Pyar…
Suara barang pecah menggema hingga ke sudut ruangan. Terlihat pemuda dengan surai brick red yang menatap vas bunga yang sudah pecah berkeping–keping dengan tatapan penuh amarah. Tak ia pedulikan suara beberapa maid yang mencoba menghentikan kanannya mengeluarkan darah cukup banyak, mungkin akibat dari goresan pecahan vas.
"Akashi–sama, sudah hentikan."
Seorang pemuda dengan rambut sienna muncul dari pintu utama, ia menahan lengan Seijuurou yang lagi–lagi hendak membanting sebuah vas bunga. Ia bahkan tak gentar sedikit pun saat sosok Seijuurou menatapnya nyalang, dan beralih mencengkram lengan pemuda yang sebelumnya mencoba menenangkannya.
"Tutup mulutmu atau nasibmu akan sama seperti vas ini."ucap Seijuurou kemudian membanting keras–keras vas yang ia pegang tadi. Pemuda rambut sienna di sampingnya hanya menghela nafas berat sebelum menatap Seijuurou malas.
"Seijuurou–nii, bagaimana mungkin kau mau membanting adik imutmu ini?!"protes pemuda itu. Ia berjalan keluar dari kamar Seijuurou sambil menghentak–hentakkan kakinya kesal.
Keheningan merajai ruangan sesaat setelah sosok dengan rambut sienna itu keluar dari kamar Seijuurou. Seijuurou menghela nafas berat sebelum menyuruh semua maid yang sebelumnya berkumpul di kamarnya keluar.
"Sial."umpatnya. Ia melemparkan jas kantor yang ia pakai dan melonggarkan dasinya. Lantas, pemuda dengan iris heterokromatik itu duduk di pinggir ranjangnya.
"Seijuurou, ada apa denganmu?"
Seorang pria paruh baya dengan rambut amaranth red berdiri di ambang pintu. Alisnya berkerut tak suka dengan matanya yang menatap Seijuurou nyalang. Pria paruh baya itu berjalan pelan kearah Seijuurou dengan langkah yang mantap.
"Jangan biarkan perasaan mengambil alih dirimu seperti ini Seijuurou, kau harus bisa lebih mengontrol amarahmu."ucapnya. Suaranya bahkan terdengar lebih dingin dari suara Seijuurou. Pria itu berdiri didepan Seijuurou yang duduk, dengan matanya yang masih menatap Seijuurou.
"Aku tahu, otou–sama."
Tear Me Down
Pair : Akashi X Kuroko
Rate : T+
Genre : sad, hurt, romance.
Disc. : The characters belong to Fujimaki Tadatoshi
Warns. : Yaoi. MXM. Lil bit implicit scene. Boys Love
Twilight Lavender
Angin pagi yang berhembus mambawa rangsangan bagi impuls–impuls Tetsuya yang membuatnya refleks menarik selimut kusutnya untuk menutupi tubuhnya. Cahaya matahari sudah mengintip dari sela–sela jendela yang tertutup, dengan kicauan burung yang terdengar seperti alunan alaram alam.
Sosok dengan kulit sewarna champagne itu masih betah menyembunyikan diri dari kegiatan pagi. Kakinya yang terbalut celana piyama blizzard blue mulai bergerak tak nyaman dari balik selimut, sampai akhirnya ia menyerah dengan pagi yang muncul.
Tetsuya beranjak turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ia memang tak punya begitu banyak hal yang bisa di makan untuk sarapan, tapi berhubung kemarin ia mendapatkan gajinya, hari ini ia bisa sarapan dengan setelungkup roti isi sosis, keju, dan selada, yang ia padukan dengan saus tomat dan sambal. Bahkan hanya dengan hal sesederhana itu ia sudah bersyukur.
Tetsuya meraih tas selempangnya yang masih tergeletak tak bersalah di kolong meja, ia memakai sneaker–nya dan berangkat menuju halte, tak lupa ia juga mengunci kontrakan sebelumnya.
Mood–nya membaik dan itu adalah berita yang sangat menyenangkan. Kalau hari biasanya ia akan bersikap acuh dengan sekitar, kali ini ia ingin mengenal lebih dekat lingkungan sekitarnya. Banyak kedai–kedai yang baru buka mengingat ini baru pukul delapan, ia sedikit menaruh perhatian pada satu kedai yang terlihat ramai. Tetsuya tak yakin apa yang membuat para ibu–ibu menggila, tapi kalau bisa ia tebak mungkin ada diskon belanja disana.
Kakinya berjalan pelan, tak secepat sebelumnya. Menikmati hari tak masalah bukan? Lagipula ia hanya seorang penyanyi kafe yang tak di tuntut datang paling pagi. Manager–nya tak memperdulikan yang penting ia datang sebelum pukul sepuluh pagi. Karena biasanya, para pengunjung datang karena ingin mendengar Tetsuya menyanyi, jadi kalau mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka belum mau mengenyahkan pantat mereka dari kursi.
Keadaan bis tak se sepi kemarin, jika kemarin Tetsuya bisa melamun semaunya hari ini ia tak bisa melakukannya. Ia berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tiang, satu tangannya berpegangan pada pegangan dan matanya melirik kanan kiri was–was, ia tak mau ada tangan–tangan bejad menyentuh bagian–bagian tubuhnya, entah pantat, kaki, pinggang, atau apapun.
Ia baru bisa menghela nafas lega saat banyak orang yang turun di halte sebelum tujuannya. Tetsuya menyempatkan diri untuk mengelus bagian kemejanya yang sedikit kusut. Ia mengambil botol minum yang sudah ia bawa dari dalam tas selempangnya, lantas menenguknya. Matanya memancarkan kelelahan efek dari ia menangis semalaman kemarin.
Menangis? Jangan bercanda.
Semalaman? Jangan bercanda.
Hanya karena Seijuurou?
Tetsuya menutup matanya pelan, matanya masih bengkak dan tenggorokannya sedikit sakit karena terisak. Ia mencoba mengenyahkan bayang–bayang wajah Seijuurou yang tengah tersenyum dengan menyumpal ke dua telinganya dengan earphone. Tapi setelahnya, ia harus turun karena sampai di tempat tujuan.
Tetsuya melirik jam besar yang terpasang di pusat taman, lagi–lagi menghela nafas. Matanya terpaku pada sebuah sedan hitam yang terparkir bersama dengan mobil lainnya. Tanpa mau berpikir panjang lagi ia segera masuk melalui pintu belakang.
"Oh, Kuroko–kun. Ada yang mencarimu."
Seorang gadis dengan rambut bubblegum muncul dari ambang pintu saat Tetsuya juga baru membuka pintu lokernya. Tetsuya hanya mengangguk menjawab gadis yang memandangnya dengan mata berbinar.
Tetsuya segera berjalan menuju kafe dan menemui tamunya. Ia menebarkan pandangannya untuk memastikan tak ada setitik warna merah disana, hanya ada hitam, coklat, dan kuning.
Eh? Kuning?
Tetsuya lantas langsung melangkahkan kakinya menuju satu titik warna yang sudah tak asing baginya. Ia mengambil duduk didepan pria yang menggunakan setelan jas sienna.
"Ryota–kun. Apa yang kau lakukan disini?"tanya Tetsuya. Separuh hatinya ingin memaki pemuda duapuluh tiga tahun didepannya.
"Aku merindukanmu Tetsuya."jawabnya enteng. Tetsuya menghela nafas mendengar jawaban pemuda didepannya, membuat satu gambaran tentang Seijuurou melintas bak komet di pikirannya.
Tetsuya menundukkan kepalanya, kedua matanya sudah mengembun. Mengingat hal–hal yang sudah dilakukan oleh belahan hatinya itu. Tetsuya tak mengerti, sangat tak mengerti.
"Tetsu–"
Ucapan–kita panggil saja Ryota–terhenti saat tiba–tiba Tetsuya beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju panggung kecil yang berada tak jauh dari kursi yang Ryota duduki.
"Selamat pagi, semuanya."ucap Tetsuya menggunakan mik. Sepasang matanya yang masih berembun menatap Ryota yang masih terkesiap dan kaget dengan apa yang terjadi.
"Lagu pertamaku, kupersembahkan untuk seseorang yang selalu ada untukku, walaupun ia tau kalau aku selalu jahat padanya."ucap Tetsuya. Semua pengunjuk sontak saling berbisik–bisik namun tak lupa untuk memberikan sambutan berupa tepuk tangan untuknya.
Lagunya berakhir, dengan setetes air mata dan tepuk tangan meriah dari para pengunjung. Tetsuya mengarahkan pandangannya pada sosok Ryouta yang memandangnya dengan mata mengembun, segaris senyuman mampir di wajah tanpa cela milik Ryouta membuat Tetsuya tak ayal harus tersipu malu karenanya.
"Ada apa?"tanyanya sopan. Seorang pria dengan pakaian santai dan rambut bright maroon bergradasi hitam mengacungkan tangan kanannya. Tetsuya tersenyum kecil sambil menatap sepasang iris yang menatapnya tajam.
"Boleh aku berduet lagu denganmu, Kuroko–san?"pintanya. Pemuda dengan tubuh cukup atletis itu berjalan menuju panggung kecil tempat Tetsuya berada.
"Tentu saja, uhmm…"
"Kagami Taiga desu."
"Kagami–san. Kita nyanyi lagu apa?"tanyanya. Tetsuya tersenyum kecil, sosok bernama Kagami Taiga yang masih memilah–milah lagu yang ada di buku lagu.
"Bagaimana kalau ini?"tanyanya sambil menunjuk sebuah judul lagu pada satu halaman. Tetsuya hanya mengangguk kecil, lalu tak lama kemudian dentingan lagu mulai terdengar.
Like a shoelace being untied
We're growing farther apart.
The opposite of loveIs not separation;
It is apathy
Love, love hurts
Love, separation speaks to me
Love, even if I am alone again
A woman speaks, clutching her wounded heart
I'm sorry, so sorry, I seek her
Things I couldn't do for her deafen me
I fear that if the memories are lost
I will be lost, too, so I say I'm sorry
Love, love hurts
I will take the painful love
Love, separation speaks to me
It can't be anyone but you, you're my love
A man speaks, saying I'm sorry, I love you
A woman speaks, clutching her wounded heart
Even if I am alone again(*)
Tepuk tangan kembali menggema hingga penjuru kafe. Tetsuya bisa melihat semua pengunjung tersenyum untuknya. Tidak, tersenyum untuk penampilannya dan Kagami. Tetsuya dan Kagami saling membungkukkan badan, pertanda selesainya penampilan, lantas mereka kembali ke tempat duduk masing–masing.
"Seharusnya kau menerima saat aku memintamu duet di lagu baruku, Tetsuyacchi."ucap Ryota saat Tetsuya sudah mendaratkan bokongnya pada permukaan keras kursi kayu. Mata bulat nan jernih milik Tetsuya menatap Ryouta dalam.
"Kau tahu kalau aku tak tertarik dengan hal–hal yang berbau entertainment, Ryota–kun."jawabnya enteng. Sudut matanya melirik jam dinding yang terpasang di atas meja kopi.
Tigabelas menit sebelum waktu kerjanya habis. Ia memang tidak kerja full shift pada hari biasa, ia hanya mengambil full shift pada hari Sabtu dan akhir minggu.
Keadaan kafe begitu kondusif beberapa menit kemudian, semua pengunjung tenggelam dalam menu masing–masing, percakapan terdengar dari semua penjuru kafe, serta beberapa pegawai yang lalu–lalang untuk mengantar pesanan meja demi meja.
"Apa Ryota–kun tak punya jadwal hari ini?"tanyanya. Ryota menyesap secangkir white coffee yang ia pesan beberapa menit lalu, dengan ujung matanya yang melirik Tetsuya.
"Schedule–ku kosong untuk siang ini, baru nanti sore ada pemotretan."jawabnya. Kedua iris pastel orange–nya menyapu pandangan ke sekeliling. Aroma kafe masih terasa segar, mengingat ini baru pukul sebelas pagi. Ryota tak bisa membayangkan bila waktu makan siang tiba dan setiap penjuru udara di dominasi bau apek keringat.
"Shift–mu sudah akan selesai, bukan? Ayo, kuantar kau pulang."tawarnya. Matanya menatap Tetsuya sambil tersenyum ramah. Tawaran yang bagus, tentu saja Tetsuya mengiyakannya.
"Aku akan mengambil tas dulu. Ryota–kun bisa tunggu di mobil."
Twilight Lavender
Pukul sepuluh malam. Udara berhembus sepoi dari jendela kamar Tetsuya yang berukuran sedang, korden yang terpasang di sana menari saat tak sengaja bertubrukan dengan udara malam yang membawa segala rasa dingin yang menggetarkan tulang.
Saat ini Tetsuya sedang tak melakukan apapun, inginya dia bisa segera tidur dan tenggelam dalam mimpi. Namun sayang, realitas selalu tak seindah angan. Ia memang tidur, dalam artian hanya bergelung tak jelas diantara selimut kusut miliknya dan ranjang single bed. Pikirannya tersita oleh satu nama yang sejak tadi pagi sudah mampir saat ia baru saja membuka matanya.
Brakk…
Tetsuya menatap horor pintu kontrakannya yang terbuka paksa, di ambang pintu ia bisa melihat sosok dengan rambut brick red yang menatapnya nyalang. Pemuda dengan iris heterokrom itu berjalan pelan, yang bagi Tetsuya terasa seperti pengadilan yang menentukan nasibnya di setiap langkah pelan pemuda itu.
"Akashi–kun, apa yang kau lakukan disini?"tanya Tetsuya. Ia bahkan tak mau mengerti arti di balik tatapan menakutkan Seijuurou yang di layangkan padanya.
"Kenapa, Tetsuya? Apa kau merindukanku?"tanya Seijuurou. Suaranya terdengar dingin dan tegas. Tetsuya bahkan bisa melihat dengan jelas cahaya aneh yang melintas di kedua iris heteromkromnya. Ia tak tahu apa yang membuat Seijuurou bisa marah seperti ini padanya.
"Akashi– kkh.. apha yhang k–khau nghh lakuk–lakukhaan nggh"tanya Tetsuya. Jalas nafasnya terasa menyempit saat Seijuurou dengan tenangnya mencekik lehernya dengan satu tangan. Mata Tetsuya mulai mengembun, bayangan Seijuurou yang menatapnya dengan mata yang melotot mulai terlihat kabur.
"Sei–seijurhou… lephas–nghh khan.."
Tetsuya masih meronta, cekikan di lehernya memang mulai mengendur tapi rasanya ia masih sulit bernapas. Secara tiba–tiba Seijuurou melepaskan satu tangannya yang tadinya mencekik Tetsuya, reflek Tetsuya segera meraup oksigen sebanyak–banyaknya. Mukanya merah dan Seijuurou masih terkesiap di depannya.
Pemuda dengan tinggi tak jauh darinya itu mematung, menatap telapak tangannya yang tadinya ia gunakan untuk mencekik leher Tetsuya. Tetsuya yang masih berada pada posisinya melihat guratan penyesalan yang sempat tergambar nyata di kedua iris heterokromatik Seijuurou.
"Sei–kun"panggil Tetsuya. Ia bisa merasakan hawa tak menyenangkan yang berasal dari Seijuurou, sedang pemuda dengan surai brick red itu masih berdiri dengan kepala menunduk.
"Hahaha…"
Tetsuya membulatkan matanya mendengar suara tawa Seijuurou yang terdengar seperti alunan musik kematian. Seijuurou mulai menegakkan kepalanya dan menatap Tetsuya lagi, kini dengan sorot mata yang tak terbaca. Kedua mata heterokromatiknya terasa kosong dan Tetsuya tak tahu apa yang akan terjadi padanya dalam semenit kedepan.
Keheningan merajai ruangan dalam beberapa detik. Tetsuya masih terkesiap karena keheningan yang di buat oleh Seijuurou. Matanya masih berembun, sedang Seijuurou hanya terdiam dengan kedua mata yang tertutup.
"Sei–"ucapan Tetsuya terhenti. Kedua matanya membola saat melihat Seijuurou jatuh dengan lutut menumpu pada lantai. Kedua kelopak matanya yang tertutup mengeluarkan satu titik cairan yang mengalir melalui pipi dan berakhir jatuh di lantai semen kamar Tetsuya.
"Seijuurou–kun."bisik Tetsuya. Ia perlahan ikut berlutut bersama Seijuurou, kedua tangannya ia gunakan untuk mengusap air mata Seijuurou pelan.
Entah kenapa satu tetes air mata juga mengalir dari kelopak mata Tetsuya. Lantas ia beralih mengalungkan kedua lengannya ke leher milik Seijuurou, yang dengan Seijuurou di balas dengan melingkarkan lengannya ke pinggang Tetsuya.
"Kumohon."bisik Seijuurou. Tetsuya menenggelamkan kepalanya di ceruk leher pemuda ber–iris heterokromia itu. Perlahan, isakan lirih mulai terdengar dari belah bibir Tetsuya.
"Kumohon, Tetsuya."ulang Seijuurou. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Tetsuya. Ia bisa mencium aroma chamomile dari rambut light blue milik Tetsuya.
"Kumohon, Tetsuya. Jangan tinggalkan aku."
Like a shoelace being untied
We're growing farther apart.
The opposite of loveIs not separation;
It is apathy
Different – Kim Taeyeon ft Kim Bum Soo
To be continue…
*itu terjemahan dari lagunya Different – Taeyeon ft Kim Bum Soo. Ada yang tau?
Maaf kalo aku gak bisa jawab reviewnya tapi percaya deh kalo saya selalu baca walau hanya 2
Thanks to :: ichi, Aka to Kuro, Flow.L, Kuhaku.
Twilight Lavender
