Disclaimer: Masashi Kishimoto
Sasuke dan Naruto menghabiskan berminggu-minggu setelah mereka mendapatkan gulungan Kabuto untuk mencari bahan-bahan yang tertulis di gulungan. Bukan hal yang sangat mudah meskipun mereka adalah sepasang vampir. Bahkan dengan pengetahuan Sasuke selama hidupnya, misi itu juga tidak gampang.
Akhirnya setelah kurang lebih dua bulan pergi ke hampir seluruh penjuru Jepang untuk mengumpulkan bahan-bahan ritual, semuanya berhasil mereka dapatkan. Sasuke memasukkan kulit ular kering yang lepas saat bulan baru, yang baru saja mereka dapatkan dari seorang penyihir dengan harga yang cukup mahal dan beberapa ancaman di sana-sini, ke dalam tasnya.
"Itu bahan terakhir?" tanya Naruto.
Sasuke mengangguk. "Yang terakhir adalah setetes darahku, sebenarnya. Tapi itu urusan gampang."
Naruto mengangguk. Kelihatan jelas di wajahnya kalau ia ingin menggunakan darahnya saja alih-alih darah Sasuke, tapi mereka tahu kalau Naruto sudah tidak memiliki darah lagi. Darahnya hanya darah semu karena ia seharusnya sudah tewas.
"Kemana kita sekarang?" tanya Naruto.
Sasuke menerawang. Ia sudah memikirkan hal ini sejak ia memperoleh gulungan Kabuto. Ia sudah berniat untuk memanggil Orochimaru di tempat terpencil yang jauh dari pemukiman. Untuk meminimalisir jumlah korban seandainya mereka benar-benar akan terlibat dalam pertarungan sengit dengan Orochimaru. Dan hanya satu tempat yang cocok untuk itu.
"Saga," jawab Sasuke. "Sudah saatnya aku pulang."
Perjalanan ke Saga cukup jauh meskipun dilakukan dengan kecepatan vampir. Mereka baru tiba hari berikutnya. Sudah lama sejak terakhir kali Sasuke menginjakkan kaki di prefektur kecil ini. Bahkan kalau diingat lagi, begitu Sasuke mengetahui siapa pembantai keluarganya, ia tak pernah lagi kembali ke kampung halamannya. Terlalu banyak kenangan menyakitkan.
Begitu mereka mencapai Saga, Sasuke memimpin jalan menuju ke sebuah bukit yang jauh dari pemukiman. Sasuke berhenti di sebuah rumah dengan gaya Jepang kuno yang tampak sepi dan tak berpenghuni.
Sasuke terdiam di pintu gerbang rumah itu. Naruto yang berdiri di sebelahnya menoleh ke arahnya. Sasuke menghela napas dan melangkah masuk. "Rumahku," ia menjelaskan dengan singkat.
Naruto melangkah mengikutinya. "Kau terus menjaganya agar tetap ada, meskipun setelah beratus-ratus tahun?"
Sasuke mengangguk. "Aku belum pernah kembali ke sini sampai saat ini, tapi."
Naruto melingkarkan lengannya ke bahu Sasuke. "Kita akan membunuh Orochimaru."
Sasuke menatap Naruto dan mengangguk. "Kita akan melakukan ritual memanggil Orochimaru besok malam di puncak bukit."
Malam itu, Sasuke mengetuk pintu kamar Naruto. Begitu Naruto mempersilakannya masuk, dan Sasuke mendapati pemuda itu sedang duduk-duduk di beranda kamarnya. Sasuke mendudukkan diri di sebelahnya.
"Naruto," panggilnya. "Ada yang ingin kubicarakan."
Naruto menoleh menatapnya. "Oh, ayolah, Sasuke. Agak norak kan, kalau ingin menyatakan cintamu padaku sekarang?"
Sasuke mengemplang kepala Naruto dan mendengus geli sementara Naruto tertawa.
"Tidak, aku serius," ujar Sasuke lagi. "Ini tentang membunuh Orochimaru."
Tawa Naruto memudar, dan sekarang hanya digantikan oleh senyum tipis. Ia mengangguk. "Aku tahu. Aku sudah tahu konsekuensinya."
Sasuke menatap Naruto yang duduk mendongak menatap langit. "Kau yakin?"
Naruto mengangguk. "Ya," jawabnya. "Dan itu tidak akan mengubah pendirianku untuk tetap membunuhnya."
Sasuke masih diam memandang Naruto selama beberapa saat. Tak benar-benar tahu apa yang harus ia katakan. Kemudian Naruto menoleh ke arahnya, dan balas memandangnya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Sasuke akhirnya.
Seulas senyum kembali terbentuk di wajah Naruto. Ia tidak menanggapi Sasuke.
"Aku tidak akan membiarkanmu m—"
Sebelum Sasuke sempat menyelesaikan ucapannya, Naruto sudah lebih dulu merengkuh wajahnya dan memberinya sebuah ciuman yang begitu dalam di bibirnya. Sasuke terlalu terkejut untuk membalasnya. Ia hanya bisa membeku.
"Tidak apa-apa," ucap Naruto setelah ia menjauhkan bibirnya dari bibir Sasuke. Ia menempelkan keningnya di kening Sasuke. Matanya terpejam. "Tidak apa-apa, Sasuke. Aku ingin membunuhnya."
Sasuke terdiam. Ia memandang Naruto cukup lama sampai akhirnya ia merengkuh wajah di hadapannya itu, membalas ciuman Naruto yang tadi diberikan padanya.
Matahari sudah tinggi ketika Sasuke bangun keesokan harinya. Hal pertama yang ia lihat adalah Naruto, yang masih tertidur lelap di sebelahnya. Ia bangun dan mengambil pakaiannya yang tersebar di lantai ruangan.
Sasuke baru saja selesai berpakaian ketika Naruto bangun. Ia mengerjap, memandang Sasuke dengan tampang yang masih mengantuk. "Kemana?" tanyanya.
"Mau menemaniku berburu?" tanya Sasuke.
Naruto mengangkat alis, tapi kemudian ia tersenyum cerah. "Oke. Lemparkan celana sialan di dekatmu itu, Sasuke."
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, Sasuke sudah mengintai seorang pria yang sedang berburu babi hutan. Kalau dipikir, keadaannya begitu ironis. Pria itu datang ke hutan untuk berburu, tapi ia justru sedang diburu.
"Kau yakin dia?" ucap Naruto nyaris tanpa suara.
Sasuke mengangguk. "Ia sendirian. Gampang."
Ketiadaan respon dari Naruto membuat Sasuke menoleh ke arah pemuda itu. Dan ia mendapati ekspresi tak senang Naruto. "Apa?" tanya Sasuke akhirnya.
"Aku tak akan senang melihatmu menempelkan bibirmu ke lehernya."
Sasuke nyaris terjatuh dari dahan pohon tempat mereka mengintai sekarang. "Naruto, sekarang bukan saat yang tepat."
Naruto hanya menghela napas dan mengangguk.
Sasuke memutar bola matanya, kembali memfokuskan dirinya ke arah pria itu. Segera setelah insting berburu Sasuke menguasainya, ia melompat turun dari pohon, melesat ke arah pria itu. Sasuke tidak langsung menyergapnya. Ia membiarkan pria itu berbalik, menyeringai lebar ketika melihat pria itu membelalak ketakutan melihatnya. Saat pria itu mengarahkan moncong senapannya ke arah Sasuke, Sasuke menepisnya, membuat senjatanya terlempar jauh. Pria itu sudah akan berteriak, tapi Sasuke mencengkram lehernya, membantingnya ke tanah dan menahan tubuh pria itu dengan lututnya. Dengan kasar, Sasuke menelengkan kepala pria itu, dan menancapkan taringnya ke lehernya. Segera, pria itu sudah berhenti meronta. Ketika Sasuke selesai, tatapan pria itu sudah kosong, tak bernyawa.
Naruto menyusulnya beberapa saat kemudian. Ia membalikkan tubuh Sasuke agar menghadapnya dan tanpa peringatan menjilat sisa darah di ujung bibir Sasuke. Sasuke hanya tersenyum.
"Pulang," ucap Sasuke, mendorong Naruto agar menjauh darinya. Naruto mengangguk.
Begitu mereka mencapai kediaman Uchiha, Sasuke menarik Naruto ke tempat tidurnya. Naruto hanya tertawa.
"Tak kusangka kau sudah berhasil mengalahkan rasa takutmu tiap kali aku butuh makan," komentar Naruto. Sasuke hanya mendengus geli.
Sasuke membiarkan Naruto menindihnya kali ini. "Kau siap?" tanya Naruto. Mata birunya menyiratkan kekhawatiran yang amat sangat.
Sasuke mengangguk. Naruto mendekatkan bibirnya ke arah leher Sasuke. Sasuke sudah bersiap menerima rasa sakit yang membakar, tapi tidak terjadi apa-apa. Alih-alih, ia merasakan kecupan lembut Naruto di lehernya.
"Apa-apaan?" keluh Sasuke. "Kau butuh makan. Kau membutuhkan seluruh energimu untuk menghadapi Orochimaru."
Naruto menyingkir dari tubuh Sasuke. "Aku baru makan dua hari lalu, Sasuke," tanggap Naruto. "Dan kau pasti butuh tidur setelah aku menghisap darahmu. Mengingat malam ini kita menghadapi Orochimaru, kau jelas tahu kenapa aku tidak ingin kau menghabiskan sisa harimu dengan tidur."
Sasuke menatap Naruto tajam, tapi ia tidak berargumen lagi.
Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu, pikir Sasuke. Tidak akan.
-tbc-
Haha. Chapter gajelas. Dan btw, chap depan tamat!
