Tetsuya membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum membulatkan matanya. Ia terkesiap saat menyadari ada sebuah kain yang menyumpal mulutnya, mencegah apapun yang lahir dari belah bibirnya.
Tetsuya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ruangan yang cukup luas, dengan penerangan baik dan satu lagi hanya ada dirinya saja disana. Benar–benar dirinya saja. Ia juga bisa melihat pintu jeruji besi yang terdapat sebuah lampu bertuliskan 'Open' berwarna merah di atasnya.
Matanya mulai berembun perlahan, berusaha mengatakan pada dirinya sendiri kalau ia akan baik–baik saja dan Seijuurou pasti akan segera datang untuk menyelamatkannya. Satu bulir air mata jatuh dari pelupuknya, di susul dengan lelehan air mata lainnya hingga membuat ke dua pipinya basah. Tetsuya hanya bisa menggigit kain yang menyumpal mulutnya untuk menyembunyikan isakannya.
Kedua matanya membulat sempurna kala mendengar suara kunci dari arah luar. Ia bahkan masih pada posisinya saat sosok dengan rambut navy masuk ke dalam ruangan. Di tangan orang itu ada sebuah nampan yang berisi sepiring makanan dan juga segelas susu. Tetsuya mengabaikan suara teriakan dari perutnya, masih menatap pria yang tak ia kenal sudah berdiri didepannya.
"Makanlah."ucap pria itu. Ia meletakkan nampan di lantai lalu melepaskan ikatan tangan Tetsuya dan berlanjut dengan simpul yang menutup mulutnya.
Kedua bola mata Tetsuya memancarkan kebingungan, memandang pria di depannya dengan penuh harap akan menjelaskan padanya apa yang terjadi.
"Kenapa?"
Tetsuya mengabaikan ke dua alis pria itu yang bertaut bingung, ia masih mempertahankan pandangan pada pemuda beriris sewarna surainya itu.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"tanya Tetsuya. Matanya yang tak bisa lagi menahan kebohongan mulai memerah, di penuhi air mata di pelupuk yang siap menetes kapan saja.
Tetsuya bisa mendengar helaan nafas berat dari pria itu, dan ia juga bisa melihat pria itu mengusap wajahnya kasar dari sudut matanya. Pria itu berlutut guna menyamakan posisi wajahnya dengan wajah Tetsuya.
"Makanlah."bujuk pria itu sambil memegangi ke dua bahu Tetsuya. Satu tangannya beralih memegang dagu Tetsuya lalu meyejajarkan wajah mereka berdua. Iris navy milik pria tak di kenal itu memandang Tetsuya dengan pandangan sarat akan ke khawatiran.
"Maafkan aku, Tetsuya."
Tear Me Down
Pair : Akashi x Kuroko
Rate : T+
Disc. : Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi.
Warns. : YAOI. MxM. Boys Love. Implicit scene.
Twilight Lavender
"Apa maksud tou–sama?"
Ke dua alis sewarna rambut Seijuurou berkerut. Punggung tegap yang sendari tadi membelakanginya kini mulai berbalik, mempertemukan dua iris sama warna.
"Kau terlambat Seijuurou, aku sudah menunggumu datang sejak tadi."ucap si senior Akashi. Ke dua matanya beralih terpejam, dahinya berkerut tak suka.
"Kemana tou–sama membawa Tet–"
"Jangan sebut namanya didepanku!"
Teriakan berasal dari kepala keluarga Akashi tak pelak membuat Seijuurou membulatkan matanya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya kembali seperti semula. Tajam.
"Kenapa ayah melakukannya?"tanya Seijuurou. Suara rendahnya membawa sensasi tersendiri pada sosok Seichirou yang kini tersenyum miring.
Pria berusia setengah abad itu tak menjawab, membuat atmosfer semakin tak karuan. Iris heterokromatiknya menatap Seijuurou dalam, tanpa ekspresi.
"Aku sudah menuruti semua apa yang tou–sama katakan. Bahkan aku juga sudah bisa mengembangkan perusahaan milikku sendiri dalam waktu yang tou–sama syaratkan."ucap Seijuurou lagi, semakin lama suara yang tadinya datar itu mulai bergetar.
"Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau berhubungan dengan anak Teiju itu."ucap Seichirou. Pandangannya menajam pada iris heterokrom Seijuurou yang mulai meredup.
Twilight Lavender
Tetsuya sudah menghabiskan makanannya sejam yang lalu, dan sekarang ia sendiri dalam ruangan yang tak ia tahu dimana letaknya. Sosok navy yang tadi mengantarkan makanan untuknya sudah menghilang di balik pintu jeruji. Rasanya Tetsuya ingin mengintip dari sela–sela jeruji itu, guna melihat bagaimana ke adaan luar. Tapi tak bisa, setelah ia menghabiskan makanannya sosok navy itu pun kembali mengikatnya –kecuali membekap mulutnya–.
Ke dua mata Tetsuya menatap kosong entah kemana. Sejak tadi yang ia lakukan hanya membungkam mulutnya tak mau berbicara sepatah kata pun. Namun di balik itu otaknya sedang berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari tempat ini.
Tetsuya tersentak kala secara tiba–tiba layar laptop yang sejak sejam lalu di letakkan di atas sebuah meja menyala. Menampakkan sebuah video yang mau tak mau membuat Tetsuya terasa tertampar.
Didalam video itu terlihat mobil sedan yang ia ketahui sebagai milik Seijuurou tiba–tiba menabrak mobil biru yang ia kenal sebagai milik orang tuanya keras. Asap dan api tak berapa lama kemudian muncul, membuat Tetsuya membulatkan matanya – tak percaya.
Layar laptop itu secara tiba–tiba mati lalu hidup kembali dan terlihat wajah pria paruh baya dengan rambut amaranth red yang memandangnya datar. Tetsuya tentu saja mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Halo, Kuroko Tetsuya. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Tetsuya terkesiap saat pria itu merapalkan namanya dengan mata tajam yang seolah menatapnya.
"Ah, tak perlu kutanyakan hal seperti itu padamu, kan? Langsung saja, kau tahu aku adalah ayah dari Akashi Seijuurou."
Tetsuya kembali terkesiap. Matanya menatap bingung sosok yang punya mata heterokromatik layaknya milik Seijuurou.
"Kau harus tahu. Kalau kau pikir Seijuurou menjalin hubungan denganmu karena ia mencintaimu, itu salah besar. Kau sudah bisa melihatnya secara langsung, video yang kau tonton sebelumnya itu datang dari sumber terpercaya, dan kau juga harus tahu kalau Seijuurou menjalin hubungan denganmu karena ia merasa bersalah padamu. Karena ia sudah menabrak ke dua orang tuamu hingga mereka mati."
Setelah semua penjelasan itu, layar laptop itu mati. Tetsuya kembali terkesiap, rasanya ia seperti di tampar berkali–kali oleh kenyataan yang baru ia tahu. Tamparan yang membuat luka dalam, yang Tetsuya sendiri bahkan tak tahu bagaimana menyembuhkannya.
Twilight Lavender
"Putuskan hubunganmu dengannya, Seijuurou."titah Seichirou. Ia masih menatap Seijuurou yang kaget dengan perintahnya secara tiba–tiba.
Seijuurou menundukkan kepalanya, lalu mengeratkan kepalan tangannya. Ia menutup matanya lalu menghela nafas panjang, sebelum memandang ayahnya dengan pandangan yang tak lagi sama.
"Maafkan aku, aku tak bisa melakukannya."
Plak.
Seijuurou terkesiap dengan rasa panas yang masih tertinggal di pipi kanannya bersama dengan rasa sakit yang kemudian datang menjalar ke seluruh wajahnya. Sepuluh detik kemudian ia menatap ayahnya yang dibutakan dengan amarah di ubun–ubun.
"Apa kau pikir aku memberimu pilihan untuk menolak?"tanya Seichirou sambil memandang Seijuurou dengan ke dua iris heterokromatiknya yang terlihat menyeramkan.
"Tentu saja tidak. Tentu saja tidak, Akashi–sama. Asal anda tahu, Akashi–sama. Aku sudah cukup bertahan hidup dalam bayang–bayangmu. Menggunakan nama Akashi didepan namaku terasa mencekik, bahkan membuatku terasa ingin muntah."jawab Seijuurou. Matanya yang tadinya masih memandang penuh keterkejutan kini sudah mulai menajam.
"Begitu, kah?"
"Tentu saja seorang Akashi Seichirou tak pernah tahu bagaimana menderitanya seorang Akashi Sei– ah, tidak. Sebentar lagi nama Akashi akan lepas dariku. Bagaimana mungkin kau bisa tahu seperti apa rasanya hidup dalam keluarga seperti ini, sementara dirimu sendiri sudah di butakan oleh harta."jawab Seijuurou lagi. Ia tak memperdulikan ayahnya yang mulai berjalan pelan ke arahnya dengan kepalan tangan yang terlihat keras.
Bugh.
Satu pukulan di keluarkan oleh Seichirou hingga membuat Seijuurou jatuh terduduk. Nafasnya terengah–engah dengan pandangan yang semakan menakutkan. Sementara Seijuurou yang terjerembab terlihat setitik darah muncul dari sudut bibirnya.
"Katakan kau menyesal Seijuurou. Katakan!. Kalau kau tidak mengatakannya aku bersumpah akan melenyapkan Kuroko Tetsuya dari dunia ini!"
Seijuurou yang mendengar ancaman dari bibir Seichirou hanya terkekeh. Ia kemudian berdiri dan mengusap darah dengan ibu jarinya.
"Bukan kah bila aku mengatakannya pun kau akan tetap membunuh Tetsuya?"ucap Seijuurou sinis. Matanya berkilat memandang Seichirou yang masih termakan emosi.
"Pulanglah! Dinginkan kepalamu!"titah Seichirou. Pria paruh baya itu lantas membalikkan badannya, meninggalkan Seijuurou yang masih memandangnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Twilight Lavender
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tetsuya membuka matanya dan yang di lihatnya masih lah hal yang sama. Ia tak tahu berapa lama ia sudah tertidur tapi ia tahu kalau ini sudah pagi karena ada nampan yang berisi sarapan di atas meja. Ia juga baru menyadari kalau ke dua tangannya tak lagi di ikat.
Tetsuya memandang piring yang berisi sandwich tuna dan juga segelas susu dalam diam. Ia tak habis pikir, disini jelas–jelas ia menjadi seorang tawanan tapi mengapa mereka malah memperlakukannya dengan baik. Satu tangannya mengambil setelungkup roti isi yang masih berbau penggorengan itu lalu memakannya. Keheningan menjadi satu–satunya hal yang menemaninya pagi ini.
Matanya tak sengaja melihat sebuah kertas yang terselip di bawah nampan. Ia segera menariknya dan membacanya. Kedua matanya membola, meneliti kembali satu per satu kata yang tertulis di kertas usang itu.
'Akashi–sama sudah melepaskanmu. Kau boleh pergi setelah menghabiskan sarapanmu, akan ada seorang supir yang mengantarmu pulang. Maaf.'
Secara tiba–tiba Tetsuya beranjak dari duduknya, tak memperdulikan roti isinya yang masih tersisa satu gigitan. Kakinya tanpa ia aba–aba berjalan menuju pintu jeruji yang lampu di atasnya berwarna hijau, menandakan kalau pintu itu tak terkunci. Ia segera keluar dari sana dan berjalan menuruni tangga yang lumayan banyak, tak tau selama ini ia ada di lantai berapa.
Seorang pemuda dengan rambut ash grey mencegatnya saat ia sudah ada di ambang pintu utama. Pemuda dengan wajah datar itu menggandeng Tetsuya sampai di depan sebuah mobil merah menyala yang terparkir di luar.
"Di mana alamat rumahmu?"
Twilight Lavender
Seorang Kise Ryota langsung membawa Tetsuya dalam pelukannya saat ia membuka pintu dan menemukan Tetsuya berdiri dengan wajah yang tak bisa di jelaskan. Pelukan itu semakin mengerat saat telinganya bisa menangkap suara isakan yang sudah Tetsuya berusaha sembunyikan dengan menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Ryota.
"Tetsuya, ada apa?"bisik Ryota. Pemuda dengan surai pastel orange itu mengelus surai Tetsuya yang tampak lepek karena keringat. Ia bahkan masih bisa menemukan aroma vanilla yang terselip diantara aroma keringat Tetsuya.
Ryota hanya mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari sosok yang begitu ia sukai itu. Pelukan mereka kembali mengerat, isakan memilukan Tetsuya tak berhenti disana. Hatinya seolah–olah terpancing kehangatan tubuh sosok jangkung yang sedang memeluknya hingga ia terlanjur mencurahkan segala emosinya.
Nasi sudah menjadi bubur, pikir Tetsuya. Isakan yang tadinya terdengar samar kini digantikan dengan suara tangis meraung–raung darinya, dengan Ryota yang tak hentinya mengelus surai skyblue miliknya.
Twilight Lavender
Seijuurou mengambil ponselnya yang sejak semenit lalu terus saja bergetar dengan nama yang terpampang disana selalu sama. Ia menekan tombol hijau sebelum menempelkan benda persegi panjang itu di telinganya.
"Satu mobil tak di kenal baru saja keluar dari area mereka, terakhir terlihat aku belum bisa memastikan siapa yang menyetir mobil itu, tapi aku sudah bisa memastikan kalau Tetsuya ada disana."
Seijuurou terkesiap sejenak. Pikirannya menghilang sebelum akhirnya kembali. Ia tersenyum kecil lalu menjawab, "Katakan kemana mobil itu pergi."
"Hayama masih mencari tahu Seijuurou–sama. Lantas, bagaimana denganmu, apa kau baik–baik saja?"
Suara lembut mengalun dari sambungan telepon. Seijuurou menyunggingkan senyum miring sebelum terkekeh.
"Tentu saja. Cepat hubungi aku kalau sudah ketemu."jawab Seijuurou kemudian memutuskan sambungan telepon.
Ia menyandarkan punggungnya pada punggung jok kursi mobilnya. Sedetik kemudian sebuah helaan nafas berat yang ganti keluar dari mulutnya. Matanya tertutup dan keringat juga tercetak jelas di kemejanya.
"Syukurlah, Tetsuya."
Twilight Lavender
"Katakan Tetsuya, apa yang terjadi padamu?"
Suara Ryota melembut kala melihat cahaya di kedua mata Tetsuya meredup. Pemuda yang tengah duduk di ranjang dengan sepasang piyama di tubuhnya itu masih betah membisu. Ke dua bola matanya entah menatap kemana, bahkan terlihat tak memperdulikan eksistensi Ryota disana.
"Tetsuya to–"
"Kumohon berhentilah, Ryota–kun."ucap Tetsuya. Bibirnya bergumam namun ke dua matanya masih tak menganggap eksistensi Ryota.
Satu tangan Ryota tergerak untuk mengelus surai skyblue milik Tetsuya. Senyum perih terlukis di wajah tanpa cela miliknya, entah berarti mengasihani atau meruntuki nasib buruk milik orang tersayangnya.
"Kumohon, Ryota–kun."
Tetsuya berucap lagi, namun kini di barengi dengan setetes air mata jatuh dari pelupuk kanannya. Matanya yang terlihat kosong menatap ke dua iris amber Ryota dengan pandangan penuh luka. Ke dua alisnya saling bertautan entah membentuk mimik memohon atau kesedihan.
Ryota membalas dengan sebuah pelukan. Pelukan hangat dan erat, ia bahkan membiarkan piyamanya basah karena air mata Tetsuya.
Twilight Lavender
Seijuurou masih diam di kursi kerjanya, ke dua irisnya menatap ponselnya, berharap mendapat sebuah panggilan atau setidaknya sebuah pesan dari Tetsuya yang berisi kalau pemuda itu baik–baik saja.
Sayang seribu sayang, di antara penantiannya akan Tetsuya pintu ruangannya terbuka dan menampakkan seorang pemuda dengan surai ash grey yang punya pandangan malas. Kaki–kaki panjang pemuda itu berjalan memasuki ruangan Seijuurou, ia berhenti tepat di depan meja kerjanya.
"Siapa…kau?"
Seijuurou membeo, ke dua alisnya bertautan sedang sepasang matanya menatap sosok yang tak di kenalnya dengan pandangan aneh. Layaknya tak memperdulikan pertanyaan Seijuurou sebelumnya, pemuda itu hanya meletakkan sebuah stofmap ke atas meja Seijuurou lalu menghilang di balik pintu.
Tangan Seijuurou mengambil stofmap tersebut lalu membukanya, ke dua alisnya masih bertaut hingga tiba–tiba ke dua matanya membola. Belasan foto yang ada dalam stofmap itu ia keluarkan, iris heterokromatiknya meneliti setiap wajah Tetsuya yang kelihatannya baik–baik saja. Matanya beralih melihat sudut kiri bawah foto.
20 Februari 05:56
Ke dua matanya semakin membulat saat menemukan secarik surat yang tertinggal di dalam stofmap. Ia membaca dengan teliti dari kata per kata yang tertulis di sana.
Jika kau tak mau melepaskannya
Percayalah, Seijuurou
Ia yang akan lari darimu
To be continue…
Author Corner :: WB menghampiri saya secara tiba–tiba minna–san. Saya tau kalau cerita ini bener–bener less perfect, tapi ini udah mau end lohh… jadi dari pada otak saya mentok mending walau lagi wb tetep saya lanjutin. Oh ya makasih yang udah review di chapter kemaren. Makasih juga buat salah satu reviewer yang bilang salut sama saya karna saya tetep semangat nglanjutin walau reviewnya gak seberapa, ini hobi saya dan saya juga yakin kalo para author besar dulunya juga kaya saya XP. well pastinya semua pemula mengalami hal kaya gini kan?
Caesar704(makasih udah review ya! Gak kok tenang aja, Tetsuya kan pemain utamanya gak mungkin saya buat dia tewas^^). Uchiharuno Sierra( makasih udah review ya! Iya ini udah update walao gak kilat XP). .9(makasih udah review ya! Iya ini udah lanjut^^). (panggil gitu juga gapapa kok XD disini karakter dia itu memang kuat kok Shira–san, buat chapter 2 di part itu memang kaya gitu, entar saya jelasin deh. Btw makasih udah review^^). Shouraichi Rein (Gapapa review baru di chapter ini yang penting anda tetep ninggalin jejak, makasih ya^^.)
Thanks to :: Caesar704. Uchiharuno Sierra. .9. . Shouraichi Rein. galaxoo. 22. kimm (Guest). Flow . L. ichi (Guest). Aka to Kuro. Kuhaku.
Maaf saya baru bisa bales review di chapter ini. Telat banget kan. Gomen.
So, Read and Review?
Twilight lavender
