LOVE ME FOREVER

...

a HAEHYUK Fanfiction

.

.

.

Donghae X Eunhyuk

Super Junior members

and other cast

.

.

.

Boys Love / Yaoi , Romance , Hurt/ Comport, Sinetron/?

Typo(s) bergentayangan, DLDR

.

.

.

DochiDochi present

.

.

Enjoy~~

.

.

.

.

.


Donghae berjalan sendirian dilorong panjang SM buillding. Entah kenapa suasana terasa begitu sepi, tidak seperti biasanya dimana selalu ramai dengan hilir mudik para staf atau pun artis besutan agency besar itu.

Donghae menyapu pandangannya kesegala arah, siapa tahu menemukan seseorang untuk diajaknya jalan bersama. Ingat, Donghae tak suka sendirian atau lebih tepatnya takut sendirian. Donghae takut, takut hantu. Tapi sialnya tak didapatinya seorang pun disana.

'Kemana perginya orang- orang' Batinnya nelangsa.

Eh tapi tunggu! diujung lorong sana ada dua orang tengah berbincang sepertinya. Donghae bergegas menghampiri dua orang itu. Semakin dekat semakin jelas, Donghae mengenal orang- orang itu.

Itu Hyukjae dan... Siwon. Mereka berpegangan tangan. Kemudian mereka... berciuman!

Demi apapun, kenapa Hyukjae bisa melakukan ini padanya.

Donghae mendekat, menyentak tangan Siwon yang tengah melingkar dipinggang ramping Hyukjae, memaksa ciuman kedua orang itu terlepas.

Donghae melepas kemarahannya dengan menghantam rahang Siwon dengan tinjunya, hingga pemuda Choi itu terjerembab dilantai. Tak membuang waktu, Donghae segera menarik Hyukjae yang masih dalam keadaan terkejut untuk pergi dari sana. Namun tertahan kembali karena Siwon yang menarik sebelah tangan Hyukjae. Terjadilah tarik menarik.

"Lepaskan, brengsek!" marah Donghae

"Kenapa aku harus?" Siwon menjawab.

"Dia kekasihku Choi Siwon-ssi dan kau berciuman dengan kekasihku, keparat!"

"Begitukah?" tanya Siwon dengan mimik meremehkan

"Kurasa sekarang tidak lagi" dengan sengaja Siwon membelai pipi Hyukjae dihadapan Donghae, yang disambut dengan senyum manis oleh pria cantik itu. Siwon meraih telapak tangan Hyukjae dan membentangkannya dihadapan muka Donghae. Menunjukan sebuah cincin perak yang melingkar indah di jari manis Hyukjae.

"Kau lihat, sekarang dia miliku. Jadi aku minta kau segera melepaskan dan melupakannya karena sebentar lagi kami akan menikah, bukan begitu sayang?"

Hyukjae mengangguk dan tersenyum dengan begitu bahagianya. Berbeda dengan Donghae yang merasa dunianya seakan berhenti berputar. Cengkramannya pada lengan Hyukjae terlepas begitu saja, seolah ada pasak besar tertancap dadanya. Membuatnya merasakan sakit dan sesak yang luar biasa.

"Hyuk, ini- ini tidak benar 'kan? ini lelucon 'kan?" melas Donghae sambil mengguncang bahu Hyukjae.

"Maaf, Donghae" Hyukjae masih dengan senyum bahagianya.

"Tapi- bagaimana- kau kekasihku, Hyukjae! bagaimana mungkin kau menikah dengannya?"

"Maaf, tapi aku tidak bisa lagi bersama orang yang tidak pernah bisa menghargai dan menjaga perasaanku. Kau selalu pergi bersama gadismu tanpa sedikitpun memikirkan aku. Jadi mari kita akhiri semuanya sampai disini"

"Tidak!" Donghae menggeleng kuat.

"Kau! Kau menusukku dari belakang, keparat!" tudingnya dihadapan wajah Siwon.

"Seharusnya kau katakan itu untuk dirimu sendiri, Lee Donghae! Aku yang mencintainya lebih dulu, tapi karena kehadiranmu Eunhyuk tak pernah sedikit pun melihat kearahku. Yang ada dimatanya hanya kau, kau dan kau. Aku mengalah membiarkannya bersamamu asalkan Eunhyuk bahagia tapi ternyata pengorbananku sia- sia. Kau dengan segala keidiotanmu telah melepaskan sesuatu yang amat berharga. Kau bodoh, Lee! Kau tanpa sadar telah melepaskannya. Dan untuk sekarang, jangan harap aku akan mengalah dan membiarkannya kembali padamu"

"Kau-Tidak! Tidak!"

"Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dari kita berdua, kuharap kau mengerti" kalimat terakhir Hyukjae sebelum pergi meninggalkan Donghae.

Donghae bergeming, kenyataan Hyukjae meninggalkannya masih tidak bisa diterima olehnya. Hyukjae kekasihnya. Hyukjae miliknya. Hyukjae tak boleh meninggalkannya dan menikah dengan Siwon atau siapapun itu.

Donghae tersadar saat Hyukjae dan Siwon telah berlalu dari hadapannya. Donghae beranjak mengejar keduanya yang berjalan menuruni tangga.

"Hyukkie, kumohon! Maafkan aku, aku mencintaimu!" Donghae berteriak dan berlari menuju tangga, namun Hyukjae dan Siwon seolah tak menghiraukannya.

"Jangan tinggalkan aku, Hyuk! Maafkan aku! HYUKKIE!" saat mencapai tengah dari anak tangga, Donghae terpeleset, pijakannya tak seimbang membuat badannya limbung dan berguling dianak tangga.

"HYUKKIEE!"

GUBRAAK

"Akhh!"

Leeteuk melongo menyaksikan Donghae terjun bebas dari atas ranjangnya dengan kepala mencapai lantai lebih dulu.

"Aigooo, kau kenapa Hae-ah?"

"Aduuuhh jidatkuu!" Donghae mengaduh, mengusap jidatnya yang memerah, mungkin sebentar lagi memar dan benjol.

Leeteuk membantu Donghae bangkit dan kembali mendudukannya diatas ranjang setelah menarik selimut yang membelit tubuh pria kekanakan itu.

"Kau mengigau, Hae-ah?"

"Aku mimpi burung, Hyung"

Leeteuk mengernyit, kedua alisnya menukik tajam, mencetak kerutan yang amat ketara. Tak paham dengan apa yang diucapkan Donghae.

"Aku mimpi Hyukkie meninggalkanku dan menikah dengan Choi pabbo itu!"

Hoo... Leeteuk paham.

"Itu mimpi buruk Hae-ah, bukan mimpi burung. Kau ini ada- ada saja" Leeteuk tertawa pelan, diusianya yang hampir kepala tiga Donghae masih saja sering mengucapkan kata- kata yang salah. Atau mungkin dalam bahasa Mokpo itu disebut mimpi burung? Entahlah, Leeteuk tak tahu.

" Jangan terlalu dipikirkan"

"Mereka berciuman, Hyung!"

"Hanya mimpi, Donghae!"

"Tapi rasa sakitnya seperti kenyataan, Hyung!" wajah Donghae mulai terlihat mendung.

'Itu yang Eunhyukkie rasakan!'

"Apa seperti ini yang Hyukkie rasakan?"

'Nah, itu kau tahu!'

"Mimpi itu hanya bunga tidur, Hae- ah" Jja! cepatlah mandi dan turun sarapan" perintahnya namun tidak dihiraukan Donghae yang kembali meringkuk bersama gulingnya.

"Jadwalku kosong hari ini, biarkan aku tidur sedikit lebih lama" pinta Donghae tanpa membuka mata.

Leeteuk menghela nafas. Miris juga melihat keadaan Donghae. Dongsaengnya yang selalu terlihat keren dimana pun dan kapan pun itu seolah tak memperdulikan penampilannya lagi. Leeteuk yakin Donghae pasti kehilangan beberapa kilogram bobot tubuhnya, karena Donghae yang kelihatan jauh lebih kurus sekarang. Jelas saja, karena terlalu larut dengan rasa sesal dan bersalahnya berimbas pada pola hidup pria itu. Donghae jadi jarang makan, jika Ryeowook sudah menceramahinya tanpa henti perihal masakan yang sudah susah payah namja kelewat imut itu masakan tapi tak sedikit pun disentuh oleh Donghae. Jangankan disentuh, dilirik saja tidak. Barulah Donghae akan makan. Itu pun hanya beberapa sendok lalu pria itu berkata bahwa ia sudah kenyang. Donghae juga menambah porsi latihannya menjadi dua kali lipat dari biasanya. Leeteuk meringis saat melihat kantung mata Donghae yang menghitam seperti panda, menandakan dongsaengnya itu tak cukup tidur dan istrirahat. Tapi kalau di ingat- ingat Donghae jadi mirip seperti salah seorang hoobae mereka yang memiliki mata seperti panda, Leeteuk tak ingat siapa namanya. Pikir Leeteuk mulai melantur.

"Setidaknya kau makanlah dulu, nanti kau bisa lanjutkan tidur"

Tak ada sahutan dari Donghae, hanya deru nafasnya yang teratur. Donghae sudah tertidur lagi rupanya. Dengan telaten, leader terbaik sepanjang masa itu menyelimuti tubuh toples Donghae. Kemudian beranjak meninggalkan kamar, hari ini dia ada janji dengan PD-nim. Leeteuk berharap semoga Donghae tidak mimpi burung lagi dan kembali terguling dari ranjangnya. Mungkin Leeteuk akan meminta seseorang untuk menjaga Donghae nanti.

.

.

.

Hyukjae memasuki kamar Donghae dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Beberapa saat lalu Leeteuk mengiriminya pesan agar dia membawakan makanan untuk Donghae karena sepertinya keadaan Donghae sedang tidak baik- baik saja.

Hyukjae mendengus, kenapa harus dia-lagi- yang harus merawat bayi gorrila itu. Kenapa bukan member yang lain saja? Pasti mereka semua bersekongkol untuk menjebaknya. Tudingnya melupakan fakta bahwa semua member tengah memenuhi jadwal mereka masing-masing.

Hyukjae membuka pintu eboni itu pelan tanpa menutupnya kembali. Lelaki manis itu kembali mendengus saat tak mendapati Donghae diatas tempat tidurnya. Kemana perginya manusia narsis itu? Benar 'kan, Leeteuk mengerjainya!

Hyukjae sudah akan meninggalkan kamar tersebut kalau saja ia tidak mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Eh? Hyukjae lupa, mungkin Donghae berada dikamar mandi. Dan benar saja, Donghae keluar dari sana tanpa mengenakan atasan, hanya celana training hitam panjang yang membalut kakinya.

"Hyuk?"

" Teukie Hyung memintaku mengantarkan makanan untukmu"

Hyukjae beranjak menuju ranjang dan meletakan nampan berisi makanan yang ia bawa diatasnya.

"Kau baik- baik saja?" Donghae tak merespon, masih dalam masa transisi karena terkejut Hyukjae tiba- tiba mendatanginya.

"Donghae!"

"Ah, ya?"

"Kau baik- baik saja?"

"Ya kurasa, hanya lelah saja" Donghae berjalan menuju ranjangnya kemudian mendudukan dirinya disana.

"Benarkah?" Jiwa perhatian seorang Lee Hyukjae muncul begitu saja saat menangkap suara lemah Donghae. Pria cantik itu menghampiri Donghae dan berdiri tepat dihadapannya.

"Tidak demam, tapi ada memar dikeningmu. Kau terjatuh?" Donghae tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum saat Hyukjae meraba keningnya dan mengkhawatirkannya walaupun ekspresi pria cantik itu masih saja datar.

"Tidak, hanya terbentur" Lebih memilih berbohong dari pada harus jujur mengatakan bahwa ia terguling dari ranjang karena memimpikan pria cantik itu. Mau dikantongi dimana muka tampan Donghae. Lagi pula Donghae tak sepenuhnya berbohong. Donghae memang terbentur 'kan? terbentur lantai. Untung tidak benjol.

Tanpa berkata sepatah kata pun Hyukjae keluar dari kamar tersebut, namun tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa beberapa benda ditangannya.

"Kau itu sudah tua, tapi masih saja ceroboh seperti anak kecil!" dengan telaten Hyukjae mengompres kening Donghae yang mulai membiru menggunakan es batu yang telah dilapisi dengan kain tipis. Lagi- lagi Donghae tak mampu untuk sekedar menahan senyumnya untuk tidak terus melebar. Hyukjae menunjukan perhatian padanya, berarti Hyukjae sudah tak marah lagi padanya 'kan? Aih, Donghae senang sekali. Hingga tanpa sadar pria cassanova itu terus saja nyengir dengan begitu lebarnya. Melupakan perkataan Hyukjae yang tadi mengatainya tua.

"Idiot!"

"Hah?"

"Kau seperti ikan idiot jika terus- terusan tersenyum lebar seperti itu"

Donghae tetap tak bisa menarik lurus bibirnya, walaupun tak selebar tadi akan tetapi senyum tipis masih tersemat dibibir tipisnya. Walaupun dalam otaknya terus berpikir kenapa ucapan Hyukjae menjadi pedas dan ketus begitu. Apa Mungkin efek karena belakangan ini pria cantik itu terlihat sangat dekat dengan Heechul jadi Hyukjae tertular sifat si tetua iblis itu. Bisa jadi.

"Kau masih marah?"

Hyukjae menatap sepasang manik coklat Donghae untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan mengolesi salep penghilang memar dikening Donghae.

"Aku tahu kau masih marah padaku, tapi setidaknya jangan terus menghindariku dan mengacuhkanku, Hyuk"

"Aku tak menghindarimu"

"Iya, kau tidak menghindariku. Kau hanya tak mau berdekatan denganku"

Hyukjae mendengus, Donghae berubah cerewet menurutnya.

"Aku-dia-err m-maksudku-kami-itu Hyuk, aku dan Yuri-

Mata bulat sipit Hyukjae sedikit melebar mendengar nama gadis itu disebut oleh Donghae. Tak bisa berbohong, hatinya masih berdenyut sakit. Dengan sengaja Hyukjae menekan memar dikening Donghae agak keras membuahkan ringisan dari pria tampan bermarga sama dengannya itu.

"Makanlah makananmu, aku harus pergi" Hyukjae bergegas membereskan peralatan yang tadi ia gunakan mengobati Donghae.

"Kau mau kemana?"

"Aku-

Ponsel Hyukjae berdering memotong ucapannya. Pria cantik itu sedikit menjauh dari Donghae saat menjawab panggilan telponnya, membuat sepasang onyx sendu Donghae memicing melihat Hyukjae yang kadang tertawa saat berbicara dengan orang diseberang line sana. Betapa Donghae merindukan suara tawa renyah Hyukjae .

"Aku ada janji dengan Chansung, kau bisa menghubungi yang lain. Wookie sepertinya akan segera pulang atau kau mintalah kekasihmu untuk menemanimu. Aku pergi" Jelas Hyukjae berbohong soak janjinya dengan Chansung. Hyukjae hanya tak ingin berlama- lama dengan Donghae.

Donghae merasa tertohok saat mendengar Hyukjae mengucapkan kata kekasih. Gadis itu, Yuri. Donghae kembali merutuki kebodohannya. Entah setan apalagi yang merasukinya hingga Donghae menerima saja saat gadis itu menyatakan perasaannya tanpa memikirkan bahwa perbuatannya akan menyakiti Hyukjae, kekasihnya sendiri. Dan sampai saat ini ia masih terikat dengan gadis itu. Tapi Hyukjae juga masih kekasihnya 'kan? Donghae tak pernah mengakui jika hubungannya dengan Hyukjae telah berakhir.

Sekarang saat Hyukkie-nya pergi dengan pria lain dihadapannya barulah ia merasakan sakit yang Hyukjae rasakan.

Penyesalan memang selalu hadir diakhir, andaikan ia bisa menjaga hatinya dan tak tergoda dengan kebahagiaan semu, tak akan pernah Donghae merasakan sakitnya penyesalan yang begitu menggerogoti hatinya.

.

.

.

.

.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Seiring waktu pula hubungan Donghae dan Hyukjae mulai membaik walaupun tak bisa dikatakan kembali dekat karena Hyukjae yang masih saja sering menghindar saat Donghae berusaha mendekati dan mengajaknya bicara. Seperti saat pagi beberapa hari yang lalu saat tak sengaja hanya menyisakan mereka berdua di meja makan, Hyukjae melesat pergi meninggalkan sarapannya begitu saja saat Donghae berusaha mengajaknya berbicara padahal sarapan pagi itu adalah menu kesukaannya. Sikap Hyukjae yang terus menjauhinya membuat Donghae frustasi. Harus dengan cara apalagi agar pria cantik itu mau memaafkannya. Ditambah seribu rintangan yang menghadang dari berbagai pihak. Seperti saat ini, tadinya Donghae berniat mendatangi Hyukjae dan memaksa pria cantik itu untuk berbicara dengannya. Tapi niatnya hanya tinggalah niat belaka saat mendapati keberadaan makhluk- makhluk tak diharapkan tengah mengerubungi Hyukjae diruang tengah dorm. Donghae hanya mampu mengeram dalam diam melihat Hyukjae tengah asyik bercengkrama dengan Siwon dan anjing peliharaannya yang ia bawa ke dorm. Tak menggubris sedikitpun keberadaannya yang teronggok sendirian di kursi meja makan di tengah dapur.

"Oh kau ada disini, Hyung?"

"Hnn" Donghae menggumam malas saat Siwon yang ia anggap tengah berbasa basi menyapanya. Apa si Choi itu tidak menyadari keberadaannya disini sejak tadi?

"Kau mau secangkir esspreso?"

"Tidak"

Siwon hanya mengedikan bahunya mendengar nada ketus Donghae. Aktor muda itu melanjutkan membuat dua cangkir esspreso untuknya dan untuk Hyukjae.

"Sepertinya kau semakin dekat dengannya?"

Tak perlu kalimat panjang untuk Siwon mengerti kemana arah pembicaraan Donghae.

"Bukankah sejak dulu kita semua dekat?"

Donghae berdecih, meneguk air digelasnya yang tinggal separuh dengan sekali tenggak. Berhadapan dengan orang yang berusaha merebut Hyukjae darinya- walaupun hanya dalam mimpi- membuat tenggorokan dan hatinya panas.

"Menjauhlah darinya" tegasnya

"Maksudmu?" tak ada sebutan Hyung seperti di awal tadi.

"Apa kau bodoh? Bagian mana dari kata- kataku yang tidak kau mengerti,hah?"

"Kau cemburu?" Choi muda itu tersenyum, Donghae memang tidak pernah bisa menyembunyikan emosinya.

"Kau tak perlu khawatir berlebihan seperti itu, aku tak pernah berniat untuk merebutnya darimu atau siapapun. Aku mengenalnya dengan sangat baik, kurasa kau juga begitu. Kau pasti tahu sampai batas mana kesabaran yang dimilikinya. Hilangkanlah sifat egoismu itu, Hyung"

Siwon di didik dikeluarga yang begitu menjunjung tinggi etika dan nilai kesopanan. Semarah apapun ia pada lawan bicaranya jika orang itu lebih tua darinya, Siwon sebisa mungkin menekan emosinya. Tak ada nada marah dalam tiap kata yang diucapkannya walau air muka pria itu sedikit mengeras. Siwon itu seorang aktor, jangan lupakan itu.

Donghae terhenyak, kalimat Siwon barusan seolah menyentilnya. Lagi- lagi ia mendengar orang lain mengatakan ia egois. Apa benar ia seperti itu selama ini? pada Hyukjae?

Donghae beranjak, meninggalkan Siwon tanpa sepatah katapun. Sekali lagi, ia kalah telak. Hyukjae sempat mengernyit bingung saat Donghae melewatinya begitu saja dengan raut muka yang tak bisa terbaca olehnya.

"Apa ada yang mencium bau hangus?" Seloroh Kyuhyun si magnae

"Hangus? aku sedang tidak memasak apapun" Ryeowook menjawab dengan begitu polosnya

"Ada yang terbakar api cemburu sepertinya, hingga bau hangusnya sampai tercium" celetuk Heechul dengan suara yang sengaja dibuat- buat agar terdengar oleh Donghae yang masih berdiri di pintu masuk dorm. Hingga pemuda kelahiran Oktober itu meninggalkan dorm dengan membanting pintu.

Hyukjae dan Ryeowook saling menatap dengan pandangan sama tak mengertinya. Sedangkan Siwon yang baru kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir esspreso hanya menunjukan senyum jokernya. Serta Kyuhyun dan Heechul yang berduet menunjukan seringaian iblis mereka.

"Apa dapurku terbakar api cemburu?"

.

.

.

Hyukjae sedang rebahan di sofa beralaskan paha Leeteuk sebagai bantalan saat Heechul memasuki dorm dengan beberapa paper bag di tangannya. Tanpa babibu, pria cantik mempesona itu ikut merebahkan dirinya dipangkuan Leeteuk, menjadikannya tiduran berlawanan arah dengan Hyukjae meski mengharuskan kakinya menggantung karena tak cukup ruang menampung panjang tubuhnya.

"Yak! Heechul hyung! Sempiit!" Hyukjae menggerutu karena kepalanya yang terantuk kepala Heechul.

"Diamlah! aku lelah" Hyukjae merengut, tapi dia menuruti perintah Heechul dan memilih kembali menikmati keripik kentang milik Ryeowook yang ia curi dari kulkas sembari menonton tv.

"Kau dari mana, Chullie? apa yang kau bawa, banyak sekali? barang belanjaanmu? jangan terlalu boros Chullie, lebih baik-"

"Yaishh! Diamlah Jungsoo!" Heechul jadi geram sendiri. Kalau sudah menyangkut soal uang, Leadernya itu pasti mendadak cerewet.

"Aku belikan baju untukmu juga, ambilah dalam paper bag yang berwarna putih itu" Wajah Leeteuk mendadak cerah berseri, mendapatkan baju baru tanpa harus mengeluarkan uang, satu hal yang tidak boleh dilewatkannya.

"Aku juga memberikan beberapa syal dan mantel untukmu, Hyuk" tambahnya lagi.

Sebenarnya Hyukjae bingung, tumben sekali Hyung cantiknya itu membelikannya barang. Namun diambilnya juga dua buah paper bag berukuran paling besar yang Heechul sodorkan padanya.

"Banyak sekali, Hyung" ujar Hyukjae heran.

"Sekarang sedang musim panas, untuk apa membeli syal dan mantel sebanyak itu, Chullie?" Sebenarnya itu juga yang ingin Hyukjae tanyakan dari tadi.

Pria cantik itu melepas blazer yang dikenakannya. Memandang Hyukjae lekat untuk sesaat sebelum beralih pada Leeteuk.

"Jungsoo, bagaimana jika ada salah satu Dongsaengmu yang ingin mewujudkan impiannya, apa kau akan mendukungnya?"

Bukannya menjawab, Heechul justru menanyakan hal yang Leeteuk tak mengerti kemana arah tujuannya.

"Pertanyaan apa itu, tentu saja aku akan mendukungnya. Kalian semua adalah keluargaku" Jawab Leeteuk mantap

"Walaupun ia harus meninggalkan Super Junior?"

Leeteuk semakin heran, kenapa Heechul tiba- tiba menanyakan hal seperti itu. Leeteuk tahu, Heechul memang aneh tapi hari ini dongsaeng cantiknya itu jauh lebih aneh. Membuat Leeteuk sakit kepala.

"Kau ini bicara apa, Chullie?"

"Jawab saja, Jungsoo!" bahkan pria cantik itu lebih galak dari biasanya.

"Aku sebenarnya tidak rela kalau harus kehilangan salah satu dari kalian lagi tapi jika dengan begitu bisa mewujudkan apa yang kalian impikan dan membuat kalian bahagia, aku bisa apa selain mendukung dan mendoakan" jawab Leeteuk panjang lebar. Mata malaikat tanpa sayap itu sedikit berembun. Leeteuk merasa terharu dengan jawabannya sendiri.

"Hnn, begitu ya"

"Memang ada apa Chullie, pertanyaanmu aneh sekali?"

"Tidak apa- apa, hanya bertanya saja. Iya 'kan Eunhyukjae?"

Sepasang mata sipit bulat Hyukjae memandang takut dua Hyungnya itu.

Senyum miring Heechul mengerikan, itu yang terlintas di otak Hyukjae saat ini.

"I-itu-Hyung-bisakah kita bicara?"

.

.

.

Hyukjae masih memandangi langit- langit kamarnya walau hari sudah larut bahkan menjelang pagi. Dalam otaknya dipenuhi tentang apa yang ia, Heechul dan Leeteuk bicarakan beberapa waktu lalu. Hyukjae tak mengira jika salah satu Hyung-nya mengetahui apa yang ia bicarakan dengan manager Hyung. Dan mau tidak mau ia harus mengaku pada dua hyung tertuanya itu. Lalu mengenai member yang lain, Hyukjae bingung bagaimana harus menyampaikannya pada mereka. Dan Donghae, juga salah satu alasan Hyukjae masih belum bisa tidur dimalam menjelang pagi ini. Walaupun Hyukjae tahu bahwa ia dan Donghae sudah tak memiliki hubungan apapun selain partner kerja tapi ia tak bisa lepas begitu saja dari Donghae. Bukan Hyukjae masih mengharapkan Donghae tapi mungkin inilah saatnya ia berbicara mengenai permasalahannya dengan pria itu. Walaupun pada kenyataannya semua sudah berakhir bagi Hyukjae, ia tetap butuh Donghae menjelaskan semuanya.

Tapi bagaimana dia harus memulainya, apakah harus Hyukjae yang mendatanginya lebih dulu? Jangan harap!

"Hyuk"

Mungkin karena mengantuk hingga Hyukjae berimajinasi Donghae baru saja menyebut namanya dan berdiri dihadapannya. Kenapa ia merasa jadi sering berimajinasi belakangan ini?

"Hyukkie" Sekali lagi, hingga akhirnya Hyukjae menyadari bahwa semua bukanlah sekedar imajinasinya. Nyata. Donghae yang memanggilnya dan berdiri kurang dari satu meter dihadapannya benar- benar Donghae, bukan sosok imajinasi.

'Sial! kapan orang itu masuk?

Hyukjae beranjak bangkit dari posisi rebahnya untuk duduk ditepian ranjang. Disusul Donghae yang mendekat dan ikut duduk disampingnya.

"Kau belum tidur?"

Hyukjae hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Kau mau apa kesini? ini sudah hampir pagi"

"Aku tak bisa menunggu sampai pagi untuk membicarakan ini denganmu"

Hyukjae beranjak. Walaupun tadi ia bilang harus membicarakan semuanya dengan Donghae tapi tidak saat ini juga. Hyukjae belum siap. Tapi Donghae menahannya dan menariknya hingga kembali terduduk.

"Kau tidak bisa pergi sebelum aku selesai bicara" kata Donghae sembari menggoyang- goyangkan kunci kamar Hyukjae yang ia ambil kemudian menyimpannya dalam kantung celananya.

Hyukjae mendecih, bahkan ia tak sadar saat kekasih atau mantan kekasihnya itu mengunci pintu kamarnya.

"Hyuk, aku mohon biarkan aku bicara. Jangan lagi menghindariku. Aku benar- benar sudah tidak tahan, kau membuatku hampir gila" Donghae tidak memiliki cara lain lagi selain memaksa Hyukjae mendengarkan penjelasannya dengan cara seperti ini. Walaupun setelah ini Hyukjae benar- benar membencinya yang terpenting ia sudah menjelaskan semuanya. Donghae tidak mau mati karena rasa penyesalan yang melindihnya.

"Baik, bicaralah" Hyukjae bersiap mendengarkan apapun celotehan Donghae walaupun mungkin akan kembali menggores luka hatinya. Pria dihadapannya menghembuskan nafasnya berkali- kali sebelum berbicara.

"Aku bersalah, sangat bersalah. Aku dan Yuri memang seperti apa yang mungkin kau pikirkan. Aku tidak tahu apa yang telah merasuki pikiranku hingga aku menerimanya saat ia menyatakan perasaannya padaku. Tanpa berpikir apa dampaknya pada hubungan kita. Kau pasti ingat saat kita selesai latihan dan waktu itu kau lebih memilih pergi dengan Siwon dari pada denganku. Saat itu aku hanya terlalu cemburu melihatmu begitu dekat dengan Choi pabbo itu. Aku fikir kau akan menghianatiku. Maafkan aku. Aku memang bodoh! Aku memang brengsek! Akulah yang justru menghianatimu, tapi aku bersumpah sampai saat ini aku tetap mencintaimu sampai rasanya mau mati. Aku.. aku terlalu mencintaimu sampai- sampai rasanya aku gila karena kau menghilang dari hidupku"

"Bodoh!"

"Ya, aku memang bodoh. Bodoh karena telah menyia- nyiakan seseorang yang begitu berharga seperti dirimu. Demi Tuhan Hyuk, aku menyesal" Hyukjae hampir menangis saat sepasang mata sendu Donghae menatapnya penuh sesal.

"Apa cemburu menjadi alasanmu untuk kembali menghianatiku? Lalu bagaimana denganku yang melihat kau berciuman dengannya? apa aku juga boleh cemburu? apa aku juga boleh berhubungan dengan orang lain?"

"Maaf"

"Lalu kau bilang kau menyesal? apa kau merasakan apa yang kurasakan?"

"Maafkan aku"

"Aku-aku-

Runtuh sudah tembok kokoh yang Hyukjae bangun selama ini. Pria cantik itu menangis lagi hingga kata- katanya pun seolah tertelan kembali karena tak kuat menahan tangis.

"Maafkan aku, maafkan aku maaf maaf maaf" bagaikan mantra, hanya kata maaf yang bisa Donghae katakan. Karena ia pun sama, penyesalan dan rasa bersalah yang mendesak membuat dadanya merasa terhimpit. Sesak. Untuk menahan air matanya saja Donghae sudah tidak bisa.

Donghae tak peduli jika Hyukjae menolak, dia hanya ingin memeluk tubuh kurus itu saat ini seerat yang ia bisa. Bahkan jika Hyukjae memberontak dan memukulnya pun Donghae tak apa. Dan memang pada kenyataannya pria cantik dalam kungkungan lengannya itu terus saja memberontak dan memukul dadanya.

"Aku membencimu, Donghae! Dasar brengsek!" racau Hyukjae

"Benci aku, maki aku, pukul aku atau bunuh aku, asal kau memaafkanku" Dekapan Donghae semakin mengerat seiring dengan Hyukjae yang semakin menangis tergugu dalam dekapannya namun rontaan pria cantik itu kian melemah dan akhirnya berhenti.

"Maaf maaf maaf"

.

.

.

Rasanya sudah lama sekali saat terakhir kali Donghae memeluk Hyukjae saat tidur seperti ini. Dan rasanya masih sama hangat dan nyaman seperti sebelum- sebelumnya. Tubuh yang begitu pas berada dalam kungkungannya seperti diciptakan Tuhan memang hanya untuknya.

Donghae bersumpah, jika Tuhan membiarkan waktu berhenti dan memberinya lebih banyak lagi kesempatan memandangi wajah damai Hyukjae yang jatuh tertidur dalam dekapannya, ia akan menjadi hambanya yang taat.

Donghae patenkan bahwa dia adalah manusia terbodoh di dunia ini karena menyiakan malaikat berwujud manusia seperti Hyukjae. Bias mentari yang dengan nakalnya menerobos masuk melalui celah tirai membiaskan sinarnya menyentuh kulit seputih susu Hyukjae, menjadikannya terlihat bersinar walaupun wajah manis itu tak secerah biasanya. Andaikan bisa, Donghae rela menukarkan segalanya asalkan Hyukjae memaafkannya dan kembali padanya.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Keusilan tangan Donghae yang sedari tadi mengelus pucuk kepalanya membuat tidur Hyukjae terusik dan bangun.

"Kau indah"

"Tsk, namaku Hyukjae! bukan indah! menyingkirlah, aku mau bangun dan hey, kenapa kau tidur disini?"

"Kau lupa? semalam kau menangis terus menerus dan jatuh tertidur di pelukanku"

"Itu 'kan karena ulahmu, bodoh!"

"Tapi pelukan si bodoh inilah yang membuatmu berhenti menangis sampai tertidur 'kan, hmm?"

"Ya ya ya apapun katamu, sekarang cepat lepaskan tanganmu aku mau bangun" Hyukjae menyingkirkan tangan Donghae yang melingkar diatas perutnya kemudian bangkit dari tempat tidur. Tapi belum sempat Hyukjae berdiri sempurna, Donghae sudah lebih dulu menariknya hingga kini pria cantik itu telungkup diatas Donghae.

"Ya! Lepaskan bodoh!"

"Tidak mau"

"YA!"

Sekeras teriakan Hyukjae, secepat itu pula Donghae membalikan posisi mereka hingga Donghae sepenuhnya menindih tubuh yang lebih kecil darinya itu.

"Apa yang kau lakukan? cepat menyingkir!"

"Aku hanya merindukanmu"

"..."

Jika boleh, Hyukjae juga ingin mengatakan kalau ia merindukan pria ini. Yang saat ini tengah mencoba menyatukan bibirnya dengan bibir Hyukjae.

Mencoba kembali merasakan manisnya bibir yang lebih memabukan dari minuman berkadar alkohol paling tinggi jenis apapun. Yang begitu Donghae rindukan.

Walaupun tak rela, Donghae mengerti Hyukjae membutuhkan udara untuk mengisi paru- parunya, sehingga dengan amat terpaksa Donghae melepaskan tautan bibir mereka. Dapat ia lihat bibir dan pipi Hyukjae yang kini berwarna merah ranum tidak sepucat tadi. Donghae merasa girang dalam hati, ciumannya berhasil membuat Hyukjae merona seperti dulu. Haha Donghae hebat 'kan?

"Kau memaafkanku?"

"Tidak!"

"Mau kembali padaku?"

"Tidak!"

"Kenapa tidak? barusan kau mau kucium, itu berarti kau sudah menjadi milikku lagi" ngeyel Donghae penuh pemaksaan.

"Aku sudah menjelaskan semuanya padamu, Hyuk. Apa tak bisa kau memberiku kesempatan?"

"Kau selalu menyiakan kesempatan yang kuberikan, Donghae"

"Tidak untuk kali ini" kata Donghae mantap.

"Bodoh!"

Walaupun baru bangun tidur dan masih lemas karena serangan dadakan yang dilancarkan Donghae dan sialnya tak sempat ditangkis olehnya, Hyukjae berhasil menendang Donghae menyingkir dari atas tubuhnya hingga pria tampan itu berguling kesampingnya.

"Kau keluar! aku mau siap- siap, aku ada janji sebentar lagi"

"Kau mau pergi?"

"Hm"

"Dengan seseorang?"

"Kau tak perlu tahu"

Walaupun sedikit kecewa tapi Donghae sebisa mungkin tak menunjukannya. Donghae yakin Hyukjae akan kembali padanya. Pelan- pelan saja. Yang penting separuh misinya untuk mendapatkan maaf dari Hyukjae sudah berjalan baik. Tinggal tunggu waktu agar Hyukjae benar- benar kembali padanya.

"Baiklah, aku pergi. Aku juga ada jadwal photoshoot siang ini"

Hyukjae masih diposisinya duduk ditepian ranjang saat Donghae beranjak merogoh kantong celananya mengeluarkan kunci yang semalaman ia sembunyikan disana.

"Donghae"

Hyukjae tak juga kembali bersuara, mereka hanya saling menatap ke dalam mata masing- masing hingga pada akhirnya Donghae kembali menghampiri Hyukjae dan ikut mendudukan dirinya disamping pria cantik itu. Posisi yang sama saat mereka bicara malam tadi

"Ada apa, Hyuk?"

"Kau-apa kau masih bersamanya?"

Donghae tahu betul merujuk kemana kata bersamanya yang Hyukjae maksud. Yang jadi masalahnya, apa yang harus Donghae katakan. Jelas Donghae tak mencintai gadis itu, tapi hubungan mereka belum bisa dikatakan berakhir karena belum adanya kejelasan baik dari Donghae maupun gadis itu, walaupun bagi Donghae semua sudah berakhir. Untuk apa kebahagian semu kalau dihadapannya jelas- jelas ada kebahagiaan yang lebih kekal.

"Kau tahu aku hanya mencintaimu, Lee Hyukjae"

Walaupun terasa hangat saat Donghae mencium keningnya tapi tidak sama dengan hatinya yang masih saja terasa dingin.

'Itu tidak menjawab pertanyaanku, bodoh!'

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.


Ini udah lanjut yaaa...

Maaf untuk typo(?), feel yg ga ngena/?, jalan cerita yg flat dan ide yang pasaran. Saya masih amatiran dan masih belajar T_T jadi harap maklum ^^

Tapi ada yang ngerasa ga klo gaya penulisan ff ini sedikit berubah?

.

.

.

~DochiDochi~