My boyfriend is a gangster.
Chap 2
Jung Taekwoon
Cha Hakyeon
Kim Wonshik
Other Vixx members.
Δ HapDee61 Δ
Fanfic req from AOI KANATA on facebook group.
[ LeoN Vixx Couple ]
Typo pasti ada. Original story line.
Eyd banyak salah.
Semoga suka!
.
.
Hakyeon memicingkan matanya pada Taekwoon, yang tengah terduduk sambil memakan makanan ibunya di meja makan.
Ia sendiri sedang berada di sofa, yang sama sekali tidak berjauhan dengan meja makan.
Hakyeon terus memandang Taekwoon penasaran.
Ia merasa, ia pernah bertemu Taekwoon sebelumnya.
Tapi bukan Hakyeon, jika tidak pelupa.
Hakyeon mengalihkan pandangan nya dari Taekwoon, ia beralih menatap televisi, yang menampilkan anime (kartun Jepang) favoritenya.
'Winter sonata'
Anime yang di tayangkan setiap jam tiga sore. Alur ceritanya yang sangat melow, membuat Hakyeon menyukainya.
Hakyeon memang sangat menyukai sesuatu yang terasa menyentuh. Entah itu novel,anime,drama atau drama musikal.
Dalam satu menit. Hakyeon sudah menghilang dalam dunia nya sendiri.
Anime di depan nya ini, sangat bisa menarik dirinya untuk fokus pada layar di depan nya.
Ehemmm...
Hakyeon terkaget. Saat suara deheman keras, mengintrupsi dunianya.
Suara Taekwoon, yang entah kapan sudah berada di depan Hakyeon.
"Eh, ada apa Taekwoon-shi?"
"Rumahmu kecil." ucap Taekwoon singkat, tetapi tajam.
"Eh, iya. Tapi ini karena hasil umma loh. Aku juga membantu sedikit." Hakyeon curhat sedikit, tentang rumahnya ini.
"Ayahmu mana?"
"Ayah.. Sudah tidak ada." Hakyeon tertunduk lesu.
"Dia meninggal?"
"Ehmm, ya. Disaat aku masih sepuluh tahun." Hakyeon tersenyum miris. Ia kembali teringat ayahnya, yang berjanji akan pulang dari perang yang terjadi di Korea utara. Para tentara Korea selatan dikirim kesana.
"Ayahku juga. Baru saja kemarin." Hakyeon terkejut. Ia menatap Taekwoon nanar.
"Benarkah?"
"Ya."
"Maaf jadi mengungkit-ungkit."
"Tidak apa-apa." Taekwoon tersenyum, tapi ia ganti menjadi seringaian.
Hakyeon hanya bisa terdiam. Mencerna arti seringaian Taekwoon. Tapi lama kelamaan, ia sadar, arti dari seringaian itu.
"A-apa?" Hakyeon bergidik ngeri.
"Mau jadi kekasihku tidak? Kamu manis, dan aku suka itu."
"Eeehh?!" Hakyeon terkaget. Ia hampir terjatuh dari sofa lagi. Mengulang kejadian tadi.
Hakyeon yang menindih tubuh Taekwoon.
( Blushhh )
Hakyeon memeluk dirinya sendiri. Pipinya ini terasa panas. Sangat amat panas! Catat. Pa-na-ssss!
.
Flashback
"Omo! Hakyeon!" pekikkan nyaring mrs. Cha. Menggema di seluruh rumah mungil itu.
"Eunghhh.." Hakyeon mengerang kesakitan. Ia hampir saja tak sadarkan diri sebentar.
Sedangkan JUNG TAEKWOON! Yang memang terlahir sudah mesum. Menciumi pipi Hakyeon, saat Hakyeon tak sadarkan diri tadi.
Sesuatu yang sangat tidak sopan, dilakukan oleh Taekwoon. Tangan Taekwoon meremas dada lurus Hakyeon. Setelah Taekwoon melakukan itu, Hakyeon terbangun.
Jung Taekwoon sangat beruntung rupanya.
"Umma?" Hakyeon melirik ibunya, yang tengah terjatuh di lantai, dengan lemas. Seperti sudah tidak ada tenaga lagi.
"Umma, Waeyo?" tanya Hakyeon. Ibunya masih tidak menjawab.
"Ehemm.. Ehemmm.." Taekwoon berdehem, dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Ada apa eo- Aigoo! Dasar mesum!" Hakyeon beranjak dari tubuh Taekwoon, dan langsung memeluki badan nya sendiri. Merasa ternodai mungkin?
Hakyeon melirik ibunya. Ia langsung berlari menuju ibunya, yang tergeletak lemas.
"Umma. Salah faham. Dia benar-benar orang yang aku temukan terluka kok."
"Bukan. Umma bukan kaget melihat kalian. Umma syok, karena Mai, kencing di atas sofa." Mai kucing keluarga Cha. Memang terkenal nakal.
Taekwoon dan Hakyeon menjatuhkan rahang bawah mereka. Sweet-drop pun dilakukan Hakyeon. Taekwoon melakukan face palm yang sangat fenomenal.
"Umma~" lirih Hakyeon.
Flashback end.
.
"Kata Jaehwan. Kita harus berpacaran jika mempunyai rasa cinta." ujar Hakyeon polos.
"Siapa itu Jaehwan?"
"Teman sekolah."
"Ooohh.. Lagipula. Tidak semua hubungan dimulai dari kata cinta."
"Harus. Semua hubungan butuh cinta."
"Tahu apa kamu?"
"Aku tahu, jika cinta itu perlu, jika ingin berpacaran." Hakyeon berucap -sok- mengerti.
"Kalau begitu. Aku mencintaimu."
"Oh. Yasudah. Sekarang kita berpacaran?" Taekwoon hampir saja tersungkur di lantai, mendengar ucapan Hakyeon, yang terlewat polos. Malahan terdengar bodoh.
"Benar nih?"
"Katanya kamu. Kamu mencintaiku. Tapi aku tidak. Oh ya! Jika aku tidak. Apa kita masih bisa pacaran?"
"Boleh!" Hakyeon mengangguk pelan. Tapi ia masih tidak yakin dengan omongan Taekwoon -yang hanya dibuat-buat-.
"Tapi aku tidak mencintaimu. Bagaiman jika nanti aku tanya Jaehwan dulu?"
"Yahh.." lirih Taekwoon.
Hakyeon ini, bodoh atau apa? Begini saja ia masih bertanya.
"Yoshh.. Sekarang sana pulang ke rumahmu. Sudah sembuh kan? Nanti kita bisa bertemu lagi kan?"
"Besok sore aku kesini lagi ya. Terima kasih makanan nya!"
"Eeehh?"
"Bye!" Taekwoon berlari keluar rumah. Tanpa mendengar pekikkan Hakyeon yang memanggil nya.
.
.
(Pagi-Pagi)
"Umma, aku berangkat!" mrs. Cha, mengangguk, mendengar teriakan sang anak.
Cklekk...
Hakyeon menghela nafas panjang. Baru saja ia keluar pintu rumah. Sudah ada lelaki dengan rambut keatas -efek jel- berwarna biru.
Sedang berkacak pinggang pula.
"Ravi-shi. Ada apa lagi?" tanya Hakyeon pelan, sambil berjalan keluar pagar.
"Mengantar pacarku sekolah dong." goda -Ravi.
"Aku bukan pacarmu Ravi-shi." Hakyeon kembali menghela nafas, setelah sampai di depan Ravi.
Hakyeon mendongak. Menatap Ravi yang sedang tersenyum lebar.
"Senyumanmu itu menyeramkan." ejek Hakyeon. Langsung membuat Ravi lesu, tetapi kembali tersenyum.
Ravi berlari mendekati Hakyeon, yang sudah berjalan melewatinya.
"Oh ayolah. Aku antar, bagaimana?"
"Tidak. Aku tidak mau diantar bersama gangster aneh dan menyebalkan, ok?" Hakyeon menjewer kuping Ravi sebal.
"Ouchh.. Tapi aku tampan kan?"
"Tidak."
"Kok?! Seluruh orang mengatakan jika aku sangat tampan. Melebihi Brad Pitt!" seketika, Ravi memukul-mukul dadanya, sok keren.
"-_-|| Brad Pitt? Kumisnya Brad Pitt eh?" Hakyeon melanjutkan langkahan nya, yang tertunda karena ocehan Ravi.
"Kumis? Memangnya ia punya kumis eoh?"
"Entah. Mungkin saja." Hakyeon menaikkan kedua bahunya.
Greppp...
Badan Hakyeon, terseret oleh Ravi, yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan nya.
Ravi menarik Hakyeon, mendekati mobil tanpa atap miliknya.
"Duduk saja ok?"
"Tidak mau Ravi-shi!" tolak Hakyeon, yang hendak melangkah kesekolahnya, kembali.
"Jangan menolak. Masuk saja." Hakyeon langsung di dorong memasuki mobil. Ia disuruh duduk di samping bangku pengemudi.
"Hufff.. Memaksa." Hakyeon menyilangkan lengan nya kesal.
"Nahh.. Kalau begitu, ayo jalan Kim Hakyeon." Ravi yang sudah terduduk di bangku pemudi, dan sudah menyalakan mobilnya. Sempat-sempatnya menggoda Hakyeon.
"Yak. Aku bahkan bukan kekasihmu!" kesal Hakyeon.
"Diam saja." tekan Ravi. Hakyeon pun terdiam, dengan wajah kusut.
.
.
"Ciee! Ciee! Cieee! Cieee!" suara godaan Jaehwan terdengar bising. Sangat menganggu di kuping Hakyeon.
Sejak ia diantar Ravi ke sekolah. Jagaan tidak berhenti menggodanya. Mengatakan jika Ravi dan dia adalah pasangan cocok.
"jaehwan. Berhenti menggodanya, bisa?" Hakyeon menghembuskan nafasnya.
"Beri tahu aku tentang dia! Siapa dia eoh? Tampan sekali, Hakyeon!" pekik Jaehwan, tak bisa diam. Dengan cepat, Hakyeon menutup kedua kupingnya, dengan telapak tangan nya.
"Bisakah berhenti?"
"Tidak! Ayolah Hakyeonie. Beri tahu aku tentang dia."
"Jaehwan. Dia bukan pacarku. Dia hanya orang yang selalu mengganggu ku, kay?" Hakyeon menatap Jaehwan, mencari mimik wajah Jaehwan. Mungkin saja Jaehwan mengerti omongan nya.
"Benar nih?~"
"Hhhh.. Iya."
"Uh.. Padahal aku pikir, kalian itu cocok loh. Tampan dan manis, itu sangat cocok! Cocok sekali, Hakyeon!"
"Bukan nya kamu bilang, jika kita berpacaran. Harus mempunyai rasa cinta?"
"Iya juga sih. Kamu cinta dia tidak?"
"Tidak"
"Yahhh~ cintai dia secepatnya!" paksa Jaehwan.
"Eh? Memaksa. Aku tidak suka, apalagi cinta dengan Ravi-shi!" tolak Hakyeon.
"Ravi? Namanya Ravi?"
"Ya. Kamu suka dia eoh?"
"No no no. Aku punya Hyukkie baby!" Jaehwan memajukan bibirnya, dan memejamkan matanya. Mengingat pacarnya, yang berada di sekolahnya yang berbeda dari Jaehwan.
"Jaehwan. Jangan mengkhayal yang aneh-aneh." Hakyeon melayangkan sentilan, di kening Jaehwan.
"Ughh.. Sakit Hayeonie~"
"Maaf. Oh ya. Ada orang yang bilang, dia ingin menjadi pacarku. Dia juga mencintaiku katanya."
"Eeehhh?! Jinjja? Hakyeonie Jinjjayo?!" pekik Jaehwan girang.
Membuat seluruh orang di kelas, menatap Jaehwan malas. Sedangkan Hakyeon, menutup wajahnya dengan tas ransel miliknya.
Teman nya yang satu ini, selalu membuatnya malu.
"Benarkah? Dia menembak mu?!"
"Menembak? Tidak Jaehwan. Lihat. Aku masih hidup"
Brukkk...
Jaehwan mengusap pantatnya sakit. Ia mendongak menatap Hakyeon yang terduduk di kursinya. Sedikit meminta bantuan, karena pantatnya sangat sakit, dan ia tidak bisa berdiri.
Jaehwan terjatuh, mendengar kata-kata Hakyeon, yang sangat bodoh.
Apa Hakyeon, benar-benar tidak tahu apa itu hubungan khusus? (read: pacaran)
Sangat bodoh.
Teman nya yang manis ini. Sangat BODOH! Garis bawahi. BODOH.
"Gara-gara kamu nih, aku terjatuh Hakyeonie!" Jaehwan mengerucut sebal, saat tangan Hakyeon menjulur, untuk membantunya berdiri.
"Aku ini tidak melakukan apa-apa. Kenapa salah sih?"
"Otak mu ini, sangat polos. Pintar sih, tapi idiot juga!"
"Ishh. Menyebalkan deh kamu!"
"Memang. Gini. Lelaki yang 'mencintaimu' itu. Sudah berapa lama bertemu denganmu?"
"Hemmm?.. Lima jam-an"
Gedubrakkk...
Yap. Jaehwan kembali terjatuh, dan langsung dibantu -lagi- oleh Hakyeon.
Bahkan seluruh siswa menatap nya kasihan
"Baru lima jam?! Kamu bahkan belum, sangat mengenal dia. Kamu harus benar-benar mengenal dia!"
"Aahh~ arraseo. Oh lagi. Jaehwan."
"Iya apa?"
"Apa aku dan dia masih bisa berpacaran? Walau aku tidak mencintainya?"
Gubrrakkk...
Lagi -_-||
Jaehwan terjatuh, dan tak bisa bangkit lagi~ #ApaIni
Dengan segera, Hakyeon kembali membantunya.
"Jaehwan. Hobimu jatuh terus sih?"
"Tiba-tiba begitu, setiap mendengar ucapan mu" Jaehwan menggeleng-geleng pusing.
"Ooo.. Bagaimana? Apa aku dan dia masih bisa berpacaran, walau aku tidak suka dia?"
"Tidak Hakyeon! Kamu bahkan tidak terlalu mengenalnya. Kamu juga tidak mencintainya! Tolak saja dia!" pekik Jaehwan frustasi.
"Ah, oh. Ok." Hakyeon mengangguk mengerti.
.
.
Kringgg... Kringg...
Bel makan siang, menggema di seluruh penghujung sekolah.
Seperti biasa lagi. Siswa-siswa pasti berhamburan keluar kelas, dan menyerbu kantin. Ada juga yang hanya terdiam di kelas, atau ke kantin. Hanya untuk memakan bekal mereka.
Tetapi entah kenapa. Hakyeon sekarang berada di kantin. Baru saja ia ingin mengeluarkan bekal makan siang nya di tas. Tiba-tiba Jaehwan menariknya ke kantin. Bersama sahabat satunya lagi. Si Hongbin.
"Jaehwan, aku bawa bekal." ucap Hakyeon, di tengah kerumunan siswa.
"Aku traktir kamu. Hakyeonie, kamu membawa bekal terus. Tidakkah kamu bosan?"
Hakyeon menggeleng. "Masakan ibuku enak, Jaehwan."
"Yap aku tahu. Aku juga sudah pernah coba. Tapi, ada tapinya. Sekali-kali, makanlah di kantin!"
"Tapi, aku.."
"Kenapa? Mumpung aku yang traktir. Pesan apa pun yang kamu mau, ok?!" Jaehwan mengacungkan jempolnya, pada Hakyeon.
"Ok. Ok."
"Ehemmm." Hongbin merasa dirinya seperti obat nyamuk. Sangat diabaikan.
"Oh ya! Aku lupa. Aku menarik Hongbinie juga ya?" Jaehwan menepuk jidatnya, ia sangat lupa. Hongbin juga ikut!
"Ishh, menyebalkan deh." Hongbin menyeruput jusnya, yang sempat ia beli, sebelum sekolah. Lalu berlari menuju belakang pundak Hakyeon.
"Sama Hakyeon saja. Buwee!" Hongbin menjulurkan lidahnya.
"Ishh!"
.
.
"Eugggg!" Jaehwan dan Hongbin, bersendawa panjang.
Setelah lima piring makanan yang mereka makan.
Mereka berdua, membuat lomba makan terbanyak. Dan pemenangnya adalah Jaehwan. Tetapi, karena kebanyakan makan, Jaehwan hampir tidak bisa berjalan.
Sedangkan Hakyeon, hanya memesan satu ramen, dan jus alpukat dingin. Ia hanya bisa menggeleng-geleng, melihat kelakuan teman nya.
"Hakyeonie! Aku mau ke uks. Perutku terasa meledak!" keluh Jaehwan.
"Aku juga!" timpal Hongbin.
Hakyeon menggeleng malas. Ia langsung membantu kedua orang malas di depan nya, berdiri. Mengajak mereka berjalan pelan-pelan, ke uks.
.
"Aku masuk kelas dulu ya. Akan aku bilang ke songsaengnim, kalian berdua ada di uks"
"Ok manis!" goda Jaehwan, yang bahkan masih sempat menggoda teman nya, di saat perutnya sudah melebar.
"Ishh.. Diam" Hakyeon menjewer kuping lancip Jaehwan. Lalu langsung berlari keluar uks. Karena bel, sudah berdering, lima menit yang lalu.
To Be Continued
Gimana? Sahh?! #eh salah
Maksudku, bagus enggak? Review nya ya. Silent reader, kutunggu review dari mu!
Ya sudah. Terima kasih.
