begitu fashionable. Sepatu boot dengan heels. Serta rok pensil yang sangat cocok dipakainya. Walaupun seringkali melihat Ino berpenampilan menarik begitu, Sakura sama sekali tidak tertarik. Tapi kenapa ketika dirinya melihat gaun pengantin ini—
"Hei, Sakura. Bagaimana? Apa yang ini cantik?" tanya Ino yang ternyata sudah berada di ruang ganti pakaian.
Dia sudah mencoba sebuah gaun model klasik. Sangat cocok dipakainya.
"Oh… cantik sekali…" ujar Sakura.
"Yang cantik itu gaunnya atau aku?"
"Tentu saja kau yang memakai gaunnya," jelas Sakura.
"Hm, kau pintar bicara. Aku sudah mencoba beberapa sih, tapi aku bingung karena semuanya bagus. Menurutmu, dia akan suka yang mana?"
"Hah? Kenapa kau bertanya denganku?"
"Aku kan minta pendapat. Bagaimana menurutmu? Ah ya! Itu benar sekali!" seru Ino bersemangat.
"Apa rencanamu?" selidik Sakura.
Ino menarik Sakura masuk ke dalam ruang ganti itu dan lalu keluar dan meminta pramuniaga itu mengambilkan beberapa gaun yang diinginkannya. Setelah Ino berganti pakaian lagi, Ino memaksa Sakura mengenakan gaun yang diinginkannya. Ino akan membuang semua pakaian Sakura jika dia tidak mau mencoba gaun yang dipilihkannya.
Sedang asyik menunggu Sakura berganti pakaian, tiba-tiba Ino mendapat telepon lagi dari atasannya. Astaga… sepertinya masalah tadi malah tambah menjadi. Padahal Ino tak tahu kapan lagi waktu luangnya supaya dia bisa mencoba gaun pengantin ini. Akhirnya setengah malas, Ino pergi ke ruangan lain di butik ini untuk menerima telepon menyebalkan itu.
.
.
*KIN*
.
.
"Butik ini?" tanya Sasuke yang sudah menepikan mobilnya di pinggir jalan dimana sebuah butik yang memajang gaun pengantin.
"Iya, katanya butik di sini sangat cantik. Aku sudah coba butik yang lain, tapi sepertinya di sini yang bagus," jelas Hinata yang duduk di sebelahnya.
"Ketika semuanya sudah siap, kenapa malah gaun pengantin yang terlupa?" sindir Sasuke.
"Bagaimana lagi, aku ingin gaun yang terbaik. Sebenarnya aku menyesal ketika membatalkan pesanan di New York."
"Baiklah kalau begitu. Ayo masuk."
Hinata menggandeng lengan Sasuke dan mulai masuk ke dalam butik itu. Sasuke tidak pernah ada di butik wanita sebelumnya. Tentu saja pengunjungnya sebagian besar adalah perempuan dan pasangan kekasih kan?
Seorang pramuniaga mendekati mereka dan mulai menawarkan beberapa gaun yang dipajang. Tapi Hinata ingin melihat koleksi yang lain, makanya si pramuniaga itu membawa Hinata ke tempat lain untuk ditunjukkan katalog koleksi butik mereka.
Sasuke memilih tidak ikut. Kalau Hinata memilih sesuatu biasanya lama. Sasuke tidak terlalu tertarik melihat-lihat yang seperti ini.
Ada begitu banyak gaun di sini.
"Ino, aku sudah selesai sekarang."
Sasuke mendengar sebuah tirai di ruang ganti yang tepat berada di belakangnya terbuka. Sepertinya seseorang baru saja keluar dari sana. Sasuke masih sibuk melihat-lihat isi butik ini dengan santai. Ya, begitu tiba di Jepang, Sasuke memang tak begitu banyak jalan-jalan.
"Dasar! Kemana dia? Aku sudah memakai baju memalukan ini dia malah menghilang."
Suara ini…
Sasuke diam sejenak mendengar seseorang yang baru keluar dari ruang ganti itu. Suaranya…
"Ponselku… apa dia benar-benar membuang semua pakaianku?! Permisi! Apa ada yang melihat seorang gadis berambut pirang yang bersamaku tadi?"
Masih Sasuke menerka-nerka suara yang terus berbicara di belakangnya itu. Dan ketika dirinya berbalik hendak melihat siapa pemilik suara itu, dirinya berpapasan dengan seseorang yang memakai gaun pengantin melewatinya begitu cepat. Sasuke tidak sempat melihat wajah si pemakai gaun itu. Tapi yang dilihatnya…
Seorang gadis berambut pink.
"Sasu, maafkan aku. Kita harus kembali ke apartemen. Aku meninggalkan kartu kredit-ku di sana."
Sasuke justru terdiam untuk sekian saat… kenapa dia memakai gaun pengantin di sini?
"Sasu?"
"Oh, Hinata. Kau sudah selesai memilihnya?" tanya Sasuke yang baru sadar Hinata sudah berdiri di sebelahnya.
"Belum, aku lupa kartu kredit-ku, kita kembali dulu ke apartemen ya?"
"Oh… begitu…"
Jujur, Sasuke tak begitu mendengarkan kata-kata Hinata. Sasuke hanya menurut ketika Hinata menggandengnya keluar dari butik.
.
.
*KIN*
.
.
"Oke, aku yang akan meliput berita di Kobe. Ya, aku bisa kembali malam harinya dengan kereta ekspress," ujar Sakura ketika dirinya baru selesai mengetik berita yang diambilnya kemarin.
Ya, ini sudah beberapa hari setelah Ino memilih gaun pengantinnya dan ternyata menjatuhkan pilihan pada gaun yang dipakai Sakura waktu itu. Katanya dia suka gaun itu. Begitu cantik ketika dipakai meski terlihat biasa saja. Ck, yang benar saja. Masa Ino mau memakai gaun yang dikenakan oleh orang lain?
Hari ini atasannya memintanya untuk meliput berita di Kobe bersama dengan beberapa rekannya. Tentu saja Sakura harus pergi. Ya, tak jarang memang kadang Sakura bepergian seperti ini karena pekerjaannya. Tadinya memang sedikit melelahkan. Tapi menyenangkan di saat bersamaan karena dirinya bisa berkeliling Jepang dengan gratis dan melihat-lihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya di luar Tokyo.
Hari sudah mulai larut. Tapi Sakura harus pulang untuk menyiapkan keperluannya nanti.
"Apa selarut ini seorang reporter baru menyelesaikan tugasnya?"
Saat Sakura keluar dari gedung kantornya dan menguap lebar, Sakura terkejut melihat seseorang berdiri bersandar di sebuah mobil. Wajahnya tersenyum lebar ketika melihat Sakura sudah berada di dekatnya.
"Itachi-san? Kapan kembali kemari?"
"Tadi sore. Begitu kembali, hal yang pertama kupikirkan adalah menemuimu."
Sejak tahun lalu, tahun dimana Sakura memutuskan kembali ke Tokyo, Itachi pun memutuskan untuk pergi Kanada. Membantu bisnis Uchiha di sana. Sejak bekerja pun, Sakura memang sudah lama tidak melihat Itachi lagi. Namun terkadang mereka tetap berhubungan dengan ponsel dan pesan. Sekarang, mereka memang terlihat seperti kakak beradik yang sangat dekat.
"Memangnya kau boleh bicara begitu padaku? Tapi tidak apa, aku senang bisa bertemu lagi dengan Itachi-san," seru Sakura gembira.
"Kau sudah makan malam?"
"Belum sama sekali… apa kau mau mentraktirku makan?"
"Hei, seharusnya orang yang sudah bekerja itu mentraktir tahu."
"Kau tidak menyenangkan. Tapi baiklah, aku akan mentraktirmu. Karena kali ini aku yang traktir, kau harus mau makan dimana saja!"
"Baiklah…"
Ya, akhirnya mereka berdua pergi makan malam bersama yang terlalu lewat ini. Malam memang sudah larut, tapi ada beberapa restoran yang masih buka di jam seperti ini. Ya, restoran keluarga sih biasanya.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Sakura.
"Persiapan?" ulang Itachi.
"Ck, pura-pura. Tentu saja persiapan besar itu… kudengar Paman dan Bibi sudah tahu. Jadi kapan?"
"Oh… ya. Mungkin dua minggu lagi sudah bisa. Kenapa kau begitu antusias setelah menolak perasaanku?"
"Itachi-san… kau membuatku terdengar seperti gadis yang jahat…" keluh Sakura.
"Kau memang gadis yang sangat jahat," kelakar Itachi.
"Ya, aku memang gadis yang jahat. Sudah puas?"
Itachi tertawa lagi. Bukannya Itachi tak tahu mengenai kondisi Sakura saat ini. Ya, Sakura saat ini memang benar-benar takut untuk memulai suatu hubungan dengan orang lain. Terkadang dulu, ada beberapa laki-laki yang berusaha mendekatinya dengan cara yang mengerikan seperti menjadi stalker-nya ketika berada di Hokkaido dulu. Karena itu Sakura sempat ketakutan dan tidak berani keluar rumah. Karena hal itulah, semakin lama, Sakura semakin tidak nyaman berhubungan dengan orang lain. Makanya dulu Itachi menunggunya dengan sabar meski tahu perasaan Sakura yang tak mungkin berubah itu. Apapun yang diinginkan Sakura, sebisa mungkin dilakukan oleh Itachi untuk menjaga dan melindunginya. Sakura mungkin terlihat kuat dari luar, tapi semakin melihatnya, semakin disadari jika ternyata Sakura pun adalah gadis yang lemah.
Hingga sekarang, setelah Sakura menegaskan jika perasaannya tak mungkin berubah dan tak mau menyakiti Itachi, makanya Itachi mundur perlahan dan memulai peran sebagai seorang kakak yang memang saat ini sungguh dibutuhkan oleh Sakura yang memang hidup seorang diri.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Itachi kemudian melihat Sakura yang makan begitu lahap.
"Huh? Apa? Tidak terjadi apapun. Kalaupun ada sesuatu, mungkin karena besok aku harus ke Kobe sih. Memang ada apa?" tanya Sakura kembali.
"Aku sudah hidup bersamamu selama empat tahun Sakura. Mana mungkin aku tidak tahu kebiasaanmu. Ketika kau makan begitu banyak, pasti ada sesuatu yang kau pikirkan. Ada apa?" tanya Itachi lagi.
Sakura diam sejenak. Oh ya, Itachi hafal ya… hidup bersama meski bersebelahan selama empat tahun… mungkin bukan waktu yang lama. Tapi setidaknya, Itachi sudah terbiasa melihat semua hal yang dilakukan oleh Sakura. Mulai dari hal kecil hingga hal besar. Itachi tahu itu…
"Sudah kuduga, Itachi-san memang kakak yang baik," lirih Sakura.
"Jadi, ada apa? Apa ada hubungannya dengan pekerjaanmu?"
"Tidak, bukan karena pekerjaan. Kemarin… aku baru saja bertemu dengan seseorang. Ya… seseorang yang sudah lama tidak bertemu…"
"Siapa?"
"Hyuuga Hinata. Aku bertemu dengannya ketika mewawancarai seseorang di sebuah restoran berbintang. Hari itu dia datang sendirian katanya menunggu seseorang yang janji makan malam dengannya. Dan setelahnya, dia memberikanku sesuatu."
"Apa itu?"
"Undangan pernikahan. Ya, aku tahu cepat atau lambat pasti akan terjadi. Tapi aku tidak menyangka dia akan mengundangku langsung seperti ini. Awalnya sedikit terkejut. Tapi… tapi… astaga, kenapa mataku panas sekali…"
Sakura berusaha mengusap matanya yang tiba-tiba mendadak banjir. Tadinya Sakura pikir semua akan baik-baik saja. Tapi kenapa matanya basah seperti ini. Mungkin tadinya Sakura tak begitu memikirkannya karena tidak Sakura katakan. Tapi setelah mengatakannya kenapa jadi seperti ini…
"Kau berpikir Hinata dan Sasuke pasti akan menikah?" kata Itachi.
"Tentu saja. Mereka kan sudah hidup bersama. Mana mungkin tidak menikah."
"Jadi, setelah kau tahu itu, apa perasaanmu akan berubah?"
"Tidak," jawab Sakura langsung, tanpa berpikir.
Itachi kembali diam mendengar jawaban spontan Sakura. Jawaban yang begitu jujur dari lubuk hatinya.
"Tidak… perasaanku mana mungkin berubah. Setelah semua ini, aku semakin ingin bertemu dengannya. Melihatnya untuk… terakhir kalinya. Benar-benar terakhir kalinya sebelum akhirnya aku tidak akan pernah bermimpi bisa menemuinya lagi. Tapi aku takut… jika aku bertemu dengannya, aku akan mengacaukan segalanya. Setiap kali melihatnya… perasaan egoisku… akan muncul…"
Malam itu, Itachi hanya diam sembari mendengarkan seluruh keluh kesah gadis yang begitu disayanginya ini. Meski perasaannya dulu dan kini berubah, tapi perasaan sayang itu masih ada untuk Sakura. Jika Itachi bisa berbuat sesuatu untuk Sakura, mungkin sudah lama Itachi akan melakukannya. Tapi untuk Sakura sendiri pun, dia juga tak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk dirinya sendiri.
Meskipun pada akhirnya… Sakura tetap memiliki perasaan pada orang itu.
Yaa… ternyata mereka memang tidak mungkin berpisah meski waktu dan jarak membentang.
.
.
*KIN*
.
.
Itachi mengantar kembali Sakura pulang setelah memastikan gadis ceria itu masuk ke dalam apartemen mungilnya. Ya, tempat itu masih sama seperti terakhir kali Sakura meninggalkannya. Itachi berdiam sejenak di sana sembari memandangi apartemen itu. Lampu Sakura memang tak pernah mati meski sebenarnya dia sudah tidur. Phobianya pada gelap masih ada hingga kini. Susah sekali memang menyembuhkannya. Ditambah lagi sekarang semenjak stalker yang selalu mengganggunya dulu itu, Sakura semakin takut dekat dengan seorang laki-laki. Makanya hingga kini Sakura belum bisa memulai hubungan dengan orang lain. Termasuk Itachi sendiri. Makanya Itachi memilih mundur teratur. Ya, pria baik memang tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan karena terlalu memikirkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri.
Sebenarnya jika mau dikatakan, bisa saja Itachi yang mendesak Sakura, tapi karena rasa sayang yang terlalu itu, tentu saja Itachi tidak ingin memanfaatkan keadaan Sakura yang seperti itu demi kepentingannya. Sakura berhak memiliki keputusannya sendiri.
Meski…
Benarkah akhirnya Hinata dan Sasuke menikah? Kenapa Sasuke tidak mengabarkan ini pada keluarganya. Mungkin jika mereka memilih menikah di luar negeri, bukan masalah tidak mengabari keluarga Uchiha lainnya. Tapi mereka memilih menikah di Jepang. Apalagi ada undangannya. Bukankah itu…
Ya sudahlah. Lagipula Itachi belum bertemu langsung dengan Sasuke setelah sekian lama. Apalagi setelah pembicaraan terakhir mereka dulu…
Sewaktu di bandara.
.
.
*KIN*
.
.
Sial! Terlambat!
Sakura tak menyangka dia bisa ketiduran di hari keberangkatannya sendiri! Padahal semalam dia sudah memasang alarm loh! Ternyata alarm sama sekali tidak berguna!
Makanya Sakura berlari secepat yang dia bisa untuk mengejar kereta tujuan Kobe.
Rencananya di Kobe dia akan meliput berita tentang badai salju yang terjadi di sana. Katanya juga sempat terjadi gempa kecil. Jadi sebenarnya Sakura akan meliput mengenai bencana alam di sana. Astaga, bencana di dalam dirinya saja sudah begitu menyusahkan. Sekarang Sakura akan datang ke tempat bencana lagi.
Untungnya Sakura bisa mengejar kereta dengan tepat waktu. Meski pada akhirnya…
"Hei, kau tidak mandi lagi?" seru Kiba begitu Sakura sudah duduk berhadapan dengan rekan lainnya. Ya, mereka berempat-lah yang akan pergi ke Kobe sekarang. Tenten dan Sai yang bertugas meliput di daerah yang sama meski beritanya berbeda. Mereka berempatlah yang ditugaskan meliput setelah sebelumnya Sakura menolak untuk meliput sebuah pernikahan model yang pernah diwawancarainya dulu. Ternyata acara special yang dikatakannya waktu itu adalah sebuah pernikahan! Menggelikan.
"Hei! Mungkin benar aku tidak mandi, tapi aku tidak bau tahu!" bantah Sakura.
"Sai, katakan dengan jujur! Kau duduk di sebelahnya kan?! Dia pasti bau!" sindir Kiba.
"Aku tidak begitu terganggu," sahut Sai yang masih melihat-lihat berkas berita yang akan mereka rekam nantinya.
"Benarkan! Hidungmu itu berlebihan tahu!"
"Ck, kenapa kau setuju ke Kobe sih? Padahal atasan sudah menyuruhmu meliput pernikahan model itu kan?" gerutu Kiba.
"Memang kenapa? Aku senang pergi ke Kobe. Aku tidak suka pesta!"
Bukan begitu sebenarnya.
Alasan sesungguhnya Sakura tak datang adalah…
Sedang asyiknya membahas berita yang akan berita liput kemudian, ponsel Sakura mendadak berdering di saku jaketnya. Astaga… apalagi ini.
Melihat nama pemanggilnya, Sakura mengerutkan dahi.
"Ada apa Ino?" tanya Sakura cuek.
"Hei, kau dimana hari ini?" ujarnya.
"Aku? Di kereta menuju Kobe."
"Apa? Kobe? Hei, kau tidak lihat berita hari ini?"
"Berita? Aku sudah bosan melihat berita. Sekarang kau malah bertanya tentang berita," kata Sakura.
"Maksudku… ini tentang model yang kutanya waktu itu. Dia menikah hari ini ya?"
"Hm, kata temanku sih iya. Kenapa?"
"Kau tahu tidak siapa pengantin wanitanya?"
"Tidak. Memangnya siapa?"
"Kau pasti terkejut melihatnya. Dia kan—"
Tuut… tuut… tuut…
Sakura diam ketika mendengar sambungan terputus dari teleponnya. Begitu melihatnya, ternyata baterai ponselnya sudah sekarat. Astaga… karena semalam, Sakura lupa segalanya. Dia bisa dimarahi atasan jika ponselnya tidak aktif seperti ini.
"Hei… ada yang bawa powerbank? Boleh pinjam sebentar?"
.
.
*KIN*
.
.
Hm, kira-kira sampai kapan Hinata ada di sini ya?
Sakura belum membelikan kado yang cocok untuknya. Padahal Hinata sudah berbaik hati mengundangnya. Kenapa Sakura malah bersikap seperti ini?
Setelah meliput berita di Kobe, Sakura tak memiliki kegiatan lain. Makanya Sakura beristirahat seharian di rumahnya dengan tidur saja. Sakura juga beberapa kali mengabaikan panggilan dari Ino. Dirinya sekarang merasa bersalah dengan amat sangat karena…
Dan sialnya, hari ini dirinya malah disuruh meliput berita model yang baru saja menikah.
Meskipun baru menikah, tapi ternyata dia masih menangani beberapa pemotretan dari brand besar. Katanya setelah pemotretan ini, dia baru akan pergi berbulan madu dengan isteri barunya itu. Jadi… apa yang mau Sakura liput sebenarnya?
"Ckckck, aura orang yang sudah menikah memang terlihat berbeda," komentar Kiba ketika mereka berdua sudah menunggu di studio pemotretan seperti biasa.
"Apa? Jadi kau mau menikah juga?"
"Hei, sebagai seorang laki-laki, menikah itu penting. Apa kau tidak ingin menikah huh?" sindir Kiba.
"Menikah? Ahahah, apa itu menikah? Ketika kau sudah menikah, kebebasanmu akan terampas begitu saja! Kau tidak akan punya kebebasan lagi untuk menikmati hidup sendiri yang begitu bahagia!" ujar Sakura menggebu-gebu.
"Hei, inilah yang sebenarnya salah pada dirimu. Apakah menurutmu menikah itu seburuk itu hah? Kalau kau tidak mau menikah, apa kau mau jadi perawan tua kesepian yang tidak bahagia? Apalagi kau tidak pernah berpenampilan feminin, laki-laki pasti takut mendekati perempuan mengerikan sepertimu!"
"Kalau kau mencintai seseorang, kau tidak akan melihat penampilannya! Tapi hatinya," balas Sakura.
"Hei, laki-laki juga memilih penampilan. Kalau sepertimu, aku tidak yakin seseorang mau melihatmu."
"Hah?! Apa kau—"
"Oh, maaf sudah membuat kalian menunggu. Aku yang membuat janji tapi kalian malah menunggu lama seperti ini. Maafkan aku."
Sakura menghentikan kata-katanya dan menundukkan kepalanya menyambut si model heboh itu. Menikah di saat karirnya menanjak tinggi huh…
"Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang?" tanya Sakura.
"Oh sebentar. Aku mau bertemu temanku yang sudah sengaja datang hari ini. Bolehkah aku memanggilnya sebentar?"
"Tentu saja," sahut Kiba.
"Terima kasih, Sasuke! Oi, Sasuke!"
Ketika Sakura hendak menulis sesuatu di memonya, penanya jatuh begitu saja ketika nama seseorang diteriakkan begitu kuat oleh model ini. Tangan Sakura sempat gemetar.
"Hei, Sasuke itu… apa dia Uchiha Sasuke, Super Star Jepang yang sempat menghilang lima tahun lalu itu?" bisik Kiba.
Uchiha… Sasuke…?
Uchiha Sasuke…?
Apa benar… namanya… Uchiha Sasuke?
"Oh, benar. Itu benar dia. Kapan Uchiha Sasuke kembali kemari? Bukankah dia sudah jadi model tenar di New York?" bisik Kiba lagi.
Dada Sakura berdebar begitu kencang. Rasanya sakit sekali sampai-sampai dirinya tak mampu bernapas dengan baik sekarang. Bagaimana ini… kalau seperti ini terus… Sakura belum siap.
"Ya, dia temanku dari New York. Namanya—"
"Maafkan aku, aku pergi dulu!"
"Oi, Sakura!" seru Kiba.
Sakura langsung berlari tanpa sempat berbalik lagi. Kakinya berusaha berlari cepat meninggalkan studio itu.
Kalau itu benar Uchiha Sasuke yang dikatakan oleh Kiba…
Sakura belum siap bertemu dengannya sekarang ini…
.
.
*KIN*
.
.
Sakura sudah meminta Tenten untuk menggantikannya mewawancarai model itu.
Entahlah apa yang Sakura pikirkan tadi. Dirinya malah buru-buru berlari keluar dari studio itu dan langsung naik taksi menuju kantornya. Sekarang, ketika malam telah larut, Sakura masih berada di mejanya. Sedari tadi tangannya sudah menghabiskan berlembar-lembar kertas dengan coretannya. Ya, bisa ditebak apa yang terjadi setelah Sakura melarikan diri seperti tadi. Dia kena marah alias kena oceh atasannya karena seenaknya menyuruh orang menggantikan tugasnya. Dan entah mau disebut beruntung atau kesialan, Sakura malah diberikan peringatan dan harus menulis surat permohonan maaf.
Ketika jam menunjukkan hampir tengah malam, Sakura baru sadar dari lamunan anehnya sepanjang hari ini. Sudah terlalu malam. Dan sepertinya Sakura lupa menyalakan lampu rumahnya. Apa sebaiknya dia menginap saja di kantor? Setidaknya kantor akan selalu lembur setiap malam kan? Lampu ruangan akan terus hidup. Kalau kembali ke rumah sekarang… sepertinya Sakura harus membeli senter agar bisa menyalakan lampu rumahnya sendiri. Phobia gelap sialan itu masih ada! Bagaimana cara menyembuhkan phobia-nya ini?
Beberapa rekannya sudah lama pulang ke rumah. Sudahlah, lebih baik Sakura juga pulang saja.
Kenapa sepertinya ini hari sialnya? Benarkah hari sial?
Karena orang yang sudah lama dirindukan oleh Sakura muncul di dekatnya. Tapi Sakura justru melarikan diri tanpa sempat melihat wajah orang itu sudah seperti apa setelah lima tahun berlalu. Dan kemudian… bagaimana bahagianya dia setelah akhirnya bisa menikah…
Menikah…
Sebenarnya kata-kata Sakura pada Kiba soal menikah tadi lebih ditunjukkan untuk dirinya sendiri memang. Sampai kapan Sakura bisa bertahan dengan rasa sendiri ini? Dia tidak mampu menerima perasaan orang lain, tapi tak membiarkan seorang pun menaruh perasaan untuknya. Karena Sakura masih takut menjadi buih. Ya, perasaannya lima tahun dulu masih melekat hingga kini. Sakura memang tak pernah menyatakan langsung perasaannya pada orang yang dirinduinya itu. Hingga akhirnya, Sakura menjadi takut memiliki perasaan seperti ini lagi pada orang lain. Dirinya takut… ya… takut ditinggalkan lagi. Seperti halnya orang itu yang meninggalkan dirinya meskipun dia mengatakan… menyukai Sakura…
Adakah seseorang yang mengatakan dia menyukaimu tapi kemudian meninggalkanmu?
Bus sudah berhenti. Ya, Sakura sudah tiba di dekat rumahnya. Tapi sebelumnya Sakura menyempatkan diri untuk ke minimarket 24 jam dulu untuk membeli senter. Biasanya kalau Sakura pulang malam, dia akan menyempatkan mampir ke rumahnya di sore hari untuk menyalakan lampu. Ya seperti halnya dulu sih. Kalau di Hokkaido dulu jika Sakura pulang malam, Itachi sudah menyalakan lampu di apartemennya sebelum malam.
Dan sekarang kebiasaan lamanya dimulai lagi.
Tapi, Sakura terus merasa khawatir.
Semenjak dirinya keluar dari kantor, ada perasaan aneh yang mengganggunya. Ya, seperti…
Awalnya Sakura tak mau memikirkannya. Tapi ketika di minimarket tadi, tak lama Sakura masuk, ada juga orang yang masuk mengikutinya. Mungkin Sakura tak akan berburuk sangka jika minimarket itu ramai, tapi sungguh tadi itu sepi sekali. Hampir tak ada pengunjung. Dan anehnya, setiap kali Sakura berjalan lambat, Sakura bisa mendengar suara derap kaki di belakangnya. Tapi begitu menoleh, tak ada siapapun. Begitu Sakura nyaris berlari, ada langkah kaki yang sama di belakang Sakura.
Jujur saja, mungkin Sakura tidak terlihat feminine sama sekali, tapi Sakura juga seorang yang penakut. Sekarang saja Sakura nyaris menangis. Ini pertama kalinya dirinya kembali merasakan perasaan ketakutan seperti ini setelah selesai dari urusan stalker lalu.
Sakura tak mau merasakan perasaan itu lagi!
Akhirnya Sakura berhenti sejenak di pinggir jalan dan kembali mengeluarkan ponselnya. Kali ini dirinya buru-buru mencari nomor Itachi. Tapi begitu Sakura berhenti, dirinya malah mendengar derap kaki lagi mendekatinya. Kali ini lebih dekat. Dan semakin dekat.
Apakah… itu…
"Hei—"
Seseorang menepuk pelan bahunya hingga membuatnya menjatuhkan ponselnya sendiri. Seharusnya Sakura lari, tapi kakinya mendadak lemas. Karena itu tanpa sadar, Sakura malah jatuh terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya erat-erat.
"Pergi! Pergi! Kau mau apa?!" pekik Sakura.
Sakura yakin di depannya kini ada orang asing yang mencoba menyakitinya. Sakura sudah berusaha menahan tangisnya, tapi benar-benar… suasana malam seperti ini sangat mendukung seseorang untuk berbuat jahat.
"Jangan ikuti aku! Pergilah! Kalau kau nekat aku akan berteriak!" pekik Sakura lagi.
"Kau sudah berteriak, bodoh."
Sakura diam.
Suara ini…
Perlahan-lahan Sakura membuka kedua tangannya. Dan begitu mengangkat wajahnya, matanya terbelalak lebar melihat seseorang sudah berjongkok di hadapannya.
Seseorang yang mengenakan topi hitam, syal putih yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Dia kan…
Tiba-tiba sesuatu yang hangat mencair dari celah sudut mata zamrud Sakura.
Sudah… kali ini Sakura benar-benar tidak tahu lagi.
"Kenapa kau menangis? Kau benar-benar ketakutan?"
"Kenapa… kau di… sini?" gumam Sakura terbata-bata.
"Kenapa tadi kau lari hah? Apa kau melihatku seperti melihat hantu? Itukah sikapmu setelah tidak bertemu denganku selama lima tahun? Kau pura-pura tidak mengenaliku?" ujarnya seraya sedikit menurunkan syal putihnya agar wajahnya terlihat sempurna di hadapan Sakura.
Dia sama sekali tidak berubah.
Tidak, dia memang tidak berubah sama sekali. Dia masih sama. Sekali pun mereka terpisah begitu jauh dengan waktu dan jarak, dia tetap orang yang sama. Bahkan tak ada yang berubah sedikit pun dari dirinya.
"Aku mendadak ada keperluan penting," kilah Sakura seraya memandang ke tempat lain ketika orang itu masih memandanginya dengan serius.
"Kau bohong kan?"
"Apa itu urusanmu hah?!" Sakura berusaha berdiri dari posisinya, tapi kemudian kakinya tiba-tiba begitu lunglai hingga membuatnya kembali terduduk dengan bokongnya yang mendarat lebih dulu. Selain sakit, sekarang Sakura merasa lemas bukan main.
"Kau benar-benar ketakutan. Apa kau mengira aku ini pencuri atau maniak?"
"Bukan begitu… kukira… ada stalker… yang mengikutiku lagi…" lirih Sakura.
"Stalker?"
"Itu cerita lama! Sedang apa kau di sini? Mau mengejekku hah?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Memang kenapa?"
Sakura terbelalak lebar mendengarnya. Dia… terlalu to the point…
"Sudahlah, rumahmu sudah dekat kan? Kukira kau tidak pindah kemana-mana. Aku akan mengantarmu ke pulang. Naiklah."
"Apa maksudmu naiklah hah?! Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, kau seharusnya tidak berkeliaran di malam begini! Nanti ada seseorang yang melihatmu!"
"Hei, aku ini tidak lagi terkenal di sini. Lagipula tak ada yang tahu aku kembali ke Jepang. Jangan membantah lagi dan menurut saja kalau kau sudah seperti anak kucing yang ketakutan begitu!"
Dia memaksa Sakura naik ke punggungnya. Sakura sudah berusaha memberontak, tapi semakin memberontak, semakin kuat dia memaksa Sakura. Akhirnya, karena terlalu lemas setelah mengira yang tidak-tidak tadi, Sakura justru membiarkannya menggendong dirinya sepanjang jalan menuju rumahnya.
"Hei… aku sudah lebih baik, turunkan saja aku…" lirih Sakura.
"Kenapa aku harus menurunkanmu?"
"Melihatmu kesulitan berjalan begini memangnya aku tidak tahu hah? Apa aku seberat itu?"
"Kau tidak berat. Bahkan jauh lebih ringan dari terakhir kali aku menggendongmu. Aku bukannya kesulitan berjalan, aku mengulur waktu supaya lebih lama untuk tiba di rumahmu."
Entah sudah berapa lama Sakura merindukan wangi ini. Entah sudah berapa lama Sakura merindukan saat-saat berdua bersamanya. Bersama Uchiha Sasuke yang kini tepat berada di depannya. Sakura tak mengatakan apapun setelah Sasuke berkata seperti itu. Kemudian, setelah lama berlalu dalam diam, akhirnya mereka tiba juga di apartemen Sakura. Sebelum menaiki tangga, Sakura sudah lebih dulu melompat turun dari gendongan Sasuke secara tiba-tiba. Sakura sempat terhanyut dalam momen ini. Tapi kemudian Sakura sadar akan dirinya sendiri. Sasuke… sudah terikat dengan orang lain.
Ketika Sakura yang tiba-tiba melompat turun itu, Sasuke sempat terkejut dan langsung berbalik melihat Sakura.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai sini, aku masuk dulu," ujar Sakura buru-buru.
Tapi kemudian, Sasuke menghalangi Sakura yang akan baik ke tangga itu dengan sebelah tangannya. Sasuke membuat palang dari tangannya sendiri sebelum Sakura berusaha naik ke atas.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" tuduh Sasuke.
"Haa? Apa maksudmu?"
"Melihat gelagat bodohmu yang sibuk menghindariku dan berusaha kabur dariku itu sudah cukup bukti ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakan, apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Hei! Kita ini baru saja bertemu setelah lima tahun dan ini pertemuan pertama kita! Bagaimana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu hah?!"
"Lalu kenapa kau menghindariku seperti itu?"
"Itu karena… karena aku… aku hanya…"
"Lihat, kau berusaha berbohong lagi."
"Aku hanya… karena kupikir… tidak ada alasan lagi untukku bertemu denganmu. Tidak, kita tidak punya alasan untuk bertemu lagi."
"Tidak ada alasan? Lalu kau pikir aku kembali kemari untuk apa?!"
"Sudah jelas kan? Untuk menikah dengan Hinata! Memangnya aku tidak tahu?"
"Hah? Kau ini bicara apa?"
"Hinata pasti memberitahumu kan kalau dia bertemu aku beberapa minggu yang lalu? Kenapa kau pura-pura bodoh? Memangnya aku masih sebodoh dulu hah?"
"Tunggu dulu, kau pasti salah paham."
"Apanya yang salah paham? Kau yang salah paham! Seberapa rindunya aku padamu, aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi! Apalagi kau sudah menikah!"
"Hei, aku membiarkanmu terus bicara omong kosong seperti ini, tapi kau sama sekali tidak memiliki bukti apapun yang kau tuduhkan padaku."
"Bukti? Hahah, kau pikir Hinata akan berbohong soal pernikahannya padaku? Dia jelas-jelas memberikan undangan padaku—"
"Apa kau melihat undangan itu?"
Sakura diam, lebih kepada terkejut. Ya, sejujurnya… tidak. Karena itu Sakura salah tingkah sekarang.
"Tidak? Kau tidak melihat undangan itu tapi malah menuduhku macam-macam?"
"Jadi… itu bukan… undangan pernikahanmu dengan… Hinata…?"
"Naruto. Uzumaki Naruto. Dia kan model yang kau wawancara waktu itu. Bukankah kau tahu dia akan menikah, tapi kau tidak tahu siapa mempelai wanitanya? Bodoh sekali…"
Haaa?
Jadi… model asing dari New York itu adalah suami Hinata? Jadi… berita heboh mengenai pernikahannya waktu itu adalah pernikahan Hinata?
Astaga… Sakura sama sekali tidak tahu…
"Kau merasa bersalah sekarang?"
Astaga… bagaimana ini? Kenapa dirinya begitu bodoh seperti ini?!
"Hei kau—"
"Berhenti! Karena sudah malam, aku akan masuk ke dalam kau jangan mengikutiku! Kalau kau mengikutiku aku akan berteriak dan melaporkanmu ke polisi sebagai seorang stalker!" ancam Sakura dengan cepat.
Sebelum sempat Sasuke merespon, Sakura sudah lebih dulu memotong Sasuke dan bergerak cepat untuk meloloskan diri darinya.
Dasar bodoooooooooooooooooooh!
.
.
*KIN*
.
.
Semalaman Sakura tak bisa tidur.
Kepalanya penuh dengan semua hal bodoh yang berputar di sekelilingnya. Sekarang rasanya mau keluar dari rumahnya benar-benar malu bukan main. Sakura malu pada dirinya sendiri. Dia berpikir yang tidak-tidak, asal bicara tanpa bukti dan… astaga… apa yang akan Sasuke pikirkan tentangnya setelah ini.
Sasuke…
Tunggu… jadi sebenarnya Sasuke tidak menikah dengan Hinata. Tapi kenapa mereka tinggal bersama selama ini? Dan sampai lima tahun?!
Tunggu, sebelum mengenal Sakura pun, sebenarnya Sasuke sudah lama tinggal dengan Hinata kan? Tepatnya setelah Sasuke pergi dari rumah. Setidaknya itu yang dikatakan Itachi padanya soal penyebab Sasuke tidak mau kembali ke rumah dan marah pada ayahnya sendiri. Jadi, sebenarnya kenapa orang itu… kenapa Hinata…
Kalau dia akhirnya menikah dengan orang lain, kenapa Hinata masih menginginkan Sasuke berada di sisinya? Jika pada akhirnya dia bisa melepaskan Sasuke, kenapa Hinata tetap mempertahankan Sasuke meski tahu Sasuke…
Pagi memang sudah menjelang, tapi Sakura masih sibuk dengan semua pikirannya.
Entah apa yang sebenarnya ingin dipikirkan oleh Sakura mengingat semua masalah rumit ini muncul begitu saja di dalam kepalanya. Ya, karena terlalu malas melakukan sesuatu, Sakura hanya mencuci muka dan menggosok giginya saja lalu keluar dari apartemennya untuk kembali memulai pekerjaannya.
"Selamat pagi, Sakura-san."
Sakura terkejut bukan main saat di dasar tangga apartemennya, dirinya melihat seorang wanita dengan pakaian yang begitu terlihat mahal berdiri di sana. Dan di belakangnya ada sebuah mobil sedan keluaran merek ternama. Hah?
"Pagi… kenapa kau di sini?" tanya Sakura bingung begitu dirinya tiba di bawah.
"Sore ini aku dan suamiku akan kembali ke New York. Karena itu, sebelum pergi aku ingin bertemu dan bicara denganmu. Apa kau punya waktu sekarang?"
Sakura tak punya pilihan selain menuruti Hinata, tamunya pagi ini, masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka memang hanya diam. Sakura sama sekali tidak mengenal mobil ini dan supir yang membawanya. Sepertinya benar ini milik suaminya. Hinata kan sudah menikah. Tapi… kalau semalam Sakura tidak bertemu Sasuke, mungkin sampai hari ini Sakura akan terus merasa salah paham.
Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran kopi yang memang menyediakan sarapan untuk pagi ini. Hinata hanya memesan cappuccino dan croissant. Sakura sendiri tak begitu berminat untuk memesan apapun, makanya dia hanya ingin es kopi saja.
"Kau sudah bertemu dengan Sasu?" tanya Hinata tiba-tiba.
"Eh? Oh… begitulah…" lirih Sakura.
"Kau tidak datang ke pernikahanku waktu itu, apa kau benar-benar membenciku?"
"Heee? Tidak, tidak bukan begitu… sebenarnya aku ada urusan pekerjaan di Kobe pada hari itu… jadi aku… maaf karena tidak datang. Tapi aku tidak pernah membencimu…" balas Sakura.
"Hm, berarti kau salah paham padaku kan? Kau pasti tidak membaca undangan yang kuberikan waktu itu…"
Sakura diam. Dia ini… apa dia ke sini hanya ingin mengejek Sakura? Sepertinya Sakura harus menarik lagi kata-katanya kalau dia tidak membenci Hinata. Tapi, meskipun dia ingin membenci pun, Sakura tak bisa membenci Hinata setelah tahu seperti apa kehidupan yang dijalaninya selama ini. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Hinata untuk kembali menemukan kehidupannya yang sempat terampas karena kecelakaan yang menewaskan keluarganya itu.
Jeda beberapa saat, Hinata mengeluarkan sebuah kotak kecil. Sebenarnya tidak benar-benar kecil sih. Mungkin seukuran telapak tangan. Hinata menyodorkan kotak berwarna pink-biru itu ke depan Sakura.
"Bukalah."
"Apa ini?"
"Kau akan tahu setelah membukanya."
Merasa ragu dan penasaran, tentu saja Sakura mengambil kotak itu dan membukanya perlahan. Ketika kotak itu terbuka sempurna, Sakura membelalakkan matanya selebar mungkin. Jantungnya kembali berdebar kencang. Rasa sesak menghampirinya.
"Melihat reaksimu, sepertinya kau masih mengenal jepit rambut itu," ujar Hinata lagi.
Ini… jepit rambut waktu itu kan? Jepit rambut bermotif bunga sakura yang dibelikan Sasuke saat kencan mereka yang pertama kali itu. Ya… kencan yang sebenarnya untuk kebutuhan dramanya, tapi bagi Sakura itu adalah kencannya pertama kali yang begitu berharga. Sakura tak menyangka… jepit rambut ini masih ada…
"Kau… dapat darimana ini?" lirih Sakura. Karena Sakura yakin waktu itu dia sudah membuangnya karena bertengkar dengan Sasuke setelah kencan itu.
"Sasuke yang menyimpannya. Lima tahun lalu aku menemukan jepit rambut ini di laci meja di kamarnya bersama dengan foto kalian dulu."
"Foto?" ulang Sakura.
"Ya, foto kalian berdua ketika kau memakai jepit rambut ini…"
Sakura kembali terdiam sembari memandangi jepit rambut itu.
"Apa kau tadi mengatakan Sasuke menyimpan jepit rambut ini?"
"Ya. Dia menyimpannya. Waktu itu aku merasa aneh karena Sasuke yang tidak pernah memiliki benda seperti itu mau menyimpannya secara pribadi di kamarnya. Ya, waktu itu juga kupikir dia mungkin mau memberikan itu padaku sebagai hadiah, tapi begitu melihat fotomu yang memakai jepit rambut itu, aku jadi mengerti."
"Mengerti…?"
"Bahwa sebenarnya, Sasuke menganggap jepit rambut itu penting. Mungkin dia tidak bisa mengatakannya padamu, tapi aku mengenal Sasuke lebih dari siapapun. Selama benda itu tak ada artinya untuk Sasuke, dia tak akan pernah menyimpannya secara pribadi di kamarnya sendiri. Alasan kenapa jepit rambut itu ada di kamarnya… pasti dia menganggap jepit rambut itu penting untuknya…"
"Tapi waktu itu… dia mengatakan kalau dia tidak mau menyimpan barang milik perempuan…"
"Jadi, apa kau sudah mengerti kenapa Sasuke sampai menyimpan benda itu kalau dia tidak mau menyimpan barang milik perempuan…"
Sakura mengembalikan jepit rambut itu ke kotaknya lalu kembali menyodorkannya pada Hinata.
"Tidak, aku tidak mau memikirkan apapun lagi. Hinata-san, tolong jangan membuatku bingung lagi. Selama ini aku sudah berusaha untuk tidak lagi—"
"Aku minta maaf padamu. Bahkan kalau kau ingin aku berlutut pun, aku akan melakukannya sampai kau mau memaafkanku."
Sakura diam ketika Hinata memotong kata-katanya. Wajah Hinata yang menatapnya terlihat begitu tulus apa adanya. Saat ini, Hinata begitu… tulus. Dia bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.
"Lima tahun lalu, aku menyadari jika perasaan Sasuke padaku sudah berubah. Di hatinya sudah ada seorang gadis lain yang memenuhi pikirannya. Sasuke juga sempat mengatakan hal itu padaku. Bahwa dia… sudah memiliki perasaan pada gadis lain. Waktu itu, aku sungguh panik. Aku tidak tahu bagaimana aku tanpa Sasuke jika dia benar-benar meninggalkanku. Karena itu, aku memaksanya untuk tetap berada di sisiku meski aku tahu perasaannya telah berubah padaku.
"Aku berpikir, jika kami menjauh darimu, mungkin Sasuke tidak akan memikirkan tentangmu lagi. Tapi ternyata aku salah. Tanpamu, Sasuke terlihat seperti orang lain. Aku tetap tidak bisa mengubah perasaannya lagi. Makanya selama ini… aku hanya ingin bergantung pada Sasuke. Dia benar-benar menjaga dan melindungiku seperti janjinya dulu. Tapi sayang, yang dia lakukan hanya karena rasa tanggungjawab yang dia janjikan dulu padaku. Bukan karena perasaan cinta lagi.
"Makanya, semenjak bertemu dengan suamiku yang sekarang, aku pun mengatakan pada Sasuke kalau aku akan berusaha hidup tanpanya. Aku akan mencintai orang lain agar Sasuke bisa kembali pada perasaannya dulu. Ya, sebelum memulai hubungan dengan suamiku, aku sudah menceritakan semua masa laluku padanya. Alasan kenapa aku begitu bergantung pada Sasuke, suamiku tahu. Setelah mengetahui semua itu, dia tetap mencintaiku dan berusaha membahagiakanku.
"Karena itu, setelah bersamanya, aku baru bisa melepaskan Sasuke."
Sakura hanya diam tanpa tahu harus mengatakan apa.
Sakura pun hanya mendengus geli dengan wajah datar.
"Untuk apa kau mengatakan semua ini padaku setelah kau melakukan hal yang begitu egois? Kau sudah tahu apa yang Sasuke rasakan tapi kau tetap memaksanya berada di sisimu?"
"Aku tidak punya pilihan saat itu. Aku mengerti kalau kau membenciku setelah aku mengatakan hal ini. Tapi apa kau tahu, setelah semua yang kulakukan, Sasuke hanya memikirkanmu. Sejauh apapun aku memisahkan kalian, dia tetap memikirkanmu. Kalau kau ingin membenciku, aku tidak akan menyalahinya. Tapi jangan Sasuke… dia sudah lama menunggumu karena aku."
Hinata sungguh merasa bersalah melihat Sakura yang seperti ini. Jelas, bukan hanya Sasuke yang merasa menderita setelah Hinata memisahkan mereka dengan begini egois. Apalagi setelah masalah mereka yang bertambah jadi setelah itu. Hinata tahu, Sakura-lah yang lebih banyak menderita di sini. Dia harus mengalami mimpi buruk beberapa waktu lalu karena Hinata.
Ya, Hinata akhirnya mengeluarkan dompetnya dan menaruh beberapa lembar uang di mejanya lalu beranjak dari kursinya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin menurutmu maaf saja tidak cukup, tapi—"
"Ya, minta maaf saja memang tidak cukup. Kau harus membayarnya," ujar Sakura seraya berdiri dari kursinya pula.
Sakura berjalan mendekati Hinata dengan mimik wajah yang begitu marah. Hinata pun terbelalak saat menyadari bahwa satu tangan Sakura sudah melayang di udara, sepertinya siap untuk menghajar Hinata. Menyadari hal itu, Hinata segera menutup matanya erat-erat.
"Bagaimana aku bisa memaafkanmu… kalau aku pun… bersalah padamu…"
Hinata terkejut.
Sakura tiba-tiba memeluknya begitu erat sambil menangis haru. Mungkin mereka sudah menjadi tontonan beberapa pengunjung kafe ini, tapi sungguh, Hinata merasa sangat senang. Yaa… senang sekali. Karena ternyata Sakura adalah gadis yang benar-benar baik. Awalnya Hinata sudah siap menerima semua caci maki dan amarah darinya, tapi Sakura tak lakukan itu.
"Kau harus membayar semuanya dengan menjadi temanku selamanya kalau kau memang merasa bersalah padaku…" lanjut Sakura.
Tanpa ragu dan berpikir dua kali, Hinata menganggukkan kepalanya seraya membalas pelukan erat Sakura.
.
.
*KIN*
.
.
Sejak menikah itu, Hinata sudah meninggalkan Sasuke dan tinggal bersama suaminya yang akan segera kembali ke New York untuk bertemu orangtua Naruto. Ya, karena pekerjaan, orangtuanya tak bisa hadir di pernikahan Hinata, tapi mereka sudah menyiapkan pesta besar di New York untuk menyambut pengantin anaknya itu. Naruto sudah berjanji akan membahagiakan Hinata selama-lamanya.
Ya, seharusnya sore ini Hinata dan Naruto akan pergi setelah Naruto menyelesaikan pekerjaannya sore ini.
Walaupun pada akhirnya Sakura sudah mengetahui semuanya, tapi entah mengapa Sasuke sendiri merasa… bagaimana mengatakannya… dan darimana Sasuke harus memulainya?
Pagi ini, pintu apartemen sewaannya di Roppongi sudah berbunyi. Siapa yang mengunjunginya begini pagi? Apa benar Hinata? Tidak… dia sudah mengambil semua barangnya. Tapi tidak ada seorang pun yang tahu tempat tinggalnya di Tokyo setelah Sasuke datang kemari. Benarkah…
"Sudah lama tidak bertemu, apa kabarmu, Sasuke?"
Sasuke terbelalak tak percaya melihat tamu yang mengunjungi apartemennya pagi ini.
"Tidak menyilakanku masuk?"
Sasuke hanya diam sembari memberikan luang agar tamunya bisa masuk ke dalam apartemennya. Ya, Sasuke juga tidak memiliki ide bagaimana dia bisa menemukan tempat tinggal Sasuke. Tapi ya, itu bukan hal penting. Masalahnya adalah, ada apa dia tiba-tiba datang pagi begini. Begitu dari dapurnya, Sasuke menaruh dua kaleng kopi instan di atas meja ruang tamunya karena sudah melihat si tamu berkeliling apartemennya.
"Kopi instan, tidak apa-apa kan?" tanya Sasuke dengan nada datar.
"Oh, kau peduli pada tamu juga rupanya."
"Katakan ada alasan apa kau datang menemuiku, Nii-san?"
Ya, tamunya pagi ini yang membuatnya terkejut bukan main adalah kakak kandungnya sendiri, Uchiha Itachi. Melihatnya berpakaian formal dengan setelan mahal seperti biasa, sepertinya Itachi ada urusan di kantornya.
"Keluarga Uzumaki adalah rekan bisnis Uchiha di New York. Karena itu ketika putra mereka menikah di Jepang, mereka mengundang Uchiha untuk ikut datang. Tapi karena pekerjaan, aku tidak bisa hadir. Termasuk ayah dan ibu. Tidak kusangka putra Uzumaki yang juga model itu ternyata menikah dengan Hyuuga Hinata."
"Apa kau datang begini pagi untuk mengoceh hal seperti itu padaku?"
"Tidak juga. Aku ingin mengundangmu dengan resmi. Setelah tidak ada yang kau urus sepertinya kau akan lama menetap di Jepang kan? Karena itu… datanglah ke acara penting untukku."
"Acara penting?" ulang Sasuke.
"Lusa lagi aku akan menikah. Kau terkejut?"
Menikah?
Tunggu… beberapa waktu lalu kalau tidak salah ketika mengantarkan Hinata ke butik pengantin itu, Sasuke melihat seorang gadis berambut pink memakai gaun pengantin… jadi…
"Dengan siapa kau menikah?" tanya Sasuke langsung.
"Wah, ternyata kau penasaran dengan calonku rupanya. Aku tidak akan memberitahumu. Kalau kau begitu penasaran, datanglah ke pernikahanku di Hall Ginza Hotel."
"Kau mau bermain-main denganku?"
"Tidak, tapi aku senang melihat wajah penasaranmu itu. Oh ya, meskipun kau tidak menyerah soal Sakura, tapi dia sudah lama menyerah tentangmu. Bagaimana kalau kau melepaskannya saja sebelum terlambat? Kau bisa menyesal kalau tidak melepaskannya."
Setelah mengatakan hal itu, Itachi tersenyum misterius padanya.
"Selama empat tahun hidup bersama dengannya sangat menyenangkan. Aku sudah tahu lebih banyak tentangnya darimu. Karena itu, bagaimana kalau kau melupakannya saja?"
"Kalau kau tidak lupa, lima tahun lalu aku pernah mengatakannya padamu. Kau bisa bersama dengannya selama apapun, tapi suatu saat aku akan mengambilnya kembali tidak peduli apa yang terjadi. Jadi kurasa, empat tahun sudah cukup untukmu bersama dengannya. Dan aku yakin perasaannya tidak pernah berubah sejak lima tahun yang lalu. Bukan begitu?"
"Hm, kau tetap sombong seperti dulu. Tapi apa kau bisa mengubah takdir? Bagaimana kalau sekarang, gadis itu sudah terikat dengan orang lain? Apa yang bisa kau lakukan?"
"Aku akan memutuskannya. Karena bagi Sakura, orang yang ada di hatinya hanya aku. Dan kurasa kau lebih tahu dari siapapun kan?"
"Oh begitu. Kau tampak percaya diri sekali. Baiklah, kita lihat nanti. Aku pergi dulu, ada rapat yang tak bisa kutinggalkan. Nah, sampai nanti lusa, Sasuke-kun…"
Apa-apaan kakaknya itu? Apa benar…
Masa sih?
.
.
*KIN*
.
.
Begitu tiba di kantornya, Sakura kembali membuka kotak pink-biru pemberian Hinata tadi pagi. Ya, Sakura tak punya pilihan selain membawanya. Entah mengapa perasaan senang bergelayut manja di hatinya. Senang sekaligus bahagia. Tadinya setelah membuang jepit rambut ini, Sakura merasa menyesal karena ini adalah benda pertama yang diberikan Sasuke padanya. Tapi karena pertengkaran waktu itu, Sakura jadi sebal sekali pada mantan Super Star sialan itu.
Yah, walaupun sekarang akhirnya jepit rambut ini bisa didapatkannya lagi.
"Oh, Sai! Lihat ke sini!"
Kiba berjalan santai melewati meja si reporter Haruno itu. Kebetulan tidak ada berita yang menjadi tugasnya hari ini. Kiba tertawa geli melihat wanita yang katanya tidak mau menikah ini tersenyum manja, ya hampir mengerikan untuk Kiba, karena sebuah jepit rambut.
Sai yang sedang berjalan melihat dokumen berita yang ditugaskan padanya jadi terpaksa mengikuti Kiba karena sepertinya cameramen satu ini terlihat begitu antusias.
"Lihat wanita cerewet yang katanya tidak mau menikah itu? Apa dia baru saja membeli jepit rambut? Jadi sekarang dia peduli penampilan juga ya?" sindir Kiba.
"Memang ada hal aneh seorang wanita melihat jepit rambut?" ujar Sai datar.
"Jepit rambut itu seperti anak SMA yang baru saja jatuh cinta! Dia terlalu tua untuk itu!" kelakar Kiba.
Masih dengan ide isengnya, Kiba mengendap-endap ke belakang Sakura dan mengambil jepit rambut itu dengan sekali tarik. Tentu saja Sakura terkejut bukan main dan berteriak heboh pada Kiba hingga membuat satu ruangan jadi penuh.
"Hei Kiba! Kembalikan sekarang! Kau mau mati hah?!" pekik Sakura tak terima.
"Hahaha, apa ini? Apa kau mengambil ini dari anak sekolah hah?" ledek Kiba.
"Hei! Itu milikku! Kembalikan sialan!" maki Sakura sambil berusaha mengambil jepit rambutnya yang diangkat tinggi-tinggi oleh Kiba sehingga Sakura kesulitan mengambilnya.
"Inuzuka! Haruno! Jangan berisik di dalam kantor!" tegur supervisor mereka.
Tentu saja Kiba dan Sakura langsung terdiam dan menunduk meminta maaf.
"Oh ya, Haruno, ada tamu untukmu di bawah," lanjut sang supervisor.
"Tamu?" ulang Sakura.
Begitu Sakura akan pergi menuju lobby kantor dimana si tamu menunggu, Sakura teringat dengan jepit rambutnya dan langsung mengambilnya dari Kiba, lalu kemudian tak lupa satu tendangan ke tulang kering si sialan itu!
Siapakah yang datang begini pagi ke kantornya?
Lagipula, orang yang tahu kantornya hanya Ino dan Itachi. Mungkinkah dua orang itu, atau salah satunya yang datang?
Begitu tiba di resepsionis kantor, Sakura menanyakan tamu yang datang mencarinya. Rupanya memang ada seorang pria dengan kacamata hitam, syal tebal yang menutupi hampir sebagian wajahnya dan topi. Dia juga berdiri membelakangi Sakura seraya melihat ke luar dinding kaca kantor. Siapa dia? Mencurigakan…
"Anooo, ada perlu apa denganku?" tanya Sakura ragu. Kalau orang ini mencurigakan, Sakura akan langsung berteriak dan memanggil polisi!
Begitu berbalik, si tamu mencurigakan ini membuka kacamata hitamnya dan menurunkan syalnya. Tentu saja Sakura terkejut bukan main. Rasanya dia ingin berteriak tapi kemudian tertahan karena menyadari banyaknya orang berlalu lalang di kantor ini.
Itu Sasuke…
"Hei! Apa-apaan penampilanmu itu hah?" seru Sakura dengan nada rendah.
"Kau bekerja sebagai reporter? Tidak kusangka…" sindirnya.
"Itu tidak penting tahu! Tunggu, kau tahu darimana aku bekerja di sini huh? Apa kau membuntutiku?"
"Aku tidak membuntutimu, aku bertanya pada Naruto pada hari kalian datang mewawancarainya."
"Hentikan ini sekarang, caramu muncul sungguh mengerikan untukku!"
"Hah? Mengerikan? Apa maksudmu bicara begitu?"
"Jadi, katakan ada urusan apa kau menemuiku?"
"Apa lusa nanti kau punya acara penting?"
"Hee? Kau tahu darimana aku punya acara penting lusa nanti?"
"Di… Hall Ginza Hotel?"
"Oh, kau tahu! Heee… jadi kau benar-benar berubah menjadi stalker?!" tuduh Sakura.
"Apa maksudmu aku berubah menjadi stalker? Hei, jadi maksudmu… tidak, apa kau benar-benar akan pergi ke sana?"
"Tentu saja. Itu acara yang sangat penting untukku. Ah ya, karena keluargamu akan datang, sebaiknya kau datang. Kau tidak mau jadi anak durhaka selamanya kan? Ayahmu pasti sangat merindukanmu walaupun kau sangat kurangajar padanya!"
"Hei!"
"Kenapa kau membentakku? Oh sudahlah, aku masih ada pekerjaan jadi jangan menemuiku lagi, kau mengerti?"
"Apa? Jadi sekarang kau bahkan menolak bertemu denganku?"
"Dan kalau kau masih menggangguku di jam kantorku, aku akan melaporkanmu pada polisi sebagai penguntit!"
Belum sempat Sasuke memprotes tindakan Sakura yang berlebihan itu, Sakura lebih dulu berbalik dan segera kembali ke kantornya.
Jadi sekarang gadis itu mau mengabaikannya setelah selama ini Sasuke berusaha begitu banyak untuknya? Awas saja dia!
.
.
*KIN*
.
.
Seharian ini karena tidak meliput berita, Sakura harus menulis beberapa berita yang akan diposting oleh kantor di situs resmi stasiun TV mereka. Begitu banyak berita sampai membuat Sakura bosan setengah mati. Sekarang saja jari tangannya terasa kram bukan main. Pekerjaan di dalam kantor begini memang tidak cocok untuk Sakura. Dia lebih suka bekerja di lapangan.
Sakura menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya setelah menyelesaikan segalanya.
Tapi kemudian, Sakura tersenyum melihat kotak jepit rambut itu. Satu hari ini terlewatkan begitu lancar. Entah mengapa Sakura merasa sangat senang hari ini. Sasuke datang menemuinya. Dengan melihat Sasuke, Sakura merasa laki-laki itu tidak akan pergi lagi darinya. Meskipun Sakura ingin langsung mendekapnya, tapi tak bisa saja. Sakura belum mempersiapkan hatinya. Mungkin orang akan melihatnya Sakura seperti jual mahal atau jaga image, tapi sungguh, perasaan yang sudah lama ini tak bisa mendadak begitu saja dikeluarkan oleh Sakura. Ya, Sakura menunggu waktu yang tepat. Asalkan Sasuke masih ada di sini, Sakura akan menunggu waktu yang tepat itu.
"Terima kasih sudah menemaniku hari ini… sebentar lagi… sebentar lagi aku pasti akan mengatakannya padamu…" bisik Sakura pada kotak jepit rambut itu.
Sakura sudah bersiap mau pulang. Beberapa senior dan junior-nya juga sudah bersiap akan pulang dan mencari bahan berita. Oh ya, haruskah Sakura mengambil cuti besok untuk hari penting itu? Mungkin sebaiknya Sakura masuk setengah hari saja. Pasti banyak keperluan yang akan dilakukan. Karena tentu saja ini adalah acara besar.
Sakura ingin terlihat baik di acara penting itu.
Sakura sudah keluar dari kantor. Oh sial, saljunya turun.
Hm, kalau tidak salah seminggu lagi sudah malam natal kan?
Biasanya di Hokkaido dulu, Sakura dan Itachi akan melewatkan malam natal di sebuah festival yang diadakan di Hokkaido setiap tahun menjelang tahun baru. Tahun kemarin, Sakura merayakan malam natal bersama rekan-rekan kantornya.
Tahun ini… dengan siapa Sakura akan merayakannya?
Oh sial, semakin dingin. Apa sebaiknya Sakura masuk lagi ke kantor sampai saljunya berhenti atau—
Sebuah mobil muncul tepat di depannya. Sakura sampai terkejut karena mengira mobil itu akan menabraknya. Tapi begitu kaca depannya dibuka, Sakura terkejut bukan main melihatnya.
"Sasuke?" gumam Sakura tak percaya.
"Masuklah, aku akan mengantarmu."
"Tidak usah terima kasih, aku bisa pulang sendiri."
"Apa kau ingin mati membeku di jalan hah?"
"Kenapa kau keras kepala sekali?"
"Cepatlah naik… karena kaca jendelanya terbuka udara dingin sudah masuk tahu!"
Jadi…
Kenapa Sakura justru ikut masuk?
Sekarang mereka berada di jalanan, di dalam mobil Sasuke. Sialan.
"Hei, apa kau akan menetap di Jepang? Kau kan bukan artis lagi di sini," ujar Sakura.
"Itulah point-nya. Karena aku bukan artis, akan lebih menyenangkan tinggal di sini."
"Tinggal? Kau berencana tinggal di sini?!" seru Sakura.
"Kenapa? Kau senang?"
"Apa aku mengatakan aku senang?"
"Kelihatannya kau memang senang."
"Dengar ya, sekarang ini kita tidak punya hubungan apa-apa. Kau sudah mengakhirinya kan?"
"Aku tidak pernah mengakhiri hubungan apapun denganmu."
"Sasuke…"
Tiba-tiba Sasuke menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ya, sebuah minimarket ada di sana.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Sakura bingung.
"Aku lapar dan haus. Belikan apapun yang bisa kumakan sekarang."
"Haaa? Apa maksudmu?"
"Hei, kalau pekerjaanmu itu membuatmu pulang selarut ini, kenapa tidak berhenti saja dan cari pekerjaan lain? Aku menunggumu selama sembilan jam lebih! Sekarang aku kelaparan!"
"Apa? Untuk apa kau menungguku selama sembilan jam?"
"Karena kau mengatakan tidak ingin diganggu pada jam kantormu kan?!"
"Apa maksudmu itu salahku?!"
"Tentu saja itu salahmu, ah! Cepatlah aku lapar sekali sekarang!"
Sakura mengernyitkan dahinya. Kenapa orang ini sudah menjadi manja seperti ini sekarang? Dia bahkan bertambah menyebalkan sekali!
Saking malasnya, Sakura mengeluarkan dompetnya dengan asal dari tasnya, nyaris melemparkan tasnya ke kursi tempat didudukinya tadi. Setelah yakin Sakura keluar dan masuk ke dalam minimarket itu, Sasuke tersenyum geli. Dia memang tidak berubah sama sekali. Sasuke terus memperhatikan Sakura yang sibuk memilih sesuatu di konter minimarket itu. Sesekali Sasuke juga melihatnya tampak marah-marah sendiri di sana. Sudah berapa lama Sasuke tak menyaksikan ekspresi konyol Sakura?
Selagi asyik memperhatikannya dari jendela kaca minimarket, Sasuke terkejut melihat isi tas Sakura yang begitu berantakan dan hampir berhamburan keluar. Sasuke bermaksud memasukkan lagi barang Sakura dengan benar ke dalam tasnya. Kebanyakan adalah note kecil, beberapa pena dan pensil mekanik, CD, earphone dan sebuah kotak berwarna pink-biru.
Melihat kotak itu cukup membuatnya penasaran. Karena itu, Sasuke segera membuka kotak misterius itu.
Sebuah jepit rambut.
"Nee, aku hanya dapat mie instan, kau keberatan?" tanya Sakura begitu membuka pintu mobil Sasuke.
"Tidak apa-apa," jawab Sasuke.
"Hei, apa yang kau lakukan barusan? Kau mencurigakan sekali…" tuduh Sakura.
"Tasmu hampir jatuh karena kau asal menaruhnya. Aku mengembalikannya tadi," ujar Sasuke seraya menerima sebuah cup mie instan dari Sakura.
"Haaa? Kau menyentuh tasku?!" seru Sakura histeris.
"Aku tidak membukanya!" bela Sasuke.
"Benarkah kau tidak melihat isinya?" selidik Sakura.
"Periksa saja sendiri, apa ada yang hilang di dalam tasmu?"
Segera saja Sakura memeriksa isi tasnya dengan terburu-buru. Oh astaga, bagaimana kalau Sasuke melihat kotak ini? Pasti akan sangat aneh. Tapi untungnya tidak ada apapun yang hilang. Sasuke juga terlihat tidak peduli dan tetap melahap mie ramennya begitu nafsu. Apa benar dia kelaparan?
Melihat Sasuke yang masih sibuk memakan mienya, Sakura hanya diam saja seraya melihat pemandangan di luar. Sakura bahkan nyaris mengantuk. Sedari tadi dia ingin tidur, tapi ada saja pekerjaan yang datang. Apalagi semalam dia tidak tidur sama sekali. Matanya sudah mengantuk sekali.
Tiba-tiba dering ponsel Sakura berbunyi, bertepatan dengan Sasuke yang sepertinya baru menyelesaikan makanannya itu. Begitu mengacak isi tas Sakura, akhirnya dia berhasil menemukan ponselnya. Tentu saja melihat nama pemanggilnya membuat Sakura tersenyum bukan main. Senyum yang memang selalu muncul setiap kali melihatnya.
"Oh, Itachi-san… ada apa menelponku malam begini?"
Sasuke nyaris saja tersedak saat melahap suapan terakhir makan malamnya ini. Apa-apaan gadis ini?!
"Menjemputku? Oh sayang sekali, aku sudah mau pulang. Tapi kau bisa mengunjungiku di rumah nanti. Aku ada di…" Sakura menoleh ke arah Sasuke sekilas lalu kembali melihat pintu kaca jendelanya sendiri.
"Taksi! Aku ada di taksi. Karena sudah malam dan salju turun, jadi aku naik taksi…"
"Taksi? Kau mau mati hah!" geram Sasuke yang segera merampas ponsel Sakura dan langsung mematikannya. Sakura sempat menjerit sekilas lalu memandang Sasuke penuh emosi.
"Hei! Apa-apaan kau ini hah?!"
"Kau mengatakan aku taksi? Hei, kalau begitu kau harus membayarku!"
"Aku sudah membayarmu! Memangnya makananmu itu memakai uang siapa hah?!"
"Apa?"
"Kembalikan ponselku!" berontak Sakura.
Sasuke menyingkirkan ponsel itu sejauhnya dari jangkauan Sakura selagi satu tangannya yang tidak memegang ponsel Sakura masih memegang cup mienya.
"Minta maaf dulu padaku!"
"Kenapa aku harus minta maaf padamu hah?!"
"Karena kau—"
Mereka berdua terdiam ketika Sakura tak sengaja menyenggol cup ramen Sasuke. Alhasil sweater Sasuke kini berlumuran kuah ramen. Sakura langsung mundur teratur karena merasa tak enak.
"Maafkan aku~" lirih Sakura.
"Hei!"
Sakura terlihat merasa bersalah memang. Tapi akhirnya Sasuke sendiri harus keluar untuk membersihkan sweaternya sebelum noda kuah ini akhirnya tidak mau hilang. Terpaksa dia meminjam toilet minimarket untuk membersihkannya. Sekarang di udara sedingin ini, Sasuke hanya bisa mengenakan selembar kemeja saja.
Begitu kembali ke mobil, Sasuke bersiap akan memarahi Sakura lagi. Tapi kemudian yang dilihatnya, Sakura sudah terkulai di kursi mobil itu.
Sepertinya Sakura terlihat begitu kelelahan. Dia bahkan tidur begitu nyenyak. Di tangannya masih menggenggam ponsel miliknya yang tadi jadi bahan rebutan mereka berdua. Tapi kemudian, ponsel itu kembali berdering. Nama pemanggilnya lagi-lagi Itachi. Segera saja Sasuke mengambil ponsel itu dan mematikannya lagi dengan segera.
Sasuke tak tahu darimana Sakura mendapat kembali jepit rambut yang sempat hilang dulu ketika dirinya memutuskan akan pindah ke New York bersama Hinata dulu. Ya, jepit rambut itu seharusnya memang diminta oleh Sakura untuk dibuang saja. Tapi akhirnya Sasuke tak tega membuangnya. Sasuke menyimpannya dengan harapan jepit rambut ini akan kembali pada pemiliknya lagi.
Karena sejujurnya, Sasuke memang bersungguh-sungguh membelikan jepit rambut ini khusus untuk Sakura.
Begitu tiba di apartemen Sakura, Sasuke kembali menggendong Sakura, kali ini di lengannya dan membawanya penuh hati-hati setelah sebelumnya Sasuke mengeluarkan kunci apartemennya lebih dulu. Lampu kamarnya sudah menyala. Mungkinkah Sakura sempat kembali untuk menyalakan lampunya. Berarti dia memang masih phobia tempat gelap.
Begitu meletakkannya di kasur, Sasuke sempat menunggunya beberapa saat. Sakura benar-benar tidur begitu lelap.
Sasuke bahkan sempat mendaratkan kecupan ringan di dahinya. Pada gadis yang selalu berada di hatinya. Entah mengapa, berada di dekatnya Sasuke merasa sedikit tenang. Dengan adanya Sakura di dekatnya, Sasuke merasa semua akan baik-baik saja.
Dan Sasuke sungguh berharap… Sakura mau bersamanya selama hidupnya kelak.
.
.
*KIN*
.
.
KRIING… KRIIINGG…
Sakura baru saja mendadak bangun dari tidurnya semalam dan membuka selimut yang ternyata semalaman menutup tubuhnya sampai di kepala. Karena suara sialan itu, sekarang bangun mendadak membuatnya pusing bukan kepalang. Ponselnya berdering begini pagi ada apalagi sih?
"Halo?" sambut Sakura dengan suara seraknya di pagi hari.
"Hei! Kau baru bangun? Kau tidak datang ke kantor hah?"
Kiba? Astaga…
"Sebentar lagi… aku masih mengantuk…"
"Ckck. Hei, setengah jam lagi kita akan meliput berita di luar. Pastikan kau tepat waktu!"
Sakura hanya menjawab asal-asalan dan segera mematikan ponselnya. Rekannya satu itu memang tidak pernah akur dengannya. Walaupun mereka melakukan pekerjaan dengan professional, tapi tetap saja Kiba terlalu iseng mengganggunya. Contohnya seperti pagi ini.
Sakura menguap lebar dan lalu berbalik memutar posisi tidurnya. Sepertinya semalam dia tidur begitu nyenyak…
Tapi kenapa sepertinya kasurnya menjadi sempit yaa?
Hah? Apa itu…?
KYAAAAAA!
Reflek Sakura menendang jatuh sesuatu yang sedari tadi ternyata ada di kasurnya. Kontan saja Sakura segera berdiri dari tempat tidurnya dan mundur sejauh mungkin dari tempat tidurnya. Tidak… tidak mungkin…
Apa-apaan itu?!
"Aww… hei! Apa-apaan kau ini menendang orang yang sedang tidur!"
Mimpi! Tidak… ini sepertinya nyata… tapi kenapa Sakura tidak ingat apa yang terjadi semalam? Dia mabuk? Tidak, Sakura tidak merasa dirinya meminum apapun. Yang dia jelas ingat semalam adalah, setelah bertengkar dengan Sasuke-sial itu, Sakura tertidur tanpa sadar karena mengantuk sekali. Dan akhirnya—
"Hei, apa yang terjadi denganmu?"
Sakura langsung berbalik dan menatap sinis pada Sasuke yang kini berdiri di belakangnya dengan jarak.
"Apa yang kau lakukan semalam padaku?" tanya Sakura serius.
"Hah? Apa maksudmu bertanya begitu?"
"Apa… terjadi… sesuatu di antara kita?"
"Pantas kau jadi seorang reporter, imajinasimu sangat bagus!" sindir Sasuke.
"Hei! Kau tidur di sebelahku sepanjang malam dan kita hanya berdua di sini?! Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi semalam!" bentak Sakura emosi.
"Mau kuingatkan apa yang terjadi semalam setelah kau menumpahkan kuah ramen di sweater-ku?"
"Tidak! Aku… berubah pikiran…"
"Sebenarnya ada apa dengan—"
"Aku mau bersiap-siap ke kantor!" potong Sakura yang segera berlari masuk ke dalam kamar mandinya.
Sakura hanya mencuci muka, menggosok gigi dan mengganti pakaiannya saja. Tidak sempat kalau dia ingin mandi. Alhasil rambutnya masih sangat acak-acakan meski hanya diikatnya asal. Setelah kejadian memalukan itu, Sakura dan Sasuke kini duduk berhadapan di meja makan. Ya, Sakura hanya menyediakan sarapan seadanya saja karena sejujurnya Sakura juga tidak pernah sarapan. Hanya roti tawar dan susu. Sakura terus menundukkan kepalanya dengan Sasuke yang bersedekap dada memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Kau tidak minta maaf padaku setelah menendangku tadi?" sindir Sasuke.
"Aku minta maaf," lirih Sakura.
"Kau juga tidak minta maaf setelah menuduh macam-macam?"
"Aku… minta maaf…"
"Sekarang menurutmu siapa yang salah di sini? Kau juga tidak minta maaf?"
"Aku benar-benar… minta maaf…"
Sasuke melongo mendengar penuturan dari gadis bodoh ini. Kenapa tiba-tiba dia jadi penurut dan begitu pendiam? Tidak, mungkin bukan pendiam. Dia hanya bereaksi seperti biasa jika Sakura melakukan kesalahan dan mengakuinya.
"Dengar, semalam aku mengantarmu pulang karena kau sudah ketiduran. Aku tidak melakukan apapun padamu. Semalam juga, karena sudah terlalu larut, sebenarnya aku mau pulang, tapi mendadak aku mengantuk sekali. Aku tidak mungkin menyetir dalam keadaan mengantuk, jadi kuputuskan untuk tidur sebentar. Tidak tahu kenapa… aku malah ketiduran," jelas Sasuke.
Sakura hanya diam. Ya, Sasuke benar. Kalau memang ada sesuatu yang terjadi pada mereka, Sakura pasti menyadarinya. Sakura hanya panik tadi pagi. Dirinya bersikap begitu berlebihan karena ya… terbawa oleh suasana.
"Kalau kau sudah mengerti kenapa tidak bicara padaku? Biasanya kau akan marah-marah atau apa saja…"
"Aku minta maaf, sudah salah paham…"
Sakura menyudahi makan paginya dan langsung mengambil tasnya.
"Aku… pergi dulu… kau bisa keluar setelah membersihkan dirimu. Taruh saja kuncinya di bawah pot…" ujar Sakura.
Ketika Sakura hendak berbalik, Sasuke segera berdiri dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tangan Sakura hingga membuatnya terkejut bukan main.
"Kenapa kau menghindariku lagi?" tanya Sasuke.
"Aku tidak menghindarimu…" kata Sasuke tanpa berbalik melihat Sasuke meski pergelangan tangannya masih digenggam oleh Sasuke.
"Kalau begitu lihat aku sekarang."
Sakura diam. Bagaimana mau melihatnya sekarang? Sakura benar-benar malu dan salah tingkah sekarang. Pikirannya jadi kacau.
"A-aku bisa terlambat! Aku pergi dulu."
Sakura berusaha melepaskan genggaman tangan Sasuke, tapi karena itu Sasuke semakin menggenggamnya jauh lebih erat.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu, kalau kau menolak aku tidak akan melepaskannya!"
Kenapa orang ini jadi keras kepala begini sih?
"Kalau begitu kau harus membersihkan dirimu… aku akan menunggu…" lirih Sakura.
"Kalau kau melarikan diri lagi, aku akan memberikan pelajaran padamu!" ancam Sasuke.
Sakura hanya menunduk saja, karena Sasuke sudah melepaskan pegangan tangannya. Tapi begitu yakin Sasuke sudah masuk ke dalam kamar mandi, Sakura segera mengambil langkah seribu dan pergi secepat mungkin tanpa diketahui oleh Sasuke.
.
.
*KIN*
.
.
"Hei, kau baik-baik saja? Lihat wajahmu merah sepert tomat busuk," sindir Kiba.
Bagaimana mungkin tidak memerah jika Sakura berlari secepat yang dia bisa sampai sini. Bahkan saking ingin cepatnya Sakura melarikan diri, Sakura sampai memanggil taksi dan meminta supir taksi itu mengebut sebisa mungkin. Sekarang setelah tiba di kantor, al-hasil Sakura kelelahan karena terus berlari seperti pelari marathon. Benar-benar melelahkan.
"Kau tidak perlu tahu!" ujar Sakura.
Kiba hanya menggerutu kecil ketika Sakura bersiap dengan alatnya sendiri untuk meliput. Sepertinya mereka akan memulainya meliput dari depan gedung stasiun TV. Sakura sudah menata rambutnya sedemikian rapi dan mengenakan pakaian formal agar bisa meliput berita di depan kamera.
"Oi, kau tidak mandi lagi?" ujar Kiba yang menyadari penampilan Sakura di depan kamera ketika membidik reporter stasiun mereka itu.
"Apa masalahmu hah?! Aku ini baik-baik saja!" bentak Sakura emosi.
"Kenapa kau jadi marah-marah begitu?"
"Sudah, sudah, cepat rekam aku!"
Sakura sudah membaca naskah berita yang harus disampaikannya. Setelah rehersal sebentar, Kiba mulai memberikan aba-aba untuk memulai liputan mereka. Tapi bukannya memulai Sakura tercengang kaget melihat sebuah mobil yang tepat berhenti agak jauh dari belakang Kiba dan rekan lainnya yang meliput ini. Tadinya Sakura tidak ingin mengacuhkannya, tapi kemudian matanya semakin membelalak saat melihat siapa pemilik mobil yang keluar dengan sok keren itu. Jelas saja mulut Sakura semakin ternganga lebar.
"Hei, mulailah bicara! Kenapa mulutmu saja yang terbuka begitu!" ujar Kiba yang mulai pegal dengan tingkah konyol rekannya ini.
Sakura tak mendengarkan kata-kata Kiba karena ternyata laki-laki itu sudah berjalan dengan cepat mengarah padanya. Sepertinya dia sempat berganti pakaian karena itu bukan pakaiannya yang semalam.
Melihat Sakura yang sepertinya terhipnotis itu, Kiba memutar dirinya bersama dengan kameranya ke arah mana Sakura memandang itu.
"Hei, itu kan…?" gumam Kiba.
Mau apa dia kemari?!
Sakura sampai kaku dan lupa bergerak karena begitu gugup laki-laki itu semakin dekat ke arahnya tanpa memandang sekelilingnya sedikit pun. Tampaknya dia terlihat seperti berjalan di atas catwalk dan bukannya berjalan di atas aspal yang begini dingin karena cuaca bulan Desember ini.
"Bukankah tadi kukatakan kau harus menungguku? Kau benar-benar ingin diberi pelajaran rupanya," ujarnya ketika tepat berdiri di depan Sakura sekarang.
"Hah?" respon Sakura.
Seketika itu pula laki-laki bermata hitam seperti rambutnya ini tersenyum licik dan merangkum wajah Sakura dengan kedua tangannya. Membawa mereka mendekat dengan pasti dan tanpa jarak.
Sakura tak bernapas saat aliran oksigen dari hidungnya tanpa dihalangi. Wajahnya yang tadinya dingin karena udara pagi ini, berubah menjadi hangat hingga memanas membara.
Ini kan…
"Pelajaran pertama untukmu karena mengabaikanku," bisiknya seusai mencium mesra bibir Haruno Sakura.
.
.
*KIN*
.
.
"Benarkah? Reporter Haruno?"
"Hm, Inuzuka yang merekamnya! Sangat jelas!"
"Masa sih? Di depan umum? Memangnya tidak malu?"
"Kelihatannya jaman sekarang anak muda sudah banyak yang tak tahu malu."
"Romantis sekali…"
"Kudengar dia kan… Uchiha Sasuke, mantan Super Star yang menghilang lima tahun lalu itu kan?"
"Ternyata mereka benar-benar pacaran sampai sekarang ya?"
"Katanya sempat putus?"
"Aku tak mengira kekasih Uchiha Sasuke benar-benar reporter Haruno."
"Wah… mereka masih mesra sampai sekarang yaa?"
SUDAH HENTIKAN!
Rasanya Sakura ingin berteriak seperti itu. Tapi saking malunya, Sakura bahkan tak bernai keluar dari mejanya sendiri karena orang-orang sudah sibuk berkerumun ingin bertanya langsung mengenai kejadian spektakuler yang direkam langsung oleh Kiba dan diperlihatkannya di seluruh ruangan. Karena kesal, Sakura langsung merampas kamera itu dan menghancurkan memori card yang ada di dalamnya tanpa basa basi sedikit pun.
Kiba yang usil itu bertanya pada Sasuke mengenai hubungan mereka dan dijawab tanpa berpikir sama sekali oleh Sasuke kalau si sialan itu adalah kekasih Sakura. Jelas saja Kiba ternganga lebar mendengar penuturan spontan itu. Ditambah lagi dengan bakat acting yang sangat bagus, Sasuke berperan seperti seorang kekasih sungguhan yang begitu perhatian dengan mengucapkan akan menjemput Sakura setelah pulang kerja nanti.
Apa-apaan laki-laki itu?! Kenapa membuat Sakura malu seperti ini?!
"Pantas saja waktu itu kau langsung kabur saat model Naruto itu memanggilnya… ternyata kalian ini memang ada hubungan…" sindir Kiba siang itu.
"Diamlah! Memangnya kau senang menyebarkan gambar itu hah?!"
"Hei, karena kau aku kena marah atasan karena hancurnya kartu memori itu. Untung saja itu kartu memori baru, jadi belum banyak isinya."
"Bagaimana aku keluar setelah ini…?" rengek Sakura. Semua orang di kantor sekarang sudah sibuk menggosipkan dirinya. Sakura tak percaya kehidupan lima tahun lalu kembali datang di kehidupannya yang sudah begini damai.
"Kau punya kekasih yang tampan dan kayaraya seperti itu apalagi yang kau sesalkan sih? Dia mau menerima kau yang berantakan seperti ini."
"Sudah diam sana!"
Tapi untungnya berita ini hanya beredar di kantornya dan tidak disebarluaskan di media massa. Rasanya mimpi buruk lima tahun lalu bisa saja kembali kalau sekarang Sakura masih menjadi kekasih seorang artis. Ya, alasan Sakura masih memikirkan Sasuke karena Sasuke masih seorang artis. Sakura tak mau lagi mengingat kenangan buruk itu. Meskipun nyatanya sekarang ini Sasuke bukan lagi artis di Jepang. Tapi setidaknya masih banyak sisa-sisa fans Sasuke yang masih mengharapkannya kembali menjadi artis.
Bagaimana ini…?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah siang, Sakura mengatakan pada atasannya kalau dia ingin cuti satu hari yaitu besok. Memang sih perlu alasan, tapi Sakura berusaha menjelaskannya dengan kepentingannya saja. Lagipula, besok memang hari penting.
Dan untuk menghindari Sasuke berbuat nekat dan memalukan lagi, Sakura sudah memohon pada Ino untuk menjemputnya di kantor tanpa diketahui siapapun. Dan alhasil Sakura berhasil keluar dari kantor tanpa dilihat siapapun. Sakura juga tidak menyalakan ponselnya lagi. entahlah, Sakura merasa malu bukan main hari ini. Ya, Ino yang menyadari tingkah laku Sakura yang terlihat aneh itu memang bertanya sih, tapi Sakura belum bisa mengatakan apapun sekarang.
Sakura memutuskan akan menginap di rumah Ino menyambut hari bahagia itu. Dia juga membantu ibu Ino untuk bersiap. Berada di sini tentu saja saat-saat paling menyenangkan untuk Sakura.
Hingga keesokan harinya menjelang detik-detik bahagia itu.
Sakura juga sudah bersiap. Kali ini dia menggunakan ball gown berwarna pink pucat yang sangat cocok dengan kulit dan rambutnya. Tak lupa, setelah rambutnya ditata sedemikian cantik, Sakura menyelipkan jepit rambut bunga Sakura itu. Memang sih terlihat lucu, tapi Sakura ingin mengenakannya di hari bahagia ini.
Dan di sinilah Sakura bersama Ibu Ino dan Ino sendiri, berada di ruang ganti yang berada di belakang hall Ginza Hotel.
Ibunya sudah berpamitan setelah memastikan penampilan putrinya tidak mengecewakan.
"Kau cantik sekali, Sakura…" puji Ino.
"Hei, bukankah seharusnya kau yang lebih cantik? Kau kan bintang utamanya hari ini…" ujar Sakura.
Kini mereka berdua berada di ruang ganti berdua saja. Ino mengenakan gaun pengantin yang begitu cantik. Lengkap dengan veil, tiara dan buket bunga mawar berwarna kuning.
"Kau benar. Aku memang cantik selalu. Nee Sakura, setelah hari ini tiba, aku baru menyadari satu hal penting."
"Apa?" tanya Sakura.
"Kalau Itachi-san memang sangat mencintaimu."
"Ino…"
"Ya, aku menyadarinya. Ketika dia berusaha yang terbaik untukmu, dia tak melupakan perasaanmu. Tapi, walau dia masih mencintaimu, dia tidak mengkhianati perasaan wanita yang mencintainya. Itulah mengapa aku masih bertahan hingga hari ini. Dan kupikir, tidak seharusnya aku cemburu untuk itu."
Sakura diam. Sakura tak menampik apa yang dikatakan oleh Ino adalah benar. Ya, semenjak Sakura memutuskan untuk tidak menerima perasaan Itachi, Ino berusaha mendekatinya setelah mengutarakan perasaannya pada Sakura lebih dulu dan membuat Itachi nyaman bersamanya. Di kencan pertama mereka, semuanya berjalan begitu mulus dan baik-baik saja.
"Dan yang membuatku menjadi dekat dengan Itachi-san selama ini adalah karena kau, Sakura. Tanpamu, mungkin Itachi-san tidak akan pernah melihatku. Karena kau, Itachi-san mau memikirkan hubungan yang hampir mustahil ini. Semuanya karena kau."
"Ino, aku sudah mengatakannya kan, Itachi-san bagiku adalah seorang kakak. Dan selamanya seperti itu. Aku juga sudah mengatakannya pada Itachi-san. Jadi—"
"Jadi, kapan kau akan mengutarakannya pada Sasuke?"
"Huh?"
"Satu lagi alasan Itachi-san tidak memaksakan perasaannya padamu, adalah karena Sasuke. Lima tahun lalu, Itachi-san pernah mendapat telepon dari Sasuke sebelum kalian pergi ke Hokkaido. Sasuke mengatakan pada Itachi-san bahwa perasaannya padamu tidak akan pernah berubah meski berapa lama pun waktu terlewati. Dan Sasuke berjanji akan kembali ke tempatmu tak peduli berapa lama waktu terlewati nanti. Karena itu, Sasuke meminta Itachi-san untuk menjaga dan melindungimu selama Sasuke tidak ada di sisimu. Sasuke juga mengatakannya, Itachi-san tidak boleh memaksakan perasaannya padamu sebelum kau benar-benar bisa melupakan Sasuke."
"Apa?" Sakura sungguh… tak menyangka…
"Ya, kau tidak tahu itu. Aku juga baru tahu setelah menjalin hubungan dengan Itachi-san. Sasuke… benar-benar memiliki perasaan istimewa padamu."
Jadi itukah alasannya kenapa Itachi tidak pernah memaksa Sakura untuk melupakan Sasuke dan… menerima Itachi? Karena Itachi tahu, Sasuke pasti akan kembali, dan Sasuke pasti…
"Nah, nanti kau harus mendapatkan buket bungaku ya? Aku berharap kita benar-benar bisa menjadi saudara di keluarga Uchiha…"
.
.
*KIN*
.
.
Sialan Itachi!
Kemarin Sasuke sudah berusaha mencari informasi mengenai nama kedua mempelai yang akan melangsungkan pernikahan hari ini di Ginza Hotel. Tapi semua penanggungjawab di sana kompak tidak mau memberitahu Sasuke dengan alasan privasi. Tapi kan Sasuke adiknya sendiri! Dasar orang itu…
Kemarin juga Sakura kembali menghindarinya setelah perbuatan nekadnya itu.
Sasuke sekarang bingung dengan sikap gadis itu. Benarkah Sakura tak memiliki perasaan apapun lagi padanya? Bukankah seharusnya setelah mengetahui Hinata sudah melepaskannya dan sekarang Sasuke terang-terangan memberikan sinyal pada Sakura, seharusnya gadis berambut pink itu menyambutnya kan?
Eh, sebenarnya tidak begitu. Ya, Sasuke memang tak pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Sakura. Kalaupun iya, sepertinya itu lima tahun yang lalu dan situasinya sungguh tidak mendukung.
Sekarang di sinilah Sasuke berakhir.
Sasuke sudah berdiri di depan pintu masuk hall. Rasanya dia begitu penasaran dengan siapa yang dinikahi oleh Itachi. Benarkah itu… argh! Tidak begitu! Pasti bukan…
Tapi daripada bertanya lagi, Sasuke memutuskan untuk pergi langsung ke ruang ganti pengantin. Ya, itu cara yang mudah daripada harus berkeliling di sana seperti orang bodoh. Meski Sasuke mengenakan tuksedo hitam biasa, dirinya masih tidak percaya diri membaur di dalam hall itu. Pasti banyak rekan Uchiha penting yang ada di sana. Lagipula ini adalah acara pernikahan hebat di era ini karena ini adalah putra sulung pebisnis Uchiha yang sangat terkenal. Akan jadi aneh kalau pestanya biasa saja. Apalagi ini diadakan di hotel paling bergengsi di Tokyo.
Sasuke segera mencari dimana ruang ganti—
"Oh?"
"Hee?"
Hah? Gadis ini kan…
"Kau datang kemari? Darimana kau tahu?"
"Tunggu, kalau kau yang memakai gaun pengantin itu… berarti calon Itachi…"
"Haha! Aku akan jadi kakak iparmu! Hei, kalau kau sampai membuat Sakura menangis lagi, aku tidak akan sungkan-sungkan menghabisimu! Jujur saja, walau kau adiknya calon suamiku, aku masih dendam karena kau pernah membuat hati Sakura hancur seperti itu!"
Dia kan teman Sakura yang selalu bersama Sakura sewaktu mereka kuliah dulu. Sepertinya… ada yang aneh di sini?
"Siapa pemuda ini?" seorang pria paruh baya yang mungkin seumuran ayah Sasuke yang bersama calon pengantin ini menegurnya untuk menanyakan Sasuke.
"Oh, dia adik Itachi-san. Uchiha Sasuke, kenalkan ini ayahku," jelasnya seraya mengenalkan dua orang itu dengan agak kikuk.
Sasuke memberikan salam dengan sopan seraya menundukkan kepalanya dan mengenalkan dirinya dengan formal.
"Oh, jadi kau adiknya yang tidak pernah pulang ke rumah itu?" sindir ayahnya.
Sepertinya gadis ini terlalu banyak bercerita mengenai masalah keluarganya. Tapi itu juga bukan sepenuhnya salah dia sih.
"Sebentar lagi tidak akan. Dia akan jadi adik dan anak yang penurut jika ingin mengambil hati Sakura. Tuan Putrimu menunggu di ruang ganti. Aku harus menemui calon suamiku sekarang, sampai nanti, Adik Ipar!"
Gadis yang berwajah periang seperti Sakura namun sedikit rada antagonis itu tersenyum mengejek pada Sasuke dan menarik ayahnya untuk segera pergi. Sepertinya acaranya sudah tak lama lagi.
Adik? Sasuke menjadi adik dari gadis yang seumuran dengannya? Apa yang dipikirkan oleh Itachi sebenarnya?
Tapi itu bukan masalah penting, Sasuke segera berlari menuju ruang ganti tempat yang dikatakan oleh calon kakak iparnya itu. Begitu tiba di depan pintu ruangan itu, Sasuke berhenti sejenak. Ya, hari ini sudah tiba. Sasuke sudah memutuskan. Hari ini… atau tidak sama sekali. Sudah terlalu lama untuknya menunggu hari ini tiba. Jika sekarang Sasuke kembali mengulurnya, Sasuke tak yakin, kapan waktu yang tepat untuknya.
Tanpa mengetuknya, Sasuke membuka pelan knob pintu ruang ganti itu. Tanpa begitu sunyi di sana. Begitu membukanya dengan sempurna, seseorang dengan gaun berwarna pink pucat yang membingkai tubuhnya begitu cantik berdiri membelakanginya. Sepertinya dia sama sekali belum sadar dengan kedatangan Sasuke. Akhirnya Sasuke masuk dan kembali menutup pintunya tanpa suara. Apa yang dipikirkannya saat ini?
"Mana mungkin si bodoh itu mengatakan hal seperti itu pada Itachi-san!"
Sasuke terkejut ketika berusaha memperpendek jarak dengan gadis yang selalu ada dalam hatinya ini. Kenapa tiba-tiba dia mengatakan hal seperti itu?
"Kembali padaku? Haha! Jika dia ingin kembali padaku, kenapa dia meninggalkanku begitu saja waktu itu! Sudah mempermalukanku malah mau sok jantan di depan Itachi-san!"
Hah? Dia marah? Pada siapa?
"Awas saja dia! Kalau muncul di depanku sekarang, aku akan—"
"Kau akan apa?" potong Sasuke.
Terlihat dengan jelas gadis berambut pink itu langsung berbalik dengan cepat dan wajahnya tampak begitu gugup dan ketakutan. Kentara sekali kalau dia benar-benar terkejut bukan main. Ya, dia memang selalu berlebihan.
"Apa yang kau lakukan di sini hah?! Tunggu, sejak kapan kau masuk?!" serunya begitu heboh.
"Sejak kau berbicara aneh dari tadi," ujar Sasuke.
"Heee? Kau… dengar semuanya?" tanya Sakura takut-takut.
"Memang kau mengatakan apalagi selain yang kudengar tadi?"
Sakura tampak meneguk ludahnya dengan susah payah. Ya, dia memang selalu seperti itu jika dirinya melakukan hal bodoh dan tertangkap basah oleh Sasuke. Mana mungkin Sasuke bosan dengan tingkah konyolnya seperti saat ini. Dia berbeda dari semua gadis kebanyakan. Sakura selalu menjadi dirinya sendiri di depan Sasuke. Bahkan… karena Sakura, Sasuke tahu seperti apa sebenarnya dirinya yang sesungguhnya.
"Tidak, ah… syukurlah kau datang. Ayo kita pergi ke hall. Acaranya pasti sudah dimulai," ajak Sakura. Tapi begitu akan berjalan melewati Sasuke, pria yang mengenakan pakaian formal yang begitu cocok untuknya malah berdiri tepat di depan Sakura sembari menutup jalan untuk Sakura lewat. Astaga… pikiran Sakura jadi tak menentu lagi sekarang. Kenapa Sasuke muncul di depannya dengan begini tampan!
"Sebelum itu… ada yang ingin kukatakan denganmu," ujar Sasuke.
Heee? Apa yang mau dia katakan? Kenapa Sakura tiba-tiba menjadi gugup begini? Dadanya berdebar kencang, rasanya sesak sekali karena ternyata Sakura tak bisa mengendalikannya seperti ini.
"A-apa yang mau kau… katakan?" ujar Sakura.
"Mengenai kau."
"Hah? Aku? Memangnya ada apa denganku?"
"Apa yang kau lakukan bersama Itachi dulu? Kalian tinggal bersama kan selama empat tahun?"
"Hah? Tunggu dulu—"
"Dan jangan coba-coba berbohong! Kau tidak pernah bisa berbohong padaku!"
"Hei! Apa-apaan kau ini menuduh orang hah? Kami tidak tinggal bersama! Bersebelahan tahu! Dan lagipula, bukannya kau yang jelas-jelas tinggal bersama dengan Hinata dulu?!" balas Sakura.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kau mau aku terlihat buruk hah?"
"Kau memang buruk! Kau tidak pernah berubah sedikit pun. Memangnya kau pikir, yang menempatkan aku pada posisi seperti sekarang ini siapa? Siapa yang membuatku akhirnya tidak punya pilihan selain melarikan diri setelah apa yang kau lakukan padaku?"
"Jadi selama ini, kau hanya memikirkan posisimu saja? Kau tidak memikirkan posisiku?"
"Bagaimana aku bisa memikirkanmu jika di sisimu selalu ada Hinata?"
Sasuke diam. Ya, saat itu, Hinata adalah prioritas utamanya. Dia bahkan mengesampingkan Sakura yang sejatinya adalah gadis yang memenuhi hatinya saat itu. Satu-satunya gadis yang tidak ingin dia sakiti. Tapi pada akhirnya, Sasuke tak punya pilihan selain menyakitinya.
"Kalau sekarang, apa kau akan memikirkanku?"
"Sekarang?" ulang Sakura dengan tatapan bingung.
"Ya, sekarang… karena tak ada lagi Hinata, apa kau akan memikirkanku?"
Sakura bingung jika ditanya mendadak seperti ini. Meskipun…
"Memangnya kau pikir… siapa yang kupikirkan selama ini?" lirih Sakura.
Rasa lega menguar seketika dalam dada Sasuke. Bolehkah Sasuke menganggap jawaban itu sebagai pengakuan perasaan Sakura?
Tidak, itu bukan pengakuannya.
Itu adalah jawaban yang selama ini tak bisa mereka saling katakan. Jawaban mengenai perasaan yang tersimpan selama lima tahun belakangan ini. Perasaan yang akhirnya mampu mereka lepaskan setelah tertutup kabut keputusasaan karena harus menjaga perasaan orang lain daripada diri mereka sendiri.
"Kalau begitu, kau tidak boleh lari dariku lagi, Haruno Sakura…"
Setelah berbisik demikian, Sasuke memeluk erat Sakura. Merangkul punggung gadis bermata seindah zamrud ini. Menghirup wangi rambutnya seperti bunga sakura di musim semi. Ya, sudah lama rasanya Sasuke lupa seperti apa wangi gadis yang disayanginya.
Tak berapa lama, sepasang tangan Sakura ikut merangkul pinggang Sasuke, mendekap erat pria yang telah dinantikan kedatangannya ini dalam ketidakpastian. Meski awalnya Sakura tak menampiknya, tapi sungguh berat rasanya hidup dengan mencintai orang yang tak pernah bisa Sakura temui selama ini.
Walaupun penantian Sakura akhirnya bisa terbayar dengan perasaan yang begitu indah ini.
Sasuke melepaskan sejenak pelukan mereka, saling menatap penuh cinta satu sama lainnya. Sasuke bisa melihat mata jernih Sakura tampak berkaca-kaca ketika mereka saling bertatapan. Ya, Sasuke kemudian mencium kelopak mata Sakura secara bergantian. Kemudian ikut mencium dahinya dengan lembut, berlanjut ke hidung kecilnya, pipinya yang berwarna pucat dan sedikit kemerahan yang Sasuke yakin itu bukanlah perona pipi buatan hingga akhirnya berhenti sejenak di tempat pemberhentian terakhirnya.
Teramat pelan, Sasuke mendekatkan dirinya dan mengecup mesra bibir pink mungil itu. Mereka saling merangkul, mendekap dan menghayati setiap momen yang selama ini terlewati begitu saja. Tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu yang tak bisa mereka lalui bersama. Ketika perasaan jujur itu menguar, tak ada yang mampu menahan diri mereka lagi. Semua tertumpah begitu saja tanpa mempedulikan apapun lagi.
Ya, kini… hanya ada mereka berdua.
Sasuke… Sakura…
Dan selamanya dalam kesetiaan yang telah mereka ikrarkan jauh sebelum perasaan ini ada.
.
.
*KIN*
.
.
Ya, setelah hari itu kehidupan mereka kembali normal seperti biasa.
Sepertinya Itachi sudah mengetahui mengenai Sasuke dan Sakura setelah hari pernikahan itu. Pasti Ino yang mengatakannya. Yap, sehari setelah pernikahan itu, Itachi memutuskan untuk segera kembali ke New York memboyong isterinya serta. Meskipun tak dikatakan, tapi Sakura dapat melihat kebahagiaan yang sahabatnya rasakan itu. Itachi begitu tulus pada Ino. Cinta memang bisa saja tumbuh jika sebuah hati mau membuka pintunya dengan tulus pada perasaan yang baru. Ya, perasaan yang begitu rapuh, namun menguatkan di saat bersamaan. Seperti yang pernah Sakura katakan pada Ino mengenai kedua orangtua Uchiha bersaudara itu. Ayahnya memang baik, tapi ibunya sedikit angkuh dan arogan. Meski Ino pernah mengalami masa sulit ketika Itachi memutuskan mau menikah dengan Ino, ada banyak hal yang dibicarakan oleh Mikoto dengannya. Mulai dari tradisi Uchiha dan seperti apa seorang menantu itu masuk ke dalam keluarga seperti Uchiha ini.
Mungkin bagi Sakura yang pernah beberapa kali bertemu dengan Mikoto masih menyimpan perasaan ngeri bertemu dengannya. Tapi kemudian, ketika Ino mengatakan ada sebuah sisi dimana Mikoto bisa berubah menjadi seorang ibu yang lembut dan penuh kasih, Sakura penasaran ingin tahu mengenai sisi itu.
Ya, sisi dimana seorang ibu yang begitu mencintai anak-anaknya.
"Jadi benar kan dia pacarmu?" sindir Kiba ketika pekerjaan mereka sudah selesai.
Ya, ini memang tidak terlalu malam sih, mungkin masih sedikit sore. Oh ya, setelah Sasuke resmi mengklaim Sakura sebagai kekasihnya, ada banyak peraturan konyol yang sedikit berlebihan ditetapkan Sasuke sebagai kekasih Sakura.
Tidak boleh pulang terlalu larut.
Tidak boleh pergi dengan rekan laki-laki tanpa sepengetahuan Sasuke.
Tidak boleh pergi ke luar kota tanpa bersama Sasuke.
Tidak boleh ini, tidak boleh itu.
Ya, menyebalkan memang, tapi Sakura terkadang tak mempedulikan itu meski akhirnya semuanya berakhir dengan pertengkaran kecil di antara mereka. Ya, awalnya mereka pun selalu bertengkar seperti ini. Jadi sebenarnya tidak heran lagi.
Sasuke pernah menawarkan jika sebaiknya Sakura tinggal bersamanya di apartemen yang lebih bagus. Ya, Sakura pernah mempertimbangkan itu. Tapi kemudian ada sebuah syarat yang tidak dapat dipenuhi oleh Sasuke hingga hari ini.
Oh itu dia. Sasuke sudah menunggunya persis di depan kantor. Semenjak kabar itu menyeruak, banyak orang yang membujuk Sakura untuk bisa mewawancarai Sasuke mengenai kemunculan dirinya setelah vakum selama lima tahun dari dunia artis. Tapi Sasuke menolaknya mentah-mentah karena sudah mengatakan dirinya tak ingin lagi jadi sorotan media setelah memutuskan menjalin hubungan serius dengan Sakura. Ya… Sasuke tidak ingin lagi melihat Sakura yang menderita karena ulah media dan fans-nya.
"Kau sudah makan malam?" tanya Sasuke ketika Sakura sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Belum, ah ya. Aku punya janji, kau bisa menemaniku ke sana?"
"Janji? Janji apa? Dengan laki-laki?" selidik Sasuke.
"Uhm, dia orang baik."
"Dia laki-laki?" tekan Sasuke.
"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri."
"Hei, kau mau mempermainkanku hah?"
"Ini alamatnya, cepat pergi…"
Sakura kemudian diam tak meladeni ocehan Sasuke lagi.
Ya seperti dugaannya, Sasuke sama sekali tidak menyadari alamat yang mereka tuju. Sasuke lebih banyak bicara pada Sakura mengenai siapa yang ingin ditemuinya begini malam. Sakura hanya tersenyum lembut setiap kali Sasuke menatapnya penuh tanya.
Mungkin karena sudah lima tahun, dan delapan tahun berlalu Sasuke jadi tidak begitu ingat lagi jalanan ini. Hingga akhirnya setelah Sakura menunjukkan tempat yang dimaksudnya, Sasuke terdiam sejenak melihat bangunan itu.
"Ini…" lirih Sasuke.
"Ya, rumahmu. Kita ke rumahmu, Sasuke…" ujar Sakura.
"Sakura, aku tidak—"
"Aku sudah berjanji dengan ayahmu akan membawamu menemui beliau apapun yang terjadi. Sudah delapan tahun sejak kau meninggalkan rumah dan tak pernah sekali pun kau menemui beliau yang begitu merindukanmu. Hari ini, aku berjanji dengan ibumu akan membawamu kemari apapun yang terjadi," jelas Sakura.
"Kita pulang," Sasuke sudah bersiap menyalakan mesin mobilnya dan tinggal memutar gigi mesin beroda empat itu. Tapi Sakura kemudian menarik tangan Sasuke yang memegang tuas gigi mobilnya dengan erat.
"Temuilah Sasuke… tolonglah, demi aku. Apa kau tidak ingin bertemu beliau sekali saja?"
"Sakura… aku…"
"Aku akan menemanimu. Sasuke, apa kau tidak ingin hidup bersamaku? Apa kau tidak ingin… seperti Itachi-san dan Ino?"
"Aku mau. Aku sangat menginginkan hal itu. Bersamamu aku bisa menjadi diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku menolak keinginan terbesarku dengan hidup bersamamu?"
"Kalau begitu, kau harus menemui mereka lebih dulu. Sasuke, aku… tidak lagi memiliki orangtua. Makanya sebenarnya aku begitu iri denganmu… kau memiliki orangtua yang begitu lengkap. Makanya aku selalu bermimpi… bisakah aku juga memiliki orangtua seperti itu?"
Sasuke menyadari hal itu. Ya, Sakura tampak tulus. Sasuke mengerti perasaannya. Tapi sungguh, ini adalah hal terberat yang akan dilakukan Sasuke. Masuk ke rumahnya sendiri pun adalah hal berat… Sasuke pribadi memang tidak mampu memaafkan sang ayah. Ya… untuk masa lalu yang kini telah berakhir.
TING TONG…
"Selamat malam, Bibi," ucap Sakura sembari menundukkan kepalanya dengan sopan ketika pintu kediaman Uchiha ini dibuka oleh sang Nyonya rumah. Uchiha Mikoto.
"Oh, kau sudah datang. Masuklah, suamiku sudah menunggu di dalam," ujar Mikoto.
Ya, Fugaku mengatakan kalau Sakura ingin bertemu dengannya malam ini. Ada yang ingin dibicarakan masalah penting. Namun satu hal, Sakura tak mengatakan kalau dia akan membawa Sasuke kemari. Ya, setiap kali Sakura meminta Sasuke kemari, laki-laki itu tak pernah mau hingga berakhir dengan Sasuke yang pergi begitu saja meninggalkan Sakura. Ya, sama seperti lima tahun lalu di pantai itu. Tapi kemudian setelahnya Sasuke menelpon Sakura dan meminta maaf soal sikap egoisnya itu. Ya kalau tidak mendadak begini, mana mau Sasuke menurutinya kan?
"Sebelum itu, aku membawa satu tamu. Tidak apa-apa kan?" ujar Sakura.
"Tamu?" ulang Mikoto.
Sakura tersenyum kemudian berbalik ke belakang memberikan isyarat pada seseorang yang berdiri agak jauh dari pintu utama sehingga Mikoto tak bisa melihatnya. Lama langkah kakinya terdengar hingga akhirnya tamu yang dimaksud oleh Sakura itu sudah lebih mendekat dan kini berdiri di sebelah Sakura sembari menundukkan kepalanya.
"Astaga…" lirih Mikoto sembari menutup mulutnya tak percaya.
Ya, bahkan di hari pernikahan sang kakak pun, Sasuke tak memunculkan dirinya sama sekali.
"Aku… pulang…" lirih Sasuke sembari terbata.
Mikoto langsung menangis haru dan berlari memeluk putra bungsunya dengan erat. Seorang anak yang dirindukannya selama ini. Tak pernah pulang meski sang ibu sudah memohon setengah mati padanya. Hari ini, tanpa diduga sedikit pun, sang putra telah kembali. Senang rasanya Mikoto kembali bertemu dengan putranya.
"Tuhan, terima kasih sudah membawa kembali pulang putra-ku… putraku…" isak Mikoto sambil terus memeluk Sasuke dengan erat. Sasuke masih merasa canggung dengan pelukan sang ibu. Sasuke sempat menoleh ke Sakura yang dijawab oleh Sakura dengan senyuman lalu meraih satu tangan Sasuke untuk balas merangkul ibunya.
"Mikoto, apa Sakura sudah datang?"
Suara berat seseorang terdengar dari dalam. Sasuke langsung mematung diam. Dirinya mendadak gugup bukan main. Mendengar suara itu, Mikoto melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya lalu menoleh ke belakang.
"Lihatlah, suamiku… siapa yang sudah pulang ini…" ujar Mikoto.
Merasa gugup yang luar biasa, Sasuke segera meraih tangan Sakura dan langsung menggenggamnya dengan erat. Sakura bisa merasakan keringat dingin yang langsung menguar dari tangan Sasuke. Ya, ini pertama kalinya Sasuke kembali bertemu ayahnya. Jelas saja dia merasa gugup bukan main. Menyadari rasa gugup Sasuke, Sakura membalas genggaman kekasihnya itu, berharap bisa sedikit menenangkan Sasuke.
Ya, Fugaku kemudian sudah muncul di hadapan mereka dan sedikit tertegun melihat siapa yang berada di depan pintu masuk itu. Sakura yang menyadari Fugaku menoleh kepadanya langsung menunduk dalam diam memberikan salam.
Ya, walaupun ini adalah rumah Sasuke, tapi masuk ke rumah ini membuatnya begitu merasa asing bukan main. Sudah lama waktu berlalu sehingga Sasuke tak lagi terbiasa dengan rumah yang pernah ditempatinya sejak dirinya lahir ke dunia ini. Karena itu, sepanjang waktu Sasuke hanya diam di sofa ruang tamu bersama Sakura sembari tetap menggenggam tangan kekasihnya itu. Ya, adanya Sakura di sebelahnya cukup membuat Sasuke merasa sedikit tenang. Jika tidak, mungkin Sasuke sudah lama meninggalkan rumah ini tanpa berniat masuk ke dalam sedikit pun.
"Terima kasih, sudah membawa putraku pulang, Haruno-san," buka Mikoto begitu mereka berempat duduk di ruang keluarga itu. Ibunya masih tampak begitu merindukan Sasuke dan mengharapkan Sasuke mau berbicara sedikit saja.
Fugaku yang ikut duduk di sana pun merasa canggung bukan main bertemu dengan anak kandungnya sendiri. Kejadian di masa lalu memang membuat hubungan ayah dan anak ini memburuk begitu saja tanpa ada satu pun yang mampu memperbaikinya.
"Oh, tidak. Bukan apa-apa. Aku pernah berjanji pada Paman untuk… membawa Sasuke kembali kemari," lirih Sakura.
"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku ingin pulang kemari," ujar Sasuke kemudian.
Sontak atmosfir di dalam ruang keluarga itu kembali berubah dingin dan… ya canggung disertai dengan perasaan yang begitu serius.
"Sasuke," bisik Sakura.
"Sakura yang ingin aku kemari… karena itu aku akan mengatakannya pada kalian dengan serius. Sekarang Sakura adalah kekasih yang benar-benar aku cintai. Aku bersungguh-sungguh padanya. Aku juga ingin menikahinya. Karena itu… mohon restui kami," ujar Sasuke bersungguh-sungguh sembari menundukkan kepalanya begitu dalam.
Mikoto tak percaya putranya kembali hanya untuk mengatakan hal ini.
"Sasuke, tapi kakakmu baru saja menikah…" ujar Mikoto.
"Aku tidak ingin pesta mewah seperti yang Itachi lakukan. Aku ingin menikah secara sederhana. Lagipula, aku tak butuh apapun selain Sakura di sisiku."
"Apa kau bersungguh-sungguh akan membahagiakan, Sakura?" sela Fugaku.
Langsung saja Mikoto, Sasuke dan Sakura mendadak terkejut mendengarnya.
"Ya. Itu pasti, aku benar-benar akan membahagiakannya," jawab Sasuke dengan mantap.
"Kalau begitu lakukan sesukamu. Hanya satu hal. Kau harus mendengarkan semua kata-kata wanita yang kau cintai itu untuk membalas semua perbuatanmu padanya di masa lalu kalau kau ingin restu dariku."
Setelah mengatakan hal itu, Fugaku beranjak dari tempat duduknya hendak kembali masuk meninggalkan ruang tamu.
"O-Otou-san…" lirih Sasuke.
Suaranya sedikit kecil, hampir tak terdengar mungkin. Tapi Fugaku bisa mendengarnya hingga dirinya berhenti melangkah.
"Maafkan aku…" lanjut Sasuke.
"Maafkan aku juga," balas Fugaku dengan suara yang sama kecilnya seperti Sasuke.
Setelah mengatakan hal itu, kemudian Fugaku benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
Sakura terharu karena akhirnya hubungan ayah dan anak ini sudah kembali membaik.
.
.
*KIN*
.
.
Two years later…
Rambut Sakura sudah sedikit memanjang sekarang. Karena itu setiap kali meliput, Sakura selalu kesulitan. Tadinya ingin dia potong, tapi ternyata Sasuke menyukai rambutnya yang panjang. Makanya setiap kali bekerja, meliput dan menyiarkan berita, Sakura selalu menyanggul rapih rambutnya atau mengikatnya.
Sakura tak bisa meninggalkan pekerjaannya setelah akhirnya mereka menikah 20 bulan yang lalu. Pernikahan mereka memang digelar sangat sederhana. Di sebuah gereja yang jauh dari ibukota dan terkesan asri walau sedikit kuno yang dihadiri oleh kedua orangtua Sasuke, kedua orangtua Ino dan pengantin baru itu, Ino dan Itachi. Semuanya berjalan sangat lancar. Walaupun Sakura tak begitu mengeskpose pernikahannya, tapi ternyata Kiba yang usil dan Tenten yang tak sengaja menemukan foto pernikahan Sakura di ponselnya langsung membuat heboh satu kantor.
Sasuke kini membantu perusahaan ayahnya. Awalnya Sasuke tak begitu banyak mengerti mengenai perusahaan ini, tapi semakin dijalani, Sasuke sedikit menyukainya. Ya, karena akhirnya Sasuke tak perlu lagi merasakan perasaan menyebalkan ketika dibuntuti oleh orang tak dikenal, masuk media dan segala hal yang selalu saja menguliti kehidupannya satu per satu hingga membuatnya tak nyaman lagi.
Ya, waktu baru-baru menikah, Mikoto memang meminta Sakura membujuk Sasuke untuk tinggal sementara di rumah keluarganya. Merasa tak enak, jelas saja Sakura menyetujuinya. Tapi kini, setelah beberapa bulan pertama, Sasuke ingin tinggal sendirian karena sudah nyaman tinggal jauh dari orangtuanya. Mereka akhirnya menetap di apartemen Roppongi yang sudah dibeli oleh Sasuke.
Apartemen Sakura sudah ditinggalkannya. Walau sesekali di akhir pekan Sakura selalu mengunjungi rumah keluarga Uchiha walau kadang Sasuke terlalu sibuk dengan urusan bisnis Uchiha.
Ah ya, ngomong-ngomong, Ino sudah mengabari jika dirinya sekarang tengah hamil dan menanti buah hatinya.
"Senangnya…" bisik Sakura siang itu sembari melihat ponselnya.
Ya, Sakura tengah melihat media sosial dimana Ino tengah berfoto dengan dirinya sendiri memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar itu.
"Apanya?" tegur Sasuke yang tepat di sebelahnya. Tengah menyetir.
"Ino, katanya dia sudah hamil. Bagaimana menurutmu?" tanya Sakura.
"Hah? Bagus…"
"Kau tetap saja tidak sensitive…" keluh Sakura.
Sasuke tersenyum geli.
"Ah… begitu. Kalau kau mau kita bisa lakukan sekarang…"
"Hei! Ah, sudahlah. Jangan bicara padaku. Cepat menyetir sana…"
Sekarang mereka sudah tiba di sebuah restoran keluarga yang tak pernah berubah selama tujuh tahun ini. Kelihatannya cukup sepi. Tentu saja, ini kan hari ulang tahun Fugaku yang sengaja dirayakan di sini.
Restoran keluarga Ino.
Di dalamnya sudah ada Mikoto, Fugaku dan pasangan suami isteri itu. Itachi dan Ino.
Jelas saja Sakura langsung gembira luar biasa seraya menyerbu sahabat karibnya itu dan memeluknya dengan erat. Sakura juga begitu bahagia saat Ino memperlihatkan perutnya yang sedikit membuncit itu.
"Kau tidak mau menyusul?" tegur Itachi yang sudah berdiri di sebelah Sasuke.
"Aku menunggu waktu yang tepat."
"Apa maksudmu?"
"Sekarang ini aku ingin menikmati waktu berduaku bersama isteri yang aku cintai. Setelah memiliki anak nanti, waktu kami akan terbagi. Aku tidak mau Sakura memperhatikan hal lain selain aku. Karena aku sudah lama menunggunya."
"Oh begitu. Tapi apa kau tidak kasihan dengan isterimu? Dia begitu senang melihat kehamilan isteriku…" sindir Itachi.
"Nanti aku akan memberikannya sebanyak yang dia inginkan."
"Hei, apa yang kalian bicarakan? Cepat kemari!" tegur Sakura yang ternyata sebuah kue besar sudah disediakan di meja.
Sasuke tak menyangka kini hidupnya begitu bahagia. Ya, awalnya Sasuke tak berani mengharapkan kebahagiaan yang begini luar biasa. Asal bersama Sakura dia akan baik-baik saja.
Ya…
Satu pelajaran penting yang kini sudah dipetiknya.
Jangan pernah melakukan suatu kebohongan sekecil apapun. Kita tak akan tahu kapan kebohongan kecil itu akan menjadi kenyataan. Ketika Sasuke berbohong tidak mencintai Sakura pada dirinya sendiri kini dirinya mencintai gadis itu lebih dari hidupnya sendiri.
.
.
FIN
.
.
3rd April 2015.
.
.
Holaa minna heheh, pasti udah pada pegal-pegal baca chapter begini panjang yaa? Jujur saja ini rekor chapter terpanjang yang pernah saya ketik. Tadinya mau dipotong aja, tapi ternyata saya gak tahu harus di bagian mana dipotong, karena pasti kalo dicut gak akan ngasih kesan apa-apa gitu heheh
Kalo ada yang bilang endingnya agak memaksa, atau memaksa sekali, saya jelaskan sedikit yaa…
Fic ini, murni akhirnya memang begini. Harus SasuSaku. Jadi gak tahu gimana caranya endingnya mereka ya seperti ini. Makanya di awal saya udah bilang kan kalo udah jadi main chara pasti berakhirnya seperti itu. Saya gak pernah bikin pair yang melenceng dari main chara heheh, makanya saya gak mau ngasih warning tambahan pair apapun.
Oke, saya balas review dulu yaa…
Kazama Sakura : makasih udah review senpai… wah saya gak bikin sampai sejauh itu kok hehehe
Mantika mochi : makasih udah review senpai… ahaha iya sih, tapi akhirnya mereka tetep bisa ketemu kan ya?
Bluestar2604 : makasih udah review senpai… ahaha iya ini happy end kok heheh
Axwdgs : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi ehehhe
Suket alang alang : makasih udah review senpai… ahaha iya gak papa kok, semua orang punya pandangan yang berbeda dan saya gak memaksakannya hehe, justru saya suka ada yang berbeda pandang seperti itu hehe
Palvection : makasih udah review senpai… ahaha seharusnya yaa tapi mereka gak jadi pair kok heheh
Sami haruchi 2 : makasih udah review senpai… ahaha masih ada typo yaa? Padahal saya udah hati-hati sih, makasih koreksinya yaa heheh
6934soraoi : makasih udah review senpai… ahaha maaf ya gak memuaskan meski chapternya panjang banget…
Qori Hidarikikino : makasih udah review senpai… iya ini SasuSaku kok hehehe
Fuji Seijuro : makasih udah review senpai… iya ini udah update hehehe
Kyoko : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Madokaaihara : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa hehehe ini lanjut lagi
Nama saya yana : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut lagi hehehe
Uchiharuka : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi
Ayuni Ceries : makasih udah review senpai… uhm maaf kalo terlihat memaksakan sih, tapi saya udah memikirkan alternatif end nya kok. Ya pada akhirnya end inilah yang saya pilih hehehe
Cherry Ryl-chan : makasih udah review senpai… uhm, terlepas dari masa lalu mereka, sebenarnya Hina udah sadar kok sama situasinya, tapi emng belum rela aja ngelepas Sasu. Jadi saya gak menjabarkan lagi karena itu udah saya jelaskan di chap sebelumnya yaa…
Tataruka : makasih udah review senpai… ahaha saya gak tahu apa ini udah cukup banyak atau belum tapi udah ada scene SasuSakunya ya heheh
Chizuru Mey : makasih udah review senpai… ahaha rahasia kan sebenernya udah tahu dari chap sebelumnya yaa? Karena itu gak saya jabarin lagi sih eheh fic collab? Wah saya juga gak tahu, coba tanyakan sama yang bersangkutan karena chap selanjutnya itu jatahnya partner saya sih hehehe
Sasusaku's fans : makasih udah review senpai… makasih semangatnya yaa heheh makasih juga udah nungguin fic saya hehehe
Uchiha Aoi : makasih udah review senpai… hehehe iya ya kayaknya scene itu Sasu nya kurangasem banget hehehe
Uchiha Yuki Cherry : makasih udah review senpai… iya makasih banyak yaa hehehe
Mi gi cassiopeia : makasih udah review senpai… iya makasih banyak yaa heheh ini udah update lagi ehhehe
Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah end hehehe
Hanna Hoshiko : makasih udah review senpai… iya memang terinspirasi dari sana kok hehehe kan awalnya udah saya singgung soal putri duyung dan buih hehehe
Henilusiana39 : makasih udah review senpai… gak tetep SasuSaku kok hehhee
Wowwoh geegee : makasih udah review senpai… hehehe makasih banyak semangatnya yaa
Silent reader xD : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut hehehe
chieAkane ga log : makasih udah review senpai… maaf gak kilat yaa hehe iya ini udah update lagi kok hehehe akhirnya tetep SasuSaku walau Itachi menggoda hehehe
uchiha Erika : makasih udah review senpai… iya ini udah update lagi ehhehe
uchiha rinufa : makasih udah review senpai… ahahah namanya juga peran Hinata memang gitu sih hehehe
anka-Chan : makasih udah review senpai… hehehe
yumisaki Shinju : makasih udah review senpai… ahaha gak cetar amat kok end nya hehehe
Re UchiHaru Chan : makasih udah review senpai… iya makasih banyak yaa semangatnya hehehe
Lynn : makasih udah review senpai… iya ini udah endnya hehehe
Guest : makasih udah review senpai… iya ini udah end kok hehehe
Arada : makasih udah review senpai… endnya tetep SasuSaku kok hehehe
KonoHaru : makasih udah review senpai… saya suka kok review panjang hehehe iya makasih banyak yaa ini endnya tetep SasuSaku kok hehehe
Uchiharuno : makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut…
PeDeeS : makasih udah review senpai… ahaha maaf endnya gak terlalu bagus yaa…
Metta c rini : makasih udah review senpai… ahahah makasih banyak yaaa iya ini akhirnya tetep SasuSaku kok hehehe
Sakura uchiha stivani : makasih udah review senpai… makasih banyak yaa heheh iya ini udah lanjut…
Uchiha hinako : makasih udah review senpai… akhirnya tetep SasuSaku kok hehehe
Nana juka : makasih udah review senpai… makasih semangatnya heheh ini udah lanjut…
Makasih yang udah ngeluangin waktu untuk fic ini yaa…
Sayonara…
