CHAPTER 2

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Rated T

Romance, hurt/comfort and

family

Story pure for Jhino

Happy reading

Suasana di ruangan itu bercampur aduk, di pihak keluarga Sabaku sangat senang karena gadis yang menjadi kekasih Gaara ternyata anak dari sahabatnya. Sedangkan pihak keluarga Hyuuga sangat terkejut, terlebih rasa kecewa yang menjalar di hati Hiashi, karena Hinata pasti akan mempermalukan dia.

"aku ingin Hinata menjadi istri saya, appa..paman Hiashi. Mohon paman dan appa merestui kami." Ucap Gaara mantap menggenggam erat tangan Hinata yang menundukkan wajahnya dari tadi.

"kau yakin Gaara? aku rasa kau bisa memilih istri yang lebih baik darinya." Kata Hiashi tenang tapi menusuk Gaara terlebih Hinata menitikkan air mata.

"aku yakin sekali paman, justru aku dan keluargaku beruntung bila mempunyai istri seperti Hinata." Balas Gaara.

"beruntung? Lebih baik kau memilih Sakura saja, dia pembawa keberuntungan, juga bagian dari keluarga kami, Gaara."

Deg!

Sakit sekali hati Hinata mendengarnya, dia meremas jari Gaara supaya menghentikan ini semua.

"maaf paman. Tanpa mengurangi rasa hormat, aku menolak pilihan paman. Aku tetap memilih dan menjadikan Hinata sebagai istriku, walaupun tanpa restu paman dan appa." Ucap Gaara tenang serta sopan.

"Gaara!", seru Rei yang dati tadi hanya diam saja, tak terima dengan perkataan anaknya. seketika Gaara membungkukkan badan sebagai tanda maaf ke ayahnya.

"kau tau Gaara? Hinata itu lemah, pendiam, dan ceroboh, bahkan berbicara tak mampu alias gagap, apa yang kau harapkan punya istri seperti dia nanti? Dengan kata lain dia tak berguna!". Seru Hiashi.

"tapi.." ucapan gaara terpotong.

"aku merestui mereka, Hiashi. Jadi aku juga ingin kau merestui mereka.", Sabaku No Rei-lah yang memotongnya, dan diluar dugaan malah merestuinya.

"Rei, kalau kau ingin menantu dari keluargaku, aku bisa menjodohkannya dengan Sakura, bukan dengan anak yang tak berguna macam dia!"

"aku hanya ingin anakku bahagia dengan gadis pilihannya, Hiashi, dan bukan jamannya untuk menjodohkan. Aku juga yakin, Hinata bisa menjadi menantu yang baik. Jadi restuilah mereka."

"benar Hiashi-san, mereka saling mencintai, mereka akan bahagia. Restuilah mereka." Tambah Karura lebuh.

"ya benar sekali apa yang dikatakan Rei-san dan karura-san, suamiku. Lagipula kau ingin menyatukan keluarga Hyuuga dan Sabaku bukan?. Kabulkanlah permintaan mereka, suamiku." Ucap Hikaru dengan suara lembut.

"baiklah, aku merestui kalian...", Hinata langsung mengangkat wajahnya ketika mendengar perkataan ayahnya. "..lalu kapan kalian menikah?" lanjut Hiashi.

"Minggu depan paman. Biar aku yang urus semua. Kami hanya ingin pernikahan sederhana namun sekral." Ucap Gaara mantap.

"kau gila! Kau kira bisa segampang itu?", tanya Neji dengan nada meremehkan.

"baik. Aku setuju dengan Gaara dan aku anggap Hiashi Juga setuju. Lagi pula aku mengenal anakku, dia selalu memegang omongannya." Bela Rei, dalam hati dia bangga pada anaknya yang berani mengambil keputusan dan tegas.

.

.

.

.

.

.

Satu minggu kemudian

Pernikahan Gaara dan Hinata berlangsung dengan sederhana namun hikmat, sehingga sangat menyenangkan.

"Hinata.."

"ah bibi Karura.."

"aigo... kau sudah resmi menjadi istri gaara, jadi paggil aku eomma ya." Karura tersenyum lembut dan membelai rambut Hinata.

"ah, ne..eomma.." balas Hinata dengn senyuman manis.

"ah disini adik iparku yang cantik ini...aku mencarimu Hianata-ya.." kata temari bersama suaminya, Shikamaru yang menggendong anak laki-lakinya.

"ah un- unnie...wah itu anak temari unnie dan shika oppa? Lucunya...namanya sapa unnie?" tanya Hinata sambil mengelus lembut pipi anak itu membuat anaknya itu tertawa.

"namanya Nara Shikadai. Panggilannya shika dan umurnya satu tahun." Jawab Shikamaru.

"wah Shika-ya tertawa, ternyata dia suka padamu Hinata-ya..uh dasar dia tau juga tentang gadis cantik. Beruntung sekali kau Shika-ya.." muka Hinata langsung memerah karena kankurou memujinya.

"Hyung, justru kau yang beruntung mendapat mitsuri noona, super model yang cantik mau saja menikah dan melahirkan pewaris Sabaku Corp yang jelek itu." Ejek gaara. kini giliran Mitsuri yang memerah.

Yaa! Dasar namdongsaeng nakal! Itu karena Mitsuri tau kalau hanya aku terlalu mencintainya." Kankurou langsung memeluk pinggang Mitsuri yang memerah.

"gaara oppa.. jangan menggoda kankurou oppa dan mitsuri unnie.", kata Hinata dengan lembut.

"arra-arra.. ternyata kau sudah bisa bahasa korea ya..yeobo"

BLUUSH.

Muka hinata memerah mendengar kata 'yeobo' membuat seluruh keluarga sabaku tertawa.

.

.

.

.

.

Gaahina room

Ceklek

Pintu kamar mandi dibuka dari dalam, memunculkan sesosok pria tampan dengan rambut yang basah, handuk kecil yang bertengger di lehernya. Berjalan mendekati sang istri yang sedang merapikan pakaian di lemari, kemudian memeluknya dari belakang.

"op-oppa.." tubuh Hinata menegang, merasakan tubuh bagian atas gaara yang tidak dilapisi oleh kain. Malah Gaara menyembuyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup harum lavender yang begitu menyenangkan di hidungnya.

"gaara oppa, geeli...engh", desah Hinata kegelian karena ulah suaminya. Membuat gaara bergairah.

Di kecupnya leher Hinata, sambil diturunkannya salah satu tapi gaun tidurnya.

"eengh..op..ppaaa...eenggh.." desah hinata lagi ketika Gaara menjilat lehernya dan meraba buah dadanya.

Gaara membalikkan tubuh hinata gar berhadapan, menatap wajah Hinata kemudan menciumnya lebih dalam. Pertarungan lidah diantara mereka pun tak terhindarkan, hinata terhanyut oleh permainan lidah Gaara, hingga kedua kakinya lemas. Untung saja gaara mendekapnya, dan menarik kedua kaki Hinata di pinggangnya, di gendongnya Hinata, namun masih tetap berperang lidah. Liquidpun keluar dari ujung bibir mereka, entar punya sapa, yang jelas bercampur jadi satu.

"eengh..eengghh..' lenguh Hinata di sela-sela ciuman mereka ketika gaara menggesekkan miliknya dengan milik Hinata yang masih terbungkus kain.

Ciuman bahasa itu tak berlangsung lama karena hinata memukul dada Gaara yang bidang pelan karena butuh udara, Gaara akhirnya melepaskan ciuman tersebut perlahan sehingga menciptakan benang liquid yang tipis diantara lidah mereka.

Gaara menatap wajah Hinata yang memerah serta bibir yang setengah terbuka dan bengkak akibat ciauman ganas Gaara, membuat Hinata tambak sangat..eerrr...seksi..

"aku ingin lebih dari ini love, boleh kan?" Gara meminta izin sambil mengecup kening istrinya dengan lembut dan disambut dengan anggukan kepala oleh istrinya.

Mereka kemudian melanjutkan ciuman basah lagi, sambil gaara merebahkan Hinata perlahan di ranjang mereka. Gaara melepaskan sisa-sisa kain yang menempel di tubuh mereka hingga mereka telanjang.

"aaah...oppaah...aah", desah Hinata ketika suaminya mengemut puncak payudaranya. Gaara menghisapnya pelan namun dalam membuat sang empunya membusungkan dadanya karena nikmat.

"gel..gelii eenggh oppaah.." desah Hinata lagi ketika gaara mengelus-ulus miliknya yang bawah.

"kau sudah basah lov, nikmat ya sayang?" Gaara mulai dirty talk pada Hinata..

"nee..opp...oooh.." seru hinata ketika gaara memasukkan jarinya pelan dan memaju-mundurkan tangannya perlahan.

"oppaaah..gaa...raa..op..ppa..aah.."

"sebut terus nama oppa sayang. Mendesahlah oppa menyukainya." Perkatakan Gaara membuat Hinata lebih bergairah bahkan dia melebarkan kedua paha kakinya sakit nikmatnya.

"truss...opppaah..engh...aku.. mau...engh...pipis sepertinya..eengh.."

Gaara hanya terkekeh mendengar ucapan sang istrinya, itu menandakan istrinya memang masih perawan dan belum pernah tersentuh.

"opppaaaaaaah..." teriak Hinata ketika cairan bening itu keluar menandakan bahwa dia telah orgasme. Gaara membiarkan Hinata mengatur nafas dan merasakan nikmatnya berorgasme sejenak.

"sayang, sudah siap ditahap ini?hm?" tanya gaara lembut sambil mengelus-ulus milik Hinata pelan..

"eengh...nee opppaah.. tapi...pelan-pelan..engh.."

"ne chagi.."

Gaara mempersiapkan juniornya yang besar, kokoh dan tegap berdiri, hinata menelan ludah dengan susah payah ketika melihat junior Gaara.

Gaara terkekeh melihat ekspresi Hinata, "terpesona chagi dengan juniorku hm?" goda Gaara membuat hinata memblushing ria.

Gaara cium Hinata lembut, lama kelamaan basah dan dalam, hal itu menjadi kesempatan untuk gaara langsung memasukkan Juniornya sekali hentakan membuat Hinata mendesah tertahan karena ciuman mereka dan mencakar punggung Gaara. Gaara mendiamkannya agar lubang hinata terbiasa dengan juniornya. Gaara melihat darah keluar dan merembes di seprai ranjang mereka yang putih.

"move oppa..pelan-pelan." Ucap hinata lirih di balas anggukan Gaara.

Gaara mulai maju-mundurkan pinggulnya pelan-pelan.

"so tight love..aah.." desah Gaara menikmati setiap irama pinggulnya.

"aaah..oppaah..aah..faster oppaa...aah.."

Gaara pun menurutinya.

"ketat lubangmu love..ah..aah..nikmat..aah.." racau Gaara sakit nikmatnya.

"ah..oppaaa..ah..aku..aku..mau keluar..."

" together baby..."

"aaaaaaaahhhh..."teriak mereka bersamaan.

Gaara memeluk Hinata membawanya dalam dekapannya, dan menyelimutinya.

"love... gamawo..saranghee, love" ucap gaara. hinata terbelalak dan menatap suami terlihat kesungguhan di mata suaminya.

"tap-tapi..aku.."

"ssssst.." jari telunjuk gaara menyentuh bibir Hinata. " aku mengerti ini terlalu cepat untukmu, love. Aku akan menunggunya dan membuatmu jatuh cinta padaku. Nah sekarang tidurlah." Ucap gaara lembut membuat Hinata berkaca-kaca dan tidur didada suaminya.

TBC