Disclaimer: Not own anything. Sure... sure... maybe in another life?
Mengalir. Tidak terhenti... mengejar. Mencoba menggantungkan mimpi terhadap sesuatu yang sulit untuk dikatakan sebagai...nyata. Mata yang tak pernah lelah selalu mencoba menatap kejauhan. Pikiran yang berkabut akibat masalah yang mengganggu batinnya. Tidak perlu bersuara, tidak perlu mengutarakan satu kata pun. Membiarkan suara angin yang menjadi pemecah kebisuan hari yang cerah tersebut...
"Naruto, jangan terlalu cepat. Tenagamu akan cepat habis jika bergitu!"
Suara kekhawatiran Sakura yang terdengar di telinganya. Membuatnya melirik ke samping. Memberikan...atau lebih tepatnya mencoba tersenyum. Tersenyum palsu. Senyum yang dipaksakan. "Kau tahu sendiri, tenagaku tidak akan pernah habis, Sakura.."
Dengan begitu, Naruto semakin mempercepat laju larinya. Diikuti oleh ke-tiga Ninja lain.
Kakashi mendekat, memberikan tatapan kepada Sakura dan kemudian menghela nafasnya. Mengikuti laju Naruto yang menurutnya semakin cepat. Dirinya tahu, Naruto merupakan seseorang yang memiliki tenaga yang banyak. Namun ia tidak pernah membayangkan sampai segininya. Dirinya sendiri, saat ini mulai bernafas dengan berat. Tanda-tanda lelah karena menggunakan kecepatan yang berlebihan. Matanya melirik Nenek yang berada disampingnya. Ia juga terlihat lelah..
Mata Naruto menyipit ketika merasakan dirinya sudah hampir sampai. Dengan menguatkan pijakannya kepada dahan pohon, Naruto melompat ke angit. Merasakan terik panas matahari dan juga efeknya terhadap dirinya. Dengan tepat, Naruto memutar di Udara dan mengubah kakinya keposisi bawah, mengeluarkan chakra pada kedua kakinya dan menyelimutinya. Naruto mendarat di Air dengan lancar, tidak lama kemudian Ninja yang lain mengikuti.
"Jadi, ini tempatnya..."
"Naruto-kun!" Suara bersemangat yang menyapa pemuda itu.
"Lee-san, Gai-san, Tenten-san... Neji-san." Naruto menyapa satu persatu dengan senyum kecil di wajahnya.
"Kebetulan kami baru selesai menjalankan misi dan hendak pulang ke Konoha. Tapi mengingat jarak kami yang terdekat menuju area ini, kami pun ikut membantu atas perintah Hokage-sama." Neji menjawab dengan tenang. Mata byakugan-nya akitf melihat apa yang seharusnya berada di balik batu tersebut.
Sebuah Batu besar yang menghalangi jalan, menghalangi semua hal yang akan dilakukan. "Bagaimana ini?"
Mata Kakashi dengan perlahan melihat sekeliling batu tersebut, mencoba mencari tahu jenis Fuin yang tertempel di tengah batu tersebut. "Ini semakin merepotkan."
"Kakashi-sensei, bisakah segel ini dibuka?" Naruto bertanya dengan serius. Matanya menatap sekelilingnya. Dirinya bukanlah seseorang Ahli dalam Fuinjutsu. Dirinya bahkan tidak mengerti dengan apa yang ia lihat. Ia tahu...dirinya merupakan Uzumaki. Ia tahu mengenai sejarah mereka... Namun, betapa menyedihkannya ketika menatap Dunia. Ketika ternyata dirinya tidak memiliki kemampuan Uzumaki.
Ia tidak memiliki satupun dari ciri tersebut, seperti gen tersebut terlewat dari dirinya. Menyisakan seorang pemuda dengan sebuah Monster yang tersegel di dalam dirinya. Hanya itu yang membuat dirinya spesial di mata petinggi Konoha. Keturunan siapa dia itu bukanlah hal yang penting. Mengetahui siapa orang tuanya bukanlah hal yang ia inginkan. Jika bisa, ia tidak ingin tahu sama sekali. Rasa sakit yang masih berada di dada nya tidak akan mau memudar. Mengetahui siapa yang melahirkannya tidak membawa arti yang berbeda. Namun akan membawa kekosongan yang menyakitkan.
'Jiwanya mulai meninggalkan Dunia kehidupan...'
Suara itu membuat Naruto membeku sesaat, Bagaikan tidak bisa mengerti apa yang dikatakan Wanita yang menempati Bayangannya. Kemarahan mulai muncul ke permukaan. Ia berusaha untuk tenang, menenangkan detak jantungnya yang semakin mengencang. Itu tidak baik, ia mengingatkan dirinya sendiri. 'Darimana kau tahu?'
'Lucu sekali, Naruto-kun. Tapi Ciptaan kelas atas sepertiku akan menjelaskannya kepada engkau..'
Naruto menunggu dengan sabar. 'Dewa... Dewa dengan status rendah, menempati tempat ini. Ia bukan ciptaan yang suka mengusik keberadaan manusia. Ia hanya berdiam di sini. Menunggu menghilang.. menghilang dari permukaan Bumi. Jadi, saat kutanyakan... ia langsung memberitahu kan kepada diriku.'
'Menghilang? Bagaimana Dewa bisa mati?'
'Dewa merupakan Jenis Roh suci. Mereka terbagi dalam beberapa tingkatan, namun kita akan membahasnya nanti. Tapi mengenai yang berada di tempat ini merupakan Dewa yang tercipta akibat Doa-doa yang dilakukan oleh Masyarakat jaman dahulu atau sekarang. Mereka tercipta akibat doa yang diberikan kepada dirinya. Ia akan mengambil bentuk menurut dominan alam sekelilingnya. Dewa akan semakin kuat, dan akan meningkat ketika banyak orang yang mempercayai dirinya. Namun, ketika orang mulai melupakan dirinya, maka ia akan melemah, melemah dan kemudian menjadi ketidak adaan ketika mereka tidak diagungkan kembali..'
'Aku tidak mengerti...'
'Karena itulah kalian Manusia berbeda. Meskipun kau masih memiliki ciri Manusia, namun kau juga merupakan bagian dari kami, Kai'i. Dunia supranatural memang berbeda dengan Dunia manusia. Kami menjauhkan diri dari Manusia sejauh mungkin dan bersumpah tidak akan pernah ikut campur lagi dengan masalah Manusia. Hanya dewa yang membutuhkan persembahan Manusia yang mendekatkan dirinya terhadap Mahluk seperti rekanmu itu. Kematian dan kehidupan Kai'i sangat berbeda dengan kalian, Manusia.
"Tapi mengapa aku tidak pernah melihatnya!?'
'Karena... untuk melihat dewa, kau harus menjadi elemen keanehan itu sendiri.'
Naruto melirikkan matanya, menatap Sakura, yang saat ini memberikannya tatapan aneh.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Pemuda itu tersenyum kecil.
Senyum yang lebih cocok untuknya.
Sakura menggelengkan pikirannya sesaat dan menatap serius batu besar yang kini menghalangi jalan mereka. "Mungkin aku bisa menghancurkannya. Meskipun begini, aku merupakan murid dari Guru Tsunade, walaupun masih jauh dari kekuatan yang bisa dikeluarkan oleh Guru, aku yakin bisam menghancurkan batu ini."
"Tidak." Kakashi menjawab singkat. "Kita tidak bisa langsung main serang seperti itu. Jika memang benar penghalang ini hanya berupa batu besar, kita sudah lama menyelesaikan ini semua. Tapi, Fuinjutsu yang aktif merupakan sesuatu yang berbahaya untuk didekati."
Neji melihat ke beberapa arah, "Aku menemukan beberapa kertas yang sama tertempel dalam beberapa batu. Memiliki kaligrafi yang sama, yang sepertinya berhubungan dengan fuinjutsu yang berada di sini."
"Bagus, muridku!" Gai memberi jari jempol kepada Neji.
'Naruto... waktu kita tidak banyak.'
Detak jantung yang berdetak keras. Mata yang menajam seketika menatap batu penghalang tersebut. Pendengaran yang semakin tajam mendengar langkah kaki dan juga nafas yang memburu. Penjelasan yang diberikan Kakashi dan Gai ia dengar dengan cermat sebelum memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan.
"Naruto, apa kau memang benar tidak apa-apa? Kulitmu pucat sekali. Apa kau perlu istrahat?"
Naruto mengeratkan rahangnya. "Aku tidak apa-apa!"
"Hei... tidak perlu berteriak." Sakura mengambil langkah mundur, berbisik kecil saat mengatakan kata-kata tersebut. Naruto yang melihat aksi itu melebarkan matanya sesaat.
"Sakura.. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud berteriak seperti itu. Hanya saja situasi tidak memungkinkan... Tapi terima-kasih atas perhatianmu." Naruto mengutuk di dalam hatinya. Ia tidak pernah merasa seaneh ini.
Kakashi menatap kedua muridnya untuk sesaat. Sebelum kembali menatap Tim Gai, "Aku mohon bantuannya, kita akan menjalankan rencana itu."
"Baik."
Dan ke-empat Ninja itu melesat ke berbagai arah.
"Apakah kalian siap? Kalian hanyalah ninja muda. Lawan kalian adalah kriminal kelas S yang berbahaya. Sedangkan kalian hanyalah kumpulan Genin.." Chiyo menatap kedua muda-mudi tersebut.
"Nenek, kau tidak perlu khawatir. Kami bisa mengurus diri kami masing-masing, atau dirimu yang perlu bantuan untuk digendong? Mungkin pinggangmu sudah encok pada saat ini?" Naruto memutuskan mengeluarkan jawaban pintarnya.
"Bocah tengik."
Tidak berapa lama menunggu, kertas yang berada di batu besar itu menghilang. Tidak menunggu lama, Sakura bekerja dengan aksinya, mengambil jarak dan mempersiapkan tinjunya yang sudah terisikan oleh Chakra terfokus yang dibuat untuk menghancurkan.
Kakashi menatap Naruto, berniat melihat bagaimana muridnya pada saat ini. Matanya melebar, sesaat tadi, pemuda itu masih berada di tempatnya dan kemudian menghilang begitu saja seperti dihisap oleh angin. Hanya angin kencang yang berhembus yang menandakan kepergian Jinchuriki tersebut.
Langkah kaki bergesekan dengan permukaan air yang mengalir, bongkahan batu besar yang terlempar menjadi lambat, terlalu lambat. Mengambil langkah kaki ke samping menghindari peluru dari bebatuan tersebut. Semua menjadi blur, dan kemudian ruangan besar terlihat dengan jelas... hingga jelas menatap dua sosok berdiri, serta...
"Gaara..."
Tidak tahu apa, emosi yang bergejolak tidak bisa dikendalikan. Tidak terdengar oleh telinga akan suara nafas yang dihirup. Tidak bisa dikendalikan... air mengalir bertolak belakang akan gejolak gelombang yang berada di dadanya. "Hei... kawan, kau mendengarku? Aku cape-cape datang ke sini... setidaknya berikan jawaban. Hei.."
"Kau berisik sekali, nak. Dia sudah mati. Mungkin di alam lain dia akan mendengarmu. Hahahahaha. Lelucon itu memang tidak pernah tua." Pria dengan rambut pirang panjang itu menghapus air mata humor yang muncul dari satu matanya.
"Kau yang berisik, Deidara. Apa aku perlu memotong lidahmu?" tatapan yang seperti terukir jelas untuk melotot itu menemukan tempat di pandangan Deidara sebelum kembali ke Ninja Konoha yang menunjukkan diri mereka padanya.
Kakashi dan yang lainnya tiba, menatap dengan serius kriminal yang berada tidak jauh dari mereka. Rasa takut berubah menjadi kepercayaan diri. Gugup menjadi kekuatan. Dan pikiran menjadi fokus akan petarungan yang pasti akan terjadi. Wajah mengkerut menatap Gaara... atau mayat dari Kazekage yang tidak diperlakukan dengan baik tersebut.
Tidak ada waktu untuk berduka.
Penyesalan bukan waktu yang tepat untuk datang.
Namun hati yang menjadi besi diperlukan.
Menghadapi kenyataan pahit yang sebenarnya berada.
Deidara menatap Naruto... yang ia tebak merupakan Jinchuriki ekor sembilan mengingat ciri-ciri yang terlihat jelas di wajahnya. Senyum sinis muncul menghiasi wajah sebelum kaki menendang keras tubuh tak bergerak tersebut. "Kau lihat, bukan? dia tidak bergerak lagi... bahkan menjawab adalah hal terakhir yang mungkin jadi mukzijat. Ah... mungkin kau yang akan menjadi berikutnya... ekor sembilan. Siap-siaplah untuk diburu dan... mungkin kau bisa bertemu dengan satu jenismu."
Kakashi menatap Naruto, berniat menahan pemuda itu dari melakukan apa yang ia pikirkan. "Na—"
Tapi sudah terlambat.
Naruto melesat dengan kecepatan tinggi, satu waktu ia berada di samping Sakura dan selanjutnya sudah berada tepat di tengah Deidara dan Sasori. Mata anggota Akatsuki itu melebar sedikit sebelum menghindari tendangan dua arah putaran yang dilakukan oleh Ninja tersebut. Kejutan angin tinggi tercipta dari tenaga yang diciptakan oleh Naruto.
Tidak berhenti, dengan kedua tangan yang menjadi penahan tubuh, Naruto mendorong tubuhnya ke udara. Secara vertikal dengan kecepatan tangan yang saat ini berada di belakang tubuhnya. Ratusan kunai dan shuriken menghujani arah Sasori dan juga Deidara.
Tidak akan semudah itu...
Deidara dengan elemen alaminya, menggunakan jurus tanah untuk membuat tameng yang tercipta dari tanah di bawah kakinya. Melindunginya di saat itu juga. Sedangkan Sasori menggunakan ekor modifikasinya untuk mementahkan semua serangan yang menuju padanya.
"Oh, sepertinya jeruji ekor sembilan tidak selemah apa yang dikatakan oleh Itachi. Heh, menarik." Deidara menjilat bibir bawahnya.
Sebuah tangan yang menyentuh leher dari pemuda Kage yang telah tidak bernyawa itu. Tangan yang menjadi dingin bersatu dengan detak urat nadi. Kulit memucat yang kehilangan warna... dan mata yang telah menjadi merah.
"Akan kupastikan, kalian mati di sini."
Hawa membunuh yang membasuh cukup untuk membuat Kakashi menelan ludahnya.
Pergerakan Naruto telah berbeda, hawa keberadaan yang dia pancarkan tidak seperti apa yang ia pikirkan, atau pernah ia rasakan dalam hidupnya. Tidak ada kemarahan dalam wajah pemuda itu, hanya tatapan tajam dingin mata yang mengukir ekspresinya menjadi kosong... tanpa emosi. Tapi, melihat itu saja sudah membuat dirinya merasa harus berhati-hati.
Seperti Naruto bukan Naruto... meskipun dia memang Naruto.
Deidara membawa tangannya ke depan, bersiap mengeluarkan peledaknya. Senyum menyeringai berada di wajahnya.
"Lambat." Cengkraman tangan kuat yang dapat membuat tangan retak kini telah menahan Deidara. Bertatapan dengan mata merah yang berbeda dari lainnya. Mata merah yang mengingatkannya akan seseorang.
Deidara mengkerutkan dahinya, dalam satu detik berlalu ia menggunakan tangan kanannya, yang kini menggenggam sebuah Kunai untuk memisah jarah antara dirinya dan juga Jinchuriki tersebut.
Tanpa melirikkan matanya, tangan kiri Naruto memukul lengan Deidara, suara keras patah terdengar jelas beserta teriakan yang bahkan berdengung di gua besar tersebut.
"Kurang aja—"
Namun Naruto sudah bergerak terlebih dahulu, mengayunkan tangan kanannya ke wajah Deidara. Kejutan suara kembali terdengar, dan pria itu menghantam dinding gua batu tersebut, membuat retakan lebar yang menjalar dan membuat kubangan. Tidak berhenti di situ, Naruto menghilang kembali dari tempatnya.
"Rasengan!"
Energi aneh berwarna kehitaman bercampur dengan jurus tersebut, memudar dan menjadi gumpalan padat yang menjadi bola kecil tepat pada fokus Rasengan yang dibuat oleh Naruto. Pusaran kuat yang tertuju pada dada mendalam dengan kekuatan yang bahkan tidak pernah dirasakan sebelumnya, menggiling habis kulit, daging, tulang, beserta organ yang berada di dalamnya.
Retakan yang membuat ukiran spiral pada dinding gua tersebut.
"Deidara memang lemah. Lebih banyak bicara daripada bekerja. Bocah itu juga tidak hebat dalam petarungan jarak dekat, dan lebih memilih berada di udara di mana ia bebas menjatuhkan mainan bomnya. Lamban dalam melakukan sesuatu dan juga terlalu berisik. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau merasa marah. Kau merusak tubuhnya hingga aku tidak bisa menjadikannya koleksi terbaruku." Sasori berbicara dengan tenang, meskipun akan kebrutalan yang terjadi tepat di depan matanya.
Sedangkan Kakashi dan Sakura hanya bisa menatap tidak percaya akan apa yang terjadi. Mereka tidak pernah melihat Naruto seperti ini, tidak ada pergerakan yang terbuang sia-sia, kecepatan yang semakin tinggi dari sebelumnya. Dan juga aura aneh yang mengelilingi pemuda tersebut. Satu hal yang benar-benar mendapat perhatian mereka adalah... bayangan Naruto.
Bayangan pemuda itu tidak ada.
Bahkan dengan jelas matahari menyinari dan membuat bayangan yang sejajar dan sebentuk dengan pemilik tubuhnya.
Dirinya tidak tahu... tubuhnya terasa aneh. Semua terlalu jelas, semua seperti bergerak dengan lambat... dada yang begerak mengeluarkan nafas bisa ia lihat. Detak jantung bisa ia dengar... suara terlalu keras. Tubuh terasa terlalu ringan.
Seperti... bisa melakukan apa saja.
Seperti bisa menghancurkan siapa saja.
Berusaha menelan ludah.. tapi terasa susah, bahkan dirinya mulai merasa kering. Mulai merasa tidak merasakan cairan di dalam tubuhnya. Rasa lapar yang tidak pernah ia rasakan menyerang dengan seketika. Rasa lapar yang bahkan tidak pernah ia rasakan sejak kecil, bahkan waktu kecil rasa lapar itu tidak menyakitkan seperti ini. Perut seperti diputar dari dalam. Bergesekan satu sama lain.
Berdiri dengan pandangan berada di tempat teratas, pemuda itu memiringkan kepalanya, memberikan ekspresi datarnya meskipun pada saat itu ia menghindari serangan belasan senbon yang diluncurkan oleh Sasori.
"Kakashi-sensei... apa kita akan berdiam saja?" Sakura bertanya dengan khawatir, "Membiarkan Naruto menghadapi Ninja seperti... Sasori." Tidak tahu apa yang harus dipikirkan, apakah ini Naruto?
Kenapa bersembunyi...
Mengapa disembunyikan?
"Aku tidak menyangka Desa kalian berkembang sejauh ini. Seorang Genin yang dapat dengan mudahnya mengalahkan Ninja kelas S. Dan masih tenang menghadapi itu semua. Apa memang ini cara kalian menutupi sebagaimana kuatnya Desa kalian? Dengan menyembunyikan Ninja sekaliber dia dalam status tingkatan Genin?" Chiyo menatap kritis Naruto yang saat ini menghindari serangan Sasori kemudian kembali kepada Kakashi.
"Atau Desa kalian memutuskan untuk menahannya naik tingkatan? Mengingat statusnya sebagai Jinchuriki dan sejarah apa yang ia bawa. Sepertinya begitu, aku tidak mengerti mengapa anak itu menerima begitu saja."
Kakashi hanya terdiam.
Sedangkan Naruto, bergerak tanpa mengeluarkan satu patah kata lagi, pandangannya yang hanya fokus terhadap petarungan. Gerakan elegan yang tidak membuang apapun digunakan secara efisien. Mata yang hanya terbuka setengah hanya menunjukkan ketajaman dan tatapan merendahkan orang lain yang mulai membuat lawannya muak.
Sasori berusaha menjaga jarak. Anak itu dengan jelas ingin bertarung melalui jarak dekat. Petarung jarak dekat. "Terlalu marah, bahkan kau tidak bisa mengutarakan satu patah kata pun?"
Naruto tidak menjawab.
Tubuh menghilang di langkah cepatnya. Sasori menggunakan ekornya sebagai cambuk untuk menghalang Naruto yang mencoba mendekatinya. Kunai Kunai, Shuriken...
Secara bergantian keluar dari celah lengan pemuda tersebut. Tidak habis, bahkan pandangan juga sudah dipenuhi akan persenjataan yang menancap dalam ke permukaan tanah. Tenaga yang dikeluarkan anak itu bukan main, bahkan dirinya harus berhati-hati agar boneka yang ia gunakan sekarang tidak patah atau hancur dari serangan berbobot yang dikeluarkan Jinchuriki itu.
Lengah...
Dan pupil merah menghadapnya. Mata yang tidak pernah ia lihat, warna yang langka dimiliki oleh bola mata seorang manusia. Cantik... indah, namun tidak akan pernah dimiliki. Berbahaya. Bahan yang cocok untuk menjadi koleksi selanjutnya.
Sasori memutuskan disaat itu keluar dari bonekanya, sebelum salah satu koleksinya itu hancur di bawah tendangan tumit pemuda tersebut. Tidak berbicara dari apa yang lebih, ia mengeluarkan gulungan perkamen, dan mengeluarkan koleksi yang paling ia jaga selama ini. "Kazekage ke-tiga." Menggerakkan sepuluh jarinya dengan kecepatan yang membuat mata sulit mendapat pergerakan, Sasori menggunakan kemampuannya menggiring boneka-nya dan mengeluarkan teknik terkenal yang berada di tubuh yang telah menjadi boneka tersebut.
"Tidak mungkin... Kazekage ke-tiga."
Mata Kakashi melebar mendengar pernyataan tersebut.
"Terus apa?" Naruto mengkerutkan dahinya sesaat, "Terus apa? Apakah kau sudah merasa menang? Kau merasa hebat? Tidak... kau tidak hebat. Tubuh lemah yang terbuat dari potongan kayu yang bahkan rapuh... sama sepertimu. Makhluk hidup tetaplah makhluk hidup. Sedangkan Makhluk hidup yang berubah menjadi benda, tetap akan menjadi benda. Tidak ada perbedaan. Tidak bisa berpikir, tidak bisa mengerti... karena itu, kau akan kalah di sini."
Suara dingin itu kembali menjadi milik pemuda berambut kuning tersebut. Terdengar sama, namun berbeda di waktu yang sama.
Bayangan kecil yang membentuk di bawah kaki Naruto. Bayangan yang hitam menjadi pekat seperti melawan balik matahari yang mencoba mendominasi energinya. Perlahan namun dengan jelas, bayangan itu muncul ke kenyataan, menghancurkan semua hukum yang ada. Tidak berbentuk namun mulai menunjukkan rupa-nya.
Sebuah tangan yang terbuka menjadi tempat bayangan tersebut. Bayangan yang bergerak seperti api hitam menjalar dan memusat pada telapak tangan setengah manusia tersebut, tidak membakar, tapi menunjukkan keagungannya kepada pemiliknya. Bayangan yang memanjang hingga lebih dari dua meter, menunjukkan tubuh besi terbaik pekat hitam yang runcing pada bagian satu sisinya, meskipun terlihat diasah dengan baik dan hati-hati, tidak ada goresan, halus hitam tanpa ada cahaya pancaran yang terpantul dari matahari yang menyinari.
Katana... tidak, tapi Odachi.
"Apakah ini yang kau maksud... Shinobu?"
'...Benar. Tunjukkan mengapa para Vampir ditakuti, budak kesayanganku. Kukukuku~'
Energi yang meledak-ledak, memaksa untuk keluar. Menginginkan untuk digunakan. Haus akan kehancuran dan darah yang akan diberikan dari serangan. Itulah pikiran yang memasuki Naruto ketika memegang pedang tersebut. Terlihat berat, tapi ringan bagaikan sebuah bulu burung. Belum diayunkan hanya digerakkan, tapi dengan begitu saja pedang tersebut sudah memberikan efek tidak alami pada sekitarnya.
Naruto menatap Sasori.
Dan mengayunkan Odachi yang muncul dari perubahannya sebagai Kai'i. Sebagai bagian... dari Vampir. Realitas berupa kenyataan yang memberikan garis tidak nyata yang muncul mengelilingi pandangan, memancar dan menjalar ke segala arah. Tidak melakukan apapun, namun hanya meninggalkan garisan panjang di udara.
"Hanya itu? aku kira tadi apa... ternyata hanya Genjutsu murahan."
Vampir itu menutup matanya.
"Ya... hanya itu."
..
..
Bunyi tinggi yang mampu menghancurkan gendang telinga muncul dengan seketika.
Dan kehancuran terjadi.
Kakashi dengan cepat menggunakan Shunshin no jutsu, untuk menghindari radiasi serangan yang disebabkan oleh Naruto. Ia bisa merasakan darah yang mengalir dari pipinya akibat sayatan tipis tidak terlihat tersebut. Dengan menggunakan seluruh kemampuannya, Kakashi mengangkat Nenek Chiyo dan Sakura secara bersamaan...
Sebelum mereka mati terpotong-potong.
Garis kecil tersebut mengeluarkan keganasannya, garis kecil yang melebar hingga menjadi pedang tajam udara yang memotong apapun bentuk kenyataan padat. Gua besar yang kini menjadi saksi bisu kekuatan yang dimiliki oleh Vampir bangsawan terakhir yang di bawah ke alam manusia. Keanehan yang seharusnya tetap menjadi keanehan yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia.
Kini menjadi kenyataan.
Kakashi menahan dirinya untuk pingsan. Dirinya bukanlah seorang Ninja dengan kapasitas chakra yang besar. Menggunakan Shunshin no jutsu yang notabane membutuhkan chakra yang tidak sedikit sudah cukup menguras tenaganya, apalagi menggunakannya secara terus menerus dalam 4 kali berturut-turut. Ditambah dengan beban tubuh yang harus ia tanggung..
Semua itu untuk menjauh dari kekuatan yang dikeluarkan oleh Naruto.
Dikeluarkan oleh orang yang tidak pernah ia sangka sama sekali bisa melakukan itu.
Bukan Kyuubi...
Tapi Naruto.
Dan kakashi hanya bisa membeku melihat apa yang tadinya gua besar dengan pemandangan indah sekitarnya.
"Naruto... kau ini apa?"
Pertama... eee, maaf sekali tidak pernah mengupdate cerita ini. Hampir satu tahun cerita ini tidak saya urus. Nggak ada alasan, saya akui saja saya lagi malas dan juga terkena WB pada waktu itu dan melupakan cerita ini begitu saja dan melanjutkan yang lainnya. Jujur saja, saya memang sudah menulis 100 words chapter ini pada bulan februari kalau tidak salah, baru kali ini saya buka lagi folder Waktu yang membeku. Ketika saya ingin lanjutin, bah... saya meringis melihat tulisan saya yang begitu aw... Makanya saya tulis ulang chapter empat ini.
Mengenai chapter 1-3, aduh... banyak banget kesalahan yang saya buat. Dari cara penulisan yang benar, tanda baca, typo dan lain sebagainya yang menunjukkan betapa pemulanya saya setahun yang lalu.
Jadi bagi yang membaca ulang atau baru pertama kali melihat chapter 1-3, jangan terkejut melihat banyak kesalahan yang saya buat. Dan jangan membuang tenaga anda sekalian mereview kesalahan itu, karena saya sudah paham betul kesalahan macam apa saja yang saya buat pada tiga chapter pertama itu. Saya memang lagi ada rencana mau perbaiki tiga chapter itu, tapi menunggu liburan aja.
