Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


3. Mimpi Siang Hari

.

.

Sakura tak pernah menyukai pesta.

Yah, bagus kalau pesta itu adalah pesta untuk anak-anak; yang harus ia hadiri adalah pesta untuk orang dewasa.

Ruangan besar itu begitu gemerlapan dengan cahaya lampu dan lilin. Seluruh ruangan itu bercahaya karena kain-kain emas dan perak yang menutupi dinding-dinding. Ruangan itu dihiasi bunga sesuai musim di setiap sudut, bahkan di sekeliling pilar yang ada di ruangan itu dikelilingi oleh tanaman bersulur. Sulur-sulurnya melingkar indah di setiap pilar putih itu. Hampir seribu orang ada di sana, menghadiri pesta besar yang diadakan kaisar malam itu. Yang diundang adalah para pejabat tinggi, menteri-menteri, petinggi militer, dan juga duta-duta dari negara lain. Mereka berkumpul, menjadi banyak kelompok kecil, saling mengobrol—kalau tak bisa dibilang membicarakan orang lain. Tangan-tangan mereka terangkat untuk bersulang. Berkali-kali mereka mengangkat piala minum yang mereka pegang, bersulang untuk kaisar. Para pelayan hilir mudik membawakan nampan-nampan berisi makanan dan minuman yang sepertinya tidak akan habis-habis.

Dan di salah satu sisi ruangan itu, terdapat singgasana besar berbalut beludru biru tua dan berlapis emas, di mana ia, kaisar, dan permaisuri duduk di sana. Kedua orangtuanya sepertinya hampir-hampir melupakan kehadirannya, karena sedari tadi mereka terus bicara dan berjabat tangan dengan para tamu. Namun, saat ia mau pergi keluar, ia dihalangi. Ia harus terus duduk di sana.

"Sakura-chan, sabarlah dulu sebentar, ya? Acara ini akan segera selesai, kok." Bisik ibunya di antara kesibukannya.

Sakura hanya mengangguk. Anggukan pasrah.

Hari itu ia memakai kimono yang sangat indah. Kimono itu dibuatkan khusus untuknya oleh penjahit istana, dan baru jadi sekitar tiga hari yang lalu. Kainnya pun didapatkan dari seorang saudagar Tiongkok yang datang berkunjung, sebagai hadiah khusus untuknya. Tenunannya begitu rapi dan bersulam benang perak di setiap incinya. Namun ia tak menyukainya. Menurutnya kimono itu terlalu berat. Usianya baru sepuluh tahun, tahu! Sepuluh tahun! Ia hanya dapat tersenyum—senyum palsu. Tak ada yang mau mengerti bahwa tubuhnya capek, ia ingin istirahat.

Di mana anak itu?

Matanya mencari-cari ke sekeliling ruangan besar itu. tak ada. Sekilas ia melihat warna hitam yang sama dengan warna rambutnya—namun, bukan. Sakura menarik napas panjang. Sudah setahun sejak ayahnya membawa anak itu ke istana, dan entah bagaimana keberadaannya begitu menarik perhatian Sakura. Sayang sekali istana ini begitu luas—bahkan gadis itu sampai saat ini belum bisa menghapal ruangan-ruangan istana. Dayangnya, Ino, pernah bilang bahwa anak lelaki itu juga tinggal di istana bersama paman menteri; namun tak pernah sekalipun ia menemukan tempat tinggal anak itu.

Tak ada yang istimewa dari anak lelaki itu, selain matanya yang hitam legam, sehitam warna rambutnya. Namun, sekali waktu, Sakura pernah mendapati mata anak itu berubah menjadi semerah darah, semerah darah yang waktu itu membalut tubuhnya.

Sakura menatap ke arah jendela. Bulan begitu indah malam ini. Bulan purnama. Cahayanya memantul di atas air kolam di depan istana, membuat kolam itu berpendar indah. Ia menatap kolam, merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Malam begitu indah dan ia hanya dapat terkurung di dalam pesta sialan ini. Bagus sekali.

Ia melihat keadaan sekeliling kolam. Ada semak-semak perdu di sekelilingnya, bergoyang sedikit ke kanan dan ke kiri, tertiup angin malam. Beberapa kunang-kunang terbang mengelilingi tanaman-tanaman, membuat tanaman itu tampak memiliki buah yang bercahaya. Dan di sebelah kolam itu, seorang anak lelaki memandangnya lurus dengan matanya yang bercahaya kehitaman. Di tangannya bertengger seekor burung.

Tunggu.

Sakura berlari begitu cepat. Ia nyaris tersandung. Ia berputar lewat pintu belakang, menabrak seorang penjaga. Ia berharap tak akan ada yang mengejarnya. Sedikit lagi. Ia sampai di kolam itu. mereka saling berseberangan.

"Uchiha."

Anak itu diam. Hanya menatapnya.

"A-apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Sakura hati-hati. "Kau tak bersama paman menteri?"

Sasuke menggeleng. "Aku tak suka banyak orang."

Sakura tersenyum lebar mendengarnya. Ia melintasi jembatan di atas kolam itu. kini mereka berada di sisi yang sama. "Aku juga," kata Sakura. "Jadi aku memutuskan untuk kabur. Dan untunglah aku melihatmu di sini!"

"Kenapa?" tanya Sasuke. Sakura tak dapat menjawab.

"Eh... aku—bukan, maksudku...Oh.. bulan tampak indah hari ini, ya?" kata Sakura, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ya," jawab Sasuke. "Aku juga melihat bulan dari dalam—hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar."

"Bulan yang terlihat dari sini besar sekali, ya... cantik sekali." komentar Sakura. Ia melihat ke arah burung yang masih bertengger di tangan Sasuke. "Oh, burung apa itu?"

Anak lelaki itu tampak sedikit bersemangat.

"Ini burung gagak." Ia memperlihatkan burung hitam itu pada Sakura. "Para ninja menggunakannya untuk saling berkirim pesan di malam hari. Suatu hari, aku juga akan melakukannya," kata Sasuke.

"Oh, ya? Apa kau ingin menjadi ninja juga?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk cepat.

"Tentu saja. Aku ingin menjadi seperti orang tuaku dan kakakku." Kata Sasuke. Mendadak suaranya mengecil. "Mereka ninja yang hebat. Sayang sekali akau hanya bisa bertemu dengan kakak enam bulan sekali."

Mereka berdua terdiam.

"Kau ini puteri kaisar itu, kan?" tanya Sasuke cepat. "Kenapa kau tak masuk ke dalam?"

"A... aku... ya, sudah kubilang... aku merasa tak nyaman. Aku malas bersama orang tuaku," jawab Sakura. "Mereka hanya membicarakan hal yang tak aku mengerti."

Tiba-tiba anak lelaki itu berbalik. "Itu memang sudah tugasmu, kan?" katanya agak ketus. "Tugasmu sebagai seorang puteri, adalah mempersiapkan diri. Suatu saat kau akan menjadi penerus mereka."

"Tapi aku tak begitu menyukainya. Aku tak ingin menjadi penerus mereka! Semua hal ini terasa menyebalkan!" bela Sakura. Anak lelaki itu menatapnya dengan pandangan sinis.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" sambar anak itu cepat. "Pergi? Apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya mengeluh, kabur tanpa berusaha mengerti. Dan satu hal lagi," kata Sasuke, langkahnya mulai menjauh. "Seharusnya kau bersyukur masih memiliki orang tua."

Sakura baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Mendadak lidahnya kelu.

"Maaf. Aku... aku..."

"Sudah cukup." Kata Sasuke cepat. "Kau memang puteri yang manja seperti yang dibicarakan banyak orang."

Mata Sakura mengejap terbuka. Sinar matahari menyilaukan matanya. Sudah sore. Rupanya ia tertidur begitu lama. Ia bangkit dari sofa yang tadi ditidurinya, lalu mengambil air minum di sudut kamar.

Rasanya ia seperti memimpikan masa lalu. Ya, masa lalu saat ia bertemu dengan Sasuke. Saat itu, ia begitu menyesal. Dan sejak itu pula anak itu sama sekali tak bicara lagi padanya. Mereka hanya saling membuang muka. Sakura menarik napas. Padahal, baru sekali waktu itu pula mereka bisa saling bicara. Memang, Sakura tahu ia diasuh oleh siapa. Sakura tahu bahwa anak itu memiliki seorang kakak laki-laki yang diasuh di negara berbeda pasca pembantaian itu. Namun hanya itu yang ia tahu.

Ya, bagus. Dan kau menghancurkannya, Sakura.

Namun, ia juga merasa bersyukur telah bertemu dengan Sasuke saat itu. Ia belajar bisa menerima takdirnya—sebagai seorang puteri. Ia mau mendampingi orang tuanya. Ia bisa lebih sabar, tidak manja dan rewel. Ia mau mempelajari urusan-urusan kenegaraan, sesuatu yang dulu sama sekali tak ingin ia pelajari. Di samping itu, ia juga menemukan kesenangan baru: mengamati langit. Ia menjadi begitu menyukai antariksa. Ia menyukai saat-saat bulan berubah purnama dan rasi bintang yang berubah setiap musimnya. Ia belajar mensyukuri keadaannya.

Dan satu lagi, ia belajar menyayangi orang tuanya.

Entah itu harus disebut momen paling tidak menyenangkan atau momen yang patut ia syukuri. Tapi yang jelas, ia tak pernah bicara lagi dengan Sasuke secara lebih pribadi. Bertahun-tahun setelah itu, saat usianya genap lima belas tahun, ia bertemu dengan Sasuke lagi. Namun sosoknya sudah begitu berubah. Anak kecil yang dulu memandangnya dengan tatapan kosong, kini berdiri dengan gagah sebagai salah satu prajurit.

Empat tahun setelah itu, ia diangkat menjadi seorang pemimpin pasukan. Intensitas pertemuan mereka sedikit meningkat, setiap pertemuan rutin militer dengan Kaisar. Tapi, sifatnya tak berubah: tetap dingin.

Tok, Tok, Tok.

Terdengar suara pintu diketuk. Sakura bergegas membenahi rambutnya yang berantakan. "Ya, silakan masuk!"

Pintu bergeser terbuka. Hinata masuk dan membungkuk. "Sakura-hime, ada tamu untuk anda."

"Siapa?" tanya Sakura.

Ino masuk sambil menarik seorang gadis, rambutnya kecokelatan dan berpakaian merah jambu, tersenyum saat melihat Sakura. "Aku datang, Sakura-chan!"

Wajah Sakura berubah-ubah antara kaget dan senang.

"TENTEN!"


to be continued


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon