Akatsuki vs Rookie 12
Au : Yeah!! Last chap!! Saya merasa lega akhirnya chap ini update juga… Terimakasih atas dukungannya selama ini!! ^_^
Eh, pada nyadar ga sih kalo saya bikin kesalahan di chap lalu? Tentang pelajaran Sejarah. Pas saya liat lagi di draft chap 2, ternyata yang jadi guru sejarah itu SHIZUNE!!!! Jah, jadi ketahuan begonya –bangga mode : on-. Ga papa, yah? Jadinya, Anko yang jadi guru sejarah, Shizune yang jadi guru sosiologi –emang penting, yah?-
Ga banyak opening, langsung R n jangan lupa R, hehehehehehehehe…
(o.O)
Final Battle
Mari kita intip persiapan Akatsuki dan Rookie 12 dalam menyambut perang dingin yang populer disebut Akatsuki vs Rookie 12…
Pein…
"Gila… Proposal apaan, sih? Baru denger deh, gue. Apa nama makanan ya? Tapi kok si Ryuuta-geblek-nan-breng**k itu bilang gue harus bikin proposal setebel Kamus Oxford aseli?" Pein ngedumel sendiri di depan kantor guru.
"Wah, lagi latian bikin proposal, ya?" Tanya Shizune-sensei minat.
"Iya nih, Sensei! Tapi, saya ada masalah besar tentang proposal!" kata Pein meyakinkan.
"Apa itu? Mungkin saya bisa membantu. Kebetulan saya sering mengasuh anak-anak OSIS yang akan menyusun proposal," kata Shizune-sensei ramah.
"Sebenernya…."
"Ya?"
"Sebenernya…."
"Ya?"
"Sebenernya…."
"Ya?"
"Saya ga tau apa itu proposal. Jenis makanan baru ya, Sensei?" Tanya Pein inosen.
GUBRAAKKK!!! Shizune-sensei tepar di tempat.
Dan dengan susah payah Shizune-sensei menjelaskan dari awal…
(o.O)
Neji…
"Sial! Wtf! F*ck! Masa gue yang inosen n cool ini disuruh baca buku sekelas bokep?! Mana harus serial Icha-Icha lagi!" gerutu Neji. Alamat bakal didzolimi ama Jiraiya-sensei.
"Waaah! Neji menyebut Icha-Icha! Ada apakah gerangan???" Tanya… Err… Orang yang diduga bakal mendzolimi Neji.
"Gini Sensei, saya… dapet tugas meresensi buku," kata Neji ngibul.
"Trus kamu mau meresensi buku saya?!" Tanya Jiraiya-sensei antusias.
"Rencananya sih… Gitu…," kata Neji hati-hati sekali.
"LUAR BIASA!!! Kalo begitu, mari kita membaca bersama-sama di ruangan saya!" tawar Jiraiya-sensei.
"Ta…tapi.." Neji ngerasa bad-feeling.
"Oh… nggak apa, kok! Tenang aja! Pelan-pelan saja!" kata Jiraiya-sensei PeDe.
Dan dengan paksaan, Neji ikut Jiraiya-sensei…
(o.O)
Itachi…
"Dibikin emo gimana, sih?" Tanya Itachi pada dirinya sendiri saat ngaca di kamar mandi.
Rambutnya Itachi yang kebetulan ga pernah dikeramasin –khan doi lebih care ama muka-, sekarang digerai dan dikibar-kibarkan.
"AAARRGGGHH!!! TIDAAAAK!!! GAS BERACUUUNNN!!" erang beberapa siswa yang kebetulan ada di kamar mandi, kemudian berlomba keluar.
"Eh? Emang ada yang kentut?" Itachi mengendus-endus, "Ga ada, kok!"
Kemudian dengan (sok) centil, Itachi menaikkan rambutnya biar gampang dimodel jabrik.
"Gini pantes ga, yah?"
Karena rambut Itachi agak tebel, maka beberapa helai rambutnya jatuh tepat di depan hidung.
"Eh? Bau apa ini? Kok mirip-mirip bau Zetsu –bunga bangkai, red-, yah?" Itachi mikir.
Dia menyibakkan rambutnya. Saat rambutnya mengenai muka, wajah Itachi pucat seketika.
"Tidak… Bau gas… Amoniak…,"
Dan pingsanlah dia…
(o.O)
Sasuke…
Sasuke sedang berada di kamarnya. Mengeluarkan semua peralatan make-upnya.
"Make-up keriput gimana, sih?" gumam Sasuke sambil memilih beberapa foundation, "Ini aja, deh!"
Beberapa Sasuke FG mengintip dari jendela ruang. Mereka agak heran melihat Sasuke beserta peralatan make-upnya.
"Uhm… Kayaknya kurang eyeliner, deh! Sama blush on juga!" kata Sasuke pada bayangannya di cermin.
"Sas-Kay napa, yah?" Tanya Cewek1.
"Lagi dandan, khan?" jawab Cewek2
"Maksud gue, buat apa!" Balas Cewek1
Cewek2 mengangkat bahu.
Setelah beberapa sapuan blush on, goresan lip liner, Sasuke melihat wajahnya.
Cewek1 dan Cewek2 tegang melihat perubahan wujud Sasuke.
"Aih, SauceKey-chaaan!!! Kamu cantik bangeeeet!!!" puji Sasuke pada dirinya di cermin dengan sangat XL –Xtra Lebay-
Dan sweatdropped-lah Cewek1 dan Cewek2…
(o.O)
Hidan…
Hidan lagi muter-muter di dalam ruangan klub ( yang kayaknya) shogi. Bingung.
"Nanya, kagak… Nanya, kagak…," gumam Hidan sambil menghitung bulu kakinya.
"Anou… Mas! Ada perlu apa yah? Dari tadi kok mencurigakan?" sapa Cowok1.
"Mas! Mas! Gue tumbalin Dewa Jashin, lo!" bentak Hidan.
"Hah? Dewa Jashin?Apaan tuh?" Tanya Cowok2 yang ikut nyamperin.
"Dewa Jashin adalah dewa tergaul! Buktinya, kalo lagi waktu luang, Dewa Jashin biasanya part-time nge-DJ," jawab Hidan bangga.
"Dewa Jashin itu dewa apa?" Tanya Cowok1.
"Dewa HipHop, yo!" jawab Hidan sok nge-rap.
"Sebenarnya Mas ini ada perlu apa, sih?!" Cowok2 jengkel.
"Gue mau nanya semua nama bidak shogi –udah ga marah dipanggil Mas-,"
"Hah? Shogi?"
"Iya, mang napa?" Hidan merasakan bad-feeling.
"Tapi ini klub mancing," jawab mereka.
Dan cengolah Hidan…
(o.O)
Shikamaru…
"HOOOAAAA!!!!" Shikamaru menguap, "Gue mau ikutan tadarus –gomen buat yang nonmuslim-."
"Oh, boleh! Mari!" kata Siswa1 sambil menutup hidung, "Buset, abis ngabisin jengkol berapa ton, sih?"
"Nah, mari kita mulai dengan membaca basmalah," instruksi Siswa2.
"Bismillah…" ucap beberapa jamaah tadarus, termasuk Shikamaru.
"Nah, berhubung kita ada pendatang baru, mari kita persilakan kepada Saudara Shikamaru untuk tadarus pertama," ucap Siswa1 sambil tersenyum.
"Boleh," kata Shikamaru maju sambil membawa Kitab Jashin yang berhasil dia curi dari Hidan –secara kitab Jashin cuma satu-satunya!-
"Silakan," kata Siswa2
"Ehem..," Shikamaru memulai, "Yo!LengGelengGelengGelengGelengGelengGelengLengGelengGelengKayaOrangMakanKaleng!!!!"
"Astagpirulloh!!!! Shikamaru, surat apa yang kau baca?"
"Surat Dugem ayat 4," jawab Shikamaru sambil ngantuk.
"Emang, kamu baca kitab apa?" Tanya Siswa1 il-feel ngeliat sampul kitab milik Shikamaru bergambar Segi3 di tengah lingakaran.
"Kitab Jashin,"
"Masya Alloh!!! Kamu sudah murtad!!! Dorakaaaaa!!! Keluaaaar!!!!" usir Siswa2.
Dan dikutuklah Shikamaru disertai lemparan jumroh dari jamaah tadarus…
(o.O)
Tobi…
"Tobi mau bikin ramen!! Tobi mau bikin ramen!!!" kata Tobi ceria sambil berjalan ke arah laboratorium kimia.
Sesampainya di sana, Tobi langsung mempersiapkan pembakar spiritus, kaki tiga, beberapa gelas kimia dan larutan kimia.
"Ramen itu reaksi kimianya apa, yah?' Tanya Tobi sambil masang gaya ala Conan (kejepit pintu).
Tobi melihat-lihat beberapa botol larutan, kemudian menuangkannya di gelas kimia.
"Tobi akan memulai dengan K + H2O!!!"kata Tobi semangat.
Tobi menuangkannya secara serampangan. Karena Tobi anak bego –dibanting Tobi-, jadi Tobi tidak pernah tahu kalau K adalah kalium dan H2O adalah air. Padahal, kalium itu sangat cepat beraksi dengan air.
Sepersekian detik kemudian…
BLAAARRRRR!!!!
Dan hanguslah laboratorium + Tobi…
(o.O)
Naruto…
"Osh! Mari kita membuat lollipop!" kata Naruto bersemangat sambil melangkah ke laboratorium fisika.
Naruto yang basic-nya emang ga pernah ngerti pelajaran fisika, nekad-nekad aja bikin rangkaian listrik –yang dipercaya Naruto sebagai bentuk awal lollipop-.
"Kalo ga salah, ajaran Galileo Galolipop isinya kalo positif ama negatif, negatif ama positif –emang ada?!-," gumam Naruto sambil memasang kabel pada sumber tegangan listrik.
Beberapa saat kemudian, jadilah rangkaian listrik super-mawut dengan kabel berserakan dan bohlam yang sepertinya retak-retak.
"Sekarang, mari kita coba," kata Naruto sambil mengelap peluh di dahinya –alah!-.
KLAK!!
BRRRZZZTTTT!!!!! Tangan Naruto yang mengandung asam tingkat tinggi –elektrolit, bo!- ternyata nempel di salah satu kabel yang bergantung indah.
Dan kesetrumlah penghasil larutan elektrolit satu itu…
(o.O)
Kisame…
Kisame berjalan ke halaman belakang KHS, tempat hewan-hewan peliharaan para guru dan murid KHS dikandangin.
Ada kodok, siput, uler, anjing, babi, dan beberapa hewan kasatmata lainnya. Tau khan siapa pemiliknya??
Dengan gagahnya, Kisame mencoba masuk ke kandang anjing pemburu yang merupakan keturunan Pakkun. Namun, berbeda dengan induknya, anak Pakkun semuanya segede bagong, mukanya serem-serem, dan giginya tajem-tajem.
Ada yang bilang kalo dulu Pakkun ngebuntingin buaya, trus anaknya dibawa lari ama Pakkun biar ga dimakan ama emaknya –khan buaya sering makan anaknya sendiri-.
"Hello, puppy!!" sapa Kisame dengan shark-eyes.
Anak anjing yang berjumlah 4 itu memandang Kisame sambil ngiler.
Inner anjing…
"Buset… Ada ikan dengan senang hati jadi makanan kita! Ayo kita serang saudara-saudara imutku!!"
Kisame yang tidak tanggap rangsang pada lingkungan, baru akan berteriak saat masing-masing anak anjing itu telah mengigit tangan dan kakinya.
Dan nyaris tewaslah hiu malang itu…
(o.O)
Kiba ft Akamaru…
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kolam yang menyatu dengan laut di sebelah barat KHS.
"Akamaru-chan, pokoknya kita harus berhasil! Jangan sampe kita kalah dari hiu tak berupa itu, ya?!" Kiba menyemangati Akamaru.
"Guk!"
Saat mereka sampai di tepi kolam, Kiba mengeluarkan sebongkah daging dan melemparkannya ke tengah laut sekuat tenaga.
"Biar hiunya keluar!" kata Kiba.
"Guuuuuuukkk (trans : Tidaaaaak)!!!!" Akamaru melolong sambil meloncat ke tengah laut.
"Akamaru!!! Lo ngapain?!?!?!" Kiba berteriak histeris.
"Guk-guk-guk-guk-guk-guk-guk (trans : Itu jatah makan malam terakhir kita, goblok)!!!" jawab Akamaru beringasan.
"Uaaappppaaahhh?!" Kiba syok.
Sedangkan beberapa meter di depan bongkahan daging, telah muncul seonggok gigi putih tajem cemerlang.
"Akamaru!!!! Selamatkan makan malam terakhir kita!!!!" teriak Kiba putus asa disusul adegan loncat indah ke tengah kolam.
Dan berenanglah mereka menyelamatkan makan malam yang ga seberapa…
(o.O)
Kakuzu…
Di salah satu warteg depan KHS, tersebutlah seorang rentenir lanjut usia sedang melahap nasi rames dengan bercucuran airmata.
"Huuuaaaaa!!!! Mbaaakkk!! Naaaammmbbbaaaaahhh!!!" kata Kakuzu –rentenir itu, red- dengan cadar yang udah basah kuyup.
"Ya ampun, Mas. Segitunya sih menikmati masakan saya? Apa memang masakan saya itu sanggup membuat airmata bercucuran?' Tanya MbakWarteg sambil geleng-geleng kepala.
"Huuuu…. Huuu… Huuu…. " Kakuzu ga ngejawab.
"Mas? Ngga apa-apa, khan?" MbakWarteg mulai khawatir, "Masakan saya terlalu miris untuk dinikmati, ya?"
"Huuu… Huuu… Semuanya…. Jadi…. Berapa?" Tanya Kakuzu masih terisak.
"Hmm… 15 porsi, yah? 30 juta aja, deh! Saya kasian ama Mas-nya," kata MbakWarteg baik hati.
"UAPPPAAA?! Makanan mirip sampah gini aja sampe 30 juta?!!!"
"Kalo makanan saya mirip sampah, kenapa Mas makan di sini?! Pake nambah ampe 15 porsi, lagi!! Bayar, kagak?!" ancam MbakWarteg sambil mengambil paksa duit di dompet Kakuzu.
"Huuuaaaaa!!!! Uangkuuuuu….,"
Dan menangislah rentenir lansia itu meratapi kepergian uang yang dia kumpulkan sejak masih bayi…
(o.O)
Chouji…
Di taman depan asrama cowok yang terkenal rame karena para siswa lagi maenan, tiba-tiba terasa hawa mengancam berkonsentrasi tinggi.
"Gue kok ngerasa ga enak, ya?" kata CowokLagiMaen1 pada CowokLagiMaen2.
"Sama. Kira-kira bakal ada apa, ya?" Tanya balik CowokLagiMaen2.
"Jangan-jangan ada sidak! Gawat! Majalah bokep gue belom gue sembunyiin!"
"Yah, elo!"
Tiba-tiba CowokLagiMaen1 merasa ada yang menarik kaos belakangnya.
CowokLagiMaen1 dan 2 menoleh.
"Paaaaaaaakkk!!!!!! Minta Uaaaaaannngggg, Paaaaaaaakkkk!!!! Beloooom Makaaaaaan, Paaaaaakkk!!!" rengek Chouji dengan muka buto ijo-nya sambil ngesot dan menarik-narik baju CowokLagiMaen1.
"HWWWWAAAAAA!!!!!" CowokLagiMaen1 dan 2 lari ngibrit.
"Kok pada lari, sih? Eh, gue khan masih harus ngumpulin duit!" kata Chouji, kemudian meneruskan ngesot," Paaaaaakkk!!! Mintaaaa Uaaaanggg, Paaaaak!!!!"
Dan larilah anak-anak lainnya…
(o.O)
Deidara…
Seorang makhluk (yang konon katanya) hermaprodit sedang melempar benda-benda tajam di lapangan panah.
"Ngapain gue harus latian make kunai ama shuriken yang ga berseni ini, sih?!" gerutu Deidara kemudian melempar sebuah kunai.
JLEBBB!!!!
"Hah?! Bunyi apaan, tuh?" Deidara ngerasa firasat buruk.
Ga ada jawaban…
Deidara menghampiri semak tempat dia melempar kunai.
"Oh my gosh!!!!" Deidara kaget melihat penampakan di balik semak.
Ada sesosok laki-laki tua berkeriput yang sudah tepar dengan sukses dengan dahi bercucuran darah dan tertempel kunai.
"Ya ampun!!! Ya ampun!!! Ya ampun!!! Ya ampun!!! Gue kriminal!! Gimana, nih??" Deidara salting sambil memikirkan ide untuk menghilangkan jejak.
CRIINNGG!! Sekelebat ide muncul di otaknya yang volume-nya ga nyampe 300cc.
Dia mengambil cangkul…
Beberapa menit kemudian, Deidara telah kembali dengan latian kunai n shuriken-nya.
"Gue emang pinter! Kalo keadaannya gini, Detective Conan pun ga akan tau kalo ada pembunuhan!" kata Deidara (merasa) menang.
Dan ngikik lah makhluk hermaprodit itu…
(o.O)
TenTen…
"Halo, TenTen! Lagi ngapain?" Tanya pria berambut kuning-super-ngejreng.
"Oh, Minato-sama," sapa TenTen, "Saya sedang belajar membuat patung tanah liat.
"Hah?? Tapi… mana tanah liatnya?"
"Itu dia masalahnya! Saya juga lagi nyari tanah liat,"
"Mending bikin sendiri, aja! Kamu tinggal mencampur tanah dengan sedikit air sampai kental," saran Minato-sama.
"Wah, sepertinya Minato-sama berpengalaman, yah?"
"Maklum, saya jadi tukang bangunan 10 tahun," kata Minato-sama kecut.
"Oh," TenTen il-feel.
Akhirnya TenTen mengambil cangkul –yang sepertinya baru saja dipakai seseorang- dan mulai segera mencangkul.
"Hap!! Hap!! Hap!! Hap!!" TenTen mencangkul bak orang tua kena encok lagi nyabutin rumput.
BRUKK!!! SRAAKK!!! Tanah galian TenTen mental kemana-mana.
"Ten---- Ad--- Sto--- Say--- Terkubu---,"
"Eh? Suara patah-patah tadi apaan, yah?" TenTen berhenti sebentar, "Cuek, ah!"
Beberapa puluh menit kemudian…
"Minato-sama!!! Udah cukup belom ta… nah… Lho? Minato-sama mana?" TenTen mencari-cari di sekitar.
"Waduh, kalo sampe ilang bahaya! Bisa dibunuh gue ama Naruto!" gumam TenTen ngeri sambil mengijak-injak tanah hasil galiannya.
Dan bingunglah dia…
(o.O)
Sasori…
"Buset dah ni kebon! Banyak amat nyamuknya!" gerutu Sasori sambil menggaruk-garuk lengannya.
"Gini gue disuruh ngontrol serangga?? Yang ada gue malah bentol-bentol!" Sasori masih terus ngedumel.
Sasori jalan di daerah hutan bernama Forest of Death. Namanya aja keren! Isinya cuma nyamuk ama semut!
"Ouch!!! Sialan!" Sasori digigit nyamuk lagi.
"Breng**k, lo! Terima, nih!" teriak Sasori sambil melempar kerikil ke udara.
BLETAK!!!
Sasori mematung…
NGGUUUUUUNNNGGG!!!!!
Sasori (masih) mematung…
"HWAAA!!!!! TAWON!!!!!"
Dan marathon lah cowok imut-nan-feminim itu…
(o.O)
Shino…
"Mengontrol kugutsu… Berarti mengotrol boneka," kata Shino di taman kota dekat KHS.
Dia memandang boneka Barbie di depannya.
"………"
Barbie tersenyum manis.
"………"
Barbie menatap Shinio manja –halah!-
"………"
Barbie masang muka mupeng.
"……… Susah banget, sih… Padahal gue nyuruh boneka ini biar nangis mencak-mencak, kenapa malah jadi mupeng gini?" Shino menghela nafas.
"HUWWWEEEE!!!!" tangis seorang memekakkan telinga.
"Hah? Apa bonekanya menangis?" Shino heran.
"Mami!!!! Dia nih yang nyuri Barbie kesayangankuwh!!!" adu AnakKEcilIngusan pada MamiSokJagoan.
Shino menoleh.
"Ooooohhhh… Jadi kamu yang berani-beraninya ngerebut boneka anak saya?!" MamiSokJagoan berteriak di depan muka Shino.
"Engga, kok!" Shino mengelak.
"Trus, boneka apa yang ada di depan kamu ituh?!"
"Ini? Ini boneka Barbie,"
"Saya juga tau!! Tapi itu punya anak saya!"
Shino memandang Barbie yang sekarang dia pegang, lebih jelasnya 'Barbie Berpakaian Bikini'.
"Tapi anak Anda khan laki-laki, masa mainan Barbie –digeplak Sasori-,"
"Lha kamu sendiri apa?! Cowok kok maen Barbie! Mana Barbie curian, lagi!" MamiSokJagoan masih teriak-teriak.
JLEBB!!!
"Balikin Barbie anak gue!" kata MamiSokJagoan kemudian merebut Barbie dari tangan Shino dan menyerahkannya pada anaknya.
Shino diam…
Menyadari, bahwa dia –laki-laki- telah bermain dengan mainan perempuan…
Dan terlukalah hati rapuh Shino –hueksss!-
(o.O)
Faika…
"Gempa adalah…" gumam Faika sambil membaca 'Ensiklopia Pelajar Bodoh'.
"Kalo getaran pake tangan, berarti di pukul, ya? Coba aja, deh!"
Faika memandang tembok di sampingnya, sepertinya 'agak' keras.
BRAAAKKK!!!!
"AOOOWWW!!!!" erang Faika sambil memegangi tangannya.
"Ssssssssssssstttttttttt!!!" murid yang lagi asyik baca menyuruh Faika diam.
"Go… gomen," kata Faika merasa berdosa.
Faika memutuskan untuk latihan di belakang ruang guru.
BRAAAKKK!!!!
"AOOOWWW!!!!" erang Faika lagi.
"Ssssssssssssstttttttttt!!!" guru-guru di dalam ruang guru pada berhamburan ke arah jendela.
"Nee Faika-chan! Kamu pegawai perpustakaan, kan? Masa ga bisa jaga ketenangan? Kami sedang rapat!!" teriak Iruka-sensei.
"Go…Gomen," lagi-lagi Faika harus pindah.
Akhirnya Faika memutuskan untuk latihan di halaman belakang (tempat Kisame nyaris sakaratul maut).
"Di sini aman. Hewan ga bakal protes kalo saya teriak kenceng-kenceng," Faika tersenyum.
Faika menghela nafas, "Siap!"
BRAAAKKK!!!!
"AOOOWWW!!!!"
KRETEK… KRAAKK…
Faika bengong ngeliat tembok luar kandang terbelah dua.
Para hewan cengo ngeliat tembok di belakang mereka sekarang terbuka lebar.
"Teman-teman hewanku! Telah datang masa dimana kita bisa bebas dari majikan-majikan norak kitaaaa!!! Mari segera tinggalkan tempat penuh kebiadaban ini!!!" instruksi Gamabunta dalam bahasa rimba.
GEDUBRAK!!! GEDUBRAK!!! PRANGG!!
Para hewan berlarian keluar dengan sukacita. Beberapa malah sempat memberi kiss bye pada Faika. Beberapa mengeram dengan suara khas masing-masing. Seperti meneriakkan 'Faika-chaaan!! Terima kasih telah membebaskan kami dari jerat setan iniii!!!'
"Hiks… Hewannya… Lari semua… Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!" teriak Faika sambil menjeduk-jedukkan kepala ke tembok yang masih utuh.
Dan remuklah tembok berserta dahi Faika…
(o.O)
Sakura…
Sakura lagi kongkow-kongkow di bawah pohon kamboja sambil membaca catatan kecil.
"Salah Jutsu karangan Abdoel Moeis, Sitti Tayuya karangan Marah Rusli, Si Sakon dan Si Ukon disadur ama Merari Siregar," gumam Sakura.
"Huff… Huff… Sakura… Ini data buku yang lain…," kata TemenSakura.
"Mana gue liat! Para Kunoichi karangan Umar Khayam, Dari Amegakure ke Jalan Lain ke Iwa karangan Idrus, Bijuu! Bijuu! Karangan Mochtar Lubis,"
"Segitu cukup?"
"Cukup? Ini sih masih sedikit bangeeet!! Cepet catet lagi!" bentak Sakura.
"Tapi, semua buku di perpus udah…"
"Beneran?"
"Iya…"
"Ya udah deh, thanks. Balik sono!" usir Sakura.
TemenSakura pergi, Sakura melanjutkan menghafalkan.
"Hadiah dari Misi karangan Ismet Fanary, Kugutsu Biru karangan Achmad Munif, Kuchiyose Merah karangan Ahmad Tohari…."
Dan jontor lah bibir Sakura ngapalin nama buku dan pengarangnya…
(o.O)
Yuki-chan…
"Suara gagap? Dikira gue anak terbelakang apa?!" Yuki-chan ngomel-ngomel.
"Masa gue disamain ama Hinata-cewek-lemot-nan-gagap itu, sih! Tapi… demi Sasori-chan, gue harus bisa ngomong gagap!!"
Yuki-chan mulai mengetes suaranya.
"Do Re Mi, oke udah bagus," Yuki-chan merasa PeDe.
"Ha… halo… na… nama gue… AARRRGGGHH!!! Kurang gagap!! Gimana, nih?" Yuki-chan mencak-mencak.
Tiba-tiba Yuki-chan melihat sebuah selebaran
Anda Mau GAGAP??
Tekan Saja Lidah Anda Dengan Sendok Teh!!
"Brosur norak!! Tapi… berhasil kagak, yah?" Yuki-chan bimbang.
Yuki-chan melirik tempat penyimpanan sendok di rak atas, "Coba dulu aja, deh!"
Yuki-chan mengambil sendok teh kemudian menekan lidahnya.
"Moga-moga aja berhasil."
Yuki-chan menghirup nafas dalam-dalam.
"Huuuuuuuuuuppphhh… Agh!! Uhuuk!! Uhuuuk!!" sendok teh tadi tertelan.
"Uhuk! Uhuk! To… Uhuk! Long.. Uhuk!!" Yuki-chan menggelepar-gelepar.
Dan megap-megaplah Yuki-chan sambil berusaha mengeluarkan sendok teh…
(o.O)
Hinata…
"A… aku… ga… bisa…" kata Hinata pasrah.
Tiba-tiba dia melihat iklan soda yang menampilkan peminumnya dapat membuat suara sangat keras.
"Apa… iklan… itu… beneran? Aku… coba… saja…" Hinata mengambil soda yang sama seperti di iklan.
Tanpa tanggung-tanggung Hinata menghabiskan 1 botol kapasitas 1,5 liter. Dia merasa aka nada yang keluar dari mulutnya.
"OOOEEEEKKK!!" Hinata bersendawa keras banget.
"A…aduh… aku… ke—OOOOEEEEKKK!!!" Hinata sendawa lagi.
"Gi… mana… ini—OOOEEEKKK!!!" lagi-lagi.
Dan nyaris habislah gas di perut Hinata gara-gara keseringan sendawa.
(o.O)
Konan…
Sudah berhari-hari Konan berusaha membuat ikebana yang cantik, namun hasilnya sungguh diluar dugaan.
Semua bunga yang harusnya ditata rapi, malah dilipat-lipat menyerupai pepes.
"Gimana, nih? Bunganya bukan ditata malah dilipet-lipet mulu!" gumam Konan cemas.
Konan berjalan-jalan di area asrama guru.
CRIIINNGG!!! Bayangan bunga mawar merah mengganggu pandangannya.
"Aduh… Konan… Tahan…" kata Konan pada diri sendiri.
CRIINNGG!! Bayangan itu masih menyilaukan.
Seorang guru bahenol dengan pakaian yang sepertinya terbuat dari kertas lakmus muncul sambil membawa siraman bunga.
Konan makin ga kuasa nahan godaan buat metik bunga-bunga itu.
"Gomen Kurenai-sensei!! Demi masa depan saya!!" kata Konan cepat kemudian memotong bunga-bunga Kurenai-sensei.
Kurenai-sensei cengo sesaat, belum sadar apa yang terjadi.
"Aaaaahhhh!!! Buang saya!! Bunga saya!!! Dasar murid biadab! Cepet pasang lagi bunga saya!" teriak Kurena-sensei sambil melempar ember dan tepat mengenai Konan.
PLETAK!!
"Cepet sambung lagi! Saya ga mau tau! Hu… Hu…" Kurenai-sensei mulai nangis.
"I… iya, Sensei…" Konan akhirnya bersusah payah menyambung tangkai bunga dengan lem pipa.
Dan selamat berjuang untuk Konan…
(o.O)
Ino…
Ino lagi jalan bareng Sai di Konoha Land. Mereka baru aja ketemu 10 menit yang lalu.
"Sai, kapan kuliah elo selese?" Tanya Ino tiba-tiba.
"Uhm… Tinggal skripsi doang. Paling beberapa minggu lagi," jawab Sai sambil tersenyum.
"Beberapa minggu itu kapan? Lo bilang beberapa minggu tapi nyampe 2 taon!" dengus Ino.
"Dua tahun khan juga beberapa minggu. Tepatnya 104 minggu (bener ga?)," Sai menjelaskan.
"Balik aja, ah. Gue lagi males," kata Ino.
"Ya udah, kamu tunggu di mobil dulu, saya mau ke toilet sebentar," ujar Sai, masih tetap tersenyum.
Mereka akhirnya berpisah. Ino melangkah gontai menuju BMW silver milik Sai.
"Apa gue tanya tentang origami ama Sai aja, ya? Tapi khan dia anak Seni Tanpa Judul…" Ino bergumam bimbang di dalam mobil.
Ino melihat interior dalam mobil Sai, cukup lengkap dan mewah. Pandangan Ino terhenti pada tumpukan kertas di jok belakang.
"Daripada garing nungguin Sai yang kayaknya lagi boker, mending gue latian origami lagi," kata Ino pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Sai datang.
"Maaf lama, tadi aku tiba-tiba kena diare," ujar Sai.
"Udah tau. Paling diare dadakan elo kumat lagi," jawab Ino tanpa melihat Sai. Dia sibuk melipat-lipat kertas menjadi bentuk ikan.
"Ino-chan bikin apa?" Tanya Sai melihat kesibukan Ino.
"Origami. Masa ga liat?"
"Kamu beli kertas cuma buat bikin itu?"
"Siapa yang bilang beli? Orang gue ngambil di jok belakang,"
Sai melihat jok belakang. Tiba-tiba ekspresinya kembali. Dia syok!!
"BAKA-INO!! ITU KERTAS SKETSA SKRIPSI AKUUU YANG AKU SUSUN SEJAK 3 TAHUN YANG LALUUUUU!!!" teriak Sai histeris melihat 'masa depan'-nya dilipat dengan biadab.
"WHAADD??!" Ino juga ikutan kaget.
"Hu… Hu… Hu…" Sai mulai mewek.
"Go… Gomen, Sai! Ini gue balikin!"
SREEKK!!
Kertas-kertas itu sobek.
Dan tepar lah Sai…
(o.O)
Zetsu…
Sudah kesekian kalinya dia latian lari stadion. Namun, catatan waktunya yang paling bagus adalah 1059"59'. Penyebabnya adalah, karena kedua kepribadian Zetsu berselisih paham. Begini percakapan mereka :
Item : Kenapa kita harus lari? Bikin capek, tau!
Putih : Karena ini merupakan perintah. Kalo ga lari, kita bisa kalah.
Item : Emang kenapa kalo kalah?
Putih : Kita bakal jadi budak.
Item : Emang kita budak, kan?
Putih : Berarti kita jadi budak dobel.
Item : Kok?
Putih : Soalnya kita jadi budaknya budak.
Item : Ga ngerti gue…
Putih : Sama. Jadi, mau lari ga?
Item : Terserah lo aja, deh…
Begitulah. Dan percakapan itu terjadi tiap 5 menit. Sampe warga KHS mengira Zetsu mengalami kelainan jiwa karena ngomong sendiri. Tapi, setelah mereka melihat muka belangnya Zetsu, mereka langsung ngerti.
Item : Tunggu dulu, emang lari itu wajib?
Putih : Lo diem aja napa, sih? Sumpek gue!
Dan bertengkarlah mereka…
(o.O)
Rock Lee…
Rock mencoba bergelantungan bagai pohon benalu di ranting pohon mangga. Tiba-tiba Gai-sensei dateng.
Gai-sensei : Rock Lee murid unggulanku!!!
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Rock Lee, kamu kenapa?
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Pohon? Maksudnya?
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Lupakan! Bagaimana kalau kita lari keliling lapangan 100 kali seperti biasa?
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Rock Lee anak berbakat, kamu kenapa?
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gasi-sensei : Rock Lee, sadarlah, Nak! –nampar-nampar Rock Lee-
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Rock Lee, apa yang terjadi padamu?? Mana semangat masa mudamu yang bergelora??
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Gai-sensei : Tidaaaaakkk!! Kiamat sudah dekat!!!
Rock Lee : Saya adalah pohon…
Dan histerislah Gai-sensei…
(o.O)
Hari pertandingan…
"Sekarang, saya Ryuuta akan melaporkan jalannya pertandingan Akatsuki vs Rookie 12!! Sekarang kita sedang menunggu datangnya peserta dan Yuuichi-sensei!" kata Ryuuta semangat di sebelah duo Uchiha.
"Ryuuta!! Brisik tau! Matiin gih toa-nya!!" bentak Asano.
"Bikin budek aja!" Akira menambahi. Ryuuta manyun.
Beberapa saat kemudian, para peserta datang. Mari kita liat keadaan mereka sebelum bertanding!
Kubu Akatsuki ft Faika n Yuki-chan :
Pein pake kacamata superdupertebel. Itachi mengkonde rambutnya ketat. Hidan bawa-bawa papan shogi. Topeng Tobi gosong. Kisame jalan pake tongkat dengan kedua tangan dan kaki kiri digips. Perut Kakuzu keliatan kayak ibu hamil 9 bulan kena busung lapar. Deidara masang wajah gue-ga-ngebunuh-orang-lho. Tubuh dan muka Sasori ditumbuhi bentol-bentol mengerikan. Kedua tangan Faika diperban tebel. Yuki-chan pake penyangga leher. Tangan Konan lengket kena lem. Dua kepribadian Zetsu masih berdebat.
Kubu Rookie 12 :
Wajah Neji kumus-kumus mupeng. Muka Sasuke mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan dini. Kepala Shikamaru banyak benjolan. Rambut Naruto tambah njeprak n samar-samar ada aliran listrik. Akamaru menyeret Kiba yang masih meratapi makan malamnya. Chouji keliatan agak kurus, bajunya lusuh, n mukanya melas. TenTen masang wajah gue-ga-tau-dimana-Minato-sama. Shino diem terus sambil kadang menggumam "gue cowok..". Sakura jadi latah, misalnya "Anak Perawan di Sarang ANBU karangan…". Hinata keliatan pucat n tiap 2 menit ngeluarin sendawa yang membahana. Ino keliatan sibuk nyusun sketsa skripsi sambil nangis. Rock Lee terus-terusan bilang, "Saya adalah pohon…" tanpa bergerak.
Yuuichi-sensei terlihat menuju lapangan. Sekali-dua kali dia melihat ke arah murid-muridnya yang terlihat tidak memiliki masa depan. Beliau menghela nafas.
"Oke!!! Karena semuanya sudah hadir, langsung saja kita mulai pertandingannya!!!' teriak Ryuuta lantang.
"Baiklah, semua bersiap di depan rival masing-masing," instruksi Cantik-chan n Sora barengan.
"Siaaaap??! Satuuu… Dua… Ti…." Kata-kata duo Uchiha terpotong.
"APA-APAAN KALIAN???!" suara Tsunade-sama menggelegar.
"Tsu… Tsunade… Tsunade-sama?!" ucap mereka berbarengan –plus sendawa heboh dari Hinata-.
"Saya tunggu kalian semua di kantor! SEKARANG!!!" perintah Tsunade-sama.
Mereka saling berpandangan. Ngeri.
(o.O)
Ruangan Tsunade-sama…
Akatsuki, Rookie 12, dan Yuuichi-sensei berdiri HHC di depan meja Tsunade-sama. Yang lainnya ga dibolehin masuk.
"Apa yang sebenarnya akan kalian lakukan?!" bentak Tsunade-sama, "Saya mendengar laporan kalau kalian mengancam keselamatan jiwa warga KHS lainnya."
"Sebenernya kita---," kata-kata Yuuichi-sensei terpotong.
"Jangan bicara, Yuuichi-san. Saya ga kuat dengar suara Anda. Biar murid-murid Anda yang berbicara. Anda keluar saja," kata Tsunade-sama agak lemah.
Yuuichi-sensei segera pergi. Yang tersisa di ruangan itu merasa kepergian Yuuichi-sensei merupakan kedatangan malaikat pencabut nyawa.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?! Neji?!"
"Ka… kami… Cuma…" Neji ga kuasa ngomong karena otaknya masih dipenuhi aura-aura bokep.
"Ah, sudahlah!! Bisa-bisa saya jadi stress seperti Orochimaru-chan… Bahaya! Intinya, kalian meresahkan warga KHS. Kalian harus dikeluarkan!!" bentak Tsunade-sama.
Mereka semua kaget. Terlebih Neji, Sasuke, dan Tobi.
"Tapi… masa… lagian ga ada bukti, kok!" sangkal Sasuke.
"Siapa bilang?! Buktinya Sandaime ditemukan dikubur hidup-hidup! Untung bisa selamat. Kejadian serupa juga menimpa Minato-sama, ketua Komite," balas Tsunade-sama.
"Uaappah?! Papi?!" Naruto syok.
"Saya sudah tidak bisa membiarkan kalian berkeliaran di KHS yang damai ini," ujar Tsunade-sama sok dramatis.
"Tapi, masa cuma gara-gara satu kesalahan kita langsung dikeluarin sih, Bu?! Pas di Oto aja pelanggaran kita udah menuhin black record baru kita dikeluarin," Tobi beralasan.
"Soalnya ini KONOHA HIGH SCHOOL!! Bukan OTO HIGH SCHOOL!!"
Semua murid diam.
"Segera kemasi barang kaliat. Pagi-pagi sekali kalian sudah harus sampai di Suna Military," kata Tsunade-sama enteng, "Udah sono pergi!"
Mereka pergi dengan langkah gontai.
(o.O)
Pagi pukul 04.30, depan gerbang Suna Military…
"Buset… Sekolahnya kayak apa ya kalo gerbangnya aja banyak kawat berduri??" Pein ngowoh.
"Namanya juga sekolah militer…" gumam Neji.
NGIIIIIKKKK…. Gerbang dibuka.
Ada tiga orang. Satu cewek dua cowok.
"Kalian dari KHS?" Tanya cowok yang pake eyeliner ketebelen.
"Iya," jawab mereka kompak.
"Silakan masuk," kata cewek berkuncir 4.
Akatsuki n Rookie 12 masuk dengan tertib.
"Eeeeehhhhh!!! Lu sape? Anak KHS juga?!" cowok yang berpakaian ala batman mencegat seorang cewek.
"Bukan. Saya anak mama dan papa (ga nyambung)," jawab tuh cewek.
"Trus, ngapain lu ke sini?!"
"Saya bertugas menceritakan keadaan Akatsuki n Rookie 12," tuh cewek ngejelasin.
"Kagak ada!! Pulang sono!!" usirnya senonoh.
"Tapi… pembaca… gimana?!"
"Emang gue pikirin?! Kalo mau masuk, ga boleh keluar ampe lulus! Ga ada hape, inet, ama listrik!"
"Sekolah macam apa ini?! Globalisasi kok masih purba?!" ejek tuh cewek.
"Ngejek?! Gue tampol, lu!!"
BRAAAKKK!! Gerbang ditutup tepat di depan wajah cewek malang tersebut.
(o.O)
Au : Alhamdulillah.. Selese juga –ngadaian tumpengan-. Endingnya noraaaakkk!!! Maafkan dakuwhhh…. Tapi, makasih udah sempat membaca…
Makasih buat yang baca n ngereview, yang baca tapi ga ngereview, dan yang ga baca tapi ngereview (emang ada?!). Akhirnya fic panjang nan ga jelas ini selese sudah… Saya legaaaaa!!!!
Hehehehehe… Tolong review, yah? Untuk last chap iniiiiii ajah! Plissss…. Kalo bisa, semuanya yang baca!!! Ga terkecuali!!!
Minna-san, hounto ni arigatou gozaimashita!!!
Ryuuta
Kamar Saya, 2008 Dec 15th
17.34 WIBss
