Disclaimer: not own anything.
Kristoper21: Hm, what?
Sial... sial... sial. Karena terlambat... semua berakhir seperti ini.
Naruto hanya bisa melihat tubuh tak bergerak Gaara, tubuhnya yang tadinya masih memiliki kehangatan kecil kini telah menghilang meninggalkan dingin tubuh mayat. Mata dengan garis hitam itu kini telah tertutup untuk selamanya. Tidak bisa apa-apa. Masih teringat jelas hari itu, hari di mana ia bertemu dengan Gaara, rasa takut karena aura haus darah yang dipancarkannya dan juga sifat Gaara yang dingin dan pahit terhadap semua hal. Tapi, Naruto tidak melihat itu, tidak melihat bagaimana Gaara bertingkah hanya karena perkataan orang atau perilakunya dari luar, dirinya sudah lebih tahu daripada siapapun. Karena itu... ia mengerti Gaara. Mengerti penderitaan yang dialaminya.
Di saat Gaara sudah mulai mengerti apa arti merasa hidup dengan cara lain, Akatsuki menghancurkan itu semua.
"Sial... sial." Hanya kata-kata itu yang bisa dikeluarkan dari rahang yang mengerat Naruto. Alis mata yang mengkerut dengan mata berkaca. Efek Vampir sudah lama menghilang, meninggalkan Naruto yang pahit. Bahkan tingkat kehancuran yang berada di sekitarnya bukanlah menjadi masalah lagi bagi dirinya. Tidak menjadi perhatiannya sama sekali.
Pedang panjang itu perlahan berubah menjadi partikel hitam dan kemudian menghilang dari kenyataan, meninggalkan tangan kosong yang menjadi kepalan tangan.
"Naruto..."
Perlahan Naruto menatap suara yang memanggilnya, ada harapan kecil dari pupil pemuda itu ketika melihat sosok tersebut. "Sa-Sakura, apa kau bisa menyelamatkan nyawa Gaara? Kau pasti bisa kan!? kau muridnya Nenek Tsunade, bukan? kau pasti bisa melakukan hal yang mustahil seperti Nenek, bukan?"
Sakura hanya bisa menundukkan kepala seraya menggelengkannya.
"Sial... Sial... SIAL!"
Kakashi yang menggendong Nenek Chiyo yang pingsan kemudian datang. Tidak lama dari itu, Tim Gai yang sudah menyelesaikan misi-nya juga kembali, dan hanya bisa melihat dengan terdiam apa yang terjadi. Menyaksikan Naruto yang terduduk di samping mayat Kazekage. Memang misi melepaskan segel berhasil, memang misi mengalahkan anggota Akatsuki berhasil, namun jika Gaara sudah meninggal, maka hanya ada satu dari hasil semua jerih payah ini.
"Misi Gagal."
Hanya itu yang bisa diutarakan Kakashi sebagai Ketua jalannya misi.
Naruto hanya bisa memalingkan wajahnya ketika Temari melihat dirinya. Meskipun bukan dirinya yang menjadi perhatian, melainkan kantong besar yang berada di gendongannya. Tidak hanya Temari, melainkan Kankuro yang memaksakan tubuhnya untuk melihat tim Konoha yang kembali.
"Gaara!"
Naruto mengambil langkah mundur, membiarkan kedua saudara itu mengambil Gaara.
"Maaf... aku tidak bisa melakukan apa-apa." Kalimat yang Naruto ucapkan bagaikan bisikan itu mungkin tidak akan terdengar, mungkin tidak bisa menandingi suara tangisan dari Temari, atau menandingi teriakan kutukan Kankuro terhadap yang menyebabkan ini.
Membawa Gaara kembali tanpa nyawa bukanlah keinginan dari Naruto. Ini bukan keinginannya sama sekali. Harapan kecil yang selalu ia percaya bahwa semua akan baik-baik saja hancur dengan seketika. Tidak ada.. tidak ada yang bisa selamat ketika Biju mereka ditarik keluar. Hanya ada satu jawaban ketika hal itu terjadi.. kematian. Naruto tahu apa yang ia rasakan pada saat ini, dan bukan hanya dirinya yang merasakan ini.
Satu tangan terasa di pundak, Naruto menatap Kakashi yang memberikannya anggukan pelan. Ya.. dia benar, dirinya di sini bukan siapa-siapa, biarkan mereka berkabung.
KISS-SHOT-ACEROLA-ORION-HEART-UNDER-BLADE
Malam tiba dengan cepat, dan penguburan jasad Gaara akan dilakukan esok. Jalanan sunyi sepi bagaikan tak berhuni. Semua terdiam di dalam Rumah masing-masing. Masing menelan fakta pemimpin mereka telah tiada. Hal itu disaksikan Naruto dari jendela kecil kamar yang telah disediakan untuknya dari Suna. Kecewa itu mungkin perasaan Suna saat tim Konoha tiba dengan jasad Kazekage, tapi hal itu juga tidak bisa dikatakan, karena mereka tahu bahwa semua dari awal memang sudah terlambat. Tidak ada yang bisa disalahkan kecuali biang dari kejadian ini. Akatsuki.
'Jangan terlalu lama bersedih. Sebagai budakku, hal itu tidak bisa dibiarkan. Kematian adalah akhir untuk semua makhluk hidup, hanya waktu yang kita tidak ketahui.'
Nada angkuh dengan suara anak kecil menyambut Naruto dari bawah kakinya, tepat berada di bayangannya. Kasar, namun perkataan Shinobu tidak ada yang salah. Bayangan tubuh di bawah kaki Naruto perlahan bergerak tidak sesuai dengan akal sehat manusia, perlahan dari pekatnya bayangan keluar kepala Shinobu beserta tubuh kecilnya. Dengan senyum menyeringai namun memiliki keseriusan yang tidak bisa dipastikan.
"Aku tidak mengerti mengapa kau suka dengan bentuk anak-anak."
"Ku ku ku ku, Pelayanku, apakah kau begitu terangsang hingga hanya ingin melihat tubuh dewasa ku yang indah itu." Suara khas Shinobu dipenuhi dengan kebanggaan namun juga beserta pengertian. Tentu saja Naruto berpikir lain. Tanpa diundang, gadis kecil itu memanjat Naruto dan dengan santainya duduk di kedua pundaknya dengan kedua tangan memegang kepala dari Ninja tersebut.
"Hhm, bibir kering, konsentrasi hilang, kebanyakan merenung, dan haus yang tidak pernah hilang meskipun sudah meminum air."
"Ya, kurasa kau benar." Naruto tersenyum pahit, "Aku tidak tahu berapa lagi aku bisa bertahan sebelum menyerang orang lain dan melukai mereka hanya untuk menghilangkan rasa tidak enak ini."
Gadis kecil berambut pirang itu mengerutkan alis matanya. "Mengapa kau harus peduli dengan itu, ingatlah dirimu bukan lagi makhluk kelas bawah. Manusia hanyalah stok makanan untuk vampir. Apalagi bagi dirimu yang berhubungan dengan bangsawan seperti diriku." Naruto tidak tahu harus merasa tersanjung atau terhina mendengar perkataan Shinobu.
"Sekarang kau hanya Anak kecil, jadi bertingkah sedikitlah layaknya seperti itu."
Shinobu mengembungkan pipinya cemberut, aksi yang dilihat Naruto dan membuatnya tertawa kecil. Tentu saja bagi Shinobu yang tidak pernah disubjekkan seperti itu, hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan menjambak rambut pemuda itu. "Hei hei hei!" Naruto menahan sakit dan berusaha melepaskan tangan Shinobu yang seperti berusaha menarik akar tumbuhan.
"Kau dasar tidak tahu diri! Seumur hidup aku tidak pernah dipermalukan seperti ini!"
"Ampun!"
Tanpa tersadar, Naruto terjatuh ke tempat tidurnya bersamaan dengan Shinobu. Keheningan mengganti kebisingan yang tadi tercipta, pandangan mata berada satu sama lain dengan tubuh yang hanya terpisah beberapa inchi.
Naruto tidak pernah menyadari atau memang dirinya yang kurang peka akan hal seperti ini. Tapi jika dilihat dengan jelas, Shi... tidak, tidak Shinobu lagi, gadis kecil itu sudah merubah tubuhnya kembali menjadi dewasa, ya.. jika dilihat dengan seksama, Kiss-Shot memiliki wajah yang cantik, bahkan sangat cantik bahkan tanpa niat melebih-lebihkan. Kecantikan yang tidak bisa dijelaskan dan juga keindahan yang seharusnya tidak dimiliki oleh manusia.
Pandangan menurun sedikit, dan Naruto bisa melihat jelas belahan dada Kiss-Shot yang membuatnya menelan ludah. Kulit putih mempesona di bawah sinar bulan seperti membuatnya ingin menyentuhnya. Anak dari Uzumaki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, tidak baik untuk berpikiran seperti itu. Melihat kembali wajah Kiss-shot Naruto disuguhkan dengan senyum menyeringai yang seperti tahu segalanya.
"Ku ku ku, Haruskan aku mencungkil ke-dua matamu karena melihat tubuhku dengan mata penuh nafsu seperti tadi. Tadi kau berani menggodaku dengan hinaan itu, sekarang kau diam menjadi pengecut tak bersuara yang tidak bisa menahan wanita dewasa sepertiku." Wanita yang penuh dengan tanda 'Dewasa' itu mendekatkan wajahnya kepada Naruto, bibir tipis merah muda yang seperti mengundang membuat Naruto menelan ludahnya untuk kesekian kalinya.
"Mengapa kau menjauh?" Kiss-shot bertanya dengan menaikkan alis mata, "Tidak ingatkah janjimu setelah menyelamatkanku, bahwa kau adalah milikku dan aku adalah milikmu, atau kau sekarang merasa berbeda?" Mata berwarna kuning itu menatap dengan pertanyaan.
Naruto menghirup nafasnya, tidak memperdulikan lagi bahwa detak jantungnya sangat keras dan kedua tangan keringat dingin. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu menghubungkan bibir dengan bibirnya.
Dan tidak ada lagi yang menjadi masalah.
0o0o0o0
Sebuah kastil megah, tapi Naruto tidak tahu di mana. Orang-orang berjalan dengan senyum di wajah, membawa senjata satu sama lain namun bukan untuk berperang atau bertarung. Warna kulit yang berbeda, struktur wajah yang berbeda dan juga bahasa yang aneh ditelinga namun mengerti di hati. Orang-orang berjalan menuju satu arah, Naruto berusaha bertanya namun tidak ada yang mendengarnya. Dan baru ia ketahui, bahwa tidak ada yang bisa melihat tubuhnya bahkan mereka tembus seperti dirnya tidak berada di situ. Terkalahkan oleh keingin tahuannya, Naruto berjalan dan mengikuti hingga berhenti di depan bangunan megah.
Mereka memanggil nama, menyorakkan dengan penuh kehangatan yang tidak bisa dijelaskan. Tangan melambai lambai ke satu tempat, dan ketika pandangan pemilik nama itu melihat ke arah orang yang bersorak, kerumunan itu menjadi histeris. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Naruto ingin tahu apa penyebabnya. Karena itu ia menatap ke arah yang dituju.
Rambut berkilau emas mengikuti arah udara. Mata kuning memancarkan kebosanan yang terlihat dengan jelas. Bukan senyuman menggoda atau keangkuhan. Melainkan wajah cantik yang tidak memiliki ekspresi sama sekali. Tidak memperdulikan bahwa semua orang memanggil namanya dengan nada yang tidak sehat.
Wajah yang Naruto sangat kenal.
"For you, i'll give my eyes!"
Naruto tahu kata-kata itu asing baginya, namun dia mengerti apa yang terjadi. Seorang seniman lukis mencongkel matanya sendiri. Naruto ingin menghentikan itu namun terlambat. Belum selesai ia menghentikan itu, suara yang sama terdengar namun sosok yang terlihat seperti penyanyi itu memotong lidahnya sendiri tanpa ada rasa penyesalan.
Satu demi persatu.
Tanpa ada teriakan, hanya ada suara kegembiraan.
Ayah membunuh anaknya dengan pisau bagaikan nyawa itu sebagai hadiah. Satu persatu orang membunuh dirinya masing-masing dengan senyuman lebar di wajah. Darah terciprat ke mana-mana.
"A-apa ini..."
Bagi mereka tidak ada yang aneh dengan kejadian ini. Bagi wanita yang berdiri di balik jendela kastil itu, tidak ada yang aneh.. namun wajahnya mengkerut melihat aksi itu. Dan Naruto baru menyadari bahwa selama ini yang ia pijaki bukanlah tanah, melainkan tubuh manusia yang sudah menimbun satu sama lain.
ada hadiah yang lebih berharga dari perhiasan, ada hadiah yang lebih indah dari lukisan selain nyawa sendiri. Bagi mereka yang memandang wanita itu dan mengetahui isi hatinya, yang paling berharga lebih cocok untuk diberikan hanyalah Nyawa sendiri. Baru Naruto sadiri itu, bahwa timbunan mayat mulai lebih tinggi daripada kastil itu. Senyuman yang terukir di wajah mayat yang menumpuk seperti mengatakan bahwa dirinya senang memberikan hadiah paling berharga yang ia miliki.
Segala barang berharga tergeletak di depan kastil itu, barang yang seharusnya berjual mahal tinggi yang sudah dijadikan hadiah terdiam di depan pintu seperti pekarangan yang ditumbuhi.
Cerita seorang manusia yang memiliki kecantikan tiada tara hingga orang yang datang tidak lagi memberikan dirinya hadiah material, melainkan hadiah yang paling berharga, itu bermula setelah seorang Penyihir mengabulkan permintaan seorang gadis yang ingin dilihat tidak hanya dari rupanya, namun juga dari isi hatinya. Sang penyihir itu mengabulkan permintaan tersebut tanpa bayaran apa-apa, ketika impian itu terkabul; cahaya muncul dari belakang gadis itu dan menyinari seluruh kerajaan, membisikkan apa yang selama ini diinginkan oleh sang gadis.
Sang Ayah bunuh diri karena tidak bisa mengerti perasaan puteri kesayangannya selama ini.
Sang Ibu yang telah mengetahui isi hati anaknya hanya bisa bahagia karena berhasil melahirkan anak yang sempurna. Karena merasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di dunia, sang Ibu itu juga bunuh diri.
Orang yang biasa memberikan hadiah material berusaha untuk mendapat perhatian sang gadis, kemudian berubah setelah mengetahui keinginan hati sang gadis. Tidak lagi memberikan hadiah material. Melainkan hadiah paling berharga untuk menandingi kecantikan dan keindahan perempuan tersebut.
Itulah awal mula legenda keanehan Vampir terkuat; Kisah yang diawali kejatuhan sebuah kerajaan karena kecantikan seorang gadis.
Kiss-Shot-Acerola-Orion-Heart-Under-Blade.
Naruto terbangun dan langsung menarik nafas dalam yang sesak. Keringat bercucuran dari dahi dan seluruh tubuhnya, mata melebar seperti baru ditarik dari mimpi buruk yang tidak ingin ia lihat lagi. Menatap ke kiri, seperti bertemu dengan penyebab mimpi buruk itu, tapi perempuan itu sudah tidak ada. Ingin Naruto memanggil Shinobu, tapi menahan diri.
Ya.. Mimpi, itu hanya mimpi buruk. Mimpi buruk paling nyata yang pernah ia lihat.
"Naruto, apa kau sudah..." Pertanyaan itu berhenti di bibir Sakura ketika melihat Naruto. Naruto yang telanjang dada sedangkan bagian bawahnya, Sakura tidak mau tahu. Ada yang berbeda, jauh berbeda dari apa yang pernah lihat. Tidak, Tidak... Naruto tidak pernah semenarik ini. Sakura menyadari apa yang ia lakukan dan hanya bisa menahan pipinya terlihat padam di depan mata Naruto.
Naruto yang melihat Sakura hanya bisa mengkerutkan alisnya. Tidak, kekuatan itu tidak boleh keluar. Harus dikendalikan. ""Ya, Sakura?" Senyum dengan sedikit paksa dikeluarkan Naruto.
"...Guru Kakashi meminta kita untuk bertemu."
Kali ini dengan senyum alami Naruto berkata, "Baiklah, berikan aku 5 menit. Hm, Sakura.."
"Y-Ya?"
"Aku ingin ganti baju, bisakah... atau mungkin kau ingin melihat tubuhku yang telanjang, Sa. Ku. Ra. -chan?"
"Tentu saja tidak, bodoh!" Sakura membanting pintu tersebut.
Naruto tertawa kecil, namun emosi itu perlahan turun digantikan dengan tatapan jauh.
"Gaara, aku janji akan menyelesaikan ini semua. Namaku bukan Uzumaki Naruto jika tidak bisa menepati janji."
0o0o0o0
"Naruto, senang kau ikut hadir." Kakashi menyambut dengan senyum matanya. Naruto hanya mengangguk, dan memilih duduk di salah satu kursi lobi Hotel tempat mereka menginap. Tidak hanya Kakashi dan Sakura, tapi juga tim Gai yang ikut bersama. Mereka mengambil tempat masing-masing dan memasang wajah serius untuk mendengarkan bagaimana kelanjutan setelah ini.
"Kita akan kembali ke Konoha, dan memulai perjalan pada malam hari agar pada pagi hari kita bisa sampai." Kakashi kemudian melihat Gai, "Kau setuju, kan?"
"Mau pagi Hari , siang hari atau malam, Tim Gai-"
Belum selesai guru dari tim tersebut berbicara Kakashi telah memotong. "OK."
"Seperti yang kalian tahu, Kazekage diculik oleh Akatsuki dan kita ditugaskan sebagai bantuan untuk membawa kembali Gaara dengan selamat, tapi... misi kita gagal dan Akatsuki telah berhasil mengambil ekor satu, Shukaku terlebih dahulu. Mayat anggota Akatsuki yang kita ketahui merupakan buronan dua Negara; Sasori si pasir merah dan Deidara si peledak. Mayat dari Sasori telah diurus oleh Suna. Sedangkan Deidara, kita akan membawanya ke Desa." Kakashi membiarkan perkataannya diserap untuk beberapa detik sebelum ia melihat Naruto, "Semua ini berkat kau, Naruto. Kau berhasil mengalahkan kriminal kelas S. Sepertinya latihanmu selama dua tahun lebih ini membuahkan hasil."
Naruto hanya terdiam, meskipun terdengar pasti bahwa Kakashi memujinya dengan perkataan itu.
"Tapi, itu tidak cukup untuk membawa kembali Gaara hidup. Kekuatan tidak ada gunanya jika tidak bisa menyelamatkan temanku." Mendengar kalimat bisikan itu, semua hanya terdiam.
Kakashi menatap muridnya dengan pandangan yang cukup lama. Ia tidak tahu bagaimana, tapi Naruto berubah. Tidak hanya dari sifatnya yang sekarang mulai lebih dewasa, namun juga Naruto itu sendiri. Kakashi tidak bisa menjelaskan, ada sesuatu yang janggal dari Naruto sesuatu yang aneh dan tidak seharusnya ada di situ. Kakashi tidak tahu apakah baru kali ini ia menyadari hal itu, atau hal ini sudah lama terlewati tanpa sepengetahuannya? Mungkin selama ini ia kurang memberikan perhatian pada Naruto, sehingga hal ini terjadi.
Namun Kakashi tahu, ini tidak mungkin karena Kyuubi. Tidak, Kakashi tahu betul bagaimana jika Kyuubi mencoba sesuatu. Serangan Kyuubi belasan tahun yang lalu sudah cukup untuk mengukirkan perasaan mengenai chakra monster tersebut. Memang perubahan itu tidak terlihat untuk sekarang, tapi Kakashi yakin perubahan yang terjadi pada Naruto akan merubah sesuatu. Perubahan yang tidak normal. Mungkin setelah tiba di Konoha, ia bisa mencari tahu lebih dalam lagi, Tuan Jiraiya mungkin memiliki jawaban akan hal ini. Mengingat dialah yang paling mengetahui kondisi Naruto selama latihan tersebut.
Malam tiba dengan cepat, dan Naruto yang berada di kamarnya mulai mengemas barang-barangnya. Masih terasa dengan jelas diingatan tangan dingin Gaara dan juga mata yang tidak akan pernah terbuka itu. Dirinya mungkin tidak selalu bertemu dengan Gaara, tidak berbicara sesering dirinya pada Sakura atau Kakashi, tapi... Naruto merasa dirinya yang paling mengerti Gaara. Mungkin itu karena rasa sakit yang mereka dua jalani semasa kecil, atau mungkin juga karena beban yang mereka pikul. Gaara adalah teman... bagi Naruto kehilangan teman lebih menyakitkan daripada kehilangan harta benda.
Mungkin... itu juga yang membuat Shinobu bertingkah seperti itu.
Tidak pernah mengapresiasi hadiah yang diberikan orang kepadanya. Melainkan hanya tersenyum palsu menutupi kesedihannya.
Bukan materi, tapi... teman.
Pemuda berambut kuning itu menggelengkan kepalanya dengan pelan, tidak baik untuk memikirkan masalah itu lagi. Apalagi mengingat mimpi buruk yang terlalu mirip seperti kenyataan tersebut.
"Naruto... ini aku, Temari."
Temari? Apa yang dilakukan perempuan itu di malam hari seperti ini? tidak... Naruto mungkin tahu betul apa yang menjadi alasan Kakak Gaara itu datang mengunjunginya. Tapi, Naruto tidak tahu alasan apa yang mungkin keluar dari mulutnya, bagaimana reaksi Temari? Terakhir kali ia melihat Temari adalah dengan wajah berlinang air mata. Apakah dia akan marah? Apakah dia akan menyalahkan semuanya pada dirinya? Tidak, tidak baik memikirkan hal itu. Jikalaupun benar Temari menyalahkan dirinya, Naruto tahu ia memang berhak menerima kemarahan itu.
"Kau boleh masuk Temari-san, pintunya tidak dikunci." Naruto menarik nafas dalam dan membawa pandangannya ke arah perempuan yang baru masuk tersebut. Gadis itu berjalan dengan pelan, wajahnya datar tidak menyimpan emosi.
"Bolehkah aku duduk di sampingmu?"
Naruto mengangguk tanpa banyak tanya, dan mengambil jarak sedikit dari kasur untuk membuat tempat bagi Temari.
Hening beberapa saat, dan pada saat itu Naruto tidak berani untuk menatap wajah gadis tersebut. Dirinya sadar hal itu terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Temari. Yang terkadang mengambil pandang sesekali dengan emosi yang tidak jelas, namun bercampur.
"Aku.. minta maaf." Naruto memutuskan bahwa keheningan itu terlalu menganggu. Memang ini yang ia rasakan pada saat ini dan Temari pantas mendengarkannya. "Aku minta maaf tidak bisa membawa agar dengan..."
"Kata maaf tidak akan bisa membawa adikku kembali... Naruto." suara pelan namun jelas itu membuat Naruto terdiam. "Tapi, kau tidak perlu minta maaf." Temari menatap Naruto dengan senyum di wajah, senyum sedih yang membuat Naruto makin merasa bersalah. "Ini bukan salahmu, tapi memang semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa kau lakukan mengenai itu. Tapi, aku berterimakasih padamu... sangat berterimakasih. Karena dirimu, Gaara bisa menjadi sekarang, meskipun tidak lama... dia mengerti bagaimana rasanya menjadi manusia. Aku dan Kankuro sudah melakukan yang terbaik agar Gaara bisa merasa lebih nyaman. Perlahan, orang-orang di Desa mulai menghormati Gaara, tidak menganggapnya lagi seperti dulu dan mulai menerima dan membuka diri kepadanya. Meskipun Gaara tidak pernah tersenyum, tapi aku tahu dia senang di dalam hati. Senang bahwa orang lain akhirnya menganggapnya ada dan memberikannya tujuan." Temari tersenyum kembali, namun mata yang berkaca-kaca tidak bisa menghentikannya merasakan apa yang sebenarnya.
"Semua berkat kau, karena itu aku sangat berterimakasih... karena kau adalah orang pertama yang mau menerima Gaara. Bahkan aku dan Kankuro tidak berani mengerti Gaara pada saat itu. Hanya kau... ya, hanya kau."
Naruto mengeratkan rahangnya serta menutup matanya. Hal ini tidak bisa dibiarkan lagi, Naruto berjanji di dalam hati akan menghancurkan Akatsuki sebelum organisasi kriminal itu bisa menghancurkan hidup orang lebih banyak. Karena itu.. karena itu, Naruto akan menerima kekuatan ini. Menerima dirinya yang sebenarnya.
..
..
Naruto membuka mata dan melebarkannya. "Ke-Kenapa?" memegang pipinya yang masih merasakan kontak dengan bibir gadis tersebut.
Temari menarik wajahnya dari Naruto, "Tanda terimakasihku karena membawa kembali Gaara." Perempuan itu berdiri dan hendak beranjak pergi, namun berhenti sesaat, "Jangan meminta lebih dari itu, karena... aku mungkin tidak bisa menolaknya." Pintu tertutup dengan pelan, meninggalkan Naruto yang terdiam dengan pikirannya dan juga apa yang dikatakan oleh Temari.
Pemuda itu menghela nafas, menutup matanya kembali menahan efek samping dari perubahannya. Berdiri dan menatap langit dari jendela luar, Naruto tahu ini saatnya untuk pulang. Dan kemudian berbicara dengan Jiraiya.
Done.
Mengenai KISS-SHOT-ACEROLA-ORION-HEART-UNDER-BLADE atau sering disebut Shinobu. Kalian mungkin kurang tahu, tapi dia adalah karakter vampir dari Bakemonogatari. Nama aslinya yang panjang dan aneh banget itu, merupakan nama yang ia gunakan sebelum mengecil karena kehilangan kekuatannya sebagai Vampire. Namun di sini hal itu tidak terjadi, karena Naruto mau menerima keadaannya. Dan dalam canon-nya yang diceritakan khusus mengenai Kiss-shot, dia merupakan perempuan tercantik yang ada pada abad tersebut, apa yang terjadi dengan masa lalunya benar adanya menurut canon. Tidak ada maksud melebihkan atau sebagainya, mengenai rakyat yang memuja kecantikannya hal itu juga benar adanya. Mereka memberikan hidup mereka sebagai hadiah. Bukan karena pengaruh sihir atau apa.
Gaara mati, titik tanpa tanda tanya. Mengapa? Karena Nenek Chiyo pingsan terkena gelombang kekuatan sinis vampir Naruto yang pada saat itu mengalami kemarahan. Hal itu berlangsung cukup lama.
Naruto overpowered? Pada chapter lalu mungkin banyak pembaca yang menganggap seperti itu tapi.. itu adalah kesalahan saya yang terlalu terburu-buru dalam menulis dan melupakan banyak hal. Hal itu tidak akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan, maaf cukup lama tidak mengupdate satu pun cerita saya, hal itu dikarenakan kesibukan saat menghadapi UN. Dan sekarang saya menganggur menunggu pengunguman dan mencari-cari Universitas. Tapi dibalik itu saya berharap sangat, karena ini prioritas saya untuk masuk hubungan dinas. STAN adalah tujuan utama saya, karena setelah lulus dijamin pekerjaan akan didapatkan langsung.
Oh, chapter ini tidak dilakukan pemeriksaan ulang. Maka anda akan menemukan typo, kesalahan kata dan sebagainya. Mohon dimaklumi.
Besok atau tiga hari ke depan yang akan di update adalah: Dunia di mata birumu.
