Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Sasuke dan Naruto menghabiskan hari-hari mereka dengan melakukan riset tentang Orochimaru sejak saat itu. Kalau tidak sekolah, mereka pasti menyelinap ke kuil tua di hutan di belakang sekolah, membongkar gulungan-gulungan tua untuk mencari petunjuk mengenai cara mengalahkan Orochimaru. Sayangnya, meskipun mereka sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk melakukan riset, hasilnya tetap nihil.
Bel tanda pulang berdering. Naruto menguap dan menggeliat di kursinya. "Sasuke," panggilnya seraya memutar tubuhnya agar menghadapi Sasuke di sebelahnya, "aku lapar."
Mendengar itu, Sasuke berjengkit. "K-kau apa?" gagapnya. Kalau ada satu hal yang membuat Sasuke takut di dunia ini, itu adalah jam makan Naruto. Bagaimana tidak? Rasa sakitnya luar biasa dan Sasuke selalu nyaris pingsan dibuatnya. Ia tidak akan bisa bergerak selama beberapa saat, dan jelas Sasuke tidak membanggakan waktu-waktu itu.
Naruto terbahak. "Jangan paranoid begitu. Aku cuma bercanda. Aku baru makan tiga hari lalu. Masih akan baik-baik saja sampai minggu depan."
Sasuke menghela napas lega. Ia memasukkan semua bukunya ke dalam tas dan bangkit berdiri, Naruto mengikuti jejaknya. Mereka berjalan pulang dalam diam, disibukkan dengan pikiran masing-masing.
Pembunuhan misterius di kota kecil tempat mereka tinggal kembali terjadi dan masyarakat mulai heboh lagi. Sasuke tidak bisa menyalahkannya. Ia harus mulai memburu manusia agar Naruto tetap hidup. Meskipun sekarang ia lebih berhati-hati memilih korbannya. Hanya gelandangan yang Sasuke pikir pasti tidak punya kerabat.
"Mungkin kita sebaiknya pindah dari kota ini," ujar Naruto mendadak. "Kalau terus-terusan seperti ini, kau bisa tertangkap."
"Sekolahmu?" tanya Sasuke.
Naruto tertawa. "Sasuke, dari awal aku sudah manusia serigala. Aku ditempatkan klanku di sini untuk latihan. Takdirku adalah sebagai penjaga serigala. Bukannya mengejar karir di perusahaan ternama."
Sasuke mendengus geli mendengar jawaban Naruto.
"Lagipula," lanjut Naruto lagi, "Kita tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang Orochimaru di sini. Siapa tahu di tempat lain ada. Kita juga bisa menanyai pemimpin klanku. Siapa tahu dia tahu sesuatu."
Sasuke akui, saran Naruto ada benarnya. Selama ini ia memang tidak pernah menetap di suatu kota lebih dari beberapa bulan. Ia tak bisa berburu di tempat yang sama kalau tidak ingin dicurigai.
"Malam ini kita berangkat?" tanya Sasuke, "Langsung menuju ke tempat pemimpin klanmu?"
Sasuke yang mengharapkan jawaban mantap Naruto karena ia sendiri yang menyarankan hal itu sedikit terkejut melihat ekspresi ragu-ragu di wajah Naruto. Tapi kemudian pemuda pirang itu mengangguk.
"Kutemui kau di apartemenmu tengah malam nanti," ujar Sasuke lagi, memutuskan tidak menanyakan keraguan apa yang menghinggapi Naruto.
Tengah malam itu, Sasuke membuka jendela kamar Naruto dan langsung disambut dengan lemparan bawang putih.
"Apa-apaan?!" sergah Sasuke kesal, sementara Naruto justru terbahak.
"Hanya mengecek kalau-kalau mitos vampir takut bawang putih itu benar," jawab Naruto, masih terbahak.
"Dobe," geram Sasuke, mendekat ke arah Naruto dan memberinya tatapan tajam, "Kalau kau lupa, kau juga vampir."
Naruto berhenti tertawa. "Ah, kau benar juga," tanggapnya. "Berangkat sekarang?" tanyanya seraya menyambar ranselnya dan tersenyum ke arah Sasuke.
Tapi Sasuke justru bergeming. Ia menyadari Naruto tampak ragu-ragu sore tadi, tapi sekarang bocah itu terlihat sangat gugup. Sasuke tetap menyadarinya meski Naruto menutupinya dengan berusaha bersikap jahil seperti biasanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, masih berdiri di hadapan Naruto.
"Yep," jawabnya dengan nada ceria seperti biasanya, tapi Sasuke tahu Naruto menghindari tatapannya.
Sasuke masih mencoba menganalisis ekspresi Naruto selama beberapa saat, tapi pemuda itu melingkarkan lengannya ke lehernya dan menariknya keluar ke balkon. "Kita tidak punya sepanjang malam, Sasuke," ujarnya, dan Sasuke tidak ada pilihan lain selain mengikuti Naruto, melesat ke dalam kegelapa malam.
Sebagai vampir, Sasuke dianugerahi kecepatan yang melebihi manusia normal. Bagaimanapun, vampir berada di puncak rantai makanan. Sasuke bisa bergerak tanpa suara sedikitpun, memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kecepatan super. Perjalanan yang seharusnya ditempuh mobil dalam beberapa jam, Sasuke bisa sampai lebih cepat hanya dengan berlari. Dan ia tidak merasa lelah sedikitpun.
Sasuke melirik Naruto yang berlari mengiringinya. Sasuke tahu hal-hal semacam itu juga bukan hal baru bagi Naruto mengingat dia sebelumnya adalah manusia serigala. Tapi vampir memiliki satu hal yang tidak manusia serigala miliki, keabadian. Tak ada yang bisa membunuh vampir kecuali Orochimaru. Bahkan sebelum ini Sasuke tidak pernah merasakan sakit akibat luka fisik. Sakit pertama yang dideritanya setelah ia menjadi vampir adalah sakit akibat haus darah. Dan yang kedua, yang ia alami bertahun-tahun kemudian, adalah ketika Naruto menghisap darahnya.
"Kalau kau tidak fokus ke jalan, kau bisa menabrak sesuatu," celetuk Naruto.
Ucapan Naruto mau tak mau menyadarkan Sasuke dari lamunannya, "Masih jauh?" tanyanya.
"Di hutan itu," jawab Naruto, menunjuk hutan di kaki Gunung Fuji.
Begitu mereka mencapai perbatasan hutan, matahari sudah akan terbit. Mereka berdua berhenti berlari. Baik Sasuke maupun Naruto sama-sama tahu kalau asal menerobos ke dalam teritori orang lain tidak akan pernah berakhir baik. Apalagi teritori yang dimaksud adalah teritori milik pemimpin klan manusia serigala.
Tapi Sasuke tahu, Naruto tidak hanya berhenti untuk menghormati teritori orang lain. Ada sesuatu yang mengangganggu pikirannya.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke akhirnya.
"Tidak apa-apa," jawab Naruto, terlalu cepat. "Aku hanya—"
"Berhenti mengelak," potong Sasuke. "Kau sudah terlihat gugup sejak ketika kau menyarankan untuk pergi menanyai pemimpin klanmu. Sekarang, jawab jujur."
Naruto menggigiti bibir bawahnya dengan gugup sebelum akhirnya memandang Sasuke. "Pemimpin klan manusia serigala ini… dia…."
Sasuke memandang tajam Naruto, menyuruhnya melanjutkan.
Naruto menghela napas dan akhirnya berkata, "Dia ayahku."
Uh, oh.
-tbc-
Oh, yeah, and I do aware kalau saya nulis karakter Sasuke di sini. Tapi entah kenapa makin lama jadi makin mirip sama Nico di Angelo orz *don't look at me*
