Pagi menyapa. Langit tersenyum cerah hari ini, dengan matahari yang bersinar tak terlalu terik dan belasan kapas putih yang berenang di langit. Angin pagi mulai berhembus, membawa rangsangan khusus bagi sepasang anak adam yang tengah berpelukan di atas ranjang single bed. Kelopak sewarna champagne terlihat terbuka terlebih dahulu, mengerjap beberapa kali guna menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk ke matanya.

Matanya menyapu sekeliling, hingga kedua pucuk pipinya memerah kala iris cyan azure–nya menangkap sosok surai brick red yang tengah tidur sambil memeluk pinggangnya. Ia terkesiap kala mengetahui kalau ia bahkan tidur dengan kepala yang bersandar pada dada bidang milik Seijuurou.

Jantungnya berpacu cepat, kedua iris heterokromatik yang seharusnya masih tertutup kini lahir dan memangku iris cyan azure Tetsuya. Pemuda pewaris utama keluarga Akashi itu tersenyum kecil, dengan tiba–tiba ia membalikkan posisi hingga kini Tetsuya sudah berada di bawah kungkungannya.

"Ohayou, Seijuurou–kun."sapa Tetsuya. Ia tersenyum kecil dengan kedua mata yang masih menatap Seijuurou dalam.

Perlahan Seijuurou mulai menundukkan kepalanya, mempertemukan dahinya dengan dahi Tetsuya begitu juga dengan kedua puncuk hidung mereka yang Sali bersinggungan. Hingga pada satu waktu Seijuurou mempertemukan dua belah merah delima yang saling merindukan satu sama lain, saling mengulum hingga setetes saliva mengalir menuruni rahang dan lehernya.

Tetsuya menggenggam erat kemeja depan Seijuurou, sampai akhirnya Seijuurou menyadari kalau itu adalah sebuah sinyal baginya. Ia melepas tautan mereka, memandang Tetsuya yang masih berusaha mengambil oksigen sebanyak–banyaknya dengan belah merah delimanya yang sedikit membengkak.

Satu tangan Seijuurou terangkat untuk mengusap setitik saliva Tetsuya, lantas beralih untuk mengelus bibir ranum milik kekasihnya itu.

Tear Me Down

Pair : Akashi X Kuroko

Rate : T+

Genre : sad, hurt, romance.

Disc. : The characters belong to Fujimaki Tadatoshi.

Warns. : YAOI, MXM, Boys Love, lil bit implicit scene.

Twilight Lavender

Matahari yang mulai pulang ke peraduannya menjadi pertanda bahwa senja sudah datang. Semburat navy mulai terlihat di ujung timur, meninggalkan jejak ke–orange–an di sisi lainnya.

Sore itu Tetsuya sendiri, duduk di satu–satunya kursi yang ada di kamarnya. Kedua kakinya terlipat keatas dengan sepasang headset yang menyumpal ke dua lubang telinganya. Ke dua matanya memandang malas ke luar jendela, hanya helaan nafas yang lahir dalam beberapa menit sebelum akhirnya ia menyerah akan rasa bosan dan beranjak dari duduknya.

Ia memungut sebuah jins yang tergeletak pasrah di lantai lalu memakainya, ia hanya mengenakan sebuah kaos merah dan sebuah sneaker . Ke dua kakinya mulai berjalan pelan menjauhi rumahnya, matanya menyapu sekeliling dimana orang–orang sibuk tanpa memperdulikan eksistensi satu sama lain.

Tetsuya duduk di sebuah kursi kayu milik sebuah kafe yang terlihat cukup lengang, di hadapannya sudah ada se–cupvanilla milkshake, seperti yang biasa ia pesan. Matanya menatap jalanan sempit yang bisa di bilang cukup ramai bila menjelang malam hari, karena rata–rata semua kedai buka setelah pukul tiga sore.

Banyak anak remaja yang berkumpul dan bercanda, itu pun sudah bisa mengambil perhatian Tetsuya dan membuatnya menyadari kalau generasi penerusnya sudah rusak.

Tetsuya beranjak pergi sepuluh menit berikutnya, kakinya membawanya berjalan menuju halte bis yang terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang–mungkin–punya keperluan di kota. Ia duduk disamping seorang gadis dengan rambut sewarna plum yang sedang bermain dengan benda tipis yang ia tahu bernama ponsel. Ia hanya memandang gadis itu sekejap lalu mengalihkan pandangannya pada jalanan yang sepi.

Sepuluh menit selanjutnya sebuah bis datang dan ia langsung masuk ke dalam, tak lupa membayar biaya karcis sebelum kemudian duduk di kursi paling pojok. Tetsuya menekan bel merah di atasnya saat perjalanan sudah sampai ke tempat tujuannya, bis itu pun berhenti di halte terdekat dan berjalan kembali dengan meninggalkan Tetsuya sendiri dalam keheningan.

Sepasang kaki yang di balut jins kumal itu berjalan menuju sebuah tempat yang tak awam bila di kunjungi pada malam hari. Tapi sebut saja Tetsuya tak punya takut, ia punya banyak nyali untuk pergi keluar rumah di usia duabelas tahun, jadi untuk apa ia takut mengunjungi makam ke dua orangtuanya pada malam hari.

Di tangannya sudah ada dua buket bunga lili putih yang ia beli di florist yang sempat ia lewati. Matanya menatap kosong jalanan pemakaman yang hampir seluruhnya tertutupi rumput. Tak perlu bersusah payah untuk menemukan makam ke dua orangtuanya, karena tanpa disuruh pun kakinya sudah hafal betul dengan jalan yang harus ia tempuh.

Ia berhenti di depan dua makam yang masing–masing bertuliskan 'Teiju Kuroko' dan 'Kurei Nami'. Tetsuya meletakkan buket bunga yang ia bawa ke atas masing–masing makam, kemudian ia berlutut di antara makam itu dan menutup matanya. Do'anya berbisik keluar melalui air mata yang turun dari pelupuknya, mengelus permukaan pipinya sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

"Gomen."ucapnya. Tak ada isakan yang keluar dari belah merah delimanya, hanya bulir–bulir air mata yang tak ada hentinya mengalir dan akhirnya membasahi seluruh permukaan pipinya.

Kepalanya menunduk dalam, terlihat seperti seseorang yang menyesali perbuatannya. Bahunya bergetar cukup hebat tapi hal itu tak bisa membuat Tetsuya begitu saja terjatuh. Tapi pada akhirnya Tetsuya pun jatuh juga, ia terduduk di hamparan tanah berbalut rumput hijau yang terasa basah malam itu.

Kedua telapak tangannya menyembunyikan lelehan–lelehan yang tanpa henti jatuh dari pelupuknya, juga berguna untuk meredam isakan yang mulai terdengar samar dari bibirnya.

Ia bertahan seperti itu dalam waktu cukup lama, sampai akhirnya bahunya sudah tak bergetar lagi dan ia menghela nafas berat lalu beranjak berdiri. Ia menyempatkan diri untuk membungkukkan badannya pada makam orang tuanya sebelum beranjak pergi dari tempat itu.

Twilight Lavender

Ruangan dengan ukuran 6x8 itu terlihat sepi. Dindingnya yang seluruhnya terlapisi marmer coklat tua terlihat dingin, begitu juga dengan atmosfer dalam ruangan tersebut yang terasa begitu menekan. Hanya terdapat sebuah lampu di tengah ruangan dan sebuah lampu meja yang menjadi penerangannya.

Sosok dengan rambut amaranth red terlihat duduk di kursi putar dengan meja kerjanya yang di penuhi oleh potret–potret seorang pemuda yang terlihat familiar. Ia mengelus dagunya entah untuk yang keberapa kali dalam sejam ini.

Matanya berkali–kali beralih dari potret seorang pemuda itu ke sebuah dokumen yang berisi data mengenai pemuda dalam foto.

"Kuroko Tetsuya. Aku tak menyangka ada sisa–sisa dari Teiju yang masih hidup."gumam–panggil saja Seichirou–Seichirou sambil tersenyum miring.

Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan menjentikkan jarinya, seketika dua orang bertubuh tegap dengan kacamata hitam bertengger di hidung mereka muncul dari balik pintu. Kedua orang itu menundukkan kepalanya sebelum bertanya kepada bos mereka.

"Mata–matai Kuroko Tetsuya, tidak perlu terlalu dekat, cukup dari kejauhan."titahnya.

"Ha'I"jawab mereka sambil membungkukkan badan mereka lalu berjalan menuju pintu dan menghilang.

"Akan kupastikan kalau kau tak bisa bertemu lagi dengannya, Seijuurou."

Twilight Lavender

Seijuurou sudah siap di belakang ban setir pagi ini. Ia masih berdiam diri tanpa ada niatan untuk segera pergi. Ia tahu dan ia juga sadar dari awal kalau mobil hitam yang terparkir di persimpangan jalan adalah mobil milik suruhan ayahnya.

Beberapa menit kemudian, ponsel hitam milik Seijuurou bergetar menandakan ada sebuah email masuk. Ia membuka lalu membacanya, lantas Seijuurou segera memasukkan kunci pada lubang kunci dan menyalakan mobilnya kemudian menjalankan mobilnya menuju kantor.

Di perjalanan pikiran Seijuurou harus bercabang antara Tetsuya, kantor, juga jalanan. Ia juga tak bisa mengabaikan empat orang berpakaian formal didalam mobil hitam yang masih mengikutinya, ia berani bertaruh kalau ayahnya pasti menurunkan bodyguard terbaik hanya untuk memata–matai dirinya.

Seijuurou merasa sangat beruntung karena sudah memasuki dunia bisnis sejak usia limabelas tahun, jadi kalau ada urusan pribadi seperti ini ia tak perlu takut kalau belasan kartu kredit dan kartu debit miliknya akan di blokir oleh ayahnya, karena selama ini uang yang ia pakai untuk membeli kemewahannya adalah uang hasil kerja kerasnya sendiri.

Waktu tiga tahun cukup untuk dirinya bisa membangun perusahaan sendiri, terpisah dari Akashi Corp. yang sebelumnya membayang-bayangi dirinya. Tiga tahun membangun Rakuzan Corp. hingga pamor perusahaan miliknya sendiri bisa menyamai pamor Akashi Corp.

Seijuurou memakirkan mobilnya di basement Rakuzan Corp. setelah sebelumnya memastikan kalau mobil hitam yang sebelumnya mengikutinya tidak ikut masuk ke basement. Seijuurou masuk dan naik lift menuju lantai atas. Ia bertemu dengan Mibuchi Rao; sekretaris sekaligus tangan kanannya.

"Bagaimana hasilnya?"tanya Seijuurou.

"Akashi–sama masih tenang seperti biasanya. Tapi aku melihat delapan anak buahnya muncul pagi ini di jalanan. Menurut Hayama satu mobil yang di kendarai empat suruhan Akashi-sama berjalan menuju pinggir kota."jawab sekretarisnya. Di tangan pria dengan surai raven lurus itu ada sebuah papan kayu yang di sana ada berlembar–lembar kertas entah apa isinya yang di jepit dengan penjepit.

"Pinggir kota?"

Seijuurou mengerutkan alisnya, pikirannya mulai berjalan negatif. Otaknya kembali berputar, mengingat–ingat apa yang ia punya atau ia simpan di pinggir kota. Seketika kedua heterokromnya membola, teringat akan sosok surai skyblue yang hidup di flat mungil yang ada di pinggir kota.

"Distrik 16. Kau tahu, kan? Distrik yang selalu terlihat paling berantakan, entah kenapa Akashi–sama meminta suruhannya untuk pergi ke sa– Seijuurou! Hei, Seijuurou!"ucapan Mibuchi terhenti, tergantikan dengan teriakan tanda minta penjelasan pada sosok Seijuurou yang sudah mengilang di balik pintu lift.

Twilight Lavender

Tetsuya mengerutkan alisnya, pesan singkat yang baru saja ia terima dari Seijuurou berisikan subjek yang tak ia pahami. Pemuda dengan iris heterokromatik itu memintanya untuk tidak keluar rumah sampai Seijuurou tiba. Seharusnya pesan itu terdengar biasa saja, tapi entah kenapa Tetsuya merasa kalau ada hal buruk yang sedang terjadi.

Matanya memandang keluar jendela, tepatnya ke arah langit biru yang terlihat mendung pagi ini. Dahinya mengerut, masih merasa janggal dengan peringatan yang di berikan Seijuurou padanya. Tanpa aba–aba, Tetsuya menyambar mantel cream yang tergeletak di punggung sofa, memakainya lalu berjalan keluar rumah.

Keadaan masih baik–baik saja sepanjang ia berjalan sepuluh menit ini. Tak terjadi apapun, sebelum sebuah mobil sedan hitam dengan simbol kuda di depannya berhenti tepat di sampingnya. Seorang pria berpakaian formal membiusnya sebelum Tetsuya sempat berteriak dan membawanya pergi.

Twilight Lavender

Seijuurou menyetir ugal–ugalan, menulikan telinganya akan sumpah serapah yang sejak ia masuk gerbang tol di tunjukkan padanya. Senin pagi dan keadaan jalan tak selenggang biasanya, ratusan bahkan ribuan mobil berderet rapi dalam beberapa line, sebelum pada akhirnya terbebas dari macet di jalan yang harusnya bebas hambatan. Seijuurou dengan apik memanfaatkan peluang menyetir tak karu–karuan. Setiap ia melihat celah di antara mobil ia berusaha menyalip. Karena yang sekarang menjadi prioritasnya bukanlah keselamatannya sendiri.

Seijuurou sudah bisa menghela nafas lega saat kendaraan roda empatnya sudah memasuki jalanan sepi Distrik 16. Ia menurunkan sedikit kecepatan mobilnya, karena ia yakin kalau Tetsuya pasti menuruti perintahnya.

Mobil Seijuurou terparkir didepan flat sederhana ber cat kusam yang terlihat sepi. Jantung Seijuurou mendadak berpacu lebih cepat dari biasanya saat ia mengecek kalau pintu flat Tetsuya terkunci. Ia menggedor–gedor pintu sambil meneriakkan nama Tetsuya.

"Maaf Tuan, tapi pemilik kontrakan itu sedang pergi."teguran halus dari tetangga Tetsuya terasa seperti halilintar yang menyambar dirinya hingga ia hancur berkeping–keping. Kepalanya kosong, ke dua kakinya melemas hingga akhirnya jatuh terduduk di halaman kotor kontrakan Tetsuya.

Twilight Lavender

Kulit sewarna champagne miliknya berpendar saat tertimpa lampu dinding yang menjadi penerangan satu–satunya di ruangan yang tak Tetsuya kenali. Ia baru menyadari kalau ke dua tangan dan kakinya terikat saat ia mencoba untuk bergerak. Desisan terdengar di setiap saat kulitnya bergesekan dengan permukaan kasar tali tambang yang melilit tangan dan kakinya. Tali tambang itu terikat pada sebuah kursi yang ia duduki.

Tetsuya menyipitkan matanya, saat tiba–tiba pintu terbuka dan membuatnya silau. Sosok yang tak terlihat bagaimana rupanya itu mulai berjalan mendekat. Yang bisa dilihat jelas oleh Tetsuya hanya surai gelap pria itu. Wajahnya tak jelas karena ia datang satu arah dengan letak lampu di luar ruangan.

Tangan kasar pria itu meraih dagu Tetsuya, mencengkramnya erat sebelum menjejalkan sebuah pil ke dalam mulut Tetsuya. Tetsuya sempat melihat iris merah milik pria itu sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

Twilight Lavender

Satu tangan Seijuurou meraih ponselnya mencari nama seseorang lalu menekan tombol hijau. Satu tangannya lagi memegang ban setir, dengan pikirannya yang tak ia ijinkan untuk bersantai.

"Moshi–mos–"

"Cepat cari dimana orang–orang itu terakhir terlihat! Kirim beberapa orang kesana, aku akan menyelesaikan yang disini!"

Seijuurou berteriak lalu memutuskan sambungan telepon. Matanya menatap jalan yang –untungny–lengang. Alis dan dahinya berkerut tak suka, sedang ke dua tangannya yang memegang ban setir meremas bantalan spon sampai meninggalkan bekas kuku disana.

"Otou–sama, aku tak akan memaafkanmu."

Mobil hitam Seijuurou berjalan dengan kecepatan cukup cepat, membelah jalanan menuju satu tempat dimana dalang dari semuanya berada. Ia memarkirkan mobilnya dengan amarah di ubun–ubun, sebelum masuk kedalam mansion dengan mata yang menyalang marah.

"Dimana otou–sama?!"

Seijuurou berteriak, hingga membuat beberapa maid yang menundukkan kepala sempat terkesiap beberapa saat. Kakinya berjalan cepat menaiki tangga, dan menyusuri koridor–koridor sepi kediaman Akashi. Seijuurou berhenti, tepat didepan pintu mahoni tinggi yang terlihat kokoh.

Kegelapan lah yang menyapa Seijuurou saat ia pertama kali membuka pintu kerja ayahnya. Mata emasnya bisa melihat dengan baik di kegelapan, hingga ia bisa melihat sosok yang sedang berdiri memunggunginya.

"Kau terlambat, Seijuurou."

To be continue…

Makasih yang udah follow, favorit, dan review di fanfik saya. Maaf kalau saya belom bisa bales satu–satu, tapi kalian bisa kontak saya lewat PM^^

Nah, minna akhir kata.

Mind to read and review?

Twilight Lavender