.
Tuberose
Vampire Knight © Matsuri Hino
Main pair : Naoya Tadashi (OC) x Kaname Kuran
Slight : All male vampires x Kaname , Zero x Yuki
Genre : Romance & Supernatural
Warning! : Shounen ai, malexmale, Slash, bit Shoujo, Action, OC, OOC, AU, miss typo, dll.
.
.
.
.
Chapter Four
.
Haus...
Lapar...
Nikmat...
Ketagihan...
Deg!
.
Sepasang manik scarlet terbuka lebar tatkala perasaan tidak mengenakkan itu datang menggelayuti hatinya. Kaname mengerjapkan kelopak matanya, sebelum memandang ke sekeliling ia berada. Ruangan klasik berperabotan yang sangat familiar, tentu saja ini kamarnya sendiri. Terbaring di atas ranjang besarnya bersama seseorang. Naoya, pelayan abadinya.
Pewaris Kuran menatap wajah tampan berbingkai rambut pirang platina yang tertidur di sebelahnya. Satu lengan kokoh lelaki itu memeluk pinggangnya, selagi yang lain menjadi bantalan kepala Kaname. Tubuhnya telanjang, hanya terbalut sehelai selimut tebal seperti dirinya. Menciptakan sentuhan kulit mereka serasa hangat. Menenangkan. Kebiasaan ini sudah sering terjadi bagi keduanya. Sejak dulu hingga sekarang. Hubungan private yang terjalin secara rahasia. Demi memuaskan dahaga yang haus akan hasrat.
Berbicara soal hubungan, sang vampire pureblood teringat akan pecahan mimpinya sesaat lalu. Suara rendah itu... aura mistis yang pekat... energi kuat yang membelenggu... yah, ia tidak akan pernah lupa siapa pemiliknya. Sosok yang dahulu menjerumuskannya dalam kegelapan. Pria itu... masih hidup.
"...Kaname?"
Pemuda bersurai coklat gelap bergelombang tersebut sedikit tersentak dari lamunannya. Iris anggurnya mendapati Naoya telah terjaga. Menatap kepadanya dengan binar lavender teduh.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Tadashi bernada pelan.
Kaname membisu sejenak. Sebelum bibirnya mengulas senyum tipis. "...Tidak ada."
Naoya diam. Memperhatikan ekspresi wajah dan sorotan mata tuannya. Terlepas dari segala topeng yang selalu dipakai Kaname, dia tahu bila lelaki ini tidak berkata jujur. Tapi dia tidak akan menuntut jawaban. Biarlah begini, jika waktunya tiba dirinya pasti akan mengerti sendiri.
Mengangkat tangannya dari punggung Kuran, Naoya beralih menyisir rambut halus majikannya. Sembari menyingkirkan poni panjang yang menghalangi paras cantiknya. "...Istirahatlah lagi."
Sang pureblood menggeleng samar. Berpindah merapatkan badannya ke dada bidang Tadashi. Cuping hidungnya menghirup aroma cinnamon lembut. Mendengarkan debaran jantung yang mengalun tenang di telinganya, mampu menimbulkan ketentraman batin. "Aku tak mengantuk," lirihnya merasa tidak terlalu lelah setelah kegiatan panas yang mereka lakukan dua jam terakhir.
Naoya kembali merengkuh remaja ramping tersebut. Sikap Kaname yang selalu menyimpan semua masalahnya sendiri, terkadang membuatnya kesal. Sebagai pelayan pribadinya, dirinya merasa tak berguna jika tidak mengetahui sebab-akibatnya. Walau luarnya nampak angkuh, dingin, dan tak tergoyahkan, sebenarnya hati Kaname cukup rapuh. Karenanya dia ingin mengabulkan apapun keinginannya. Memberikan segalanya dengan kekuatannya.
Untuk balas budi? Tidak... tapi agar Kaname bisa tersenyum tulus lagi seperti waktu keduanya bertemu pertama kali.
"Kau lapar?"
Sebuah gelengan diterima dari Kuran.
"Benarkah?" Tadashi tidak percaya.
"...Diamlah."
"Hmph~ baiklah, terserah kau saja," Naoya mendengus geli. Mata ungunya bergulir ke arah jam dinding, pukul setengah 9 pagi. "Masih terlalu awal untuk bangun," ucapnya. Mengingat mahkluk sejenis mereka hanya aktif beraktivitas di malam hari.
"Aku harus pergi menemui Kaien," gumam Kaname.
"Biar aku yang kesana. Cuma mengambil dokumen kepindahanku, 'kan?" tawar Naoya.
Kaname mendongakkan wajahnya. "Ada yang perlu kudiskusikan. Tapi lain waktu bisa, sih."
Alis Naoya terangkat. "Soal kemarin?" dia mengacu pada pesuruh Level D yang dibantainya saat perjalanan kemari.
"Hn."
"Tak usah diresahkan. Akan kuselidiki dalangnya. Tidurlah lagi," tutur Naoya sembari bangkit dari baringannya. Dia mengambil kalung miliknya yang semula terletak di atas meja dipan. Lalu memakainya. Membiarkan rantai peraknya melingkari lehernya dengan gantungan bandul permataRuby berbentuk tear drop.
"Kubilang aku tidak mengantuk," dengus purebloodikut meringsut duduk.Mata merah gelapnya mengamati kalung Tadashi. "…Kau masih menyimpan benda itu?"
Si pelayan tersenyum. "Soalnya ini harta yang berharga."
"Kau berlebihan, itu hanya batu permata biasa."
"Kalau kau yang memberikannya padaku, ini lebih dari sekedar biasa nilainya."
Memang dulu kalung tersebut adalah salah satu dari kumpulan benda yang berada di kotak harta milik keluarga Kuran. Namun karena Kaname tidak membutuhkannya, diberikan saja pada Naoya tanpa maksud tertentu. Tetapi sepertinya Level C itu malah beranggapan lain. "Terserah kau sajalah. Siapkan air mandi, aku ingin membersihkan badanku. Lengket nih."
"Ya, ya," si pelayan menunduk mencium kening Kaname singkat. Kemudian berdiri memunguti pakaian mereka yang tersebar di lantai dan pergi menuju ke kamar mandi di ruangan tuannya.
"Naoya..."
Tepat di ambang pintu, pemuda pirang berhenti. Kepalanya menoleh tanya.
"Jalankan tugasmu mulai malam ini," tegas Kaname bernada perintah. Mata crimson-nya menyala, menatap Tadashi tajam nan dalam.
Naoya balas menarik senyum misteri.
"Yes, ouji-sama."
.
.
Hanabusa Aidou menyamankan punggungnya di sandaran sofa panjang ruang tengah asrama Bulan lantai 1. Pada jam segini, biasanya dia berada di kamarnya. Bergelung dalam selimut hangat di atas kasur dan bermimpi. Seperti halnya para murid Night Class lain yang kebanyakan terlelap di ruangnya masing-masing. Sehingga suasana dalam gedung sangat sepi. Hanya sebagian anak saja yang mungkin bangun untuk menyibukkan diri entah melakukan apa. Tetapi kali ini dia tidak bisa beristirahat. Sebab benaknya terganggu akan rencana apa yang disusun sang Ketua asrama, teman sekaligus pemimpinnya.
'Apa yang sedang dikerjakan Kaname-sama? Pentingkah? Adakah kaitannya dengan Dewan vampire? Dan yang lebih utama, keperluan apa yang mengharuskan kehadiran Naoya Tadashi di sini?' Berbagai pertanyaan tak terjawab, membuat pemuda berjulukan idol ini pusing.
"Kau masih bangun Aidou?"
Merasa dipanggil, remaja berambut golden tersebut berpaling ke asalnya. "Ooh, Takuma-san," sapanya pada Wakil Ketua asrama yang baru saja memasuki ruangan.
Takuma tersenyum kecil. "Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau harusnya tidur?" tanyanya seraya duduk di sofa single seberang Aidou. Dia mengambil sebuah gelas wine dari kumpulannya di nampan tengah meja hadapan mereka. Menuangkan air dari teko ke dalamnya beserta beberapa butir tablet darah dan melarutkannya.
"Niatnya sih begitu tadi. Tapi aku tidak mengantuk," jawab Hanabusa yang berkaus biru muda dan celana abu-abu pendek.
"…Kau memikirkan sesuatu?" ucap lelaki pirang cerah berkemeja hijau lumutdan celana coklat sebelum menegak minumannya.
Aidou terdiam sejenak. "…Aku hanya penasaran."
"Tentang hal apa yang direncanakan Kaname?" tebak Takuma meletakkan gelas kosongnya di tempat semula. Agaknya dia dapat menduga apa yang memenuhi otak kawannya ini.
Kepala Aidou mengangguk pelan. Kemudian menegakkan diri menatap Takuma lurus. "Kau tahu 'kan, Takuma-san?"
Remaja bermanik jamrud menghela nafas. "Maaf, walaupun tahu, aku tidak bisa mengutarakannya padamu."
"Mengapa?"
"Karena itu kehendak Kaname."
Vampire noble berkekuatan es itu mendesau sebal. Dia mengerti betul, meskipun Takuma tahu, dia tidak akan pernah membeberkannya pada yang lain sebelum mendapat ijin langsung dari Ketuanya. Menyebalkan memang. Tapi mau bagaimana lagi, kuasa yang dimiliki Kaname sangat besar dibanding mereka yang Level B. Dalam hal materi maupun non materi. Namun, bukan karena itu tentunya yang menjadikan Aidou dkk setia mengikuti sang pewaris Kuran. Melainkan sosoknya yang bijak, juga kepribadian yang luhur.
"Jangan kecewa, Aidou. Aku yakin dia akan segera memberitahu kalian," hibur Ichijou.
"Bukan begitu. Aku cuma sedikit khawatir," terang Aidou mengungkapkan kekalutannya.
Sebelah alis Takuma terangkat.
"Kalau situasi yang sedang dihadapi Kaname-sama berbahaya, aku ingin sekali membantu," sambung Aidou mantap.
"Seingatku keadaan yang selalu dihadapi Kaname memang berbahaya," enteng Takuma mengusap dagunya.
"Makanya aku cemas," desak Hanabusa jengkel. "Ditambah Level C itu… peran apa sih yang diberikan Kaname-sama padanya?" lanjutnya dengan muka tertekuk.
Wakil Ketua asrama terkekeh. Melihat sahabatnya yang gusar ini, dia yakin Akatsuki, Ruka, Senri, dan Rima pasti juga bertingkah demikian. Yah, kemunculan Naoya sanggup menimbulkan kecurigaan di batin mereka. "Haha, aku tak bisa menjawabnya. Sebagai gantinya, akan kusampaikan semua pertanyaanmu itu ke Kaname."
Aidou tersentak. "Kau mau membuatku kena marah Kaname-sama?!"
"Tentu tidak, tapi siapa tahu dia bakal berubah pikiran dan mau mengatakannya pada kalian."
"Huuf~"
"Yang jelas, apapun yang terjadi percayalah pada Kaname," kata Takuma menyorotkan mata lembut.
Aidou mendengus, membuang muka ke arah lain. "Tanpa kau ingatkan pun aku sudah tahu!"
"Ooh,anda berdua tidak beristirahat Takuma-san? Hanabusa-san?"
Suara baritone tersebut mengintrupsi kedua pemuda yang duduk tadi menoleh. Mendapati lelaki yang baru saja dibincangkan, berdiri di ambang pintu.
"Belum lelah. Mau kemana, Naoya-san?" balas Ichijou heran saat melihat Naoya berbaju semi-formal—dengan coat panjang tersampir di tangan kirinya.
"Pergi menemui Kaien-sama," jawab Tadashi tersenyum sopan. Dia beralih melirik Hanabusa yang mendelik kesal. "Ada apa, Hanabusa-san?"
"Cih," decak Aidou jengkel pada sikap si pelayan Kuran yang menurutnya sok akrab itu. "Aku tak tahu apa kehebatanmu hingga membuat Kaname-sama sangat percaya padamu. Tapi ingat, kalau kau mengkhianati atau menyakitinya, aku akan membunuhmu," tegasnya melayangkan sorot mata shappire nyalang. Diiringi menguarnya aura permusuhan.
Naoya mengerjap terkejut kecil. Sama sekali tidak merasa takut atau terusik oleh ancaman vampire noble di depannya. "Tenang saja. Aku tidak akan berani melakukannya, Hanabusa-san. Anda bisa memegang kalimatku," ikrarnya.
Wakil Ketua asrama memperhatikan interaksi serius keduanya. Dalam hati, dia ingin Aidou, Akatsuki, Ruka, Senri, dan Rima tidak meragukan Naoya. Mungkin dia perlu mencari solusi agar mereka bisa berteman dan bekerja sama. Tapi bagaimana?
'Aah, sebaiknya aku bicara soal ini juga pada Kaname.'
"Ara, anda mau keluar, Tadashi-san?"
Seorang pelayan asrama menghampiri Naoya dari arah berlawanan. Takuma dan Aidou turut melihat ke wanita paruh baya berpakaian maid hitam.
"Ya, Yuka-san. Ada apa?" tanya pemuda bermata lavender. Dia mengenali perempuan itu waktu menbantunya memindahkan barang ke kamar barunya kala tiba disini.
"Kurosu-sama barusan menelpon. Katanya, beliau menyuruh Zero-sama dan Yuki-sama untuk datang kemari menemuimu," terang pelayan berambut hitam tergelung rapi.
Tadashi mendesau ringan. "Padahal aku akan ke kantornya. Kapan mereka tiba?"
"Sekitar jam sepuluh."
"Berarti sebentar lagi. Baiklah akan kutunggu. Arigato pesannya," ucap Naoya tersenyum ramah.
"Doushita," Yuka menunduk sekilas sebelum undur diri.
Ichijou yang menguping bersama Hanabusa, bangkit mendekati Naoya. "Jadi, niatmu batal ya, Naoya-san."
"Nampaknya begitu. Tahu begini aku lanjut tidur tadi," eluh pelayan Kuran.
Memicu Takuma tertawa geli. "Haha, karena sudah terlanjur rapi, bagaimana kalau kuajak keliling asrama Bulan?" tawarnya.
"Hmm, boleh saja."
"Tunggu sebentar!" Aidou langsung menyela. Membuat perhatian Naoya dan Takuma terpaku kepadanya. "Daripada itu, bagaimana kalau kau ikut aku ke dojo di sebelah asrama, Tadashi-san?"
"…Mengapa?"
"Aku mengajakmu untuk bertarung melawanku. Aku ingin melihat kemampuanmu sebagai pelayan setia Kaname-sama," ungkap pemuda bersurai emas. Dia berdiri tegap, menatap angkuh menantang.
Merasa tertarik pada keteguhan Aidou, bibir Naoya perlahan mengembangkan seringai tipis. Beruntung sekali, dengan ini dia bisa menunjukkan secuil kekuatannya. Serta bila diakui, mungkin keberadaannya dapat diterima baik oleh pengikut Kaname yang lain. Sedikit bermain tidak masalah, 'kan?
"Baik, aku terima tantanganmu."
.
.
Zero kini berjalan kesal menyusuri jalur setapak bersama Yuki di depannya. Dia menyipitkan mata, memandang ke sekitar jalan berpaving yang ditumbuhi pepohonan hijau dan semak belukar. Keduanya sedang menuju ke asrama Bulan. Sesuai perintah Kaien Kurosu, mereka diminta menemui calon murid baru Night Class, Naoya Tadashi. Awalnya remaja bersurai silver sangat enggan harus datang ke sarang vampire yang dibencinya. Tapi karena saudarinya ngotot —membujuknya walau selalu ditolak hingga berbuah Yuki mengekorinya kemana pun dia pergi—akhirnya dia terpaksa setuju. Huh, gara-gara itu mood-nya jadi memburuk.
Gadis brunette yang membawa dokumen kepindahan Naoya, melompat-lompat kecil kegirangan. Aah, dia tidak sabar menjumpai Kaname-sama idolanya. Pangeran pureblood adalah penyelamat jiwanya sewaktu kecil saat dia diserang vampire Level E. Makanya keberadaannya seperti pahlawan dan sosok kakak baginya. Ngomong-ngomong, entah kenapa Yuki juga merasa familiar dengan kemunculan Naoya pertama kali. Aura mistis dan tatapan lembut lelaki itu seakan dia pernah merasakannya di suatu tempat. Tapi kapan dan dimana?
"Baka Yuki, perhatikan depanmu!"
"Eh? Ap—Huwaa!"
Bruk!
"Dasaar..." desah Kiryu. Sahabatnya selalu saja ceroboh.
Putri Kurosu mengusap pantatnya yang sakit akibat jatuh terduduk di atas tanah. Merasa kehadiran seseorang di depannya dan Zero, dia mendongak. Manik delimanya terbelalak mendapati punggung lebar si korban penabrakan. Yang ternyata milik sesosok pria berambut raven gelombang dengan poni menyamping yang menutupi eye-path hitam. Yagari Toga.
"Yo," sapa lelaki paruh baya tersebut. Kepalanya tertoleh ke samping, melirik Yuki dari sudut matanya.
"Yagari-sensei! Kok ada disini?" kejut Yuki segera bangkit berdiri lagi.
Yagari berputar badan menghadapnya. "Memangnya salah aku disini?" tanyanya balik.
"Bukan begitu, seharusnya sensei mengajar kelas, 'kan?" dalih Yuki mengingat ini masih jam keempat kegiatan belajar sekolah.
"Jadwalku sudah selesai. Aku ada urusan dengan Seiren sebentar. Makanya aku mau berkunjung ke asrama Bulan," jelas pria yang pernah menjadi guru didik Zero semasa kecil.
"Akrab sekali kau pada wanita itu," dengus Kiryu.
"Cemburu?" sang senior Hunter profesional menyeringai enteng. Langsung disambut death-glare oleh murid kesayangannya.
"Zero, harusnya kau menghentikanku lebih cepat sebelum menubruk sensei, baka!" galak Yuki.
Iris ametrisht Hunter muda melotot. "Bukan salahku. Salahmu yang melamun di tengah jalan," hardiknya.
"Uuh," bibir si gadis mengrucut sebal. Dia beralih menepuk-nepuk rok seragam hitamnya serta membersihkan debu yang menempel di map.
"Lalu, kenapa kalian malah disini sampai membolos pelajaran?" tanya pria berkemeja coklat bergaris putih vertikal.
Putri Kurosu menjawab. "Kami sudah diberi ijin kok. Tou-san menyuruh kami menemui Tadashi-san."
"Tadashi?" Yagari mengerjap. "Aah, Naoya Tadashi vampire Level C pelayan Kuran itu..." ucapnya teringat akan percakapannya dengan Kaien saat ditelepon kemarin malam ketika dia masih di markas asosiasi.
"Sensei kenal?" segaris alis Zero terangkat.
"Tidak, hanya tahu namanya saja."
"Hei, daripada mengobrol disini, mending kita kesana sekarang. Sensei juga ikut sekalian kenalan dengan Tadashi-san," ajak Yuki mulai melangkah mendahului keduanya.
Yagari dan Zero agak lambat menyusul.
"Menurutmu orangnya bagaimana, hn?" gumam Toga.
"…sok akrab dan sombong," gerutu remaja silver.
"Hmpf, selalu saja beranggapan negatif," Yagari tersenyum maklum.
.
.
Selang 10 menit, ketiganya telah tiba di halaman asrama Bulan. Ketika melewati gerbang masuk, mood Zero tambah menurun drastis. Aura para vampire terasa meracuni udara dalam lingkungan tersebut. Apalagi didominasi oleh energi serta bau darah milik Kaname Kuran yang jernih dan pekat. Inilah mengapa dia tak mau menginjakkan kaki di sarang mahkluk penghisap darah. Selain dirinya enggan, juga merasa takut tidak bisa mengontrol insting liarnya yang siap lepas kendali kapan saja. Sebagai dhampire yang tidak pernah meminum darah manusia dan hanya bertahan dengan tablet darah saja, dia haus akan darah murni yang mengalir dalam seorang tubuh pureblood. Lapar akan kekuatan sekaligus kenikmatan liquid merah yang didambakan setiap vampire rendahan.
"Zero?" panggil Yuki yang cemas menyadari keringat mulai bermunculan di pelipis saudaranya.
Zero menelan ludah gugup. "Aku tidak apa-apa," ucapnya berusaha tenang.
Yagari yang sudah di depan pintu utama, segera mengetuk keras. Memicu Yuka, pelayan asrama yang hadir menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang, Yagari-sama, Zero-sama,dan Yuki-sama," salam Yuka tersenyum kalem. "Seiren -sama sudah menunggumu di ruang baca," lanjutnya pada Yagari.
"Arigato, Yuka-san," ujar Toga sebelum melihat kedua remaja di sampingnya. "Baiklah, aku duluan," pamitnya.
"Ya," kata Yuki diiringi Zero menganggukkan kepala singkat.
Setelah Yagari pergi, Yuka mengantar dua tamu yang tersisa untuk menemui Naoya. ketiganya menyusuri lorong sepi yang mengarah ke dojo di bagian dalam gedung.
"Mengapa Tadashi-san ada di dojo? Bukannya dia harusnya istirahat?" tanya Yuki heran.
Yuka menjawab. "Dia sedang berlatih fisik dengan Hanabusa-sama. Ichijou-sama juga ada disana."
"Latihan fisik?" Kiryu mengerutkan alis.
"Ya, tampaknya mereka sedang bertanding tangan kosong."
"Hee, kelihatannya menarik," putri Kurosu tertarik. "Apa Kaname juga disana?"
Si pelayan wanita menggeleng. "Tidak, beliau mungkin masih tidur di kamarnya."
"Ooh, iya ya," Yuki mendesau kecewa. Padahal dia sangat menantikan bertemu pangeran Kuran.
"Nah, sudah sampai. Kalau begitu saya permisi dulu," Yuka berlalu begitu mereka tiba di depan pintu kayu dojo. Yuki bergerak membukanya agar dia dan Zero masuk. Namun—
DUAAKK!
Saat dibuka, bunyi keras tercipta. Merebut perhatian kedua murid Day Class itu ke satu titik.
Di tengah ruang latihan yang luas dengan lantai kayu yang licin, Hanabusa terlihat melancarkan pukulan kuat dengan tangan kanannya pada Naoya yang sukses menahannya menggunakan sisi lengan kirinya.
"Hoo, daya seranganmu cukup mengagetkanku, Hanabusa-san," puji pemuda pirang platina sambil tersenyum ringan. Dalam detik selanjutnya, dia beralih mengayunkan sebelah kakinya ke depan hendak menendang perut lawan.
Tetapi lelaki berambut emas langsung mundur menghindar. "Kau juga cepat tanggap," kata Aidou menatap tajam, kembali memasang kuda-kudanya.
Yuki tersentak ketika menyadari hawa permusuhan mendominasi dojo. "Tung—ini bukan pertarungan sungguhan, 'kan?" gugupnya.
"Ah, Yuki-chan, Zero-kun, ohayou," sapa Takuma yang berdiri di sisi ruangan. Dia tersenyum ramah menyambut keduanya.
Zero melayangkan tatapan curiga ke Wakil Ketua asrama. "Takuma-senpai, apa artinya ini?"
"Seperti yang kau lihat mereka sedang bertanding tanpa kekuatan vampire," jawab Ichijou.
"Alasannya?"
"Euum, jadi Aidou menantang Naoya-san. Dia ingin menguji kemampuannya sebagai pengikut setia Kaname," jelas Takuma.
"Tapi kok auranya berat begini?" timbrung gadis brunette yang merasakan atmosfer tidak mengenakkan.
"...Aidou-senpai berniat membunuhnya?" simpul pemuda bersurai perak.
"Tidaklah, dia hanya mengeluarkan auranya untuk mengintimidasi Naoya-san," elak Takuma. "Walau tampaknya tidak berhasil," tambahnya melirik Naoya yang berdiri santai menunggu serangan lawan selanjutnya.
"Peraturannya siapapun yang dapat menumbangkan lawan, maka dia yang menang," tutur pelayan pribadi Kuran.
"Dan akulah yang akan memenangkan pertarungan ini!" sambung Aidou seraya berlari menerjang maju.
Dia mengangkat tangannya hendak menonjok bahu kiri Tadashi. Namun Naoya berkelit, membalasnya dengan meluncurkan kepalan tangan kanannya yang mau memukul pipi kiri Hanabusa. Tapi juga bisa dihindari. Aidou segera memukul cepat dagu Tadashi dari bawah. Tapi lagi-lagi Naoya mundur sebelum kena, dia melancarkan tendangan mengincar sisi pinggang lawan. Aidou melompat ke belakang, lalu maju menyerang dada Naoya yang menunduk rendah kemudian bergerak menyikut ke arah perut Aidou. Tercengang, Hanabusa berlindung dengan menaruh kedua lengannya di depan badannya. Menahan serangan yang kuat meski belum mampu membuatnya jatuh.
Yuki berdecak kagum. "Sugoi yoo."
"Level C itu cukup hebat, setara dengan Akatsuki-senpai," duga Zero yang serius mengamati.
"Bukan setara, Zero-kun. Yang kau lihat tadi hanya sebagian kecil kekuatan Naoya-san saja," sanggah Takuma.
"Maksudmu dia lebih hebat dari ini?" sangka Yuki menatap kejut.
"Begitulah," Takuma tersenyum tipis. "Sebagai pelayan Kaname Kuran, dia tidak sebanding dengan kami yang merupakan noble vampire..."
"—karena dia mendapatkan keistimewaan lebih dari yang kami miliki."
Naoya tersenyum lebar. berdiri tegap menghadap Hanabusa yang telah bersiap menyerang kapan saja. "Apa kita akan mengakhirinya sekarang?"
"Ya," tegas Aidou menyalang tajam. "Aku ingin sekali menghapus senyum memuakkanmu itu."
"Hmpf, ucapanmu kejam sekali," Tadashi terkekeh ringan. "Ini daya tarikku lho."
"Cih," jujur saja, Aidou agak terkejut pada kemampuan Tadashi yang sanggup menandinginya. Sepertinya peringatan Takuma yang tidak boleh menganggap remeh Level C ini perlu dipertimbangkan. Harus dia akui walau lelaki bermata Lavender ini dari luar terlihat santai, sebenarnya dia membahayakan. Betul kata Rima, orang di depannya ini sangat misterius.
"Satu serangan berikutnya akan menentukan siapa pemenangnya," ujar Aidou memberi aba-aba.
"Majulah Hanabusa-san," tantang Naoya bersiaga.
"Terima ini!"
Aidou berlari menerjang. Mengambil gerakan tangan yang menusuk cepat ke dada Naoya. Tepat sebelum kena sasaran, Tadashi menangkap pergelangan lengannya. Menarik Aidou ke depan sehingga Naoya berpindah ke belakang tubuhnya. Dengan gesit, dia langsung mencengkram kerah baju Hanabusa dan membanting badannya ke lantai. Membuat sang vampire es tumbang di bawahnya.
Hanabusa merintih. Sementara Zero dan Yuki menganga kaget. Takuma tersenyum puas, sudah menduga kalau Naoya bakal unggul dalam pertarungan ini. "Yak, Naoya-san pemenangnya. Dengan ini pertandingan selesai," ucapnya sebagai wasit penentu.
"Maafkan kekasaranku, Hanabusa-san," kata Naoya seraya menyingkir dari atas punggung Aidou.
"Ck," Aidou berdecak kesal. Dikalahkan oleh seorang Level C sangat memalukan baginya.
"Ayolah, Aidou. Jangan marah. Ini hasil yang adil," Takuma tersenyum kalem sambil mengulurkan tangan.
Hanabusa menerimanya dan bangkit berdiri. "Yaah, dia memang memiliki kemampuan yang handal," ucapnya sembari membersihkan pakaian depannya dari debu tipis.
"Aah, arigatou sudah mengakuiku," Naoya mengembangkan senyum lebar.
"Jangan sombong dulu. Aku belum sepenuhnya menerimamu menjadi anggota kami," peringat Aidou menatap jengkel.
"Kalau begitu, aku hanya harus membuktikan nilai diriku pada yang lainnya," tambah Tadashi.
"Huh."
Yuki segera menghampiri Naoya. "Keren Tadashi-san. Aku tidak menyangka kau bisa menaklukkan Idol-senpai," pujinya senang.
"Aku hanya tidak ingin kalah, Yuki-san," balas Naoya.
"Sejak awal kau hanya main-main, 'kan?" Zero mendengus. "Kau menganggap ini pergulatan anak kecil."
"Zero, kau ini merusak suasana saja, sih," tegur gadis Kurosu.
"Benarkah itu?" Aidou menatap Naoya tajam. Tidak terima pertandingannya tadi dianggapkan serendah itu.
"Tentu tidak, aku menikmatinya kok," sanggah Naoya tersenyum kalem. "Kau sangat membenciku ya, Zero-san."
Hunter muda membuang muka sebal.
"Hei, kita sudah tahu hasilnya. Bagaimana kalau kita beristirahat di ruang santai?" ajak Takuma menyudahi perdebatan mereka.
"Ide bagus. Sekalian aku ingin menyampaikan pesan Tou-san," Yuki setuju.
"Baiklah," Naoya mengangguk.
"Aku akan kembali ke kamar," Hanabusa melangkah menuju pintu keluar.
"Kenapa tidak ikut?" tanya Ichijou.
"Mau tidur, Takuma-san. Kita ada kelas malam ini," ucap Aidou sebelum pergi meninggalkan keempat remaja tersebut.
"Sepertinya dia masih kesal," Naoya tersenyum maklum.
"Yaah, begitulah dia," Takuma mendesau. "Nah, mari ke ruang santai, mina-san..."
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
Chapter ini cukup panjang karena aku harus menunjukkan kehebatan Naoya agar bisa terlihat berkesan. Yaah, semoga memuaskan kalian, mina-san.
Aku tidak akan bicara muluk-muluk. Coz aku gak mau menyebar rahasia jalan cerita XD #peliit
Arigatou buat kalian yang mengikut fic ini. Sampai jumpa di chapter depan.
Minat review?
