Disclaimer: Masashi Kishimoto
Esoknya, menjelang tengah malam, Sasuke dan Naruto sudah bersiap menghadapi penyihir yang melakukan ritual itu. Mereka berdua berlari menerobos malam, menuju ke arah gedung tertinggi yang ada di kota itu. Ritual itu selalu dilakukan di titik tertinggi di daerah tempat ritual itu dilakukan. Dulu, dilakukan di bukit-bukit. Namun sekarang, setelah banyak gedung-gedung pencakar langit, bukit-bukit bukan lagi menjadi titik tertinggi.
Gedung paling tinggi di kota itu terletak jauh dari keramaian festival, menguatkan teori Sasuke tentang tempat di mana ritual itu dilaksanakan.
Benar saja, ketika Sasuke dan Naruto mencapai puncak gedung, mereka mendapati dua puluh satu anak tengah tertidur lelap, diposisikan dalam formasi tertentu di dalam sebuah lingkaran yang dikelilingi lilin-lilin.
Sasuke menahan Naruto agar mereka tetap tersembunyi dalam bayang-bayang.
"Kau melihat penyihirnya?" tanya Naruto dari balik bahu Sasuke.
Sasuke menggeleng. Ia memicingkan matanya, tapi tak ada orang lain selain mereka dan anak-anak yang tak sadarkan diri di atap gedung itu. Mereka terus mengamati dan menunggu. Sasuke mengecek arlojinya. Sudah hampir tengah malam.
Terdengar suara langkah kaki dan Sasuke melihatnya. Seorang pria, persis seperti yang dideskripsikan ghoul wanita itu, pria berkacamata dengan rambut abu-abu, mengenakan jubah hitam dan memegang sebuah belati perak di tangannya.
Sasuke terbelalak. Ia mengenali orang itu. Meskipun sekarang penampilannya lain, ia tidak mungkin salah. Tiga abad yang lalu, Sasuke-lah yang membantunya menjalankan ritual ini.
"Kau mengenalnya?" tanya Naruto, rupanya menyadari perubahan ekspresi Sasuke.
Sasuke mengangguk. "Kabuto," jawabnya. "Ia penyihir terkuat yang aku tahu. Kaki tangan Orochimaru langsung."
"Bagus kan kalau begitu? Kita jadi bisa mendapatkan petunjuk jelas tentang keberadaan Orochimaru."
Sasuke menoleh ke arah Naruto. "Apa kau melewatkan bagian ia penyihir terkuat yang aku tahu?"
Naruto hanya menanggapinya dengan senyum lemah.
"Kabuto tidak mengenalmu. Aku akan mengalihkan perhatiannya, dan kau tetap di sini sambil menunggu tanda dariku untuk membunuhnya. Cabut jantungnya, kau paham? Jangan ragu-ragu. Ia takkan mati kecuali jantungnya dipisahkan dari tubuhnya," ujar Sasuke.
Tapi Naruto menggeleng, membuat Sasuke mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi tidak senang.
"Bagaimana kalau aku yang mengalihkan perhatiannya sementara kau cabut jantungnya? Tidak ada hubungannya kan Kabuto mengenalku atau tidak?"
Sasuke berbalik dan menghimpit Naruto ke dinding beton dengan gusar. "Dengar, aku mengenalnya berarti aku tahu seberapa kuatnya dia. Aku takkan melemparmu untuk menghadapinya karena kau sama sekali tak tahu sejauh apa kemampuannya. Kau bisa mati konyol."
Naruto nyengir lebar. "Kupikir aku abadi."
Mata Sasuke menyipit berbahaya. "Kabuto tahu cara-cara yang membuat kematian terdengar menyenangkan."
Naruto menghela napas. "Oke, baiklah, karena kau sudah memintaku dengan sangat sopan, aku akan melakukan apapun yang kau minta."
Sasuke mengangguk, melepaskan Naruto dan bersiap menyerang Kabuto.
"Sasuke," panggil Naruto sebelum Sasuke keluar dari tempat persembunyian mereka, "hati-hati."
Sasuke mengangguk, dan melesat keluar. Sasuke tahu mendekati Kabuto adalah tindakan bodoh meskipun ia mendekatinya secara tiba-tiba. Penyihir satu ini seakan memiliki mata di belakang kepalanya. Jadi Sasuke berdiri di sisi terjauh. Lagipula tugasnya hanya mengalihkan perhatian. Kabuto takkan mungkin menghadapinya dan Naruto sekaligus.
"Wah, wah, Uchiha Sasuke. Lama tak berjumpa," ujar Kabuto bahkan sebelum Sasuke sempat buka mulut. Ia masih sibuk di meja ritualnya, tak menoleh ke arah Sasuke sedikitpun. Sasuke bergerak mendekat.
Kabuto tertawa, keji. "Sok pahlawan rupanya sekarang? Ingin menyelamatkan anak-anak ini?" Kabuto berbalik menghadapinya.
"Jangan konyol," Sasuke menanggapi. "Aku hanya ingin bicara."
Kabuto menyeringai licik. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantu seorang Uchiha?"
"Katakan padaku di mana Orochimaru berada."
Kabuto mengerjap kaget, kemudian tertawa. "Oh, Sang Boneka ingin memburu tuannya?"
Sasuke tidak menanggapi itu. Ia masih tetap diam di tempatnya, waspada. Kabuto sangat licik dan setia pada Orochimaru yang memberinya kekuatan sihir. Ia akan melakukan apa saja untuk melindungi Orochimaru.
Kabuto tersenyum lagi. "Aku akan mengatakannya setelah aku menyelesaikan ritual ini."
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ritual apapun sebelum kau mengatakan padaku di mana Orochimaru."
Sasuke melesat maju, menyerang Kabuto. Tapi Kabuto terlalu cepat, bahkan untuk ukuran Sasuke. Ia berhasil mengelak, tertawa terbahak-bahak sambil terus menangkis serangan Sasuke. Tengah malam sebentar lagi. Ia harus terus menyibukkan Kabuto. Ia tak boleh sampai melakukan ritualnya.
Sasuke dulu memang bukan tandingan Kabuto, tapi waktu sudah lama berlalu sejak saat itu, dan tampaknya Kabuto juga menyadarinya. Ia sudah berhenti tertawa sekarang, menanggapi Sasuke dengan serius.
"Hentikan, Uchiha. Kau takkan bisa menghalangiku melakukan ritualku," geram Kabuto, mencoba menusuk Sasuke dengan belati peraknya. Sasuke menghindar tepat pada waktunya.
"Masih ada tahun depan, Kabuto."
Kabuto mengerang frustasi, mulai menyerang Sasuke dengan membabi-buta. Tengah malam sudah dekat. Kalau Kabuto melewatkan ritualnya tahun ini, ia akan bisa dibunuh dengan mencabut jantungnya. Ini adalah satu-satunya kesempatan Sasuke untuk mengorek informasi dari penyihir itu.
Bel pertama tanda tengah malam sudah berdentang. Sasuke hanya harus menahannya sedikit lagi. Kabuto berbalik, hendak melakukan ritual, tapi Sasuke menahannya. Ia menarik leher Kabuto, membantingnya ke tanah. Kabuto berteriak kesakitan sementara Sasuke memelintir tangannya, memaksanya menjatuhkan belati perak di tangannya.
Tinggal sedikit lagi.
Tapi mendadak mata Kabuto berkilat merah dan di saat bersamaan Sasuke merasakan sesuatu yang keras menghantam dadanya, membuatnya terpelanting jauh. Kabuto menggunakan sihirnya. Penyihir itu bangkit berdiri, hendak mengambil belatinya yang terjatuh, tapi reflek Sasuke lebih cepat. Ia lebih dulu melesat ke arah belati itu dan menendangnya ke tepi, membuatnya terjatuh dari atap gedung.
Tepat saat dentang keduabelas selesai.
"Tidak!" teriak Kabuto marah. Ia hendak menyerang Sasuke lagi, tapi di saat bersamaan Naruto mendadak muncul, menahan Kabuto dengan tangannya berada di kirinya, tepat di atas jantungnya. Naruto tersenyum pada Sasuke. Sasuke tidak menanggapinya. Ia bahkan belum memberi tanda bagi Naruto untuk keluar, tapi rupanya pemuda pirang itu bisa membaca situasinya dengan sangat bagus.
Kabuto tidak bisa bergerak. Ia sudah melewatkan ritualnya dan dengan satu gerakan salah, Naruto bisa langsung mencabut jantungnya.
"Siapa kau?" desis Kabuto.
"Bukan urusanmu," jawab Naruto. "Katakan saja dimana Orochimaru dan mungkin jantungmu tidak akan lepas."
Sasuke masih berdiri dengan waspada, kalau-kalau Kabuto memutuskan untuk melakukan kelicikan lain. Tapi rasa putus asa sudah membayang di mata penyihir itu. Melewatkan ritual keabadiannya, yang berarti membuatnya jauh dari kata keabadian sampai waktu untuk ritual berikutnya tiba, jelas membuatnya hancur.
"Tak ada yang tahu," jawab Kabuto. Suaranya bergetar.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.
"Orochimaru datang dan pergi sesukanya. Kau takkan bisa menemukannya dimanapun," ujar Kabuto, membuat Sasuke dan Naruto bertukar pandang putus asa.
"Tapi," Kabuto melanjutkan, "Kau bisa memanggilnya secara paksa."
"Caranya?" tuntut Naruto, menekan dada Kabuto lebih kuat, memaksanya bicara.
"Aku menyimpan gulungannya di jubaku."
Sasuke mendekat, menggeledah Kabuto dan menemukan sebuah gulungan. Ia membuka gulungan itu, memeriksa isinya. Naruto memandang Sasuke, memastikan. Sasuke mengangguk.
"Terimakasih atas kerjasamanya, Kabuto. Bisnis denganmu selalu menyenangkan," ujar Sasuke. Dan sebelum Kabuto sempat merespon, Naruto sudah lebih dulu membenamkan jari-jarinya ke dada Kabuto, dan menarik jantungnya keluar.
Naruto memandang jantung yang berwarna kehitaman itu dengan jijik, melemparnya ke tanah dan menginjaknya sampai pecah. Tubuh Kabuto yang sudah tak bernyawa ambruk ke tanah.
"Apa cara memanggil Orochimaru gampang?" tanya Naruto, ikut melihat isi gulungan dari balik bahu Sasuke.
"Bahan-bahannya sangat langka, tapi kurasa kita bisa mendapatkannya."
"Ada resiko yang menyusahkan?" tanya Naruto lagi.
"Kalau cara ini berhasil dan dia benar datang, kurasa itu juga sudah jadi resiko yang menyusahkan. Orochimaru cenderung membunuh semua orang yang memanggilnya secara paksa kurasa. Ia bukan tipe iblis yang bisa dikendalikan oleh siapapun."
Naruto tertawa. "Resikonya bisa diatasi kalau begitu."
Sasuke mengangguk, mengalihkan pandangannya ke arah dua puluh satu anak yang masih tertidur. Naruto mengikuti arah pandangannya.
"Kurasa mungkin sebaiknya kita telepon polisi," usul Naruto, yang disambut dengan anggukan setuju dari Sasuke.
-tbc -
