chapter 3: kami datang!


Perasaan yang berkecamuk didalam dirinya tidak bisa ia hentikan. Pikirannya terbang jauh memikirkan kejadian yang baru terjadi tersebut. Nafasnya yang terasa sesak saat mendengarkan informasi itu. Tidak pernah ia pikirkan, bahwa orang seperti Gaara akan tertangkap oleh Akatsuki. Namun, wajahnya hanya bisa merengut ketika memikirkan itu...

'Akatsuki, bukanlah organisasi yang bisa diremehkan..'

Itulah yang selalu terulang didalam batinnya. Perkataan Jiraiya mengenai Organisasi yang mengincar Jinchuriki. Mendengar betapa seriusnya Jiraiya berkata pada dirinya pada waktu itu membuat dirinya merasa lebih dingin daripada yang biasanya.

Dengan ekspresi penuh keseriusan, Naruto kemudian mengambil Tas miliknya. Tas yang berisikan perlatan Ninja yang ia perlukan. Memeriksa sekali lagi, apakah ada yang tertinggal. Naruto kemudian mengangguk pada dirinya sendiri, menyiapkan mental yang kuat agar dirinya dapat melewati semua rintangan yang menghalang dirinya saat akan menyelamatkan Gaara.

Mengunci pintu Apartemen-nya. Naruto kemudian melihat langit yang cerah, merasakan efek samping dari panas matahari terhadap kulitnya. Berdoa kepada dirinya sendiri, agar cuaca cerah tersebut membawakan hasil yang sama dengan misinya. Dengan menarik nafas, Naruto kemudian melesat ke Udara..

Menuju Gerbang Konoha.

"Semua sudah siap?"

Naruto tidak memberikan suara, namun mengangguk. Menatap Gurunya yang baru pertama kali datang ...tepat waktu. Dirinya tidak akan membuat pertanyaan atau sindiran mengenai ketepatan waktu itu. Karena ini adalah misi yang sangat penting..

Sang Hokage juga berada disitu, memastikan agar tim Kakashi berangkat dengan tepat. Naruto tidak memperhatikan perbincangan antara mereka. Yang hanya ada satu dalam kepalanya adalah; segera ketempat tujuan.

"Naruto, lakukan yang terbaik"

Dirinya hanya melihat orang yang berbicara itu dengan tatapan serius, dan kemudian memberikan senyum tipis "tentu saja!" kebulatan tekad sudah tercipta dihatinya. Namun, mendengar Iruka mendukungnya membuatnya tersenyum.

Mata Naruto beralih kepada orang yang baru datang tersebut. Melihat sosok Pria tinggi yang berbicara dengan Tsunade. Ya...Ero-sannin.

"kau tahu bukan? Ini misi yang sangat berbahaya, Naruto.."

Pertanyaan itu membuat Naruto terdiam sejenak.

"dan kau juga tahu bukan? Gaara adalah temanku! Tidak mungkin aku hanya diam saja, tidak berbuat apa-apa, sedangkan Gaara tidak tahu entah dimana!"

"namun, berhati-hatilah dengan mereka, Naruto. Mereka juga mengejar orang sepertimu" wajah Jiraiya kini telah menjadi serius.

"aku tahu. Namun, bagaimana-pun juga aku harus melakukan ini..dan kali ini, aku yang akan datang mengejar mereka!"

"ya,ya.. aku tahu itu. Kuakui; kau sekarang sudah lebih kuat Naruto. Kau melebihi perkiraanku pada saat kau berlatih, kau sudah lebih dewasa daripada waktu itu, namun, seberapa kuatnya kau dari sekarang.. akan ada orang yang akan lebih kuat darimu. Kau tidak boleh lengah, kau tidak boleh bimbang...dan kau tidak boleh kehilangan kendali akan kemarahanmu. Kemarahan, bukanlah sesuatu yang bisa membuat menang dalam pertarungan."

Jiraiya kemudian mengeluarkan senyum menyeringai yang lebar

"ingat, tetap tenang dan berpikir dengan logika, bukan dengan mengikuti hati yang penuh akan emosi yang tidak stabil!"

Naruto hanya menundukkan kepalanya, menyerap semua apa yang diutarakan oleh salah satu orang terkuat yang dimiliki Konoha tersebut. Nasehat itu dimasukkan kedalam hatinya...

"Naruto, jika keadaan benar-benar mendesak...gunakan jurus itu. Aku sudah mempunyai kepercayaan kepadamu."

Xxxxx

Angin hutan yang membasuh tubuhnya bagaikan membantu setiap langkahnya. Pepohonan besar yang selalu terlewati menjadi tumpuan lompat. Mata Naruto melihat kebelekang, melihat kedua rekan satu Timnya. Melihat mereka berusaha mengejar dirinya yang mulai menjauh. Tubuh yang ringan itu membuat dirinya bebas..

Bebas bagaikan burung di Udara, yang tidak memiliki batas langit. Setiap gerakan yang dilakukannya hanya menghisap sedikit dari tenaga yang ia miliki. Kecepatan penuh tanpa batas..

Namun Naruto menghentikan langkahnya, mendarat didahan pohon dan mencari posisi yang aman, dan kemudian melirik kebawah. Melihat Sakura yang berbicara dengan Temari. Dari raut wajah terkejut Temari, tidak salah lagi, ia belum tahu akan kejadian ini.

"Tiga hari. Tiga hari, adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai Suna, kita harus cepat"

Tidak perlu memberikan jawaban, keempat Ninja tersebut kemudian melaju cepat, menuju arah yang telah mereka tentukan.

Naruto mempercepat laju larinya. Lamban sekali...itu adalah yang berada dipikirannya pada saat ini. Jika diberikan kesempatan, maka dirinya akan langsung melaju dengan kecepatan penuhnya. Mata Naruto kemudian melirik kebelakang, melihat ketiga Ninja yang mulai jauh didepan mata. Ekspresi wajahnya berubah menjadi masam, tidak merasa perasaan itu muncul kembali. Eskpresi berubah menjadi ukiran batu kekesalan, dan dengan menghela nafas, Naruto kemudian memperlambat laju larinya...

"Naruto...meskipun aku bilang kita harus cepat, namun membelah formasi tim bukanlah hal yang bagus. Jangan terlalu panas...bukankah Jiraiya-sama mengatakan ini kepadamu?" Ujar Kakashi dengan nada menasehati saat telah bisa berlari dengan jarak dua meter dibelakang Naruto.

Namun, ketika melihat mata Naruto...dirinya hanya bisa terdiam.

Mata merah, ekspresi yang berbeda jauh dengan Naruto yang selama ini ia lihat 'apakah Kyuubi?...tapi mengapa ada yang berbeda?'

Temari, dan Sakura hanya terdiam melihat perubahan pada Naruto. Tidak berani membuka mulut, karena perasaan berat yang terasa pada tubuh mereka pada saat mata itu terlihat oleh mata mereka. Seperti...menghisap jiwa mereka.

"itu berarti ke-daifanmu, Kakashi. Jika kau tidak bisa mengejar, maka itu adalah kesalahanmu..."

Suara itu terdengar sangat dingin. Nada suara yang berbeda jauh dengan Naruto yang mereka dengar, tidak ada kehangatan itu sama sekali. Mengutarakan kata-kata itu seperti itu adalah kenyataan Dunia ini...

Kakashi hanya terdiam mendengar perkataan Naruto. 'sepertinya Kyuubi bertingkah..'

Tidak mungkin Naruto akan berkata sedingin itu kepada dirinya. Kemungkinan yang sangat kecil terjadi jika orang yang tersebut adalah Naruto, namun jika...pengaruh dari Kyuubi. Kakashi kemudian memberikan catatan kepada dirinya, untuk memberi tahu sikap Naruto.

Naruto kemudian mengambil langkah lagi, diikuti ketiga Ninja tersebut. Hening, hanya suara derap kaki terkadang saat menyentuh dahan pohon...

"Tahukah kau, aku adalah orang yang sama seperti Gaara?"

Pertanyaan itu membuat Sakura terdiam, dan membuat Temari terkejut. Namun, tidak mengutarakan kata apappun. Memilih membiarkan Naruto berbicara..

"kami sama, karena kami memiliki Monster yang terkurung didalam tubuh kami. Menjadi Manusia pengorbanan. Itulah aku dan Gaara..." wajah Naruto kemudian berubah menjadi pahit "dan monster itulah yang mereka kejar..."

"membuatku muak, akan perkataan mereka. Memperlakukan kami seperti Monster hanya karena kutukan yang diberikan oleh orang yang menyegel Takdir kami. Memperlakukan kami seperti senjata. Memperlakukan kami..seperti kami dibawah mereka! Tidak tahu diri!"

Kemarahan yang tertanam tersebut, akhirnya memunculkan wujudnya. Aura hitam, yang bagaikan percikkan api muncul dikakinya..

Bukan merah.

'Monster?...jadi, seperti diriku. Aku juga terlahir sebagai Monster..' ucapan tersebut terngiang dibenak Naruto..

"Dan...karena itulah aku sama dengan Gaara. Dia memiliki hidup yang lebih mengerikan daripada diriku. Dan disaat dia mengerti apa rasa hidup sesungguhnya... Organisasi itu merenggutnya!"

'bagi mereka, aku hanyalah Momento dari apa yang mereka ingin hancurkan pada waktu yang telah berlalu..'

'jadi, apa tujuan dari keberadaanku?'

'disaat aku memikirkannya...aku tidak menemukan jawaban akan pertanyaan itu.'

'mengapa hidup? Jika tidak bisa menemukan tujuan hidup?'

Mengingat kembali masa lalunya yang kelam. Tidak jauh berbeda dengan Gaara, namun perbedaan itu kemudian mulai muncul dengan waktu yang berlalu. Dirinya perlahan mendapatkan orang yang bisa dikatakan teman. Menjadi tujuan hidupnya. Jika, orang tersebut tidak ada didalam hidupnya...mungkin ia tidak akan berbeda jauh dengan Gaara..

Dan, Gaara?- ia memiliki masa lalu yang sama. Namun, jika waktu telah menyembuhkan rasa kesepian didalam hatinya.

... Gaara?

Ia tetap seperti dulu...

Sendiri...

"karena itu! Aku tidak bisa diam begini saja!-aku memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang benar, memiliki kekuatan yang cukup untuk menyelamatkan orang yang mengalami penderitaan yang lebih besar dariku!" Naruto kemudian memberikan Kakashi tatapan serius "jadi, jika kau katakan aku terlalu panas...apakah itu salah?"

"kita tenang, dan diam bagaikan Kura-kura. Sedangkan waktu telah mengejar Gaara! Dan karena itu aku tidak bisa diam saja! "

"karena, kali ini aku akan menyelamatkannya!"

'karena, hanya Monster yang bisa menyelamatkan Monster...'

Ucapan tersebut bagaikan kaset rusak didalam benak Temari. Tidak mau berhenti...selalu terulang-ulang...hingga membuat dirinya mengingat seluruh perkataan itu. Membuat dirinya mengerti dari setiap makna kata yang diucapkan Naruto. Disini, ada seorang Ninja asing yang mengerti adiknya melebihi dirinya sendiri. Melebihi dari orang yang mengenalnya sejak lahir.

Perasaan takut, jijik itu dulu pernah ada saat bersama Jinchuuriki dari Monster itu...

Dan dirinya merasa jijik kepada dirinya sendiri, karena memikirkan hal seperti itu. Tidak pernah mencoba mengerti perasaan Adiknya..dan mempercayai apa yang dikatakan orang. Bodoh...ya, sangat bodoh.

Dirinya merasa cemburu, ya. Dirinya merasa cemburu karena ada orang lain yang mengerti keluarganya daripada dirinya sendiri. Namun, masa lalu memang tidak bisa diubah. Tidak bisa diputar balik. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah..

Mencoba memperbaiki hubungan keluarga yang rusak itu. Meskipun telah melakukannya setelah kejadian itu. Namun sepertinya itu adalah kurang..

Temari kemudian melihat Naruto yang berlari jauh didepan. Senyum sedih muncul diwajahnya..

'terimakasih...Naruto.'

Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya bantuan dari Konoha yaitu Tim Kakashi dan Temari sampai ke Suna. Meskipun pada awalnya terjadi kesalah pahaman antara seorang Nenek tua dan Kakashi, namun kesalahpahaman itu akhirnya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Kondisi Kankuro yang memburuk akibat dari racun yang diterimanya dari pertarungan dengan Sasori, membuatnya nyawanya dalam bahaya. Tidak ada Ninja-Medis Suna yang berhasil melakukan pengobatan karena keterbatasan pengetahuan. Namun, Sakura...

Ia berhasil dengan mudah. Naruto hanya tersenyum melihat keberhasilan rekannya tersebut. Dirinya tidak menyangka, Sakura akan berkembang sepesat ini.

Naruto kemudian memilih keluar. Menikmati udara malam...yang dingin. Memberikan ruang, bagi Kakashi dan Sakura untuk melakukan tugas yang memerlukan keahlian mereka. Sedangkan dirinya hanyalah seorang Gennin.. hanya mengikuti perintah atasan. Menyedihkan...

Naruto menyandarkan punggungnya kedinding dan melihat kelangit malam. Bintang dengan jelas bisa ia lihat dari kejauhan sini.

Dan rasa itu datang lagi...

Naruto mencoba menelan ludahnya. Mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. Perasaan itu semakin lama, semakin sering datang. Menghantui dirinya dikala pikirannya kosong. Memang rasa haus itu masih belum seberapa, masih belum menganggu. Namun, jika ini terus berlanjut...maka ia tidak tahu harus berbuat apa.

Haus itu memang akan selalu ada. Selalu bersamamu. Dan karena rasa haus itulah, yang membuatmu menjadi bagian dariku. Mengingatkan pada dirimu, bahwa kau adalah Mahluk yang setingkat diatas Manusia rendahan itu. Rasa itu akan selalu ada, Naruto, selalu memintamu memenuhi permintaannya. Memintamu membasahi tenggorokanmu dengan darah segar Manusia hingga 'ia' puas..

Namun sebagai gantinya, 'ia' akan memberikanmu kekuatan yang jauh dari bayanganmu..

Kekuatan yang hanya terbatas untuk mereka sejajarku, Darah Bangsawan..

Yaitu...

"hei, Naruto" Suara itu membangunkan Naruto dari lamunannya. Ia kemudian dihadapkan dengan mata Kakashi yang tersenyum.

"ada apa, Sensei?" tanya Naruto dengan sedikit bosan.

"kita telah mendapatkan informasi mengenai penculik Gaara ini. 4 jam dari sekarang kita akan mengejar mereka dengan salah satu Anjingku. Jadi, siapkan tenagamu untuk saat itu. Gunakan waktu ini untuk istrahat. Aku tahu, seharusnya kita melakukannya esok, namun untuk Gaara...kita akan melakukannya secepat mungkin."

Naruto hanya mengangguk pelan. Merasa sedikit kecewa dengan waktu yang cukup lama itu. Ia merasa sekarang waktunya untuk mengejar Gaara, namun ia harus menghormati keputusan ketua Tim.

"baiklah, jadi kau tahu seorang dari anggota Akatsuki?" Naruto memutuskan bertanya, meskipun cukup jauh dari ruangan Kakashi, namun Naruto dapat menangkap sedikit pembicaraan antara Kakashi dan Kankuro.

"hm, benar,benar. Namanya adalah Sasori si Pasir merah. Kelas S. Dia adalah Ninja yang berbahaya karena teknik penguasannya pada boneka. Tidak hanya itu, ia juga terkenal akan racun mematikan yang ia miliki. Digabungkan dengan kedua itu, ia merupakan musuh yang tangguh untuk dikalahkan. Dan menurut deskripsi dari Kankuro, satu lagi adalah seorang Pria berambut pirang dengan teknik bom. Jika itu benar, maka ia berasal dari Iwa, karena hanya des itulah yang memiliki teknik yang seperti dideskripsikan tersebut."

Naruto membuat catatan didalam hatinya. Mengingat dengan baik ciri-ciri kedua orang tersebut.

dan ...membunuhnya.

Waktu berlalu dengan cepat, persiapan dilakukan dengan tepat. Mempersiapkan segala hal yang perlu dilakukan untuk melanjutkan misi tersebut. Kakashi menggunakan anjing-anjingnya untuk mencari keberadaan Akatsuki. Dan akhirnya membawakan hasil yang diinginkan.

Naruto menatap jauh padang pasir

'perbatasan Negara Sungai... jadi disitu kalian'

Naruto melihat argumen antara Temari dan Nenek tua tersebut. Memutuskan siapa yang ikut dan siapa yang tinggal. Membuat waktu semakin berkurang setiap detiknya. Melihat Temari tidak ikut, membuat Naruto menganggukkan kepalanya. Ia masih diperlukan di Suna...

"Baiklah kita berangkat!"

Dengan menarik nafas, Naruto berlari mengikuti Kakashi yang mengetahui asal sebenarnya...tidak mengetahui kejutan yang menanti dirinya. Tidak jauh dari tempat mereka, Bantuan dari Konoha juga sedang melaju dengan cepat menuju arah mereka, dipandu oleh Pakkun. Terdiri dari Gai, Tenten, Lee, Neji. Mereka adalah tim yang dikirim Tsunade sebagai bantuan misi tersebut.

Melewati padang pasir,Tim Kakashi dan Nenek Chiyo, kemudian berlari melompat melalui pepohonan. Mulai memasuki perbatasan Sungai. Perjalanan dilakukan dengan hening tanpa ada suara. Masing-masing dengan pikiran mereka.

"semua, berhenti!"

Naruto melihat aneh Kakashi yang menghentikan gerakan. Namun melihat jauh kedepan akan sosok orang membuatnya menelan ludah. Halangan lagi. Sangat berbahaya, itulah yang berada dibatinnya.

"Itachi..."Menyebutkan nama tersebut bagaikan racun..

Sosok yang dimaksudkan tersebut hanya melihat keempat orang tersebut dengan tatapan datar. Bagaikan tidak merasa takut atau gugup sama sekali. Mata Sharingan yang terpampang dengan dinginnya menatap ke Ninja Konoha tersebut..

"Kakashi-san, Naruto-kun. Pertemuan yang cukup lama..."

Chiyo hanya melihat dengan tatapan mengerut, kepada Pembantai Klannya sendiri tersebut. Tentu saja ia mengenal Uchiha Itachi. Berita mengenai pembantaian Klan terkuat tersebut menyebar kesuluruh Negara.

'ingat, Naruto. Suatu saat kau akan berhadapan kembali dengan pengguna Sharingan, baik itu Itachi ataupun Sasuke. Ini adalah cara yang dilakukan oleh Gai, salah satu Jounin Konoha; jangan pernah melihat mata mereka. Namun jika kau berhadapan dengan sosok seperti Itachi, kau harus mengerti dan menganalisa pergerakan Aneh yang mereka lakukan. Dia bukan hanya disebut sebagai master Ilusi hanya kerena matanya, namun juga penggunaan selain Doujutsunya.'

Pelajaran tersebut terulang di otak Naruto. Nasehat mengenai musuh yang hampir pernah berhasil menangkapnya.

Dengan cepat, Naruto kemudian membuat rencana dibenaknya. Membayangkan setiap kemungkinan. Persentase keselamatan. Keadaan sekitar. Dan juga, kemampuan yang dimiliki disetiap timnya. Melihat Kakashi yang masih berbicara dengan Itachi membulatkan tekadnya. Dengan diam-diam, Naruto membuat Kage-bunshin dan memerintahkannya berlari menuju kehutan menyiapkan rencan yang ia telah susun.

'bukan hanya dengan kekuatan hebat engkau dapat menang. Namun...kau juga harus mempunyai kemampuan berpikir untuk menyeimbangkan dirimu!'

Naruto hanya terdiam ketika mendengar suara wanita yang serasa berbisik ketelinganya. Ia tidak memberikan komentar akan apa yang dikatakan Shinobu. Hanya mengangguk.

Kakashi kemudian memberikan informasi mengenai cara menghadapi pengguna Sharingan kepada Sakura dan Nenek Chiyo. Naruto, memilih berdiam diri dan membiarkan Kakashi memberikan fakta.

"lebih mudah dikatakan, daripada dilakukan..."

Ucapan itu membuat Naruto melirik Sakura. Wajahnya mengkerut mendengar itu, namun Naruto juga tidak bisa mengatakan ketidaksetujuaannya. Hal itu memang sangat benar. Jika kau tidak memiliki pengalam bertarung hanya dengan melihat pergerakan tangan dan kaki orang, maka untuk melawan seseorang seperti itu adalah suatu kekurangan yang besar.

Naruto melirik kembali kepada Kakashi dan Itachi. Mempersiapkan diri ketika Kakashi menaikkan ikat kepalanya, menunjukkan mata merah dengan tiga titk hitam, Sharingan.

"Sudah saatnya, kau ikut denganku...Naruto-kun.." Itachi berbicara dengan mengunjukkan jari telunjuknya kepada Naruto..

'genjutsu!'

Dengan serius, Naruto kemudian melepaskan Chakranya dari seluruh tubuhnya. Menyebabkan kejutan angin mengelilingi Naruto, akibat dari chakra yang dikeluarkan.

"hampir saja.." Naruto berbisik kepada dirinya sendiri. Jika ia tidak diberitahu oleh Shinobu, mungkin saja ia sudah berada didalam genjutsu Itachi. Shinobu yang tinggal didalam bayangan Naruto, mempunyai kemampuan untuk mendeteksi perubahan kecil energi yang berada didalam tubuh manusia. Sekecil apapun perubahan energi tersebut, akan tetap terbaca oleh Shinobu..

"Kau tidak apa-apa, Naruto?"

Pertanyaan itu membuat Naruto melirik Sakura, yang menatap dirinya dengan tatapan khawatir.

"kalian! Berhati-hati! Tadi dia hampir saja menjebakku dalam genjutsu miliknya!"

Itachi hanya melihat Naruto dengan tatapan datar, 'lumayan...'

"tapi, aku tidak melihat dia menggunakan Segel tangan!?" Wajah Sakura berubah menjadi khawatir.

"Yang kita lawan bukanlah orang biasa, Sakura. Itachi, merupakan salah satu orang yang bisa menggunakan teknik ilusi tanpa segel tangan. Berhati-hatilah dengan gerak-geriknya" Ujar Kakashi dengan membagikan sedikit informasi yang ia miliki mengenai Itachi.

Dengan membulatkan tekad, Naruto kemudian menatap Kakashi, dan mengangguk kembali.

Kedua Ninja Konoha tersebut melesat menuju Itachi dengan kecepatan tinggi.

Itachi hanya melihat Naruto dan Kakashi dengan tatapan datarnya, dan menghindari setiap pukulan dan tendangan yang diberikan Kakashi.

"Rasengan!"

Mata Itachi melebar sedikit ketika melihat bola biru Chakra hampir mengenainya. Namun, berkat Sharingannya, ia dapat membaca pergerakan Naruto sebelum ia bisa bergerak.

'dia berkembang...mengeluarkan Jurus Yondaime-sama hanya dengan dua detik..' Itachi berpikir kepada dirinya sendiri.

Dirinya kemudian dengan mudahnya menghindari setiap serangan Naruto...

Yang sepertinya makin cepat setiap detiknya..

'hm.. kecepatannya bertambah. Dan sepertinya dia masih menahan diri...'

Setiap detiknya Naruto semakin kesal dengan ketidakberhasilannya mendaratkan satu serangan kepada Itachi.

Itachi kemudian merasakan pergerakan angin, dan suara yang begitu ia kenalnya. Matanya dengan cepat melirik keudara ketika melihat Puluhan shuriken dan Kunai menghujani dirinya. Apakah ia sudah mengatakan, bahwa disetiap senjata tersebut diselimuti kertas Peledak?

*BOOM!*

Naruto dan Kakashi melihat asap dan ledakan tersebut dengan bersiap-siap. Tidak mungkin dengan elemen pengejut seperti itu akan mengalahkan Itachi. Benar, apa pemikiran mereka berdua..

Itachi, berjalan dengan tenang melewati kubangan asap yang mengelilinginya.

Tanpa goresan satupun.

Kakashi, tanpa menunggu waktu, kemudian melesat kembali menyerang Itachi. Diikuti Naruto..

Itachi kemudian membuat segel tangan baru. Dirinya kemudian melihat kedua Ninja yang semakin dekat tersebut..

"Katon; Housenka No Jutsu!"

Belasan api kecil berbentuk bagaikan burung melesat menuju Kakashi dan Naruto. Kakashi dengan kemampuannya kemudian menghindar setiap serangan. Sedangkan Naruto, kemudian menggunakan Kawarimi, dan muncul beberapa meter diluar arah serangan tersebut.

Kakashi dengan melompat tinggi kemudian menerjang Itachi, namun bertemu dengan tendangan yang sangat keras dari Itachi. Membuat dirinya terpaksa keposisi bertahan dan terlempar belasan meter dan mendarat dengan kedua kakinya. Melihat dengan ekspresi serius..

Naruto kemudian beraksi dan berlari kecepatan tinggi, hingga dirinya hanya menjadi blur kuning. Dan kemudian membuat Rasengan disaat terakhir sambil berlari menuju Itachi..

'terlalu berani dan terprediksi..' Batin Itachi melihat Naruto yang hampir mengenai dirinya. Meskipun Naruto menggunakan kecepatan tinggi, namun Itachi tetap tenang, dan memprediksi setiap pergerakan Naruto. Dirinya hanya melihat Naruto berlari hanya dengan Rasengan tersebut, dengan kelenturan tubuhnya, Itachi kemudian menunduk dan menarik tangan kanan Naruto yang memegang Rasengan.

Membawa Naruto turun dengan paksa, dan menatap matanya..

"kita sudah cukup lama bermain-main..."

Itachi kemudian menggunakan jurus matanya dan mengirim Genjutsu kepada Naruto. Berniat untuk menidurkan Naruto. Namun detik berlalu dan tidak ada reaksi. Itachi kemudian memberikan senyum tipis kecil yang tidak terlihat orang karena kerah jubah Akatsukinya. Merasakan tarikan kuat dari Naruto

"sekarang!" teriak Naruto yang menahan dirinya.

Dua Naruto menerjang dari udara dengan dua Rasengan. Berniat menghancurkan Itachi ditempat..

*BLARR!*

Kedua Naruto tersebut menunggu hasilnya. Namun yang terlihat hanyalah tanah yang hancur. Tidak ada tanda-tanda Itachi. Dan serangan itu kemudian datang, kedua Naruto itu tidak mempunyai waktu untuk menghindar ketika menerima tendangan dari Itachi. Membuat mereka meledak dengan asap.

"hmm...Ketiganya Kage-Bunshin." Itachi kemudian melihat Naruto yang muncul didekat Kakashi.."tidak kusangka, orang semacam dirimu bisa menggunakan taktik seperti ini." Itachi kemudian mengedipkan matanya..

"Namun... tidak ada yang bisa tersembunyi dari mata ini"

Tidak terpancing akan sindiran tersebut. Kakashi dan Naruto kemudian membuat jurus Mereka masing masing.

Terdengar suara berisik bagaikan kicauan burung dari arah Kakashi, dan suara gesekan angin dari tempat Naruto.

Dengan kecepatan tinggi mereka kemudian berlari menuju Itachi dengan jurus yang sangat berbahaya itu. Setiap langkah yang diambil Kakashi menyebabkan kehancuran tanah...

"Raikiri!"

"Rasengan!"

Itachi yang melihat kedatangan Naruto dan Kakashi kemudian menunggu hingga jarak yang memungkinkan dan kemudian membuat segel tangan dengan jurus yang sudah ia siapkan. Dirinya kemudian menarik nafas.

"Katon; Goukakyuu No Jutsu!"

Naruto dan Kakashi tidak menghentikan langkahnya. Dan tetap berlari dengan kecepatan penuh. Kakashi memperlambat sedikit pergerakannya dan berada dibelakang Naruto saat bola api raksasa itu membakar mereka.

Itachi hanya terdiam menunggu..

Dan kemudian bergerak cepat menangkap tangan Kakashi yang diselimuti oleh listrik, yang muncul dari bawah tanah.

Namun ia tidak mengira akan Naruto menyerangnya. Matanya melirik Naruto, dan melihat matanya, yang berubah warna ke Merah darah...

Melihat pukulan dengan cepat itu, membuat Itachi bergerak dengan cepat dan menendang Kakashi, perhatiannya kemudian tertuju pada Naruto yang sepertinya dalam pengaruh Kyuubi. Setidaknya, itu yang ia pikirkan...

'sakit..' itulah yang dibenak Itachi ketika menerima pukulan demi pukulan dari Naruto. Ia tidak menyangkan kekuatan dibalik pukulan tersebut semakin berubah. Detik-demi-detik berlalu, namun Itachi tidak dapat menemukan celah kosong untuk menyerang. Dan terpaksa dalam posisi bertahan. Namun, dengan kekuatan dibalik pukulan tersebut membuat dirinya mulai merasakan efek dari serangan tersebut.

Kecepatan dan ritme pergerakan Naruto kemudian mulai berubah, tidak terlihat. Membuat Sharingannya mulai bekerja dengan kemampuan lebih untuk menebak setiap serangan Naruto.

'semakin lama waktu berlalu, ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan... malah sebaliknya, setiap serangan semakin cepat dan berbobot.' Itachi kemudian menangkis satu pukulan Naruto lagi...'jika begini terus, tulang ini pasti akan patah..'

Itachi kemudian melihat Naruto yang menyerangnya. Perubahan kecil tertangkap matanya saat berganti pukulan. Mata merah, kulit pucat, dan setiap sentuhan saat meninju...kulitnya dingin. 'apakah ini efek dari penggunaan Chakra Kyuubi?' hanya itulah yang ada dipikiran Itachi saat melihat perubahan Naruto, tidak ada penjelasan lain selain yang itu.

Namun mengapa? Mengapa ia tidak merasakan Chakra Mahluk buas itu?

"kau rendahan! kau hanya memperlambat kami." Itachi hanya melihat Naruto yang mendesis setiap perkataannya. Dirinya kemudian menangkis tendangan Naruto, yang membuatnya termundur sedikit. Rasa sakit itu mulai terasa disetiap tubuhnya...

"Ningen!"

Mata Itachi melebar ketika melihat Naruto dengan wajah terdingin yang pernah ia lihat muncul, dengan memegang bola biru besar..

"Odama Rasengan!"

Itachi hanya tersenyum tipis ketika melihat Rasengan yang lebih besar daripada biasanya mengenai tubuhnya. Dirinya tidak menyangka, Naruto akan berkembang jauh lebih dari ini. Meskipun ini hanya tubuh dengan 30% kekuatannya, namun itu merupakan sebuah peningkatan yang jauh. Bocah lemah yang dulu, kini sudah berkembang bagaikan Ayahnya..

Namun itu mungkin dari perubahan kecil yang ia lihat pada Naruto. Dirinya tidak tahu, apakah itu Kyuubi atau apa. Namun ia bersyukur, bahwa Uzumaki telah melebihi perkiraanya.

Mungkin rencana itu akan berhasil...

Itachi menghiraukan kehancuran tubuh yang ia rasuki dan melihat Naruto dimata sebelum jurus yang digunakan untuk merasuki terputus..

"kau...lumayan."

*BLARR!*

Naruto hanya diam. Melepaskan Odama Rasengan yang baru ia kuasai tersebut. Menghiraukan kehancuran yang ia bawa akibat dari jurusnya tersebut. Naruto mengeratkan kepalan tangannya saat melihat Mayat yang seharusnya Itachi. Mata merah tersebut kini kembali menjadi mata birunya. Efek dari penggunaan tenaga berlebihan telah ia rasakan...

"ia, bukan Itachi..."

Sedangkan disuatu tempat yang cukup jauh dari Naruto dan kawan-kawan.

Terlihat dua sosok yang bersila perlahan membuka matanya. Melihat satu sama lain, dengan ekspresi masing-masing.

"eh, kau juga dikalahkan Itachi? Padahal aku tadi lagi bersenang-senang, namun tubuh itu sudah kehabisan Chakra..payah."

Itachi hanya terdiam, mengacuhkan Partnernya yang mengutarakan hatinya akibat kesenangan yang terpotong tersebut.

"jadi, kau dikalahkan Kakashi?" tanya Kisame dengan tatapan percaya diri. Itachi hanya melihat partnernya sekali lagi, dan berbalik berjalan menjauh, tidak mengutarakan satu katapun.

"bukan Kakashi...namun seseorang yang lebih kuat."

Itachi berbisik dengan pelan. Membuat Partnernya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya. Itachi kemudian melihat kelangit cerah dan menghela nafas, mengingat kembali semua kejadian yang berada di ingatannya. Itachi kemudian menggigit bibir bawahnya saat merasakan hal yang telah mengganjalnya selama beberapa tahun tersebut..

'waktu semakin tipis...'


Oke, chapter 3 selesai. Lot of action. Saya menyesuaikan kekuatan Naruto agar tidak terlalu berlebihan. Meskipun terlihat sedikit demi sedikit, namun itulah yang saya rencanakan. Biar perubahan Naruto, berkembang dengan wajar(bukan satu malam langsung oye~)

meskipun hampir menjadi Vampir, namun efek dari perubahan tersebut belum terlihat penuh.

Di Chapter ini, saya mengganti POV Naruto menjadi mode Normal. Suka yang mana? Yang ini atau yang chapter sebelumnya? Pendapatmu? Dan juga saya menghilangkan sedikit gaya penulisan yang membuat orang terkadang tidak mengerti.

Jika ada pertanyaan, silahkan Review atau Pm. Namun, jika tentang Fic saya yang lain... akan saya katakan; masih diusahakan. Saya merupakan Author yang menulis chapter ketika ide ada di otak. Namun jika tidak, maka akan saya tunda. Saya bukan Author super yang bisa mengupdate cerita dengan plot super juga. Ini hobi, bukan pekerjaan. Itulah yang mau saya katakan... makanya saya sedikit tersinggung soal reviewer yang memaksa salah satu Fic di update. Tolong lah pengertiaanya...membuat Cerita itu tidak segampang membacanya...

Namun jika anda bisa membantu, dengan 'bagaimana chapter berikutnya...bagaimana interaksi antar tokohnya...dan seterusnya...' dan jika ada yang menurut saya cocok, maka saya akan ambil, dan akan mengutarakan rasa terimakasih saya kepada orang tersebut. Namanya akan saya tulis di Chapter itu karena membantu saya dari kerterpurukan para Penulis.

Jika ada salah penulisan, kapitalisasi dan sebagainya, yang membuat anda para Reader terganggu membaca...tolong dimaklumi. Karena saya tidak bisa membaca berulang-ulang fic yang saya kerjakan untuk memperbaiki apa yang salah.

Review sebanyak-banyaknya. Baik itu pujian, pendapat, saran, maupun Kritik(harus mempunyai alasan yang mendasar.) saya akan merasa senang jika saya menerima itu. Karena dari Review anda, saya akan merasa bahagia bahwa Fic yang saya kerjakan dan mengambil waktu saya dihargai oleh kalian yang membaca.

Kristoper21 Out~