Ada apa dengan tubuhku? Mengapa aku tak bisa meggerakkan semua anggota tubuhku? Tanganku, kakiku, semua anggota tubuhku bahkan aku tak bisa menggerakkan bola mataku. Tuhan, tolong..tolong.. aku ingin menghentikan Sasuke, mencegahnya untuk memukul Gaara, menghantam tubuh Gaara yang tlah tak sadarkan diri itu!

"Sasuke..hiks..Sasuke, tolong hentikan! Gaara bisa mati karena kau!" mohonku yang entah keberapa kalinya berharap ia mau mengasihaniku.

"GAARAA!"

Aku tak tahu.. Aku bingung.. Mengapa semua ini terjadi padaku? Pada Gaara yang tak memiliki kesalahan apapun?!

Siapa anak didepanku ini? Aku berharap dia bukan anak kecil sombong yang selalu bersikap dewasa, anak kecil yang datang ke apartemenku dengan misteriusnya dan selalu membuatku kesal, AKU BERHARAP DIA BUKAN SASUKE!

"BERHENTI MENYAKITI GAARAA! DASAR MONSTER!"

Dia bahkan tak menggubrisku, dia terus menginjak tubuh Gaara yang sudah belumuran darah dan semakin pucat itu. Air mata terus mengalir dari shapire ku. Aku tak mau Gaara mati Tuhan! Karena..

"Aku mencintaimu Gaara..gomen.." lirihku dengan air mata yang terus mengalir.

'syup'

Aku tak tahu sejak kapan Sasuke didepan ku. Ya tepat dihadapanku! memandang sinis kewajahku, menjijikkan! Sekaligus menakutiku. Aku tak bisa lari, aku tak bisa menjauhkan tangan kecilnya yang menarik kerah bajuku sehingga membuat wajahku mendekat kewajahnya yang berhiaskan bola mata berwarna merah pekat itu. Mata itu menatap tajam tepat ke bola mataku dan semakin membuat air mataku mengalir deras.

"Tolong..tolong..lepaskan aku Sasuke..Tolong..." mohonku padanya.

"Aku yang akan membuatmu bahagia! Bukan dia, atau pun makhluk lain! Camkan itu!"

"OMONG KOSONG! KAU TAK AKAN PERNAH MEMBUATKU BAHAGIA! KAU MONSTER!" bentakku tepat diwajahnya. Aku tau pasti dia semain murka padaku.

"HAHAHA..Aku monster katamu? "

"LALU KAU INI APA HA?! KAU BUKAN MANUSIA, Kau..bukan Sasuke yang ku kenal.."

"Bukannya aku ini monster dimatamu?"

"Kau sudah menyakiti Gaara, mengapa kau melakukan itu? Apa salah Gaara padamu? Apa Sasuke?! Kau.. mungkin, mungkin ini menjijikan bagimu.."

"..Tapi kau menyakiti Gaara, pria yang kucintai! Dia yang akan membautku bahagia! Bukan kau! Tidak juga orang lain.. hanya dia" Kuberanikan untuk mengakui perasaanku didepannya dan membalas tatapan menusuknya itu dengan hal yang serupa.

"Jadi begitu ya.. Kalau kau memang sangat mencintai pria itu, mengapa kau tidak menyusulnya saja Naru-chan?"

'husy'

'brak'

"Arghh, sakitt.."

Angin kencang yang entah datang dari mana membuat tubuhku malayang lalu punggungku menabrak tv ku yang sudah hancur berkeping-keping..

Aku tak mengenali makhluk didepanku ini. Pria dewasa yang berwajah tampan dengan tatapan yang amat mengerikan itu mendekatiku. Dia mengenakan jubah berwarna hitam dan memegang sebuah sabit yang berwarna senada dengan jubahnya. Dan itu membuat ku mengingat sesuatu .. sepertinya aku pernah melihatnya? Terlebih sayapnya dan aromanya. Tapi dimana, dan kapan?

Aku hanya terpaku ditempatku yang penuh dengan pecahan kaca tv. Saat dia menundukan tubuhnya didepanku seketika aku menjadi gagu.

"Kau penasaran kan, siapa sebenarnya aku ini?"

"hiks..hiks..Am..ampuni aku" aku takut dengan sabitnya yang setiap saat siap mencincang tubuhku itu.

"Aku tak bermaksud menyakiti tuanku, tapi.. kau juga harus tahu ini pertama kalinya bagiku memiliki sesuatu yang menyenangkan. Jadi aku tak mungkin melepaskannya begitu saja"

Aku tak menolak saat ia menggendongku dan meletakkanku disamping Gaara yang penuh luka cabik. Aku menangis, aku ingin menyentuhnya, membelai wajahnya. Dan anehnya aku dapat menggerakan tanganku walau terasa amat berat.

"Gaara..hiks..Gaara.." lirihku saat aku menggenggam tangannya.

Aku menyesal mengapa aku lebih mementingkan perasaaan orang lain dari pada mendengar perasaanku sendiri. Seharusnya aku menerima cinta Gaara..mengakuiku perasaanku.


Aku marah dengan diriku sendiri, mengapa aku tidak bisa marah pada orang didepanku ini? Mengapa aku tak bisa melawan saat ia memaksa lepas genggaman tanganku pada tangan dingin Gaara. Mengapa aku enggan untuk melawannya saat dia semakin mendekati tubuhku dan hampir menindih tubuhku. Saat ini aku pun hanya bisa pasrah saat ia menyingkap bajuku dan mengusap tanda seperti tatto diperutku dengan lembut.

"Sasukehh..." Nama itu keluar begitu saja dari mulutku..

Saat kurasakan lumatan lembut dibibirku oleh bibirnya, aku tak kuasa melawan atau menolaknya. Anehnya jantungku malah berdetak lebih cepat, yang kurasakan bukan rasa takut namun.. entahlah.. perasaan ini sama dengan perasaanku saat bersama Gaara.. ini cinta!

Dia tersenyum setelah mengakhiri ciumannya dibibirku, lagi-lagi mengelus perutku. Saat ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikan ;

"Aku Uchiha Sasuke, The Black Angel, berjanji akan selalu disamping Tuanku dan akan membuatnya bahagia karena mencintaiku"

Aku tertegun sesaat dan tak bisa mengucapkan apa-apa.

Perutku sakit sekali. Aku menjerit meminta bantuan Sasuke, memohon padanya. Namun setelah lama menunggu dia akhirnya mau mengelus perutku lagi dan sakitnya hilang begitu saja. Nyaman dan membuatku mengantuk.

"Oyasumi Naruto"


'bugh'

"Ah, gomen" (ucap pejalan kaki yang menabrak bahu Naruto dari arah yang berlawanan dan membuatnya terjatuh)

"Dobe, mengapa kau melamun dijalan ha?!"

Aku tersadar. Dimana aku? Mengapa aku di tempat ini ? Aku tak mengerti dengan apa yang telah terjadi padaku. Lagi-lagi aku melupakan sesuatu yang sangat penting, ya, hal yang tak seharusnya kulupakan. Kulihat orang yang berlalu lalang memakai pakaian serba hitam disekitarku. Dan Sasuke, dia membantuku berdiri. Dia memegang sebuket bunga mawar. Mawar hitam..

"Kau melamun lagi Naruto! Cepatlah sebelum hujan turun, atau kita tidak akan bisa mengunjungi makam Gaara"

"Makam Gaara? Apa Gaara sudah meninggal?" tanyaku. Mengapa aku tidak tahu apa-apa ya Tuhan? kulihat sekelilingku dan aku baru menyadari kalau aku sedang berada di kompleks pemakaman.

"Dia sudah meninggal sejak seminggu yang lalu. Cepatlah Naruto"

Seminggu yang lalu? Mengapa aku tidak tahu? Kemana saja aku? Aku tak pantas disebut teman Gaara.


Saat sampai dikuburan Gaara aku tak bisa menangis sedikit pun walau kupaksa untuk menangis dengan mengingat kenangan berhargaku dengannya tetap saja nihil! Bagaimana aku bisa menangis sedangkan tak ada satupun memori yang berkesan tentang Gaara di otakku.

Sasuke meletakkan mawar hitam yang ia bawa diatas kuburan Gaara lalu ia berdoa. Aku lalu mengikuti aksinya. Dan aku berdoa pada Tuhan semoga Gaara berada ditempat terbaik disisi-Nya.

Aku mengusap batu nisan Gaara, menempelkan keningku di sana sambil menyanyikan lagu kematian. Guntur dan kilat saling bersautan di langit yang mendung dan semakin gelap. Aku menangis.. aku menangis, mengapa aku tak bisa mengingat kenanganku bersama Gaara?

"Hiks..Gomen Gaara, aku terlambat mengunjungimu. Aku tak bersamamu disaat terakhirmu. Aku berharap kau tak membenciku karena..aku lupa semua hal yang indah yang mungkin pernah kita alami. Gomen.. bukan aku bermaksud melupakanmu, tapi.. entahlah.. aku merasa kau orang yang berharga bagiku" untuk sesaat aku larut dalam kesedihanku.

Kuusap air mataku yang mengalir. Kulihat Sasuke yang terus memandangi kuburan Gaara. Mungkinkah ia takut? Ah, kurasa lebih baik kami cepat pulang ke apartementku sebelum hujan turun atau lebih buruknya hujan badai.

"Ayo kita pulang Sasuke, kau bisa sakit nanti"

"Seharusnya aku yang bilang begitu, dobe!"

"Dasar Teme menyebalkan! Sudahlah, ayo!"

'aku pulang dulu, Gaara, jika kita berjumpa lagi aku harap kau mau bercerita tentang kita berdua'


Aku dan Sasuke kini sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir susu untukku dan kopi untuknya.

Hening sekali. Sasuke hanya menikmati kopinya tanpa mempedulikanku yang terus menatapnya. Entahlah, mengapa wajahnya itu sangat imut dan tampan secara bersamaan? Hhehe

Diluar sedang hujan badai.. huh, sesuai prekdisiku.

Waktu terasa cepat berlalu bahkan Aku lupa kapan hari terakhir aku bekerja? Bukan hanya itu saja. Bahkan banyak hal yang kulupa terlebih alasan kematian Gaara. Apa yang kulakukan selama seminggu terakhir? Aku yakin Sasuke pasti tahu.

"Sasuke, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa?"

"Apa penyebab kematian Gaara?"

"Dia kecelakaan. Mobil yang ia kendarai bertabrakan dengan truk pengangkut balok kayu. Banyak korban jiwa selain Gaara, dan berita ini menjadi trending news di seluruh Jepang" jelas Sasuke santai.

"Kemana saja aku? Apa yang kulakukan hingga, hingga aku tak tahu apa pun?"

"Kau bersama Gaara saat itu, dan kau satu-satunya yang selamat dan hanya mengalami amnesia kecil saja"

Ah ya, aku baru menyadari bahwa kepalaku masih berbalutkan perban. Tapi anehnya tak ada rasa sakit sedikitpun dikepalaku. Mungkinkah apa yang dikatakan Sasuke benar dan memang itulah yang terjadi padaku?

"Lalu, apa yang kau lakukan selama aku dirawat?"

'slurp'

Setelah meminum kopinya Sasuke pun menjawab pertanyaanku

"Tentu saja, aku yang merawat dan menemanimu. Dan aku juga sudah bekerja"

Sasuke sudah memiliki pekerjaan? Anak kecil seperti dia mana mungkin ada orang yang mau memperkerjakannya?

"Oke. Dimana kau bekerja?" aku mencoba percaya padanya.

"Di tempat kau bekerja. Restoran cepat saji. Kiba yang menawariku pekerjaan"

"Oh, begitu" gumamku.

Gaara yang meninggal, aku yang amnesia, dan Sasuke yang bekerja.. Aku bagai berada dalam mimpi.


Suara derasnya hujan membuatku malas untuk melakukan apapun, terlebih rasanya tubuhku sakit semua jadi kuputuskan untuk membaringkan tubuhku ditempat tidurku. Mengistirahatkan otakku yang tlah telalu banyak berpikir.

Kupejamkan mataku yang semakin berat dan mencoba untuk tidur.

"Pakai selimut Naruto. Atau kau akan sakit" perintah Sasuke yang kuyakin baru selesai mandi. Rambut basahnya yang lepek adalah buktinya.

Bahkan dia yang memakaikan ku selimut. Kurasa dia tahu kalau kepalaku sangat pusing.

"Arigatou Sasuke. Kau sangat membantu"

"Kau mau makan?" tanyanya

"Sebenarnya aku mau makan ramen. Hhehhe"

"Baiklah, akan kubuatkan"

"Hey, aku hanya becanda Sasuke. Aku tidak selera makan" cegahku. Melihat dia yang sangat care itu membuatku senang. Mungkin besok saja aku menyuruhnya..

"Lebih baik kau tidur saja Sasuke"

Kupat-patkan kasurku agar Sasuke tidur disebelahku. Dan dia menurutiku.

Aku suka aroma tubuh Sasuke. Ini berbeda dengan wangi sabun. Ini seperti aroma yang hanya Sasuke yang punya, aroma mint yang amat menenangkan. Namun ada yang aneh denganku. Mengapa aku harus merasa grogi dan salah tingkah saat ini? jantungku.. mengapa kau berdetak lebih cepat? Aku.. tidak! Tidak mungkin aku mencintai anak kecil? Yah itu passti! Ini hanya perasaan bahagia karena ada orang yang peduli padaku..

"Naruto.." panggilnya.

'deg'

Kubalikan badanku menghadapnya, kasur yang sempit membuat wajah kami sangat dekat.

Ini salah!

"Kau tak bisa tidur Sasuke?"

"Aku senang kau masih bersamaku. Maafkan aku"

Sasuke menangis? Kuusap airmatanya. Tak seharusnya dia menangis kan?

"Hehehe.. Tak ada yang perlu dimaafkan. Lebih baik kita cepat tidur. Besok aku berencana mengambil shift pagi" hibur ku.

"Kau tahu Naruto, aku tak pernah merasa sedih atau bahagia selama aku hidup didunia ini, selain karenamu" ucapnya sambil tersenyum manis.

'deg..deg..'

Bukannya ini lucu untuk anak-anak sepertinya mengucapkan hal memalukan barusan? Mengapa aku tak bisa menjahilinya atau tertawa seperti yang biasa kulakukan? Yang terjadi sekarang malah jantungku berdetak lebih cepat.

"Aku akan menjadi bagian dari kebahagianmu. Aku bersumpah"

"Hentikan mengucapkan hal memalukan Sasuke!"

"Aku bersungguh-sung.."

'cup'

Aku mencium tepat dibibirnya, hanya menempelkan saja selama beberapa detik. Saat kubuka mataku, kulihat wajah Sasuke yang merah padam. Pasti wajahku juga sama sepertinya?

"I..ittu ciuman selamat malam untuk penggombal sepertimu. Oyasumi!"

Kubalikkan badanku berlawanan dengan Sasuke. Setelah itu kututupi seluruh tubuhku dengan selimut agar tak bisa melihat Sasuke.

Mengapa aku bertingkah seperti seorang gadis sih?!

"Arigatou Naruto"

Dan bagaimana aku bisa tidur, jika Sasuke memelukku erat seperti ini?

Salahkah aku yang merebut ciuman pertama seorang anak-anak seperti Sasuke lalu blushing ? pasti dia akan menganggapku pedophil!

Kusentuh bibirku, dan itu membuatku harus berpikir keras lagi. Apa ini ciuman pertamaku?


To be Continued..

Arigatou minna, buat yang udah membaca dan ngereview ffn saya ^^V

Dan gomen, author gak pernah balas review minna-san semua karena koneksi modem saya tuh lola binggo.. makanya author lebih sering update ffn pada waktu dini hari. Tapi auth selalu membaca review kalian semua, dan itu memotivasi sy supaya update kilat.. THx