CHAPTER 6

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Romance, hurt/comfort and

family

Story pure for Jhino

A/N: saya membalas review dan mengucapkan terimakasih pada teman-teman yang sudah membaca, mereview, memfolow dan memfavoritkan ff ini. Gomawo & arigato ^_^

Virgo shaka Mia: hahaha, ya berkat saranmu, typo-nya berkurang. Terima kasih sekali uri cingu..^_^

Girumsuki : memang di awal-awal chapter banyak typo-nya karena ngetiknya di hp, hehe.. terima kasih atas sarannya dan sudah mampir. Arigato ^_^

Dsakura2 : hahahaa, baru tahu gaara romantis, karena itu ada di ff-ku, hehehe. Terima kasih cingu. ^_^

Unguviolet : hohohoho pertama-tama terimakasih sudah pm aku dan berkenalan denganku reader baru, hehehe. Gomawo vio-ah udah membaca dan mereview mulai dari awal sampai chap kemarin. ^_^

Happy reading

Gaara memasukkan laporan-laporan yang semalam ia kerjakan kedalam tas kerjanya, sedangkan istrinya sedang sibuk merapikan tempat tidurnya. Ketika Gaara sudah selesei menyiapkan tugas kerjanya, tiba-tiba ia teringat acara makan malam dirumah mertuanya. Tanpa menunda lama, ia mengambil kotak besar lalu memberikan pada Hinata.

"Ige.." Kata Gaara sambil menyerahkan kotak besar itu kepada istrinya.

"Ige moya oppa?" Tanya Hinata penasaran.

"Buka saja, love. Nanti kau tau isinya." Jawab Gaara sambil duduk di tepi ranjang.

Hinata menuruti ucapan Gaara. Dibukanya kotak tersebut dan mata Hinata membulat sempurna. Sebuah dres selutut berwarna ungu, simple, tapi indah.

"Untuk apa oppa beli ini?" Tanya Hinata lembut sambil menatap wajah suaminya.

"Kemarin Ayah datang ke kantor, dia mengundang kita makan malam. Ayah juga bilang, ibu dan Hanabi merindukanmu. Jadi aku belikan baju itu, aku tak tau kau suka apa tidak, sayang. Aku hanya tau warna kesukaanmu." Jawab Gaara panjang lebar. Hinata melihat kembali dress tersebut dengan tersenyum lembut.

"Kau tahu oppa? Ini adalah kado pertama kali dalam hidupku dan yang memberikannya adalah suamiku sendiri. Aku sangat menyukainya oppa. Gomawo Oppa."

"Hn." Jawab Gaara singkat namun dengan senyum menawannya.

.

.

.

.

"Hinata.." Panggil Temari saat melihat adik iparnya menggendong keponakan kecil mereka, Haneul.

Hinata menoleh dan tersenyum, "Ya eonnie.."

"Hai putri kecil, kau cantik sekali hari ini." Temari mengelus pipi Haneul lembut. "Ohya Hinata, suamimu barusan telpon. Dia bilang kau berbakat menjadi designer." Lanjut Temari sambil memangku Haneul.

Hinata sempat terkejut namun dengan cepat dia mengontrol diri. "Gaara oppa terlalu berlebihan, eonnie."

Temari menghela nafas, dia tahu bahwa adik iparnya yang satu ini sangat pemalu dan minder. Lagi pula mana mungkin Gaara memuji seseorang kalau orang itu mempunyai sesuatu yang istimewa.

"Hinata, Gaara tidak berlebihan. Dia jarang sekali memuji orang lho." Sahut Matsuri sambil duduk di samping Temari dan menggoda Haneul, anaknya.

"Ya, mana mungkin dia memuji orang kalau memang pekerjaan orang tersebut bagus. Kau juga dengar sendiri dari Kankuro, kalau dia sudah memecat orang sekian kalinya karena tidak bisa bekerja dengan baik. Jadi bolehkan kami melihat gambar-gambarmu, dear?" Pinta Temari.

Hinata akhirnya meyetujui kata kedua kakak iparnya dan mengajak mereka ke kamarnya. Mereka berdua melihat gambar sketsa Hinata dengan berbinar dan berdecak kagum.

"Hinata, ini rancangan yang sangat indah. Kau harus jadi designer di butikku, sayang." Ujar Temari kagum melihat semua gambar Hinata.

"Sebaiknya eonnie cari perancang baju yang lebih baik dari aku. Aku bahkan baru lulus SMA bukan lulusan universitas terkenal, eonnie." Kata Hinata sambil menunduk.

"Aigo! Justru ini rancangan baju paling bagus yang aku lihat. Kata siapa untuk menjadi designerku harus kuliah dan lulus universitas terkenal. Bakat itu tidak semua muncul dari setiap orang, dear. Dan kau punya bakat itu. Pokoknya kau harus menjadi designerku." Kata Temari memberikan semangat.

"Eonnie benar Hinata. Gambarmu semua bagus, bahkan aku mau kok jadi modelmu. Dan satu hal lagi, kau harus percaya diri. Gaara tak mungkin menceritakan gambarmu pada Temari eonnie kalau gambarmu jelek. Gaara sangat tahu bakatmu, dear. So, ikuti saran Gaara dan Temari eonnie ya." Matsuri memberi dukungan pada adik iparnya.

Hinata terdiam sejenak, mencerna perkataan kedua kakak iparnya itu. Membuat Temari mengeleng-gelengkan kepalanya dan menekan tombol layar sentuh smartphone-nya.

"Hai saengie, mianhe menggangguku. Tolong rayu Hinata." Temari memberikan Handphone-nya pada Hinata yang dari tadi menunduk.

"Oppa." Panggil Hinata lirih.

"Ne love. Ikuti saja apa kata Noona, sayang. Jangan kau sia-siakan bakatmu yang istimewa itu. Aku selalu mendukungmu, love. Percaya padaku, kau pasti bisa." Hinata memejamkan mata sejenak, berusaha mengumpulkan seluruh kepercayaan dirinya setelah mendengar suaminya.

"Ne, oppa aku percaya.". Hinata akhirnya menuruti perkataan suaminya.

"Good, love. Saranghee, chagi." Ucap Gaara lembut, membuat hati istrinya yang tadinya sedih menjadi lega dan nyaman.

"Gomawo oppa." Balas Hinata dengan senyum manisnya, dan mengembalikan handphone tersebut pada pemiliknya.

"Temari eonnie, aku mau menjadi designer di butik eonnie, dan aku harap Matsuri eonnie tak keberatan menjadi model bajuku." Ucap Hinata malu-malu.

"Dengan senang hati, aku mau jadi model adik iparku yang cantik ini." Kata Matsuri.

"Kalau begitu kita kerjakan sekarang saja. Karena satu minggu lagi aku kan buka pameran baju terbaru untuk pelangganku, Hinata." kata Temari.

"Pameran di butik eonnie?" Tanya Hinata polos.

"Ne, pelanggan Temari Eonnie itu kebanyakan teman-teman seprofesiku Hinata." jawab Matsuri sambil mengelus punggung Haneul yang mulai mengantuk.

"Nah, itu merupakan kesempatan untukmu Hinata. mereka akan melihat baju-baju buatanmu. Oleh karena itu kau harus semangat dan harus percaya diri." Kata Temari menepuk bahu adik iparnya lembut.

Hinata mengerti dan mulai merampungkan sketsa-sketsanya.

.

.

.

.

.

Pintu ruang kerja Seorang Direktur Nara Ink perlahan terbuka membuat pemilik ruangan itu menoleh ke arahnya.

"Hyung, ada apa memanggilku?" Tanya Gaara tanpa basa-basi. Shikamaru memutar bola matanya malas.

"Hilangkan kebiasaanmu berbicara di depan pintu, dan bersapalah dulu, itu akan terlihat sopan."

"Oh, mian hyung. Aku tak suka basa-basi lagipula kau suami kakakku bukan? Wah ada Shika kecil disini." Kata Gaara menghampiri anak kakak iparnya.

"Kau sudah makan siang, Gaara?" Tanya Shikamaru menuju sofa yang diduduki adik ipar dan anaknya.

Gaara mengangguk sambil memangku Shika kecil. "Ada apa hyung memanggilku?" Tanya Gaara sekali lagi.

"Temari menelponku. Dia berkata kepadaku agar menyuruhmu membelikan semua perlengkapan alat-alat menjahit untuk Hinata. Karena Hinata mau jadi perancang busana di butik kakakmu." Jelas Shikamaru membuat Gaara berhenti mencium pipi gembul keponakannya dan menatap kakak iparnya.

"Sinjja hyung? Aku tak percaya istriku mau. Aku sempat pesimis, hyung."

"Temari dan Matsuri juga begitu, tapi karena rayuanmu dia akhirnya mau, Gaara. Hah! Aku tak menyangka kau bisa merayu. Ckckck." Shikamaru berdecak tak percaya bahwa adik iparnya yang terkenal kaku dan dingin itu bisa merayu. Sedangkan Gaara tersenyum kaku mendengarnya.

"Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati. Kau tau kan kisah cintaku dimasa lalu yang tragis, sekarang aku sudah mendapatkan penggantinya hyung. Sejak bersamanya hidupku menjadi berwarna, dan bahagia." Ucap Gaara datar sambil memainkan jari mungil Shika.

"Hn, aku juga melihatnya. Kau begitu bahagia, terutama Hinata, seolah dia baru dilahirkan kembali setalah dia menjadi anggota keluarga kita."

"Karena selama ini keluarganya tidak sehangat keluarga kita." Jawab Gaara.

"Apa maksudmu Gaara?" Sahut Rei dingin karena mendengar kata anak bungsunya.

Deg

Gaara sempat terkejut melihat Ayahnya dan Kankuro berdiri di depan pintu.

"Appa, hyung, kenapa kalian kesini? Lalu bagaimana dengan urusan kantor?" Tanya Gaara.

"Kami kesini karena cucu appa yang tampan itu di ajak ke kantor. Urusan kantor sudah di handel sama orang kepercayaan appa." Jawab Rei kemudian mendekati Shika kecil dan memeluknya.

"Beoci..beoci.." Celoteh Shika riang sambil menarik dari harabeoji-nya.

"Ne..ne...Harabeoji datang, jagoan. Kau senang kan? Ohya Gaara, jawab pertanyaan appa tadi?" Rei yang awalnya tersenyum lembut kepada cucu pertamanya, kini berwajah datar menatap putra bungsu. Sementara Shikamaru dan Kankuro lebih memilih diam bila kepala keluarga besar Sabaku itu berbicara serius.

Gaara terdiam sejenak sambil mengontrol perasaan takut menatap ayahnya. "Aku akan menceritakan kehidupan Hinata, tapi kalian janji tak akan memotong ceritaku." Rei, Shikamaru dan Kankuro mengangguk sebagai ungkapan setuju.

Gaara mengatur nafas sejenak kemudian dia menceritakan dari awal pertemuannya dengan Hinata yang hendak bunuh diri namun digagalkan oleh Gaara, belum lagi perlakuan keluarga Hyuuga terhadap Hinata yang dinilai buruk, terutama kekejaman Hiashi pada Hinata.

Rei geram setelah mendengar cerita dari anak bungsunya. Ingin rasanya dia memukul meja itu tapi tidak ia lakukan karena ada cucunya.

"Aku tak menyangka paman Hiashi setega itu, Gaara." Kankuro mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Hinata adalah anak kandungnya, bagaimana bisa mereka melalukan itu terutama paman Hiashi." Tambah Shikamaru.

"Aku juga, Hyung. Tapi, setelah aku tahu mereka memperlakukan Hinata seperti itu, aku membuladkan niatku untuk menikahinya dan membuat dia bahagia."

"Appa sudah curiga dengan Hiashi. Ketika kita pertama kali kerumahnya, appa dapat melihat perlakuannya pada Hinata, bahkan appa kaget dia memaki anaknya sendiri di depan tamunya." Ucap Rei yang dari tadi diam. "Appa juga sempat melihat raut mukanya yang kecewa ketika kau melamar Hinata menikah. Karena sebenarnya dia ingin menjodohkan Sakura denganmu, Gaara." lanjut Rei.

"Sakura? Dia kan bukan keluarga Hyuuga appa."

"Ne, tapi sudah dianggap anak kandungnya semenjak keluarga asli Sakura meninggal. Dan yang paling mengejutkan lagi, Sakura akan menjadi pewaris Hyuuga Corp. Menggantikan Hinata." Jelas Rei, membuat penghuni sesisi ruangan itu tercengang kecuali Shika kecil yang diam bersandar didada kakeknya sambil memainkan dasi Rei.

"Paman Hiashi Gila! Bagaimana bisa dia mewariskan perusahaannya pada Sakura? Bukankah masih ada Hanabi, adik Hinata?!" Seru Kankuro membuat Shika kaget dan menyembunyikan wajahnya di dada kakeknya karena ketakutan.

"Jaga mulutmu Kankuro. Kau membuat cucuku ketakutan." Ucap Rei datar namun membuat Kankuro langsung terdiam melihat mata jade ayahnya yang menajam.

"Hanabi masih SMA, jadi Paman Hiashi ingin punya pewaris secepatnya. Dan itu menurutku terkesan terburu-buru." Sahut Shikamaru.

"Ya aku pikir begitu. Tapi kita tak bisa ikut campur. Sekarang Hinata sudah menjadi bagian dari kita, jadi kita harus membuat dia bahagia." Rei mengelus punggung kecil cucunya agar rasa takutnya reda.

Gaara tersenyum mendengarnya, baginya Rei begitu tegas, dingin, namun dia juga begitu lembut pada ibunya, penyanyang pada keluarganya dan sangat bertanggung jawab. Ya Gaara merupakan cetakan dari Rei.

"Ah! Sebaiknya aku pergi dulu." Pamit Gaara tiba-tiba, sambil mengelus surai keponakannya yang tertidur dipelukan Rei dan beranjak keluar dari ruangan itu.

"Dasar penggila kerja! Dia suka sekali dengan laporan-laporan itu." Gerutu Kankuro. "Dia pergi membeli perlengkapan menjahit untuk Hinata." Sanggah Shikamaru.

"Menjahit?" tanya Rei penasaran.

"Mulai sekarang Hinata menjadi designer di butik Temari dan Matsuri juga akan menjadi model bajunya, appa. Kata Temari, sketsa baju buatan Hinata sangat bagus, sayang kalau bakat istimewa itu terlewatkan begitu saja." Jawab Shikamaru.

Rei tersenyum sumringah mendengarnya . "Aku memang punya menantu-menantu istimewa yang bisa melengkapi kehidupan anak-anakku." Shikamaru yang juga salah satu menantu Hiashi salah tingkah mendengarnya. Maklum saja, mertuanya ini jarang memuji orang dan sekali memuji membuat orang tersebut sangat bahagia.

"Oww, cucuku tertidur rupanya. Kalau begitu appa bawa Shika pulang." Rei beranjak dari tempat duduknya.

"Tapi appa bagaimana pekerjaan dikantor?" tanya Kankuro.

"Ada kau. Kau kan Direktur sekali-kali kerjakan tugas appa dan Gaara." Ucap Rei kemudian keluar dari ruangan itu sambil menggendong cucunya.

Kankuro mendengus kesal "Aish appa! Mentang-mentang dia owner kenapa harus dilimpahkan padaku?!"

"Justru kau. Kau ini direktur tapi yang mengerjakan malah Gaara. Tak heran Gaara lebih terkenal ketimbang kau." Celetuk Shikamaru.

Kankurou mendengus kesal tapi dia juga membenarkan ucapan kakak iparnya.

" Hmm.. Ara hyung. Ya sudah aku kembali kekantor dulu. Sampai jumpa di rumah, hyung." Pamit Kankuro dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Shikamaru.

.

.

.

.

.

Kediaman Hyuuga

Gaara memakirkan sedan mewahnya dipelataran rumah mertuanya. Dia melepaskan sabuk pengaman mobil dan hendak membuka pintu mobil tiba-tiba tangan ramping istrinya menahan tangan Gaara satunya.

Gaara mengernyit keningnya, "Ada apa, love?"

Hinata hanya menundukkan kepala.

Gaara mengerti perasaan istrinya, "Mereka merindukanmu dan mereka pasti bahagia melihat istriku yang cantik ini sedang hamil."

Hinata menatap wajah suaminya tersenyum dan mengangguk. Mereka kemudian keluar dari mobil.

"Nah sekarang Ayo kita temui mereka." Ajak Gaara sambil merangkul pinggang Hinata.

Di bukanya pintu kediaman Hyuuga membuat Hinata semakin merapatkan diri pada suaminya.

"Neechan!" Seru Hanabi gembira melihat kakak perempuannya datang.

"Hanabi.." Balas Hinata kemudian memeluk adik perempuannya. Gaara tersenyum kecil melihatnya.

"Aku merindukan nee-chan." Manja Hanabi pada kakaknya.

Hinata tersenyum lembut, "Neechan juga rindu Hanabi."

"Gaara-nii, apa kabar?" Sapa Hanabi sambil membungkukkan badan.

Gaara tersenyum dan mengacak rambut adik iparnya, " Aigoo.. kau tak perlu seformal itu adik iparku yang cantik. Kabarku sangat baik. Main-mainlah kerumah kami." Hanabi tersipu malu dipuji kakak iparnya, apalagi ketika melihat Gaara tersenyum hangat kepadanya karena yang ia dengar dari Ayahnya bahwa kakak iparnya ini sangat dingin dan kaku.

"Hanabi, wajahmu memerah tuh, pasti karena Gaara-kun." Celetuk Hikaru sambil berjalan ke arah mereka bertiga.

"Ibu.." Sahut mereka hamir bersamaan.

Hikaru memeluk Hinata, "Selamat datang sayang. Ibu merindukanmu."

Hati Hinata menghangat mendengar ucapan ibunya yang ia rindukan. "Aku juga sangat merindukan ibu."

Hikaru melepaskan pelukannya dan menangku wajah putri sulungnya, "Kau sangat sehat dan bahagia, sayang. Selamat kau akan menjadi ibu sebentar lagi, Hinata. Ibu senang sekali mendengarnya."

Hinata menggenggam tangan ibunya yang berada dipipinya. "Terima kasih ibu." Balas Hinata dengan senyum manisnya.

"Ibu, tak memberikan selamat padaku juga?" Gaara pura-pura merajuk meski wajahnya pasif.

"Astaga, menantu ibu.. selamat sayang kau sebentar lagi menjadi ayah." Hikaru memeluk menantu kesayangannya dan dibalas pelukan oleh Gaara.

"Ini untuk ibu." Gaara memberikan bunga mawar merah segar pada ibu mertuanya.

"Terima kasih Gaara-kun, bunga ini sangat indah dan harum, aku tak menyangka menantu yang tampan ini membelikan bunga untukku." Kata Hikaru sambil menghirup bau bunga mawar merah itu.

"Lalu untukku mana niichan?" Tanya Hanabi dengan penuh harap.

"Ini untukmu." Gaara memberikan dua buah tiket VVIP konser boyband Korea, EXO. Hanabi, Hinata dan ibunya tercengang.

"Waaaaah, arrigato niichan. Bagaimana niichan tahu aku suka EXO?"

"Dari Sai, guru Lukismu. Dia teman niichan juga." Jawab Gaara singkat.

"Gaara-kun tak usah repot-repot seperti itu." Ucap ibu mertuanya.

"Tidak apa-apa ibu. Lagipula kami jarang berkunjung ke sini dan bertemu kalian." Balas Gaara lembut dan sopan. Tiba-tiba muncullah sesosok pria paruh baya.

"Kalian sudah datang rupanya. Ayo cepat masuk." Kata Hiashi dingin.

Suasana yang awalnya hangat sekarang menjadi suram, gaara yang awalnya lembut berubah menjadi dingin ketika melihat mertuanya. Di genggamnya tangan Hinata agar istrinya tenang, karena dia tau saat ini istrinya sedang takut.

.

.

.

.

Ruang Makan

Suasana diruang makan itu hening dan dingin, membuat Gaara tak nyaman. Gaara terbiasa dengan suasana yang hangat dimana Kankuro suka jail dan bercanda, bertengkar ringan dengan Temari. Kadang menggoda eommanya yang ketahuan bermesraan dengan appa. Tapi disini berbeda, bahkan Hinata terlihat tegang bahkan makanannya tak tersentuh. Gaara tak ingin Hinata kembali seperti dulu. Apalagi istrinya sedang mengandung.

Tanpa berbicara, Gaara mengambil sayuran dengan sumpit lalu mengarahkan ke mulut istrinya. Hinata tersenyum lalu membuka mulut mungilnya dan memakan sayur tersebut. Tindakan dua sejoli membuat semua penghuni ruangan itu terbelalak kaget. Bahkan Hinata juga menyuapi suaminya.

"Love, jangan makan pedas. Makan sayur saja atau ikan." Larang Gaara ketika melihat Hinata hendak mengambil wasabi.

"Tapi aku ingin sekali, oppa." Rengek istrinya.

"Tidak boleh. Kasihan sikecil nanti. Makan sayur dan ikan saja sayang." Kata Gaara sambil mengelus perut Hinata yang sedikit membuncit. Hinata menuruti suaminya.

"Dengarkan apa kata suamimu, Hinata. Jangan membuat Gaara repot." Perintah Hiashi membuat Hinata menunduk.

"Hinata tidak merepotkan, Ayah." Bela Gaara sambil menyuapi Hinata.

"Suamiku, wajar bila Hinata manja pada suaminya. Hinata sedang hamil, sama seperti aku dulu ketika mengandung kedua anak kita." Hikaru ikut membela Hinata.

"Wah Gaara-nii romantis sekali." Kata Hanabi dengan mata berbinar-binar. Namun berbeda dengan Sakura dan Naruto yang menatap mereka dengan rasa tidak suka.

"Kami biasa seperti ini. Apalagi Hinata sekarang sedang hamil, aku harus lebih perhatian." Meski Gaara mengatakannya dengan nada datar tapi mereka semua tahu bahwa pria bermarga Sabaku ini sangat peduli dengan istrinya.

"Aku kira Sabaku No Gaara yang terkenal dingin dan kaku itu tak bisa lembut. Kau berbeda sekali dengan apa yang diberitakan di media, Sabaku-san." Kata Naruto sambil mencomot daging asap dan memakannya.

"Memang apa yang diberitakan media, Naruto-nii?" Tanya Hanabi polos.

"Berita tentang Sabaku-san orangnya keras, tegas, dan kaku. Sudah lebih sepuluh karyawannya iya pecat, bahkan beberapa direksi dan orang kepercayaan presiden direktur yang memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya pun iya pecat. Sehingga Sabaku-san dikenal oleh media dengan Sabaku killer. Benarkan Sabaku-san?" Gaara mengangguk dengan ekspresi datar, dia berusaha menahan emosinya karena dia tau pria itu yang di cintai istrinya.

"Lho bukankah seharusnya itu hak pemilik perusahaan untuk memecat orang-orang penting?" Tanya Sakura penasaran.

"Memang benar, sayang. Meskipun Gaara hanya seorang CEO, dia di beri hak istimewa oleh kakek dan ayahnya, untuk memecat siapa saja yang pekerjaannya tidak baik bahkan merugikan. Perusahaan Sabaku Corp. di Korea sekarang sangat maju bahkan sudah mulai merambah ke internasional berkat Gaara." Jelas Hiashi membuat semua kaget kecuali Gaara yang sudah terbiasa.

"Ayah terlalu berlebihan. Aku hanya menjalankan tugasku saja ayah." Sahut Gaara singkat.

"Ayah kira tidak berlebihan tentang dirimu, menantu. Hinata, kau sangat beruntung mempunyai suami yang sukses seperti Gaara." Hinata tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan kata Ayahnya.

"Gaara, ayah ingin Sakura menjadi bawahanmu selama dua bulan, supaya dia bisa belajar banyak tentang cara memimpin perusahaan dari dirimu." Pinta ayah mertuanya. Gaara sudah tau jalan pikiran Hiashi, ayah mertuanya ingin Sakura belajar tentang cara memimpin perusahaan agar bisa mewariskan perusahaannya. Gaara menoleh pada istrinya.

Hinata terdiam sejenak karena permintaan ayahnya. Secara tidak langsung ayahnya mengatakan bahwa Sakura yang akan menggantikan dirinya memimpin perusahaan. Sebenarnya Hinata tak masalah akan hal itu, tapi menurutnya, masih ada Hanabi, kenapa tidak di berikan pada Hanabi saja. Dilihat wajah Sakura yang tersenyum senang mendengar ucapan ayahnya, perasaannya menjadi tak enak. Hinata menoleh pada suaminya yang dari tadi menatapnya.

Dielusnya pipi suaminya dengan lembut, dia tahu suaminya meminta persetujuan padanya dari tatapan jade suaminya.

"Aku mengizinkannya oppa." Ucap Hinata tersenyum lembut. Gaara ikut tersenyum juga melihatnya.

"Baik ayah. Tapi ada hal yang harus aku tanyakan padamu, ayah." Kata Gaara

"Tanyakanlah."

"Mengapa harus aku yang melatih Sakura untuk menjadi pewaris perusahaan Hyuuga? Mengapa tidak menjadi bawahannya Namikaze-san merupakan direktur utama diperusahaannya, jabatannya lebih tinggi dari aku?" Tanya Gaara langsung tanpa basa-basi.

"Karena kau memunyai repotasi yang sangat baik, cerdas, pekerjaanmu sangat mulus tanpa cela. Banyak perusahaan besar yang ingin bekerja sama dengan perusahaan keluargamu tapi kau menyeleksi mereka dengan ketat dan menolaknya mentah-mentah. Ayah suka cara kerjamu yang tegas, dingin, keras, tapi loyalitasmu pada perusahaan sangat tinggi. Bahkan direktur Ichimaru terkaya nomor satu di Jepang, begitu mengagumimu sampai-sampai dia mau memberikan anak perempuannya yang sangat cantik dan lebih sempurna dari pada Hinata untuk menjadi istrimu tapi sayangnya kau tolak, menantuku." Jelas Hiashi membuat semua orang tercengang. Gaara langsung menggenggam erat tangan istrinya supaya istrinya tidak terpengaruh.

"Ayah sepertinya tahu banyak tentang aku. Aku sangat tersanjung, ayah. Baiklah karena Hinata mengizinkan aku melatih Sakura. Dengan satu syarat.." Kata Gaara menggantung.

"Apa itu Gaara-kun?" Tanya Sakura.

"Bersikap profesional dan hubungan kita selama dikantor adalah atasan dan bawahan. Kau akan ku pecat jika pekerjaanmu tidak bagus dan pewaris selanjutnya adalah Hanabi, Sakura. Tapi kalau kau bekerja dengan baik maka aku akan membantu kau menjadi pewaris yang disegani." Kata Gaara dengan ekspresi pasifnya. Sakura terkejut mendengarnya.

"Kau jangan lancang menantuku. Hanabi masih sekolah tak mungkin dia menjadi pewaris perusahaan Hyuuga." Sanggah Hiashi mulai geram dengan ucapan Gaara.

"Kalau begitu, ayah bisa minta tolong pada Namikaze-san saja untuk melatihnya. Jika ayah dan sakura tidak bisa menyanggupi persyaratanku ini." Tantang Gaara, sedangkan Hinata mengelus lengan kekar suaminya untuk tetap tenang.

"Aku hanya bisa minta tolong padamu, Gaara. Naruto masih baru menjadi direktur, bahkan dia belum punya pengalaman." Naruto merasa tertohok atas ucapan calon mertuanya.

"Paman aku bisa mengajarkan Sakura. Apa paman lupa aku lulusan magister terbaik di Jepang." Semua tahu kalau Naruto pintar itu membuat Hinata sempat jatuh hati padanya. Sedangkan Gaara tetap sangat biasa mendengarnya.

"Hm, aku tau Naruto, tapi Gaara lebih berpengalaman darimu, dia seniormu, dan dia juga merupakan lulusan terbaik di inggris." Balas Hiashi membuat Naruto jengkel. "Baiklah aku menyanggupi persyaratanmu, Gaara." Gaara menyeringai kemenangan mendengar ayah mertuanya menyetujui persyaratannya.

TBC