LOVE ME FOREVER

.

Donghae tak pernah bisa menarik lurus bibirnya saat memandangi layar ponselnya. Sejak beberapa saat yang lalu Donghae tak hentinya memandangi photo Hyukjae yang jumlahnya ribuan yang tersimpan apik dalam memory ponselnya. Hyukjae tersenyum, Hyukjae tertawa, menangis, merajuk, cemberut hingga photo Hyukjae yang sedang tertidur pun tertata manis disana. Jemarinya dengan lincah menggeser tiap photo demi photo hingga Donghae mengernyit saat menemukan sebuah photo yang ia yakin tak pernah ia ambil. Tapi kenapa gambar itu bisa terselip disana. Tanpa harus berpikir dua kali langsung dihapusnya photo gadis berambut hitam panjang tersebut lalu kembali melanjutkan men-scrool kumpulan photo digalery ponselnya, sampai suara Kyuhyun menggelegar dari arah pintu mengagetkannya.

"Kau lupa cara mengetuk pintu?"

"Pintu itu sudah kuketuk dari tadi tapi kau tidak dengar, Hyung"

"Tsk, ada apa kau kesini? Kau tidak ada jadwal?"

"Jadwalku siang nanti" jawabnya sembari rebahan dikasur. Donghae hanya mengangguk sekali kemudian kembali fokus dengan ponselnya.

"Sepertinya hubunganmu dengan Hyukjae sudah membaik" senyum dibibir tipis Donghae semakin merekah saat mendengar ucapan adik terkecilnya itu. Donghae berharap bukan hanya sekedar membaik tapi juga bisa kembali seperti saat sebelum terjadi masalah yang membuat mereka berpisah. Atau lebih tepatnya ialah yang membuat masalah.

"Kau pernah merasakan jatuh cinta berkali- kali dengan orang yang sama? Kau tahu Kyu, Hyukkie membuatku jatuh cinta padanya lagi, lagi dan lagi, disaat hatiku telah seluruhnya menjadi miliknya" Kyuhyun merasakan perutnya serasa diaduk sehingga membuatnya merasa mual hebat dan ingin muntah diwajah menyebalkan Donghae yang sedang tersenyum begitu kekanakan.

"Kau membuatku mual, Hyung"

"Sial kau!" umpat Donghae sembari meraup wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya yang lebar. Remasan penuh kasih itu belum akan berakhir walaupun Kyuhyun sudah meronta minta dilepaskan kalau saja ponsel Donghae yang sempat terabaikan tadi tidak berdering. Salah satu Lead dancer Super Junior itu pun sedikit menjauh dari ranjang untuk menjawab teleponnya. Air muka Donghae berubah kaku saat berbicara dengan seseorang diseberang line sana.

"Ada masalah?"

"Yuri memintaku bertemu dengannya nanti malam, dia bilang ingin membicarakan hubungan kami"

"Lalu?"

"Aku akan menemuinya, karena aku juga ingin semuanya jelas. Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi, terlebih lagi Hyukkie. Aku akan menyelesaikan masalah ini nanti malam. Aku hanya ingin secepatnya Hyukkie kembali padaku"

"Yah, semoga saja dan jika itu terjadi, kuharap ini adalah terakhir kalinya kau melakukan kesalahan bodoh seperti itu, Hyung" ucap Kyuhyun -sok- bijak kemudian melenggang pergi keluar kamar.

'Ini yang terakhir, aku berjanji'

.

.

Hyukjae mematut dirinya didepan cermin, meneliti penampilannya. Beberapa waktu lalu Chansung mengiriminya pesan jika pemuda Hwang itu mengajaknya ke acara ulang tahun temannya di sebuah night club. Awalnya Hyukjae menolak, bukan kerena tak ingin menemani Chansung, hanya saja Hyukjae tidak menyukai tempat yang bernama night club itu. Namun karena Chansung yang terus membujuknya, akhirnya Hyukjae meng-iya- kan ajakan pria tinggi itu. Pria manis itu meraih ponsel dan jaketnya kemudian bergegas keluar dari kamarnya hanya untuk mendapatkan Donghae tengah berdiri mematung di depan pintu kamarnya.

"Kau mau keluar?"

"Ya"

"Kemana?"

"Chansung mengajakku ke acara ulang tahun temannya"

Donghae mengatupkan rahangnya kuat begitu mendengar nama Chansung, seseorang yang berpotensi besar akan merebut Hyukjae darinya. Membuatnya emosi. Apa Hyukjae ingin balas dendam padanya?

Tadinya Donghae berniat menemui Hyukjae dan mengatakan kalau ia akan menemui Yuri untuk menyelesaikan masalah mereka. Tapi mendengar Hyukjae berencana pergi dengan Chansung, membuat Donghae mengurungkan niatnya memberitahu Hyukjae. Lebih baik selesaikan dulu urusannya dengan Yuri baru setelahnya ia urus masalahnya dengan Hyukjae.

"Oh begitu, hati- hatilah dijalan dan jangan pulang terlalu larut" petuah Donghae sembari mengelus pucuk kepala Hyukjae lembut kemudian berlalu dari sana menuju dapur. Hyukjae mencebikan bibir bawahnya tanpa sadar. Sedikit terselip rasa kecewa dihati si manis. Ia kira Donghae akan manunjukan rasa cemburunya atau paling tidak menawarkan diri untuk mengantarkannya. Tapi yang ada pria itu terlihat biasa- biasa saja. Akhirnya Hyukjae keluar dorm dengan bibir masih mencebik. Namun siapa yang tahu kalau di dapur sana Donghae dengan brutalnya tengah memukuli wajan dengan tinjunya.

.

.

Hyukjae menyapu pandangannya kesekeliling dengan bosan. Chansung yang ada disampingnya tengah asyik berbincang dengan salah seorang temannya yang duduk satu meja dengan mereka. Sudah dikatakan bahwa ia tak menyukai tempat seperti ini, jika bukan karena Chansung yang terus merengek agar ia ikut, Hyukjae tidak akan sudi datang ketempat semacam ini. Kepulan asap rokok membuatnya sesak. Dentuman keras musik membuat kepalanya berdenyut. Walaupun Hyukjae memiliki julukan sebagai Dance Machine, tidak ada sedikitpun minatnya untuk turun kelantai dansa dimana terdapat sejumlah pengunjung night club yang tengah asyik meliukan dan menghentak badan mereka seirama musik.

"Kau bosan, Hyung?"

"Aku hanya tidak terbiasa dengan tempat seperti ini"

"Kau harus merasakan yang seperti ini sesekali" Saran Chansung. Hyukjae mencibir dan meneguk minuman digelasnya yang ia sendiri pun tidak tahu minuman jenis apa itu.

"Yaiks! Minuman apa ini, rasanya aneh sekali?"

"Harusnya kau jangan minum minuman seperti itu, Hyung! Itu minuman untuk pria dewasa, kau pesan susu strawberry saja" canda Chansung kemudian meneguk habis minuman berwarna merah itu yang ia rebut dari tangan Hyukjae.

"Sialan kau, bocah!" Chansung tergelak, wajah kesal Hyukjae selalu terlihat lucu dimatanya. Apalagi tingkah Hyukjae yang menjulurkan lidahnya berusaha menghilangkan rasa aneh dari wine yang baru saja ia minum menggoda iman Chansung untuk mengacak surai halus Hyukjae.

"Hyung"

"Hnn?"

"Bagaimana hubunganmu dengannya?" Hyukjae menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya kasar, lelaki cantik yang kini mengganti warna rambutnya menjadi coklat madu itu memutari jarinya pada tepian gelas orange juice yang Chansung sodorkan padanya.

"Entahlah"

"Apa kau berniat kembali padanya?"

"Entahlah"

"Ck! Perbendaharaan kata- katamu minim sekali! Jawab pertanyaanku dengan kalimat yang lebih panjang bisa tidak!?"

"Entahlah. Aku ke toilet dulu ya, Chanana. Tetap disini dan jangan kemana- mana, nanti kau tersesat adik kecil"

"YA!" Chansung mendengus saat Hyykjae tertawa dan mengerling jahil padanya. Tatapan pemuda Hwang itu menyendu saat menatap punggung Hyukjae yang semakin menjauh.

'Kau harus bahagia, Hyung'

.

.

Donghae menatap geram gadis dihadapannya. Sudah lebih dari satu jam mereka membahas masalah yang seolah tidak ada solusinya. Donghae jengah, betapa keras kepalanya gadis dihadapannya. Sudah seribu satu kata Donghae ucapakan tapi tidak membuahkan hasil. Seandainya orang yang kini tengah bergelayut manja dilengannya ini adalah seorang pria, Donghae tidak akan segan untuk menghajarnya. Tapi sayangnya dia wanita, dan Donghae tidak bisa untuk bersikap kasar pada wanita.

"Aku mohon jangan begini" Pinta Donghae sambil melepaskan lilitan lengan Yuri dilengannya.

"Kau yang jangan begini! Ada apa denganmu? Apa kurangnya aku, kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku?"

"Sudahlah, kita sudah membahas ini dan aku mohon kau mengerti. Aku tidak bisa lagi membagi diriku untukmu. Maafkan aku" Yuri mengeram marah, dengan cepat gadis itu menarik lengan Donghae yang berniat berlalu pergi dari sana. Kaget, Donghae tak bisa mengelak saat dengan beraninya Yuri melumat kasar belahan bibirnya.

.

Hyukjae membasuh wajahnya dengan air diwastafel kemudian merapikan sedikit tatanan rambutnya. Pria manis itu menatap pantulan dirinya pada cermin besar dihadapannya, kemudian menjulurkan lidahnya. Rasa pahit getir dari wine yang ia minun masih tertinggal di indra pengecapnya itu walaupun ia sudah menghabiskan dua gelas orange juice. Yang mengakibatkannya kembung dan tidak kuat menahan hasrat untuk ketoilet.

Hyukjae beranjak meninggalkan toilet dan berniat kembali ketempat duduknya dan Chansung tadi. Pria manis itu menghentikan langkahnya saat tak sengaja matanya menangkap siluet seseorang yang tak asing baginya. Hyukjae mendekat hanya untuk memastikan jika yang dilihatnya itu adalah orang yang ia kenal. Seketika Hyukjae merasakan seolah ada duri- duri tajam menusuk tubuh hingga tembus ke jantungnya, perih dan sakit. Walaupun penerangan di night club ini tidak cukup untuk dibilang terang tapi cukup bagi Hyukjae untuk mengenali siapa dua orang yang tengah saling memangut satu sama lain.

Seperti dejavu, terjadi untuk kedua kalinya didepan mata kepalanya. Donghae melakukan hal yang sama, juga dengan orang yang sama. Seandainya bisa, Hyukjae ingin sekali berlari dari tempat ini atau sekedar menutup mata. Namun kakinya seolah dipaku, sehingga membuatnya hanya bisa mematung menyaksikan bagaimana Donghae dan Yuri bercumbu dihadapannya.

"Donghae"

Donghae merasakan jantungnya mencelos jatuh mendapati Hyukjae ada dihadapannya dan pria itu yakin jika Hyukjae melihat apa yang baru saja terjadi antara dia dan Yuri. Hingga akhirnya Hyukjae pergi dengan berlari tanpa menoleh sedikitpun.

"Hyuk!"

Tanpa kata Donghae berlari menerobos keramaian lantai dansa untuk mengejar Hyukjae, tak peduli dengan teriakan Yuri yang memanggilnya kalap dan umpatan serta makian orang- orang yang ia tabrak. Donghae tidak akan membiarkan hal seperti ini terulang lagi. Kehilangan Hyukjae sama dengan mati untuknya.

"Menikmati suasananya, Nona?" Yuri merasakan cekalan yang cukup kuat pada pergelangan tangannya. Gadis itu menoleh, hanya untuk mendapati Heechul dan Chansung tengah tersenyum miring padanya.

"Heechul Oppa? Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!"

"Na'ah" Heechul menggeleng acuh

"Biar kuberi tahu, Yuri-ah. Sekeras apa usahamu untuk merebut Donghae dari Hyukjae, maka seperti itu juga sakit yang akan kau dapat. Kemana dan pada siapapun Donghae berpaling, pada akhirnya dia akan tetap kembali pada Hyukjae. Kau tahu, kau adalah gadis yang cantik dan aku percaya kau adalah orang baik, kau pasti akan mendapatkan orang yang lebih baik dari Donghae. Jadi lebih baik jangan buang waktumu untuk mengejar sesuatu yang sudah jelas tidak akan mungkin kau dapatkan, arrachi?"

.

.

Bedebum keras bantingan pintu mengusik Kyuhyun yang tergeletak tidur di sofa ruang tengah. Ditengah matanya yang setengah terpejam menahan kantuk dapat ia lihat Hyukjae berjalan tergesa menuju kamarnya.

"Dia kenapa?" tanyanya pada daun pintu kamar Hyukjae yang dibanting sang empunya kamar.

Tidak peduli dengan Armpit Hyungnya itu, Kyuhyun kembali merebah dan berniat melanjutkan tidur, tapi baru saja rohnya melanglang ke alam mimpi suara pintu terbuka dan tertutup dengan keras membuat anggota termuda Super Junior itu kembali terlonjak kaget. Kali ini Donghae yang tergopoh- gopoh setengah berlari melintas dihadapannya.

"Aarghh! Dua idiot ituu! Kalau mau main kejar- kejaran jangan mengganggu tidur orang! Aishh!" dengan kesal Kyuhyun membawa bantal dan selimutnya beranjak pindah menuju kamar mana saja yang bisa menampung tubuh lelahnya. Demi semua game konsol koleksinya, Kyuhyun hanya ingin tidur. Dan dua orang idiot itu- menurut Kyuhyun- sukses menghancurkan ritual tidur tampannya.

.

"Hyuk"

"Pergilah"

"Tidak sebelum kau mendengarkan penjelasanku" iba Donghae pada Hyukjae yang memunggunginya.

"Demi Tuhan Lee Donghae, penjelasan apa lagi yang harus aku dengar darimu?"

"Kumohon dengarkan aku untuk kali ini saja, setelah ini kau boleh melakukan apapun yang ingin kau lakukan-" Hyukjae masih bergeming, berdiri membelakangi Donghae.

"-dengar, awalnya aku berniat memberitahumu kalau malam ini Yuri memintaku bertemu, dia bilang ingin membicarakan hubungan kami, aku setuju karena aku juga ingin membereskan semua masalah ini agar kau mau kembali padaku, tapi saat kau bilang kau akan pergi dengan Chansung aku cemburu, jadi aku tidak bilang perihal pertemuanku dengan Yuri. Dan yang di bar tadi aku bersumpah, itu bukan keinginanku! Percayalah"

"Kau tahu, aku percaya. Selalu percaya. Bahkan setelah berkali kali kau menghancurkan kepercayaan itu aku tetap berusaha untuk percaya padamu-" Hyukjae menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan sebelum berbalik menghadap Donghae, mempertemukan onyx sekelam malamnya dengan sepasang onyx sendu Donghae yang menatapnya penuh harap.

"-... maafkan aku, Donghae. Lebih baik kita saling melepaskan sekarang, agar tidak akan ada lagi hati yang terluka. Maafkan aku karena telah memaksa dan mengikatmu dengan hubungan menjijikan seperti ini, aku tahu dari awal kau bukanlah seorang sepertiku-"

"Hyuk!"

"Harusnya aku sadar, bukan aku orang yang kau cintai"

"Berhenti, Hyuk!"

"Aku-

"KUBILANG BERHENTI BICARA, LEE HYUKJAE!" dengan kasar Donghae mendorong Hyukjae kedinding dan menghimpit tubuh kurus Hyukjae antara dinding dan tubuhnya. Melumat kasar bibir pria manis yang terus menggelengkan kepalanya mencoba menolak perlakuannya.

"Berhenti bicara omong kosong, Lee Hyukjae" desis Donghae tajam dihadapan wajah Hyukjae yang sudah basah oleh air mata.

"Donghae...maaf- aku-" Eunhyuk mengigit bibirnya, berusaha mencari lagi kalimat penolakan yang tepat. Namun ia gagal, sehingga ia hanya dapat menggeleng berharap Donghae mengerti.

Sementara Donghae terus menatap Hyukjae dengan tajam, tampak jelas sorot terluka terpancar dari matanya yang redup memohon pengharapan. Tak lama kemudian pria oktober itu pun berlutut didepan Hyukjae, dengan kedua tangannya meraih tangan Hyukjae dan menggenggamnya erat. Membuat Hyukjae terkejut, tidak mengerti sekaligus merasa bersalah.

"Donghae! Bangun kumohon, apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini"

Donghae bergeming, hanya menundukan kepala dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Hyukjae.

"Donghae aku mohon, jangan begini. Berdirilah!" Hyukjae melepaskan tangannya dari genggaman Donghae dan dengan sekuat tenaga menarik Donghae agar berdiri. Usaha Hyukjae tidak sepenuhnya sia- sia, Donghae mendongakkan wajahnya, menatap Hyukjae dengan sorot matanya yang pilu.

"Maafkan aku karena telah menyakitimu berulang kali dengan begitu kejamnya. Maaf. Aku tahu, apapun yang akan kulakukan tidak akan bisa menebus semua kesalahanku padamu. Aku tahu, aku tidak pantas untuk memilikimu lagi, Hyuk. Aku-" Donghae menangis tergugu, tak sanggup melanjutkan kata- katanya.

"Berdirilah" ujar Hyukjae parau menahan tangis.

DOnghae pun mulai bangkit berdiri, dengan tangan yang mengacak- acak rambut dikepalanya. Dan mengekor saat Hyukjae menariknya pelan menuju satu- satunya ranjang sempit disana.

"Donghae..." panggil Hyukjae, ketika menit demi menit mereka lalui hanya dengan duduk diam tanpa bersuara.

"Beritahu aku setiap penderitaan dan pengorbananmu, ceritakan keidiotan macam apa yang kulakukan saat menyakiti, Hyuk" pinta Donghae dengan jelas, dengan penuh penekanan disetiap katanya. Sesekali pria itu menarik nafas guna meringankan segala beban rasa bersalahnya selama ini.

.

.

"Maafkan aku" Donghae memeluk tubuh kurus Hyukjae yang berbaring membelakanginya. Menempelkan punggung Hyukjae dengan dada bidangnya. Hyukjae memejamkan matanya merasakan sakit pada hati dan fisiknya. Ingin sekali ia berteriak mengatakan jika ia amat membenci Donghae. Namun yang ia lakukan hanya menggeleng kuat. Hyukjae menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. Dengan segala sisa kekuatan yang dimilikinya, Hyukjae telah menumpahkan segala sakit yang selama ini dirasakannya.

"Maaf, maafkan aku... aku..aku.." suara Donghae bergetar, Hyukjae tahu itu, tapi ia bisa apa? Membujuk Donghae agar tidak bersedih, agar tidak menangis? Sementara Hyukjae merasa bahwa dirinyalah yang harusnya bersedih. Dialah yang harusnya menangis.

Namun Hyukjae hanya menangis dalam diam, bahunya bergetar, Donghae memeluknya kian erat, mengecupi pucuk kepala Hyukjae berulang kali seraya meminta maaf.

"Aku sangat mencintaimu, Hyuk, sangat... Maafkan aku, aku mohon jangan seperti ini"

Cukup. Hyukjae memang membenci apa yang Donghae lakukan, namun ia tidak bisa membenci orang yang ia cintai. Hyukjae mengalah, berbalik dan balas memeluk Donghae dan menumpahkan segala sakit dan sedihnya.

.

.

Pagi yang cukup dingin, walau belum bisa dikatakan pagi karena waktu masih menunjukan pukul tiga. Donghae tidak terusik sedikitpun, meski Hyukjae tengah merapikan dirinya didepan cermin besar di kamarnya. Hyukjae mengamati refleksi tubuh Donghae dari cermin, tubuh Donghae yang tertutup selimut tebal. Sepasang sabit Hyukjae mendadak berembun, rasanya sangat perih jika ia mengingat betapa beratnya mengambil keputusan ini.

Hyukjae berjalan pelan menghampiri ranjang, duduk ditepiannya. Hyukjae tersenyum seraya membelai pipi Donghae yang terlihat lembab akibat menangis semalam, dikecupnya pipi itu lama. Air mata jatuh mengalir dipipi Hyukjae, pria manis itu menghela nafas panjang, memperbaiki selimut Donghae sebelum menatapnya lama lalu beranjak dengan koper dan ranselnya.

.

Donghae menggeliat, merasakan sinar matahari menerobos dinding retinanya, memaksanya untuk membuka sepasang orbs sendunya yang memerah. Donghae berbalik, menepuk sisi kanannya. Kosong. Donghae mengernyit tak menemukan Hyukjae disampingnya, padahal Donghae ingat malam tadi ia tertidur sambil memeluk Hyukjae. Donghae bergegas bangkit, matanya melirik jam dimeja nakas, pukul 9 pagi.

"Hyuk?" panggilnya berharap Hyukjae berada dalam kamar mandi, namun tak ada sahutan.

"Hyukkie?" cobanya sekali lagi namun tetap tak ada jawaban atau tanda tanda Hyukjae berada dalam kamar mandi.

"Apa Hyukkie ada sqedule pagi ini?" tanyanya pada diri sendiri, kemudian keluar dari kamar Hyukjae, berbelok kedapur dan menemukan Ryeowook, Sungmin dan Leeteuk disana tengah duduk menunduk dimeja makan.

"Ryeong, apa kau melihat Hyukkie?" Ryeowook tersentak dan buru- buru mengusap wajahnya, berusaha memasang wajah senormal mungkin.

"Kau sudah bangun, Hyung? Kemarilah, aku sudah buatkan susu untukmu"

"Terima kasih, aku akan minum nanti. Apa Hyukkie ada jadwal pagi ini, Teukie Hyung?" Leeteuk menegang, tubuhnya terasa kaku. Apa yang harus ia katakan pada Donghae? Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Tapi bagaimana caranya ia mengatakannya?

"Donghae, Hyukkie- err sebenarnya- begini, Hyukkie-

"Hyukjae sudah pergi" suara Heechul tiba- tiba terdengar. "Dan Hyukjae berpesan, kau tidak perlu mencarinya"

"Pergi? Kemana?" Donghae menatap mereka satu- persatu, tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Bahkan Heechul juga hanya mengedikan bahunya acuh.

"Heechul Hyung, apa yang kau maksud dengan pergi?"

"Pergi ya pergi! Pergi jauh dan tidak akan kembali!"

"A-apa? Lelucon! bercandamu tidak lucu, Heechul Hyung" Heechul menyeringai.

"Terserah!" jawab Heechul enteng seraya mengangkat bahunya acuh.

Seolah mendapat tamparan keras ditengah rasa bahagia yang baru saja mengisi hatinya. Hyukjae pergi? Apa maksudnya?

Donghae bergegas bangkit, berlari kencang menuju kamar Hyukjae. Matanya membulat lebar tak percaya saat tidak menemukan sepotong pun pakaian Hyukjae dalam lemari. Hanya ada beberapa potong kemeja miliknya yang pernah Hyukjae pinjam.

Donghae jatuh terduduk dilantai, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Benarkah? Benarkah Hyukjae meninggalkannya? Tapi kenapa? Bukankah Hyukjae sudah memaafkannya? Tapi kenapa pria manis itu meninggalkannya?

.

.

.

Dua minggu berlalu setelah Hyukjae pergi meninggalkan Donghae dan segalanya. Donghae telah mencari Hyukjae setiap tempat yang ia yakini mungkin akan menemukan Hyukjae disana, tapi tetap saja hasilnya nihil. Hyukjae tidak ada dimana pun. Bahkan Donghae sampai nekat mendobrak apartement Chansung demi meyakinkan dirinya sendiri kalau Hyukjae tidak bersembunyi disana lagi.

"Kau dimana?"

Bulir air mata itu keluar tanpa ia minta. Donghae merasa seolah tubuhnya ditusuk oleh belati tak kasat mata. Jika ada kata diatas kata sakit, perih ataupun terluka maka kata itulah yang pantas menggambarkan keadaannya saat ini.

"Kembalilah"

Tangannya menggenggam kuat setir yang ada dihadapannya. Berulang kali kakinya menginjak rem untuk menghindari kendaraan lain yang hampir ia tabrak. Suara klakson kendaraan lain pun terdengar memekakan telinga. Namun Donghae tak menghiraukan, pandangannya tetap lurus kedepan. Menuju ketempat yang menjadi harapan terakhirnya untuk mencari Hyukjae.

.

.

Sora membulatkan matanya saat memperhatikan seseorang yang duduk dihadapannya. Donghae dengan tampang kuyu. Wajah yang biasanya selalu terlihat klimis itu kini ditumbuhi bulu- bulu halus disekitar dagu dan atas bibirnya. Penampilannya berantakan, sorot mata Donghae yang biasanya selalu terlihat bersinar kini redup bahkan hampir mati. Intinya keadaan Donghae jauh dari kata baik. Sora berfikir dalam hati, sedahsyat itukah pengaruh Hyukjae dalam hidup seorang Lee Donghae.

"Jadi kau kesini mencari Eunhyuk?"

"Maafkan aku nonna, aku terlalu pengecut karena baru sekarang aku berani datang kesini"

"Kau berani datang kesini setelah menyakiti adikku?! Eunhyuk tidak ada disini!" seru gadis berwajah mirip Hyukjae itu ketus yang menghadiahkan sebuah geplakan pelan dikepalanya oleh sang ibu.

"Lebih baik kau istirahat dulu Donghae- ah, kita bicarakan ini nanti. Kau terlihat buruk sekali" perintah sang Eomma.

"Tapi Eomonim-

"Kau turuti saja apa kata Eomma. Sana pergi istirahat dikamar Hyukjae" kali ini pria tertua disana ikut membuka suara.

Donghae kembali menutup mulutnya yang siap melontarkan protesan. Dia kesini untuk mencari dan menanyakan keberadaan Hyukjae, bukan untuk tidur. Walaupun enggan, Donghae bangkit dari sofa, membungkuk sebentar pada ketiga orang dihadapannya sebelum berlalu meninggalkan mereka menuju kamar Hyukjae.

Gelap. Itulah satu kata yang pas untuk menggambarkan suasana kamar begitu Donghae membuka pintunya. Donghae memasuki kamar itu tanpa repot- repot menyalakan lampunya. Biar saja seperti ini. Biar saja gelap ikut menemani dalam lingkup rasa sesal dan sakitnya. Biarkan gelap ikut andil untuk menghukumnya.

Donghae merebahkan tubuh letihnya disalah satu sisi ranjang besar Hyukjae. Lelaki bermata sendu itu memejamkan matanya. Sunyi. Begitu sunyi hingga seolah Donghae bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Begitu banyak kenangan yang tercipta di tempat ini. Membuatnya sesak karena begitu merindukan sang pemilik kamar.

"Ternyata kau memang tidak mungkin memaafkanku"

Air mata itu lolos lagi dari balik kelopak matanya yang terpejam. Donghae menangis lagi, kali ini untuk rasa sepi dan takut kehilangan. Rasa takut yang teramat sangat akan kehilangan Hyukjae. Membuatnya terus menangis dan menangis hingga kegelapan benar- benar menyelimutinya.

.

.

.

"Eoh, kau sudah sadar?"

Donghae meringis, merasakan denyutan hebat dikepalanya. Pria itu mencoba memejamkan matanya kembali berharap sakit dikepalanya berkurang tapi suara wanita yang menembus gendang telingannya memaksa Donghae membuka paksa matanya.

"Syukurlah kau sudah sadar, aku kira kau akan mati disini"

Sadar? Memangnya dia kenapa? Bukankah tadi malam Donghae hanya tertidur karena kelelahan menangis? Kenapa Sora mengira dia akan mati?

"Aku kenapa?"

"Kau pingsan semalaman dan membuat seisi rumah panik, bodoh!"

Pingsan? Pantas saja rasanya lemas sekali dan kepalanya berdenyut.

"Maaf"

"Hn, bangun dan makan sarapanmu dan ini obat untuk kau minum. Aku keluar sebentar"

"Noona!"

Donghae hanya ingin menanyakan Hyukjae, tapi rasanya susah sekali. Mulutnya hanya terbuka kemudian tertutup lagi. Tidak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya. Sora yang masih berdiri diambang pintu pun terpaksa kembali menghampiri Donghae karena tidak mendapati Donghae meneruskan ucapannya.

Gadis itu membuka laci meja kecil disamping tempat tidur dan mengeluarkan sesuatu dari sana, kemudian memberikannya pada Donghae.

"Eunhyuk menitipkan itu padaku, dia bilang aku harus memberikannya padamu saat kau datang kesini. Haah, adikku pasti sedih sekali kalau tahu kekasihnya yang bodoh dan brengsek ini baru datang setelah dua minggu"

Donghae menerima benda yang ternyata sebuah kalung berliontinkan cincin itu dengan tangan bergetar.

"Sejujurnya aku kecewa padamu. Kau kejam sekali menyakiti adikku seperti itu. Tapi aku bisa apa, adikku yang polos dan bodoh itu begitu mencintaimu" Donghae hanya bisa menunduk, tidak punya keberanian walaupun hanya untuk menatap mata berair gadis disampingnya. Rasa bersalah kembali menyayat hatinya.

"Eunhyuk memutuskan untuk pergi, bukan untuk menjauh, tapi adikku hanya ingin menetapkan hatinya. Percayalah, jika dia memang cinta sejatimu, maka seberapa sakit dan sulit liku yang harus dilalui, dia akan tetap bersamamu. Tuhan selalu punya skenario terbaik"

Donghae tersenyum ditengah air mata yang membasahi pipi tirusnya. Setidaknya masih ada setitik harapan untuknya. Hyukkie-nya memang pergi. Hyukkie-nya memang meninggalkannya, tapi Hyukjae tidak membawa segalanya. Donghae menggenggam erat kalung perak itu. Kemanapun orang yang dicintainya itu pergi, masih ada separuh hati yang pria manis itu tinggalkan disini, untuknya.

Lee Hyukjae...

Aku tidak peduli

seberapa lama aku menunggumu asalkan kau

kembali

Setahun, dua tahun, seratus tahun bahkan

ribuan tahun aku akan tetap menunggu

Aku tidak peduli

Seberapa jauh kau meninggalkanku

karena aku pasti akan menemukanmu kembali...

.

.

.

Suara riuh tepuk tangan dan sorak sorai penonton masih saja menggema memenuhi venue, walaupun konser telah berakhir sejak satu jam yang lalu. Malam ini Super Junior baru saja menyelesaikan rangkaian tour Super Show mereka. Yang kali ini digelar dinegeri Matador, Spanyol.

Setelah beristirahat dan berganti pakaian, para member kini tengah bersiap menjalani sesi press conference dengan ditemani oleh seorang translater. Walaupun mereka semua lelah, tetap tidak menghilangkan semangat mereka untuk menjawab pertanyaan para pemburu berita. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh member Super Junior dengan santai bahkan dibumbui dengan sedikit candaan.

"Boleh kami menyanyakan sesuatu yang bersifat sedikit pribadi?"

"Silahkan, asalkan kalian tidak menanyakan warna pakaian dalam yang kami pakai" celetuk Leeteuk dengan senyum lembutnya, begitu kontras dengan candaannya. Membuat seisi ruangan tergelak.

"Pertanyaan ini sebenarnya dikhususkan untuk Donghae-ssi"

"Aku?" Donghae yang sejak awal wawancara hanya tersenyum dan sesekali ikut tertawa karena jawaban konyol member lainnya pun langsung mengalihkan atensinya pada seorang wartawan pria yang tadi mengajukan pertanyaan.

"Dari gosip yang beredar, kabarnya Donghae-ssi tengah dekat dengan salah satu junior yang juga merupakan artis dari SM Management. Benar begitu, Donghae-ssi?"

"Dia memang dekat dengan siapa saja" celetuk Heechul, membuat semua orang tertawa termasuk Donghae.

"Benar yang dikatakan Heechul-ssi, aku memang dekat dengan siapa saja. Tidak ada salahnya membina hubungan baik antara senior dan junior, bukan?"

"Jadi kabar yang beredar itu hanya sekedar Hoax? Lalu apa saat ini Donghae-ssi memiliki kekasih?"

Semua perhatian kini terpusat pada sosok Donghae yang tetap terlihat tenang dengan senyum menawan terpasang dibibirnya. Donghae tahu pertanyaan seperti ini pasti akan terlontar cepat atau lambat. Pasalnya, dari semua anggota Super Junior hanya dirinyalah yang dikonfirmasi belum memiliki kekasih atau dekat dengan seseorang.

Leeteuk telah bersama Kangin. Heechul kini telah kembali kepelukan sang Pangeran China, walaupun mereka harus menjalani hubungan jarak jauh, setidaknya itu jauh lebih baik. Siwon si anak Tuhan pun berhasil menggemparkan dunia dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa ia akan menikahi seorang Kim Kibum. Lalu setelah menyelesaikan tugas kenegaraannya, Yesung mengkonfirmasi hubungannya dengan Ryeowook. Magnae mereka, Cho Kyuhyun pun entah setan apa yang merasuki iblis itu hingga anggota termuda Super Junior itu pun kini tengah menjalin hubungan dengan partner in crime-nya, Max. Sungmin kini sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Shindong juga sebentar lagi akan menyusul jejak Sungmin untuk berkeluarga. Lalu Donghae?

"Kekasih? Tidak, aku tidak memiliki kekasih. Tapi ada seseorang yang sedang aku tunggu saat ini" ujar Donghae sambil menunjukan dua buah cincin perak yang melingkar dijari tangannya.

.

.

.

Donghae menatap kosong pemandangan kota Barcelona yang gemerlap dari jendela kaca hotel tempat Super Junior menginap selama disini. Lalu lalang kendaraan, ramainya trotoar jalan oleh pejalan kaki, kerlap kerlip lampu gedung- gedung bertinggkat. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Tapi bukan itu fokus pandangannya saat ini, melainkan sebuah gedung besar yang terlihat begitu indah walaupun hanya terlihat dari kejauhan.

"Aku merindukanmu"

Donghae menghela nafas pelan, berusaha sedikit mengurangi sesak didadanya. Merindukan seseorang selama bertahun- tahun bukanlah hal yang mudah. Dua tahun... tiga tahun...lima tahun... Entahlah, Donghae tidak mau mengingatnya. Ia tidak mau susah- susah menghitung hari. Membuat dadanya tambah sesak saja. Memangnya apa lagi yang rasakan selain rasa sesak jika kau menahan rasa rindu yang membuncah tapi tidak tersalurkan?

Selama dua tahun Donghae seolah kehilangan semangat hidupnya. Hyukjae yang menghilang seolah ditelan bumi membuat Donghae merasa mati adalah pilihan terbaik. Sampai pada suatu hari ia mendapat petunjuk tentang keberadaan Hyukjae. Saat itu ia tengah berkunjung kerumah orang tua Hyukjae, ia melihat sebuah bingkisan besar berupa paket yang dikirimkan dari Barcelona dan terdapat nama Hyukjae dibagian depan paket tersebut. Akhirnya Ia mendapat titik terang dimana Hyukjae berada. Saat itu Donghae ingin segera terbang ke Barcelona tapi kata- kata Sora memaksa Donghae membatalkan niatnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberi Hyukjae waktu sedikit lagi untuk menetapkan hatinya. Tapi Donghae tidak mengira kalau rasanya akan sesulit ini. Rasa rindu yang membuncah, rasa takut yang tidak jelas datangnya dari mana. Apa Hyukjae masih mencintainya? Serta pikiran- pikiran negatif yang membuatnya hampir gila. Sejak menghilangnya Hyukjae, hidupnya berantakan. Bukan berantakan secara visual memang, ia tetap tampan bahkan jauh lebih tampan dan terlihat mapan. Yang berantakan adalah pola hidupnya. Demi membunuh rasa rindu yang kian menggunung pada Hyukjae, Donghae menyibukan diri dengan menerima semua job yang manager pribadinya tawarkan. Tidak peduli jika pekerjaan yang terus berlanjut tanpa henti itu bisa membunuhnya secara perlahan. Sekarang sudah lima tahun dia memberikan waktu untuk Hyukjae menetapkan hatinya dan Donghae tidak ingin ada tahun keenam, ketujuh apalagi kedelapan.

Donghae menghela nafasnya sekali lagi. Sekarang ia sudah berada dibelahan bumi yang sama dengan Hyukjae. Hanya menunggu sebentar lagi hingga semua rasa rindu yang telah ia pendam sekian lama bisa terobati. Dengan mengenakan pakaian seadanya Donghae beranjak meninggalkan kamar hotel menuju tempat dimana Hyukjae berada. Donghae berjanji akan berterima kasih pada calon kakak iparnya setelah ini karena telah membantunya untuk bertemu dengan Hyukjae.

"Tunggu aku sebentar lagi"

.

.

.

Donghae memandang penuh kekaguman bangunan tinggi dihadapannya. Sagrada Familia, gereja megah yang menjadi icon kota Barcelona itu terlihat indah dengan sinaran lampu berkerlap- kerlip disekitarnya. Banyak orang terlihat berlalu lalang didepan pintu utama gereja tersebut. Donghae membawa langkahnya lebih mendekat pada bangunan indah itu. Hingga sampai tepat dibagian depan bangunan, Donghae melihat seseorang yang berdiri tegak membelakanginya. Pemuda yang terlihat begitu khidmat memendangi kemegahan Sagrada Familia. Tidak terusik sedikitpun dengan keramaian lalu lalang disekitarnya. Donghae berhenti disana, berdiri tepat disamping pemuda itu.

"Boleh aku disini?" Pemuda disampingnya menoleh, memandanginya untuk beberapa saat lalu kembali mengalihkan pandangannya pada bangunan megah dihadapannya.

"Apa bagusnya bangunan tua itu sampai kau memelototinya seperti orang bodoh begitu?" Pemuda itu hanya melirik Donghae dengan ekor matanya, tanpa suara sedikitpun.

Tidak ada yang membuka suara diantara keduanya untuk beberapa saat. Pemuda bersurai coklat caramel itu masih setia dengan kekagumannya memandangi bangunan yang memiliki beberapa menara yang tingginya seolah menantang langit itu.

"Apa bangunan tua itu lebih menarik dari pada aku?"

"Kau berisik sekali!" ketusnya tanpa menatap Donghae sedikitpun.

"Apa Barcelona telah membuatmu jatuh cinta sampai kau tidak mau kembali ke Korea?"

"..."

"Hey" Donghae meraih bahu pemuda bersurai caramel itu, memaksanya untuk menghadap kearahnya hingga dua pasang iris beda warna itu bertemu.

"Aku merindukanmu" Telapak tangan Donghae yang lebar membingkai separuh wajah sang pemuda, mengusap pelan pipi tirus itu dengan ibu jarinya.

"Aku merindukanmu, Hyuk. Sangat" bisik Donghae lirih sembari membawa tubuh dihadapannya kedalam rengkuhannya. Hyukjae tersenyum merasakan hangat yang menjalar dihatinya saat lengan Donghae melingkar ditubuhnya.

.

.

.

Donghae masih setia memandangi Hyukjae yang tengah menunduk, khusyuk berdoa. Donghae sendiri sudah selesai sedari tadi dengan doanya. Tidak banyak doa yang Donghae panjatkan karena salah satu keinginan terbesarnya telah terwujud. Tinggal satu lagi harapannya, dan semoga Tuhan juga mau mengabulkannya.

Donghae tersenyum lembut mengamati Hyukjae. Entah doa apa saja yang Hyukjae panjatkan hingga raut wajahnya bisa berubah- ubah. Awalnya pria manis itu tersenyum tapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah cemberut hingga kedua alisnya menukik tajam, tapi ekspresi itu tidak bertahan lama karena Hyukjae kembali tersenyum- senyum sendiri. Donghae yang gemas dengan jahilnya menusuk- nusuk sebelah pipi Hyukjae dengan telunjuknya.

"Jangan ganggu! Aku sedang berdoa!"

"Berapa banyak doa yang kau panjatkan, kenapa lama sekali?" Donghae berdecak, kemudian meraih sebelah tangan Hyukjae yang masih saling bertaut, lalu menautkan jemari putih itu dengan miliknya.

"YAK!"

"Diam dan dengarkan" Donghae menutup matanya, kembali mengambil posisi untuk berdoa. Meski heran, Hyukjae menurut. Diam dan bersiap mendengarkan apa yang akan Donghae katakan.

"Tuhan... begitu banyak dosa yang kulakukan selama hidupku. Salah satunya saat aku menyakiti hati seseorang yang tangannya tegah kugenggam ini. Ampuni aku Tuhan, karena telah melukai ciptaan terindahmu ini. Tuhan... hukumlah aku atas semua sakit yang ia rasa karenaku. Hukum aku untuk air matanya yang terbuang karenaku. Tapi aku mohon jangan hukum aku dengan membiarkannya meninggalkanku lagi. Lima tahun dia menghilang dan itu membuatku gila dan hampir mati. Jadi untuk saat ini dan seterusnya biarkan dia tetap bersamaku, Tuhan. Jadi aku mohon, bujuklah dia agar mau kembali padaku. Aku berjanji untuk menjaga hatinya agar tidak terluka lagi karenaku, itu janji seumur hidupku, Tuhan. Amin"

Donghae menyudahi do'anya, kemudian mengecup punggung tangan Hyukjae yang masih ada dalam genggamannya.

"Apa yang tadi itu sebuah pengakuan dosa?"

"Anggap saja seperti itu"

Sejujurnya Hyukjae terharu atas apa yang Donghae lakukan tapi untuk kali ini Hyukjae berusaha untuk menjaga gengsinya dan tidak menangis.

"Kau lihat, selama lima tahun cincin ini tetap berada disini" Donghae menunjukan dua buah cincin yang bertengger dijari manisnya. Salah satunya adalah milik Hyukjae yang ia tinggalkan lima tahun lalu.

"Saat ini, dihadapan Tuhan aku memintamu untuk kembali padaku. Dan kau tidak bisa menolaknya karena untuk kali ini aku memaksa" Hyukjae mencoba protes dengan kalimat diktator Donghae, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Mulutnya hanya terbuka tapi kemudian tertutup lagi.

"Tapi kali ini aku memintamu kembali bukan untuk sebagai kekasihku, tapi untuk menjadi pawang hatiku yang liar. Aku memintamu menjadi pendampingku yang menemaniku disisa hidupku, menjadi ibu dari anakku-

"Bodoh! Aku laki- laki, bagaimana bisa melahirkan anakmu?!"

"Kau ini! Aku belum selesai bicara, kenapa kau menyela,hah?!" Donghae mengusap wajahnya kasar. Gemas sendiri karena Hyukjae yang dengan seenak bibir sexy-nya memotong rangkaian kata- kata yang sudah susah payah ia susun selama lima tahun.

"Tsk!" Hyukjae mendecih. Lalu mengambil salah satu cincin yang masih melingkar dijari manis Donghae kemudian memasangkan ke jari manisnya sendiri.

"Kenapa kau pakai sendiri cincinnya? Harusnya aku yang pasangkan!"

"Kau lamban! Aku harus menunggumu selama lima tahun baru kau menyusulku kesini. Dan sekarang untuk melamar saja bicaramu berbelit- belit!" Donghae melongo. Lima tahun tidak bertemu Hyukjae ternyata pria manis itu telah jauh berubah. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang semakin manis, sikap dan cara bicara Hyukjae justru berubah ketus.

"Dulu saat kau yang pasangkan, aku harus mati- matian menahan sakit hati saat harus melepasnya. Sekarang aku pasang sendiri, agar saat kau berulah lagi aku bisa dengan mudah melepasnya dan-

Donghae mengecup bibir Hyukjae kilat, mencoba menghentikan Hyukjae agar pria manis itu tidak bicara lebih banyak lagi.

"Maafkan aku. Tidak bisakah kita melupakan kenangan menyakitkan itu. Kau telah menghukumku selama lima tahun dan kau tahu, lima tahun yang amat berat itu telah membuatku benar- benar yakin. Donghae yang sekarang bukanlah Donghae yang dulu. Percayalah, sekarang yang ada di mata, hati dan hidupku hanya ada seorang Lee Hyukjae" Sepasang sabit Hyukjae memerah tapi tetap tidak ada air mata yang keluar.

"Kenapa bicaramu manis sekali, hah?! Pantas saja wanita- wanita itu begitu mudah bertekuk lutut padamu. Dasar pemain cinta!"

"Tapi hanya kau yang bisa menaklukan si pemain cinta ini, sayang"

"Tch!"

Hyukjae mendecih lagi membuat Donghae gemas sendiri. Dikecupnya bibir Hyukjae dan langsung dilumatnya atas bawah. Tidak membiarkan sepatah katapun keluar dari bibir Hyukjae. Donghae terus melumat bibir pouty itu untuk menumpahkan segala rasa rindu yang selama bertahun- tahun menumpuk-sampai sesak- didadanya. Masa bodo dengan para pengunjung gereja yang memperhatikan mereka. Donghae hanya merindukan Hyukjae- nya. Hyukjae pun menerima ciuman itu begitu saja. Ia juga sama merindukan Donghae. Hingga pria manis itu mendorong pelan dada Donghae, saat oksigen menjadi kebutuhan utamanya saat ini. Hey, ciuman itu bukan hanya sekedar tiga atau lima menit...

"Jadi, kau mau menikah denganku tidak?"

"Dasar idiot! Aku sudah pakai cincin ini dan kau masih bertanya?!"

"Jadi..?"

"Cepat nikahi aku, playboy brengsek!"

.

.

.

Don't promise me forever... Just love me day by day...

.

.

.

.

.

END

.

.

.


.

.

Errr...saya tahu ini ngecewain, maka itu saya minta maaf... #bowsampenungging

Saya nekad mem-posting chap ini walaupun saya tahu hasilnya ancur banget, biar ga jadi beban pikiran saya karena kebanyakan hutang ff...TT

Makasih buat yg udah ngingetin saya buat lanjutin ff abal bin gaje ini, maaf ya beib klo hasilnya ngecewain TT dan untuk typo(?) tolong diabaikan kkkkk...

Makasih buat yang udah mereview dari awal sampe sekarang, maaf belum bisa sebutin satu- satu... dan yang udah fav & follow ff ini... saya cinta kaliaaaaaann #ciuminsatusatu

Buat seseorang disana, entah dirimu baca chap ini apa engga... maaf ya klo jalan ceritanya maksa pake banget... namanya juga ff 'kan, semua serba dipaksa jadi harap maklum wkwkwkkkk, juga klo banyak kata ato kalimat yang ga nyambung, sekali lagi harap maklum saya masih amatiran, jadi disambung- sambungin sendiri aja yaa...^_^

Semoga muka kamu ga gini -_- lagi ya, dear...

At last, makasiiiiiiiiiiiiiiih buat yang udah mampir baca chap ini... kasih saya review lagi boleh laahhhhh...

.

.

.

.

.

DeSTORIA