Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 7

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : Vampire Theme!, Shounen Ai, Maybe OOC
Pair : Akakuro

A/N : Minna-sama, Konnichiwa.. xD chapie ini bakal berbeda dari chapie-chapie sebelumnya, soalnya di chapie ini author membawakan tema vampire dalam salah satu drabble di cerita ini X3 dan ceritanya agak sedikit panjang dari biasanya karena author maksa mau selesai di 1 chapie aja #plak Semoga kalian menikmati alur ceritanya ya, mohon maaf bila ada typo dan kesalahan lainnya.. :3

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Sinar rembulan terpantul dari tenangnya langit pada malam hari, udara dingin berhembus dengan kencang, membuat orang-orang lebih memilih untuk menetap dirumah bersama dengan selimut yang hangat dibandingkan pergi keluar

Seorang pemuda berambut merah menggunakan syal hitam dan pakaian, celana dan sepatu serba hitam sedang berjalan seorang diri di perepatan jalan di malam hari. Dari arah kejauhan, ia dapat melihat sesosok gerombolan orang yang tampaknya sedang mengerubuni seseorang. Pemuda berambut merah itupun tersenyum kecil lalu menghampiri gerombolan tersebut

"Tolong pergilah dari tempat ini, bila kalian hanya datang untung menyakiti anjing yang malang ini, lebih baik kalian pergi saja dari sini" Seorang pemuda berambut Aqua terlihat sedang memeluk seekor anjing yang tampaknya terluka, ia memandang kearah 4 pemuda yang kini sedang mengerubuninya

"Minggir kau, anjing itu sudah lewat didepan sepatuku dan seenaknya ia membawa lumpur, lihat! Sepatuku yang mahal ini jadi kotor!" Pemuda pertama tampak sangat kesal dengan kelakuan sang anjing, dan tampaknya ia yang melukai anjing yang malang itu

"Tapi dia kan hanya seekor anjing yang tidak mengerti apa-apa, sangat tidak manusiawi kalian melukai anjing yang lemah ini" kata pemuda berambut Aqua itu sambil tetap memeluk anjing malang itu "Bahkan untuk melakukan perlawananpun ia tidak bisa"

"Kalau kau tidak mau berurusan dengan kami, lepaskan anjing itu, bocah kecil!"

"Tidak!" katanya dengan keras kepala

"Mau tidak mau, hajar dia!"

Beberapa orang mulai maju untuk memukul pemuda berambut Aqua tersebut, namun ia dapat menghindarinya, meskipun ia tidak memberi perlawanan dan tetap membawa anjing kecil itu di pelukannya

"Hey, Ojii-san tachi" terdengar suara dari arah belakang mereka, seorang pemuda berambut merah dengan mata heterochrome merah-keemasan memandang mereka dari kejauhan, pemuda berambut merah itu duduk di atas tembok yang agak tinggi, dengan bulan yang tampaknya berada disampingnya bila dilihat dari bawah "Sebagai manusia yang intelektual, bukankah sangat pathetic menyerang 1 orang seperti itu?"

"Mau apa kau!? Apa kau temannya juga?" Bentak pemuda ke-2

"Hmnn.." Mata pemuda berambut merah menatap ke-4nya dengan pandangan yang tajam, senyuman kecil yang agak menakutkan terpancar dari raut wajah pemuda tersebut, yang entah mengapa membuat aura pemuda tersebut tampak menyeramkan

"Mau bermain denganku, Ojii-san tachi?" tanyanya sambil tertawa kecil, tawa yang membuat orang manapun yang berada disana akan merasakan suatu perasaan yang aneh, seakan nyawa mereka terancam

"L..lebih baik kita pergi.." bisik pemuda ke-3 kepada yang lainnya

"Halah! 1 orang gitu tidak ada bedanya kan, kita masih 4an ini" Pemuda ke-4 kini ikut berbicara

"Tapi..mata belang tersebut..aku khawatir mungkin dia adalah orang yang menjadi desas-desus itu, kak! Katanya ia hanya keluar pada tengah malam dan mencari mangsanya, dan bila kita sudah diincarnya, kita bisa mati kak!" bisik pemuda ke-3

"Ho..jadi kalian cukup informatif juga ternyata? Atau hanya tukang gosip belaka? Tapi apapun itu, aku akan dengan senang hati merobek kulit kalian dengan perlahan, membiarkan darah segar membasahi badanku dan akan kucabut jantung kalian, kubiarkan kalian melihat bagaimana rasanya ketika jantung kalian perlahan kucabut dan—" belum sempat pemuda berambut merah itu selesai bicara, ke-4 pemuda itu langsung melarikan diri tanpa berkata apa-apa

"Menyedihkan sekali.." kata pemuda itu sambil menutup matanya, perlahan turun dari tembok yang sedaritadi ia duduki

Pemuda berambut Aqua itu hanya terdiam menatap pemuda berambut merah yang kini melihat kearahnya

"Kenapa?" tanya pemuda berambut merah "Kau takut juga?"

Pemuda berambut Aqua itu menggelengkan kepalanya, sebelum ia menundukkan kepalanya "Tidak, Terimakasih sudah menolongku. Bila anda tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan anjing yang malang ini" katanya sambil melihat anjing kecil yang tampaknya masih kesakitan

Pemuda berambut merah itu mendekat, lalu memperhatikan anjing kecil itu "Tangannya terluka, mungkin karena pisau yang dibawa salah satu orang tadi. Rumahku dengan dengan daerah sini, biar kuobati dia"

Pemuda berambut Aqua tersebut mengangkat kepalanya, memandang wajah pemuda berambut merah tersebut pertama kalinya dengan jelas. Sinar rembulan menyinari wajahnya saat ini, terlihat sepasang mata tajam berwarna merah-keemasan dengan model rambut yang nyaris mirip dengannya kini memandang kearahnya

"Kenapa diam? Jangan bilang kau percaya juga dengan perkataanku tadi?"

"Ah..tidak.. maaf bila aku tidak sopan, tetapi sosok anda saat ini terlihat sangat menarik perhatianku.." katanya sambil tetap menatap pemuda berambut merah tersebut

"Baiklah, kau boleh mengagumiku, tetapi jangan sampai anjing kecil ini mati karena kehabisan darah" katanya tertawa kecil

"Ah..maaf.." Katanya menunduk karena merasa agak malu

Tak lama pemuda berambut merah tersebut meminta pemuda berambut Aqua untuk mengikutinya, sesampainya pemuda tersebut di rumah, muncul beberapa pelayan baik pelayan wanita dan pria dengan pakaian khas gothic, tentunya dengan warna hitam. Pemuda berambut Aqua itu terdiam memandang rumah yang baru saja dimasukinya, seakan memasuki sebuah mansion yang sangat megah dengan banyak barang-barang antik disekitarnya

"Lukanya tidak terlalu dalam, kurasa setelah beberapa hari ia bisa sembuh" kata pemuda berambut merah setelah melilitkan perban di tangan anjing kecil tersebut

"Milikmu?" tanyanya pada pemuda berambut Aqua

"Bukan. Aku hanya menemukannya sedang dikeroyok oleh 4 orang tadi"

Pemuda berambut merah itu terdiam dan melihat wajah pemuda berambut Aqua dengan muka yang nyaris tidak percaya. Ternyata masih ada orang yang mau merelakan nyawanya untuk seekor anjing "Baiklah.. jadi kalian baru pertama kali bertemu? Tapi kurasa kalian memiliki satu persamaan" katanya sambil melihat mata pemuda berambut Aqua dan anjing kecil itu, namun pemuda berambut merah tersebut tidak berkata lebih lanjut

"Sekali lagi, terimakasih..umn.." Pemuda berambut Aqua itu terdiam sesaat dan memandang kembali kearah pemuda didepannya

Menyadari apa yang ada dipikiran pemuda berambut Aqua tersebut, ia tersenyum kecil "Akashi Seijuurou" katanya sambil mengulurkan tangannya

"Kuroko Tetsuya" Jabat pemuda berambut Aqua tersebut

-xXx-

Beberapa bulan berlalu setelah pertemuan mereka, dan entah mengapa hubugan antara Akashi maupun Kuroko perlahan menjadi sangat dekat. Kuroko mulai memperhatikan beberapa keanehan yang terjadi setiap saat ia berada di dalam rumah Akashi. Kadang ia selalu bertanya-tanya, Mengapa Akashi hanya keluar pada malam hari, Mengapa rumah dan ruangan sekitarnya pada siang hari selalu tertutup, dan Mengapa Akashi kadang menjauh darinya dan menyuruhnya agar cepat-cepat pulang.

Hari itu, Kuroko datang ke rumah Akashi. Kuroko hanya hidup sendiri di apartement-nya yang kecil, kedua orangtuanya telah meninggal sehingga ia hanya bergantung pada pekerjaannya untuk membiayai kehidupannya saat ini. Namun, suatu hal yang aneh terjadi, ketika Kuroko memasuki kamar Akashi, Akashi tampak lain dari biasanya

"Tetsuya..?" tanyanya sambil memengang dadanya, seakan kesakitan oleh suatu hal

"Akashi-kun?! Ada apa? Apa kau sakit?" Kuroko langsung berlari kearahnya

"Tidak! Jangan kemari!" bentaknya dari jauh

Kuroko terhenti sesaat, membiarkan Akashi melanjutkan pembicaraannya "Jangan kemari, Tetsuya.. Kumohon pergilah dari sini, aku tidak ingin sampai lepas kontrol"

Kuroko terdiam, lalu tersenyum kecil dan mendekati Akashi "Aku tahu.." katanya sambil memandang Akashi "Aku tahu apa yang kau rahasiakan, Akashi-kun.." kata Kuroko langsung memeluk Akashi "Kau rela menahan sakit ini demi diriku, kau tidak meminum darah manapun semenjak bertemu denganku kan? Sekarang, minumlah darahku, Akashi-kun.."

"Kenapa..? Bagaimana kau tahu.."

"Aku tidak sengaja mendengar pembicarakaan salah satu pelayanmu, Akashi-kun.. katanya kau tidak meminum darah apapun semenjak bertemu denganku, dan.. mendengar pernyataan itu telah membuka mataku, memecahkan semua teka-teki yang berada di benakku. Awalnya aku tidak mempercayai akan imajinasiku, namun hal itu malah menjadi kenyataan.. bahwa kau adalah seorang vampire.."

Akashi tersenyum simpul "Kurasa tak ada yang bisa menyembunyikan apapun darimu ya, Tetsuya?"

"Sekarang, minumlah darahku, Akashi-kun." Kuroko lalu membuka beberapa kancing kemejanya, mengekspos bagian lehernya kepada Akashi

"Kau yakin, Tetsuya? Kau tahu apa konsekuensinya bila kau tetap memilih untuk memberi darahmu padaku?"

"Antara meninggal atau menjadi vampire sepertimu? Tentu saja aku akan lebih memilih untuk hidup bersama denganmu, Akashi-kun. Kumohon, jadikanlah aku vampire, sama sepertimu"

Akashi tersenyum kecil sebelum ia mencium leher Kuroko, dan tak lama, sebuah taring menusuk leher Tetsuya, meminum darah pemuda berambut Aqua tersebut. Tak lama, pandangan Kuroko mulai kabur, ia hanya melihat wajah Akashi sedang mengelap mulutnya dengan punggung tangannya, dan ia tersenyum pada Kuroko, lalu..hitam

-xXx-

"..ya..Tetsuya" Suara lembut seseorang membangunkan Kuroko dari tidurnya yang lelap

"Hmnnn..." Kuroko membuka matanya pelan, melihat Akashi yang kini berada di sebelahnya

"Kenapa? Bermimpi sesuatu?" tanya Akashi sambil mencium dahi Kuroko

"Ah..aku bermimpi saat kita bertemu pertama kali dan saat kau merubahku menjadi vampire, Seijuurou-kun" jawab Kuroko sambil balas mencium pipi Akashi

Akashi tertawa kecil "Ah..saat itu ya.. kurasa sudah berapa tahun semenjak kejadian itu?"

"Sudah cukup lama, hampir 15 tahun mungkin?" Kuroko lalu mendekatkan diri ke arah Akashi, yang tak lama Kuroko merasakan dekapan Akashi yang memintanya merapat lebih dekat kearahnya

"Asalkan kau berada di sampingku, biar berapa puluh tahun lamanya pun, aku akan tetap merasa bahagia, Tetsuya.." kata Akashi sambil memegang pipi Kuroko lalu menciumnya dengan lembut

"Semenjak kematian orangtuaku, beberapa tahun aku hidup dengan penuh kehampaan, tidak ada seorangpun yang memperhatikan kehadiranku. Namun, semenjak aku mengenalmu pada hari itu, tidak peduli seberapa lamanya aku hidup, asalakan masih ada kau yang menganggapku berharga di dunia ini.. Alasan satu-satunya hingga aku masih berada di dunia ini hingga sekarang. Aku akan tetap hidup disampingmu, Seijuurou-kun.."

~ Owari ~