CHAPTER 4
Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto
Gaahina
Rated T
Romance, hurt/comfort and
family
Story pure for Jhino
Happy reading
Gaara mengamati hinata yang sedang membenahi kasur mereka. Merasa di pandangi oleh suaminya hinata pun berkata,
"lho oppa, kenapa tak berangkat?" tanya hinata heran.
"wajahmu pucat love, sepertinya kau sakit."jawab gaara yang tak sesuai dengan pertanyaan hinata.
"ohya?" hinata langsung bercermin.
"ayo kedokter ya?" tawar gaara sedari melihat hinata yang terus bercermin.
"tak usah oppa, mungkin hanya tak enak badan saja. Ayo aku antar oppa kebawah." Hinata tersenyum manis dan menggandeng suaminya.
.
.
.
.
Setelah mengantar gaara kedepan rumah, hinata duduk di sofa sambil melihat anak temari dan shikamaru bermain. Dia jadi iri..
"hinata,.." panggil Mitsuri duduk disebelahnya sambil menggendong haneul, anaknya dengan kankuro.
"eh, mitsuri eonnie. Maaf aku tadi melamun." Jawab hinata sambil mangambil shika kecil dan memangkunya.
"apa yang kau lamunkan saengie? Oh kenapa wajahmu pucat?" tanya mitsuri lembut.
"tak apa-apa eonnie." Hinata tersenyum sambil mengelus punggung shika.
"minumlah teh hangat ini sayang." karura menaruh nampan yang berisi empat cangkir teh hangat. Dan dibalas anggukan anak dan kedua menantunya.
"aigo, shika menurut sekali denganmu, hinata. lihat eomma, shika langsung diam dan manja dipelukan imo-nya, padahal tadi sempat merengek ikut appanya kerja."ucap temari yang duduk di sebelah karura.
"ah, temari eonnie, bisa saja. Mungkin shika sedang ingin bermanja saja. Dia tampan seperti shikamaru oppa." Ucap hinata sambil mencium kening Shika lembut.
"dan manjanya seperti temari eonnie." Imbuh Mitsuri.
"yup, dia perpaduan aku dan ayahnya. Ketika besar nanti, dia akan hebat seperti Shikamaru dan menggantikannya diperusahaan." Kata temari bangga dengan anaknya.
"ne eonnie, haneul juga ketika besar nanti pasti cantik seperti mitsuri oennie."hinata tersenyum melihat haneul kecil tidur dipelukan mitsuri.
"ooo, jadi itu yang kau lamunkan tadi sayang?" tanya karura.
"eh?" hinata terkejut, ibu mertuanya ternyata tahu.
"sabar ya saengie, sebentar lagi kau akan punya anak seperti kami hinata." hibur mitsuri
"oleh karena itu kau dan gaara harus sering-sering membuatnya. Hehehehe" goda temari, hinata memerah mendengarnya, sedangkan karura dan mitsuri senyum geli melihatnya.
"em..itu...emm.." hinata bingung menjawabnya.
"apa kalian sering melakukannya satu bulan ini?" tanya temari penasaran sambil mengambil anaknya dari pelukan Hinata.
Hinata kanget setengah mati, bahkan mukanya seperti tomat. "em..itu..eon-eonnie...kami...ru-rutin melakukannya."
Karura, temari, dan mitsuri melongo mendengar jawaban Hinata.
"kau, serius hinata?"seru Temari. Di balas anggukan oleh hinata yang menunduk malu.
"aish, kau ini , kasihan hinata. lihat dia menunduk." Tegur karura, lalu mendekat ke hinata, namun hinata langsung lari ke dapur. Sedangkan karura, temari dan mitsuri terpaku.
Huuueeekk
Huuueeeekk
"hinata..." seru Karura sambil mengelus punggung menantunya.
Huuuueeek
Huuueeeek
"kau sakit sayang. eomma antar hinata ke dokter ya?" tanya karura kawatir. Hinata langsung cepat menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"tapi wajahmu pucat sayang, eomma takut sayang."karura berusaha membujuk menantunya supaya mau ke dokter, namun tetap saja hinata menolak.
"aku baru saja telpon dokter hana ke sini, eomma. Jadi eomma tenang saja. Hinata sekarang istirahat di kamar saja." Kata temari memberi solusi.
.
.
.
.
.
Sabaku corp.-meeting room
Gaara tampak fokus dengan presentasi karyawannya. Bahkan tak jarang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan pernyataan pedas. Membuat ruang rapat tersebut terasa mencekam. GM sabaku no gaara terkenal orang tegas, dingin dan perfect. Sudah tiga bulan, dia membabat habis karyawan yang kinerjanya tidak bagus, bahkan menyelewengkan jabatan mereka. Sehingga saham perusahaan mereka menaik tajam, dan perkembangannya sangat maju pesat. Bahkan wajahnya menghiasi majalah-majalah bisnis. Meski posisi diperusahaan dibawah kakak dan ayahnya, namun dia diberi kewenangan yang lebih besar karena sistem kerjanya itu.
"saya tidak setuju proposal ini. Kau kira perusahaan ini kecil? Kau tau proyek yang kau ajukan itu tidak berstandar."ucap gaara dingin.
"saya setuju pendapat dengan GM kita. Sebaiknya kau buat proyek yang bagus dan bermutu karena kita..," perkataan kankuro terhenti ketika ponselnya berbunyi, gaara jadi kesal melihat kakaknya yang lebih mementingkan ponselnya ketimbang rapat.
"yeobseyo honey?..mwo?...arrasso", kata kankuro dan langsung mematikan ponselnya.
Gaara terdiam melihat kakaknya itu tersenyum sumringah melihatnya, membuat dia penasaran.
"baik kita akhiri saja rapat ini, besok kita lanjutkan lagi dan buat proyek yang lebaik baik dari pada ini." Ujar kankuro beranjak berdiri dari tempat duduknya. "gaara ayo kita pulang sekarang." Ajak kankuro sambil berjalan keluar ruangan. Gaara pun mengikutinya.
"mwo? pulang? Ini belum waktunya istirahat. Aku juga bawa bekal."jawab gaara setengah kaget dan mulai menyamai langkahnya dengan kankuro.
"tadi istriku menelpon, kalau hinata muntah-muntah. Apa kau tak kawatir?" tanya kakaknya ringan.
"mwo?hyung kau jangan bercanda hyung? Memang tadi dia pucat tapi dia bilang baik-baik saja." Tanya gaara kali ini benar-benar kaget.
"aish kau ini! Memang aku bercanda saengie!" bentak kankuro, gaara langsung terperanjak. Baru kali ini dia dibentak hyungnya.
"arra..arra.. aku kan ajak appa sekalian. Dan aku minta kiba menghandel pekerjaanku." Kata gaara beranjak pergi.
"ne, dan jangan lupa beli bunga untuk istrimu."sahut kankuro di balas anggukan oleh gaara.
.
.
.
.
.
Kediaman Sabaku
Sesampainya dirumah, gaara langsung ke kamar hinata. dibukanya knop pintu kamarnya dan istrinya. Di sana, ada ibu dan kedua kakak kandung dan kakak iparnya yang duduk dpinggir ranjang sedangkan hinata bersandar di sandaran kasur.
"op-oppa..." hinata kaget melihat suaminya datang karena belum waktunya pulang kerja. Apalagi melihat gaara yang acak-acakan dan membawa bunga kesukaannya seperti ritual suaminya setiap hari.
Gaara tak menjawab, malah mendekati hinata dengan wajah kawatirnya.
"gaara, selamat ya.." ucap eomma dengan senyum manisnya, di susul dengan temari dan mitsuri. Semantara gaara bingung, kenapa mereka mengucapkan selamat, padahal jelas-jelas dia kawatir dengan kondisi istrinya yang pucat itu.
Gaara kemudian duduk di samping hinata sambil mengelus pipi hinata yang pucat, sedangkan hinata memejamkan mata dan merasakan usapan lembut dari suaminya. Melihat pemandangan indah itu , karura, temari dan mitsuri keluar kamar, meninggalkan mereka berdua.
"bagaimana keadaanmu, love? Kata hyung, kau muntah-muntah. Seharusnya aku membawamu ke dokter tadi." Ucap gaara lirih.
"aku baik oppa, sangat baik malah.."jawab hinata lembut.
"kalau hinata baik, kenapa bisa muntah-muntah sayang, hum?" , hinata tersenyum mendengar perkataan suaminya yang begitu kawatir dengannya, oh tuhan rasanya bahagia sekali. Hinata kemudian mengambil tangan kanan gaara lalu meletakkannya di perutnya.
"karena aku hamil anakmu, gaara oppa." Bisik hinata halus di telinga gaara.
Gaara mematung, dia terkejut. Lalu tersadar.
"ham-hamil? An-anakku?" hinata tertawa kecil melihat tingkah suaminya, biasanya yang gagap itu dia tapi sekarang suaminya, sepertinya gaara tertular virus gagap.
"apa yang aku lakukan hinata? apa aku harus teriak? Atau loncat-loncat?" tanya gaara konyol. Hinata tau gaara masih terkejut, melihat suaminya yang masih konyol itu, dia langsung mencium gaara singkat meskipun suaminya terkejut dan membalas ciuman hinata.
"gomawo love, sudah memberikan malaikat kecil untuk kita. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah dan kau jadi ibu. Kita akan menjadi orang tua yang baik untuk sikecil." Gaara merengkuh hinata, menyalurkan kasih sayangnya.
"aku yang harusnya berterima kasih padamu, karena telah memberikan cinta dan keluarga oppa yang sayang padaku. Terima kasih oppa telah menyelamatkan aku dan memberi kehidupan baru yang indah untukku." Hinata menangis bahagia.
"saranghee hinata, joungmal saranghee..." ucap gaara tulus, namun hinata hanya bisa diam dan menangis.
Gaara langsung mengelus punggung istrinya, "ssst... sudah sayang...aku tak apa-apa kau belum bisa mencintaiku, pelan-pelan saja sayang. aku akan tetap menunggu setia untukmu sayang...", gaara mengecup kening hinata, lalu mengelus pelan, perut istrinya yang rata.
"hei, malaikat kecil, tumbuhlah yang baik dan sehat di dalam sana ya. Appa dan eomma akan menjaga dan merawatmu."
"appa eomma? Lebih baik touchan dan kachan saja oppa."
"annie, oppa eomma saja. Karena aku terbiasa."
"tapi nanti dia akan lahir di jepang oppa. Touchan-kachan saja."
"appa-eomma"
"touchan-kachan saja oppa"
"annie. Pokoknya appa-eomma. Aku suamimu dan kepala keluarga sayang."
Hinata menghela nafas mendegar kata gaara yang tegas meski lembut, hingga mau tak mau dia harus menurut, lagi pula seorang istri harus menurut apa kata sang suami, dan selama ini gaara oppa selalu menjadi suaminya yang baik.
"baiklah kalau gitu. Appa-eomma, puas oppa?" hinata pura-pura kesal, dan gaara langsung tersenyum geli melihat istrinya yang menggemaskan menurutnya.
TBC
