Bagi yang belum mengerti atau belum mengetahui siapa Shinobu, silahkan dicari di Google; Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade (キスショット・アセロラオリオン・ハートアンダーブレード).
dan itulah perawakannya. Soal kepribadian; Kepribadian dan tingkah laku Shinobu sebelum mengecil tidak pernah diketahui. Jadi saya mencoba memberikan kepribadian menurut dari setiap pembicaraan mengenai masa lalu Shinobu.
Chapter dua; silahkan baca.
Terkadang sebuah rahasia lebih baik menjadi Rahasia. Tidak peduli seberapa pahit rahasia itu.
Itulah yang dipikirkan Naruto saat melihat cerminan dirinya pertama kali. Mata birunya terkadang berubah merah dan kemudian kembali lagi menjadi biru. Bukan karena pengaruh Kyuubi atau kemarahan yang berlebih . Namun akibat darah yang berada didalam dirinya berusaha mendominasi satu sama yang lain. Perasaan dingin yang tiada habisnya terus Naruto rasakan. Kulitnya yang seharusnya berwarna kini bagaikan memudar...pucat.
Naruto merasa itu efek dari perubahan itu.
Kau akan menyesalinya.
Ya, mungkin. Aku mungkin menyesal menyerah kepada kemanusianku. Mungkin aku melakukannya tanpa banyak pikir. Namun, mahluk apapun aku pada akhirnya...aku masih Uzumaki kemudian melirik tempat tidurku. Melihat wanita vampir itu sedang tidur dengan lelapnya. Dia tidur serasa tidak menghawatirkan apapun dan suara dengkuran halus membuatku tersenyum tipis.
Namanya Shinobu Oshino.
Keanehan yang berbentuk Vampir. Yang bertahan meskipun waktu sudah mendatanginya sendiri. Bertahan untuk melihat kompetisi diantara kami berdua. Aku kemudian mengambil Ranjang gulung yang berada dilemari. Sedikit berdebu dan sebagainya, dan kemudian aku meletakannya disamping tempat tidur yang saat ini ditiduri Shinobu.
"..donat..."
Bisikan itu membuatku melirik ke asal suara itu. Senyuman tidak bisa kutahan saat melihat aksi itu. Mengiggau dikala tidur, dan sepertinya Shinobu bermimpi tentang Donat. Satu-satunya jenis makanan yang ia sukai. Mungkin kesukaannya pada Donat itu bisa disamakan dengan kesukaanku pada Ramen.
Aku berbaring menatap cahaya lampu kamarku.
Pada awalnya aku tidak pernah percaya akan Dunia gaib dan sebagainya. Bahkan aku tidak pernah percaya akan adanya Tuhan ataupun Dewa. Diriku terlalu sibuk untuk memikirkan hal yang rumit seperti itu. Namun kenyataan sudah didepan mata. Seperti juga kutukan yang kuterima.
Meskipun diriku tidak terlihat kurus dan lemah. Betul, dari luar, orang bisa melihat bahwa diriku memiliki porsi tubuh layaknya para remaja seusiaku. Tidak ada yang salah. Namun itulah kelebihan dari kutukan itu sendiri.
Bagaikan batu besar yang terlihat besar, namun didalam batu itu sendiri tidak ada apa-apanya. Kelihatan padat, namun tidak berisi. Kehilangan volume. Itulah diriku. Jika diukur dengan timbangan, beratku paling tidak hanya berkisar 5-7 kilo. Bagaikan seorang bayi.
Seharusnya manusia sudah mati jika berat tubuhnya hanya berkisar seperti itu. Namun kenyataanya ada didepan mata. Ya, aku. Aku masih bisa melakukan kegiatan seperti layaknya orang normal dan melakukan tugas Ninjaku seperti biasa. Organ tubuhku masih lengkap dan berfungsi dengan baik. Namun berat itu sendiri seperti menghilang dengan misterius. Tubuhku menjadi sangat ringan.
Hanya dirimu yang bisa menolong dirimu sendiri. Kau harus menghilangkan pikiran buruk yang membuatmu menjadi keanehan itu. Atau kau, harus menerima keanehan itu dan mulai menganggapnya sebagai berkah.
Shinobu berkata padaku; kau akan mulai merasakan dirimu berubah. Kau akan mulai merasakan sesuatu yang tidak seharusnya bisa dirasakan manusia. Kau akan mulai melihat manusia bukan sebagai sejajar dengan dirimu...namun..
Sebagai makanan yang berjalan. Itu adalah insting alami yang dimiliki Vampir.
Pendengaranmu akan bekerja berkali lipat dari pada pendengaran biasa. Penglihatanmu akan lebih tajam berkali-kali lipat daripada manusia biasa . Insting-mu pada sekeliling mu akan lebih peka daripada biasanya.
Waw... aku tidak bisa menahan kesenanganku ketika mendengar hal itu. Sambil memijat daguku, aku kemudian membayangkan diriku yang hebat, luar biasa, keren, dan..apa sudah kubilang hebat? Senyum menyeringai ketika melihat wajah temanku ketika melihat kehebatanku.
Lagipula ini sudah dua tahun sejak aku pergi berlatih dengan Pertapa Genit. Meskipun tidak terlalu belajar banyak, namun aku sudah berkembang cukup jauh dari yang dulu. Memang tidak seperti yang kuharapkan, misalnya; belajar jurus keren dan mengaggumkan. Namun, aku hanya belajar mengenai menajamkan kemampuan yang aku punya dan menyempurnakannya.
Yap, seperti Rasengan. Malu rasanya jika tetap masih menggunakan Kage Bunshin untuk membantu. Dan dari latihan itu, sekarang aku, Uzumaki Naruto sudah bisa menggunakan Rasengan satu tangan.
Suatu keberhasilan yang patut aku banggakan dalam hidupku. Dalam beberapa bulan dengan ratusan klon, aku berlatih terus menggunakan bunshinku untuk menyemmpurnakan Rasengan satu tangan. Jika ditanya; apa kau tahu rahasia dari Kage Bunshin?' tentu saja aku akan jawab tahu. Jurus yang sudah menjadi andalanku, masa tidak tahu kelebihannya?
XXXX
"yo Naruto, Sakura"
"KAU TERLAMBAT!" teriak Sakura dengan suara kerasnya. Membuat Kakashi menggaruk kepalanya dengan senyum mata membentuk U.
Sedangkan aku hanya tersenyum ketika melihat tingkah antik dari Guru yang satu ini. Mungkin itu cara dirinya menyapa orang. Meskipun lucu, namun juga...membuat orang cepat tensi.
"maaf, maaf, tadi ada kucing hitam yang menghalangi jalanku, dan aku harus me-"
Ya seperti itulah, tidak pernah berubah.
Hari ini adalah hari dua aku berada di Konoha, hari kedua aku bertemu kembali dengan mereka yang kusebut...rekan. Perubahan sudah banyak terjadi, mereka yang dulunya sejajar denganku kini sudah melangkah lebih tinggi. Ada yang menjadi Chunin...ada juga yang menjadi Jounin. Mengapa aku merasa tertinggal? Perasaaan cemburu muncul dihatiku ketika memikirkan hal tersebut. Aku yang bercita-cita menjadi Hokage, sepertinya masih terpaku pada satu tititk.
Mencoba mengejar, namun hanya membeku ketika orang telah melewatiku.
Mungkin itu akibat aku pergi berlatih dengan Ero-sennin. Namun memang aku tidak dapat memutar kenyataan. Aku memang tidak terlalu peduli dengan sistem ranking Ninja.
Namun...
Perjalanan waktu itu bukan hanya untuk berlatih, namun juga untuk mencari obat untuk keanehan yang pertama aku dapat.
Mengapa aku pergi jika Medis paling baik berada ada di Konoha?-karena Tsunade bukanlah orang yang tepat untuk jenis ini. Tsunade hanya bisa menyembuhkan penyakit tubuh. Namun...penyakit supernatural? Tentu saja tidak.
Mataku terkadang melirik Guru dan Nenek Tsunade. Mereka memperhatikanku! Sesuatu yang membuatku cemas. Paranoid!
Apakah mereka mulai menyadari keanehanku?
'tes seperti dahulu, kami harus bisa mengambil bel yang tergantung pada pinggangnya. Dengan kemungkinan keberhasilang 70 persen ditambah dengan persiapan yang matang, maka ujian ini akan mudah. Namun Hatake Kakashi bukanlah seorang Ninja yang mudah untuk dikalahkan. Pengalaman...kekuatan...itu dirinya. Namun jika Sakura bisa melakukannya dengan benar...berpikir, berpikir!'
"kalian tentu saja masih mengingat tes ini? Peraturannya masih sama dengan yang dahulu." Kakashi kemudian mengambil buku pornonya dan membacanya tanpa peduli. "dan kali ini...datanglah dengan keinginan membunuh"
Apakah sebegitu rendahnya kau dihadapan kami? Sehingga kau meremehkan kami dengan kelakuanmu...
Kemarahan serasa muncul dihatiku. Mengapa aku begini?
Terlalu sensitif.
"tiga...dua...satu..MULAI!"
Mata Kakashi kemudian melihat lapangan yang kosong. 'jadi mereka bersembunyi' dirinya kemudian mencoba merasakan keberadaan dua murid imutnya. Sakura... ia menemukannya.
Pikiran Kakashi kemudian menuju Naruto. Ia mencoba merasakan keberadaan Naruto.
Seharusnya ini mudah...
Seharusnya Naruto dapat ditemukan karena Kapasitas Chakranya yang besar...
Namun mengapa ia tidak dapat merasakan keberadaan muridnya yang satu ini? Perasaaan bangga muncul dihatinya. Sejauh inikah Naruto telah berkembang?
XXX
Aku mencoba mengontrol nafasku dengan alami. Mencoba berkonsentrasi dengan berbaur dengan alam.
*POOF!*
"Kau tahu apa yang kau lakukan. Lakukan dengan benar." Aku berkata kepada bayanganku.
Melihat satu langkah sudah ditentukan, aku kemudian menyiapkan beberapa rencana untuk menjadi cadangan, jika rencana pertama gagal.
Kakashi kemudian merasakan Kunai yang menerjang dirinya. Dengan cekat, ia kemudian menunduk menghindari Kunai tersebut tanpa melihat. Matanya kemudian melebar kedua kalinya ketika melihat salah satu Kunai yang tertancap dipohon tersebut memiliki kertas...
*boom!*
Kakashi yang tidak terluka kemudian muncul beberapa meter dari ledakan 'waw...dia menganggap serius bagian dengan keinginan membunuh'
"namun menyerang seperti itu..." Kakashi kemudian melempar beberapa Shuriken ke arah pohon tempat berasalnya Kunai tersebut. "...sama saja memberi tahu posisimu"
'jadi hanya Kage Bunshin..'
Mata Kakashi kali ini melebar ketika melihat belasan Shuriken menuju arahnya. Dan tentu saja, disetiap Shuriken terdapat kertas ledakan. Dengan cepat, Kakashi melompat jauh dan melihat Shuriken yang tertancap ditanah tersebut 'tidak meledak!?'
Perasaan Kakashi mulai aneh ketika melihat tipuan kecil itu.
"hyaah!"
Mata Kakashi melebar ketika melihat empat Sakura yang menuju dirinya dengan tinju yang siap menghancurkan.
'tunggu dulu, Sakura tidak pernah bisa menggunakan Kage Bunshin. Berarti ini Naruto, tapi kemungkinan mereka berkerjasama sangat besar. Dengan Kage Bunshin dan henge, Naruto kemudian meniru Sakura. Jika predeksiku benar, Sakura mungkin berbaur dengan salah satu Klon. Pintar sekali!'
Beberapa pukulan dapat dihindari Kakashi dengan mudah.
Mata Kakashi melotot seiring waktu ketika melihat ketiga sakura menyeringai. Dan kemudian menarik roknya keatas..
'oh jangan bilang!' pikiran kotor telah memasuki otak Kakashi ketika melihat tingkah Sakura yang mengelilinginya.
Namun ketika melihat apa yang dibalik Rok tersebut...
*BOOM!*
Tsunade hanya tercengah ketika melihat hal tersebut. Inikah Naruto? Strategi yang cemerlang ... yang tidak pernah ia kira dari anak berambut kuning tersebut. Menggunakan sisi alami Kakashi yang mesum, Naruto kemudian mengecoh Kakashi dengan aksi itu. 'namun jika tiga dari empat klon tersebut meledak, jadi klon yang satunya..'
Kakashi kemudian menarik salah satu Kaki didalam kubangan asap
"hebat tapi...ini sudah selesai Naruto.." Ujar Kakashi dengan senyum mata kepada klon berbentuk Sakura tersebut. "memang strategi yang hebat, tapi strategi mu masih memiliki kekurangan, kau seharusnya tahu, jika tiga dari empat bayangan meledak, jadi yang terakhir tentu saja akan ketahuan.. "
"siapa bilang ini sudah selesai?"
Mata Kakashi melebar ketika melihat Naruto yang seharusnya sebenarnya menjadi asap 'kage bunshin lagi!?'
"shanaroo!"
Kakashi dengan refleks yang cepat kemudian menghindar dari serangan Sakura, dan mendarat tepat diatas belasan shuriken yang sebelumnya sepertinya gagal meledak. Melihat hancurnya permukaan tanah membuatnya keringat dingin 'sepertinya aku harus serius'
Belum sempat Kakashi membuka mata yang tertutupnya. Matanya melebar ketika melihat shuriken yang tadinya tidak meledak tersebut kini berubah menjadi belasan Naruto dan menyerangnya...spesifiknya bel.
Melihat jarak yang dekat itu, Kemudian Kakashi menjadi agresif dan mulai menyerang balik klon tersebut.
"Rasengan!"
Mendengar jurus yang sangat ia kenali itu, membuat Kakashi langsung melompat kelangit dan memberikan perhatiannya kepada Naruto yang menyebutkan itu. Namun ia tidak menemukan apa-apa. Hanya Klon yang tersenyum dengan konyolnya sambil mengayun-ayunkan tangannya.
Namun kali ini Kakashi hanya bisa menatap dengan bodoh ketika melihat Sakura yang menerjang dirinya. Kakashi tidak bisa berbuat apa-apa diudara. Menangkis serangan Sakura sama saja dengan permintaan mati. Kakashi dengan cepat kemudian mengutarakan jurus pengganti, dan mengganti dirinya dengan belahan kayu...
Namun ketika ia berganti tempat, dirinya sudah dihadapkan dengan belasan Kunai lagi, dengan kecepatan tinggi, Kakashi kemudian menghindar dan menangkis beberapa Kunai.
"sudah cukup bermainnya" Kakashi kemudian menaikkan pelindung kepalanya. Dan menggunakan mata Sharingannya...
"kau terlalu terkecoh Sensei..."
Kakashi dengan cepat memutar balik dan menangkis serangan Naruto dengan Kunai. Dirinya keringat jatuh ketika melihat apa yang dipegang Naruto. Bukkannya Kunai...namun...pisau bedah. Mata Kakashi kemudian melebar ketika melihat Naruto menghilang dari hadapannya. Mata sharingannya kesulitan mencari Naruto..
'cepat sekali!?' Kakashi hanya tercengang sambil menangkis serangan Naruto yang sangat cepat. Berkali-kali Kakashi merasa kewalahan, mengerikan.
'hanya karena Sharingan...hanya karena mata ini aku bisa memprediksi kecepatan Naruto!'
Kali ini Kakashi berubah serius ketika melihat tangan Naruto yang penuh akan senjata tajam dengan berbagai jenis macam. Setiap belahan jari Naruto, terdapat senjata...dan itu tajam.
"mengapa kau berhenti menggunakan strategi dan menyerang langsung Naruto?"
Naruto hanya tersenyum tipis ketika mendengar pertanyaan itu. Sambil memutar-mutar belasan senjata tajam tersebut, ia berkata...
"terkadang didalam catur, jika permainan sudah sangat memanas...lebih baik melempar balik papan meja tersebut."
"jadi kau menyerah? Makanya kau langsung melakukan dengan cara ini?"
"tidak, aku hanya bercanda. Aku hanya mengatakan apa yang berada didalam pikiranku. Namun ketika kau memutuskan membalik-hamburkan meja catur...itu juga disebut dengan ... Strategi."
Mata Kakashi melebar untuk kesekian kalinya. Dirinya kemudian melihat beberapa kunai yang seharusnya berada tertancap dipohon belakangnya..hilang. Dan juga merasakan kesunyian dari sesuatu yang berbunyi di pinggannya.
Dan ketika melihat Sakura yang muncul disamping Naruto dengan bel. Dirinya hanya bisa tersenyum. Rasa bangga...
Iya, rasa bangga itu muncul didalam hatinya ketika melihat peningkatan jauh oleh kedua muridnya. Strategi yang sangat matang. Dan baru kini ia menyadari, bahwa setiap serangan yang dilakukan kedua muridnya itu dilakukan dengan tujuan membawanya kesudut. Membuatnya mengikuti permainan pikiran Naruto..
Tidak ada jurus hebat atau pergerakan yang mengaggumkan. Hanya jurus basis.
Namun jika digunakan dengan benar, maka jurus seperti itu pun bisa menjadi senjata paling berbahaya.
'Naruto bisa menutup kekurangannya. Kepintaran yang hebat. Dua tahun ternyata membuatnya lebih dewasa. Pikirannya juga mulai berubah...entah apa yang ia lakukan selama dua tahun itu?..namun aku berterimakasih dengan apa yang terjadi selama dua tahun itu.'
Xxxx
Sakura hanya tersenyum lebar. Dirinya kemudian terkadang memberikan lirikan kepada Naruto.
Inikah Naruto? Dirinya sudah berbeda dari dulu. Strategi yang diberikan Naruto membuatnya tercengang. Rasa tak percaya itu membuat dirinya susah keluar dari ingatan masa lalunya. Tidak pernah menyangka bahwa Naruto bisa melakukan hal sehebat ini.
Matanya kemudian melirik Naruto yang terdiam, melihat ekspresi Naruto yang serius membuatnya tersenyum lagi 'sepertinya...Naruto memang berubah'
'sasuke...'
'Semoga dengan ini, kami bisa membawamu kembali ke Konoha.'
Niat muncul didalam hati Sakura, untuk merayakan kedatangan rekan/teman yang baru datang dari dua tahun diluar Konoha tersebut. Tentu saja Naruto akan suka..
"Naruto mau kutraktir Ramen?"
Naruto melirik Sakura, ekspresi serius itu kemudian mulai jatuh perlahan. Digantikan...dengan senyum yang dipaksakan.
"maaf, Sakura. Bukan maksud menolak ajakanmu, namun aku sedang sibuk. Maaf sekali" Ujar Naruto dengan tatapan minta maaf. Naruto kemudian berlari kecil menuju arah lain.
"mungkin lain kali"
Sakura terdiam. Baru memproses apa yang dikatakan Naruto.
Naruto tidak pernah menolak dengan sesuatu yang berhubungan dengan ramen. Ia akan selalu menerima ajakan itu..
Naruto tidak pernah menolak berkencan dengan dirinya. Meskipun itu Cuma makan...
Entah mengapa, rasa aneh berada didadanya. Perasaan yang tidak pernah dirasakannya semenjak Sasuke beranjak pergi dari Desa. Perasaan yang memudar. Dan bagaiakan memudar ditiup angin.
Perkataan itu masih terngiang di telinga Sakura. Mungkin Naruto sudah melupakan perasaan itu...
Mungkin dirinya yang terlalu lama. Mungkin dirinya yang terlalu berharap banyak. Melupakan perasaan orang lain hanya karena keegoisan diri. Melupakan bahwa orang juga dapat mencari hal yang baru. Dirinya menganggap ia akan tetap sama. Dirinya menganggap semua tidak berubah dan berharap semua akan baik-baik saja..seperti dulu. Namun itu hanya imajinasi dari keegoisan diri. Maaf..aku menyesal
Naruto tidak seperti dulu. Meskipun itu kesalahan diri, namun nasi sudah menjadi bubur. Kesalahan tidak bisa diperbaiki. Salah diri, tidak pernah merespon perasaan itu.
Sakura hanya manusia, dengan perasaan manusia.
Tidak akan pernah mengerti dengan perasaan mereka yang terpaksa menjadi Monster. Hanya Monster yang mengerti Monster.
'Naruto telah berubah. Aku tidak tahu harus bersyukur, atau...'
Perpecahan itu sudah terlihat sejak dulu. Mungkin dirinya yang terlalu bodoh untuk mengacuhkan itu. Menganggap badai yang akan berlalu.
Tapi..badai itu tidak pernah berhenti.
XXX
"hebat, hebat.. engkau telah belajar dengan cepat...Naruto-kun"
Suara itu membuatku merinding. Suara hembusan nafas yang berada dileherku membuatku merasa aneh. Merasakan perasaan itu lagi. Membuatku tidak bisa menatap wanita itu dimata. Kedua tangan yang memeluk leherku dari belakang membuatku merasa aneh. Perasaan hangat ditengah dinginnya tubuh kami bagaikan pemanas alami. Yang tidak ingin kulepaskan.
"Tapi...terimakasih, Shinobu"
Rambut pirang emas itu menghalangi wajahku untuk melihat dirinya. Wangi shampoo yang dikeluarkan dari rambutnya membuatku menarik nafas dengan dalam. Menghisap semua keharuman yang disediakan. Baju piyama itu membuatku sulit memandangnya..
Baju piyama punyaku, yang bergaris, biasa. Namun ketika Shinobu memakainya... bagaikan sesuatu yang jauh dari kata biasa.
Bagaikan memeluk tubuhnya, memberikan ku pandangan penuh akan bentuk tubuhnya yang sempurna.
Aku pun membalik badanku, menatap Shinobu. Menatap matanya yang berwarna kuning. Aneh...kau vampir tapi matamu tidak merah? Pertanyaan bodoh memecah kesunyian kamar. Mencoba membuat percakapan, namun bagaiakan orang bodoh..
Sulit, ya sulit sekali. Dalam hidupku berbicara dengan wanita merupakan sesuatu yang sulit. Tidak pernah ada yang memberi tahu padaku bagaimana caranya. Dan aku hanya menatap mereka dengan apa yang kubisa.
"Bagaimana keadaanmu?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam sebentar. Menatap matanya yang penuh akan perhatian...
Bagaimana ya? Apa yang harus kukatakan?- apa harus kubilang, bahwa sinar matahari membuatku lelah? Apa harus kukatakan; bahwa aku melihat leher rekanku dengan niat jahat?-haruskah kukatakan; tenggorokanku aku haus? Bahkan air pun tidak bisa menghapus rasa itu?- Harus kah kukatakan; bahwa aku mulai melihat manusia dengan pandangan berbeda?
Apa perlu, aku katakan bahwa aku mulai merasa berbeda...jauh?
Kekhwatiran yang tidak pernah ada habisnya. Perubahan yang sangat cepat untuk bisa kuterima. Perasaan saat dirimu mulai berubah dan kau tidak bisa mencegahnya...
"engkau tidak perlu mengkhawatirkan hal seperti itu. Kau tidak akan berubah. Kau tidak akan menjadi apa-apa, jika dirimu tidak menginginkan itu. Kau akan menjadi apa yang kau mau. Bukan apa yang terjadi padamu yang membuat dirimu berubah. Yang membuat dirimu berubah adalah apa yang kau pikirkan.."
Ujar wanita itu tanpa melihatku. Merasakan dirinya mulai menaiki diriku. Merasakan hangatnya kedinginan kami. Wajahnya disandarkan pada leherku. Dadaku merasakan sesuatu yang lembut itu...
"kau mesum.."
Ingin aku memprotes hal itu. Namun kata-kata tidak mau keluar dari mulutku. Mengapa?
Karena aku tidak bisa menemukan kesalahan dalam apa yang ia ucapkan. Memang, aku berpikir kotor..Namun siapa yang disalahkan? Diriku remaja normal. Masih dalam proses pertumbuhan. Hormon yang perlu kau salahkan! Dan juga salahkan tubuhmu yang membuatku tidak bisa tidur dengan lelap!
"jadi tubuhku yang salah? Mengapa kau tidak bilang?"
Jantungku berdetak kencang. Mendengar suara sensual yang membuat otak-ku panas. Pipiku yang merah tentu saja akan membuat Shinobu tertawa. Namun siapa yang bisa menyalahkanmu?
Ketika dirimu melihat Wanita yang memberikan sedikit pandangan dari belahan dadanya dan...senyuman menggoda itu. Buruk! Buruk, Naruto!
Wajah Shinobu yang hanya beberapa centimeter dari wajahku.
Nafas yang mulai kurasakan...
Perasaan yang ingin keluar dari dada ini...
"Narut!- oh, astaga!"
Mataku melebar dengan cepat ketika mendengar suara terkejut itu. Suara yang sangat kukenal dengan baik. Dengan tatapan yang sangat terkejutnya, aku menatap Kakashi yang membeku diluar jendela apartemenku.
"sensei!?"
XXXXX
Kakashi berjalan dengan ...lamban.
Sesuatu membuatnya tidak bersemangat. Kekuatan aneh membuatnya tidak bisa bergerak dengan cepat. Kejadian itu serasa berulang-ulang dikepalanya. Naruto dan wanita cantik di satu ranjang...hampir itu-itu.
'aku kalah?...Naruto..dan wanita cantik?-dan aku?'
Naruto hanya bisa berkeluh ketika melihat gurunya yang berjalan dengan awan hitam suntuk.
Dirinya tidak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi. Dirinya tidak pernah mengira bahwa Kakashi dari beribu orang. Rahasia yang seharusnya hanya berada didirinya.
"Naruto..kau mendahuluiku..."suara Serak Kakashi.
"itu hanya takdir Kakashi-sensei. Kurasa kau pasti akan menemukan seorang wanita yang menyukaimu...dan juga hobi anehmu"
Air mata Kakashi mengalir lebih deras ketika mendengar perkataan Naruto. Itu ejekan! Awas kau Naruto! Suatu saat-
Suatu saat, jika ada wanita yang mencintai dirinya dan kekurangan yang ia punya...
Mungkin itu mengambil waktu yang cukup lama sebelum hal itu terjadi.
"jadi katakan Naruto; apakah wanita ini Ninja atau warga sipil?"
Aku kemudian melirik Sensei. Mengapa bertanya seperti ini?
Melihat wajah Naruto yang curiga itu kemudian membuat Kakashi tertawa halus.
"ah, tidak,tidak. Aku tidak mempunyai rencana apa-apa. Kebahagian itu pantas untuk dirimu Naruto." Jawab Kakashi dengan jujur. Dirinya senang, anak dari Gurunya telah menemukan sesuatu yang bisa membendung penderitaan yang ia miliki. Yang bisa membuat Naruto lebih merasakan kebebasan kecil dari beban yang dipikulnya.
"ah, iya. Dia hanya warga sipil, bukan Ninja" Jawabku dengan sedikit kaku.
"apakah dia tahu, apa yang kau tanggung?"
"ya, dia tahu. Aku menemukan satu orang lagi yang menerimaku apa adanya. Dan yang satu ini lebih spesial dari kalian.."
Kakashi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mata tersenyum sambil membayangkan kebahagiaan yang diterima Naruto.
"selamat, Naruto. Kuharap kau bisa menjaga apa yang merangkul hatimu."
"kuharap begitu..."
XXXXX
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Pikiranku merasa hancur saat mendengar kabar itu..
Aku tidak bisa menerima kejadian ini...
Aku tidak mengira, dia yang terlebih dahulu..
Aku tidak sadar, bahwa mataku terkadang berubah warna...
Aku tidak sadar, bayanganku terkadang menghilang. Aku tidak sadar, bahwa mereka melihat semua itu. Dan aku tidak peduli..
Mereka memberikanku tatapan khawatir. Namun, aku hanya membeku. Membayangkan nasib teman yang menanggung beban yang sama dengan-ku. Aku tidak bisa diam. Setiap detik yang berlalu, maka disetian detik itu, jiwa Gaara semakin memudar dari permukaan bumi.
Gaara, Monster yang baru belajar menjadi Manusia. Monster yang mencoba mengerti perasaan manusia. Suatu keanehan yang telah sembuh dari penyakitnya, dan mencoba menjalani senormal yang ia bisa...'dasar sampah! Beraninya mahluk rendahan itu!'
Aku tidak menyadari, bahwa cara pandangku akan manusia mulai berubah...
"hokage-sama!"
formalitas diperlukan. Itulah yang perlu kuajari. Tidak menggunakan panggilan yang biasa aku gunakan. Ini bukanlah waktunya untuk bermain-main. Aku perlu pergi menyelamatkan Gaara! Dan mendorong Rasengan ketempat matahari tidak terbit!
"diam Naruto! Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tugas baru untuk Tim Kakashi; kalian akan pergi Ke suna dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengabarkannya kembali ke Konoha, setelah itu kalian akan membantu Suna jika ada terjadi apa-apa!"
"siap!"
aku berharap aku tidak terlambat, aku berharap agar hal terburuk tidak terjadi...
Karena, hanya Monster yang bisa melindungi Monster.
Dan hanya Monster yang bisa menolong Monster.
soal fic lain, masih gantung. Karena kesibukan pribadi dan sebagainya. Memang ada yang sudah ditulis hingga setengah chapter(1500-2000 words). Namun entah seberapa lama itu pun, saya akan mengupdate cerita saya sampai tamat! *suer!*
review please~ jika ada pertanyaan silahkan diutarakan lewat Pm atau Review. Tanggapan, kritik, pujian akan diterima dengan baik oleh saya. Asalkan memiliki alasan yang mendasar..
Kristoper21 out!
