Tuberose

Vampire Knight © Matsuri Hino

Main pair : Naoya Tadashi (OC) x Kaname Kuran

Slight : Kaname x All male vampires, Zero x Yuki

Genre : Romance & Supernatural

Warning! : Shounen ai, malexmale, Slash, bit Shoujo, Action, OC, OOC, AU, miss typo, dll.

.

.

.

.

Chapter Two

.

'Apakah aku akan mati di sini?'

Itulah kalimat yang tergiang di kepalaku saat menerawang ke langit malam yang menurunkan hujan lebat. Aku terbaring di tengah padang rumput kosong dengan tubuh berhias luka. Penampilanku lusuh, mantel dan celana hitam yang kukenakan basah serta sobek sana-sini. Darah keluar dari kulit-kulitku yang tersayat lebar, tersapu air hingga menodai permukaan tanah sekelilingku. Perih sekali. Rambut pirang platinaku terasa lembab. Pandangan mata Lavenderku memburam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan inderaku yang lain serasa tumpul.

'Mengapa bisa berada di sini?'

Pertanyaan bagus. Karena aku sendiri juga bingung bagaimana menjawabannya. Seingatku, aku mau pergi ke café kopi yang terletak tak jauh dari apartemenku. Aku hidup sendiri. Ayah dan ibuku meninggal dalam tugas karena melindungi keluarga bangsawan vampire yang mereka layani 20 tahun lalu. Lalu, bagaimana aku bisa terdampar disini?

"Hei—kau—dengar—aku—"

Samar-samar, telingaku yang berdengung menangkap sebuah suara. Aku melirik ke asalnya. Menemukan bayangan sesosok anak kecil. Dia menghampiriku, berlutut di samping badanku yang terlentang kaku.

"Kau tidak apa?—bisa mendengarku?" tanyanya membungkuk rendah.

Dari dekat, aku bisa melihat rupanya lebih jelas. Bocah itu memiliki rambut coklat gelap dengan potongan panjang di tengkuk leher. Poninya tergerai, menutupi sepasang mata Scarlet-nya yang menyala dalam kegelapan. Fisiknya yang mungil nampak seperti anak perempuan berumur 10 tahun. Tapi aku tahu dia laki-laki, dan bau ini… dia salah satu keturunan vampire darah murni. Pureblood yang sangat diagungkan oleh para vampire rendahan.

"Hei, jawablah," katanya lagi berusaha membuatku merespon.

Percuma, tenggorokanku serasa kering dan panas, semua syarafku lumpuh. Aku tidak bisa membalas apapun.

Bocah berwajah manis itu menghela nafas, beralih memeriksa luka-luka di sekujur tubuhku yang regenerasinya lambat. "Harusnya kau tidak perlu membantuku tadi. Aku bisa menghadapi kumpulan level D dan E itu sendirian. Lihat akibatnya, setidaknya kalau mau berlaku pahlawan, jangan terluka sampai parah begini," paparnya menatapku iba.

'Oi, kau mau menolongku atau menceramahiku, sih?' batinku jengkel.

Aah ya, aku baru ingat. Waktu melewati jalan pinggir hutan, aku memergoki anak ini dikerubungi vampire kotor itu. Karena kuduga dia terpojok, aku memutuskan untuk menolongnya. Siapa sangka aku malah dikeroyok dan hampir dijadikan santapan para monster gila itu. Untungnya aku berhasil menghabisi mereka. Dampaknya sih aku terluka parah begini. Haha, malang sekali nasibku.

Deru nafasku makin keras dan berat. Dadaku sesak dan nyeri. Menyebalkan. Kelihatannya aku akan segera menjemput ajalku. Yaah, kupikir mati seperti ini tidak buruk juga… karena aku sudah menyelamat keturunan Raja yang baru kutemui pertama kali ini.

Bocah itu memandangiku lekat. Entah benar atau bukan, aku seakan menangkap binar sedih di iris merahnya. Apa dia mengasihaniku?

"Aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi aku terkesan denganmu yang tidak takut padaku…" ucapnya lirih. Dia mengangkat tangan kanannya dan membuat kuku-kukunya memanjang runcing. Detik selanjutnya, tidak kusangka anak itu mencakar pergelangan tangan kirinya sendiri. Membiarkan darah berharganya mengucur keluar dari pembuluh nadinya.

Jantungku mulai berdebar kencang. Aroma manis dari liquid merah kental miliknya, sungguh membangkitkan insting vampire-ku. Mengundang nafsuku yang sedang dilanda kelaparan akibat kehilangan banyak darah.

Bocah itu menyadari reaksiku. "…Aku akan memberimu sedikit darahku. Saat itu, kau akan menjadi pelayan dan pelindungku. Pengikutku yang setia…"

Tubuhku bergerak sendiri, menyambar cepat pergelangan tangan mungil vampire cilik di hadapanku. Aku yang sudah dikuasai iblis, menancapkan gigi taring ke kulitnya kuat dan menghisap darahnya dengan rakus. Anak lelaki itu merintih. Namun, tidak berusaha menghentikan seranganku. Matanya menatap manik ungu gelapku yang berpedar tajam. Memperhatikan raut mukaku yang mengeras geram.

Jemari kecilnya yang bebas mengusap pipiku lembut. "…kau akan mengabdi padaku hingga akhir hidupmu…"

"—Naoya Tadashi."

.

.

"Biarkan aku mengenalkan diriku kembali," kata Naoya memandang Yuki dan Zero yang berdiri di belakang sofa tempat Kaien duduk. "Namaku Naoya Tadashi. Aku adalah vampire level C, mengabdi sebagai pelayan setia keluarga Kuran. Atau lebih tepatnya, pada Kaname-sama," lanjutnya sambil mengulas senyum tipis.

Gadis berambut coklat sebahu mengerjap. "Level C? Tapi kau punya kekuatan khusus, bukankah hanya vampire bangsawan atau level B dan Pureblood yang memiliki kemampuan begitu?" tanyanya penasaran.

"Memang benar, awalnya aku terlahir sama seperti level C umumnya. Tetapi berkat Kaname-sama, aku mendapatkan kekuatan ini," terang Naoya seraya menggerling ke arah Tuannya yang sudah duduk di sofa single.

"Karena Kuran?" pemuda bersurai silver menautkan alis, tidak mengerti akan ucapan Tadashi barusan. Sementara Naoya hanya membalas tersenyum simpul.

"Kaname-kun bilang kau telah membunuh seorang vampire level D sewaktu mau datang kesini. Mengapa dan dimana kejadiannya, Naoya-kun?" ujar Kaien sambil mengaitkan jemari dua tangannya di depan dada. Sebagai mantan Hunter yang diberi perintah untuk mengawasi daerah ini, dia perlu tahu detail peristiwa apapun yang terjadi dan melaporkannya ke markas asosiasi.

Lelaki pirang platina tersebut melangkah mendekati kursi Kaname. "Di luar gerbang kota bagian barat. Sebenarnya ada dua orang, aku tidak sengaja bertemu mereka di sana. Kulihat keduanya bertingkah aneh dan berbicara tentang pemburuan vampire darah murni. Kupikir mereka mengincar Kaname-sama karena hanya dia satu-satunya Pureblood di kota ini. Makanya aku langsung menyergap dan menginterogasinya," jabarnya.

Manik Scarlet sang Kuran melirik datar. "Hasilnya?"

"Dugaanku benar. Mereka adalah pesuruh yang dikirim seseorang untuk mengintai anda. Sayangnya saat mau kulenyapkan, satunya lolos dan yang tewas tidak bersedia mengatakan siapa Tuannya," sambung Tadashi.

"Huh, musuhmu banyak sekali Kuran," sarkas Zero bersidekap dada.

"Dan kau pasti mau menghabisi mereka dengan senang hati bukan, tuan dhampire?" balas Kaname menyeringai tipis.

"Cih—" Zero benci sebutannya yang merupakan manusia setengah vampire. Meski benar kata Kaname, siapapun vampire yang menyerang akademi ini bakal dia lenyapkan tak bersisa.

"Apakah anggota senat yang mengirimnya?" ucap Kaien.

"Mungkin saja. Sebab, kebanyakan dari mereka tidak setuju dengan usulku yang ingin menciptakan dunia dimana vampire dan manusia dapat hidup berdampingan," tutur Kaname kalem.

"Ck, sejak awal rencanamu memang tidak akan pernah bisa terwujud," desis Kiryu menatap sinis sang Pureblood di depannya.

"Zero!" tegur Yuki memandang sahabatnya kesal. Tidak suka pada cara bicaranya tadi.

"Sepertinya aku perlu memperketat penjagaan di kota," kata pria Kurosu menghiraukan dua anaknya yang saling melempar death-glare. "Akan kusuruh Yagari menambah personil Hunter disana."

Mendengar itu, Yuki tersentak. "Oh ya, menurutku itu harus dilakukan Tou-san. Soalnya waktu aku dan Zero tiba di kota, keadaannya sepi dan tidak ada siapapun di jalanan. Lalu kami juga diserang beberapa vampire level E ketika pulang," jelasnya. "Tadashi-san menolong kami mengalahkan mereka," lanjutnya melirik ke Naoya.

"Ukh—tahu begini kemarin aku berkeliling bersama Yagari," desah Kaien.

"Untuk sementara kita kesampingkan dulu masalah ini," sela Kaname beralih menatap sang kepala sekolah lekat. "Ada yang ingin kuminta dari anda, Kurosu-san."

"…Apa itu?"

Zero dan Yuki diam turut menyimak.

"Aku ingin anda mendaftarkan Naoya Tadashi sebagai salah satu murid pindahan di Night Class."

Serentak, Kaien beserta dua putra-putri angkatnya membulatkan mata tercengang. Termasuk Naoya yang mengerjap kaget.

"HAH?! Buat apa dia bersekolah disini?!" teriak Zero menuding Naoya tidak terima.

Mata Ruby Kuran melihat si pemuda Hunter datar. "Keberadaannya aku perlukan disini. Selain menjadi siswa, dia juga kuperintahkan untuk ikut menjaga keamanan Akademi."

Kaien membisu. Sepasang iris Topaz-nya menyorot selidik ke ketua asrama Bulan. Dia merasa anak tunggal sahabat lamanya ini menyembunyikan maksud tertentu. Namun hatinya percaya, apapun itu Kaname pasti tidak berniat melibatkan dan membahayakan warga sekolah ini. "…Baiklah, akan kupikirkan," putusnya.

Zero terperanggah. "Pak tua!"

"Yuki-chan keberatan?" toleh Kaien pada putri kesayangannya.

"Hmm, tidak. Malah aku senang kalau Tadashi-san mau membantu pekerjaan kami sebagai Guardians," gumam Yuki mengangguk setuju.

"Berarti tidak masalah," balas Kaien tersenyum tipis sebelum beralih ke Zero. "Apa kau akan menolak, Zero-kun?"

"Ck, terserah," decak Kiryu sebal. Tahu jika penolakannya percuma.

Pria berambut coklat terang menghela nafas lega. "Bagus. Sementara aku mengurus surat-surat kepindahanmu, kau bisa langsung tinggal di asrama Bulan, Naoya-kun."

"…Baik, Arigato-gozaimashita," ungkap Naoya menunduk hormat.

Merasa urusannya sudah selesai, Kaname berdiri dari duduknya. "Kalau begitu, kami permisi. Kelas akan dimulai besok, dan aku perlu memberi arahan pada Naoya," ujarnya.

"Ya," Kaien mengangguk paham. "Bila jadwalmu tidak padat, besok sempatkan mampir ke kantorku, Kaname-kun," katanya yang dibalas anggukan singkat oleh Kuran.

Naoya mengikuti Tuannya yang mulai berjalan menuju pintu ruang keluarga. Tepat sebelum keluar, Yuki menahan mereka.

"Tadashi-san."

"Ya, Yuki-san?"

"Kau belum minum kopimu," ujar gadis bersurai coklat sebahu sambil menyodorkan secangkir kopi hitam buatannya.

"Oh, maafkan ketidak-sopananku," buru-buru Naoya menerima dan meneguk habis kopinya. "Arigatou, aku menyukainya."

"Syukurlah," bibir Yuki melengkungkan senyum manis.

"…anda tumbuh menjadi gadis yang anggun, Yuki-sama," lirih Naoya seraya menatap Yuki dengan mata Lavender berkilat sendu.

"Hah?" Manik delima Kurosu berkedip. Tidak mendengar apa yang digumamkan Tadashi.

Pemuda pirang platina menggeleng. "Bukan apa-apa," elaknya tersenyum tipis.

"Ooh," Yuki berpindah kepada Kaname. "Sampai jumpa besok, Kaname-sama. Jaga kesehatanmu," pesannya.

Sang vampire Pureblood tersenyum kecil. Mengulurkan satu tangannya untuk mengusap helaian rambut Yuki yang halus. "Ya, jangan tidur terlalu larut Yuki…" balasnya memandang lembut.

"Hehe, pasti," jawab Yuki tersenyum lebar.

Dari kejauhan, Zero menyipitkan mata jengkel melihat interaksi tersebut. Sangat tidak senang bila Yuki disentuh sembarangan oleh Kaname. Tetapi karena Yuki membiarkannya, dia tidak mengambil tindakan apapun. Menyadari tingkahnya, Kaien berusaha menahan kekehannya. Aah, enaknya masa muda itu…

.

.

Asrama Bulan. Adalah tempat tinggal para vampire yang mengikuti pelajaran Night Class. Berlokasi di area timur dalam kawasan Cross Academy. Berjarak 250 meter dari gedung sekolah dan 500 meter dari asrama Matahari—hunian para murid manusia. Bangunan megah bergaya victorian itu ditutupi oleh pepohonan lebat serta dikeliling pagar tembok tinggi. Penerangan lampu yang remang, menambah kesan ngeri bagi setiap orang awam yang melihatnya dari jauh.

Di suatu ruangan luas yang didominasi perabotan mewah nan mahal, nampak beberapa remaja yang berdiam disitu. Empat lelaki dan dua perempuan. Tiga diantaranya duduk di sofa yang disediakan dan tiga lainnya berdiri tenang. Keenamnya memperhatikan pintu kayu jati besar yang menjadi jalan masuk ke dalam gedung asrama. Mereka menunggu kedatangan sang Ketua. Pemimpin sekaligus teman mereka.

Seperti yang diharapkan, menit berikutnya dua daun pintu di hadapan mereka mulai terbuka. Menampilkan dua pemuda tampan yang berjalan memasuki ruangan. Kaname Kuran melangkah pelan diiring sesosok lelaki asing bersurai pirang platina dan bermata ungu gelap. Kehadirannya membuat kelima remaja lain memasang sikap waspada. Kecuali satu orang yang maju menghampiri Kaname dengan tenang.

"Okaeri-nasai, Kaname…" sambut pemuda berambut pirang dengan iris mata Jamrud. Wakil Ketua asrama, Takuma Ichijou. Bibirnya menyinggungkan senyum kalem.

"Hn, Tadaima," balas sang Pureblood seraya melepas mantelnya. Dia mengambil duduk di sebuah kursi single.

"Lama tidak jumpa, Naoya-san," Takuma beralih menyapa tamu mereka.

"Ya, senang dapat berjumpa lagi, Takuma-sama," balas Naoya tersenyum ramah.

Lelaki jangkung berambut spike warna Moccasin, mendekati Kaname. Manik Amber-nya menatap tajam Naoya yang berada di balik punggung Kuran. "Kaname-sama, siapa orang ini?" tanya Kain Akatsuki bersuara rendah.

Gadis cantik di sampingnya yang berambut Sienna panjang bergelombang, ikut memandang selidik. Ruka Souen.

Kaname melirik keduanya sekilas. Lalu memberi isyarat Naoya untuk berdiri di sebelahnya. "Dia Naoya Tadashi, pelayan keluarga Kuran," singkatnya.

Cara pengenalan Tuannya yang padat, menciptakan kekehan bagi vampire pendatang tersebut. "Huhu, rupanya anda masih berlaku irit kata seperti dulu, Kaname-sama."

"Hei! Kau level C, 'kan? Jaga bicaramu!" tegur pemuda bersurai Golden dengan iris mata Shappire. Hanabusa Aidou.

"Sudah biasa, Aidou. Sejak dulu Naoya-san memang terlalu santai," desau Takuma maklum.

"Kau mengenalnya, Takuma-san?" tanya pemuda berambut Magenta dan mata Light Grey. Senri Shiki.

Takuma mengangguk. "Ya, kami sering bertemu saat aku berkunjung ke rumah Kaname waktu kecil."

"Tapi jika dia pelayan Kaname-sama, mengapa tidak pernah menampakan diri?" timpal gadis bersurai Light Brown kuncir dua dan bermanik Azure. Rima Touya.

"Tugasku adalah menjaga kediaman Kuran. Makanya tidak pernah muncul di depan umum," terang Naoya.

"Lalu, untuk apa sekarang kau disini?" desak Hanabusa. Sebal tidak mengetahui fakta adanya pengikut setia Kaname yang lain.

Keturunan Pureblood menengahi. "Aku memanggilnya kemari karena membutuhkan perannya."

"Maksudnya?" gumam Ruka tidak mengerti.

"Ada sesuatu yang harus kukerjakan disini atas perintah Kaname-sama," jelas Naoya tersenyum simpul.

'Sampai membawa orang asing ini kemari, berarti ada hal yang tidak bisa kami lakukan untuk Kaname-sama dan hanya dia yang bisa, ya?' batin Kain mengernyitkan dahi penasaran.

Pangeran Kuran memandang datar keenam remaja di depannya. "Mulai sekarang, Naoya akan tinggal di asrama kita dan akan menjadi siswa baru di Night Class. Walaupun dia level C, kuharap kalian bisa berteman baik dengannya," tegasnya.

"Hah?" pekik Aidou kaget. "Tu—Kaname-sama, dia hanya pelayan."

Manik merah Kaname berubah tajam. "Jadi maksudmu, dia tidak pantas bergabung dengan kita?"

Aidou tergidik. Dia lupa kalau sang Ketua tidak senang bila perintahnya ditentang. "Ma—maafkan kelancanganku…" pintanya menundukkan kepala rendah.

Kaname mendengus samar. " Apa dari kalian ada yang keberatan?"

"Aku tidak keberatan sama sekali," jawab Takuma tersenyum kecil.

"…Aku terserah Kaname-sama saja," ucap Kain tidak minat.

"Aku juga terserah anda," timbrung Ruka.

"Kami berdua juga mengikuti keputusan anda," tambah Rima diiringi anggukan kepala Senri.

"…Aku juga," lirih Aidou terpaksa.

"Bagus," Kaname melirik Naoya. "Kau bisa kembali pulang dan mengemasi barang-barangmu. Usahakan sampai disini besok pagi," titahnya.

"Baik, kalau begitu aku permisi dulu," pamit Tadashi membungkuk sesaat. Kemudian, berjalan keluar asrama untuk kembali ke kediaman Kuran mengambil perlengkapannya.

Begitu Naoya menghilang dari pandangan, Kaname bangun dari duduknya. Dia melangkah menuju tangga berniat pergi ke kamarnya di lantai 2. "Istirahatlah kalian," ujarnya pada keenam remaja lain sebelum berlalu.

"Selamat tidur, Kaname-sama," balas Ruka tersenyum kalem.

Senri memastikan keberadaan Kaname sudah jauh dari mereka. Lalu, menoleh dan bertanya pada Takuma. "Vampire bernama Naoya Tadashi tadi… bukan level C biasa, 'kan?"

Mata hijau Ichijou mengerjap. "Ooh, kau menyadarinya, ya?" bibirnya tersenyum miring.

"Hn, auranya berbeda. Apalagi terkesan misterius," yakin Rima.

"Tapi aku tetap tidak bisa terima ini," gerutu Aidou mendaratkan dirinya kasar di atas sofa panjang. "Sehebat apa sih pelayan itu sampai Kaname-sama bersikap baik padanya?"

"Dan lagi kelihatannya Kaname-sama sangat mempercayainya. Buktinya dia memberikan tugas ke pelayan itu daripada memberikannya pada kita," timpal Ruka.

"Terlebih aku penasaran apa tugasnya itu," lanjut Akatsuki mengambil tempat di kursi seberang Hanabusa.

"Kuminta kalian bertiga jangan meremehkan Naoya-san. Dia itu mungkin lebih kuat dari kalian," rujuk Takuma pada Aidou, Kain, dan Ruka.

"Hah? Aku tidak percaya," dengus Hanabusa.

"…Kau sudah lama mengenalnya, 'kan? Menurutmu dia bagaimana?" tanya Senri.

Takuma berpikir sejenak. "Setahuku, Naoya-san orang yang baik dan perhatian. Dia mampu mengerjakan apapun yang diperintahkan dengan cermat dan bersih."

"Bersih?" Ruka mengangkat sebelah alis.

"…Yang pasti, Naoya-san tidak akan pernah mengkhianati Kaname," tambah Takuma menyipitkan mata tersenyum tipis.

Ungkapan itu makin membuat Aidou, Kain, Ruka, Senri, dan Rima diliputi pertanyaan.

.

.

Di suatu tempat, jauh dari kota dimana Cross Academy berada, nampak sebuah mansion berdiri di atas bukit yang ditutupi oleh kerimbunan hutan. Bangunan bergaya jerman kuno tersebut, dihuni oleh seseorang yang memiliki derajat tinggi di dunia vampire.

Sang pemilik mansion, pria berambut hitam kemerahan, bersandar santai di pagar balkon yang terletak dibagian barat lantai 3 kediamannya. Sepasang mata dwi warnanya-merah dan biru- menerawang ke langit malam tanpa bintang. Memperhatikan rembulan yang bersinar redup diantara celah kabut yang menutupi pemandangan sekitar. Dia meraih segelas wine yang semula berada di atas meja kayu sebelahnya. Meneguknya perlahan, menyesapi tiap liquid anggur yang mengalir ke mulutnya.

"Tidakkah menurutmu suasana malam ini sangat hening?" tanya suara feminine dari arah jendela besar balkon yang terbuka. Di sana, berdiri sesosok gadis cantik berambut pirang panjang. Tubuh rampingnya dibalut Cocktail dress berwarna hijau dengan hiasan bunga dan pita di pinggangnya. Bibirnya tersenyum manis menyapa sang pria di hadapannya.

Lelaki itu menaruh gelas wine-nya sebelum menggerling pada si gadis. Menatap tajam lantaran mengganggu ketenangannya. "…Aku tidak memanggilmu kemari," ketusnya.

"Aku tahu," si perempuan terkekeh. "Tapi tidak ada salahnya aku mampir menyapamu, 'kan?" dia berjalan mendekatinya. "Lagipula aku punya kabar bagus," kembali menyinggungkan senyum menawan.

Sang pria menatap datar. Tidak terpincut oleh tingkah vampire yang nampak ingin menggodanya tersebut.

"Seperti biasa, kau dingin sekali," si gadis menghela nafas, mengambil duduk di kursi sisi meja. "…Ketua senat mengundang para vampire pureblood dan bangsawan untuk menghadiri pesta jamuan makan malam yang diselenggarakan seminggu lagi. Tentu saja, kita wajib ikut serta," terangnya.

"Huh, buang-buang waktu saja," dengus sang pria risih. "Kerjaan mereka hanya bisa menghamburkan kekuatan dan kekayaan saja."

"Aku setuju," si gadis mengangguk. "Tapi lihat sisi baiknya."

Dwi manik sang pria menatap si gadis yang memandangnya lekat.

"Kaname Kuran dipastikan datang, lho…"

Lelaki itu terdiam, sebelum perlahan bibirnya membentuk seringaian lebar. Kedua iris matanya berkilat senang. "Hoo…"

"—Maka aku akan sangat menantikannya."

.

.

.

.

Tsuzuku

.

.

Yak, chapter dua udah selesai, chapter tiga bakal hadir beberapa minggu lagi XD (gak janji)

Arigatou pada siapa saja yang mau baca fic yang aneh 'n lucu ini…(darimananya?) yang jelas aku senang mendapatkan review dan PM kalian.

Alur ceritanya kuharap tidak membingungkan, dan bisa memuasakan kalian.

REVIEW please!