Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Sasuke sama sekali tidak siap. Ia datang menemui pemimpin klan manusia serigala untuk meminta informasi tentang Orochimaru. Bukan untuk mengakui kalau ia sudah membunuh anaknya, dan mengubahnya jadi vampir pula. Sasuke benar-benar tidak siap. Ia mungkin abadi, tapi sebagai musuh bebuyutan manusia serigala, pemimpin klan pasti punya hukuman istimewa untuknya.
"Tidak apa-apa," gumam Naruto sembari mereka berjalan menuju jantung hutan. Mereka berdua sama-sama gugup sekarang. Sasuke yakin Naruto jelas juga tidak siap menjelaskan pada ayahnya kalau ia sudah jadi vampir.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Sasuke, berusaha mengatasi kegugupannya.
"Namikaze. Namikaze Minato," jawab Naruto.
Sasuke mencelos. Ia tahu nama itu. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, ia pernah menghadapi seorang Namikaze. Hari di mana manusia serigala menyatakan vampir sebagai musuh bebuyutan mereka. Bisa jadi itu adalah kakek Naruto atau kakek buyut Naruto.
"Tapi namamu bukan Namikaze," komentar Sasuke.
Naruto menggeleng. "Aku memakai nama ibuku. Aturan di klan kami seperti itu. Aku baru bisa menyandang nama Namikaze setelah aku dinobatkan jadi pemimpin klan yang baru."
Sasuke mencelos lagi. "Saudaramu yang lain juga memakai nama ibumu?" tanya Sasuke, berharap jawaban Naruto tidak seperti yang dia takutkan…
"Aku anak satu-satunya."
Sasuke rasanya sudah ingin membenturkan kepalanya ke pohon terdekat. Ia membunuh satu-satunya pewaris klan Namikaze. Ia mematikan garis keturunan ningrat manusia serigala. Ia dan manusia serigala memang musuh bebuyutan, tapi bukan berarti ia ingin klan mereka punah. Manusia serigala adalah lawan bertarungnya yang paling berat, dan ia menikmati pertarungan dengan mereka. Hanya itu, tidak lebih. Tidak ada dendam yang terlibat.
"Jangan khawatir," ucap Naruto lagi, seakan membaca pikiran Sasuke, "Kalau aku tidak ada, sepupu klan Namikaze, klan Sabaku, yang akan menggantikan. Rezim manusia serigala belum akan berakhir."
Tetap saja.
Sasuke mengikuti langkah Naruto, makin dalam menuju ke jantung hutan. Ia memutuskan untuk diam sepanjang sisa perjalanan, menimbang-nimbang penjelasan macam apa yang akan ia suguhkan kepada Namikaze Minato atas situasi yang melibatkan dirinya dan putranya.
Tapi sebelum Sasuke bisa memilih kata-kata yang tepat, Naruto berkata, "Sudah sampai."
Mereka sudah tiba di jantung hutan yang berupa bukaan luas di tengah-tengah rimbunnya pepohonan. Ada banyak serigala di sana, berkumpul, tapi di bawah pohon yang paling besar, duduk seorang pria berambut pirang dan bermata biru seperti Naruto. Sasuke yakin di adalah Namikaze Minato.
Pria itu tersenyum memandang Naruto yang berjalan menghampirinya, tapi segera setelah ia melihat Sasuke di belakangnya, matanya berkilat tajam.
"Apa yang dilakukan vampir itu di sini?" tanyanya geram.
Seperti yang sudah Sasuke perkirakan, kemampuan pemimpin klan memang berada di level yang berbeda dengan Naruto. Minato bisa mengetahui kalau dia vampir hanya dengan sekali lihat. Naruto bahkan tidak menyadarinya sampai mereka berhadapan langsung.
Baik Sasuke maupun Naruto tidak menjawab pertanyaan Minato. Mereka hanya bertukar pandang gugup, dan ketika tatapan mereka kembali ke Minato, pria itu sudah bangkit berdiri dan membelalak marah.
"Naruto, kau…," ucapnya. Tampaknya ia sudah tahu kalau anak semata-wayangnya sudah bukan lagi manusia serigala. Habis sudah.
"Ayah, aku bisa jelaskan," ujar Naruto cepat sebelum Minato melempar mereka berdua keluar dari hutannya. "Kumohon," pinta Naruto lagi.
Minato menatap mereka berdua selama beberapa saat, kemudian menghela napas. "Ikuti aku," katanya, seraya melangkah masuk ke dalam hutan, meninggalkan bukaan penuh serigala di belakangnya.
Untungnya, Minato adalah pemimpin ideal dimana ia selalu berpikir dengan kepala dingin dan secara rasional. Ia memang langsung melempar Sasuke ke pohon terdekat begitu cerita Naruto sampai di bagian ia membunuhnya, tapi amarahnya surut begitu mendengar Sasuke berusaha menghidupkan kembali Naruto.
"Jadi… apa Ayah tahu sesuatu tentang Orochimaru ini?" tanya Naruto setelah ia selesai bercerita.
Sasuke tetap bungkam. Alangkah lebih baik kalau ia sama sekali tidak ikut campur dalam pembicaraan ini. Biar Naruto saja yang menanganinya. Ia sudah cukup membuat Minato murka.
Minato tampak berpikir selama beberapa saat, kemudian menjawab, "Kakek buyutmu pernah bertemu dengan Orochimaru ini. Iblis keji dan licik. Ia rela melakukan apapun agar tetap terjadi pertumpahan darah di muka Bumi. Menjadikan vampir ini sebagai pionnya jelas adalah hal yang mungkin sekali dia lakukan."
"Tapi apa Ayah tahu bagaimana cara membunuhnya?"
"Orochimaru adalah makhluk kuno. Usianya jauh lebih tua dibanding semua makhluk hidup yang ada di muka Bumi ini."
Sasuke tahu itu. Tapi apa itu berarti mengalahkan Orochimaru juga mustahil?
"Tapi menurut kisah yang kudengar," ujar Minato lagi, "Orochimaru hanya bisa dibunuh menggunakan sepasang pedang, Izanagi dan Izanami."
Sasuke memandang Minato penuh harap. Setidaknya mereka masih memiliki kesempatan…
"Dimana kami bisa menemukan sepasang pedang ini?" tanya Naruto lagi.
"Gampang saja," jawab Minato ringan. "Kalau kalian sudah bertemu Orochimaru, kalian pasti menyadari di punggungnya ada dua bilah pedang kan? Itu Izanagi dan Izanami."
Sasuke membelalak mendengar jawaban Minato. Satu-satunya kesempatan mereka mengalahkan Orochimaru hanya dengan menggunakan pedangnya? Jangankan merebut pedang itu, menyentuh Orochimaru dengan ujung jari saja adalah hal yang kelewat mustahil.
"Terimakasih, Ayah," ujar Naruto. Kalaupun ia merasakan keputusasaan yang sama dengan Sasuke, ia tidak menunjukkannya.
"Kalau kalian ingin melacak Orochimaru," ucap Minato lagi, "Mengikuti jejaknya adalah hal yang cukup mudah. Vampir ini bukan satu-satunya pion yang pernah iblis itu ciptakan." Minato memandang Sasuke dengan mata birunya, membuat Sasuke seakan dirontgen. "Orochimaru selalu mengawasi pion-pionnya. Datang saja ke lokasi tempat dimana kematian-kematian aneh manusia terjadi. Kalian mungkin akan menemukan iblis itu di sana."
Naruto mengangguk lagi pada ayahnya. Ia menarik lengan Sasuke untuk menyeretnya pergi sebelum mood Minato kembali memburuk mengingat apa yang telah dilakukan Sasuke pada anaknya, tapi Minato berkata lagi, "Naruto, kalau kau tidak keberatan, aku ingin bicara sebentar dengan vampir ini."
Sasuke bertukar pandang dengan Naruto, tapi pemuda pirang itu hanya mengangkat bahu dan meninggalkan mereka berdua. Sepeninggal Naruto, Sasuke bersikap waspada. Kalau Minato menginginkan pertarungan, ia akan meladeninya. Tapi alih-alih, Minato justru memandangnya dengan ekspresi sedih.
"Sasuke," panggilnya. Kali pertama ia menyebutkan nama Sasuke. Sebelumnya ia memanggil Sasuke dengan sebutan 'vampir ini'. "Kau tentu menyadari apa yang akan terjadi kalau kau berhasil membunuh Orochimaru," ujarnya.
Sasuke membalas tatapan Minato. "Hal itu belum tentu terjadi."
Minato tersenyum lemah. "Aku menghargai perasaan dan optimismemu pada anakku, Sasuke. Tapi seandainya itu benar…."
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," sergah Sasuke sebelum dirinya sempat mencegahnya.
Minato menatapnya tajam. Ia menepuk pundak Sasuke pelan. "Kau tidak seburuk yang diceritakan Kakek," ujarnya singkat sebelum mengedik pada Sasuke, memberinya isyarat untuk menyusul Naruto pergi.
"Apa yang dikatakan Ayah padamu?" tanya Naruto begitu Sasuke menemukannya di bukaan tempat serigala-serigala berkumpul, tengah mengelus seekor serigala berbulu hitam legam.
"Hanya ancaman seorang Ayah biasanya," jawab Sasuke, "Kalau aku mencelakaimu lagi bla bla bla."
Naruto tertawa. "Jadi, kita lanjutkan perjalanan sekarang? Berburu Orochimaru?"
Sasuke mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mulai mengecek berita tentang kematian-kematian misterius. Naruto ikut melihat ke layar ponselnya dari balik bahu Sasuke.
"Kau tidak bisa memanggilnya saja seperti waktu kau menghidupkanku tempo hari?" tanya Naruto.
Sasuke menggeleng. "Orochimaru datang dan pergi sesukanya. Ia memenuhi panggilanku waktu itu hanya karena ia melihat kesempatan lain untuk membuatku sengsara. Sebelum itu, ia tak pernah datang walau aku teriak-teriak memanggilnya."
Naruto mengangguk-angguk paham. "Tunggu, balik lagi ke berita sebelumnya," ujar Naruto, melingkarkan lengannya ke leher Sasuke agar bisa menjangkau layar ponselnya. "Yang ini cukup menarik sekaligus mencurigakan."
Sasuke mengamati judul beritanya dan membaca isinya sekilas. "Kesini?" tanyanya, memastikan seraya menoleh ke arah Naruto, sedikit menjauhkan wajahnya agar hidungnya tidak menyentuh pipi Naruto.
Naruto mengangguk mantap dan menoleh ke arah Sasuke, membalas tatapannya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. "Jangan lupa kau harus berburu dalam perjalanan," ucapnya. "Aku mulai lapar."
Dan ia terbahak melihat mata Sasuke melebar penuh dengan rasa horor dan trauma. Sasuke hanya mendengus geli dan mengantungi ponselnya.
-tbc-
Maaf, saya nggak tahan untuk nggak subtle. Dan saya malah jadi makin bertanya-tanya, sebenanya ini fanfic BL apa bukan sih?
Iya dan itu ada sinyal di tengah hutan. Jangan tanya saya. Provider internetnya udah pake sinyal 6G *plak*
And, okay, I'd be lying if I said it wasn't inspired by Supernatural & KuroFai dari TRC.
