Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Sasuke benar-benar tidak percaya ini.
Beberapa jam telah berlalu sejak mereka meninggalkan kota kecil dengan mayat ghoul di belakang mereka. Matahari sudah sepenuhnya terbit sekarang. Begitu mendapat informasi kalau pria yang membangkitkan ghoul itu pergi ke utara, Sasuke segera mengecek ponselnya untuk mencari berita tempat di mana terjadi kasus misterius di daerah utara. Segera, Sasuke menemukannya. Kasus hilangnya anak-anak pada tengah malam secara misterius. Kasus itu sudah berlangsung selama berhari-hari, dan baik Sasuke maupun Naruto memutuskan kalau tidak ada salahnya mengecek kota itu.
Tapi, sekali lagi, Sasuke benar-benar tidak percaya ini. Hal yang selalu dilakukan Sasuke dan Naruto begitu mencapai suatu kota dan memutuskan untuk menetap di sana selama beberapa hari tentunya adalah mencari tempat penginapan. Tapi sayangnya, Sasuke yang sudah hidup selama beratus-ratus tahun tidak pernah memperkirakan tanggal. Dan Naruto yang apatis tentang hal yang bernama kalender juga tidak bisa diandalkan.
Mereka mencapai kota pada akhir pekan yang bertepatan dengan liburan pertengahan musim semi, menyebabkan semua penginapan yang mereka datangi penuh karena festival besar akan diselenggarakan di kota itu dan hampir semua orang dari seluruh penjuru negeri datang dan menyaksikan. Satu-satunya pilihan yang tersisa bagi mereka adalah, love hotel.
Sasuke membuka pintu kamar mereka dengan kesal. Mereka hanya bisa menyewa satu kamar karena hanya itu satu-satunya yang tersisa. Ia melempar kuncinya ke meja terdekat asal saja, mendudukkan diri di sofa yang dihiasi berbagai macam borgol dalam berbagai bentuk dan ukuran, membuka laptopnya dan memutuskan untuk melakukan riset tentang hilangnya anak-anak itu secara lebih terperinci.
Naruto meletakkan tasnya di atas meja juga, mengamati kamar dengan dekorasi BDSM yang norak dan duduk di tepi tempat tidur dengan canggung. Sasuke mengamati Naruto yang sejak memasuki hotel ini sudah salah tingkah melalui sudut matanya dan mendengus geli. First timer, eh?
"Jumlah anak yang menghilang sampai detik ini ada sembilan belas," ujar Sasuke, memecah keheningan dan berusaha mencairkan kecanggungan Naruto.
Usahanya cukup berhasil. Naruto bangkit dari duduknya di tepi tempat tidur dan pindah ke sofa bersama Sasuke untuk ikut melihat apa yang dibaca Sasuke di laptopnya.
"Dan sama sekali tak ada jejak. Tak ada bekas kekerasan di kamar anak-anak itu. Seakan mereka semua lenyap begitu saja," tambah Sasuke lagi.
"Bagaimana kalau kita keluar dari sini, mengunjungi salah satu rumah korban dan melihat-lihat? Siapa tahu ada petunjuk yang dilewatkan polisi biasa," tanggap Naruto.
"Menurutmu apa yang akan dikatakan orangtua anak yang hilang kalau rumahnya dikunjungi dua pemuda SMA yang berkata ingin melihat-lihat kamar anaknya?" tanya Sasuke sarkastis.
Naruto nyengir lebar. "Aku kan tidak bilang kita harus meminta izin pemilik rumah."
Menit berikutnya, Sasuke dan Naruto sudah berdiri di sebuah gang sempit di belakang sebuah rumah sederhana.
"Bagaimana kau tahu kalau kamar yang di atas itu adalah kamar anaknya?" tanya Sasuke, masih dengan nada sarkastis.
"Ya kalau bukan tinggal pindah, kan?" balas Naruto cuek. "Harus ada satu yang berjaga di sini."
"Aku yang naik, kau yang berjaga di sini," tanggap Sasuke, sudah siap memanjat, tapi Naruto mencekal lengannya.
"Kita putuskan dengan janken," ujarnya.
Sasuke menghela napas dan menyetujuinya. Sayangnya, justru dia yang kalah.
"Jangan sampai ketahuan," Sasuke mendesis memperingkatkan.
Naruto, dengan tampang jahilnya yang biasa, menyeringai lebar, "Aku juga vampir, Sasuke," ucapnya, "Aku juga bisa bergerak tanpa suara. Buktinya tempo hari aku bisa mengikutimu tanpa ketahuan."
Sasuke hanya memutar bola matanya sementara Naruto melompat dan berhasil menangkap teralis balkon lantai dua dan dengan satu gerakan mulus, mengangkat dirinya dan memanjat teralis balkon. Sasuke sedikit terkesan. Naruto jago parkour juga ternyata. Naruto sudah membungkuk dan mengutak-atik pintu geser balkon untuk membuka kuncinya dengan penjepit yang diambilnya dari kamar hotel. Hanya dalam beberapa detik, Naruto sudah berbalik dan mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Sasuke, lalu membuka pintu gesernya dan menyelinap masuk. Anak itu berbakat jadi pencuri ulung juga rupanya.
Sepeninggal Naruto, Sasuke memandang ke sekelilingnya. Sama sekali tak ada orang lewat di gang itu. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu tutup bak sampah besar di dekatnya dan menunggu.
Setelah rasanya cukup lama, terdengar suara jeritan dari dalam rumah tempat Naruto menyusup. Sasuke segera melompat turun dari tempatnya duduk dan sudah bersiap untuk naik juga menyusul Naruto, tapi pemuda pirang itu sudah lebih dulu muncul di balkon.
"Sasuke, tangkap!" serunya, dan Naruto melompat dari atas balkon, membuat Sasuke tak ada pilihan lain selain menangkapnya dalam posisi bridal-style. Begitu Naruto sudah pas dalam gendongannya, Sasuke melesat pergi dari tempat itu dengan kecepatan vampirnya.
Menit berikutnya, mereka sudah kembali berada dalam kamar hotel. Sasuke menunduk memandang Naruto yang masih dalam gendongannya dengan tatapan tak senang.
Naruto hanya memberinya senyum lebar. "Sampai kapan kau mau menggendongku, Sasuke?"
Sasuke menghela napas dan melempar tubuh Naruto ke tempat tidur. "Kau bilang kau tidak akan ketahuan?" tuntut Sasuke geram.
Naruto terkekeh dan mendudukkan diri. "Tidak masalah kan? Toh kita berhasil kabur."
Sasuke berdecak. "Apa yang kau temukan?" tanyanya.
Naruto merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kantung kulit seukuran ibu jari. Naruto melemparkan kantung itu ke arah Sasuke. "Aku menemukannya di eternit. Aku menduga itu satu-satunya tempat yang dilewatkan polisi, dan aku terbukti benar."
Ketika Sasuke melihat simbol di kantung itu, pemahaman menyapu otaknya.
"Siapapun yang menculik anak-anak itu," ujarnya, "dia adalah penyihir. Ini jelas simbol guna-guna."
"Ah, tidak heran mereka seakan lenyap begitu saja."
Sasuke mengangguk. "Dan penyihir itu akan butuh dua anak lagi."
"Bagaimana kau tahu?"
Sasuke memandang kantung kulit itu. "Aku tahu sebuah ritual yang hanya bisa dilaksanakan di tengah malam pertengahan musim semi, saat siang dan malam berlangsung sama panjang. Ritual itu membutuhkan korban dua puluh satu anak-anak."
Naruto membelalak. "Pertengahan musim semi kan besok…."
"Dan kita juga akan bisa menemui penyihir di balik semua ini."
Sasuke menatap nyalang ke langit-langit kamar. Naruto berbaring di sebelahnya, masih mengutak-atik ponselnya. Mereka akhirnya setuju untuk tidur seranjang, tapi Sasuke sama sekali tidak bisa tidur.
Penemuan kantung kulit itu membuat ingatan Sasuke kembali ke masa lalu, di awal abad ke -19. Ia tahu benar tentang ritual itu karena ia pernah melakukannya. Ia menculik anak-anak malang itu, menyerahkannya pada penyihir dan ia membantu penyihir itu membunuhi anak-anak itu. Semua hanya demi keabadian semu yang ingin penyihir itu dapatkan.
Sasuke sendiri tak tahu kenapa waktu itu ia bersedia membantu. Tapi kalau penyihir yang akan melakukan ritual ini sama dengan yang Sasuke kenal, itu berarti ia akan mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Orochimaru.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Pertanyaan Naruto menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke menoleh ke sisinya dan mendapati Naruto tengah berbaring menyamping dengan tangan menyangga kepalanya. Mata birunya yang ia warisi dari ayahnya memandangnya lekat-lekat.
"Tidak. Bukan apa-apa," jawab Sasuke, kembali menoleh ke langit-langit kamar.
Sasuke merasakan telunjuk Naruto menempel di antara kedua alisnya. "'Bukan apa-apa' itu membuat alismu berkerut," ujarnya. "Katakan."
Sasuke tersenyum tipis, menyerah. "Aku pernah membantu seorang penyihir melakukan ritual yang sama," jawab Sasuke singkat.
Naruto mengangguk-angguk paham, menjauhkan telunjuknya dari kening Sasuke. "Tak heran kau sepertinya paham betul ritual apa ini."
Sasuke tidak menanggapi itu, masih disibukkan dengan pikirannya. Naruto juga diam, masih memandang Sasuke.
Ketika akhirnya Sasuke kembali membalas tatapan Naruto, pemuda pirang itu angkat bicara.
"Kau tahu, aku benar-benar minta maaf."
Sasuke memandang Naruto dengan tatapan penuh tanya seraya mengikuti jejak Naruto, berbaring miring dengan tangan menyangga kepala.
"Kalau dipikir lagi," lanjut Naruto, "Aku yang menyarankanmu untuk minum darah hewan alih-alih manusia. Dan aku sendiri yang marah karena kau membunuh kawananku. Kalau waktu itu kita bicarakan baik-baik, mungkin Orochimaru takkan menjebakmu lagi."
Setelah mendengar itu, Sasuke hanya diam memandang Naruto selama beberapa saat, sebelum kemudian berkata, "Kau mengatakan padaku tempo hari, saat kau membunuh ghoul itu, kalau aku lain. Apa maksudmu?"
Betapa herannya Sasuke, Naruto tidak langsung menjawab. Ia justru menghindari tatapan Sasuke. "Yah, aku berhutang nyawa padamu kan…," jawabnya.
Sasuke mengernyit. "Aku membunuhmu, Naruto."
"Yah, tapi kan kau berusaha menghidupkanku lagi meskipun dengan itu kau jadi harus berurusan dengan Orochimaru."
Sasuke masih mengernyit memandang Naruto. "Jawabanmu tidak masuk akal. Ghoul itu juga membunuh bukan karena kenginannya. Ia tadinya sudah mati dengan tenang sampai dia dihidupkan lagi."
Naruto menggigit bibir bawahnya, hal yang biasa ia lakukan kalau ia gugup. "Oh, ayolah, Sasuke. Masa kau harus menanyakan kenapa aku bilang kau lain sih? Kau sudah hidup jauh lebih lama dari aku. Pengalaman hidupmu jauh lebih banyak. Dan selama hampir enam bulan ini kau menghabiskan waktu bersamaku dan kau masih tidak menyadarinya?"
Sasuke mengerjap. "Sejak… kapan?" tanya lambat-lambat.
Naruto menghela napas. "Entahlah," jawabnya. "Aku tidak yakin. Beberapa minggu setelah aku jadi vampir? Kurasa karena aku jadi menghabiskan terlalu banyak waktu bersamamu dan aku jadi mengenalmu."
Sasuke tersenyum tipis.
"Oke, kurasa sekarang ini adalah momen canggung dan karena aku sadar diri, aku akan tidur di sofa," tambah Naruto lagi. Ia sudah hendak bangkit, tapi Sasuke menahannya.
"Aku tidak keberatan," ucapnya. "Kau benar. Pengalaman hidupku sudah jauh lebih banyak darimu."
Mendengar ucapan Sasuke, Naruto tersenyum lega. "Trims," ujarnya.
Sasuke hanya menggeleng. Ia tersenyum tipis dan berbalik ke posisi telentang. "Selamat malam, Naruto," ujarnya seraya memejamkan mata.
Sasuke bisa merasakan Naruto masih memandangnya, tapi ia mendengar jawaban lirih Naruto, "Malam, Sasuke."
-tbc-
Saya nulis apa sih? -.-
Tanggal 21 Maret adalah peringatan hari 春分の日(shunbun no hi) alias spring equinox.
