Between Us
Title : Moonlight
Cast : Oh Sehun
Lu Han
Genre : Sad Romance
Warning : BL, mpreg, typo(es), cerita pasaran
Disclaimer : Biar dikata pasaran, this story belong to me
Summary : Hatimu tidak akan pernah bisa kusentuh. Namun, setiap kau butuh, aku akan tetap ada disini untukmu.
Don't Like Don't Read
Happy Reading
.
.
.
Sebulan telah berlalu semenjak Sehun meninggalkan Luhan setelah melewati malam panas mereka. Kedua nya 'kehilangan kontak'. Kehilangan kontak disini maksudnya bukan kehilangan nomor yang bisa dihubungi atau yang lainnya. Melainkan enggan untuk saling menghubungi. Sehun dengan seluruh ego akan rasa sakitnya. Luhan yang terlalu sibuk melewati hari-hari nya bersama sang tunangan,
Sehun merasakan rindu yang menjadi kepada Luhan. Terlalu rindu hingga membuat seluruh tubuhnya lemah. Sehun butuh Luhan, Sehun ingin sentuhan Luhan. Sehun sakit dan hanya Luhan yang bisa mengobati nya.
"Nan ottokhae?" Lirih Sehun mengelus perutnya yang kelihatan sedikit membuncit.
"Baby rindu appa? Aku juga merindukan Luhan hyung." Sehun masih dengan mengusap pelan perutnya.
Usia kandungan Sehun masih berumur dua bulan. Belum kelihatan bahwa ia tengah berbadan dua saat ini. Penyebabnya badan kurus ditambah kebiasaan Sehun memakai baju kedodoran. Setidaknya ia masih bisa menyembunyikan keadaannya untuk beberapa bulan kedepan kepada semua orang.
Ya, tidak ada satu pun orang terdekatnya yang tahu Sehun tengah hamil, termasuk Baekhyun. Sehun memilih tidak memberi tahu Baekhyun-orang yang telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri-. Ingat Sehun telah menutup dirinya. Sehun adalah actor di depan khalayak ramai.
"Aku merindukanmu hyung." Kali ini Sehun menatap foto Luhan yang tersimpan apik di galery smartphone nya. Sedikit berpikir, akhirnya Sehun memutuskan untuk menghubungi Luhan.
"Hyung." Sapa Sehun begitu panggilannya diangkat.
"…"
.
.
.
Disinilah Sehun, duduk berdua dengan Luhan di bibir pantai. Tidak lama setelah Sehun menghubungi Luhan, ia langsung dijemput dan dibawa Luhan kesini, kesebuah pantai.
Keduanya memilih diam. Luhan menutup mata nya, menikmati semilir angin berhembus yang menerbangkan rambutnya kebelakang. Sedangkan Sehun diam menundukkan kepalanya, memilin ujung kaos lengan panjang kebesarannya.
Grep
Tangan Sehun berhenti memilin ujung bajunya. Badannya tegang seketika saat Luhan merengkuhnya. Membawanya kepelukan hangat yang begitu dirindukannya.
"hyunghh." Lirih Sehun dengan buliran air yang turun dari matanya.
"aku merindukannmu Hunna." Luhan semakin mengeratkan rengkuhannya kepada sesosok yang rapuh ini kedalam dekapannya.
"hyung hiks." Sehun terisak menumpahkan perasaannya. Jemarinya masih belum melepas ujung bajunya.
"ssstt uljima. Hyung mianhae." Luhan mengusap pelan punggung Sehun menenangkan tubuh bergetar karena isakan pemilik tubuh yang menjadi.
Kedua nya kembali terdiam. Sehun masih mengeluarkan isakan lirihnya didalam rengkuhan Luhan. Sedangkan Luhan hanya menatap kosong jauh ke lautan lepas. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.
"jangan 'pergi' lagi Hunna." Pinta Luhan menutup matanya semakin erat memeluk Sehun.
"aku membutuhkanmu." Sambung Luhan mulai mengecupi puncak kepala Sehun.
"hyunghh hiks. Minseokki hyung bagaimana hiks?" tanya Sehun masih dalam isakannya.
Luhan melepas pelukannya, tangannya memegang kedua pundak ringkih Sehun.
"bisakah tidak membawa nama oranglain diantara kita?" ujar Luhan.
Sehun mengangkat kepalanya.
"tapi hyung."
"sssttt, hanya kita saat ini." telunjuk Luhan berada didepan kedua belah bibir Sehun.
Sehun hanya mampu menganggukkan kepalanya lemah.
'selalu seperti ini. sampai kapan hyung?' inner Sehun.
Luhan tersenyum kembali membawa Sehun kedalam rengkuhannya.
"aku merindukanmu Hunna. Sangat merindukanmu." Luhan memperat rengkuhannya mengantarkan Sehun kembali kedalam jurang cinta terdalamnya seakan tidak ada jalan untuk keluar.
.
.
.
Hubungan Luhan dan Sehun kembali seperti sebulan yang lalu. Cinta sepihak Sehun masih berlanjut, status hubungan yang masih tidak jelas, malam bergairah yang panjang, sentuhan Luhan yang semakin memabukkan, dan actor Sehun yang bertambah hebat. Hingga sampai saat ini Luhan masih belum mengetahui Sehun tengah berbadan dua, mengandung benihnya didalam perutnya yang sedikit demi sedikit mulai membuncit itu. Hanya masih belum terlalu kelihatan.
"Hunna, kenapa perutmu gembung seperti ini eoh?" tanya Luhan disela-sela kegiatan 'panas' mereka.
"akhir-akhir ini aku makanhh ohh banyak hyung aahh." Jawab Sehun ditengah desahannya akan 'pompaan' Luhan ditubuhnya.
"eoh jinja? Kau sedang tidak berbohong kan?" Luhan melambatkan 'gerakannya'.
"ani hyung aniya."
Tentu saja yang dikatakan Sehun tidak benar. Justru yang terjadi malah sebaliknya. Sehun jarang makan, kehamilannya di trimester awal membuat nafsu makannya berkurang. Saat ini hanya susu yang bisa diandalkan Sehun untuk memenuhi tuntutan gizi akan tubuh dan calon bayinya.
"jangan berbohong Hunna, bahkan kau tidak menghabiskan makanan yang kita pesan semalam." Luhan memicingkan matanya menatap tajam Sehun yang mulai gugup. 'Gerakan' Luhan berhenti sepenuhnya walau dirinya masih 'menyatu' dengan Sehun.
"aniya hyung, semalam kan hyung tahu. Aku baru selesai makan masakan umma yang sangat jarang akhit-akhir ini. Hyung kan tahu sendiri keadaan umma semenjak Noona pergi." Lirih Sehun mengeluarkan 'kebohongannya' lagi. Tentu saja bohong, bahkan Sehun sendiri menghindar untuk bertemu kedua orangtuanya. Ia tahu ia tidak bisa berbohong kepada umma nya. Daripada ia ketahuan hamil, jadi sebisa mungkin Sehun tidak bertemu ibu nya.
Luhan terhenyak akan perkataan 'bohong' Sehun. Ia tersadar bahwa Sehun masih dalam duka. Ia juga tahu bagaimana keadaan umma Sehun yang masih belum merelakan kepergian putrinya. Luhan akhirnya percaya.
"hyunghh." Sehun melenguh menggerakan pinggulnya kembali memancing Luhan untuk 'memompa' dirinya.
"eoh, jadi baby Hunna mulai nakal?" Luhan menunjukkan seringaiannya.
"terima hukumanmu anak nakal." Luhan menggerakan pinggulnya dengan cepat. Membuat Sehun terlonjak-lonjak dibawahnya.
"Ahh hyungg." Desahan Sehun menjadi.
Luhan membalikkan posisi menjadi Sehun diatasnya. Memutar tubuh Sehun menjadi membelakanginya. Membuat geraman Luhan menjadi karena 'milik'nya yang serasa diplintir 'lubang' Sehun.
Luhan memegangi pinggang Sehun, membantu Sehun menunggangi dirinya.
"hyunghh ohh." Sehun mendesah, kedua tangan nakalnya mulai meremas dada nya sendiri. Kehamilan semakin membawanya kedalam nafsu yang menjadi-jadi.
Luhan sibuk mengeram rendah masih memegang pinggang tubuh ringkih diatasnya.
"AHHH." "grrrrmmm." Desahan keras Sehun dan geraman Luhan yang semakin merendah menandakan mereka kembali menemui puncak kenikmatan.
Tanpa melepas tautan, Luhan menarik Sehun kebelakang, membiarkan Sehun terlentang diatas badannya. Kembali menggerakkan pinggulnya. Desahan Sehun kembali terdengar keras, tangannya memegang bedpost menahan nikmat yang melanda seluruh tubuhnya hingga menggapai surga dunia.
Keduanya terengah-engah, dada yang naik turun. Sehun mengelus pipi Luhan yang terpejam. Tatapan mata yang lembut penuh cinta yang sayangnya belum mampu menyentuh hati Luhan.
Plop
Sret
Bunyi tautan terlepas dan Luhan yang segera berlari dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi.
Sehun mengambil kaos kebesarannya, kemudian dengan tertatih sambil memegang pinggulnya ia berjalan menyusul Luhan.
"hoek hoek."
Luhan mengeluarkan semua isi perutnya.
"hyung gwenchana?" tanya Sehun memijit tengkuk Luhan.
Luhan membersihkan mulutnya dirasa mualnya telah menghilang.
Sehun menyerahkan bathrobe kepada Luhan.
"aneh, sudah dua bulan ini aku selalu seperti ini setiap pagi. Dokter hanya mengatakan aku masuk angin." Ujar Luhan mengungkapkan pikirannya.
Sehun terdiam mendengarnya.
'Mungkinkah ini alasannya aku tidak pernah muntah semenjak hamil?' Sehun menatap perutnya.
"mungkin hyung memang masuk angin. Lebih sekarang istirahat." Sehun mendorong Luhan ke ranjang kemudian masuk kedalam pelukannya Luhan, menyamankan dirinya.
"tapi hyung belum puas Hunna." Rengek Luhan.
"aniya hyung, ini sudah jam enam pagi dan badanku pegal."tolak Sehun kemudian menutup mata nya melesakkan wajahnya kedada bidang Luhan.
"huh, jaljayo Sehunna." Luhan mengecup pipi Sehun dan menyusul Sehun masuk kedalam mimpi.
Drrtt drrttt
Baru akan terlelap, suara getar smartphone kembali membawa Luhan sadar. Dengan malas diambilnya benda yang setia bergetar itu.
"baozi baobei."
Itulah nama yang tertera di smartphone Luhan.
"ya chagia." Jawab Luhan tangannya mengelus puncak kepala Sehun.
"…"
"eoh? Hati-hati disana sayang."
"…"
"nado saranghae."
Panggilan terputus, tangan Luhan masih mengusap kepala Sehun.
'hyung, inikah jawabannya? Apa kau kesepian ditinggal sementara oleh tunaganmu?'
Sehun semakin memejamkan matanya, menahan sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan buliran bening dari matanya. Sedari tadi ia belum tidur dan semua percakapan Luhan terdengar jelas ditelinganya.
Pikirannya kembali melayang saat ia menghubungi Luhan pertama kali beberapa waktu yang lalu pasca sebulan kehilangan kontak.
'hyung biarkan aku egois. Biarkan aku ada disini selama kau membutuhkanku. Bahkan aku tidak akan pernah pergi hyung.'
Sebuah tempat yang tidak akan bisa aku sentuh
Sebuah tempat yang tidak bisa aku tempati
Sebuah refleksi yang ternyata bukan dia
Inilah kisah sedihku tentang cintayang tidak terpenuhi
Semakin mendekat, semakin kuat sakit yang kurasakan
(Exo-Moonlight Indonesian translate)
END
