Aku terbangun dari tidurku ketika jam sudah menunjukan angka 9 lewat 30 pagi (ah, mungkin bisa dibilang siang juga). Lagian tak ada gunanya juga bangun pagi-pagi hari ini, shiftku bekerjaku hari ini tepat malam hari.
Ketika ku terbangun, bocah itu tak ada lagi ditempat tidurku. Kemana dia? Apa dia sudah pergi dari rumahku? Jika hal itu terjadi maka aku akan sangat bersyukur dan akan rajin-rajin ke gereja. Ketika aku keluar dari kamarku dan menuju ke dapur, aroma sedap langsung menyambut indra penciumanku. Mungkinkah masakan tetangga nembus kedinding apartemenku yang kedap suara ini? Hhehe itu mana mungkin! Lalu siapa yang memasak? Apa mungkin..
"Sasuke-chan? Apa yang sedang kau lakukan? Itu berbahaya!"
Sungguh aku sangat panik melihat bagaimana lihainya Sasuke menggunakan komporku, menggerakan spatula dengan ahlinya, bahkan dengan bantuan kursi kecil yang membuatnya sedikit tambah tinggi itu tak mengurangi sedikitpun rasa takutku jika sesuatu terjadi dengan dapurku! Maksudku, Sasuke juga..
"Dasar dobe! Aku sedang memasak untuk kita berdua. Hush..Jangan mengganggu!" ucapnya sambil mengarakan spatulanya yang kuyakin sangat panas itu kewajahku. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Tapi kau masih terlalu kecil Sasuke! Ini berbahaya untuk anak seusiamu main masak-masakan seperti ini.. Biar aku yang melakukannya"
"Aku tidak lemah sepertimu!"
'twitch'
Sungguh menyebalkan sekali anak ini! Jika apartemenku terbakar karena ulahnya, siapa yang akan tanggung jawab?
Kupeluk tubuhnya dari belakang agar aku bisa menggendongnya dan turun dari kursi, namun aku tak bisa mengangkat tubuhnya. MENGAPA TUBUH KECILNYA BERAT SEKALI?
"Kau pikir tubuh lemahmu itu bisa mengangkat tubuhku? Butuh waktu 1000 tahun bagimu dobe!" ucapnya, bahkan sama sekali tak melihat wajahku. KESAL SEKALI !
'Tek'
Dia mematikan kompor gasku lalu sesekali mengaduk nasi dengan sepatula.
"Ambil piring dan sendok" perintahnya padaku yang lebih tua dari pada dia ini. Dan mengapa aku harus menurutinya? Huft.. Salahkan aroma masakannya yang mengundang selera itu.
Pokoknya Aku harus menjauhkan dia dari kehidupanku. SEGERA!
Walau berat dan amat terpaksa, kuakui masakan Sasuke yang walaupun hanya nasi goreng sederhana ini sangaattt enak seperti masakan di restoran yang pernah kukunjungi bersama Gaara. Bukan hanya nasi goreng bahkan ia membuatkan ku susu. Hey dari mana dia dapat susu itu? Aku tak pernah ingat punya stok susu di lemariku, ya lemari tempat ku menyimpan stok makanan (karena aku tak punya cukup uang untuk membeli kulkas).
"Minum susumu Naruto" titah nya bak Raja.
"Tapi aku tak suka susu Sasuke"
"Jadi kau tak menghargai usahaku?" tatapnya tajam ke arahku, mengerikan sekali.
"Baiklah. Baiklah.. Aku akan meminumnya. Tapi lain kali jangan membuatkan susu lagi untukku"
"Hn"
Kuminum segelas susu rasa vanilla hangat itu. Enak juga ternyata! Tapi mengapa aku harus bilang 'lain kali' pada Sasuke tadi? Crap! Bukannya aku harus menyingkirkannya?
Dia sangat mengganggu, dan juga cara dia memandangiku meminum susu juaga sangat mengganggu!
"Jadi kau tidak suka susu Naruto? Yang kulihat malah kau sangat menikmati 'susu'ku" ucapnya dengan diakhiri seringai yang tak patut dilakukan oleh anak ingusan seperti dia.
"Susu mu? Apa kau siluman sapi? Hhe..Kau ini lebih cocok disebut iblis"
Kena kau!
Dia menggendikkan bahunya sambil meminum kopinya. HEY! dari mana dia dapat bubuk kopi? Aku bahkan tak pernah minum kopi!
"Entahlah. Yang jelas aku akan selalu bersamamu!"
'tak' (Sasuke meletakkan cangkir kopinya dimeja)
"Anggap saja aku ini keluargamu yang selalu berada disampingmu baik suka maupun duka, keluarga yang akan membuatmu tertawa dan menangis, dan yang akan membuatmu bahagia sampai akhir.
Aku membulatkan mataku, terkejut mendengarkan perkataannya barusan. Tak ada keraguan dalam nada bicaranya bahkan dalam bola matanya yang mengingatkanku pada gelapnya langit malam itu. Mengapa dia seperti itu? Bahkan anak kecil bisa mengucapkan hal yang berisi seperti janji pernikahan? Dunia mulai gila.
"A..a..apa kau sudah frustasi karena dicampakkan keluargamu Sasuke-chan? Walau aku tak sepenuhnya mengerti maksudmu, tapi aku akan berusaha untuk.."
"AKU TAK MEMILIKI KELUARGA SEKARANG! KAU KELUARGAKU!" bentaknya.
Aku terkejut, aku takut. Selama Sasuke membentakku tadi rasanya sesuatu dalam tubuhku, di dalam perutku seperti ada yang melesak keluar. Sakit sekali rasanya. Kucengkram perutku kuat-kuat dan menjerit sekuat tenagaku. Seseorang, tolong hentikan rasa seperti pusaran yang menikam ini diperutku. Gaara..Lee...Kiba.. siapa pun, tolong aku! Apa yang terjadi padaku?
"Sa..Sasukeh.. to..tolong akh..Sakit sekali"
Sasuke berdiri angkuh didepanku yang kini sudah terjatuh dari sofa dan menggelinjang di lantai. Bahkan saat tangan lemahku mencoba meraih Sasuke, dengan kejamnya ia tepis tanganku.
"Hahaha..Sakitkan Naru-chan?"
Aku hanya menggigit bibirku yang tlah berdarah, panas..sakit..sakit..
Antara sadar dan tidak, kulihat bola mata Sasuke menjadi merah. Tubuhnya yang pendek makin lama makin tinggi sampai mencapai tinggi orang dewasa. Gaya rambut Sasuke bahkan kini sudah berubah menjadi lebih panjang dan menutupi sebelah yang menjadi ciri-ciri Sasuke kecil telah berubah menjadi Seseorang yang tak kukenali lagi. Yang kulihat ini adalah iblis, malaikat pencabut nyawa, monsterkah? Aku tak tahu. Benarkah apa yang kulihat ini, Tuhan?
"Sii..siapa kau?" tanyaku dengan suara lemah.
Orang itu pun mengeluarkan seringaian yang sangat menyeramkan. Lalu saat kuku-kuku jari hitam tangannya menjadi memanjang kumundurkan tubuhku karena orang itu terus mendekatiku. Namun hal itu sia-sia..
"Kau mau pergi kemana Naruto. Kau mengapa menjauh dariku? Padahal semalaman kau memelukku erat"
Aku tak bisa melawan tangannya yang menyingkap bajuku sampai menampakkan perutku. Apa aku akan mati sekarang? Dia menyeringai lagi.
"ARRGGGHHHH!"
"SAKIT..SAKIT..ARGGHHH! AMPUNI AKU! AMPUNI AKU! HENTIKAN! HENTIKAN!"
Jeritanku, air mataku, permohonanku, tak menghentikannya untuk terus mengukir kulit perutku dengan kukunya yang tajam. Aku tak tahu berapa banyak darah yang keluar dari perutku, berapa lebar luka yang ia buat, atau masihkah aku dapat melihat matahari besok? Melihat wajah teman-temanku. Wajah Gaara..
"HAHHAHAA.."
'syup'
Dua buah sayap keluar melalui punggungnya. Sayap dengan warna hitam disertai dengan bulu-bulu hitamnya yang halus berterbangan. Memenuhi ruanganku. Seharusnya indah sekali.. Tapi aku takut sekali dengan makhluk yang masih mengukir perutku. Saat kedua sayapnya makin melebar hingga menutupi seluruh tubuh kami, aku langsung menyadari : ini baunya Sasuke. Sasuke melakukan ini padaku?
Sayup-sayup kudengar dia tertawa lagi dengan gaya psikopatnya. Dan setelah kurasakan ciuman diperutku, selanjutnya adalah gelap. Gelap sekali.
Aku terbangun dari tidurku, dan saat kulihat kearah jam digitalku ternyata jam sudah menunjukan angka 09.30 pagi. Kulihat Sasuke masih tertidur disampingku. Kulihat kearah wajahnya yang tengah terlelap dengan damainya itu, polos sekali ya wajah anak kecil.
Aku berencana untuk tidur lagi namun Kurasakan sesuatu yang aneh diperutku. Rasanya sedikit sakit dan gatal. Saat kusingkap bajuku, aku berteriak.
"KAPAN AKU PUNYA TATO DIPERUTKU?"
Aneh! Aku tak pernah ingat sejak kapan tanda yang berbentuk seperti segel yang memutari pusarku ini bersarang dengan indahnya diperutku. Ya, tato atau mungkin segel ini sangat berseni perutku dan menggaruknya.
"Kau ini pagi-pagi sudah ribut? Apa yang terjadi ha?!"
"Sasuke, lihat perutku! Tanda ini tiba-tiba berada di Perutku" ucapku pada Sasuke yang baru terbangun.
"Biar kulihat. Coba angkat lebih tinggi bajumu"
Kuturuti perintahnya. Dan saat tangan Sasuke memeriksa tanda diperutku dengan jari-jari kecilnya aku hanya bisa menahan geli.
"Bagus juga. Ternyata kau tipe orang yang suka mengukir tato diperut ya. Dasar 'M'!"
"Hei, aku tidak suka tato dan tak pernah mentato tubuhku! Dan aku bukan masochist!"
Namun Sasuke tak menggubrisku dan langsung keluar kamarku dan meninggalkanku. Kuelus tanda diperutku yang sebelumnya sedikit berdenyut dan gatal namun setelah Sasuke memegang perutku, rasa yang mengganggu itu jadi hilang. Aneh sekali.
Aku baru menyadari bahwa Sasuke tak membawa baju sehelai pun selain baju yang melekat dibadannya. Bahkan cd pun dia tak ada jadi terpaksa aku harus berbagi pakaian luar maupun dalam dengannya. Untunglah aku masih menyimpan baju-bajuku saat masih seusianya.
Aku bingung harus melakukan apa lagi. Sebelum jam 7 malam maka waktu yang kupunya hanya kuhabiskan dengan menonton tv atau keluar jika Gaara atau kedua temanku mengajakku. Tapi sekarang ada Sasuke, kebutuhan hidupku pasti bertambah dan aku juga harus membelikannya beberapa helai pakaian. Dia sangat tidak cocok dengan baju full colour yang kupunya. Mungkin aku harus mengajaknya jalan-jalan, aku juga sangat bosan.
"Sasu-chan mau ikut aku belanja tidak?" tanyaku saat ia tengah duduk di sofa dengan memakan tomat yang entah dari mana ia dapat.
"Namaku bukan Sasu-chan!"
'twitch'
Huh sabar Naruto.
"S-A-S-U-K-E –sama, mau ikut Naru-chan belanja atau tidak?"
Dia melihatku sebentar, lalu tersenyum yang menurutku merendahkanku itu.
"Baiklah Naru-chan"
'twitch'
Sekali lagi, sabar Naruto. Dia masih anak kecil.
Dan jadi lah aku dan Sasuke pergi belanja bersama. Lucu juga rasanya..Seperti memiliki adik.
Sasuke tidak memiliki sisi imut sedikit pun. Padahal aku sangat ingin memperlakukannya seperti adik kecil yang sangat rapuh dan memerlukan pertolongan orang dewasa sepertiku ; misalnya menyebrangi ia berjalan saat jalan sedang ramai, atau berjalan sambil berpegangan tangan.. Sayangnya Sasuke bisa melakukan semuanya sendirian, bahkan ia yang memegang tanganku saat menyebrangi jalan. Sebenarnya siapa yang tua dan yang muda sekarang?
Saat kami sudah sampai di mini market, Sasuke memaksaku memasukan 2 kilo tomat kedalam keranjang belanjaku. Aku ingin melarangnya andai saja aku lebih ahli berdebat dengannya yang belagu minta ampun itu.
Sedangkan yang kubeli hanyalah kebutuhan sehari-hari selain ramen karena aku sudah punya satu kotak ramen. Hhhee..
Saat kulewati barisan yang menjual minuman, kuambil sebungkus bubuk kopi dan susu. Rasanya seperti dejavu..
"Aku tak tahu kalau kau suka susu?" tanya Sasuke saat kumasukan dua bungkus kopi dan susu dalam keranjangku.
"Entahlah, aku hanya ingin belajar minum susu" jawabku asal.
"Lalu bagaimana dengan kopi?" tanyanya lagi
"Aku hanya ingin menyimpannya. Mungkin suatu saat aku membutuhkannya"ucapku tersenyum
"Baguslah. Ayo kita belanja lagi"perintahnya dan aku hanya mengikuti langkah kecilnya mencari barang yang harus kubeli lagi.
^x^
"Siapa anak ini Naruto? Tampan sekali dia" tanya Ino, kasir di minimarket tempatku dan Sasuke belanja saat kami hendak membayar belanjaan. Dia temanku walau tak cukup akrab.
Kuusap helai rambut Sasuke,
"Dia.." apa yang harus kubilang?
"Aku sepupunya, keluarganya. Aku tinggal bersama Naruto dan aku minta kau jangan pernah berpikiran kotor pada Naruto" ucap Sasuke. Matanya berkilatan marah. Bahkan Ino sampai tercengang.
Ada apa dengannya? Ino berpikiran kotor padaku? dia gila!
"maafkan dia Ino. Dia memang kurang memiliki sopan santun pada orang yang lebih tua. Hehe"
"Tak apa Naruto" jawab ino, tersenyum.
"cih"
"SASUKE!" bentakku.
"Mengapa kau berbicara seperti pada Ino, Sasuke? Ino berpikiran kotor padaku? Kau bercanda ya?" tanyaku saat kami baru saja keluar dari minimarket tadi. Sasuke juga membantuku membawa kantung belanjaan.
"Dia benci orang yang suka mencari perhatian sepertimu. Itu dalam pikirannya"
"Maksudmu?"
"Sudahlah. Aku tak mau membahas hal itu lagi"
Ia mempercepat langkahnya dan meninggalkanku. Aku juga mempercepat langkahku, namun tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membuatku harus berlari dengan menenteng kantung belanja yang berat dan mencari Sasuke yang menghilang entah kemana. Anak itu, aku yakin dia pasti bisa tersesat. Merepotkan sekali.
Jalanan yang licin dan hulu lalang pejalan kaki yang saling berusaha mencari tempat berteduh dan berulang kali manabrak bahuku membuatku hampir terjatuh jika saja tidak ada orang yang memeluk tubuhku dari belakang.
"Arigat.."
"Hati-hati kalau jalan Dobe! Atau kau akan mati terinjak!"
"Sasuke dari mana saja kau? Aku mencarimu dari tadi! Kau ini memang meny..."
"Aku tahu kau khawatir Naruto. Tapi aku dibelakangmu dari tadi" dan dia tersenyum.
Aku tahu dia tak suka saat aku memegang tangannya secara paksa. Aku tak ingin dia lari lagi dan membuatku harus mencarinya.
Tangan Sasuke dingin. Mungkinkah karena hujan? Dan aku bahkan tak mengerti dengan jalan pikirannya itu, apa salahnya aku memegang tanggannya? Seharusnya Sasuke tak perlu melepaskan genggaman tanganku dan membalikan keadaan menjadi dia yang menggenggam tanganku.
"Kau ini.. mengapa aku tidak boleh menggenggam tanganku ha?!"
"Aku yang akan menjagamu"
Lagi-lagi, dia anak kecil yang aneh.
Begitu sampai dirumah, setelah mengganti baju. Sasuke membantuku meletakkan barang belanjaan dilemari penyimpanan makananku. Aku sempat tertawa melihat ekspresi kesal Sasuke karena tidak akan pernah merasakan dinginnya tomat. Kasian juga melihatnya.
"Aku lapar!" kata Sasuke.
"Kau mau makan apa? Aku tak pandai memasak soalnya" jawabku
"Sudahlah. Biar aku yang memasak"
Sasuke langsung bersiap siap untuk memasak, namun melihat ia yang melompat-lompat untuk mencapai lemari yang cukup tinggi baginya membuatku tertawa.
"Butuh bantuan ?" godaku
"Tidak sama sekali"
Lalu saat ia menggeser kursi kecil dan dapat mencapai tingginya lemari, membuatku sedikit merasakan dejavu. Dan aku baru ingat, kalau aku belum ada sarapan tadi pagi dan tidak merasa lapar sedikit pun.
"Hati-hati Sasuke, atau tanganmu bisa berdarah"ucapku saat ia sedang menggenggam pisau.
"Hn"
Aku hanya melihatnya memotong tomat dengan ahlinya. Dan yang kulakukan hanya mengawasinya memasak , tentu saja aku masih sayang dengan apartemen peninggalan kakekku ini. Aku cukup menikmati suasana ini sebelum suara gedoran pintu mengusikku.
'Tok..tok'
"Sasuke, hati-hati ya. Aku mau membuka pintu sebentar"
"Hn"
Walau dengan perasaan tak ikhlas meninggalkan Sasuke sendirian didapur (karena aku takut terjadi kebakaran dan terlukanya Sasuke), kubuka juga pintu apartemenku, dan ;
"Sore,Naruto" sapa 'dia' pria yang kucium tadi malam.
"Sore juga Gaara, masuklah" ucapku tersenyum bahagia.
Saat kami sudah duduk di Sofa, Gaara terus menatapku. Jujur hal itu membuatku tak nyaman dan jantungku terus berdetak. Tolong Tuhan, semoga Gaara tidak membahas tentang ciuman itu lagi.
"Naru.."
'cup'
Tepat disudut bibirku, tempat dimana aku menciumnya tadi malam.
"Gaara, apa yang kau lakukan?"
"Bukannya, itu ciuman persahabatan? Kau yang bilang sendiri padakukan?" Ucapnya, sambil tersenyum jahil.
Kupalingkan wajahku agar luput dari mata emerald Gaara. Sungguh aku berharap Gaara tak mendengar detak jantungku.
"Naruto.. "
"hem..?"
Gaara menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya membuatku tak bisa mengalihkan wajahku. Apa Gaara akan menciumku lagi? Atau dia akan... Oh Tuhan, jantungku..
"Aku.. Aku menci.."
"KURAANG AJAAR KAAUUU!"
Sasuke! Aku lupa dengan Sasuke.
'Brak!'
'bug'
"Argh!"
Sasuke yang marah.. Dejavu sekali..
To be Continued..
Thanks buat yang udah mereview dan membaca fic saya :)
