.
Tuberose
Vampire Knight © Matsuri Hino
Main pair : Naoya Tadashi (OC) x Kaname Kuran
Slight : All male vampires x Kaname , Zero x Yuki
Genre : Romance & Supernatural
Warning! : Shounen ai, malexmale, Slash, bit Shoujo, Action, OC,OOC, AU, miss typo, dll.
.
.
.
.
Chapter Three
.
Entah mengapa malam ini terasa panjang. Mungkin karena Naoya belum mengistirahatkan diri sejak perjalanan ke Cross Academy, dan kini dia harus kembali lagi ke kediaman Kuran untuk mengemasi barang-barangnya. Sesuai perintah Tuannya, Kaname Kuran, bahwa mulai besok dia akan menjadi siswa baru di Night Class, serta tinggal di asrama Naoya yang selama ini hidup sendiri mengurus mansion keluarga Kuran yang kosong, dia cenderung tidak menyukai keramaian. Bersama dengan orang-orang asing cukup merepotkan, karena dianggap bisa menganggu privasinya. Tapi jika demi Kaname, apa boleh buat. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginan majikan tunggalnya, 'kan? Namun jujur, sebenarnya dia sangat tidak setuju harus menjadi murid sekolah di umurnya yang hampir kepala delapan ini. Menyebalkan.
Pemuda bersurai pirang platina itu melangkah menyusuri jalan sempit yang dikelilingi puluhan pohon kayu. Jalur itu mengarah ke mansion Kuran yang berlokasi di pedalaman hutan. Jauh dari pemukiman manusia. Ditutupi kabut tipis berseling hawa dingin yang berhembus pelan. Sambil memikirkan tugas yang diberikan Kaname, Tadashi memutar pandangannya ke sekitar yang sunyi senyap. Tidak ada satupun suara binatang malam yang mengisi daerah luas ini. Menyebabkannya mengerutkan alis ganjil.
Tiba-tiba, sebuah aura yang tidak biasa dirasakan Naoya. Dia menghentikan lajunya. Berdiri santai di tengah jalan seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"…Selamat malam, Seiren-san."
Sapaan tersebut memicu sosok yang bersembunyi di balik bayangan pohon besar—berjarak 5 meter di belakang Naoya—keluar dari sarangnya. Seiren, nama gadis berambut biru muda pendek dengan sepasang mata Monochrome. Dia memakai coat putih panjang berhias bulu di leher dan ujung dua lengannya. Rok mini hitam serta sepatu boots kulit turut memperelok penampilannya. Naoya mengenali perempuan ini sebagai penjaga pribadi Kaname di asrama Bulan.
"Kau menyadariku rupanya," kata Seiren memandang datar.
Naoya menoleh, mengulas senyum ramah. "Sudah lama tidak berjumpa, ya."
"Hm. Kau nampak sehat," gumam si gadis sembari berjalan mendekatinya.
"Anda juga, tetap cantik seperti dulu."
"Gombal."
Naoya terkekeh. Sikap Seiren masih sama ketusnya semenjak terakhir mereka berdua bertemu. "Huhu, aku tidak melihat anda saat datang ke asrama Bulan. Kemana?" tanyanya.
"Aku baru kembali dari kantor asosiasi Hunter bersama Toga Yagari, teman kepala sekolah sekaligus guru di Cross Academy," terang Seiren bergerak melewati Naoya. Berbeda dengan sikap para vampire pengikut Kaname lain yang dingin terhadap kaum manusia, Seiren bisa nyaman berhubungan bersama mereka. Khususnya Yagari, partner dan kawan baiknya.
"Ada urusan apa?" satu alis Naoya terangkat.
"Hanya mengusut rumor para Level E yang menakuti penduduk kota. Merepotkan harus membasmi mereka melulu," sambung gadis cantik malas.
'Ohh, jadi yang dilawan Yuki-san dan Zero-kun tadi ialah Level E yang berhasil lolos,' batin Tadashi. "Lalu, mengapa sekarang anda disini?" dia menyusul langkahnya.
"Kaname-sama menyuruhku," jawab Seiren. "Untuk memastikan kau membawa semua perlengkapanmu."
Pelayan Kuran menghela nafas. Heran pada sifat Tuannya yang terlalu cermat. Mengapa dia nampak masih meragukan kesetiaannya setelah melayani lebih dari 10 tahun, sih?
"Tidakkah anda lelah?" dalihnya.
"Kau meremehkanku?" si gadis blunette mendelik.
"Aku hanya khawatir, jangan marah," elak Naoya tertawa garing.
Seiren mendengus. "…Kaname-sama juga berpesan, sebelum meninggalkan rumah nanti pastikan semuanya dalam keadaan aman. Termasuk memperkuat segel yang berada di ruang bawah tanah," lanjutnya.
"…Baik," sanggup Tadashi menaati.
Bermenit kemudian, keduanya tiba di lahan lapang yang terletak di tengah hutan. Naoya dan Seiren bergerak ke depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi di hadapannya. Lelaki bermanik Lavender membuka pintu pagar, membimbing si gadis memasuki halaman mansion megah milik keluarga Kuran. Rumah sang pangeran pureblood Kaname. Jalan ke arah bangunan Victorian itu dihiasi taman hijau yang didominasi oleh tanduran bunga mawar putih, serta beberapa pohon oak dan pinus di berbagai sudutnya. Di samping mansion juga terdapat pavilion kecil guna untuk bersantai. Di belakang nampak bukit sederhana dengan tumbuhan ilalang dan semak belukar. Merupakan kediaman yang asri dan menenangkan.
Tadashi memutar kunci dan mendorong daun pintu utama untuk mempersilahkan Seiren masuk ke dalam. Ruangan luas yang gelap menyambut kedatangan mereka.
"Duduklah dulu, Seiren-san," kata Naoya sembari menyalakan lampu.
Si gadis menurut. Mendaratkan diri di sofa panjang ruang tamu. "Cepatlah berkemas, waktumu sedikit," peringatnya.
"As you wish, my Lady."
.
.
Ketika matahari terbit membawa sinar terang yang mewarnai langit biru cerah, Kaname tidak bergerak dari ruangan bersurai coklat gelap itu duduk di kursi besar balik meja remangnya suasana, dia berkutat dengan beberapa buku yang terbuka serta lembaran kertas berikut alat-alat tulis di penyandang marga Kuran ini tidak istirahat semalam akibat sibuk memeriksa sesuatu yang lumayan penting.
Mendadak bunyi ketukan bertebar dari luar pintu masuk sebuah suara baritone yang mengalun cukup keras. "Ohayou Kaname, bolehkah kami masuk?"
Sang vampire pureblood mengenal betul siapa pemilik suara juga aura energy ini. "Masuklah, Takuma," jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari buku.
Deritan daun kayu terbuka, disusul munculnya dua pemuda tampan yang segera berjalan menuju Ketua asrama berada. Takuma berdiri sejajar dengan Naoya yang telah kembali dari kediaman Kuran bersama Seiren.
Lelaki berambut pirang platina membungkuk hormat. "Maaf jika aku terlambat, Kaname-sama."
Kaname meletakkan penanya dan mendongak, memandang dua orang yang merupakan pengikut kepercayaannya. "Tidak yakin kau cukup kesulitan saat memperkuat keamanan segel," ujarnya sembari menyatukan jemarinya di atas meja.
" Seiren-san turut membantuku," tambah Tadashi menegakkan badan.
Remaja berambut pirang mentari menyela."Aku melihat barang-barang yang kau bawa tidak banyak."
"Ya, aku hanya membutuhkan beberapa yang kuanggap penting," balas Naoya.
"…kuharap kau tidak terlalu santai merespon kondisi sekarang ini," kata Kaname menatap pelayan setianya tajam.
"Jangan khawatir," bibir Naoya mengembangkan senyum misteri.
Kuran menghela nafas tipis."Takuma, antarkan dia ke kamarnya. Letaknya di sebelahmu."
Ichijou mengerjap. "…Kau menjadikan gudang lusuh itu sebagai kamar Naoya-san? Kejam sekali."
Kaname menaikkan satu alis. "Kapan aku tidak kejam, Takuma?"
"…"
"Hmph, kok heran Takuma-san? Bukannya kau sudah tahu bagaimana sifat asli Kaname-sama?" kekeh Naoya merasa tak terganggu sama sekali.
Wakil Ketua asrama sweat drop. "…Kau ini terlalu baik, Naoya-san."
Kaname mendengus. "Sudahlah. Cepat bereskan barang-barangmu, Naoya. Setelah itu kembalilah kemari, aku perlu mengukur badanmu untuk penyesuaian seragam Night Class," titahnya.
"Baik."
'Mengapa tidak minta pelayan asrama saja untuk melakukannya?' batin Takuma mendapati sikap Kaname agak berbeda dari biasanya yang terkesan tak acuh pada siapapun. Memilih tidak memusingkannya, dia memutar badan berniat membimbing Naoya keluar ruangan. "Kalau begitu, kami permisi dulu. Dan Kaname, istirahatlah sebentar. Aku tahu kau tidak tidur semalam," tambahnya sebelum keduanya berlalu pergi.
"Hn," gumam Kuran tanpa minat.
Di lorong lantai dua gedung asrama Bulan, Takuma memandu Naoya ke suatu tempat yang akan menjadi ruangannya selama tinggal di situ. Saat tiba di sana, Kaname ternyata sudah menyuruh para pelayan untuk membersihkan dan mengubahnya layaknya kamar murid. Mereka juga telah memindahkan satu koper serta dua kardus-barang bawaan Tadashi ke dalamnya.
"Hoo, rupanya sudah dipersiapkan ya…" kagum Wakil Ketua saat melihat keseluruhan kamar baru Naoya.
Di pinggir kiri ruangan ada ranjang queen size, berdampingan dengan meja dan kursi belajar. Dikanan terdapat sebuah lemari kayu besar bersisian dengan jendela medium. Sementara di sudut lain ada sofa dan rak panjang yang dilengkapi buku-buku dan telepon kabel. Dindingnya yang semula berdebu kumuh, kini bersih dan dicat ulang berwarna krem pudar. Nampak cukup nyaman dihuni.
"Kalau begini, Kaname jadi tidak sekejam yang kupikirkan, ya," desah Takuma. Masih bingung bagaimana gudang kotor yang dilihatnya sampai kemarin sudah berubah menjadi kamar sebagus ini.
Reaksi tersebut memicu Naoya tertawa maklum. "Hahaha, salah satu sisi dari Kaname-sama yang sangat jarang dikeluarkan."
.
.
Di waktu yang sama...
"Zero-kun~ Zero-kun~~"
Pelipis pemuda bersurai perak dipenuhi perempatan merah yang besar. Telinga Zero Kiryu terasa panas dan gatal, lantaran mendengar suara yang mampu membuat perasaannya risih. "HENTIKAN, PAK TUA! JANGAN MEMANGGILKU BEGITU!" teriaknya tepat di muka pria yang sedang bersamanya di ruang Kepala Sekolah Cross Academy ini.
"Hiiihh~!" Lelaki paruh bayaberambut coklat terang langsung meringsut mundur. "Hidoi yoo. Apa salahnya memanggil anak sendiri?" keluh Kaien Kurosu sembari menangis buaya.
Sang Hunter muda bersidekap jengkel. Mata Ametrish-nya melontarkan kilat tajam menusuk. "Tidak salah. Tapi laki-laki manapun pasti akan risih kalau dipanggil dengan nada yang seperti menggoda itu!" tukasnya.
"Hiks~~ kau menyakiti hatiku~!"
"Mau kusumpal mulutmu?!"
"Hentikan kalian berdua!"
Yuki Kurosu yang baru masuk ke dalam ruangan, segera menengahi keduanya agar menyudahi pertengkaran konyol ini. "Bisakah kalian tenang? Ini masih jam 6 pagi tahu!" sentak gadis berambut coklat sebahu. Mata delimanya menatap sang ayah dan saudaranya tajam sebal.
"Oukh, bahkan Yuki-chan juga…" ratap Kaien.
Remaja Kiryu menghembuskan nafas kasar. "Langsung apa kau menyuruh kami kemari, pak tua?" tanyanya menuntut kejelasan. Harusnya jam segini dia dan Yuki mulai bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Bukannya malah menghabiskan waktu untuk memperdebatkan hal tidak penting begini.
"Haah~ kau memang tak bisa diajak bercanda ya, Zero-kun. Nanti wajahnya muncul kerutan kalau kau terlalu serius, lho," desah pria mantan Hunter profesional.
"Kau—"
"Cukup, jangan diteruskan lagi," Yuki menahan Zero yang mau melayangkan tinju andalannya. "Cepat katakan saja, Tou-san," ujarnya.
"Baik, baik," Kaien berjalan ke sisi meja kerjanya. Membuka laci dan mengambil sebuah map ungu tebal dari dalamnya. "Aku ingin kalian menyerahkan dokumen kepindahan ini pada Naoya-kun," titahnya.
Gadis berkemeja putih, blazer, rok hitam dan pita merah—seragam Day Class—mengejap kejut. "Pada Tadashi-san? Mengapa kau tidak memanggilnya datang saja kesini?" tanyanya seraya menerima sodoran map tersebut.
"Niatku tadi sih begitu. Tapi lebih baik kalian saja yang kesana, sekalian menjelaskan tugasnya sebagai Guardians dan mengajaknya keliling akademi," terang Kaien.
"Kau menyuruh kami mengunjungi sarang penghisap darah laknat itu? Jangan bercanda! Aku tak sudi!" geram Zero menyalang ganas.
"Zero! Jaga ucapanmu!"tegur Yuki melotot marah.
"... jangan begitu, Zero-kun. Aku mengerti kau tidak menyukai vampire. Tapi tolong bersikap baiklah sedikit. Mereka adalah temanmu," nasehat Kaien pelan.
Kedua iris Hunter muda menyorot tajam. "Aku tidak pernah menganggap mereka temanku. Aku benci mereka. Seperti aku membenci diriku sendiri," tukasnya sebelum membalikkan badan pergi keluar ruangan.
Meninggalkan Kaien dan Yuki yang terdiam sedih. Keduanya memandangi pintu yang terbuka setelah Zero menghilang. Keturunan terakhir Kiryu itu nampaknya masih belum bisa mengiklaskan kenangan masa lalunya yang pahit.
Gadis brunette menghela nafas lelah. "Biar aku bicara dengannya nanti…"
"Sudahlah, Yuki-chan. Bagaimana pun kita tak bisa menyalahkan sikapnya itu," sang ayah terseyum hambar. "Hari ini kau dan Zero aku ijinkan bebas pelajaran di jam ke-empat. Gunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengan Naoya-kun lebih dekat serta mengejar ketinggalan tugas kalian."
"Okay."
.
.
Naoya selesai merapikan benda-benda miliknya ke tempatnya. Tidak butuh waktu lama sehingga dia bisa membersihkan diri sebelum bersiap bertemu Kaname kembali. Berganti kaus kerah polo merah marun dan celana Levis gelap, lelaki tampan ini keluar dari kamar barunya menuju ruangan majikannya.
Tadashi mengetuk daun pintu kamar Kaname dua kali, kemudian membuka untuk masuk dan menutupnya lagi. Tak perlu memberi salam karena tuannya pasti sudah tahu kehadirannya. Dia melangkah ke arah sofa panjang di sisi jendela besar yang diterangi cahaya. Di situlah sang pangeran Kuran duduk menerawang kosong ke taman asrama Bulan. Mengingat kini matahari telah meninggi, Naoya mengambil lipatan kain tebaldari atas ranjang king size Kaname. Dia segera menyelimuti tubuh sang pureblood agar kulit sensitifnya terhindar dari paparan langsung.
"Anda masih saja kurang peduli pada diri sendiri," kata lelaki pirang platina tersenyum tipis. Akibat sifat inilah dia harus selalu teliti memperhatikan keadaan Kaname.
Pemuda bermanik merah kelam menoleh. Menatap Naoya datar dalam helaian poni tipis panjang yang membingkai wajah putihnya. "...Bukankah sudah menjadi kewajibanmu mengurusku?"
"Benar, namun setidaknya anda menjaga diri. Bahaya bagi anda jika tumbang di tengah kekacauan," dalih pelayan.
"Kau pikir aku selemah itu?" tanya Kaname merendahkan suaranya. Diiringi keluarnya aura dingin yang mengancam.
Naoya tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam majikannya. Tanpa ragu dia menunduk. Membungkukkan badan sampai mukanya hanya berselang beberapa senti dari wajah Kaname. "Tidak, aku tak pernah meremahkanmu sedikitpun," ungkapnya memandang lurus menghilangkan segala bentuk kesopanan.
Kaname terperangkap di antara dua lengan kekar Naoya yang menumpu di sisi badannya. Satu tangannya terangkat, menyentuh sejumput rambut Tadashi yang masih sedikit basah. "Maka jangan mengeluhkan sifatku. Salah atau benar, tugasmu memperbaikinya."
"Susah sekali mempunyai tuan egois sepertimu, Kaname," Naoya tersenyum mengalah. "Tapi..."
Mempersempit jarak keduanya, dia mendaratkan sebuah kecupan lembut di sepasang bibir ranum pangeran.
"...itulah kesenanganku."
Kaname membalas, melingkarkan lengannya ke leher lelaki hadapannya. Mengikuti gerakan bibir tersebut dengan pelan namun menuntut. Mulut mereka terbuka. Saling menjulurkan lidah dan meliuk, menjelajahi rongga hangat yang basah. Bertukar saliva, mengecap masing-masing rasa hingga membuat desah ketagihan. Tanpa sadar, badan Naoya sudah merapat pada Kaname. Merengkuh pinggang Kuran seduktif.
"…Fill me, my Sklave…"
"As you wish, Ouji-sama…"
.
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
Yak, chapter ini semoga menggugah kalian untuk membaca kelanjutannya nanti. XD
Arigato buat review 'n PM kalian… tunggu chapter selanjutnya ya.
