Kuroko no Basuke Fanfiction
Drabble - 8
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Warning : Failed!Angst, Shounen Ai, Maybe OOC
Pair : Akakuro
A/N : Minna-sama, chapie kali ini ren mau coba buat cerita yang agak angst, tapi sepertinya tidak berhasil.. DX kemarin malam kebayang sih kaya gimana ceritanya, tapi waktu ditulis jadi cerita malah diluar sama yang dibayangin kemaren A Semoga kalian bisa menikmati ceritanya ya :) Maaf bila ada kesalahan typo dan yang lainnya m(_ _)m
Happy Reading, all..
With Love,
Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz
Putih.. Dinding berwarna putih yang mengelilingi ruangan sekitarku. Aku melihat sosok pemuda berambut merah menatapku bahagia ketika aku terbangun. Aku mencoba untuk duduk, dan ia membantuku.
"Tetsuya! Syukurlah kau baik-baik saja!" ucapnya langsung memelukku dengan erat
Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi pada diriku. Mengapa aku berada di rumah sakit? Tanggal berapa sekarang? Dimana orangtuaku?
"Tetsuya? Kenapa kau diam saja? Apa kau masih pusing?" tanyanya sambil melepas pelukannya, kini memandang kearahku
Namun, hal yang selanjutnya kukatakan padanya, telah membuatnya menunjukkan raut wajah yang sangat tidak ingin kulihat, pantulan raut wajah yang menunjukkan kesedihan
"Kau..siapa?"
-xXx-
Pagi itu, Kuroko pergi ke tempat kuliahnya, ia menyambar roti isi yang berada di meja makan dengan sekotak susu vanilla yang berada di meja "Okaa-san! Aku pergi dulu!" katanya langsung berlari kedepan
"Tetsuya? Kau tidak sarapan dulu?!" teriak ibunya dari arah dapur, yang terhalang oleh tembok menuju ruang tengah
"Aku telat, Okaa-san! Aku makan roti isi ini saja dijalan, Ittekimasu!" katanya sambil cepat-cepat memakai sepatu
"Itterasai!" Teriak ibunya dari arah dapur
Ketika Tetssuya telah pergi, ibunya tersenyum kecil "sudah 2 tahun berlalu dan ingatan Tetsuya masih belum kembali.. Sei-kun, semoga kau masih menunggu ingatan Tetsuya kembali.."
-xXx—
"Tetsuya" suara yang amat dikenal Kuroko memanggilnya, ia menengok ke belakang dan melihat pemuda berambut kemerahan dengan mata heterochrome memandangnya
"Ah, Pagi, Akashi-kun" Kuroko memandang kearah Akashi, namun setiap kali Kuroko memanggil Akashi dengan sebutan 'Akashi-kun', seakan terbesit kilatan mata yang menunjukkan rasa sakit meskipun hanya sesaat dari pemilik mata Heterochrome tersebut
"Kau telat bangun hari ini? Tidak biasanya? Kau sudah sarapan, kan?" tanyanya sambil tersenyum kecil
"Sudah sarapan kok, Terimakasih sudah mengkhawatirkanku" kata Kuroko sambil membuka loker bukunya, mencari buku yang ia cari tanpa memandang wajah Akashi
"Siang nanti kau selesai kelas kan? Bagaimana bila kita ke taman yang berada di tengah kota? Dulu kau bilang kau suka bunga-bunga Lily yang bermekaran disana"
"Ah..maaf siang ini aku sudah ada janji, Akashi-kun" kata Kuroko sambil menunduk dan tak lama berjalan pergi "Kau juga lebih baik masuk kelas saat ini atau kau akan telat, Akashi-kun"
Setelah kepergian Kuroko, Akashi menghela nafas kecil. Ia tersenyum simpul memandang loker Kuroko sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan ke kelasnya.
-xXx-
"Akashi-san, apakah kau mau ikut bergabbung dengan kami pergi ke tempat karaoke siang ini?" tanya seorang perempuan yang menghampiri Akashi, dibelakangnya terlihat beberapa orang yang tampaknya sedang menunggu
"Maaf, hari ini aku sibuk" jawab Akashi berbohong "Mungkin lain kali?"
"Baiklah, tapi kapan-kapan ikut bersama kami ya"
Pada saat Akashi hendak keluar kelas. Akashi terkejut menemukan sosok Kuroko yang sedang berjalan bersama seorang wanita, dan Kuroko memeluk bahunya sambil tampak berbicara dengan sangat bahagia
'Jadi..itu alasannya.. Mengapa Tetsuya dingin padaku akhir-akhir ini.. Kurasa apapun yang telah kulakukan saat ini, semua menjadi sia-sia' Akashi tersenyum pahit, ia memutar arah kemudian pergi menjauhi tempat kuliahnya
Beberapa hari kemudian, Kuroko tetap berlaku dingin kepada Akashi, namun Akashi mencoba untuk mengajaknya bicara, mengajaknya ke tempat yang mungkin bisa mengembalikan ingatannya, namun hal itu nihil, Kuroko tetap tidak mempedulikan kehadiran Akashi. Hingga suatu malam, Ibu Kuroko meminta Akashi untuk datang ke rumahnya, dan Akashi datang tepat waktu. Ia duduk di sofa ruang tengah, dimana Kuroko berada di depannya pada saat ini.
"Sekarang, jelaskan, Tetsuya. Kau pacaran dengan gadis tempo hari itu, kan?" tanya Ibunya sambil meminta penjelasan dari Kuroko
Akashi terkejut mendapati dirinya diikutsertakan dalam topik ini, memang Ibu Akashi tidak memberitahu ingin membicarakan hal apa, tetapi topik ini sangatlah tidak ia duga.
"Aku memang berpacaran dengannya, Okaa-san, memangnya kenapa?"
Akashi makin terdiam, kepalanya tertunduk
"Kenapa kau tidak memneritahu Okaa-san atau Sei-kun?" Tanya ibunya dengan intonasi yang agak tinggi
"Sudahlah, Okaa-san, aku sudah cukup umur untuk menentukan pasanganku, tidak perlu meminta Okaa-san untuk ikut campur dalam hubungan percintaanku. Dan juga, mengapa aku harus memberitahu Akashi-kun? Kenapa Okaa-san selalu bilang padaku Sei-kun, Sei-kun dan Sei-kun, dia kan orang luar dan tidak ada hubungan apa-apa denganku!" Kata Tetsuya sembari menekankan kata 'orang luar' dalam lafal perkataannya
Ibu Tetsuya terkejut, ia menutup mulutnya sambil melihat ke arah Akashi "Astaga! Tetsuya! Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi anak seperti ini! Kenapa kau sangat berubah semenjak saat itu! Dan, jangan bertingkah seperti itu didepan Sei-kun, dia sudah menjadi p—"
"Kuroko-san.." potong Akashi sambil memandang kearahnya "Sudahlah, Tetsuya berhak memilih, dan aku tidak keberatan bila itu memang keputusan Tetsuya. Sepertinya, lebih baik bila aku pergi saja dari sini, Selamat malam, Kuroko-san, Tetsuya" Kata Akashi menunduk lalu segera pergi dari rumah mereka.
Rintikan hujan mulai turun saat Akashi mulai berjalan, dan perlahan hujan itu semakin membesar. Akashi memperlambat jalannya, kepalanya terdunduk.
'Bila kau lebih bahagia bersama orang lain selain diriku, bila senyummu selalu terhias diwajahmu bila bersamanya, aku akan merelakanmu, Tetsuya. 2 tahun..2 tahun lamanya aku mencoba mengembalikan ingatanmu, 2 tahun lamanya aku membiarkan rasa sakit ini terus terlintas ketika kau memanggil namaku dengan sebutan 'Akashi-kun' dan bukan 'Seijuurou-kun'. 2 tahun lamanya aku melihat kau mencoba menjauhi diriku. 2 tahun lamanya..' Akashi tersenyum simpul, ia menutup matanya lalu melihat kearah langit "Apakah kau ikut menangis melihatku seperti ini?" Akashi menutup matanya secara perlahan, lalu membiarkan air mata yang sedari tadi tertahan, dipalsukan oleh derasnya air hujan disekitarnya
-xXx-
Hari pertunangan dimana Kuroko dan Gadis pilihannya itu berlangsung, banyak orang yang berada disana. Kuroko telah menggunakan baju terbaiknya, ia ingin menjadikan hari ini hari yang terbaik baginya. Namun ketika Kuroko hendak memberi cincin pertunangan, tiba-tiba terbesit di ingatannya. Kuroko memegang dadanya dan jatuh hingga ia bertumpu pada sebelah lututnya
"Seijuurou-kun, bunga ini akan menjadi saksi kita bahwa kita akan terus bersama, selamanya!"
"Tetsuya, mungkin aku tidak bisa seutuhnya membahagiakanmu, tapi bila suatu saat kau memilih orang lain, aku.."
"Tidak! Tidak akan, Seijuurou-kun! Aku tidak akan memilih orang lain selainmu. Sudah dari kecil kau menjadi sahabatku, kau sudah mengenalku lebih jauh bahkan dibanding diriku sendiri, bila kau tidak ada..aku.."
Akashi lalu mengelus kepala Kuroko "Bila kau memintaku untuk berada disampingmu, sampai kapanpun aku akan berada disampingmu, Tetsuya. Tetapi bila kau menginginkan aku pergi, aku pasti akan pergi"
"Kenapa..ucapanmu terdengar sangat sedih di telingaku, Seijuurou-kun.."
Akashi tersenyum kecil "Tapi sekarang aku berada disisimu, Tetsuya. Ayo, kita pulang ke apartement kita"
Kuroko terdiam, ia melihat kearah sekitar, dan tidak mempedulikan siapapun saat ini, ia mencari sosok pemuda berambut merah, namun ia tidak menemukannya dalam ruangan pertunangan itu. Kuroko langsung keluar dan berlari dari tempat itu, meninggalkan orang-orang yang meneriakkan namanya dari dalam untuk kembali, namun ia tidak mempedulikannya
Ia berlari menuju apartement milik mereka berdua, tidak mempedulikan lift yang masih lama untuk turun, ia berlari lewat tangga menuju lantai 6. Dan ketika ia melihat papan nama di tempat yang seharusnya apartement milik mereka, papan nama tersebut sudah kosong. Ia mencoba untuk masuk tetapi nihil, ruangan tersebut telah kosong.
Kuroko hendak berlari lagi menuju rumah Akashi, namun melihat staminanya yang sudah kelelahan, akhirnya ia memanggil taksi yang melintas di dekat sana. Setibanya ia didepan rumah Akashi, Kuroko lalu mengetuk pintu depannya. Seorang pelayan keluar dari dalam
"Malam, Kuroko-sama, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan
"Homura-san, apakah Seijuurou-kun ada?"
Pelayan tersebut sedikit kaget "Saya kira Tuan muda telah memberitahukannya kepada anda?"
"Ada apa?" tanya Kuroko sambil memandang wajah pelayan yang tampaknya sudah sangat dikenalnya
"Minggu lalu, Tuan Muda pergi dari Jepang, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di L.A. Tuan Muda tidak memberitahu kapan ia akan pulang, Kuroko-sama. Ah, tapi kurasa ia meninggalkan sesuatu untuk Kuroko-sama, biar saya ambilkan"
Lalu sepuncuk surat diberikan oleh pelayan tersebut. Kuroko berterimakasih pada kepala pelayan di keluarga Akashi lalu pamit.
Di tengah taman yang tak jauh dari sana, Kuroko kemudian membuka surat tersebut
Tetsuya,,
Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat atas pertunanganmu, aku mendengarnya dari Kuroko-san. Mungkin saat kau menemukan surat yang kutitipkan pada Homura-san, aku sudah tidak berada di Jepang lagi. Aku akan melanjutkan studiku di L.A sana.
Tetsuya, meskipun kau mungkin tidak mengenalku sebagai aku yang dulu, tetapi aku tetap menyayangimu hingga saat ini. Mungkin kau merasa tidak nyaman akan kehadiranku yang selalu mengusik waktumu. Tapi aku sangat berharap bahwa ingatanmu akan kembali, Tetsuya. Aku sangat merindukan dirimu yang dulu. Tetapi kurasa saat ini sudah terlambat?
Kuharap suatu saat nanti, kita bisa bertemu lagi..
Dear my beloved,
Do you still remember our promise?
I'll always love you, Tetsuya
-Seijuurou
Kuroko terdiam sejenak, air mata mengalir membasahi kertas yang sedari tadi ia pegang. Hati Kuroko sangat sakit, ia menyesal mengapa ia tidak membiarkan Akashi masuk dalam kehidupannya, mengapa ia menolak setiap ajakan Akashi, mengapa ia selalu bersikap dingin kepada Akashi. Padahal, selama ini, orang yang seharusnya telah menjadi orang yang paling berharga baginya selalu berada disisinya, selalu menemaninya.
Malam itu, suara tangisan Kuroko pun terdengar, bersamaan dengan hujan yang kembali turun membasahi dirinya. Isakannya kini tertutup oleh derasnya hujan saat itu, kedua tangannya ia pakai untuk menutup matanya kedua matanya yang terus mengalirkan air mata tanpa henti
.
.
.
.
.
.
.
-xXx-
5 tahun kemudian
Pemuda berambut Aqua memandang salah satu bunga Lily yang berada di depannya, ia tersenyum kecil ketika melihat bunga tersebut. Sudah hampir 2 jam ia berada ditaman itu seorang diri. Ia kemudian tersenyum kecil dan berjalan keluar, hendak meninggalkan taman tersebut
Saat ia hendak keluar dari pintu taman, seorang pemuda dengan rambut kemerahan masuk ke arah taman tersebut.
Pemuda berambut Aqua itu menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya ke belakang. Begitu juga pemuda yang memiliki rambut Merah tersebut, lalu sessat mereka memandang wajah mereka satu sama lain...
~Owari~
