Diclaimer: Masashi Kishimoto.
Sasuke baru saja selesai mandi ketika Naruto tiba-tiba membantingnya ke atas tempat tidur. Sasuke berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Naruto yang menggenggam kedua pergelangan tangannya dengan sangat erat tapi usahanya sia-sia. Baru akhir-akhir ini Sasuke menyadari kalau Naruto sedikit lebih kuat darinya.
Pemuda pirang itu membungkuk di atasnya dan hanya menyeringai kejam melihat usaha sia-sia Sasuke untuk melepaskan diri. Sasuke pikir ia akan mulai terbiasa dengan ini.
"Bodoh," keluh Sasuke akhirnya. "Setidaknya biarkan aku berpakaian dulu."
Naruto mengernyit dan melihat ke bawah, menyadari kalau Sasuke hanya mengenakan handuk saja yang melilit pinggangnya. Naruto mengerang kesal dan melepaskan Sasuke.
"Aku lapar," keluh pemuda pirang itu, menghenyakkan dirinya di tempat tidur, membiarkan Sasuke lolos untuk berpakaian. Sasuke berpakaian secepat yang ia bisa, lalu mendudukkan diri di sebelah Naruto.
"Aku siap," ucapnya.
Naruto menatapnya lekat-lekat dengan mata birunya. "Kau selalu kesakitan tiap kali aku menghisap darahmu," tanggap Naruto.
Sasuke hanya tersenyum tipis. "Tidak membahayakan hidup."
Naruto tampak meragukan jawaban Sasuke, tapi toh ia tetap mendekatkan bibirnya ke leher pucat Sasuke dan Sasuke membiarkan kedua taring Naruto menancap di sana.
Sasuke pikir ia akan terbiasa dengan rasa sakitnya. Tapi dugaannya salah. Sakitnya tetap membakar seluruh tubuhnya dan kali ini, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak. Setiap tetes darah yang dihisap dari tubuhnya rasanya seperti lidah api yang melukai setiap jengkal tubuhnya. Sasuke tidak bisa merasakan hal lain selain rasa sakit.
Ketika rasanya sudah begitu lama, rasa sakitnya mendadak berkurang dan Sasuke merasakan Naruto menjauhkan diri darinya. Sasuke terengah. Ia menyadari kalau Naruto setengah memeluknya. Ketika Sasuke membuka mata hitamnya lagi, ia melihat mata biru Naruto dekat di hadapannya.
"Maaf," gumam Naruto. Rasa bersalah yang sangat besar terlihat di iris biru itu.
Sasuke menggeleng lemah. "Biarkan aku tidur," jawab Sasuke lirih dan Naruto membantunya menemukan posisi yang nyaman untuknya berbaring. Energi Sasuke rasanya terhisap habis. Orochimaru jelas menemukan cara paling efektif untuk membuatnya menderita. Sasuke sudah nyaris sepenuhnya kehilangan kesadarannya ketika ia merasakan Naruto menyelimuti tubuhnya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Detik berikutnya, gelap.
Ketika Sasuke bangun beberapa jam kemudian, sudah tengah malam. Ia merasakan jantungnya sedikit nyeri. Ia harus berburu. Selalu seperti ini. Ia membutuhkan asupan baru setiap Naruto selesai dengannya.
"Hai, Sleeping Beauty."
Sasuke menoleh dan mendapati Naruto tengah serius menekuni laptopnya di atas meja. Saat ini mereka tengah transit di sebuah motel di kota kecil tempat sebuah kasus pembunuhan misterius terjadi. Misi mereka hanya satu, mencari Orochimaru. Sasuke bisa melihat Naruto sedang membaca semua artikel yang bisa ia temukan mengenai kematian misterius yang sedang terjadi dari laptopnya.
Sasuke turun dari tempat tidur dan menghampiri Naruto. "Apa yang kau dapatkan?" tanyanya, membungkuk dari balik bahu Naruto dan ikut melihat ke layar laptop.
Naruto mengangkat bahu. "Fakta-fakta yang sudah kita ketahui dalam perjalanan kesini sebenarnya. Ditemukan mayat-mayat dengan keadaan mengenaskan, seakan mereka dimangsa. Dan bekas gigi yang tertinggal di mayat adalah bekas gigi manusia."
Sasuke menegakkan tubuhnya, mengambil jaketnya yang ia gantung di kepala tempat tidurnya.
"Mau kemana?" tanya Naruto, menoleh dari layar laptopnya.
"Makan," jawab Sasuke singkat. Ia menyadari perubahan ekspresi Naruto ketika ia menjawab pertanyaannya. "Sekalian mencari informasi dari lokasi kejadian langsung, mungkin?" tambah Sasuke.
"Kau ingin aku ikut?"
Sasuke menggeleng. "Aku tidak pernah berburu bersama orang lain dan sebaiknya tetap begitu." Dan tanpa menunggu komentar lain dari Naruto, Sasuke melangkah keluar kamar.
Ini bukan pertama kalinya Naruto menawarinya untuk ikut berburu bersamanya. Dan bukan pertama kalinya Sasuke selalu menolak dengan alasan yang sama. Dan mereka sama-sama tahu kalau alasan yang diulang-ulang itu bukan alasan sebenarnya. Sasuke hanya tidak ingin Naruto melihatnya membunuh. Sasuke membiarkan instingnya menguasainya ketika ia berburu, dengan hanya sedikit kemanusiaan yang tersisa dalam dirinya. Sasuke tak tahu kenapa penting baginya untuk tidak membiarkan Naruto melihatnya berburu, tapi ia tetap ingin menundanya selama mungkin. Atau mungkin ia tahu kenapa, namun sulit mengakuinya.
Kota kecil yang mereka singgahi sekarang sedikit lebih besar dari kota tempat Naruto berasal. Jumlah penduduknya lebih banyak, jadi lebih banyak pilihan untuk Sasuke. Bukan berarti ia ingin melakukan pembunuhan massal malam ini. Meminum habis darah seorang manusia saja cukup untuk membuatnya dan Naruto bertahan selama satu minggu. Dalam satu bulan ia hanya perlu membunuh empat sampai lima orang. Cukup banyak sebenarnya kalau dibandingkan dengan sebelum ada Naruto dulu—dua atau tiga orang cukup untuk satu bulan—tapi Sasuke tidak ada pilihan lain.
Sasuke berkeliaran di gang-gang sempit yang gelap. Ia sudah menentukan targetnya. Seorang gadis yang berjalan sempoyongan dan bergumam sendiri. Kelihatan jelas kalau gadis itu sedang mabuk. Sasuke menyeringai ketika melihat momen yang pas untuk menyerang gadis itu, dan ia melakukannya.
Sasuke keluar dari sudut gelap tempat bersembunyi dan menyergap gadis itu. Ia menekapkan tangan kanannya di mulut gadis itu, menahan kedua tangan gadis itu tetap berada di sisi tubuhnya dengan tangan kirinya, dan dengan satu gerakan cepat menancapkan taringnya di leher si gadis. Semuanya terjadi begitu cepat. Gadis itu bukan tak sempat berteriak karena saat ia menyadari apa yang terjadi, Sasuke sudah menghisap separuh darahnya dan ia terlalu lemas untuk bereaksi. Ketika Sasuke selesai, ia membiarkan gadis itu tergeletak di gang, pucat dan tak bernyawa.
Sasuke memandang mayat gadis itu dengan sedikit rasa bersalah dan menjilat sisa darah di ujung bibirnya ketika ia menyadari ia sedang diawasi. Sasuke menoleh dengan cepat, mengamati seluruh gang, dan melihat Naruto berdiri di balik bayang-bayang. Sasuke membelalak.
"Naruto…?"
Pemuda itu keluar dari bayang-bayang dan menghampiri Sasuke. Sasuke benar-benar tak tahu apa yang harus ia katakan. Naruto baru saja melihatnya membunuh tanpa belas kasihan. Ia sepenuhnya yakin Naruto yang memiliki rasa keadilan tinggi itu akan menghajarnya di tempat, tapi pemuda pirang itu ternyata tidak melakukan apa-apa. Ia memandang Sasuke dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
Ketika Sasuke hendak mengatakan sesuatu untuk mengatasi kesunyian yang canggung di antara mereka, pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu. Ia bertukar pandang dengan Naruto dan tahu kalau Naruto juga mendengar hal yang sama. Mereka bergerak pelan tanpa suara, menghampiri sumber bunyi, dan mereka melihatnya.
Sesosok tubuh yang sebagian besar tersembunyi dalam kegelapan hanya di gang di sebelah tempat Sasuke meninggalkan mayat gadis tadi. Tubuh itu membungkuk di atas sosok lainnya, dan Sasuke bisa mendengar suara gigitan dan kunyahan yang brutal. Tampaknya bukan hanya Sasuke yang memutuskan untuk berburu malam ini.
-tbc-
Karena saya udah bilang ini terpengaruh dari Supernatural, jangan heran kalau makin lama plotnya makin gaje, penuh drama, penderitaan, dan nggak selesai-selesai. Haha. Saya pikir Supernatural bakal tamat di season 10 ini, but I've never been so wrong. CW udah pick up series itu buat season 11nya tahun depan orz *malah curhat*
